Udara di dalam aula raksasa bawah tanah itu tidak lagi terasa seperti gas oksigen yang bisa dihirup secara normal, melainkan telah berubah menjadi cairan kental yang sangat berat dan menekan paru-paru Rian hingga ke titik sesak. Setiap partikel udara di tempat ini telah terkontaminasi secara total oleh kehadiran mana Vritra yang begitu masif dan korosif, menciptakan sebuah domain absolut di mana hukum fisika tampak tunduk sepenuhnya pada kehendak sang monster. Tekanan atmosfer yang dihasilkan oleh keberadaan entitas Bintang Tinggi ini begitu pekat hingga dinding-dinding kristal di sekeliling aula mengeluarkan suara derit halus yang memekakkan telinga, seolah-olah struktur batu purba itu pun berada di ambang kehancuran akibat beban gravitasi buatan yang diciptakan oleh sang ular.
Rian berdiri diam di tepi aula, tubuhnya tegak namun setiap serat ototnya berada dalam kondisi siaga tertinggi. Namun, di balik ketenangan wajahnya yang datar, sistem saraf otaknya sedang bertarung dalam pertempuran internal yang tak terlihat dan sangat menyiksa. Penglihatan Septem miliknya secara otomatis mencoba memproses sosok Vritra yang memiliki panjang lima puluh meter itu sebagai satu kesatuan objek. Akibatnya, jutaan garis rasio merah meledak dalam pandangannya tanpa henti, membagi setiap sisik kristal obsidian, setiap serat otot yang menggeliat di balik kulit, dan setiap aliran mana yang berdenyut di dalam tubuh sang ular menjadi koordinat-koordinat yang sangat kompleks dan tumpang tindih.
Tanpa perlindungan apa pun, ledakan informasi struktural yang maha dahsyat ini akan membuat saraf otak Rian hangus atau meledak dalam hitungan milidetik karena beban pemrosesan yang melampaui kapasitas manusia.
"Aethel's Veil," gumam Rian dengan suara yang hampir tak terdengar di tengah gemuruh mana.
Seketika, sirkulasi mana safir gelap dari Star Core di dadanya mengalir deras dengan rute yang telah terlatih menuju saraf optik dan lobus parietal otaknya. Cadar energi biru transparan itu segera terbentuk di depan kesadarannya, berfungsi sebagai filter atau peredam yang menyerap ledakan informasi mentah yang tadinya menghantam otaknya dengan brutal. Beban mental yang menyiksa itu kini dialirkan secara paksa sepenuhnya menuju keempat Star Core-nya untuk diolah menjadi bahan bakar penggerak teknik tersebut.
Mata Rian yang tadinya bergetar hebat dengan pupil yang mengecil karena syok informasi, kini berubah menjadi biru tenang yang mendalam—sebuah ketenangan samudra dalam yang dingin. Hal ini memungkinkannya untuk melihat pembagian bagian dunia ini secara stabil tanpa perlu merasakan rasa sakit yang melumpuhkan saraf otaknya. Namun, Rian sadar bahwa ini adalah pertaruhan nyawa; meski Mastery-nya sudah seratus persen dan konsumsi mana telah berkurang setengahnya, ukuran Vritra yang raksasa tetap menyedot cadangan energinya dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Ia sedang berada dalam perlombaan maut melawan waktu; ia harus mengakhiri pertarungan ini sebelum energinya mencapai titik nol dan otaknya menyerah pada kutukan matanya sendiri.
Vritra, sang Penelan Cahaya, tidak memberikan kesempatan sedikit pun bagi Rian untuk menyesuaikan diri dengan tekanan aura tersebut. Enam mata merah sang ular yang tersusun vertikal berkilat dengan rasa lapar yang purba dan kebencian terhadap penyusup. Dengan satu gerakan otot lateral yang sangat kuat, Vritra menggetarkan seluruh permukaan tubuhnya, melepaskan ratusan sisik kristal obsidian dari punggungnya secara serentak. Sisik-sisik tajam itu tidak jatuh ke lantai akibat gravitasi, melainkan melayang di udara dan melesat ke arah Rian seperti ribuan peluru kendali yang memiliki kesadaran kolektif untuk mencabik mangsanya.
Rian tidak mencoba melarikan diri secara membabi buta ke sudut ruangan. Logika pemburunya memberi tahu bahwa dalam ruang tertutup yang dipenuhi lendir korosif ini, kecepatan fisik murni tidak akan pernah cukup untuk menghindari serangan berskala luas yang menutupi setiap sudut ruangan. Ia memfokuskan mata birunya pada lintasan sisik-sisik tersebut dengan sangat tajam. Melalui bantuan filter Aethel's Veil, ia melihat "jalur aliran mana" berupa benang-benang energi tipis yang menggerakkan setiap kristal obsidian itu di udara.
Ia mulai bergerak dengan presisi mekanis yang mengerikan, mirip dengan mesin pembunuh yang sedang mengeksekusi algoritma. Rian mengayunkan Abyssal Fang dalam rangkaian tebasan pendek yang sangat efisien dan terukur. Ia tidak berniat menghancurkan seluruh permukaan sisik yang keras; ia hanya membidik koordinat 7:3 pada pusat gravitasi dan simpul energi dari setiap kristal yang masuk ke zona bahayanya dalam jarak dua meter.
TING! TING! TING!
Suara benturan logam langka dan kristal obsidian bergema seperti simfoni kematian yang memekakkan telinga di dalam aula bawah tanah tersebut. Setiap kali bilah pedang taring naga milik Rian menyentuh rasio yang tepat, sisik kristal yang memiliki kepadatan mana luar biasa itu mendadak kehilangan seluruh momentum dan integritas energinya. Mereka jatuh ke lantai sebagai bongkahan batu mati yang tidak lagi memiliki daya rusak. Hukum Septem memaksa energi yang menggerakkan sisik-sisik itu untuk terputus secara struktural pada titik rasionya. Rian bergerak di antara badai kristal mematikan tersebut dengan ketenangan yang tidak masuk akal, seolah-olah ia sedang berjalan santai di tengah hujan badai tanpa membiarkan satu tetes air pun membasahi jubah abu-abunya.
Vritra mengeluarkan raungan infrasonik yang sangat rendah, menyebabkan pilar-pilar kristal raksasa yang menyangga gua mulai retak dan runtuh. Sang ular meluncur turun dari langit-langit gua dengan kecepatan yang sangat kontradiktif dengan ukurannya yang raksasa, mencoba menghancurkan Rian dengan berat tubuhnya yang mencapai puluhan ton. Rian segera memicu Core Resonance, meningkatkan denyut energinya secara ekstrem untuk melakukan lompatan lateral yang eksplosif. Ia menghindari hantaman kepala Vritra yang menghancurkan lantai batu tepat di tempatnya berdiri sebelumnya, menciptakan kawah sedalam dua meter dalam sekejap.
Rian mendarat dengan ringan di atas salah satu pilar kristal yang sudah miring. Ia segera melakukan analisis taktis dalam sepersekian detik. Sebelumnya, ia telah mencoba mendaratkan beberapa tebasan balasan pada tubuh utama Vritra saat ular itu meluncur melewatinya, namun hasilnya sangat mengecewakan bagi standar Rian. Sisik Vritra ternyata dilapisi oleh lapisan Mana Coating yang frekuensinya terus bergeser secara acak setiap milidetik. Meskipun teknik Septem-nya berhasil menciptakan beberapa luka sayatan kecil, Vritra segera menutup luka tersebut dengan menyerap energi kehidupan dari kolam darah purba yang mengalir di bawah lantai aula.
"Analisis internal: Pertahanan absolut melalui regenerasi mana lingkungan yang tak terbatas. Kesimpulan: Serangan pada bagian eksternal adalah pemborosan energi yang tidak efisien," bisik Rian pada dirinya sendiri dengan nada bicara yang sedingin es.
Tiba-tiba, dari kegelapan di sudut jauh aula yang belum terjamah, terdengar teriakan perang yang penuh keputusasaan dan kegilaan. Sisa-sisa ksatria elit Puak Vritra yang masih bertahan hidup muncul dengan senjata terhunus dari balik reruntuhan. Mereka telah benar-benar kehilangan akal sehat mereka karena ketakutan yang meluap dan fanatisme buta, menganggap Rian sebagai iblis terkutuk yang datang untuk mengganggu dewa pelindung mereka.
"Matilah kau, bajingan pengacau! Darahmu akan menenangkan kemarahan dewa kami!" teriak salah satu ksatria Bintang 4 sambil melesatkan tombak mana hijaunya ke arah punggung Rian yang sedang terbuka.
Rian sama sekali tidak menoleh secara penuh ke arah mereka. Logika dinginnya, yang kini benar-benar murni mencerminkan kepribadian Helmut yang pragmatis, segera memproses ancaman baru ini bukan sebagai musuh yang harus ia basmi secara manual dengan tangannya sendiri, melainkan sebagai variabel pengalih perhatian yang sangat berguna. Ia melakukan gerakan geser tubuh yang sangat tipis dan efisien, membiarkan tombak mana itu lewat hanya beberapa sentimeter di samping lehernya.
Pada saat yang sama, melalui sudut matanya yang masih terfokus pada Septem, ia melihat ekor raksasa Vritra yang sedang melakukan sapuan luas untuk menghancurkan area tersebut. Rian tidak menghindar jauh; ia justru melakukan lompatan pendek ke arah kerumunan ksatria puak itu, secara sengaja memancing lintasan serangan ekor sang ular untuk mengikuti jalurnya.
BOOM! CRUNCH!
Ekor raksasa Vritra yang dilapisi kristal keras menghantam kerumunan ksatria elit tersebut dengan kekuatan penuh tanpa pandang bulu. Serangan itu menghancurkan tubuh, tulang, dan zirah mana mereka menjadi bubur daging yang mengerikan dalam satu hantaman tunggal. Rian menggunakan gelombang kejut yang dihasilkan dari hantaman dahsyat tersebut untuk melontarkan dirinya lebih tinggi ke arah langit-langit gua, mendapatkan sudut pandang yang lebih luas. Ia sama sekali tidak merasakan rasa bersalah atau simpati sedikit pun karena telah menggunakan nyawa manusia sebagai perisai hidup. Baginya, mereka hanyalah pion yang telah membuat keputusan salah untuk menyerang, dan ia hanya mengoptimalkan hasil dari variabel yang tersedia di medan tempur.
Dari ketinggian itu, Rian memperhatikan pola pernapasan dan sirkulasi panas pada tubuh sang monster secara mendetail. Ia menyadari bahwa setiap kali Vritra bersiap untuk menyemburkan gas asam korosif dari mulutnya, terdapat sebuah mekanisme ventilasi mana di bagian pangkal tenggorokannya yang harus terbuka selama tepat 0,7 detik untuk membuang kelebihan panas internal. Melalui bantuan cadar Aethel's Veil, Rian melihat dengan sangat jernih bahwa pada fragmen waktu yang sangat singkat itu, lapisan pelindung mana yang biasanya membungkus area tersebut akan menipis drastis.
Itulah satu-satunya koordinat 7:3 yang konstan, statis, dan mutlak pada seluruh struktur kehidupan Vritra yang raksasa. Sebuah titik lemah yang tersembunyi di balik barisan taring mematikan.
Rian mendarat kembali di lantai aula yang kini telah dipenuhi oleh lendir mendidih, abu monster, dan darah segar ksatria puak. Ia menstabilkan genggamannya pada hulu pedang Abyssal Fang, merasakan denyut mana terakhir yang tersisa di dalam Star Core-nya yang mulai berteriak kelelahan. Ia tahu bahwa ia tidak bisa lagi bermain aman. Ia harus melakukan sebuah pertaruhan gila yang melampaui logika ksatria biasa. Ia harus membiarkan dirinya masuk ke dalam jangkauan rahang Vritra, melewati barisan taring yang terus mengalirkan asam pekat, hanya untuk bisa menjangkau celah sempit di tenggorokan itu dengan ujung pedangnya.
Vritra kembali mengangkat kepalanya yang mengerikan, enam mata merahnya kini terkunci sepenuhnya pada sosok kecil Rian dengan intensitas kebencian yang meluap. Uap ungu yang sangat panas mulai keluar dari sela-sela taringnya, sebuah pertanda bahwa semburan gas korosif berikutnya akan segera dilepaskan dalam skala yang jauh lebih besar. Tekanan udara di aula itu mendadak turun secara drastis, seolah-olah seluruh oksigen di ruangan itu sedang tersedot masuk ke dalam paru-paru raksasa sang monster.
Rian menarik napas dalam-dalam untuk terakhir kalinya, membiarkan Aethel's Veil memberikan gambaran struktur dunia paling tajam dan paling tenang yang pernah ia lihat sepanjang hidupnya. Di matanya, waktu seolah-olah mulai melambat hingga ke titik diam. Ia melihat setiap molekul udara yang terbelah oleh panas, ia melihat struktur mana yang mulai memadat di mulut monster itu, dan ia melihat tujuannya dengan sangat pasti.
"Rasio 7:3 pada ventilasi internal... terdeteksi," gumam Rian dengan suara yang sangat tenang.
Tanpa ragu, ia mulai berlari lurus ke arah rahang monster yang sedang terbuka lebar dan memancarkan cahaya ungu mematikan itu. Ia tidak bergerak sebagai mangsa yang menyerah pada takdir, melainkan sebagai sang penimbang yang akan memutus eksistensi sang Penelan Cahaya dari dalam sistem kehidupannya sendiri.
Bab ditutup dengan sosok Rian yang melesat menjadi bayangan biru safir di tengah semburan cahaya ungu yang mampu melelehkan segalanya, menantang maut dengan perhitungan rasio yang dingin dan mematikan di matanya. Di kejauhan, tepat di belakang tubuh Vritra, portal cacing yang tidak stabil mulai berdenyut liar, memancarkan percikan energi perak yang seolah-olah sedang menantikan siapakah yang akan keluar sebagai pemenang dari pertaruhan hidup dan mati ini.
