Cherreads

Chapter 36 - Beberapa Hari Lalu – Ketika Lirya Akhirnya Bergerak

Di hutan terlarang, langit selalu tampak sedikit lebih gelap dari dunia lain—seolah pepohonan tinggi dan kabut tipis bekerja sama menyembunyikan tempat itu dari semua makhluk yang tidak diundang.

Di kedalaman hutan sunyi itu, sebuah gerbang dimensi raksasa berdiri. Retakan-retakan cahaya mengambang di udara seperti kaca pecah yang membeku. Di depan gerbang, seperti biasa, ada satu sosok yang duduk pada batu besar.

Rei.

Rambut putih. Mata berbeda warna. Tubuhnya tenang, tapi aura di sekelilingnya seperti campuran hening dan tekanan halus—seperti seseorang yang sudah terlalu lama menjaga sesuatu seorang diri.

Namun beberapa hari belakangan, pemandangan itu berubah.

Karena ia tidak lagi duduk sendirian.

Di sampingnya, dengan kaki terlipat rapi dan ekor kecil berdetak pelan di belakang, duduk seorang gadis demon berambut hitam panjang dengan tanduk kecil elegan.

Lirya.

Matanya sesekali menatap gerbang… tapi lebih sering melirik wajah Rei dari samping.

Rei : "…Huh, jadi dia memilih menggenggam tangan mereka berdua, ya."

Ia tersenyum tipis, bergumam seperti sedang menonton sesuatu yang jauh sekali.

Lirya menoleh.

Lirya : "Kau bicara sendiri lagi…"

Rei hanya mengangkat bahu, tidak menoleh.

Rei : "Aku hanya… merasakan sedikit perasaan dari jiwa di luar sana. Seperti menonton bayangan kehidupan orang lain, tapi di dalam kepala sendiri."

Lirya menggigit bibir pelan.

Lirya (dalam hati) : 

"Gadis-gadis yang berani itu lagi…"

"Andai aku punya keberanian seperti mereka…"

Beberapa hari sebelumnya, situasinya sangat berbeda.

Saat itu, Lirya masih hanya berdiri jauh di balik pepohonan, memeluk batang pohon, memandangi punggung Rei yang duduk sendirian di depan gerbang.

Garm berdiri di dekatnya, menyandarkan tubuh besar beastkin-nya ke batang pohon lain, kedua tangan disilangkan.

Garm mendengus.

Garm : "Kalau kau terus seperti ini, hanya menatap dari jauh tanpa berbuat apa-apa…"

Ia berbalik badan, menatap lurus ke mata Lirya.

Garm : "…jangan salahkan aku kalau suatu hari dia pergi, dan satu-satunya yang kau miliki hanya penyesalan."

Lirya terkejut, ekornya kaku.

Lirya : "A-apa maksudmu? Rei tidak akan pergi dari sini—"

Garm menghela napas keras.

Garm : "Yang kumaksud bukan hanya tubuhnya, Lirya. Tapi jiwa. Hatinya. Selamanya dia di sini bukan jaminan kau akan punya tempat di sana."

Ia menunjuk dada Lirya.

Garm : "Kau demon, 'kan? Ras yang katanya tidak takut apa pun. Tapi kenapa untuk hal seperti ini saja kau gemetar?"

Lirya terdiam.

Perkataan Garm menghantam tepat di titik yang selama ini ia hindari.

"Sampai kapan aku hanya akan melihat punggungnya?"

"Sampai kapan aku hanya akan tahu cerita gadis-gadis di dunia luar… tanpa pernah menjadi bagian dari cerita Rei di sini?"

Garm menepuk bahu Lirya pelan, lalu berbalik.

Garm : "Pikirkan. Aku bosan melihatmu terpaku di sini. Kalau nanti aku pergi berburu sendirian dan kau masih berdiri di balik pohon… itu urusanmu."

Ia melangkah pergi meninggalkan Lirya dengan pikiran yang bergemuruh.

Keheningan kembali.

Lirya menatap punggung Rei dari kejauhan. Di depan gerbang itu, ia duduk seperti biasa—diam, tenang… sendirian.

Lirya menggenggam jubahnya dengan kuat.

Lirya (dalam hati) : "Aku ini demon. Aku tidak seharusnya takut pada apa pun."

"Lalu kenapa, hanya untuk mendekati seorang manusia… kakiku gemetar seperti ini?"

Ia menarik napas panjang.

Lirya : "…Cukup."

Pelan-pelan, ia melangkah keluar dari balik pepohonan, mendekati Rei.

Setiap langkah terasa seperti perang melawan diri sendiri.

Ketika jaraknya hanya beberapa langkah dari Rei, ia berhenti.

Lirya : "Rei…"

Rei menoleh sedikit, mata berbeda warnanya menatap sekilas, lalu kembali menghadap ke gerbang.

Rei : "Hm?"

Lirya merasakan jantungnya berdebar begitu kencang, sampai-sampai ia hampir merasa yakin Rei bisa mendengarnya.

Lirya : "B-bolehkah aku… duduk di sini?"

Rei menoleh lagi, kali ini sedikit lebih lama.

Tatapannya tenang. Tidak menolak, tidak juga kaget berlebihan.

Rei : "Kalau duduk saja, sejak kapan aku melarang?"

Ia kembali memandang gerbang.

Rei : "Duduklah. Tempat ini tidak akan menolakmu."

Lirya membeku satu detik… lalu pelan-pelan menurunkan tubuhnya, duduk di samping Rei.

Jarak mereka cukup dekat untuk membuat wajah Lirya memanas.

Ia menunduk, menatap tangannya di pangkuan, sementara ekor kecilnya melambai-lambai gugup di belakang.

Dari kejauhan, Garm melihat itu.

Garm (dalam hati) : "Akhirnya, kau berani juga, Lirya."

Ia tersenyum kecil dan menggeleng.

Garm : "Jangan kalah sama gadis-gadis di luar sana, bodoh."

Kembali ke Saat Ini – Pertanyaan Lirya

Sejak hari itu, duduk di sebelah Rei menjadi kebiasaan baru Lirya.

Awalnya ia kaku dan salah tingkah, menunduk terus.

Sekarang, meski masih malu, ia sudah bisa menatap gerbang bersama Rei. Kadang ia melirik wajah Rei setiap kali lelaki itu tersenyum atau bergumam sendiri.

Seperti saat ini.

Rei : "…Dia menggenggam tangan kanan, lalu ada yang menggenggam tangan kiri. Sibuk benar hidupmu di sana, ya."

Senyumnya tipis, seperti ikut merasakan hangat yang tidak ada di tempat ini.

Lirya menelan ludah.

Lirya : "Rei…"

Rei : "Hm?"

Lirya menatap profil wajah Rei dari samping.

Lirya : "Saat kau tersenyum seperti itu… dan bicara sendiri… apa yang sebenarnya kau rasakan?"

Rei terdiam sebentar, lalu tertawa pelan.

Rei : "Aku bilang tadi, 'kan? Aku merasakan perasaan jiwa lainku di dunia luar. Seperti… kilatan emosi. Bahagia, takut, cemas, hangat."

Ia mengangkat tangan, menatap telapaknya.

Rei : "Kadang rasanya seperti aku ikut menggenggam tangan orang lain. Kadang seperti aku ikut menangis. Kadang terasa sesak… padahal aku hanya duduk di sini."

Lirya menggigit bibir.

Lirya : "Dan semua gadis yang kau sebut… yang mengelilingi jiwa lainmu di sana…"

Rei menoleh sedikit.

Rei : "Ya?"

Lirya menunduk, suara melembut.

Lirya : "…Aku berharap, andai aku seberani mereka. Mungkin… aku juga bisa membuatmu bahagia seperti mereka membuat jiwa lainmu bahagia sekarang."

Rei menatapnya sebentar—lama cukup untuk membuat Lirya merasa telinganya ikut panas—lalu kembali menatap gerbang.

Rei : "Kau sudah lebih berani dari yang kau kira, Lirya."

Lirya mengerjap.

Lirya : "…Apa?"

Rei : "Mereka di luar sana bertindak di dunia mereka. Kau… berani duduk di sini, di samping penjaga gerbang yang jarang tersenyum ini. Bagiku, itu tidak kalah berani."

Lirya terdiam. Kata-kata itu menancap pelan di hati.

Namun, kecemasan lain muncul.

Lirya menunduk lebih dalam, kedua tangannya mengepal.

Lirya : "Rei…"

Rei : "Hm?"

Lirya : "Kalau suatu hari nanti… jiwa yang di luar sana dan dirimu yang di sini… bertemu. Menjadi satu."

Ia menelan ludah.

Lirya : "Apa yang akan terjadi? Denganmu. Dengan dirinya. Dengan… orang-orang di sekelilingnya."

Rei tidak langsung menjawab.

Ia mengamati gerbang—retakan dimensi yang pelan-pelan berkilat setiap kali jiwa di luar sana mengalami sesuatu yang besar.

Rei : "Sejak awal, kami satu jiwa. Hanya terbagi dua peran. Aku di sini menjaga gerbang. Dia di sana… menjalani kehidupan normal yang dulu aku inginkan."

Ia menyilangkan tangan di dada.

Rei : "Jika suatu hari kami bertemu… itu artinya, jiwa di luar sana sudah cukup kuat untuk menanggung beban yang kujaga di sini. Saat itu… kami akan menjadi satu lagi."

Lirya merasakan dadanya mengencang.

Lirya : "Lalu… bagaimana dengan orang-orang yang mencintai jiwa di luar sana? Gadis-gadis yang mengelilinginya, menggenggam tangannya, menangis dan tertawa bersamanya…"

Suara Lirya bergetar sedikit.

Lirya : "Apakah perasaan itu akan hilang? Apakah kau akan melupakan mereka… saat kalian menjadi satu?"

Ada jeda.

Angin bertiup pelan, menggerakkan rambut putih Rei dan ujung jubah Lirya.

Rei menghembuskan napas pelan.

Rei : "…Tidak."

Lirya menatapnya, mata merah darahnya sedikit membesar.

Rei : "Kenangan, tindakan, luka, tawa, cinta yang ia rasakan di luar sana… semuanya bukan 'milik dia' saja. Itu juga milikku. Sama seperti semua kesepian dan malam panjangku di sini sebenarnya juga miliknya."

Ia menatap gerbang, tetapi suaranya lembut.

Rei : "Kalau ia mencintai seseorang di luar sana—gadis elf, gadis manusia, siapa pun—maka aku juga akan mencintai mereka. Karena pada dasarnya… itu keinginanku dulu. Keinginan egoisku yang ingin hidup seperti manusia biasa.

Lirya menggigit bibir, merasa sedikit perih.

Lirya (dalam hati) : "Jadi… kalau mereka semua dicintai, maka kau juga akan mencintai mereka. Dan mungkin… aku hanya akan menjadi penjaga gerbang di sisimu… sementara hatimu tertarik ke dunia lain…"

Kecemasan lain muncul—lebih pribadi.

Lirya : "Lalu…"

Ia merendahkan suaranya.

Lirya : "Kalau itu terjadi… bagaimana dengan kami? Aku… dan Garm."

Rei menoleh sedikit, menatapnya dari samping.

Lirya menunduk, tanduk kecilnya hampir menyentuh lutut.

Lirya : "Apakah… kami akan terlupakan? Sebagai orang-orang yang hanya kebetulan berada di sisi penjaga gerbang…"

Sejenak, dunia terasa sunyi.

Rei melihat wajah Lirya yang merunduk begitu rendah, bahunya sedikit bergetar.

Lalu ia tersenyum tipis dan kembali menatap gerbang.

Rei : "Lirya."

Lirya : "…Ya?

Rei : "Aku mungkin akan menjadi satu dengan jiwa di luar sana. Tapi aku tidak akan melupakan Garm. Dan tidak akan melupakanmu."

Lirya mengangkat wajah, mata merahnya melebar.

Rei : "Kalian adalah bagian dari hariku yang panjang di sini. Teman-teman yang membuat hutan terlarang ini tidak terlalu sepi. Apa pun yang terjadi nanti… kenangan itu tidak akan hilang."

Ia mengangkat tangan, menunjuk dada sendiri.

Rei : "Dan jika aku di luar sana mencintai gadis-gadis yang ada di sekelilingnya… bukan berarti tempat di sini hilang. Hanya berarti hatiku akan… sedikit lebih luas untuk menampung semuanya."

Pipinya yang pucat sedikit mengeras, seolah ia sendiri belum terbiasa mengucapkan hal seperti itu.

Lirya menatapnya beberapa detik.

Lalu perlahan—sangat pelan—wajahnya memerah, sampai ke ujung telinga dan tanduk.

Lirya (dalam hati) : "…Jadi aku… masih punya tempat. Aku tidak kalah duluan hanya karena mereka berani lebih cepat."

Dalam dadanya, sesuatu yang tadinya menciut karena takut… kini mengembang kembali.

Masih ada kesempatan.

Selama aku tidak mundur.

Garm dan Gadis yang Ia Kagumi

Dari kejauhan, Garm yang bersandar di cabang pohon besar memperhatikan kedua temannya:

Rei yang duduk tenang,

Lirya yang kini tidak lagi berdiri jauh, tapi duduk di sampingnya.

Garm terkekeh pelan.

Garm : "Begitu rupanya…"

Ia mengalihkan pandang ke langit hutan terlarang yang diselimuti awan tipis.

Pikiran Lirya bukan satu-satunya yang dipenuhi bayangan seseorang.

Beberapa hari sebelumnya, di sela-sela bercanda, Lirya pernah menyebut nama seorang gadis yang ia kagumi dari dunia mereka—bukan dari dunia manusia.

Gadis yang:

terkadang menyapa Garm setiap pagi ketika melewati pos penjaga,

bertanya apakah ia sudah makan,

mendengarkan keluhannya setelah seharian menjaga perimeter hutan.

Bukan karena kecantikan semata—meski gadis itu memang cantik.

Tapi karena kebaikan sederhana yang jarang orang berikan pada beastkin besar seperti dirinya.

Garm menutup mata sebentar.

Garm (dalam hati) : "Andai saja aku lebih berani. Tidak hanya mengangkat senjata, tapi juga mengangkat suaraku untuk mengatakan apa yang kurasakan…"

Ia membuka mata kembali, menatap ke arah Rei dan Lirya.

Garm : "Kau demon, dan kau penjaga gerbang. Aku hanya beastkin yang biasa. Tapi pada akhirnya… masalah kita sama juga, ya?"

Ia tertawa kecil.

Garm : "Sama-sama bodoh soal hati."

Angin hutan terlarang kembali berembus pelan.

Di depan gerbang, Rei duduk mengawasi dunia—tapi hatinya perlahan mulai dipenuhi oleh dua arah:

dunia di luar sana, tempat jiwa lain dirinya dikelilingi gadis-gadis yang menggenggam tangan dan hatinya,

dan dunia di sini, di hutan terlarang, di mana dua sahabat—Lirya dan Garm—diam-diam menaruh harapan mereka sendiri pada sosok penjaga gerbang yang tak pernah betul-betul sendirian lagi."

More Chapters