Cherreads

Chapter 30 - Koridor, Siswa Berlari, dan Sparing yang Tidak Adil

Hari-hari setelah Airi memberanikan diri mendekati Rei di kelas terasa… aneh, tapi hangat.

Ia tidak hanya berhasil bicara dengan Rei, tapi juga perlahan menjadi dekat dengan dua gadis di sekelilingnya: Rika sang beastkin yang tegas, dan Hina sang manusia yang ceria.

Mereka berlima—Rei, Riku, Rika, Hina, dan Airi—mulai sering:

makan siang bersama,

belajar bareng,

bercanda di taman,

bahkan sparing ringan di lapangan latihan.

Airi memperhatikan satu hal:

Rei memang benar-benar tidak punya kekuatan sihir atau penguatan tubuh.

Tapi—

Airi (dalam hati) : 

"Orang-orang tetap berkumpul di sekelilingnya… Riku, yang awalnya bermasalah dengannya… Rika, yang keras kepala tapi protektif… Hina yang lembut… dan aku."

Setiap kali Rei tersenyum dan mengucapkan:

Rei : 

"Terima kasih sudah bersamaku."

Airi merasa ada sesuatu yang hangat mengalir di dada.

Airi (dalam hati) : 

"Ini… kekuatan yang tidak bisa diukur dengan alat tes mana. Kekuatan yang menarik orang masuk ke dalam "dunianya" tanpa memaksakan apa pun."

Dan di situlah, tanpa sadar, rasa sayangnya tumbuh.

Hari itu, jam istirahat kedua baru selesai. Airi, Rika, dan Hina berjalan bertiga dari kantin, masing-masing membawa sisa minuman.

Hina : "Kelas setelah ini teori sihir lagi. Rasanya otakku mau meleleh."

Rika : "Kalau meleleh, ototmu juga ikut turun. Jadi jangan."

Airi tertawa kecil.

Airi : "Rika, itu bukan cara kerja tubuh, tahu."

Saat mereka hampir sampai di persimpangan koridor, seorang murid berlari melewati mereka dengan wajah panik.

Duar! Langkahnya berderap keras, napasnya terengah.

Rika mengangkat alis.

Rika : "Hei, kau. Kenapa berlari di koridor? Ada apa?"

Siswa itu menghentikan langkah, menoleh, lalu berkata tergesa-gesa.

Siswa : "Ada sparing liar di area latihan belakang! Riku dan dua temannya… melawan murid baru itu… Rei! Mereka pakai sihir dan penguatan fisik…!"

Kalimat itu belum selesai, tapi jantung Airi sudah jatuh.

Airi : "…Rei?

Siswa itu mengangguk cepat.

Siswa : "Iya! Murid baru berambut putih itu! Kelihatannya pertarungan tidak seimbang, jadi aku mau—"

Airi tidak menunggu lebih lama.

Gelas minumnya hampir jatuh saat ia berbalik dan mulai berlari.

Airi : "Rika! Hina! Aku ke sana dulu!"

Hina : "Airi! Tunggu!"

Rika menggertakkan gigi, lalu mengikutinya.

Rika : "Hina, cepat! Kita tidak bisa membiarkannya sendiri!"

Mereka bertiga berlari menuju area latihan belakang.

Bola Api, Pelukan Hangat, dan Rasa Bersalah

Saat mereka tiba, suara benturan sudah terdengar:

Bam!

Thud!

Debu bertebaran di udara. Di tengah arena, Rei berdiri menghadap Riku dan dua murid lain.

Riku tampak ragu, teman-temannya berkeringat tapi masih tersenyum miring—salah paham soal "membongkar kebohongan Rei".

Airi menahan napas. Reflek Rei benar-benar di luar nalar:

menghindari,

memutar,

menangkis pukulan tanpa sihir,

tubuhnya bergerak lincah, hampir seperti tarian.

Tapi tetap saja—

Airi (dalam hati) : "Tiga lawan satu…"

Rika melangkah maju, aura beastkin mungkin sewaktu saja bisa pecah.

Rika : "Riku!! Hentikan sparing ini sebelum—"

Namun saat itu, semuanya terjadi sangat cepat.

Salah satu teman Riku—panik, kehilangan kontrol—mengumpulkan mana di tangannya. Bola api besar terbentuk, jauh lebih besar dari yang seharusnya untuk sparing.

Siswa itu meneriakkan mantra, dan bola api meluncur.

Tapi arah tembakannya meleset.

Bukan ke Rei.

Melainkan ke tempat Airi berlari mendekat dari samping.

Waktu seolah melambat.

Airi melihat cahaya merah membesar di bidang pandangnya. Tubuhnya refleks berhenti, tapi kaki tidak sempat mundur. Napasnya tertahan.

Airi (dalam hati) : "Ah… jadi begini rasanya…"

Namun sebelum panas api menyentuhnya—

Ada sesuatu yang jauh lebih hangat datang lebih dulu.

Dada Rei menempel di punggungnya. Tangan Rei memeluknya dari belakang, menariknya dan memutar tubuh mereka, membuat Airi berbalik.

Dari sudut matanya, ia hanya sempat melihat punggung Rei yang kini menghadap bola api.

Rei : "…Tidak apa."

BOOM!!

Ledakan mengguncang tanah. Suhu panas menyambar.

Airi dan Rei terlempar bersama. Airi merasakan tubuhnya berputar di udara, tapi kepala dan punggungnya tertahan oleh satu hal:

Pelukan Rei yang tidak mau melepaskan.

Mereka menghantam tanah keras. Napas Airi terhenti sepersekian detik.

Saat debu turun, Airi membuka mata pelan.

Di atasnya, Rei menggertakkan gigi, menahan rasa sakit.

Ada bau hangus samar.

Punggung seragam Rei robek parah—kulitnya terbakar, merah kehitaman, terlihat jelas di sela-sela kain yang sobek.

Airi : "Rei!!

Tangannya refleks memegang lengan Rei.

Airi : "Kau… bodoh… kenapa…"

Rei berusaha tersenyum, walau wajahnya meringis.

Rei : "Elf ceroboh… tidak seharusnya berlari masuk ke area pertarungan…"

Suaranya lemah, tapi tetap lembut.

Beberapa detik kemudian, suara Rika dan Hina pecah.

Rika : "Cepat! Bawa dia ke UKS!!"

Hina : "Airi, kau baik-baik saja?!"

Airi hanya bisa mengangguk kosong.

Tubuh Rei diangkat, dibawa dengan cepat ke ruang UKS. Airi ikut, berjalan di samping, tangan gemetar.

Di ruang UKS, saat guru dan petugas medis mulai mengobati Rei, Airi berdiri di sudut ruangan, menatap punggung yang diperban.

Airi (dalam hati) : "Kalau saja aku tidak berlari masuk… kalau saja aku menunggu di luar arena… kalau saja aku tidak gegabah…"

Tangannya mengepal.

Airi (dalam hati) : "Dia terluka karena melindungiku. Luka yang seharusnya bukan miliknya."

Sejak hari itu, setiap kali ia melihat punggung Rei, pemandangan ledakan itu selalu kembali.

Dan rasa bersalah itu menetap.

Malam Festival & Kisah Masa Lalu Rei

Waktu berlalu.

Luka Rei perlahan sembuh, mereka kembali tertawa, kembali makan bersama, berdebat kecil soal latihan dan pelajaran.

Namun ada malam tertentu yang menancap dalam di hati Airi:

Malam festival sekolah.

Setelah seharian mereka berjaga di stand kelas, tertawa, melayani pengunjung, dan menonton kembang api, mereka berlima duduk di taman dekat sekolah.

Langit dipenuhi sisa warna-warni kembang api yang memudar.

Riku, Hina, Rika, dan Airi duduk melingkar dengan Rei di tengah.

Lalu Riku membuka topik, mengingat kata-kata Rei di ruang UKS dulu:

Riku : "Waktu itu, di UKS… kau bilang sakit di punggungmu belum seberapa dibanding luka yang pernah kau alami sebelumnya. Maksudmu apa, Rei?

Airi menahan napas.

Ia juga ingin tahu. Dan juga… takut.

Rei terdiam sebentar.

Lalu ia mulai bercerita:

tentang kedua orang tuanya yang meninggal karena kecelakaan saat ia kecil,

tentang hidup sendirian,

tentang tes kebangkitan di usia 17 yang hanya mengubah rambut dan mata tapi tidak memberi kekuatan,

tentang sahabat elf bernama Aelria,

tentang Mina—gadis yang ia cintai, yang ternyata sudah bertunangan,

tentang hari ia melihat Mina berciuman dengan ketua OSIS,

tawa pahit di halaman belakang sekolah,

hujan di jembatan,

keputusan untuk tidak melompat karena mengingat kata-kata Aelria: "jangan hancur bila dunia berubah."

Suara Rei tenang, tapi setiap kalimat seperti memiliki berat sendiri.

Airi mendengarkan… dan di dalam dirinya, luka lama ikut bergetar.

Ia mengingat hari ketika ayahnya jatuh dari proyek konstruksi dan tidak pernah pulang.

Bedanya, Airi masih punya ibunya, tempat ia bersandar.

Rei… berdiri sendirian.

Airi (dalam hati) : "Aku tahu rasanya kehilangan… tapi aku tidak bisa membayangkan harus kehilangan semuanya, lalu dikhianati, lalu berdiri di jembatan sendirian…"

Tanpa sadar, matanya berkaca-kaca.

Ia mengenggam rok seragamnya kuat-kuat, menahan agar air matanya tidak jatuh. Di sampingnya, Hina sudah meneteskan air mata pelan. Riku menunduk, rahang mengeras. Rika memalingkan wajah, aura marahnya muncul lagi.

Saat Rei selesai bercerita, tidak ada yang langsung berbicara.

Airi ingin mengatakan sesuatu—

Terima kasih sudah bertahan.

Tapi tenggorokannya tercekat.

Jadi ia hanya menatap langit malam, menggigit bibir, dan berkata dalam hati:

Airi (dalam hati) : "Mulai sekarang… aku ingin menjadi salah satu alasan kenapa kau tidak akan berdiri sendirian lagi."

Pertemuan dengan Aelria & Luka yang Berbeda

Hari ketika Aelria datang, hidup Rei berubah lagi.

Airi masih ingat suara pintu apartemen Rei terbuka.

Di koridor, mereka baru saja kembali dari menonton film dan berjalan-jalan. Riku, Hina, Airi, dan Rika berdiri tidak jauh.

Saat pintu Rei terbuka—

Seorang gadis elf dengan rambut perak dan mata hijau berlari dari kamar 101.

Aelria : "Rei!!!"

Tanpa mengerem sedikit pun, ia langsung memeluk Rei erat, seolah takut jika melepaskan sedikit saja, Rei akan menghilang lagi.

Tangis Aelria pecah begitu saja.

Aelria : "Kenapa kau tidak bilang apa-apa… kenapa kau menghilang…"

Rei hanya mengusap kepala Aelria pelan.

Rei : "Selamat datang, Aelria."

Selebihnya, kata-kata tenggelam di antara tangis dan pelukan.

Di belakang, Airi berdiri mematung.

Airi (dalam hati) : "Ini… Aelria. Gadis elf yang selalu ia ceritakan. Sahabat masa SMP-nya. Orang yang kata-katanya menahan Rei di jembatan itu."

Ada rasa hangat dan pahit bercampur.

Hangat—karena ia lega Rei bertemu lagi dengan seseorang yang begitu penting.

Pahit—karena untuk pertama kalinya, ia menyaksikan seseorang yang jelas:

sangat mencintai Rei,

sangat takut kehilangannya,

dan punya ikatan yang jauh lebih panjang daripada waktu yang Airi miliki bersama Rei.

Di kamar Seris, saat mereka semua duduk bersama dan Rei menceritakan ulang kisah hidupnya di hadapan Aelria, Airi hanya bisa diam.

Ia melihat bagaimana Aelria menangis saat mendengar bagian Mina dan jembatan.

Ia melihat bagaimana Aelria memohon maaf meski sebenarnya tidak bersalah.

Ia melihat bagaimana tangan Aelria tidak benar-benar melepaskan lengan Rei, seolah itu satu-satunya hal yang membuatnya yakin ini bukan mimpi.

Airi (dalam hati) : "Kalau aku ada di posisinya… mungkin aku akan melakukan hal yang sama."

Dan di saat itu juga, luka di hati Airi bukan hanya karena masa lalu Rei.

Tapi juga karena pertanyaan baru:

Airi (dalam hati) : "Apakah masih ada tempat untukku di hatinya…?"

Aelria Ingin Menginap & Hati Airi yang Tersentak

Malam itu, setelah semua cerita tumpah, setelah tangis Aelria sedikit mereda, Seris menyarankan mereka semua beristirahat.

Seris : "Besok kita jalan-jalan. Sekarang, tidur dulu. Otak kalian perlu istirahat."

Pelan-pelan, mereka bersiap pergi.

Tapi Aelria masih duduk di sebelah Rei, menggenggam lengan bajunya.

Mata hijau itu tampak penuh ketakutan.

Aelria : "Rei… aku tidak ingin berpisah malam ini. Boleh aku… menginap di kamarmu?"

Ruangan hening.

Airi merasakan detak jantungnya berhenti sepersekian detik.

Hina dan Rika menegang. Riku mengedip cepat. Seris memijat pelipis pelan, Rinna hanya menghela napas.

Airi melihat Aelria dengan jelas:

tatapannya,

ketakutannya,

keberaniannya mengucapkan keinginan yang bahkan Airi tidak pernah berani bayangkan untuk berkata langsung di depan Rei.

Airi (dalam hati) : "Ia… berani sekali."

Rei menghela napas pelan, lalu mengelus lembut kepala Aelria.

Rei : "Aku mengerti perasaanmu. Tapi tetap tidak mungkin, Aelria."

Aelria mengerutkan alis.

Aelria : "Kenapa tidak? Aku hanya ingin memastikan kau tidak menghilang saat aku bangun besok…"

Rei tersenyum tipis.

Rei : "Karena pria dan wanita tidur dalam satu kasur sempit tanpa ikatan apa pun… itu tidak tepat. Aku ingin menjaga batas, sekaligus menjaga reputasimu."

Aelria terdiam.

Rei melanjutkan.

Rei : "Kalau orang salah paham, kau yang akan disalahkan duluan. Dan itu tidak akan kubiarkan."

Airi menatapnya.

Ada rasa lega—karena Rei menolak.

Tapi juga rasa nyeri halus—karena Aelria cukup penting hingga berani mengajukan permintaan itu.

Airi (dalam hati) : "Aku… bahkan tidak pernah membayangkan meminta hal seperti itu. Hanya memikirkan menghabiskan waktu dengannya di toko kue sudah membuatku gugup setengah mati…"

Saat Rinna menarik Aelria pelan, memintanya kembali ke hotel bersama teman-temannya, Aelria masih menatap Rei dengan mata yang menyimpan ribuan kata.

Aelria : "Baik… tapi kalau besok kau menghilang… aku akan menyeretmu balik, dari dunia mana pun."

Rei tersenyum kecil.

Rei : "Kalimat ancaman yang menenangkan."

Riku, Hina, Airi, dan Rika berpamitan untuk pulang. Di dalam mobil, dalam perjalanan, Hina berbicara pelan:

Hina : "Aelria-san… sangat mencintai Rei-kun, ya…"

Riku menatap ke depan.

Riku : "Itu bukan cinta sehari dua hari. Itu cinta yang dibangun sejak mereka kecil."

Rika menyilangkan tangan, menutup mata.

Rika : "Selama Rei tidak disakiti… aku tidak keberatan. Tapi kalau ada yang membuatnya menangis lagi, entah itu orang lama atau baru, aku yang akan maju duluan."

Airi hanya menatap jendela mobil, melihat lampu kota lewat satu per satu.

Dalam pantulan kaca, ia melihat wajahnya sendiri—dan bayangan Rei, dan Aelria yang menangis di pelukannya.

Airi (dalam hati) :

"Aku menyukai Rei."

"Aku ingin melindunginya."

"Aku ingin tertawa di sampingnya."

"…Tapi aku tidak tahu, apakah perasaan itu punya tempat di hidupnya, ketika seseorang seperti Aelria sudah begitu kuat menempati hatinya."

Saat malam semakin larut, Airi sampai di rumah. Ibunya menyambut dengan senyum hangat, bercerita tentang pelanggan toko hari ini.

Airi ikut tertawa, ikut menjawab, ikut membantu menutup toko.

Tapi saat ia berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit kamar—

Wajah Rei dan Aelria kembali muncul.

Airi menutup mata, menarik napas dalam.

Airi (dalam hati) : "Kalau aku memilih mundur sekarang… aku akan menyesal."

Kalau aku maju… aku mungkin akan terluka.

Ia menggenggam selimut pelan.

Airi (dalam hati) : "Tapi satu hal yang pasti: aku tidak akan berhenti berada di sisinya. Entah sebagai teman… sebagai penyembuh… atau… jika aku beruntung… mungkin suatu hari lebih dari itu."

Di luar jendela, malam dunia manusia hening.

Dan di tengah semua rasa cemburu, bersalah, takut, dan sayang yang bercampur—

Airi tetap memegang satu tekad:

Apa pun bentuk hubungannya dengan Rei nanti,

ia ingin menjadi seseorang yang bisa berkata dengan bangga:

"Saat semua orang pergi, aku tetap di sini."

More Chapters