Guncangan kereta kayu yang membawa Rian menyusuri jalan setapak di perbatasan Eldoria mulai melambat secara bertahap, berganti dengan derit roda yang tertahan dan suara gesekan kayu yang memekakkan telinga saat mereka memasuki antrean panjang di pos pemeriksaan wilayah Barat.
Rian, yang masih menyandarkan tubuhnya yang kaku dan penuh luka pada tumpukan karung rempah yang memancarkan aroma tajam yang menusuk hidung, sama sekali tidak membuka matanya. Ia tetap membiarkan selembar kain kumal yang kotor menutupi pandangannya sepenuhnya, menciptakan kegelapan buatan di tengah terangnya dunia luar. Namun, di balik kegelapan itu, sistem internalnya sedang bekerja dengan kecepatan yang sangat melelahkan dan penuh penderitaan fisik yang nyata. Ia sedang melakukan meditasi pernapasan dalam, sebuah teknik dasar namun sangat brutal yang pernah diajarkan oleh Soran untuk memaksa sirkulasi mana yang membeku di dalam Star Core agar kembali mengalir ke seluruh jaringan saraf yang sempat mati rasa akibat trauma dimensi.
Di dalam pusat kesadaran Rian, Star Core miliknya tidak lagi terasa seperti bongkahan es yang statis dan mati, melainkan seperti gletser purba yang mulai retak secara perlahan di bawah tekanan panas yang ia paksakan melalui fokus mentalnya. Ia merasakan "retakan-retakan" halus yang terasa menyakitkan pada lapisan kristal mana yang membeku tersebut, sebuah proses pencairan energi yang tidak alami.
Cairan energi safir gelap mulai menetes satu per satu, mengalir melalui jalur saraf yang kering dan memberikan rasa perih yang luar biasa dahsyat, seolah-olah ada aliran cairan logam panas yang dipaksakan masuk ke dalam pembuluh darahnya yang sedang menyempit. Rian mengepalkan tangannya dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri, berjuang keras menahan erangan kesakitan yang membakar dari dalam rongga dadanya. Setiap tetesan mana yang berhasil mencair adalah sebuah kemenangan kecil bagi proses pemulihannya, namun ia sangat sadar bahwa ia masih berada sangat jauh dari kondisi puncaknya. Ia harus tetap bersabar dan menekan egonya; di dunia luar yang penuh dengan variabel asing dan predator manusia ini, memaksakan kekuatan sebelum waktunya adalah sebuah kesalahan strategis yang fatal bagi seorang ksatria yang saat ini telah kehilangan pelindung matanya.
"Kael, demi janggut panjang kakekmu yang sudah membusuk, hentikan kekonyolan itu sekarang juga! Kau membuat kereta barang kita terlihat seperti sirkus lampu murahan yang sedang mengalami kegagalan teknis!" tawa Gorr meledak dengan sangat keras dari arah bangku depan kereta, memecah fokus meditasi Rian yang sedang berada di titik krusial.
Kael, sang penyihir buangan yang tampak sangat frustrasi dengan butiran keringat di dahi, sedang mencoba merapal mantra cahaya kecil di ujung tongkat kayunya yang sudah mulai retak. Ia berniat mengusir kawanan serangga hutan raksasa yang mulai mengerumuni kereta mereka saat melintasi wilayah perbatasan Silvaris Forest yang lembap. Namun, alih-alih menghasilkan cahaya yang stabil dan menenangkan, tongkat kayu itu justru hanya mengeluarkan percikan api merah yang tidak menentu dan suara gemeretak yang aneh akibat gangguan energi dari lingkungan sekitarnya. "Ini sama sekali bukan salahku, Kapten! Kau tidak merasakannya? Ada sisa-sisa energi kotor yang sangat kuat dan menjijikkan menempel di seluruh permukaan kereta ini, kemungkinan besar adalah sisa dari hawa busuk kutukan Silvaris yang terbawa oleh pemuda asing ini di jubahnya!"
"Atau mungkin kau memang seorang penyihir gagal yang sebenarnya lebih cocok menjadi pemantik api dapur daripada menjadi tentara bayaran, Kael," ejek Lina dengan nada sarkasme yang tajam sambil melompat ringan ke atas atap kereta untuk memantau situasi antrean di depan mereka. "Lihat saja di depan sana, para penjaga bertelinga panjang yang sombong itu sudah mulai menatap ke arah kita dengan pandangan merendahkan yang sangat khas. Bram, pastikan barang 'titipan' dari Orthavan itu benar-benar tidak terlihat oleh mata tajam mereka atau kita semua akan berakhir di penjara bawah tanah pohon."
Bram segera bergerak dengan kelincahan yang mengejutkan bagi pria bertubuh gempal sepertinya. Ia menyelipkan beberapa kotak kecil berisi bijih besi langka yang diselundupkan dari wilayah Orthavan ke bagian paling bawah tumpukan jerami, tepat di bawah posisi Rian sedang bersandar. Ia menepuk bahu Rian dengan kasar, sebuah tindakan yang membuat tulang rusuk Rian yang retak terasa seperti ditusuk belati. "Hei, Anak Buta yang malang, tetaplah diam membatu di sana. Kau terlihat cukup menyedihkan dan sekarat untuk membuat para penjaga Elf itu merasa jijik dan tidak ingin memeriksa bagian bawah tempat dudukmu. Jadilah tempat persembunyian yang berguna untuk sekali ini, mengerti?"
Rian sama sekali tidak memberikan respon verbal atas perlakuan kasar tersebut. Dengan kain kumal yang masih menutupi matanya, ia benar-benar berada dalam kondisi kegelapan total yang menyiksa. Ia tidak bisa melihat struktur mana di sekelilingnya, tidak bisa melakukan kalkulasi Septem pada lingkungan, dan sama sekali tidak bisa memproses rasio apa pun karena input visualnya terputus total. Ia kini dipaksa untuk benar-benar mengandalkan indra pendengarannya yang sangat tajam untuk memetakan situasi di sekitarnya. Ia mendengar gesekan zirah ringan para penjaga di kejauhan, langkah kaki yang sangat ringan seolah melayang di atas tanah lembap, dan suara angin yang berdesir pelan di antara dedaunan pohon raksasa Eldoria yang menjulang tinggi. Menjadi buta secara total adalah sebuah bentuk siksaan mental bagi seseorang yang terbiasa melihat dunia melalui angka dan rasio mutlak, namun Rian memaksa jiwanya untuk tetap tenang. Kebergantungan total pada pendengaran ini adalah variabel baru yang sangat berbahaya namun harus ia kuasai dalam kondisi fisiknya yang sedang cacat ini.
Kereta akhirnya berhenti sepenuhnya tepat di depan gerbang kayu raksasa yang sangat megah, yang tampak menyatu secara alami dengan pohon-pohon purba yang menjadi batas wilayah antara kekuasaan manusia dan ras Elf di Eldoria. Udara di tempat ini terasa sangat berbeda dibandingkan padang rumput sebelumnya—terasa lebih lembap, segar, dan kaya akan aroma cendana yang sangat kuat yang memberikan sensasi dingin di kulit. Dua orang penjaga Elf dengan zirah hijau zamrud yang berkilau sihir dan busur panjang yang tergantung di punggung mereka mulai mendekati kereta kelompok The Iron Grin. Wajah mereka tampak sangat simetris seperti pahatan batu yang sempurna namun memancarkan aura dingin yang menolak kehadiran orang asing.
"Sebutkan identitas kelompok dan tujuan perjalanan kalian masuk ke wilayah suci ini," salah satu penjaga berkata dengan suara yang sangat merdu namun memiliki otoritas yang sangat kaku dan tidak bisa dibantah. Matanya yang berwarna hijau pucat langsung tertuju pada sosok Rian yang terbaring kaku di bagian belakang kereta.
Gorr melompat turun dari kursi depan kereta dengan senyuman yang terlalu lebar dan dibuat-buat, mencoba mencairkan ketegangan. "Salam penuh hormat bagi para penghuni hutan yang agung. Kami adalah kelompok The Iron Grin, sedang membawa pasokan rempah-rempah berkualitas dari perbatasan Osiriya untuk pasar di wilayah kalian. Dan mengenai pemuda malang di belakang itu? Kami menemukannya dalam kondisi sekarat saat 'kubah' pelindung besar di perbatasan itu bergetar gila-gilaan kemarin. Kami hanya menjalankan tugas kemanusiaan sebagai sesama makhluk hidup, membawanya ke tempat yang mungkin memiliki tabib yang lebih kompeten daripada kami."
Penjaga Elf itu mendekati sisi kereta tempat Rian berada, mengendus udara di sekitar jubah Rian dengan ekspresi jijik yang tertahan di wajahnya yang elok. "Pemuda ini membawa aroma kematian dan keputusasaan yang sangat pekat. Sesuatu yang sangat gelap dari Silvaris Forest telah menyentuh jiwanya secara langsung. Manusia, apakah kau benar-benar menyadari risikonya membawa sesuatu yang terkontaminasi oleh hawa hutan terlarang masuk ke dalam wilayah suci kami?"
Rian tetap diam membeku di bawah kain penutup matanya, mengatur detak jantungnya agar tidak menunjukkan rasa panik. Ia merasakan kehadiran penjaga Elf itu hanya melalui hawa dingin yang terpancar dari arah depannya yang sangat dekat. Tanpa penglihatan Septem, ia merasa sangat rentan dan tidak berdaya; jika penjaga itu memutuskan untuk menghunuskan senjatanya sekarang karena rasa curiga, Rian sama sekali tidak akan bisa melihat koordinat serangannya untuk menghindar. Ia kini benar-benar harus menggantungkan nyawanya pada kemampuan diplomasi kasar milik Gorr.
"Dia sudah kami bersihkan dengan berbagai ramuan perbatasan yang kuat, Tuan Penjaga," potong Kael dengan nada bicara yang sangat sopan dan merendah, mencoba meredakan ketegangan yang mulai memuncak di antara mereka. "Dia hanya menderita kelelahan fisik yang ekstrem dan sedikit trauma mental akibat guncangan energi kemarin. Tidak ada tanda-tanda kontaminasi aktif yang tersisa pada tubuhnya, kami sudah memeriksanya."
Setelah perdebatan yang cukup alot dan memakan waktu lama, serta setelah Gorr dengan diam-diam menyerahkan sebuah kantung kecil berisi koin sebagai bentuk "pajak keamanan ekstra" yang sebenarnya adalah suap halus, penjaga itu akhirnya memberikan isyarat dingin kepada rekan-rekannya agar gerbang dibuka. Derit kayu raksasa yang bergeser terdengar sangat megah dan mengguncang tanah saat gerbang Eldoria terbuka perlahan-lahan, memperlihatkan pemandangan interior yang sangat kontras dan jauh lebih indah dibandingkan padang rumput di luar.
Kereta kembali bergerak maju, secara resmi memasuki wilayah yang dipenuhi oleh pohon-pohon raksasa dengan dahan yang sangat luas dan rimbun, tempat bangunan-bangunan yang artistik didirikan menyatu dengan alam. Cahaya matahari dunia luar masuk melalui celah-celah daun raksasa, menciptakan pola panas yang dirasakan Rian mulai menjalar di kulit wajahnya yang pucat. Rian menghirup udara yang sangat kaya akan mana kehidupan ini, merasakan paru-parunya sedikit lebih ringan meskipun seluruh tubuhnya masih terasa remuk dan sakit. Di tempat yang penuh dengan alat pendeteksi sihir dan mata-mata yang sangat tajam ini, ia menyadari tantangan baru yang lebih besar: ia harus tetap bertindak sempurna sebagai manusia buta yang hancur, sementara di saat yang sama ia harus mengawasi setiap pergerakan dan ancaman di sekelilingnya hanya melalui pendengarannya yang mulai ia latih secara paksa.
Bab ditutup dengan kereta kelompok The Iron Grin yang perlahan-lapan menghilang masuk ke dalam rimbunnya kota pohon Eldoria, sementara jauh di belakang mereka, mata para penjaga Elf tetap mengawasi sosok punggung Rian dengan rasa curiga yang tidak pernah padam. Bagi Rian, ini adalah pengalaman perdana yang sangat berbahaya di mana ia harus bertahan hidup tanpa bantuan mata Septem miliknya, sebuah kondisi cacat sementara yang memaksanya untuk memahami dunia manusia melalui cara yang jauh lebih primitif namun sangat berisiko.
