Rei menatap punggung mobil Riku yang perlahan menjauh dari pintu gerbang apartemen. Suara mesin menghilang di tikungan, meninggalkan keheningan sore yang hanya diisi suara angin dan beberapa burung kecil di kabel listrik.
Rei : "…Terima kasih ya, semuanya."
Ia tersenyum kecil, lalu menoleh ke arah Seris yang masih berdiri di depan pintu kamarnya di lantai satu.
Rei : "Seris, terima kasih juga sudah repot-repot bantu Aelria mencariku."
Seris hanya mengalihkan pandang dengan wajah datar khasnya, tapi ujung bibirnya terangkat sedikit.
Seris : "Hm. Jangan hilang lagi. Merepotkan."
Rei tertawa pelan.
Rei : "Akan kucoba."
Setelah berpamitan, ia menaiki tangga menuju lantai dua. Pintu kamar kecilnya menutup pelan di belakangnya.
Di dalam, ruangan terasa tenang.
Rei duduk di pinggir kasur, memandang langit-langit.
Di kepalanya, adegan-adegan hari ini berputar:
Aelria yang menangis sambil memeluknya erat,
teman-temannya dari dunia lain yang datang jauh-jauh hanya untuk memastikan dia selamat,
Riku, Airi, Hina, Rika yang diam-diam ikut terseret dalam lingkaran ini dan tidak mengeluh sedikit pun.
Rei (dalam hati) : "Aku… hanya manusia biasa tanpa kekuatan. Tapi ada begitu banyak orang yang datang menemuiku seperti ini…"
Ia mengingat ekspresi Aelria saat pertama kali melihatnya kembali.
Mata hijau itu merah, air mata jatuh tanpa kontrol, tangan gemetar… tapi memeluknya seolah tidak mau melepas lagi untuk kedua kalinya.
Ada sesuatu yang tumbuh pelan di dalam dadanya—hangat, perih, tapi lembut.
Rei (dalam hati) : "Perasaan ini… apa…"
Tapi bayangan Mina, Hayato, dan jembatan itu ikut muncul. Luka lama yang belum sepenuhnya sembuh membuatnya menahan diri.
Rei menghela napas, lalu rebah pelan di kasur.
Rei : "Sudah cukup. Untuk hari ini… aku hanya ingin bersyukur mereka masih ada."
Dengan pikiran yang bercampur antara hangat, takut, dan bingung, ia menutup mata.
Esok akan ia hadapi nanti.
Untuk sekarang, ia membiarkan dirinya tertidur.
Tok tok tok…
Rei mengerjapkan mata. Ruangan masih agak gelap, cahaya pagi baru menembus tirai tipis. Ia meraba ponsel di meja kecil.
Pukul 07.05.
Suara ketukan terdengar lagi.
Tok tok tok…
Rei : "…Tunggu sebentar."
Ia bangkit dengan rambut berantakan, berjalan ke kamar mandi kecil di sudut ruangan. Ia membasuh wajah dengan air dingin, mencoba mengusir sisa kantuk, merapikan sedikit rambutnya lewat jari.
Rei (dalam hati) : "Pagi-pagi begini… siapa? Riku? Tidak mungkin sepagi ini…"
Ia berjalan ke pintu, membuka kunci, dan menarik gagang pelan.
Begitu pintu terbuka, ia melihat sosok yang sangat ia kenal.
Rambut perak lembut. Mata hijau berkilat, sedikit merah di ujungnya. Pakaian rapi—blouse sederhana, rok selutut, dan tas kecil di bahu.
Aelria berdiri di sana, sendirian.
Aelria : "…Pagi, Rei."
Rei sempat terdiam sepersekian detik.
Rei : "Aelria…? Kau datang sendiri?"
Aelria mengangguk pelan.
Aelria : "Iya. Yang lain masih tidur. Aku… tidak bisa tidur lagi. Jadi… aku ke sini."
Rei menatap lorong sebentar, memastikan memang tidak ada siapa-siapa di belakangnya, lalu tersenyum kecil dan memiringkan tubuh, mempersilakan masuk.
Rei : "Masuk. Maaf kamarnya masih berantakan sedikit."
Aelria melangkah masuk, menatap ruangan sederhana yang penuh dengan barang-barang rei.
Rei menutup pintu di belakang mereka.
Rei : "Duduk dulu. Aku mau ambil pakaian ganti, habis itu mandi sebentar."
Aelria mengangguk, duduk di tepi kasur. Tatapannya mengikuti Rei yang berjalan ke arah lemari pakaian kecil di pojok.
Saat Rei membuka lemari dan mengeluarkan pakaian ganti, suara lembut memanggilnya.
Aelria : "Rei."
Ia belum sempat menoleh ketika merasakan sesuatu di pinggangnya.
Lengan.
Hangat.
Aelria memeluknya dari belakang, merapatkan wajahnya ke punggung Rei.
Pelukannya erat. Seperti seseorang yang takut jika sedikit saja longgar, orang di depannya akan menghilang.
Rei membeku sejenak.
Rei : "A… Aelria?"
Aelria mengeratkan pelukan.
Aelria : "…Jangan pergi."
Suara itu kecil, tapi jelas bergetar.
Rei menghela napas pelan, menunduk sebentar.
Rei : "Aku cuma mau mandi. Aku tidak akan kabur kemana-mana."
Aelria menggeleng pelan, pipinya masih menempel di punggung Rei.
Aelria : "Kau bilang dulu juga begitu. Kau bilang akan tetap ada… tapi saat aku kembali, kau sudah tidak di sekolah itu lagi. Dunia manusia bilang kau…"
Suara Aelria tercekat.
Aelria : "…kau mungkin sudah tiada."
Rei perlahan mengangkat tangannya, menyentuh lembut tangan Aelria yang melingkar di pinggangnya.
Ia melepaskan pelukan itu pelan-pelan, memutar tubuh hingga kini ia menghadap Aelria.
Wajah Aelria sedikit memerah, mata hijaunya basah tapi menatapnya langsung.
Rei mengangkat tangan kanan dan mengelus rambut perak itu dengan lembut.
Rei : "Maaf. Aku membuatmu melewati hari-hari seperti itu sendirian."
Aelria menggigit bibir sedikit, menunduk.
Aelria : "Aku… hanya… tidak mau kau melakukan hal bodoh lagi. Tidak peduli dunia ini memperlakukanmu seperti apa.
Rei tersenyum tipis.
Rei : "Aku tidak akan pergi ke jembatan itu lagi. ok?"
Aelria mengangkat wajah.
Aelria : "Janji?"
Rei mengangguk.
Rei : "Janji. Aku tidak akan melakukan hal nekat lagi. Selama masih ada orang yang memanggil namaku… aku akan tetap tinggal di sini."
Aelria menatapnya dalam-dalam, lalu menghela napas lega kecil.
Aelria : "…Baiklah. Kalau begitu… kau boleh mandi."
Nada suaranya sedikit seperti anak kecil yang akhirnya mengizinkan ibunya pergi beli permen.
Rei tertawa pelan, kembali mengelus kepala Aelria.
Rei : "Jam juga masih menunjukkan pukul tujuh. Setelah aku mandi, kita pergi sarapan. Nanti yang lain mungkin menyusul. Jadi… jangan cemberut."
Aelria memalingkan wajah sedikit, tapi sudut bibirnya terangkat.
Aelria : "Kalau kau terlambat keluar lebih dari tiga puluh menit, aku akan dobrak pintu."
Rei : "Itu agak menyeramkan, tapi aku akan ingat."
Perlahan, ia melepaskan tangan Aelria dan berjalan ke kamar mandi.
Pintu tertutup pelan.
Aelria di Atas Kasur Rei
Sendirian di dalam kamar, Aelria menatap pintu kamar mandi beberapa saat.
Lalu menoleh ke kasur Rei.
Ia duduk di ujung kasur, mengusap pelan selimut yang semalam di pakai oleh Rei.
Aelria (dalam hati) : "Rei tidur di sini… berjalan di sini… memikirkan semuanya sendirian di ruangan sekecil ini…"
Pelan-pelan, ia berbaring menyamping, membelakangi dinding, memeluk bantal Rei.
Aroma lembut sabun Rei masih terasa samar.
Di kepalanya, cerita semalam berputar lagi:
Mina yang berkhianat,
Hayato yang merampas,
jembatan,
tawa pahit Rei di bawah hujan bunga Sakura.
Aelria menggigit bibir.
Aelria (pelan) : "…Apa pun yang terjadi… aku tidak akan membiarkanmu hancur untuk kedua kalinya."
Kelopak matanya terasa berat. Ia tidak menyadari betapa lelahnya dirinya—menangis berhari-hari, perjalanan antar dunia, tegang menunggu kabar.
Pelan-pelan, dengan masih memeluk bantal Rei, Aelria pun terlelap.
Rei Keluar – Sang Elf yang Meringkuk
Kira-kira tiga puluh menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka.
Rei keluar dengan rambut putih masih sedikit basah, kaos bersih, dan celana santai. Ia mengeringkan rambut dengan handuk sambil berjalan ke tengah ruangan.
Rei : "Aelria, aku—"
Ia berhenti.
Aelria sudah tertidur pulas di atas kasurnya.
Tubuhnya meringkuk sedikit, kedua tangan memeluk bantal, rambut perak terurai di atas sprei.
Rei menatap pemandangan itu beberapa detik, lalu menghela napas pelan.
Rei (dalam hati) : "Kau yang menangis… tapi yang kau pikirkan masih aku, ya…"
Ia menaruh handuk di kursi kecil, lalu duduk di lantai dekat kasur, bersandar ke tepi ranjang.
Ia menatap wajah Aelria dari samping. Mata yang biasanya tajam itu kini tertutup, napasnya teratur.
Rei (dalam hati) :
"Dulu, aku hanya menganggapmu sahabat yang selalu rewel soal PR dan jadwal makan.
Sekarang… aku tidak yakin lagi, apa perasaan ini masih sama seperti dulu."
Ia mengingat kata-kata Aelria semalam:
"Aku menyesal tidak ada di sampingmu saat kau hampir hancur."
"Aku… tidak ingin kehilanganmu."
Rei menunduk, tersenyum kecil.
Rei (dalam hati) : "Aku… masih takut memberi nama pada perasaan ini. Tapi satu hal yang jelas… aku tidak ingin melihatmu menangis lagi karenaku."
Tok tok tok…
Suara ketukan kembali terdengar di pintu.
Rei menoleh ke arah pintu, lalu bangkit pelan. Ia berjalan mendekat, membuka pintu.
Semuanya Datang – dan Aelria yang Tertidur
Begitu pintu terbuka, ia disambut oleh pemandangan yang cukup… ramai.
Di luar, lorong dipenuhi wajah-wajah familiar:
Riku dengan kedua tangan penuh kantong plastik snack,
Hina di belakangnya membawa kotak papan permainan,
Airi dengan senyum lembut dan satu kantong kecil,
Rika dengan ekspresi biasa tapi mata awas,
Seris dengan wajah datar,
Rinna yang tampak sedikit lelah,
Fiora dengan senyum tipis yang ingin terlihat tenang,
dan si kembar Noelle & Nerine yang sudah bersiap dengan bahan godaan di mata mereka.
Riku : "Pagi, Rei. Sepertinya hari ini kamar kecilmu akan penuh."
Hina mengangkat kotak board game.
Hina : "Kami bawa bekal hiburan!"
Airi membungkuk sedikit sopan.
Airi : "Semoga tidak mengganggumu."
Rei mengangguk, tersenyum.
Rei : "Kalian sudah terlanjur di sini. Masuk saja."
Mereka masuk satu per satu.
Hina dan Rika yang pertama melihat ke arah kasur… dan menghentikan langkah.
Hina : "…"
Rika : "…"
Di sana, Aelria masih tertidur meringkuk, memeluk bantal, rambut perak berantakan manis.
Fiora menghela napas sambil memijit pelipis.
Fiora : "…Benar dugaanku. Pagi-pagi menghilang dari kamar, ternyata dia sudah di sini."
Rinna mengangkat tangan.
Rinna : "Aku sudah bilang, dia pasti lari ke Rei begitu bangun."
Noelle dan Nerine saling pandang, lalu senyum mereka melebar.
Noelle : "Lihat itu, Nerine."
Nerine : "Seorang putri elf yang biasanya anggun… tertidur di kasur laki-laki yang ia suka."
Noelle : "Aelria, Aelria… kau benar-benar sudah tidak bisa diselamatkan."
Seris hanya menyandarkan punggung ke dinding, menatap Aelria tanpa ekspresi.
Seris : "…Setidaknya dia tidak menangis hari ini."
Riku menurunkan kantong plastik, mengedarkan pandang.
Riku : "Kalau saja ini orang lain, ini sudah jadi skandal internasional."
Hina terkikik pelan, menutupi mulut.
Hina : "Tapi karena ini Rei, aku heran kenapa aku sama sekali tidak kaget."
Airi menatap Aelria, lalu Rei. Ada sedikit luka halus di ujung sorot matanya, tapi ia cepat menutupinya dengan senyum tenang.
Airi : "Sepertinya dia sangat lelah…"
Rika menyilangkan tangan, setengah mendengus.
Rika : "Hmph. Kalau dia tenang saat tidur di sini, itu artinya kau punya tanggung jawab lebih berat, Rei."
Rei mengangkat kedua tangan kecil-kecil.
Rei : "Tanggung jawabku tiba-tiba bertambah banyak ya…"
Keributan kecil itu akhirnya membangunkan pemilik kasur.
Aelria menggeliat pelan, mengerjapkan mata beberapa kali. Ia mengangkat kepala, masih setengah sadar.
Aelria : "…Rei…?"
Ia baru menyadari sesuatu saat matanya fokus.
Sekarang, di sekitar kasur, ada:
teman-temannya dari dunia lain,
teman-teman Rei dari dunia manusia,
dan semuanya menatap ke arahnya.
Hening satu detik.
Lalu—
Noelle : "Selamat pagi, nona yang kabur dari asrama demi tidur di kasur pria manusia."
Nerine : "Bagaimana kualitas kasurnya? Apakah cukup untuk kau jadikan pengganti bantal peluk?"
Aelria membeku.
Pipinya memerah cepat, sampai ke ujung telinganya.
Aelria : "…A-apa yang kalian semua…"
Rinna menatapnya sambil menghela napas.
Rinna : "Pagi-pagi kami bangun, kau sudah tidak ada di kamar. Tidak ada pesan. Tidak ada catatan. Hanya seprai kosong. Kami sudah tahu kau akan ke mana."
Fiora menambahkan.
Fiora : "Tapi aku tidak menyangka kau akan… selelap ini di kasur dia."
Hina sudah tidak bisa menahan tawa kecil.
Hina : "Aelria-san, kau benar-benar menyayangi Rei ya…"
Riku mengalihkan pandang, mencoba tidak ikut tertawa keras.
Riku : "Tidak apa. Setidaknya Rei tidak kabur ke tempat lain tadi."
Airi menutup mulut, bahunya sedikit bergetar menahan tawa, tapi matanya lembut.
Airi : "Selamat pagi, Aelria-san."
Rika bersandar ke dinding, tersenyum tipis.
Rika : "Kalau kau mau tidur lagi, kami bisa keluar dan pura-pura tidak melihat apa-apa.
Aelria menutup wajah dengan kedua tangan, menyembunyikan pipi merahnya.
Aelria : "…Kenapa kalian semua harus datang saat aku…"
Rei hanya berdiri di sisi kasur, tersenyum lembut, menatap semua orang bergantian.
Rei : "Baiklah, baiklah. Aelria, bangun dulu. Hari ini… sepertinya kamar kecilku akan jadi tempat pertemuan dunia manusia dan dunia lain lagi."
Noelle mengangkat tangan.
Noelle : "Dengan tambahan snack dan board game."
Hina mengangkat kotak permainan tinggi-tinggi.
Hina : "Hari ini resmi: pertemuan dua dunia… plus hukuman 'jawab jujur' bagi yang kalah."
Riku : "Aku mulai merasa menyesal membiayai semua snack ini…"
Aelria perlahan menurunkan tangannya, masih merah, tapi kini tersenyum.
Di ruangan sempit itu, sebelas orang dari dua dunia berbeda berkumpul:
manusia biasa yang dianggap tidak punya kekuatan,
elf dari dunia lain yang menahan cinta bertahun-tahun,
demon dingin yang diam-diam peduli,
beastkin keras kepala yang tak suka ketidakadilan,
elf lembut yang menyimpan luka keluarga,
manusia kaya yang sedang belajar tentang penebusan,
dan lainnya.
Di tengah tawa, godaan, dan rasa malu pagi itu—
pelan-pelan, hubungan mereka semua mengikat semakin kuat.
Dan tanpa ada yang menyadari, hari itu akan menjadi salah satu hari yang selalu mereka ingat saat nanti mereka sudah jauh melangkah:
Hari ketika sebuah kamar kecil di lantai dua menjadi titik temu dua dunia,
bukan karena gerbang dimensi,
tapi karena satu orang yang mereka semua ingin lindungi:
Hirashi Rei.
