Cherreads

Chapter 23 - BAB 22: LABIRIN KEDALAMAN

Angin menderu dengan suara pekikan yang menyayat telinga saat Rian membiarkan gravitasi menarik tubuhnya ke dalam rahang kegelapan yang tampaknya tak berujung. Di sekelilingnya, dinding lubang raksasa itu tampak seperti kerongkongan monster purba yang dipenuhi dengan tonjolan batu tajam yang menyerupai gigi, serta sisa-sisa akar pohon yang telah membusuk dan menghitam akibat polusi mana. Rian tidak mencoba melakukan perlawanan sedikit pun terhadap tarikan bumi yang ganas; ia membiarkan dirinya jatuh bebas, sementara matanya tetap terbuka lebar, menatap lurus ke arah kehampaan hitam yang menunggunya di bawah sana.

Detik-detik awal kejatuhan itu adalah ujian ekstrem bagi kewarasannya. Di tengah kegelapan total di mana cahaya tidak lagi memiliki makna, indra penglihatannya mulai mencoba memproses ketiadaan materi secara paksa. Hal ini memicu insting bertahan hidup yang liar di dalam otaknya. Rian merasakan denyutan yang sangat kuat dan panas di belakang bola matanya—sebuah pertanda bahwa mata Septem miliknya mulai bekerja di luar kendali, mencoba membagi kegelapan itu sendiri menjadi koordinat-koordinat rasio yang tidak masuk akal dalam logika manusia.

"Aethel's Veil," bisik Rian di tengah deru angin.

Seketika, mana safir gelap dari Star Core miliknya mengalir deras dengan sirkulasi yang presisi menuju saraf optik. Cadar energi transparan itu segera terbentuk di depan kesadarannya, berfungsi sebagai filter yang meredam ledakan informasi mentah yang tadinya menghantam otaknya dengan brutal. Beban mental yang menyiksa itu kini dialihkan sepenuhnya menuju keempat Star Core-nya sebagai bahan bakar penggerak yang stabil. Mata Rian yang tadinya bergetar hebat dengan pupil yang mengecil kini berubah menjadi biru tenang yang mendalam, sebuah ketenangan samudera yang memungkinkannya melihat struktur dunia di tengah kegelapan total tanpa perlu merasakan rasa sakit yang melumpuhkan saraf otaknya.

Rian melihat dunia bawah tanah itu sekarang. Dasar lubang itu bukanlah lantai batu datar yang sederhana, melainkan sebuah jaringan labirin bawah tanah yang sangat luas, rumit, dan mengerikan yang dikenal sebagai The Hollow Abyss. Dinding-dindingnya tidak terbuat dari tanah biasa, melainkan susunan mineral kuno yang dilapisi oleh lapisan lendir korosif yang berkilau tipis di bawah penglihatan mananya. Lendir itu memancarkan bau asam yang sangat tajam, sebuah aroma kematian yang mampu mengikis indra penciuman ksatria biasa hanya dalam beberapa tarikan napas.

Beberapa meter sebelum tubuhnya menghantam dasar, Rian mengaktifkan Core Resonance. Getaran frekuensi tinggi pada jantung mananya memompa energi secara eksplosif ke seluruh jaringan otot kakinya. Ia mendarat dengan posisi berjongkok sempurna, menciptakan gelombang kejut kecil yang menghancurkan tumpukan tulang belulang di bawah kakinya. Suara gemeretak tulang yang hancur itu bergema jauh ke dalam lorong-lorong gua yang sunyi, memicu reaksi berantai dari para penghuni kegelapan yang telah lama menunggu mangsa baru.

Dari sela-sela retakan dinding yang lembap dan berlendir, ribuan pasang mata kecil tanpa kelopak mulai bermunculan satu per satu. Mereka adalah Vritra's Spawn—ular-ular kecil tanpa mata yang mendeteksi mangsa melalui deteksi panas tubuh dan getaran mana yang paling halus sekalipun. Ribuan makhluk itu merayap keluar, menciptakan suara gesekan kulit bersisik yang menyerupai suara hujan deras di atas tumpukan daun kering.

Rian sama sekali tidak menunjukkan rasa terkejut ataupun takut. Baginya, ribuan ular ini hanyalah variabel hambatan mekanis yang harus ia bersihkan dengan cara yang paling efisien agar tidak membuang-buang energinya. Melalui pandangan Aethel's Veil yang stabil dan jernih, Rian melihat kerumunan ular tersebut terbagi secara otomatis menjadi sepuluh bagian linear di dalam benaknya. Ia menarik Abyssal Fang dari sarungnya dengan satu gerakan yang begitu halus dan cepat hingga hampir tidak meninggalkan jejak udara.

Rian tidak menyerang secara acak. Ia bergerak dalam pola tarian kematian yang sangat terukur dan dingin, mirip dengan mekanisme sebuah mesin yang sedang menjalankan instruksi pembantaian. Setiap kali ia mengayunkan bilah pedang peraknya, senjata itu menghantam tepat pada koordinat 7:3 yang menjadi pusat massa dan sirkulasi energi dari kerumunan ular tersebut.

Hukum Septem bekerja secara mutlak. Meski ular-ular kecil itu memiliki kulit yang sangat licin dan kebal terhadap serangan fisik maupun sihir biasa, tebasan Rian mematikan struktur eksistensi mereka secara permanen. Dalam satu tebasan horizontal yang presisi, ratusan ular hancur berkeping-keping menjadi abu hitam yang beterbangan, meninggalkan jejak panas mana yang segera padam ditelan oleh udara dingin gua yang lembap. Rian bergerak di antara ribuan predator itu tanpa membiarkan satu pun dari mereka menyentuh jubahnya, setiap langkahnya adalah perhitungan rasio yang tidak pernah melesat.

Namun, labirin ini memiliki sistem pertahanan alaminya sendiri. Lendir korosif yang menutupi seluruh lantai mulai bereaksi secara agresif terhadap suhu tubuh manusia yang dibawa oleh Rian. Cairan hijau pekat itu mulai merayap naik seperti tentakel hidup, mencoba menjerat pergelangan kakinya dan mengikis lapisan mana pelindung yang menyelimuti tubuhnya. Rian menyadari melalui kalkulasi instannya bahwa jika ia tetap diam di satu titik selama lebih dari dua detik, sol sepatunya akan meleleh dan kulitnya akan mulai terkelupas oleh asam tersebut.

Tanpa mengubah ekspresi wajahnya, ia kembali memicu resonansi intinya. Rian melompat ke dinding gua yang vertikal, menggunakan gaya sentrifugal dan kekuatan Mana untuk berlari di atas permukaan batu yang tegak lurus dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Ia bergerak menyusuri lorong yang semakin menyempit dan semakin curam, mengikuti jejak mana busuk yang ditinggalkan oleh jasad Ketua Puak yang telah ia lempar sebagai tumbal sebelumnya.

Logika Rian yang dingin terus bekerja memproses setiap inci lingkungan di sekitarnya. Jika Ketua Puak dilempar ke tempat ini untuk memuaskan rasa lapar Vritra, maka sang penguasa sarang pasti berada di ujung aliran mana yang paling pekat dan paling menjijikkan.

Di tengah perjalanan melalui terowongan yang menyerupai usus raksasa, Rian berhenti sejenak di sebuah persimpangan yang dipenuhi dengan gas metana. Ia menarik tudung jubah Shadow-Weave miliknya lebih rendah, membiarkan serat kain abu-abu gelap itu menyerap sisa-sisa cahaya mana dari tubuhnya agar ia tidak menjadi suar bagi predator yang lebih besar di dalam kegelapan ini. Ia berdiri diam membeku, mengatur ritme pernapasannya agar tetap sinkron dengan penggunaan Aethel's Veil yang terus-menerus menyedot cadangan mana di Star Core-nya. Meskipun penguasaan tekniknya sudah mencapai tingkat maksimal, mempertahankan fokus visual Septem di medan yang penuh dengan jutaan titik informasi struktural seperti labirin ini benar-benar menguras stamina mentalnya.

Dalam keheningan itu, ia melihat sisa-sisa "sesajen" manusia yang terjepit secara mengenaskan di antara pilar-pilar batu tajam. Ada kain pakaian yang sudah terkoyak-koyak, potongan zirah ksatria dari masa lalu yang sudah berkarat, dan puluhan tengkorak kecil yang telah memutih, menandakan bahwa puak tersebut telah memberikan tumbal anak-anak selama berabad-abad. Rian menatap pemandangan mengerikan itu tanpa ada sedikit pun gejolak emosi di matanya yang biru samudera. Ia tidak merasa marah, tidak juga merasa sedih. Baginya, pemandangan itu hanyalah data konfirmasi bahwa ia sedang berada di jalur yang benar menuju pusat kekuatan Vritra.

"Tujuan utama terdeteksi: Jantung Vritra. Hambatan lingkungan: Labirin spasial dan gas korosif," gumam Rian dengan nada bicara yang datar, seolah-olah ia sedang melaporkan status teknis kepada gurunya, Soran.

Tiba-tiba, sebuah getaran hebat yang terasa seperti gempa bumi melanda seluruh lorong gua tersebut. Suara geraman rendah yang terdengar seperti suara dua lempeng bumi yang sedang bergesekan mulai merayap dari arah timur. Tekanan mana yang sangat masif dan berat mulai menekan dada Rian, sebuah aura yang begitu pekat dan hitam hingga membuat cadar Aethel's Veil miliknya harus bekerja ekstra keras untuk menstabilkan aliran data yang masuk ke saraf penglihatannya. Udara di sekitarnya seolah membeku, dan bau amis ular raksasa kini menjadi sangat nyata, mendominasi setiap partikel oksigen yang tersisa.

Rian tahu ia sudah sampai di titik akhir labirin. Di ujung lorong yang gelap ini, ia melihat sebuah ruang terbuka yang sangat luas—sebuah aula raksasa bawah tanah yang dindingnya berkilau karena kristal mana mentah. Di tengah aula itu, terdapat kolam darah purba yang permukaannya terus beriak, mengalirkan energi kehidupan menuju sebuah titik pusat. Dan di sana, menggantung dengan megah di langit-langit gua dengan tubuh yang melilit pilar-pilar kristal raksasa, adalah Vritra. Sang Penelan Cahaya itu akhirnya menampakkan wujudnya yang sebenarnya, sebuah entitas yang jauh lebih besar dan mengerikan daripada yang pernah digambarkan dalam catatan mana pun.

Rian menyentuh Soran's Void Band di jarinya, memastikan bahwa Kunci Kristal dan pedang Abyssal Fang miliknya berada dalam kondisi siap tempur tertinggi. Ia melangkah keluar dari bayang-bayang lorong sempit tersebut, memasuki aula terbuka yang kini dipenuhi oleh aura kematian yang murni. Rian sama sekali tidak memiliki rencana untuk menyelamatkan siapa pun yang mungkin masih hidup di sana, dan ia juga tidak memiliki niat untuk meratapi nasib tawanan yang telah menjadi santapan ular tersebut.

Satu-satunya jalan keluar yang ia miliki adalah melalui anomali ruang berupa portal cacing yang tidak stabil yang terletak tepat di belakang tubuh raksasa sang monster. Sebuah jalan pintas dimensi yang hanya bisa ia masuki jika ia cukup beruntung untuk mempertahankan keutuhan tubuhnya saat melewati tekanan ruang yang menghancurkan. Bagi Rian, ini bukan lagi tentang kepahlawanan, melainkan tentang efisiensi bertahan hidup.

Bab ditutup dengan sosok Rian yang berdiri mungil di tepi aula raksasa tersebut, menatap langsung ke arah enam mata merah menyala milik Vritra yang mulai terbuka satu per satu dengan rasa lapar yang tak terpuaskan. Di bawah kaki Rian, lendir korosif mulai mendidih karena energi mana yang meluap dari tubuh ular itu, namun Rian tetap berdiri tegak, tenang, dan dingin, dengan mata biru samudra yang siap membagi dunia menjadi rasio pembantaian yang baru.

More Chapters