Beberapa hari libur ini, hidup Riku terasa jauh berbeda dari biasanya.
Bukan latihan fisik di halaman rumah, bukan juga mengikuti ayahnya keliling institusi teknologi. Tapi—
Datang ke apartemen Rei,
makan ramen instan rame-rame,
ditertawakan para ibu-ibu tetangga yang selalu menggoda Rei,
dan pulang sore dengan hati ringan.
Riku (dalam hati) :
"Aneh juga… dulu aku yang hampir bikin dia cacat, sekarang malah jadi yang paling semangat datang ke rumahnya."
Hari itu, setelah beberapa kali ia sendirian ke tempat Rei, muncul satu ide:
Ajak yang lain juga.
Hina? Gampang.
Airi? Masih agak deg-degan, tapi masih aman.
Satu lagi… Rika?
Dan di situlah masalahnya.
Riku berdiri di ruang tengah rumahnya, ponsel di tangan.
Layar chat dengan:
Hina → sudah terkirim: "Besok main ke rumah Rei bareng aku, ya." → dibalas cepat: "Siap!"
Airi → sudah terkirim: "Libur ini kita kumpul di tempat Rei. Ibu-ibu kompleks sudah menunggu untuk menggoda." → dibalas emot tertawa dan setuju.
Tinggal satu nama di layar:
Rika
Kursor berkedip di kolom pesan.
Jempol Riku naik-turun, tapi tidak menekan apa-apa. Ia berjalan dari sofa ke meja, dari meja ke jendela, balik lagi. Langkahnya persis setrikaan bolak-balik.
Ayah yang sedang duduk di sofa, memegang tablet, hanya mengawasi beberapa saat sebelum membuka suara.
Ayah : "Riku, kau kenapa mondar-mandir seperti setrikaan rusak? Lantai rumah ini tidak minta disetrika.
Riku kaget, reflek menjawab tanpa saringan.
Riku : "Aku… ingin kirim pesan ke gadis yang aku suka, tapi… aku tidak berani dan bingung harus tulis apa…"
Sunyi sejenak.
Riku membeku.
Riku (dalam hati) :
"…"
Lalu—
Ayah : "…"
Sang ayah menekan sesuatu pada tablet nya dan hologram tablet di tangan ayahnya tiba-tiba membesar, berubah menjadi layar transparan di udara. Dan dari situ, muncul wajah ibu dan adiknya yang sedang di luar negeri.
Ibu : "Hooo… gadis yang kau suka, ya?
Adik : "Eeeeh?! Kakak ternyata masih normal!!
Riku : "HAAA?!
Baru saat itu ia sadar: sejak tadi ayahnya sedang video call dengan ibu dan adiknya. Dan barusan, ia mengumumkan rahasia terbesarnya ke seluruh keluarga… dengan volume NORMAL.
Riku menutupi wajah dengan kedua tangan.
Riku : "Kenapa kalian semua dengar…"
Ayah tertawa sampai menepuk lutut.
Ayah : "Karena kau sendiri yang berteriak di ruang tengah, Nak."
Ibu mencondongkan wajah ke arah hologram.
Ibu : "Baiklah, baiklah. Ini menarik. Ceritakan, Riku. Siapa gadis yang berhasil membuatmu mondar-mandir seperti setrikaan?
Adik menempelkan wajah ke sisi layar.
Adik : "Kakak, cepat! Jelaskan! Ras apa dia? Cantik tidak? Sudah jadi pacar belum?
Riku menghela napas panjang, merasa tidak bisa lagi bersembunyi.
Riku : "Dia… temanku di sekolah. Beastkin. Kuat, keras kepala, rajin latihan. Namanya… Rika."
Ibu tersenyum lebar.
Ibu : "Beastkin, ya? Selera yang bagus. Mirip ibumu ini.~"
Ayah berdehem kecil, pura-pura cemburu.
Ayah : "Hei, jangan rebut peranku. Ini sesi ayah dan anak lelaki."
Adik cekikikan.
Adik : "Jadi kakak suka gadis yang mirip Ibu. Tidak heran kakak penurut."
Riku : "Bisa tidak kalian jangan mengupas hidupku seperti acara talkshow keluarga?!"
Ayah tertawa sekali lagi, lalu menepuk tempat di sampingnya.
Ayah : "Sini duduk, Riku. Biar kujelaskan sesuatu sebelum kau menua hanya karena mengetik pesan."
Nasihat Ayah – Kalau Terlambat, Hanya Menyesal
Riku duduk di samping ayah.
Layar hologram di depan mereka memperlihatkan ibu dan adiknya di ruang tamu rumah luar negeri—keduanya ikut mengamati.
Ayah menghela napas pendek, tapi senyumnya lembut.
Ayah : "Dulu, aku tidak jauh berbeda denganmu."
Riku menoleh.
Riku : "Ayah juga… susah kirim pesan?"
Ayah terkekeh.
Ayah : "Zamanku belum ada pesan singkat. Tapi tangan ini gemetar setiap kali mau mengetuk bahu gadis yang kusuka.
Ibu di layar menyeringai.
Ibu : "Dan gadis itu… aku, tentu saja."
Adik : "Tentu saja, Ibu!"
Ayah melanjutkan.
Ayah : "Aku sangat pemalu. Melihatnya di lorong sekolah saja sudah cukup membuatku mencari tembok untuk berlindung. Tapi… di dalam hati, ada ketakutan yang jauh lebih besar."
Riku menatap ayah lebih serius.
Riku : "Takut apa?
Ayah : "Takut dia pergi dengan orang lain, sementara aku tidak pernah mencoba mengatakan apa-apa."
Kalimat itu menancap pelan di dada Riku.
Ayah menatap lurus ke layar hologram, seolah melihat kembali masa lalunya.
Ayah : "Sampai suatu hari, aku sadar: kalau aku terus diam, aku akan menua sambil bertanya-tanya… 'bagaimana kalau saat itu aku bicara?' "
Ibu tertawa kecil, matanya lembut.
Ibu : "Dan pada hari itu, dia melakukan tindakan paling konyol sekaligus paling berani sepanjang hidupnya."
Adik memajukan tubuh.
Adik : "Ceritakan! Ceritakan!
Ayah memijat pelipis, tapi tersenyum.
Ayah : "Waktu itu, ibumu hendak pulang sekolah. Di depan gerbang, dia berjalan bersama beberapa temannya. Jantungku seperti mau lompat keluar dada. Tapi aku tahu… kalau aku tidak bergerak hari itu, aku mungkin tidak akan pernah punya kesempatan seperti itu lagi."
Riku diam, menyimak.
Ayah : "Jadi… aku berdiri di depan gerbang, menunggu. Saat dia muncul, aku…"
Ibu menyela, tertawa.
Ibu : "…berteriak menyatakan cinta di depan seluruh teman sekelasku!
Adik : "Eh?! Di depan semua orang?!"
Ayah menggaruk tengkuk.
Ayah : "Ya. Sangat memalukan. Kaki ingin lari, wajah panas. Tapi setidaknya, semua orang tahu apa yang kurasakan. Termasuk dia."
Ibu tersenyum lembut, pipinya sedikit memerah mengingatnya.
Ibu : "Saat itu aku malu setengah mati. Tapi… aku juga tahu betapa seriusnya dia. Aku… sudah jatuh cinta lama padanya, jadi aku membalas perasaannya. Di depan semua orang juga."
Adik memelotot layar.
Adik : "Jadi Ibu dan Ayah ini pasangan nekat sejak muda ya…"
Ayah menoleh pada Riku lagi.
Ayah : "Riku. Intinya satu: lebih baik maju dan terluka atau ditolak… daripada tidak pernah bergerak dan hidup dengan penyesalan."
Ibu mengangguk.
Ibu : "Kalau kau tidak bergerak, kau tidak akan pernah tahu… siapa yang sebenarnya ada di dalam hati orang yang kau sukai."
Adik mengacungkan jempol.
Adik : "Betul, Kak! Kamu laki-laki! Minimal kirim pesan saja dulu, jangan kalah sama sinyal Wi-Fi!"
Riku menunduk, menggenggam ponsel.
Kata-kata ayahnya menggema di kepala:
"Lebih baik jujur dan berani bertindak sebelum penyesalan datang."
"Kalau kau tidak bergerak, kau tidak akan tahu isi hati orang lain."
Perutnya seperti diisi kupu-kupu yang berlatih bela diri. Tapi—di tengah rasa gugup itu, ada sesuatu yang menguat.
Pesan Singkat untuk Rika
Riku menarik napas dalam-dalam.
Ayah, Ibu, dan Adik menatapnya dari layar hologram seperti penonton yang menunggu momen klimaks.
Di layar ponsel, kursor masih berkedip di chat Rika.
Riku mulai mengetik pelan :
"Rika, libur ini aku mau main ke rumah Rei. Hina dan Airi juga ikut. Kalau… kau mau, ikutlah juga."
Ia berhenti sebentar, menatap kalimat itu."
Tidak terlalu panjang. Tidak terlalu berlebihan. Tapi jujur.
Riku : "…Oke."
Dengan satu tarikan napas, ia menekan tombol kirim.
Pesannya meluncur.
Seakan-akan di saat yang sama, jantungnya juga ikut dikirim lewat jaringan.
Riku : "T-terkirim…"
Ayah bersandar ke sofa, tersenyum bangga.
Ayah : "Bagus. Itu satu langkah yang baik."
Ibu menyandarkan dagu di tangan.
Ibu : "Sekarang tinggal bagian menunggu jawaban, yang biasanya lebih menyiksa daripada perang."
Adik menempel di layar.
Adik : "Kak! Kalau dia tidak balas tiga menit, aku akan spam doa dari sini!"
Riku memelototi layar ponsel, seakan-akan kalau ia tidak berkedip, jawaban akan datang lebih cepat.
Satu menit.
Dua menit.
Sunyi.
Riku mulai gelisah, jari-jarinya mengetuk pelan paha.
Riku (dalam hati) :" Apa aku terlalu mendadak? Apa dia sibuk? Apa—"
ting!
Notifikasi muncul.
Layar ponsel menyala.
Di chat Rika, ada satu balasan sederhana:
Rika : "Ok."
Riku mematung beberapa detik.
Lalu, pelan-pelan, bahunya mengendur. Ia menghembuskan napas yang sejak tadi tertahan.
Riku : "…Dia setuju."
Ayah tersenyum lebar.
Ayah : "Lihat? Tidak perlu teriak di depan gerbang sekolah dulu pun sudah berhasil mengundangnya."
Ibu tertawa.
Ibu : "Langkah pertama, sukses. Jangan lupa, setelah ini yang penting sikapmu saat bertemu, bukan hanya pesan."
Adik menjatuhkan diri ke sofa di layar, tertawa-tawa.
Adik : "Astaga… Kakak dari tadi seperti mau kirim tantangan perang ke raja iblis, padahal cuma ajak liburan bareng teman-teman."
Riku : "Hei! Ini serius untukku, tahu!"
Ayah menggoda.
Ayah : "Tenang saja. Setidaknya sekarang kami tahu pahlawan keluarga ini tidak mati sebelum mengirim pesan cinta pertamanya."
Ibu : "Dan kami akan terus mengganggumu soal ini sampai cucu muncul."
Riku : "JANGAN LANGSUNG LONCAT KE SITU!"
Gelak tawa memenuhi ruang tengah.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah insiden sparing, suasana rumah Riku dipenuhi canda:
ayah menertawakan kegugupan anak lelakinya,
ibu menggoda dari seberang dimensi,
adik menjadikan kisah cinta kakaknya sebagai bahan ejekan seumur hidup.
Dan di tengah semua itu, Riku tersenyum sendiri sambil menatap pesan singkat "Ok" dari Rika.
Riku (dalam hati) : "Libur ini… mungkin akan jadi salah satu libur terbaik yang pernah kumiliki."
