Cherreads

Chapter 26 - Bab 25: Membelah Takdir.

Kegelapan sarang Vritra yang pekat dan berbau amis darah mendadak lenyap, digantikan oleh ledakan cahaya perak yang menyilaukan dan merobek persepsi visual Rian dalam sekejap. Saat tubuhnya tertelan sepenuhnya oleh Titik Retak, Rian tidak lagi merasakan berat tubuhnya sendiri; ia merasa seolah-olah setiap atom di dalam dirinya sedang ditarik ke sepuluh arah yang berbeda secara bersamaan. Ini adalah portal cacing, sebuah anomali ruang yang tidak stabil yang diciptakan melalui pengorbanan darah selama berabad-abad, dan kini Rian berada di tengah badai dimensinya yang paling ganas.

Sensasi pertama yang menghantamnya adalah tekanan udara yang menghilang, digantikan oleh tekanan ruang yang luar biasa hebat, seolah-olah sebuah gunung raksasa sedang menindih dadanya dari segala sisi. Di dalam lorong dimensi ini, hukum fisika yang ia kenal di Silvaris Aeterna tidak lagi berlaku. Arus energi perak melesat di sekelilingnya seperti ribuan pisau tak kasatmata yang siap mencacah apa pun yang berani melintas. Rian mencoba menarik napas, namun paru-parunya terasa kosong; oksigen tidak ada di sini, hanya ada energi mentah yang sangat panas dan dingin di saat yang bersamaan.

Rian mencoba menggerakkan mana di dalam Star Core-nya untuk mengaktifkan pelindung, namun ia segera menyadari kenyataan yang mengerikan: di dalam portal ini, aliran mana-nya tersumbat sepenuhnya. Frekuensi ruang yang kacau di sekelilingnya mengacaukan resonansi energi internalnya, membuat teknik seperti Celestial Parity atau Core Resonance mustahil untuk dipicu. Ia kini berada dalam kondisi "Zero Mana", hanya mengandalkan ketahanan fisik murni dan insting bertahan hidup yang telah ditempa oleh Soran selama delapan tahun penuh penderitaan.

Tanpa bantuan mana, penglihatan Rian mulai mengabur. Namun, kutukan Septem di matanya tidak mengenal kata berhenti. Tanpa adanya cadar pelindung dari Aethel's Veil yang biasanya meredam ledakan informasi, mata Rian kini terpapar sepenuhnya pada struktur portal cacing yang maha luas dan rumit. Jutaan garis rasio perak meledak dalam kesadarannya, membagi setiap arus energi dan setiap lipatan ruang menjadi koordinat-koordinat yang berputar liar tanpa henti.

AKH!

Rian memekik tertahan, darah segar mulai menyembur dari hidung dan telinganya akibat beban informasi yang melampaui kapasitas otak manusia. Penglihatannya yang tadinya biru tenang kini kembali menjadi kilatan liar yang menyakitkan. Ia melihat dunia perak itu terbelah menjadi jutaan fragmen yang tidak logis. Rasa sakitnya begitu hebat hingga ia merasa saraf otaknya sedang dibakar hidup-hidup dari dalam. Rian muntah darah di tengah hampa udara, tubuhnya gemetar hebat saat ia mencoba mempertahankan kesadarannya yang terus meredup.

Di tengah kekacauan itu, Rian melihat ancaman lain. Sisa-sisa energi hitam dari Vritra yang ikut tersedot ke dalam portal bersama mayat Ketua Puak mulai termanifestasi kembali. Meskipun monster itu sudah mati, residu dendam dan energi korosifnya masih cukup kuat untuk menciptakan tentakel-tentakel bayangan di dalam arus perak ini. Sisa-sisa kesadaran Vritra seolah-olah tidak ingin membiarkan pembunuhnya pergi begitu saja; energi hitam itu melilit kaki Rian, mencoba menyeretnya jatuh lebih dalam ke arah pusat kehampaan dimensi yang tidak memiliki ujung.

Rian mencengkeram hulu Abyssal Fang dengan kedua tangannya yang sudah mati rasa. Karena ia tidak bisa menggunakan mana untuk menebas, ia harus mengandalkan berat fisik dari pedang taring naga tersebut. Ia menggunakan hukum momentum, mengayunkan pedangnya dengan kekuatan otot murni untuk memutus lilitan bayangan Vritra. Setiap gerakan terasa seperti menarik beban seberat satu ton; otot-otot di lengan Rian mulai robek, dan ia bisa mendengar suara retakan halus pada tulang rusuknya akibat tekanan gravitasi yang tidak stabil.

"Aku... tidak akan... mati di sini," gumam Rian di dalam pikirannya, karena suaranya tidak bisa merambat di ruang hampa ini.

Ia memfokuskan sisa penglihatannya yang berdarah ke arah depan. Di ujung lorong perak yang berputar itu, ia melihat sebuah lubang kecil yang memancarkan cahaya yang berbeda—cahaya yang lebih hangat, lebih kuning, dan terasa lebih nyata. Itu adalah pintu keluar menuju dunia luar. Namun, Titik Retak itu mulai menutup. Energi yang menopang portal ini, yang berasal dari kematian Vritra dan kunci kristal di tangannya, mulai habis. Portal itu mulai mengecil dengan cepat, dan jaraknya masih terasa sangat jauh bagi tubuh Rian yang kini terombang-ambing tanpa kendali.

Di momen inilah, Rian menyadari bahwa logika dan perhitungan rasionya telah mencapai titik jenuh. Tidak ada lagi teknik yang bisa ia gunakan, tidak ada lagi taktik yang bisa ia jalankan. Yang tersisa hanyalah keberuntungan murni—sebuah variabel yang selalu diabaikan dalam kalkulasi mekanisnya, namun kini menjadi satu-satunya jembatan menuju kehidupan.

Rian membiarkan tubuhnya rileks di tengah arus dimensi yang ganas. Alih-alih melawan arus perak yang menghimpitnya, ia justru memposisikan dirinya agar terbawa oleh aliran energi yang paling kencang. Ini adalah pertaruhan yang sangat berbahaya; jika arus itu menghantamnya terlalu keras, tubuhnya akan hancur menjadi serpihan daging sebelum ia mencapai ujung. Namun, jika ia berhasil menumpanginya, kecepatan arus itu akan melontarkannya keluar tepat pada waktunya.

Tekanan ruang meningkat hingga ke titik puncaknya. Rian merasa seolah-olah kulitnya sedang dikuliti oleh angin perak. Tulang kakinya patah dengan suara krek yang tajam saat arus portal menghimpitnya dengan kasar. Namun, ia tetap memegang erat Core Vritra di dalam jubahnya dan pedangnya di tangan kanan. Matanya yang berdarah tetap terkunci pada lubang cahaya di kejauhan.

Tepat saat Titik Retak itu mengecil hingga seukuran kepalan tangan, tubuh Rian terdorong oleh ledakan energi terakhir dari dalam portal.

BOOM!

Sebuah sensasi ledakan yang luar biasa menghantam seluruh indranya. Rian merasa tubuhnya seolah-olah didorong melalui lubang jarum dimensi yang sangat sempit. Rasa sakitnya melampaui apa pun yang pernah ia alami selama pelatihan delapan tahun bersama Soran. Dan kemudian, secara tiba-tiba, tekanan itu lenyap.

Udara segar yang dingin dan murni mendadak masuk ke dalam paru-parunya yang kering. Rian terlempar keluar dari sebuah robekan ruang di udara, jatuh terjerembap di atas hamparan rumput hijau yang basah oleh embun. Suara kicauan burung dan desis angin di antara pepohonan terdengar sangat asing namun sangat nyata di telinganya.

Rian mencoba mengangkat kepalanya, namun tubuhnya sudah tidak sanggup lagi bergerak. Ia terbaring telentang, menatap langit biru cerah yang luas—sebuah pemandangan yang tidak pernah ia lihat selama delapan tahun tinggal di bawah rimbunnya kanopi Silvaris Aeterna yang beracun. Matahari dunia luar yang hangat menyentuh kulitnya, memberikan rasa hangat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Tidak ada bau amis darah. Tidak ada bau lendir korosif. Hanya ada bau tanah dan kehidupan.

Rian menarik napas dalam-dalam, sebuah napas yang terasa sangat berat namun melegakan. Ia telah selamat. Melalui portal yang peluang lolosnya kurang dari satu persen, sang penimbang telah berhasil menyeberangi takdirnya. Pandangannya perlahan mulai menggelap saat kesadarannya akhirnya menyerah pada kelelahan dan cedera yang ia derita.

Sebelum ia benar-benar pingsan, Rian sempat melihat bayangan hutan Silvaris Aeterna yang berdiri megah dan gelap di cakrawala kejauhan, terpisah oleh sebuah perisai transparan yang kini ia tinggalkan selamanya. Volume pertama dari perjalanan sang pembunuh berdarah dingin ini telah berakhir, dan dunia baru yang penuh dengan ksatria dan intrik manusia kini menantinya di balik padang rumput yang asing ini.

Rian pingsan dengan tangan yang masih menggenggam erat hulu pedangnya, menjadi bukti bahwa meski di dunia luar yang damai sekalipun, ia tetaplah seorang pemangsa yang tidak akan pernah melepaskan senjatanya.

More Chapters