Kereta kuda yang membawa kelompok The Iron Grin bergerak semakin dalam memasuki distrik komersial Eldoria yang dikenal sebagai "The Amber Canopy". Suasana di sini sangat jauh berbeda dengan wilayah perbatasan yang kaku; bangunan-bangunan yang terbuat dari kayu yang masih hidup tampak menyatu secara organik dengan batang-batang pohon raksasa, dihubungkan oleh jembatan gantung yang terbuat dari jalinan akar yang memancarkan cahaya keemasan redup. Udara di tempat ini tidak hanya sekadar oksigen bagi paru-paru, melainkan sebuah lautan mana yang sangat murni dan padat, sisa-sisa dari sihir alam kuno yang melindungi kerajaan Elf tersebut.
Bagi Gorr, Lina, dan anggota mercenary lainnya yang rata-rata hanya memiliki Bintang 2 hingga 3, kepadatan mana di wilayah ini adalah sebuah siksaan fisik yang nyata. Mereka terlihat mulai berkeringat dingin; napas mereka menjadi pendek dan berat seolah-olah ada beban tak kasatmata yang menekan dada mereka. "Sialan... udara di tempat ini selalu terasa seperti aku sedang menghirup sirup kental," gerutu Gorr sambil melonggarkan kerah zirah kulitnya yang basah oleh keringat. Kael bahkan tampak lebih buruk; sebagai seorang penyihir dengan kapasitas mana yang terbatas, ia terus-menerus memijat pelipisnya karena migrain yang dipicu oleh tekanan resonansi mana lingkungan yang terlalu murni bagi sirkuit energinya yang kasar.
Namun, di bagian belakang kereta, dalam kegelapan di bawah kain penutup matanya, Rian merasakan sesuatu yang sangat berbeda. Baginya, tekanan mana yang menyiksa rekan-rekannya adalah berkah yang sangat ia butuhkan. Empat Star Core miliknya yang sedang membeku bereaksi secara insting terhadap kemurnian mana Eldoria. Ia mulai melakukan teknik Void Breath, menarik mana lingkungan melalui pori-pori kulitnya secara pasif agar tidak menarik perhatian detektor sihir kota. Energi hijau yang murni itu masuk ke dalam tubuhnya, bertindak seperti air panas yang menyiram bongkahan es.
Rian merasakan sensasi terbakar yang nikmat sekaligus menyakitkan saat kebekuan di dalam dadanya mulai mencair lebih cepat. Dalam hitungan menit sejak mereka memasuki kota, persentase pencairan Star Core-nya melompat dari yang semula hanya beberapa persen menjadi 40%. Ia bisa merasakan aliran mana mulai bergerak lebih bebas di jalur saraf utamanya, meskipun sisa 60% energinya masih terperangkap dalam kristal beku yang keras. Rian tetap diam membatu, menahan gemetar di tubuhnya saat energi tersebut mereparasi jaringan ototnya yang rusak satu demi satu.
"Kita sudah sampai di depan penginapan 'The Silent Leaf'. Bram, cepat turunkan barang-barang itu sebelum patroli rutin lewat!" perintah Lina dengan suara rendah yang penuh ketegangan.
Bram, yang juga merasa sesak karena tekanan mana, bergerak dengan sedikit terburu-buru. Ia mencoba menggendong kotak kayu besar berisi bijih besi selundupan dari Orthavan yang ia sembunyikan di bawah tempat duduk Rian. Namun, karena tangannya yang licin oleh keringat dan kakinya yang sedikit gemetar, ia tersandung ujung karung jerami.
PRAKK!
Kotak kayu itu menghantam lantai jalanan yang terbuat dari kayu keras dan pecah berantakan. Bongkahan bijih besi hitam yang berat terpental keluar, mengeluarkan aroma logam sulfur yang sangat tajam dan tidak alami—sebuah anomali yang sangat kontras di tengah aroma hutan Eldoria yang suci. Suara benturan itu bergema di antara pepohonan, seolah-olah menjadi lonceng kematian bagi ketenangan mereka.
"Bram! Kau benar-benar idiot!" desis Lina dengan wajah yang memucat seketika.
Belum sempat mereka membereskan kekacauan itu, suara derap langkah kaki yang teratur dan penuh wibawa terdengar dari arah jembatan akar di atas mereka. Dari balik cahaya keemasan, turunlah sekelompok ksatria Elf dengan zirah perak yang sangat tipis namun memancarkan aura kekuatan yang mengintimidasi. Di depan mereka berdiri seorang wanita Elf dengan rambut perak panjang yang diikat tinggi, mengenakan jubah pertempuran dengan lambang ksatria pribadi kerajaan.
Dia adalah Captain Lyraen Swiftwind, ksatria Bintang 4 (4★ Core) yang dikenal memiliki indra penciuman mana yang sangat tajam. Tugasnya hari itu adalah memastikan jalur aman untuk Putri Tunggal Raja Elf yang sedang dalam perjalanan keluar dari istana.
"Bijih besi dari Orthavan... di tanah suci Eldoria?" suara Lyraen terdengar sangat tenang namun memiliki tekanan yang membuat Gorr langsung berlutut secara insting. Matanya yang tajam melirik ke arah kotak yang pecah, lalu perlahan beralih ke arah kereta kuda, tepat ke arah sosok Rian yang masih menutupi matanya dengan kain kumal.
Lyraen menyipitkan matanya. Ia merasakan sesuatu yang aneh. Bukan hanya karena selundupan logam itu, melainkan karena ia merasakan ada pusaran mana kecil yang sedang menarik energi lingkungan secara perlahan di sekitar pemuda buta tersebut. "Kalian... mercenary kotor dari Osiriya... berani membawa barang haram dan individu yang mencurigakan ke hadapanku?"
Gorr mencoba membuka mulutnya, mencari alasan diplomatik yang biasanya bisa menyelamatkan lehernya di wilayah Osiriya, namun tekanan aura dari Lyraen Swiftwind membuat suaranya tercekat di tenggorokan. Ksatria Bintang 4 itu melangkah maju, setiap pijakannya pada lantai kayu menghasilkan resonansi mana yang membuat Kael hampir jatuh pingsan karena mual. Lyraen tidak hanya melihat bijih besi yang berserakan; pandangannya terkunci pada Rian yang tetap diam tak bergerak di atas tumpukan jerami.
"Bawa mereka semua ke penjara bawah tanah akar. Periksa setiap sudut kereta ini, jangan biarkan satu pun kotoran manusia ini mencemari distrik suci lebih lama lagi," perintah Lyraen dengan nada dingin yang mutlak.
Dalam hitungan detik, para ksatria Elf lainnya bergerak dengan efisiensi yang menakutkan. Rian merasakan tubuhnya ditarik dengan kasar dari atas kereta oleh dua orang ksatria. Meskipun tulang rusuknya masih terasa retak, Rian tidak melawan. Ia membiarkan dirinya diseret, kepalanya terkulai lemas dengan kain penutup mata yang masih terikat erat. Ia tahu bahwa melawan ksatria Bintang 4 dalam kondisinya yang sekarang adalah tindakan bunuh diri yang tidak memiliki kalkulasi keberhasilan sama sekali.
Mereka digiring melewati jembatan-jembatan akar yang berkelok menuju bagian bawah pohon raksasa Eldoria, tempat di mana jeruji besi yang diperkuat sihir alam telah disiapkan. Penjara bawah tanah ini bukan terbuat dari batu dingin seperti di Verita, melainkan dari akar-akar pohon kuno yang dijalin sedemikian rupa sehingga membentuk sel-sel yang sangat kuat. Rian dilemparkan ke dalam satu sel yang sama dengan seluruh anggota The Iron Grin.
BRAKK! Pintu sel yang terbuat dari jalinan akar itu tertutup rapat, dan sebuah segel mana hijau menyala di atasnya.
Begitu para penjaga Elf pergi, keheningan di dalam sel tersebut hanya bertahan selama tiga detik sebelum akhirnya meledak menjadi kekacauan komedi.
"BRAM, KAU ANAK HARAM DARI PEGUNUNGAN ORTHAVAN! KAU MENGHANCURKAN KITA SEMUA!" teriak Lina sambil mencoba menerjang Bram, namun ditahan oleh Tessa yang tampak sangat lelah.
"Aku tidak sengaja! Lantai kayu di kota ini terlalu licin! Kenapa mereka tidak menggunakan batu seperti orang normal?" balas Bram dengan wajah memerah, mencoba membela diri meski suaranya bergetar ketakutan.
Gorr hanya bisa terduduk di sudut sel sambil menjambak rambutnya sendiri. "Habis sudah... kontrak kita, reputasi kita, dan mungkin kepala kita. Kita baru saja tertangkap basah menyelundupkan besi di depan Ksatria Pribadi Putri Raja. Kael, lakukan sesuatu dengan sihirmu!"
Kael, yang sejak tadi terisak kecil karena buku sihirnya disita, hanya bisa menggeleng lemah. "Aku tidak bisa, Kapten... segel di pintu itu adalah sihir tingkat tinggi dari Eldoria. Jika aku mencoba merapalnya, sirkuit mana milikku akan meledak sebelum mantra itu selesai. Kita benar-benar tamat."
Di tengah kebisingan dan saling menyalahkan itu, Rian duduk bersila di sudut sel yang paling gelap. Ia tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Baginya, teriakan rekan-rekannya hanyalah gangguan frekuensi yang tidak relevan. Fokusnya kini tertuju sepenuhnya ke dalam tubuhnya sendiri. Berada di dalam penjara yang dikelilingi oleh akar pohon kuno ternyata memberikan keuntungan yang tidak terduga; akar-akar ini adalah saluran mana murni yang paling padat di seluruh kota.
Rian menyentuhkan telapak tangannya ke dinding akar selnya. Ia merasakan aliran energi kehidupan yang luar biasa kuat mengalir di balik kulit kayu tersebut. Secara perlahan, ia mulai menyerap mana tersebut dalam jumlah yang lebih besar, memanfaatkannya sebagai katalis untuk menghancurkan sisa-sisa kebekuan di Star Core-nya.
Proses ini sangat menyakitkan. Rian merasakan sensasi seolah-olah ribuan semut api sedang menggerogoti jalur energinya. Keringat dingin mulai membasahi jubahnya, dan tubuhnya sedikit bergetar. Namun, di dalam dadanya, bongkahan es terakhir mulai mencair dengan kecepatan yang drastis.
Krak... krak...
Suara retakan itu hanya terdengar di dalam kesadaran Rian. Persentase pencairan Star Core-nya merangkak naik. 45%... 50%... 55%.... 60%.. Ia merasa kekuatannya mulai kembali ke ujung-ujung jarinya. Meskipun ia masih membutuhkan 40% lagi untuk pulih sepenuhnya, Rian kini sudah memiliki cukup mana untuk setidaknya mempercepat regenerasi tulang rusuknya yang patah.
"Lihat si Anak Buta itu," bisik Lina, tiba-tiba berhenti berteriak saat melihat Rian yang tampak sangat tenang di tengah kekacauan. "Bagaimana bisa dia tetap sediam itu saat kita semua akan segera digantung?"
"Mungkin dia sudah gila karena trauma," gumam Bram sambil mendengus kesal.
Rian tetap tidak bergeming. Ia menutup matanya di balik kain, mengabaikan dunia luar dan hanya fokus pada satu tujuan. Di tengah penjara Eldoria yang penuh dengan mana murni ini, ia akan merubah bencana menjadi peluang emas untuk memulihkan diri sebelum interogasi resmi dari Lyraen Swiftwind dimulai
