Cherreads

Chapter 30 - Bab 4: Perhitungan yang Meleset

Keheningan di dalam sel akar itu terasa sangat berat, seolah-olah udara telah membeku menjadi kristal tak kasatmata yang siap pecah kapan saja. Lyraen Swiftwind melangkah mendekat, sepatu peraknya menimbulkan suara ketukan yang ritmis di atas lantai kayu yang kini mulai dilapisi bunga-bunga es tipis akibat hawa dingin dari tubuh Rian. Ia meletakkan tangannya di hulu pedang tipisnya, matanya yang tajam menatap kain kumal yang menutupi wajah Rian dengan rasa ingin tahu yang mematikan.

"Kau terlalu tenang untuk seorang tahanan, Rian," bisik Lyraen, suaranya terdengar jernih namun mengandung ancaman mutlak. "Hawa dingin ini... ini bukan sekadar sihir elemen biasa. Ini adalah manifestasi dari mana yang dipadatkan secara paksa. Siapa gurumu? Tidak mungkin seorang pengembara biasa memiliki kontrol energi seburuk sekaligus semengerikan ini."

Rian tidak menjawab secara lisan. Di dalam pusat kesadarannya, ia mendengar suara dentuman kecil terakhir. 90%. Star Core miliknya telah mencair hingga titik di mana ia bisa memicu ledakan energi kinetik sesaat. Rian menghitung: Lyraen berada dalam jangkauan dua koma lima meter. Dalam kondisi normal, ia akan menunggu hingga 100%, namun tekanan dari ksatria di depannya ini mulai mengancam kerahasiaan identitasnya. Ia harus melumpuhkan wanita ini sekarang, mengambil kuncinya, dan melarikan diri melalui jalur ventilasi akar di atas sel.

Sekarang.

Dalam satu gerakan yang hampir tidak tertangkap mata manusia, Rian melesat dari posisi duduknya. Ia tidak lagi terlihat seperti pemuda sekarat yang buta; tubuhnya bergerak seperti pegas baja yang dilepaskan. Tangan kanannya mengarah tepat ke arah leher Lyraen, diperkuat oleh sisa mana dingin yang ia kumpulkan di ujung jarinya untuk membekukan saraf motorik lawan. Ini adalah serangan efisiensi mutlak—tanpa gerakan tambahan, tanpa suara.

CLANG!

Suara benturan logam yang sangat nyaring bergema di seluruh penjara bawah tanah, namun itu bukan berasal dari pedang Lyraen yang terhunus. Rian tertegun saat telapak tangannya menghantam sebuah lapisan cahaya transparan yang tiba-tiba muncul di permukaan zirah ringan Lyraen. Lapisan cahaya itu berbentuk seperti sisik naga halus yang memancarkan aura kuno.

Rian merasakan gelombang kejutan yang membalikkan serangannya sendiri. Tangannya yang baru saja pulih terasa kebas, dan ia terlempar mundur dua langkah.

"Kalkulasimu menarik, tapi kau terlalu meremehkan teknologi Eldoria," ucap Lyraen tanpa bergeming sedikit pun dari posisinya. Zirah perak di tubuhnya mulai bersinar lebih terang, memperlihatkan ukiran rune kuno yang kompleks. "Ini adalah Evergreen Aegis, artefak kuno warisan ksatria pribadi raja. Ia mampu menetralkan hingga enam puluh persen kerusakan dari serangan fisik maupun mana."

Rian berdiri tegak, napasnya sedikit memburu. Pikirannya berputar liar mencoba memproses variabel baru ini. Soran benar; dunia luar tidak hanya berisi otot dan mana, tetapi juga benda-benda peninggalan masa lalu yang mampu memutarbalikkan logika kekuatan. Serangan 90% miliknya yang seharusnya mampu melumpuhkan ksatria Bintang 4 dalam sekejap, kini terbuang sia-sia hanya karena sepotong logam di dada wanita itu.

"Hanya itu?" Lyraen mulai menarik pedangnya perlahan. Bilahnya yang berwarna hijau pudar memancarkan haus darah. "Sekarang, izinkan aku melihat wajah di balik kain itu sebelum aku mematahkan kakimu."

Rian menyadari bahwa ia tidak bisa lagi bermain-main dengan berpura-pura buta. Strategi penyamaran telah gagal total karena keberadaan artefak yang tidak masuk dalam kalkulasinya. Jika ia ingin selamat dari tebasan pedang ksatria Bintang 4 ini, ia membutuhkan lebih dari sekadar insting pendengaran. Ia membutuhkan presisi mutlak. Ia membutuhkan rasio.

"Variabel yang tidak terduga... sangat tidak efisien," gumam Rian datar.

Tangan kiri Rian bergerak ke atas, memegang simpul kain kumal yang menutupi matanya. Lyraen terhenti sejenak, merasakan ada perubahan atmosfer yang sangat drastis di dalam sel tersebut. Hawa dingin yang tadi keluar secara liar kini mendadak terhisap kembali ke dalam tubuh Rian, seolah-olah sang pemangsa baru saja menelan kembali auranya untuk mempersiapkan serangan yang lebih mematikan.

Rian menarik kain itu hingga terlepas.

Untuk pertama kalinya di dunia luar, sepasang mata biru samudra itu terbuka lebar. Pupil matanya bergetar sesaat saat Aethel's Veil yang ia rapalkan secara tipis mulai melakukan filter pada cahaya Eldoria yang masuk. Kutukan Septem pun aktif seketika.

Dunia di mata Rian segera terbelah. Ia melihat Lyraen Swiftwind bukan lagi sebagai seorang wanita cantik berseragam ksatria, melainkan sebagai susunan rasio energi dan struktur anatomi. Ia melihat garis kelemahan pada Evergreen Aegis yang bersinar redup di bagian ulu hati, dan ia melihat koordinat serangan pedang Lyraen yang baru saja akan bergerak.

Segala sesuatu di sekelilingnya kini terbagi menjadi rasio 7:3.

"Timbangan... telah ditentukan," ucap Rian dingin, matanya yang biru berkilat tajam di bawah cahaya remang penjara akar.

Lyraen terkesiap, langkahnya tertahan oleh rasa ngeri yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia merasa seolah-olah jiwanya sedang ditelanjangi oleh tatapan pemuda itu. Belum pernah ia melihat mata yang begitu kosong namun penuh dengan perhitungan maut. Pertempuran yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan kali ini, Rian tidak akan membiarkan artefak apa pun mengganggu timbangannya.

Keheningan di dalam sel akar itu terasa sangat berat, seolah-olah udara telah membeku menjadi kristal tak kasatmata yang siap pecah kapan saja. Lyraen Swiftwind melangkah mendekat, sepatu peraknya menimbulkan suara ketukan yang ritmis di atas lantai kayu yang kini mulai dilapisi bunga-bunga es tipis akibat hawa dingin dari tubuh Rian. Ia meletakkan tangannya di hulu pedang tipisnya, matanya yang tajam menatap kain kumal yang menutupi wajah Rian dengan rasa ingin tahu yang mematikan.

"Kau terlalu tenang untuk seorang tahanan, Rian," bisik Lyraen, suaranya terdengar jernih namun mengandung ancaman mutlak. "Hawa dingin ini... ini bukan sekadar sihir elemen biasa. Ini adalah manifestasi dari mana yang dipadatkan secara paksa. Siapa gurumu? Tidak mungkin seorang pengembara biasa memiliki kontrol energi seburuk sekaligus semengerikan ini."

Rian tidak menjawab secara lisan. Di dalam pusat kesadarannya, ia mendengar suara dentuman kecil terakhir. 90%. Star Core miliknya telah mencair hingga titik di mana ia bisa memicu ledakan energi kinetik sesaat. Rian menghitung jarak: Lyraen berada dalam jangkauan dua koma lima meter. Dalam kondisi normal, ia akan menunggu hingga 100%, namun tekanan dari ksatria di depannya ini mulai mengancam kerahasiaan identitasnya. Ia harus melumpuhkan wanita ini sekarang.

Sekarang....!

Dalam satu gerakan yang hampir tidak tertangkap mata manusia, Rian melesat dari posisi duduknya. Ia tidak lagi terlihat seperti pemuda sekarat yang buta; tubuhnya bergerak seperti pegas baja yang dilepaskan. Tangan kanannya mengarah tepat ke arah leher Lyraen, diperkuat oleh sisa mana dingin yang ia kumpulkan di ujung jarinya untuk membekukan saraf motorik lawan. Ini adalah serangan efisiensi mutlak—tanpa gerakan tambahan, tanpa suara.

CLANG!

Suara benturan logam yang sangat nyaring bergema di seluruh penjara bawah tanah, namun itu bukan berasal dari pedang Lyraen yang terhunus. Rian tertegun saat telapak tangannya menghantam sebuah lapisan cahaya transparan yang tiba-tiba muncul di permukaan zirah ringan Lyraen. Lapisan cahaya itu berbentuk seperti sisik naga halus yang memancarkan aura kuno. Rian merasakan gelombang kejutan yang membalikkan serangannya sendiri. Tangannya yang baru saja pulih terasa kebas, dan ia terlempar mundur dua langkah.

"Kalkulasimu menarik, tapi kau terlalu meremehkan teknologi Eldoria," ucap Lyraen tanpa bergeming sedikit pun dari posisinya. Zirah perak di tubuhnya mulai bersinar lebih terang, memperlihatkan ukiran rune kuno yang kompleks. "Ini adalah Evergreen Aegis, artefak kuno warisan ksatria pribadi raja. Ia mampu menetralkan hingga enam puluh persen kerusakan dari serangan fisik maupun mana."

Rian berdiri tegak, napasnya sedikit memburu. Pikirannya berputar liar mencoba memproses variabel baru ini. Soran benar; dunia luar tidak hanya berisi otot dan mana, tetapi juga benda-benda peninggalan masa lalu yang mampu memutarbalikkan logika kekuatan. Serangan 90% miliknya yang seharusnya mutlak, kini terbuang sia-sia hanya karena sepotong logam di dada wanita itu.

"Hanya itu?" Lyraen mulai menarik pedangnya perlahan. Bilahnya yang berwarna hijau pudar memancarkan haus darah. "Sekarang, izinkan aku melihat wajah di balik kain itu sebelum aku mematahkan kakimu."

Rian menyadari bahwa ia tidak bisa lagi bermain-main dengan berpura-pura buta. Strategi penyamaran telah gagal total karena keberadaan artefak yang tidak masuk dalam kalkulasinya. Jika ia ingin selamat dari tebasan pedang ksatria Bintang 4 ini, ia membutuhkan presisi mutlak. Ia membutuhkan Septem.

"Variabel yang tidak terduga... sangat tidak efisien," gumam Rian datar.

Tangan kiri Rian bergerak ke atas, memegang simpul kain kumal yang menutupi matanya. Lyraen terhenti sejenak, merasakan ada perubahan atmosfer yang sangat drastis di dalam sel tersebut. Hawa dingin yang tadi keluar secara liar kini mendadak terhisap kembali ke dalam tubuh Rian, seolah-olah sang pemangsa baru saja menelan kembali auranya.

Rian menarik kain itu hingga terlepas.

Untuk pertama kalinya di dunia luar, sepasang mata biru samudra itu terbuka lebar. Pupil matanya bergetar sesaat saat Aethel's Veil yang ia rapalkan secara tipis mulai melakukan filter pada cahaya Eldoria yang masuk. Kutukan Septem pun aktif seketika.

Dunia di mata Rian segera terfragmentasi secara linear. Ia melihat Lyraen Swiftwind, zirah Evergreen Aegis, bahkan udara di antara mereka terbagi menjadi sepuluh bagian yang presisi. Di tengah-tengah struktur visual itu, sebuah garis merah menyala muncul tepat di rasio 7:3. Garis itu tidak mencari kelemahan alami; garis itu adalah hukum alam yang dipaksakan oleh mata Rian. Di mana pun garis merah itu berada, itulah titik di mana realitas akan menyerah pada serangannya.

Rian menatap tepat ke arah garis merah yang membelah zirah artefak Lyraen. Tidak peduli seberapa kuat pertahanan kuno itu, selama ia menghantam koordinat 7:3 tersebut, zirah itu akan hancur karena hukum Septem telah menetapkannya sebagai titik lemah yang dipaksakan.

"Timbangan... telah ditentukan," ucap Rian dingin, matanya yang biru berkilat tajam dengan garis-garis rasio yang berputar liar di dalamnya.

Lyraen terkesiap, langkahnya tertahan oleh rasa ngeri yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia merasa seolah-olah seluruh keberadaannya baru saja dibedah oleh tatapan pemuda itu. Ia tidak tahu bahwa dalam pandangan Rian, ia hanyalah sekumpulan koordinat yang menunggu untuk dipatahkan tepat di garis merah 7:3.

More Chapters