Pagi itu, matahari baru naik setengah ketika Riku sudah berdiri di depan cermin kamarnya, merapikan rambut dan kerah bajunya.
Walau hanya main ke rumah teman, ia tetap memilih kaos simpel tapi rapi dan jaket tipis. Setelah mandi, ia turun ke lantai bawah, di mana sarapan sudah menunggu.
Ayah duduk membaca sesuatu di layar hologram, sementara ibu dan adiknya masih di luar negeri—tapi sudah sempat mengirim pesan:
Adik (di chat) : "Good luck dengan liburan keromantisanmu, Kak."
Ibu (di chat) : "Jangan lupa bersikap manis pada gadis yang kau suka."
Riku hanya bisa menghela napas.
Riku : "Aku berangkat dulu, Ayah."
Ayah menurunkan layar dengan satu sentuhan, lalu meliriknya dengan senyum yang penuh arti.
Ayah : "Pergilah. Dan ingat, jangan hanya membawa badan. Bawa juga keberanianmu."
Riku : "…Aku tahu."
Perjalanan dengan mobil keluarga tidak memakan waktu lama. Atap sekolah mereka masih tampak beberapa bagian ditutupi perancah, beberapa pekerja dari berbagai ras sibuk merapikan bangunan yang rusak saat insiden monster.
Mobil berhenti di depan gerbang samping yang kini dijadikan area akses sementara.
Begitu ia turun, sebuah suara familiar memanggilnya dari kejauhan.
Hina : "Riku!! Di sini!"
Riku menoleh.
Di dekat pohon besar yang biasa mereka lewati saat berangkat sekolah, sudah berdiri tiga gadis:
Hina dengan pakaian santai: kaos longgar dan celana jeans, rambut diikat ekor kuda.
Airi, elf cantik dengan cardigan lembut dan rok sederhana.
Rika, dengan hoodie tipis dan celana training pendek, rambut beastkin-nya diikat ke belakang.
Mata Riku otomatis tertuju pada Rika.
Di matanya, meski hanya memakai pakaian santai, Rika terlihat… mempesona. Cara ia menyilangkan tangan, cara telinganya sedikit bergerak saat Hina bicara—semuanya terekam jelas.
Riku (dalam hati) : "Cantik… sekali…"
Tapi di dunia nyata, yang keluar hanya:
Riku : "Maaf menunggu. Kalian sudah lama di sini?
Hina melambai santai.
Hina : "Tidak kok. Kami juga baru sampai."
Airi tersenyum halus.
Airi : "Terima kasih sudah mengumpulkan kami, Riku."
Rika hanya mengangguk kecil.
Rika : "Kalau sudah kumpul, ayo cepat. Kau bilang mau mampir minimarket dulu, 'kan?"
Riku tersentak sadar dari lamunan singkatnya.
Riku : "Ah, iya. Sebelum ke apartemen Rei, kita beli cemilan… dan mungkin permainan, supaya tidak bosan."
Setelah memastikan supirnya boleh pulang, rombongan kecil itu pun berjalan bersama menuju minimarket dekat komplek apartemen Rei.
Minimarket, Snack, dan Dompet Riku yang Menangis
Minimarket itu tidak terlalu besar, tapi cukup lengkap.
Begitu pintu berbunyi cling, Hina langsung masuk dengan mata berbinar.
Hina : "Wah… snack… minuman… permen…"
Riku : "Ambil saja yang kalian mau. Tapi ingat, kita ke sana untuk main, bukan untuk buka toko kedua.
Katanya begitu, tapi rupanya Tuhan tidak mendengar."
Hina langsung mendorong keranjang kecil, mengambil:
biskuit manis,
cokelat batang,
minuman bersoda,
marshmallow,
dan entah berapa jenis snack lagi.
Rika, yang awalnya hanya mengambil sedikit, mendadak ikut terbawa arus.
Rika : "Kalau Hina ambil segini… aku juga ambil beberapa."
Ia menambah:
keripik pedas,
energy bar,
dan beberapa snack asin.
Airi mengamati keduanya dengan mata sedikit melebar.
Airi : "E-eh… banyak sekali. Kalian yakin punya uang untuk membayar semua ini?"
Hina dan Rika langsung terpaku.
Mereka menatap isi keranjang… lalu saling berpandangan.
Hina : "…"
Rika : "…"
Keduanya baru sadar.
Hina : "…Aku lupa."
Rika : "…Aku juga."
Mereka menoleh perlahan ke arah Riku.
Riku menghela napas, tapi tak bisa menahan senyum.
Riku : "…Tenang saja. Kali ini biar aku yang traktir. Anggap saja ini… permintaan maaf lanjutan atas kejadian sparing dulu."
Mata Hina langsung berbinar.
Hina : "Serius?!"
Rika sedikit mengerutkan alis—antara malu dan senang.
Rika : "Bukankah ini terlalu banyak…?"
Riku mengangkat bahu.
Riku : "Tidak apa. Keluargaku tidak akan bangkrut hanya karena beberapa snack."
Begitu kata-kata itu keluar, Hina dan Rika saling berpandangan… lalu, tanpa rasa bersalah, kembali ke rak.
Hina : "Kalau begitu, aku ambil yang ini juga—"
Rika : "Keripik ini juga… sepertinya Rei suka yang asin."
Airi hanya bisa menatap mereka dengan senyum pasrah.
Beberapa menit kemudian, mereka semua berkumpul di kasir. Tumpukan snack memenuhi meja.
Petugas kasir sedikit kaget.
Kasir : "…Pesta, ya?"
Riku hanya tersenyum tipis, mengeluarkan kartu pembayaran.
Riku : "Semacam itu."
Beberapa detik kemudian, setelah semua dibayar dan dimasukkan ke kantong plastik, mereka keluar dari minimarket.
Di luar, Hina dan Rika masing-masing membawa dua kantong besar, sementara Airi hanya satu kantong kecil berisi minuman.
Membantu Membawa Belanjaan & Detak yang Tak Terucap
Di tengah jalan menuju apartemen Rei, Riku memperhatikan punggung Rika yang berjalan di depan.
Dua kantong belanjaan bergoyang di kedua tangannya.
Riku (dalam hati) : "Kelihatannya berat…"
Tanpa banyak pikir, ia mempercepat langkah dan menyusul.
Riku : "Rika."
Rika menoleh sedikit.
Rika : "Hm?"
Riku menatap kantong-kantong di tangannya.
Riku : "Biar aku yang bawa salah satunya. Atau dua-duanya.
Rika tampak kaget.
Rika : "Tidak perlu. Aku bisa bawa sendiri."
Riku menggeleng pelan.
Riku : "Ayah memberiku nasihat. Kalau melihat seorang gadis membawa sesuatu, jangan hanya diam seperti patung. Bantu sebisamu. Kalau tidak… kau bukan laki-laki."
Rika terdiam.
Ada sedikit ragu di matanya, bercampur dengan sesuatu yang lain—malu yang jarang ia tunjukkan.
Rika : "…Ayahmu benar-benar menyusahkan."
Tapi setelah beberapa detik, ia menyodorkan salah satu kantong.
Rika : "Kalau begitu… terima kasih."
Riku menerima kantong itu, merasa bobotnya ringan—tapi dadanya terasa jauh lebih berat… dalam cara yang aneh.
Riku (dalam hati) : "…Ini tidak seberapa. Tapi entah kenapa aku senang sekali."
Di belakang mereka, Airi dan Hina memperhatikan.
Airi menutup mulutnya pelan, tersenyum.
Airi : "…Jadi begitu."
Hina terkikik pelan.
Hina : "Akhirnya jelas juga. Riku mengejar Rika, ya~"
Airi : "Sepertinya begitu. Tapi kita pura-pura tidak tahu saja."
Hina mengangguk setuju.
Hina : "Tentu. Penonton sebaiknya hanya menikmati tontonan."
Beberapa langkah kemudian, Hina tiba-tiba menyodorkan kantongnya ke arah Riku.
Hina : "Riku, bawakan ini juga ya!"
Riku : "Ha?"
Hina sudah terlanjur meletakkan kantong di lengannya, lalu berlari menyusul Rika.
Hina : "Ayo, Rika! Kalau kita lambat, Rei sudah tertidur lagi!"
Rika : "Hei! Jangan lari sembarangan!"
Airi tersisa di samping Riku, tersenyum minta maaf.
Airi : "Maaf, Riku. Mereka jadi memanfaatkanmu sebagai pengangkut barang."
Riku mengangkat kedua kantongnya, yang kini cukup banyak.
Riku : "Tidak apa. Anggap saja latihan beban ringan."
Airi : "Tetap saja, terima kasih.
Mereka melanjutkan perjalanan. Suasana di antara mereka ringan—tapi di hati masing-masing, ada perasaan kecil yang pelan-pelan tumbuh:
kagum,
syukur,
dan sedikit… deg-degan.
Sampai di Apartemen Rei – Permainan Dimulai
Apartemen Rei berada di kompleks yang tenang, dengan beberapa tetangga dari berbagai ras yang sudah akrab dengannya.
Saat mereka mendekat ke pintu masuk, beberapa ibu-ibu yang duduk di bangku depan melambaikan tangan.
Ibu-ibu 1 : "Oh, Rei-chan hari ini kedatangan tamu lagi, ya?"
Ibu-ibu 2 : "Kali ini tambah cantik-cantik dan tampan."
Hina tersenyum canggung sambil membungkuk.
Hina : "Selamat siang."
Airi ikut membungkuk sopan. Rika hanya mengangguk kecil.
Riku mengangkat sedikit kantong belanjaannya sebagai tanda salam.
Setelah menaiki tangga, mereka tiba di depan pintu apartemen Rei.
Riku mengetuk pelan.
Riku : "Rei, kami datang."
Beberapa detik, tidak ada jawaban.
Lalu terdengar suara langkah pelan, dan kunci diputar. Pintu terbuka sedikit.
Rei muncul dengan rambut sedikit berantakan, kaos sederhana, dan wajah masih mengantuk.
Rei : "…Kalian sudah datang?"
Hina tertawa kecil.
Hina : "Jangan bilang kau baru bangun."
Rei mengusap mata.
Rei : "…Mungkin."
Airi tersenyum lembut.
Airi : "Maaf datang terlalu pagi."
Rei menggeleng.
Rei : "Tidak apa. Masuk saja."
Mereka masuk ke dalam kamar Rei—ruangan kecil tapi rapi, dengan kasur, meja kecil, rak buku, dan sedikit ruang kosong di tengah untuk duduk.
Riku menaruh semua kantong belanjaan di sudut ruangan.
Rei memandang tumpukan itu… lalu menatap Riku.
Rei : "…Kau berniat membuka minimarket cabang di kamar ini?"
Riku batuk pelan.
Riku : "Ini… bekal liburan."
Hina mengeluarkan sesuatu dari salah satu kantong.
Hina : "Bukan hanya snack kok. Lihat ini—"
Ia mengangkat sebuah kotak papan permainan.
Hina : "Board game! Biar kita tidak bosan hanya duduk mengobrol."
Rika ikut mengeluarkan beberapa minuman, menatanya di dekat meja.
Rika : "Kalau kau keberatan, kami bisa bayar sewa lantai ruang tengahmu."
Rei menghela napas, tapi senyumnya tipis.
Rei : "Selama kalian tidak menjatuhkan sesuatu ke tetangga di bawah, silakan."
(Ada Seris di lantai bawah yang belum mereka sadari ikut berjasa menjaga "ketenangan struktur apartemen".)
Mereka duduk melingkar:
Rei bersandar di kasur,
Riku duduk sedikit di depan,
Hina dan Rika duduk saling berhadapan,
Airi di sisi lain, tak jauh dari Rei.
Kotak permainan dibuka di tengah.
Hina : "Aturannya sederhana. Kita jalan pion, ambil kartu, jawab tantangan atau pertanyaan. Yang kalah…"
Ia tersenyum nakal.
Hina : "…harus jujur menjawab satu pertanyaan dari pemenang. Setuju?"
Riku menegang sedikit.
Riku : "Tunggu, jenis jujurnya sampai seberapa jauh?"
Rika smirk kecil.
Rika : "Takut?"
Airi hanya tersenyum lirih, tapi matanya tertarik.
Airi : "Sepertinya menarik. Tapi jangan terlalu kejam, ya."
Rei menghela napas… tapi di matanya ada sedikit cahaya berbeda.
Rei : "Baiklah. Tapi kalau pertanyaannya melewati batas, aku akan protes."
Hina mengangkat tangan.
Hina : "Oke, oke. Yang penting hari ini kita bersenang-senang dulu."
Di luar, langit masih cerah. Di dalam, mereka duduk melingkar, dikelilingi snack, minuman, dan papan permainan.
Libur satu minggu yang seharusnya mereka habiskan sendiri-sendiri kini berubah menjadi:
tawa,
godaan kecil,
dan langkah-langkah kecil yang pelan-pelan mendekatkan mereka satu sama lain—
tanpa ada yang sadar, bahwa di lantai bawah, ada sepasang mata demon dunia lain yang mungkin suatu hari juga akan ikut tertawa bersama di ruangan ini.
