Cherreads

Chapter 25 - BAB 24: KEJATUHAN PUAK TERAKHIR

Suara gemuruh yang bangkit dari dalam kerongkongan Vritra terdengar seperti ledakan meriam yang diredam oleh dinding-dinding daging yang sangat tebal. Saat Rian melesat masuk ke dalam rahang yang terbuka lebar itu, ia langsung disambut oleh gelombang panas yang luar biasa pekat dan menyesakkan—sebuah kombinasi mematikan antara gas metana purba yang telah terperangkap selama berabad-abad dan mana korosif yang sanggup menguapkan logam meteorit dalam hitungan detik. Cahaya ungu yang berpendar dari semburan gas yang sedang disiapkan oleh Vritra menerangi lorong tenggorokan yang dipenuhi dengan duri-duri tulang tajam yang menyerupai tombak, menciptakan pemandangan neraka internal yang hanya bisa disaksikan oleh mereka yang cukup gila untuk menjemput maut secara langsung.

Rian sama sekali tidak memejamkan matanya, meskipun uap panas mulai menyengat korneanya. Di bawah perlindungan Aethel's Veil yang kini bergetar hebat hingga ke titik kritis akibat tekanan Mana yang sangat masif, ia melihat struktur internal sang monster sebagai hamparan data linear yang terbagi secara otomatis dalam penglihatannya yang tenang.

Garis-garis merah Septem membelah setiap serat otot esofagus Vritra yang berdenyut, memetakan setiap simpul saraf yang dialiri oleh energi kehidupan yang jahat dan haus darah. Rian merasakan cairan hangat mulai mengalir dari sudut matanya—darah segar yang keluar akibat pembuluh kapiler yang pecah. Beban informasi dari mempertahankan teknik mata pada jarak sedekat ini mulai merobek batas ketahanan saraf otaknya, namun ia mengabaikan rasa perih yang membakar itu demi mempertahankan koordinat rasio 7:3 yang mutlak.

"Celestial Parity," bisik Rian di balik giginya yang terkatup rapat, menahan getaran tubuhnya.

Rasi bintang safir gelap muncul melingkar di sekeliling tubuhnya tepat saat gas korosif meledak keluar dari kantung energi Vritra. Perisai itu bekerja pada frekuensi tertinggi, menyerap sebagian besar panas ekstrem dan mengubahnya menjadi bahan bakar mana instan untuk mencegah jaringan kulit Rian terpanggang hidup-hidup di dalam mulut sang ular raksasa. Jubah Shadow-Weave miliknya mengepulkan asap hitam yang tebal, serat-seratnya berjuang keras mempertahankan integritas struktural di tengah suhu yang mampu melelehkan zirah ksatria bintang lima.

Rian melihat koordinat 7:3 pada katup ventilasi mana di pangkal tenggorokan Vritra—sebuah membran tipis yang bergetar hebat setiap kali energi dilepaskan. Dengan satu sentakan Core Resonance yang tersisa di otot lengannya, ia mengayunkan Abyssal Fang dalam satu garis lurus yang sempurna dan tanpa ragu.

SLASH!

Bilah pedang taring naga itu membelah membran ventilasi tersebut tepat pada titik rasionya. Ledakan mana yang tertahan di dalam paru-paru Vritra mendadak kehilangan arah alirannya yang stabil. Energi yang seharusnya menyembur keluar sebagai senjata pemusnah justru berbalik ke dalam, menghancurkan jaringan internal sang ular dari dalam ke luar. Vritra mengeluarkan suara pekikan yang melampaui frekuensi pendengaran manusia, sebuah teriakan kesakitan yang begitu dahsyat hingga membuat pilar-pilar kristal di aula luar hancur berkeping-keping menjadi debu. Tubuh raksasa sepanjang lima puluh meter itu tumbang, menghantam lantai aula dengan kekuatan yang menyebabkan gempa lokal yang hebat, menciptakan awan debu dan puing yang membumbung tinggi menyelimuti seluruh ruangan.

Rian terlempar keluar dari mulut sang ular saat monster itu melakukan kejang kematian terakhirnya. Ia berguling di atas lantai yang kini dipenuhi oleh genangan darah hitam pekat milik Vritra. Darah itu bukan cairan biologis biasa; itu adalah asam korosif yang sangat kuat yang mulai mendesis keras saat bersentuhan dengan lantai batu, melubangi permukaan ubin yang keras hanya dalam hitungan detik. Rian mencoba berdiri, namun kakinya gemetar hebat akibat kelelahan mana yang ekstrem dan beban fisik yang melampaui batas. Pandangannya berbayang biru dan merah; Aethel's Veil telah mencapai batas waktu amannya, meninggalkan rasa sakit yang berdenyut-denyut di dalam tengkoraknya seolah-olah otaknya sedang ditusuk oleh ribuan jarum es.

Namun, ketenangan aula itu segera pecah oleh teriakan-teriakan yang penuh dengan kegilaan yang mengerikan. Dari balik reruntuhan altar darah yang telah hancur, sekelompok ksatria dan pendeta Puak Vritra yang tersisa muncul dengan langkah yang limbung namun penuh amarah. Mereka dipimpin oleh seorang pria paruh baya dengan zirah emas yang sudah terkoyak-koyak—Sang Wakil Ketua Puak yang telah kehilangan akal sehatnya. Wajah mereka tidak lagi menunjukkan ketakutan akan kematian, melainkan kegilaan murni dari seseorang yang seluruh dunianya baru saja runtuh di depan mata mereka.

"Dewa kami... Kau telah membunuh dewa agung kami!" raung sang Wakil Ketua dengan suara parau yang dipenuhi kebencian tak berdasar. "Jika Vritra harus mati, maka tidak ada alasan bagi dunia ini untuk tetap ada! Bakar jiwa kalian! Seret iblis ini bersamamu ke dalam kegelapan abadi!"

Para fanatik itu mulai merapalkan mantra terlarang yang paling dibenci di Silvaris Aeterna: Soul Ignition. Aura mereka yang tadinya berwarna hijau gelap mendadak berubah menjadi merah api yang sangat tidak stabil, memancarkan bau daging yang terbakar dari dalam. Mereka secara sadar membakar inti kehidupan dan Star Core mereka sendiri untuk mendapatkan lonjakan kekuatan terakhir yang bersifat destruktif. Dalam kondisi gila ini, mereka benar-benar kehilangan seluruh insting pertahanan diri. Mereka berlari menerjang ke arah Rian dengan kecepatan penuh, bahkan saat mereka harus melewati kolam darah asam yang mengalir deras dari luka-luka di tubuh Vritra.

Rian berdiri diam, napasnya tersengal-sengal dan dadanya naik turun dengan tidak beraturan. Ia menyaksikan pemandangan yang sangat tidak logis: para ksatria itu berlari menembus genangan darah asam dewa mereka sendiri tanpa ragu. Karena fanatisme yang telah membutakan logika, mereka bahkan tidak memekik saat kaki-kaki mereka mulai mengeluarkan asap putih yang menyengat dan daging mereka meleleh hingga menampakkan tulang akibat asam korosif yang sangat kuat tersebut. Bagi mereka, rasa sakit fisik yang menghancurkan tubuh tidak ada artinya dibandingkan dengan kehancuran iman dan dendam yang membara di dalam jiwa mereka.

"Manusia yang tidak logis," gumam Rian pendek.

Rian menyadari bahwa ia tidak perlu membuang banyak tenaga yang sudah hampir habis untuk menghadapi orang-orang gila ini dalam pertarungan jarak dekat. Dengan sisa mana yang sangat tipis, ia tidak menggunakan pedangnya untuk menebas musuh, melainkan menggunakan Abyssal Fang untuk memicu hukum Septem pada beberapa pilar kristal besar yang sudah retak parah di jalur lari para fanatik tersebut. Ia tidak perlu menghancurkan pilar itu sepenuhnya; ia hanya perlu menyentuh koordinat 7:3 pada dasar tumpuannya agar pilar raksasa tersebut kehilangan keseimbangan strukturalnya secara permanen.

Sesaat kemudian, pilar-pilar kristal raksasa itu tumbang dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga, jatuh tepat ke arah para ksatria yang tubuhnya sudah sekarat dan meleleh karena luka asam mereka sendiri.

BOOM!

Suara hantaman batu kristal seberat ribuan ton yang menimbun para fanatik itu bergema di seluruh aula. Mereka yang masih bisa bergerak mencoba merayap keluar dari reruntuhan dengan jari-jari yang telah hancur, namun tubuh mereka yang sudah terbakar oleh Soul Ignition dan meleleh oleh asam darah Vritra akhirnya menyerah pada kematian. Rian menatap pemandangan itu tanpa sepatah kata pun, matanya yang biru samudera tetap datar. Ia melihat bagaimana fanatisme mampu membuat manusia menghancurkan diri mereka sendiri secara total tanpa perlu banyak dorongan dari pihak luar. Baginya, mereka hanyalah hambatan mekanis yang tidak memiliki nilai efisiensi dalam hidup.

Setelah ancaman terakhir itu diam dalam tumpukan batu, debu, dan darah korosif, Rian berjalan tertatih-tatih menuju tubuh Vritra yang masih sedikit menggeliat dalam kejang kematian. Ia menusukkan pedangnya ke bagian dada ular tersebut yang kini sudah tidak lagi memiliki pelindung mana yang aktif. Di dalam tumpukan organ yang terbakar dan daging yang hancur, ia menemukan apa yang ia cari selama ini—sebuah bola kristal seukuran kepala manusia yang berdenyut dengan cahaya ungu yang luar biasa indah namun memancarkan radiasi mana yang mematikan. Star Core Bintang Tinggi.

Saat jari-jari Rian yang gemetar menyentuh permukaan Core tersebut, ia merasakan getaran energi yang sangat masif mencoba merasuki sistem sarafnya secara paksa. Ia segera memasukkannya ke dalam ruang dimensi Soran's Void Band. Seketika setelah Core itu diambil dari tubuh inangnya, seluruh bangunan bawah tanah itu mulai runtuh secara masif. Tanpa adanya energi dari Vritra yang menopang struktur mana di area sarang ini, aula kristal tersebut mulai kehilangan integritas fisiknya. Bebatuan raksasa dari langit-langit mulai jatuh berhamburan, menghancurkan sisa-sisa singgasana tengkorak dan altar darah.

Rian berbalik, menstabilkan langkahnya di atas lantai yang terus bergetar hebat. Di belakang reruntuhan singgasana yang kini telah hancur total, cahaya perak yang menyilaukan mulai memancar dari sebuah anomali udara yang menyerupai retakan pada kaca dimensi. Titik Retak. Portal cacing itu kini berdenyut dengan irama yang liar dan tidak stabil, seolah-olah ruang itu sendiri sedang robek dengan paksa karena tekanan dimensi yang tidak menentu. Cahaya perak itu mulai menarik segala sesuatu di sekitarnya; debu, abu monster, hingga potongan tulang manusia tersedot masuk ke dalam pusaran vakum yang tidak terduga.

Rian berdiri tepat di depan anomali tersebut, memegang erat hulu pedangnya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tahu dari semua peringatan Soran bahwa peluang untuk selamat melewati tekanan dimensi di dalam portal cacing yang tidak stabil ini sangatlah kecil—hampir mendekati nol bagi manusia yang hanya memiliki empat Star Core. Namun, bagi Rian, tidak ada lagi jalan kembali. Hutan Silvaris Aeterna di atas sana telah menjadi kuburan, dan satu-satunya jalan menuju dunia yang lebih luas adalah melalui lubang jarum kematian ini.

Ia menutup matanya sejenak, mematikan fungsi Aethel's Veil untuk menghemat sisa energinya, dan membiarkan insting bertahan hidup murninya mengambil alih. Dengan satu langkah yang mantap dan penuh keyakinan yang dingin, Rian membiarkan dirinya ditarik oleh pusaran perak yang mematikan tersebut.

Bab ditutup dengan sosok Rian yang tertelan sepenuhnya oleh cahaya perak portal cacing yang berpendar dahsyat, menghilang dari jangkauan hutan terlarang Silvaris Aeterna untuk selamanya. Di belakangnya, sarang Vritra runtuh sepenuhnya ke dalam perut bumi, menjadi kuburan abadi bagi Puak Vritra yang telah musnah dan segala rahasia berdarah yang mereka simpan selama berabad-abad.

More Chapters