Pagi itu, rumah kecil di atas toko kue sudah dipenuhi aroma roti hangat.
Airi duduk di meja makan, menghabiskan roti dan susu hangat. Ibunya berjalan ke sana ke mari, menyiapkan bekal untuk Airi dan beberapa pesanan khusus pelanggan.
Ibu : "Airi, nanti di sekolah…"
Airi mengangkat kepala.
Airi : "Ya, Ibu?
Ibu tersenyum nakal.
Ibu : "Kalau bertemu bocah tampan rambut putih itu, sampaikan salam dariku, ya. Semalam aku baru sadar seragamnya sama persis dengan seragammu."
Airi langsung tersedak pelan.
Airi : "Ibu!!
Ia berdiri cepat, wajahnya memerah.
Airi : "Jangan bicara seperti itu pagi-pagi! Aku… aku bahkan belum tentu akan bertemu dia lagi!
Ibu menyandarkan dagu di telapak tangan, tersenyum lebar.
Ibu : "Oh begitu~? Kalau begitu aku doakan kalian sering bertemu, supaya kau tidak bisa lari dari kenyataan."
Airi : "Kenyataan apanya! Aku berangkat dulu!"
Ia meraih tas, memakai sepatu dengan tergesa, dan hampir berlari keluar.
Ibu sempat berteriak dari dalam.
Ibu : "Kalau dia datang ke toko lagi, jangan lari ke dapur lagi, ya!"
Pintu tertutup.
Airi menutup wajah dengan satu tangan beberapa langkah dari rumah.
Airi (dalam hati) : "Ibu… kenapa harus begitu…"
Dalam perjalanan menuju sekolah, Airi mencoba mengalihkan pikirannya.
Tapi setiap kali ia menatap trotoar di depannya, bayangan yang muncul justru:
Rei di perpustakaan, menulis dengan tenang,
Rei di toko kue, berdiri di depan kasir sambil tersenyum kecil,
suara ibunya: "Kalau kau berubah pikiran, pilih putriku atau aku."
Airi menghela napas pendek dan mempercepat langkah.
Airi (dalam hati) : "Ini tidak boleh terus begini. Aku harus fokus. Tujuanku jelas: belajar, masuk universitas sihir, membahagiakan Ibu. Itu saja."
Namun semakin ia mencoba menghapus wajah Rei, semakin jelas sosok itu muncul.
Di kelas, saat pelajaran berlangsung—
Guru : "Baik, siapa yang bisa menjelaskan teori penguatan aliran mana ini?"
Airi biasanya menjadi salah satu yang paling siap menjawab. Tapi hari itu, matanya kosong menatap papan tulis, otaknya justru mengulang:
Rei : "Tidak. Saya tidak punya pacar."
Ia tersentak pelan saat guru memanggil nama murid lain, pertanyaan lewat begitu saja. Tidak ada yang menegurnya, tapi ia tahu sendiri ia tidak fokus.
Saat bel istirahat berbunyi, para siswa bangkit:
ada yang langsung ke kantin,
ada yang ke lapangan,
ada yang ke perpustakaan.
Airi tetap di tempat, menghela napas, menunduk dan meletakkan dahi di atas meja.
Temannya menghampiri.
Teman 1 : "Hei, Airi. Ayo ke kantin? Kita belum coba menu baru hari ini."
Teman 2 ikut berdiri di samping.
Teman 2 : "Dari tadi kau kelihatan… bukan Airi yang biasa. Seperti memikirkan sesuatu berat."
Airi mengangkat wajah pelan, memaksakan senyum tipis.
Airi : "Maaf, aku hanya sedikit… melamun.
Teman 1 menyipitkan mata.
Teman 1 : "Melamun tentang… seseorang, mungkin?"
Airi langsung tegak.
Airi : "Ti-tidak! Bukan seperti itu!
Teman 2 terkekeh.
Teman 2 : "Kalau bukan, kenapa kau panik?"
Airi menggigit bibir, lalu menghela napas. Ia memutuskan untuk… setengah berbohong.
Airi : "Aku hanya… tadi malam, menonton drama di TV. Tentang… seorang pemuda yang datang ke toko kue dan digoda oleh ibu dan putrinya. Ceritanya agak… konyol. Tapi entah kenapa, kepalaku masih memutar adegan itu sampai sekarang.
Teman 1 dan Teman 2 saling bertatap.
Teman 1 : "Drama, ya…"
Teman 2 : "Toko kue… ibu dan putrinya… pemuda… tampan, mungkin?"
Airi : "I-iya… semacam itu…
Teman 1 menyilangkan tangan, tersenyum lebar.
Teman 1 : "Baiklah, Airi. Kalau kau mau cerita bohong, setidaknya ganti platform. Jangan bilang "drama TV" dengan wajah seperti baru pulang dari toko."
Teman 2 mengangguk.
Teman 2 : "Kami tidak tahu detailnya, dan kami tidak akan memaksa. Tapi satu hal yang kami tahu: wajahmu terlalu jujur untuk kebohongan itu."
Airi membuka mulut, tapi tidak ada pembelaan yang keluar.
Teman 1 menepuk pundaknya.
Teman 1 : "Airi. Wanita juga boleh jujur pada dirinya sendiri. Kalau kau tertarik pada seseorang, bukan dosa."
Teman 2 menambahkan.
Teman 2 : "Dan kalau kau hanya diam, kau yang akan tersiksa. Kadang, lebih baik mengambil satu langkah kecil, walaupun hanya bilang "terima kasih atas kue kemarin"."
Kata-kata itu menancap dalam.
Beberapa detik, Airi hanya menunduk.
Lalu—tiba-tiba ia berdiri.
Kursinya bergeser pelan ke belakang. Teman-temannya terkejut.
Teman 1 : "Eh?"
Airi mengepalkan tangan, wajahnya merah tapi matanya tegas.
Airi : "…Kalian benar. Kalau aku terus lari, aku hanya akan berputar di tempat.
Teman 2 mengangkat alis.
Teman 2 : "Jadi?"
Airi menarik napas dalam-dalam.
Airi : "Aku akan… setidaknya… menyapanya dengan benar.
Tanpa menunggu, ia melangkah ke luar kelas.
Teman 1 dan Teman 2 saling pandang lalu tertawa kecil.
Teman 1 : "Dia pasti menuju kelas murid baru itu."
Teman 2 : "Ya. Kelasnya di lantai atas sayap timur, kan? Semoga berhasil, Airi."
Kelas Rei – Pertemuan Pertama yang Canggung
Di kelas Rei, jam istirahat membuat ruangan agak sepi.
Beberapa murid sudah ke kantin, beberapa masih duduk ngobrol pelan. Riku entah di mana; belum terlalu dekat dengan Rei di fase ini. Rika sedang menghapus papan tulis sambil bersiul pelan, Hina duduk di bangkunya, merapikan buku catatan.
Rei sendiri sedang membereskan buku-buku pelajaran, memasukkannya ke tas.
Rika melirik dari depan kelas.
Rika : "Rei, tidak ke kantin?"
Rei : "Nanti saja. Aku mau merapikan catatan dulu."
Hina menoleh, dagunya bertumpu di atas meja.
Hina : "Kau benar-benar seperti kakek-kakek muda. Jam istirahat dipakai merapikan, bukan bersantai."
Rei hanya tersenyum kecil.
Rei : "Kalau besok ada kuis dadakan, kalian akan berterima kasih padaku."
Hina : "Kalau begitu, kirim saja catatanmu ke kami—"
Suara langkah terdengar di koridor.
Beberapa detik kemudian, sosok dengan rambut perak dan telinga elf yang indah muncul di depan pintu kelas.
Airi berhenti tepat di ambang pintu.
Jantungnya berdegup cepat.
Airi (dalam hati) : "Dia memang di sini…"
Rika dan Hina refleks menoleh ke arah pintu.
Rika menyipitkan mata.
Rika : "…Siapa…?
Hina memiringkan kepala.
Hina : "Cantik…"
Airi melangkah masuk beberapa langkah. Ia tidak langsung berhadapan dengan Rei dari depan—entah kenapa, tubuhnya justru bergerak ke samping, mendekati dari arah samping meja Rei, seolah ingin mencari sudut aman.
Rei merasa ada kehadiran di sampingnya dan menoleh.
Mata heterokrom-nya bertemu dengan mata hijau lembut Airi.
Beberapa detik, keduanya hanya saling menatap.
Airi menelan ludah, lalu… karena panik, otaknya justru memilih mode paling buruk: mode menggoda pura-pura.
Airi : "…Hai, murid baru yang suka datang ke toko kue orang lain tanpa pesananku dulu."
Begitu kalimat itu keluar, wajahnya langsung memanas.
Airi (dalam hati) : "Apa yang baru saja kubilang?!"
Rei berkedip sekali.
Lalu mata Rei sedikit melebar.
Rei : "…Kau yang… kemarin di kasir toko kue itu."
Airi cepat-cepat mengalihkan pandangannya, lalu kembali menatapnya, berusaha terlihat lebih santai dari perasaannya yang sebenarnya.
Airi : "Mungkin. Mungkin juga bukan."
Suasananya… canggung sekali.
Rika dan Hina saling melirik dari kejauhan.
Hina berbisik pelan.
Hina : "Rika…"
Rika : "Aku tahu. Situasinya sangat… aneh."
Hina tersenyum kecil.
Hina : "Tapi menarik."
Rei menaruh buku terakhir di tas, lalu menegakkan badan.
Rei : "Kalau begitu, 'mungkin' kau adalah putri pemilik toko kue yang—"
Airi refleks menyela, panik.
Airi : "Tolong jangan lanjutkan!"
Rei terdiam sejenak.
Rika memutuskan saat itu juga bahwa kalau dibiarkan, ruangan akan meledak oleh canggungnya.
Rika melangkah mendekat dengan langkah mantap.
Rika : "Hei, kalau kalian mau mengulang adegan drama toko kue, jangan lupakan kami yang menonton di sini."
Airi menoleh cepat ke arah Rika, sedikit terkejut.
Airi : "A-ah… maaf. Aku tidak berniat… mengganggu."
Hina ikut berdiri dari bangkunya, mendekat dengan senyum hangat.
Hina : "Tidak apa. Justru menarik. Jarang ada elf cantik datang ke kelas kami dan langsung menghampiri Rei-kun seperti itu."
Kata-kata "langsung menghampiri Rei-kun" membuat Airi makin merah.
Airi : "J-jangan bilang seperti itu… aku hanya… ingin…"
Teman-temannya di kelas Airi benar—wanita harus jujur dan berani bertindak—tapi lidahnya belum cukup berani untuk mengucapkan semuanya.
Rei menolong pelan.
Rei : "Mungkin Airi-san ingin memarahiku karena membuat ibunya bercanda terlalu jauh kemarin."
Airi menoleh cepat.
Airi : "K-kau ingat namaku?!
Rei tersenyum kecil.
Rei : "Ibumu menyebutnya cukup jelas sambil menjodohkan kita berdua, ingat? Sulit untuk lupa."
Rika hampir tersedak udara.
Rika : "Men-jodo—"
Hina menutup mulutnya sendiri, menahan tawa.
Hina : "Sepertinya cerita ini jauh lebih seru dari yang kita kira."
Airi menutup wajah dengan kedua tangan sedetik, lalu menurunkannya lagi, memaksa diri menghela napas panjang.
Airi : "Baik… aku… akan jujur sedikit saja."
Ia menatap Rei, masih malu tapi matanya lebih tenang.
Airi : "Terima kasih karena sudah datang ke toko kue kami kemarin. Dan… maaf karena meninggalkan kasir begitu saja. Itu ceroboh."
Rei menggeleng pelan.
Rei : "Tidak masalah. Kue-nya enak. Dan… ibumu sangat… penuh energi."
Airi hampir tersenyum, meski masih merah.
Airi : "Itu… benar."
Rika menyilangkan tangan.
Rika : "Kalau kau punya toko kue, kau seharusnya bilang dari awal. Kami bisa menjadikannya markas baru."
Hina mengangguk cepat.
Hina : "Benar! Airi-san, kalau tidak keberatan, lain kali… boleh kami ikut Rei ke toko itu?"
Airi sedikit kaget dengan perubahan suasana yang cepat ramah.
Airi : "A-ah… t-tentu. Toko kami selalu terbuka. Tapi jangan harap Ibu akan berhenti menggoda kalian."
Rika mendecak kecil.
Rika : "Biarkan dia mencoba. Kita lihat siapa yang menang."
Hina tertawa pelan.
Hina : "Aku tidak keberatan digoda selama kuenya enak."
Atmosfer yang tadinya kaku mulai mencair.
Airi menunduk sedikit ke Rei.
Airi : "Sekali lagi… senang bertemu langsung, Rei-san. Di luar perpustakaan… dan di luar kasir."
Rei mengangguk kecil.
Rei : "Aku juga senang, Airi-san.
Di benak Airi, satu kalimat teman-temannya terulang:
"Wanita itu harus jujur dan berani bertindak."
Hari itu, ia mungkin belum berani mengakui sepenuhnya apa yang ia rasakan.
Tapi untuk pertama kalinya, ia:
berdiri,
melangkah keluar dari kelas,
dan memanggil nama Rei secara langsung.
Dan bagi Airi, itu sudah menjadi langkah kecil yang mengubah arah cerita hidupnya—membawanya, pada akhirnya, menjadi salah satu orang yang paling keras memegang tekad:
"Aku ingin melindungi orang ini dengan kekuatan yang kupunya.""
