Cherreads

Chapter 34 - Permainan Kejujuran

Mereka duduk melingkar di lantai kamar Rei, papan permainan di tengah, snack berserakan rapi di pinggir. Suasana hangat, tapi Hina masih memegang kotak kartu tantangan dengan senyum nakal.

Hina : "Oke! Yang kalah nanti harus jawab jujur pertanyaan apa pun dari pemenang—"

Riku langsung mengangkat tangan.

Riku : "Stop. Kalau pertanyaannya terlalu pribadi gimana?"

Rika menyipitkan mata.

Rika : "Aku juga setuju. Ada hal-hal yang tidak untuk diumbar di kamar sempit seperti ini.

Seris menambahkan singkat.

Seris : "Kalau aku tidak mau jawab, aku pulang sekarang."

Hina mengembungkan pipi.

Hina : "Kalian ini…"

Airi tersenyum pelan.

Airi : "Bagaimana kalau kita batasi? Bukan "pertanyaan bebas", tapi satu tema saja. Sesuatu yang… masih bisa ditertawakan nanti."

Noelle mengangkat tangan.

Noelle : "Tema cinta, misalnya?"

Nerine menyeringai.

Nerine : "Tepat sekali. Hanya satu pertanyaan: 'Apa kau punya orang yang kau suka… ya atau tidak?' Tanpa nama, tanpa ciri-ciri, tanpa asal dunia."

Rinna menghela napas, tapi matanya agak tertarik.

Rinna : "Jawabannya cuma 'ada' atau 'tidak'. Simpel. Batas aman."

Fiora mengangguk setuju.

Fiora : "Itu masih… wajar."

Hina berpikir sebentar, lalu mengangkat bahu.

Hina : "Baiklah. Kalau begitu hukuman kita ubah: yang kalah harus jawab jujur… 'Ada atau tidak orang yang kau suka sekarang.' Tanpa detail."

Rei melihat sekeliling, memastikan semua setuju.

Rei : "Kalau ada yang tidak nyaman, bilang sekarang."

Seris : "…Aku ikut."

Aelria menatap papan, lalu Rei, lalu papan lagi.

Aelria : "Aku… juga ikut."

Riku menghela napas kecil, menatap lantai.

Riku : "Kalau ini nasihat Ayah, mungkin dia akan bilang: 'Hadapi saja.' Ya sudah."

Hina tersenyum lebar.

Hina : "Bagus! Permainan dimulai!"

Beberapa Putaran – Beberapa Jawaban

Permainan pun berjalan.

Mereka melempar dadu, menggerakkan pion, mengambil kartu tantangan—ada yang disuruh bernyanyi potongan lagu, ada yang harus bercerita tentang hal memalukan waktu kecil, ada yang disuruh makan snack asin dan manis bersamaan.

Tawa memenuhi kamar kecil itu.

Setelah beberapa putaran, hukuman pertama akhirnya jatuh kepada Hina.

Pionnya berhenti tepat di kotak "Hukuman".

Hina : "Eh…? Kenapa aku duluan?"

Noelle mengangkat tangan.

Noelle : "Baik, sesuai kesepakatan—"

Nerine menyambung.

Nerine : "Hina, jawab jujur. Ada atau tidak… orang yang kau suka sekarang?"

Semua menatap Hina.

Hina mengangkat alis, lalu tersenyum santai.

Hina : "Ada."

Jawaban itu meluncur tanpa ragu.

Riku : "Cepat sekali."

Rika menatapnya.

Rika : "…Serius?"

Hina mengangkat bahu, masih santai.

Hina : "Serius. Tapi kita sudah sepakat, bukan? Tidak ada nama, tidak ada ciri-ciri. Hanya 'ada' atau 'tidak'."

Airi memperhatikan ekspresi Hina—jujur, tapi tidak murung. Itu cinta yang ia simpan… dengan cukup tenang.

Permainan berlanjut.

Giliran berikutnya, beberapa orang lolos. Riku hampir kena, tapi selamat di detik terakhir. Rei berkali-kali hampir masuk kotak hukuman, tapi selalu lepas karena dadu miliknya seperti "ramah".

Lalu, hukuman jatuh ke Airi.

Pionnya berhenti tepat di kotak itu.

Hina tersenyum seperti kucing yang menemukan mainan baru.

Hina : "Airi~"

Airi sudah merasakan wajahnya memanas bahkan sebelum pertanyaan keluar.

Noelle : "Jawabannya sudah jelas, tapi kita tetap harus tanya."

Nerine : "Airi, ada… atau tidak, orang yang kau suka sekarang?"

Airi menggenggam rok santainya di atas lutut.

Semua menatap.

Riku mencondongkan badan sedikit.

Riku : "…"

Rika memperhatikan perubahan halus di wajah Airi.

Aelria memandang serius.

Seris hanya menunggu.

Airi menunduk sebentar, menarik napas pendek.

Airi : "…Ada."

Suaranya pelan, tapi cukup jelas.

Hina dan Rika saling pandang.

Hina : "Oho…"

Rika : "Jadi begitu."

Riku melirik ke Rei sepersekian detik, lalu kembali menatap papan. Rei sendiri hanya diam, wajahnya tenang, tapi matanya sedikit melembut.

Fiora mengamati dengan tatapan tajam tapi tenang. Rinna pun begitu.

Tapi sesuai perjanjian, tidak ada yang boleh bertanya lebih jauh.

Permainan terus berputar.

Jawaban yang Berbeda-Beda

Giliran hukuman berikutnya jatuh ke si kembar.

Pertama Noelle.

Noelle : "Tentu saja… tidak."

Nerine : "Kau terlalu mencintai diri sendiri, ya?"

Noelle : "Jelas. Aku belum menemukan orang yang levelnya sama denganku."

Tawa kecil mengisi ruangan.

Tak lama, hukuman juga jatuh pada Nerine.

Nerine : "…Tidak."

Noelle : "Berarti kita berdua masih bebas, ya."

Rinna dan Fiora juga sempat kena.

Rinna : "Tidak ada. Kalau aku suka seseorang, pasti sudah kutantang latihan tiap hari."

Fiora : "…Tidak. Aku belum memikirkan itu. Fokusku masih pada sihir."

Seris kena satu kali—semua menunggu jawabannya.

Riku memperhatikan, penasaran.

Seris menatap papan, lalu menjawab datar.

Seris : "Tidak."

Hina : "Kau yakin?"

Seris melirik Hina dengan tatapan menusuk.

Seris : "…Tidak."

Tidak ada yang berani menggali lebih jauh. Hina mengangkat tangan menyerah.

Rika juga sempat berhenti di kotak hukuman.

Nerine menyeringai.

Nerine : "Rika, waktumu telah tiba."

Noelle : "Ada atau tidak, orang yang kau suka?"

Rika terdiam beberapa detik.

Sorot matanya tidak lari-lari, tapi juga tidak mudah dibaca. Di sudut penglihatannya, ia bisa merasakan Riku yang menahan napas, meski ia tidak menoleh.

Rika : "…Aku tidak tahu."

Noelle : "Itu bukan 'ada' atau 'tidak'."

Rika menghela napas.

Rika : "Kalau kau memaksa… mungkin… ada. Tapi aku sendiri belum paham apa itu 'suka' atau hanya 'mengagumi'. Jadi anggap saja… jawabannya 'tidak yakin'."

Hina tertawa kecil.

Hina : "Kita terima itu sebagai 'jawab jujur tingkat menengah'."

Riku menunduk, tapi ada sedikit lega di ujung bibirnya—setidaknya, bukan "tidak ada" dengan tegas.

Aelria & Riku – Jawaban yang Semua Orang Sudah Tahu

Hukuman berikutnya jatuh ke Aelria.

Begitu pionnya berhenti di kotak hukuman, ruangan sedikit sunyi.

Rinna menghela napas.

Rinna : "Ini… bahkan bukan rahasia lagi."

Noelle menunjuk Aelria dengan ekspresi dramatis.

Noelle : "Aelria. Sesuai aturan. Jawab jujur: ada atau tidak… orang yang kau suka sekarang?"

Aelria tidak langsung menjawab.

Ia menatap papan beberapa detik, lalu mengangkat wajah.

Tatapannya mengarah langsung ke Rei.

Tidak ada kata-kata tambahan. Hanya sorot mata lembut yang sudah bercerita lebih banyak daripada kalimat.

Aelria : "…Ada."

Suara itu lirih tapi mantap.

Fiora menutup mata sebentar, seolah menerima sesuatu yang sudah lama ia curigai.

Rinna mengangguk pelan.

Rinna : "Kami sudah tahu."

Seris menatap bergantian antara Aelria dan Rei, ekspresinya sulit dibaca.

Di sisi lain, Airi merasakan dadanya sedikit mengencang, tapi ia tidak heran. Cerita Rei tentang masa SMP mereka, tentang Aelria, sudah cukup membuat jawaban itu terasa… wajar.

Rei sendiri hanya menatap Aelria, lalu menunduk sedikit, seolah menerima pengakuan itu tanpa berani menanggapinya lebih jauh.

Permainan berlanjut.

Kali ini, dadu tidak berpihak pada Riku.

Pionnya berhenti tepat di kotak hukuman.

Hina bersinar.

Hina : "Riku-kun~"

Riku sudah merasakan wajahnya panas bahkan sebelum pertanyaan diucapkan.

Noelle : "Riku. Ada… atau tidak, orang yang kau suka sekarang?"

Riku menunduk, menatap papan, lalu lantai, lalu papan lagi. Ia bisa merasakan tatapan dari berbagai arah:

Hina dan Airi dari samping,

Rika dari depan,

Rei dari sisi lain,

dan di belakangnya, seolah-olah ia juga mendengar suara ayah dan adiknya: "Beranilah."

Riku mengepalkan tangan.

Riku : "…Ada."

Suaranya gugup, tapi tegas.

Hina : "Heee…"

Rika menatapnya sedikit lebih lama, tapi ekspresinya tetap datar.

Rika : "Hm."

Airi tersenyum kecil.

Airi : "Selamat datang di klub 'ada' rupanya."

Riku menggaruk tengkuk, wajahnya hampir menempel ke lantai.

Riku : "Kita sudah sepakat tidak boleh tanya lebih jauh, kan. Jadi… lanjut main saja."

Noelle dan Nerine saling sikut, tapi mereka mematuhi kesepakatan.

Hukuman Terakhir – Jawaban Rei

Waktu berlalu.

Permainan sudah berjalan hampir dua jam.

Snack berkurang, minuman tinggal setengah, tapi tawa tetap ada.

Menariknya, selama ini dadu seolah selalu "melindungi" Rei. Ia beberapa kali hampir kena, tapi selalu lolos dengan angka pas di kotak sebelum hukuman atau melewati kotak hukuman dengan selisih tipis.

Sampai akhirnya—

Di putaran terakhir yang mereka tunggu-tunggu, dadu jatuh tepat membuat pion Rei berhenti di kotak hitam bertuliskan:

"Hukuman"

Hina langsung duduk tegap.

Hina : "Akhirnya!"

Riku menghela napas.

Riku : "Kupikir dia akan lolos seharian."

Rika menyilangkan tangan.

Rika : "…Ini yang sebenarnya ingin kudengar dari awal."

Airi menatap Rei tanpa berkedip. Aelria juga.

Seris, Rinna, Fiora, si kembar—semuanya fokus.

Noelle dan Nerine saling pandang, lalu mengangguk kompak.

Noelle : "Baik, Hirashi Rei."

Nerine : "Jawab jujur… ada, atau tidak… orang yang kau suka sekarang?"

Ruangan sunyi.

Bahkan suara dari luar seolah menghilang.

Rei menatap papan permainan, kemudian memandang sekeliling:

Aelria, dengan mata hijau penuh harap dan takut.

Airi, dengan senyum lembut tapi sorot mata yang sedikit gemetar.

Hina, tertarik dan penasaran.

Rika, menilai dengan tenang.

Riku, menunggu seperti sahabat yang ingin mengerti.

Rinna, Fiora, Seris, si kembar—masing-masing dengan caranya sendiri.

Rei menarik napas pelan.

Rei : "…Jawaban jujur, ya?"

Nerine : "Itu syaratnya."

Rei terdiam beberapa detik.

Di kepalanya, gambar-gambar muncul berlapis:

tangan Aelria yang gemetar memeluknya di depan pintu apartemen,

senyum Airi di toko kue, dan bagaimana ia selalu duduk di sampingnya saat festival,

tawa Hina yang selalu menjaga suasana,

kegigihan Rika yang melindungi,

Riku yang berdiri menebus kesalahannya,

tetangga-tetangga yang menggodanya sebagai menantu idaman.

Rei (dalam hati) : 

"Ada rasa sayang. Ada rasa ingin melindungi. Ada rasa takut kehilangan. Tapi… apakah salah satunya sudah sampai pada 'cinta' yang dimaksud? Atau aku hanya… masih bingung…"

Ia mengangkat kepalanya.

Ia tersenyum kecil—bukan senyum mengejek, bukan juga senyum dingin. Hanya senyum seorang pemuda yang jujur pada kebingungannya sendiri.

Rei : "…Belum tahu."

Hening.

Satu detik. Dua detik.

Hina : "Ha?"

Riku : "Tunggu, itu bukan 'ada' atau 'tidak'."

Rika mengerutkan kening sedikit.

Rika : "Belum tahu…?"

Aelria menegang. Airi pun begitu.

Seris memiringkan kepala.

Seris : "Tidak jelas."

Rei mengangkat tangan pelan, seolah menenangkan semua kebingungan.

Rei : "Kalau kalian memaksa: 'ada' atau 'tidak', aku bisa bohong dan memilih salah satunya. Tapi… pertanyaannya bukan sekadar teknis buatku."

Ia menatap papan, lalu menatap mereka satu per satu.

Rei : "Aku baru saja… lewat dari masa di mana aku hampir membenci diriku sendiri. Aku baru saja bertemu kembali dengan orang yang sangat penting dari masa laluku. Aku juga baru mulai menyadari betapa berharganya orang-orang yang sekarang ada di sekelilingku."

Suaranya lembut, tapi setiap kata terasa jujur.

Rei : "Ada rasa hangat. Ada rasa takut kehilangan. Ada rasa nyaman. Tapi… untuk menyebut salah satunya sebagai 'orang yang aku suka'… sebagai cinta… aku belum berani menjawab hanya karena satu permainan."

Ia menunduk sedetik, lalu tersenyum lagi.

Rei : "Jadi… jawabanku yang paling jujur untuk sekarang adalah: belum tahu. Hati ini masih berproses. Masih belajar. Dan aku tidak ingin mengotori perasaan siapa pun hanya karena aku terburu-buru memilih jawaban."

Ruangan kembali hening.

Bukan hening canggung.

Lebih seperti hening ketika seseorang berkata jujur dari tempat yang sangat dalam.

Hina menghela napas, lalu tersenyum tipis.

Hina : "…Kalimatnya berat sekali untuk hukuman permainan."

Riku tertawa kecil, mengusap tengkuk.

Riku : "Tapi… itu cocok dengan Rei sih."

Rika menutup mata sebentar, lalu mengangguk.

Rika : "Asal kau tidak lari dari jawaban itu selamanya, aku rasa tidak apa."

Seris menyandarkan tubuh ke dinding.

Seris : "…Jawaban yang aman, tapi tidak pengecut."

Rinna tersenyum miring.

Rinna : "Dan juga jawaban yang membuat beberapa orang di ruangan ini deg-degan lebih lama."

Fiora menatap Aelria dan Airi sekilas, lalu kembali menatap Rei.

Fiora : "Itu artinya… hatimu masih terbuka. Hanya belum memutuskan."

Aelria menatap Rei. Ada sedikit rasa perih—karena jauh di hatinya, ia ingin mendengar jawaban "ada" yang jelas.

Tapi saat melihat mata Rei… ia sadar.

Jawaban "belum tahu" itu lebih jujur daripada "tidak" yang dipaksakan.

Aelria (dalam hati) : "Kalau begitu… aku hanya harus membuat hatinya mengerti… pelan-pelan."

Airi menunduk, menggenggam roknya sekali lagi.

Airi (dalam hati) : "Belum tahu…"

Ada rasa sakit kecil. Tapi juga… secercah harapan.

Karena belum ada yang dipilih. Belum ada yang ditutup.

Dan untuk seseorang seperti Rei—yang baru saja diseret keluar dari jurang keputusasaan—itu sudah langkah besar.

Noelle mengangkat tangan.

Noelle : "Baiklah, hukuman resmi selesai. Dan untuk sementara… jawaban Rei diterima."

Nerine mengangguk.

Nerine : "Dan sebagai catatan, suatu hari, kita bisa main permainan ini lagi, dan lihat apakah jawaban itu berubah."

Rei menghela napas, pura-pura putus asa.

Rei : "Kenapa rasanya kalian menunda eksekusi, bukan membatalkan…"

Tawa kembali pecah di ruangan kecil itu.

Permainan pun berakhir.

Snack kembali dibagi, obrolan berganti ke hal-hal lain:

cerita konyol di akademi dunia lain,

teknologi aneh dari institusi keluarga Riku,

update gosip tetangga apartemen.

Tapi di bawah semua tawa itu—

Di hati Aelria, Airi, Hina, Rika, juga Rei sendiri…

kata-kata "belum tahu" menggantung pelan.

Bukan sebagai penolakan.

Melainkan sebagai titik awal:

Hati yang sedang belajar lagi,

perlahan-perlahan,

untuk mencintai… tanpa takut hancur seperti dulu.

More Chapters