Cherreads

Chapter 27 - Bab 1: Fajar di Perbatasan Eldoria

Kesadaran Rian kembali bukan melalui keheningan yang mencekam atau bisikan angin di antara pepohonan raksasa Silvaris yang menyesakkan, melainkan melalui serangkaian bunyi yang sangat asing, kasar, dan sangat mengganggu pendengarannya yang sensitif. Ada suara derit kayu tua yang bergesekan secara ritmis, denting logam zirah yang saling beradu dengan tidak beraturan, dan yang paling asing bagi indranya yang terbiasa dengan kesunyian predator: suara tawa manusia yang meledak-ledak dengan nada yang sangat vulgar dan lepas. Ia merasakan tubuhnya bergoyang ke kiri dan ke kanan dengan tidak menentu, terbaring di atas permukaan yang tidak rata, sedikit empuk namun dipenuhi tekstur kasar. Bau amis darah yang selama delapan tahun terakhir menjadi aroma identitasnya kini telah memudar, digantikan oleh bau jerami kering yang menyengat, debu jalanan yang beterbangan, dan aroma rempah-rempah yang tajam serta bau keringat kuda yang menyerang indra penciumannya.

Hal pertama yang dilakukan Rian saat kesadarannya mencapai fungsi penuh adalah mencoba melakukan diagnosa sirkuit energinya. Ia mencoba memanggil aliran mana dari Star Core di dadanya, namun ia segera menemukan sebuah dinding hampa yang sangat dingin dan membeku di dalam jalur saraf energinya. Keempat Star Core miliknya berada dalam kondisi hibernasi total—sebuah mekanisme pertahanan otomatis yang membekukan seluruh sirkulasi mana untuk memulihkan diri dari trauma dimensi yang hampir menghancurkan eksistensinya saat melewati Titik Retak. Rian menyadari dengan kalkulasi dinginnya bahwa saat ini, ia hanyalah manusia biasa dengan tulang rusuk yang retak, jaringan otot yang robek di beberapa bagian, dan kondisi fisik yang berada di titik nadir penderitaan.

Secara insting, tangan kanannya mencoba meraba pinggangnya dengan gerakan yang sangat lambat dan menyakitkan. Kosong. Jantung Rian berdegup sedikit lebih kencang saat ia menyadari bahwa Abyssal Fang tidak lagi berada di tempatnya. Namun, jemarinya yang gemetar masih merasakan lingkaran Soran's Void Band yang tersembunyi dengan aman di bawah kain jubah abu-abunya yang compang-camping dan kotor. Setidaknya, satu rahasia besar masih berada dalam genggamannya.

Rian mencoba membuka matanya secara perlahan, namun ia segera menyesalinya. Tanpa adanya cadar pelindung dari Aethel's Veil yang biasanya berfungsi sebagai filter data visual, kutukan Septem yang bersifat pasif langsung menghantam otaknya dengan brutal tanpa ampun. Cahaya matahari dunia luar yang terlalu terang di wilayah perbatasan antara Eldoria dan Silvaris Forest ini membuat jutaan garis rasio perak meledak dalam pandangannya secara tumpang tindih. Ia melihat struktur kayu kereta barang di atasnya terbagi menjadi jutaan fragmen geometri yang berputar, berdenyut, dan saling memotong secara tidak logis. Rasa mual yang sangat hebat segera menyerang perutnya, memaksa Rian untuk kembali menutup matanya dengan sangat rapat hingga dahinya berkerut dalam. Ia terengah-engah, keringat dingin mengucur deras di wajahnya yang pucat pasi, sementara ia berjuang mempertahankan kewarasannya di tengah ledakan informasi visual tersebut.

"Eh, lihat! Si Anak Aneh ini akhirnya memberikan tanda-tanda kehidupan!" sebuah suara wanita yang melengking namun terasa sangat lincah terdengar dari arah samping kanan kereta. Itu adalah Lina, sang pengintai dari kelompok tentara bayaran The Iron Grin yang pertama kali mendeteksi keberadaannya di wilayah perbatasan Eldoria.

"Pelankan suaramu yang berisik itu, Lina. Kau bisa membuatnya mati ketakutan hanya dengan suaramu yang melengking seperti burung gagak yang sedang tersedak," sahut sebuah suara berat dan serak yang diikuti oleh tawa yang menggelegar dari bagian depan kereta.

Rian mencoba duduk dengan gerakan yang sangat kaku, mengabaikan rasa sakit yang menusuk tajam di dadanya seolah-olah ada pedang yang tertancap di tulang rusuknya. Ia memicingkan matanya hanya sedikit saja, membiarkan selembar kain kumal yang diletakkan di wajahnya menutupi sebagian besar pandangannya agar otaknya tidak langsung mengalami kegagalan fungsi karena beban Septem. Melalui celah sempit di balik kain itu, ia melihat seorang pria raksasa dengan satu mata yang tertutup bekas luka jahitan lama, duduk di bangku depan kereta sambil dengan santai menimang sebilah pedang perak yang sangat dikenalnya.

"Pedang yang sangat mengagumkan, Nak," ucap Gorr, pemimpin kelompok mercenary tersebut, sambil memutar-mutar Abyssal Fang dengan penuh rasa kagum dan penasaran. "Pengerjaan logamnya sangat halus, bahkan pengrajin terbaik di bawah pegunungan Orthavan mungkin akan menangis karena malu jika melihat kualitas tempaan ini. Namaku Gorr. Dan kau... kau terlihat seperti seseorang yang baru saja dimuntahkan oleh perut bumi dalam kondisi setengah hancur."

Rian tidak langsung menjawab. Meskipun tubuhnya lemah, logikanya tetap bekerja secepat mesin. Ia menganalisis posisi setiap orang di kereta itu melalui suara napas, pola gesekan kaki mereka pada lantai kayu, dan getaran mana yang sangat tipis yang mereka pancarkan. Ia merasakan keberadaan Tessa yang pendiam di sudut belakang dengan tangan yang tetap berada di gagang senjatanya, serta Kael yang sedang sibuk membolak-balik buku catatan kuno tentang wilayah Valto dan Eldoria di samping Bram yang sedang menggerutu sambil mengasah kapak besarnya yang kotor.

"Kembalikan pedang itu," suara Rian keluar dengan nada yang sangat parau, kering, dan sedingin es, tanpa ada sedikit pun tanda-tanda permohonan atau rasa takut yang biasanya ditunjukkan oleh seorang tawanan.

Tawa Gorr kembali meledak dengan lebih keras, diikuti oleh tawa beberapa mercenary lainnya yang sedang menunggang kuda di sisi kereta. "Langsung ke intinya, ya? Tidak ada basa-basi sosial. Aku sangat menyukai gaya itu, Nak. Tapi kau harus mengerti hukum di dunia luar: tidak ada yang gratis, terutama untuk seseorang yang kami temukan sekarat tepat di depan Perisai Suci yang sedang bergetar gila-gilaan karena kehadiranmu. Lina awalnya mengira kau adalah mayat yang dibuang, tapi penyihir buangan kami ini bersumpah kau memiliki sisa-sisa energi yang tidak masuk akal."

"Namaku Rian," sahutnya pendek, benar-benar mengabaikan segala bentuk perkenalan atau pertanyaan tentang latar belakangnya.

"Rian, ya? Nama yang sangat efisien, sama seperti cara bicaramu," Lina mendekat dengan langkah ringan dan menyodorkan sebuah kantung air yang terbuat dari kulit hewan yang sudah aus. "Minumlah. Kau sudah tidak sadarkan diri selama dua hari penuh sejak kami membawamu keluar dari zona penyangga antara Silvaris Forest dan wilayah Eldoria. Jika kau ingin pedang kesayanganmu ini kembali, kau harus bisa membuktikan bahwa kau bukan mata-mata fanatik dari Kerajaan Suci Valto atau hanya pemuda gila yang tersesat mencari ajal di hutan terlarang."

Rian menerima kantung air itu dengan tangan yang gemetar. Ia tidak meminumnya secara langsung; secara refleks ia menganalisis bau airnya untuk mendeteksi keberadaan racun atau ramuan penenang. Setelah memastikan cairan itu bersih dari zat berbahaya, ia meminumnya perlahan-lahan. Logika mekanisnya mulai memproses data lingkungan baru ini: ia kini berada di bawah pengawasan sekelompok mercenary yang memiliki dinamika humor yang kasar namun tampaknya tidak memiliki niat untuk membunuhnya secara instan karena mereka masih melihat "nilai" pada dirinya dan pedangnya.

"Jadi, apa ceritamu yang sebenarnya, Nak?" tanya Kael sambil menutup buku catatannya dengan suara keras. "Tidak ada manusia yang cukup waras untuk berjalan-jalan sendirian di tepi Hutan Silvaris tanpa membawa pasukan pengawal atau setidaknya zirah lengkap dari Verita. Kau tahu betapa ketatnya penjagaan di wilayah Osiriya sekarang sejak portal itu bergetar? Semua orang menyangka ada raksasa yang akan keluar dari balik kubah pelindung."

Rian tetap menutup matanya, membiarkan tubuhnya yang remuk mengikuti guncangan kereta kuda. "Aku keluar dari hutan. Hanya itu yang perlu kalian ketahui."

"Hanya itu katanya! Luar biasa!" Bram, ahli persenjataan yang mendapatkan suplai besinya dari wilayah timur Orthavan, ikut menimpali sambil terkekeh sinis. "Dia bicara seolah-olah dia baru saja pulang dari berkunjung ke rumah kerabat, padahal dia keluar dari tempat yang menurut para pendeta di Valto adalah ujung dunia yang terkutuk."

Interaksi ini menciptakan suasana yang sangat aneh di dalam kereta. Bagi kelompok The Iron Grin, setiap jawaban Rian yang terlalu jujur, datar, dan tanpa emosi justru dianggap sebagai bentuk humor sarkasme tingkat tinggi atau bentuk keberanian yang luar biasa. Mereka menganggap Rian adalah seorang ksatria pengembara yang memiliki mental baja meski fisiknya sedang hancur lebur. Gorr memberikan isyarat singkat pada Tessa untuk memberikan sedikit roti kering dan dendeng kepada Rian.

"Dengar, Rian. Kami adalah tentara bayaran, bukan pahlawan suci dari kerajaan mana pun. Kami tidak peduli siapa kau sebenarnya asalkan keberadaanmu tidak membawa masalah bagi kontrak pengawalan rempah kami menuju Eldoria," ucap Gorr dengan nada bicara yang mulai serius dan dalam. "Tapi untuk saat ini, kau adalah 'barang temuan' berharga kami. Kau akan tetap bersama kami sampai kami mencapai kota terdekat di wilayah para Elf. Dan soal pedang ini... aku akan menyimpannya sebagai jaminan keamanan sampai aku benar-benar yakin kau tidak akan mencoba memotong leher kami semua saat kami sedang tidur."

Rian tidak mencoba mendebat atau memberikan perlawanan fisik yang sia-sia. Di dalam kepalanya, ia mulai menyusun rencana jangka pendek. Berdasarkan ritme denyut yang sangat lemah di Star Core-nya, ia membutuhkan waktu setidaknya tiga hingga lima hari untuk mencairkan hibernasi mananya secara bertahap. Dalam kondisi tanpa energi sedikit pun dan tulang yang retak, mencoba melakukan konfrontasi fisik dengan Gorr—seorang veteran perang yang kemungkinan besar berasal dari kedisipilinan militer Verita—adalah tindakan yang sangat tidak efisien dan akan berujung pada kegagalan mutlak.

Kereta barang kayu itu terus melaju menyusuri jalan setapak yang dikelilingi oleh hamparan rumput yang sangat luas, yang dikenal sebagai Whispering Plains. Di kejauhan, melalui celah sempit di balik kain yang menutupi matanya, Rian bisa melihat betapa indahnya langit biru yang jernih dan matahari yang cerah tanpa penghalang—sebuah pemandangan yang sangat kontradiktif dengan kegelapan abadi di bawah kanopi Silvaris. Ia juga mulai melihat siluet pohon-pohon raksasa yang menyatu dengan bangunan-bangunan megah milik bangsa Elf di Eldoria yang mulai muncul di cakrawala barat.

Namun, bagi Rian, segala keindahan dunia luar ini adalah sebuah gangguan sensorik yang berbahaya. Dunia manusia terlalu terang, terlalu bising, terlalu banyak aroma yang bercampur, dan memiliki terlalu banyak variabel yang tidak bisa ia kendalikan melalui kekuatannya saat ini. Ia harus belajar menavigasi labirin sosial manusia ini dengan cara yang sama seperti ia menavigasi labirin berdarah di sarang Vritra: dengan pengamatan rasio yang dingin, tanpa emosi, dan penuh perhitungan.

"Hei, Anak Buta yang kaku," panggil Lina sambil menyenggol bahu Rian dengan ramah namun kasar. "Jangan mati dulu dalam perjalanan ini, ya. Aku masih sangat penasaran bagaimana pemuda kurus sepertimu bisa mendapatkan senjata yang bahkan lebih mahal dari harga kereta ini."

Rian hanya diam membisu, kembali menyandarkan tubuhnya yang sakit pada tumpukan karung jerami. Ia menutup matanya sepenuhnya, bukan karena ia ingin beristirahat, tetapi karena ia sedang melakukan kalibrasi ulang pada seluruh sistem saraf dan mentalnya. Volume pertama kehidupannya sebagai penghuni hutan telah berakhir, dan kini, di tengah tawa kasar para mercenary dan debu jalanan menuju peradaban Eldoria, sang penimbang mulai menyusun langkah-langkah untuk merebut kembali kekuatannya di sebuah dunia yang tidak pernah mengenal namanya.

Fajar di dunia baru ini terasa sangat hangat menyentuh kulitnya yang pucat, namun di dalam dada Rian, dinginnya logika Silvaris tetap membeku dan tidak tergoyahkan, siap untuk meledak saat variabel yang tepat telah terkumpul.

More Chapters