Matahari sudah tepat di atas kepala ketika perut beberapa orang mulai "protes".
Hina memegang perutnya sambil mengerang dramatis.
Hina : "Uuuuh… perutku demo…"
Noelle ikut mengangkat tangan.
Noelle : "Setuju. Ini sudah masuk jam makan siang internasional."
Nerine menghela napas, tapi perutnya juga ikut berbunyi pelan.
Nerine : "…Sepertinya tubuhku juga setuju denganmu."
Hina menatap meja yang penuh bungkus snack kosong dan kaleng minuman.
Hina : "Dari pagi kita cuma makan snack dan minum minuman kaleng. Kalau begini terus, aku akan berevolusi jadi monster MSG."
Rei tertawa kecil.
Rei : "Itu evolusi yang agak menyedihkan."
Riku meregangkan badan.
Riku : "Kalau begitu, bagaimana kalau kita keluar cari makan beneran? Restoran di dekat sini ada beberapa, kan?"
Aelria menoleh pada Rei, matanya masih menyimpan sisa lembut dari momen permainan tadi.
Aelria : "Aku… tidak keberatan. Asal kita semua pergi bersama."
Rinna berdiri sambil meregangkan punggung.
Rinna : "Kalau tidak makan sekarang, besok kalian akan lihat aku pingsan di depan gerbang dimensi."
Fiora mengangguk pelan.
Fiora : "Baik. Kita keluar."
Seris hanya berdiri dan merapikan jubah santainya.
Seris : "Pergi."
Rei mengangguk, lalu bangkit.
Rei : "Baiklah. Kita turun, cari restoran yang cukup panjang mejanya. Kalau penuh, kita bagi dua meja."
Mereka pun keluar dari kamar Rei, satu per satu menuruni tangga sempit menuju lantai dasar.
Begitu mereka keluar dari pintu utama apartemen, beberapa tetangga yang duduk di bangku depan menoleh.
Ada ibu-ibu manusia, dwarf, dan satu beastkin yang rambutnya sudah beruban tapi telinganya masih tajam.
Ibu Tetangga 1 : "Rei-chan, ramai sekali hari ini."
Ibu Tetangga 2 : "Wah, teman-temannya makin cantik-cantik saja, ya."
Beastkin Tetangga : "Mau pergi ke mana, bocah?"
Rei tersenyum sopan.
Rei : "Kami mau cari makan siang dulu, Bu. Dari pagi cuma makan snack."
Ibu Tetangga 1 tertawa.
Ibu Tetangga 1 : "Kalau begitu makan yang banyak. Jangan sampai pingsan, nanti apartemen ini sepi."
Ibu Tetangga 2 melirik Aelria dan Airi bergantian.
Ibu Tetangga 2 : "Rei-chan, kalau sudah punya calon, jangan lupa dikenalkan ya."
Rei hanya bisa tersenyum canggung.
Rei : "Kalau sudah ada kabar… akan saya sampaikan."
Di belakangnya, Hina terkekeh pelan, sementara Airi langsung merona.
Airi : "Ibu-ibu di sini… langsung ke inti…"
Riku menahan tawa, menutupi mulut.
Riku : "Mereka lebih berani dari sebagian besar pria di dunia ini."
Setelah berpamitan singkat, rombongan kecil itu berjalan menyusuri trotoar menuju deretan restoran tidak jauh dari kompleks.
Aelria Menggenggam Tangan Rei
Jalan siang itu cukup ramai, tapi tidak terlalu padat. Angin berembus lembut membawa aroma makanan dari kejauhan.
Rei berjalan di depan, sedikit ke tengah.
Aelria mengatur langkahnya agar sejajar. Sesekali ia melirik tangan kanan Rei yang terayun santai.
Hatinya masih terasa berat mengingat cerita malam sebelumnya. Tapi di waktu yang sama… ada rasa hangat karena lelaki yang ia kira sudah "hilang" kini berjalan tepat di sampingnya.
Aelria (dalam hati) : "Dulu aku hanya bisa berjalan di sampingmu sebagai sahabat…"
Pelan-pelan, ia mendekatkan diri.
Tanpa suara, Aelria mengulurkan tangan dan menggenggam tangan kanan Rei.
Hangat.
Rei tersentak kecil, menoleh dengan kaget.
Rei : "Ael…ria?"
Aelria menunduk sedikit, tapi genggamannya erat.
Aelria : "…Biar aku yakin."
Rei mengerutkan kening pelan.
Rei : "Yakin… apa?"
Aelria menatap ke depan, bukan ke Rei, suaranya lembut.
Aelria : "Yakin bahwa ini bukan mimpi. Bahwa kau benar-benar masih di sini… berjalan di sampingku."
Rei terdiam sejenak.
Lalu, perlahan, ia membalas genggaman itu—tidak terlalu kuat, tapi cukup untuk memberi jawaban.
Rei : "Aku di sini. Dan aku tidak akan lari lagi."
Aelria tersenyum kecil, matanya sedikit bergetar, tapi kali ini bukan karena ingin menangis—melainkan karena lega.
Aelria : "Kalau begitu… aku tidak akan melepasmu begitu saja."
Di belakang mereka, beberapa pasang mata memperhatikan.
Hina : "…"
Noelle : "…Wah."
Nerine : "Ini lebih manis dari dessert tiga lapis."
Riku melirik ke depan, lalu menghela napas pendek.
Riku : "Dia benar-benar berani…"
Airi Mengumpulkan Keberanian
Airi berjalan sedikit di belakang Rei dan Aelria.
Ia melihat tangan mereka yang saling menggenggam—dua sosok yang saling mencari setelah lama terpisah.
Di dada Airi, perasaan campur aduk berkumpul:
kagum pada keberanian Aelria,
rasa kecil pada dirinya sendiri,
dan cinta yang diam-diam tumbuh sejak hari di perpustakaan dan toko kue.
Airi menunduk, telinganya sedikit merunduk pelan.
Airi (dalam hati) : "Seperti katak yang menatap angsa di danau…"
Ia teringat kata-kata teman-temannya dulu:
"Kalau kamu hanya diam, kamu tidak akan pernah tahu apakah dia akan menoleh ke arahmu atau tidak."
Tepukan ringan mendarat di pundaknya.
Rika : "Hei, Airi."
Airi menoleh kaget.
Airi : "Rika…?"
Rika menatap ke depan sebentar—ke arah punggung Rei dan Aelria—lalu mendekat, berbisik pelan.
Rika : "Kejar."
Airi berkedip.
Airi : "…Hah?"
Rika menatap mata Airi dengan serius.
Rika : "Rei bilang dia 'belum tahu'. Itu artinya hatinya belum tertutup untuk siapa pun. Kalau kau hanya berjalan di belakang, tidak ada yang akan sadar… apa yang kau rasakan."
Airi menelan ludah.
Airi : "Tapi… Aelria… mereka…"
Rika menghela napas kecil.
Rika : "Aku bukan tipe yang paham soal cinta rumit. Tapi aku tahu satu hal: kau akan lebih menyesal kalau tidak melakukan apa-apa sama sekali."
Ia menepuk pundak Airi sekali lagi.
Rika : "Jadi… kejar."
Airi menunduk sebentar, memejamkan mata. Di kepalanya, nasihat lama dan kata-kata Rika bercampur:
"Kalau tidak bergerak, kamu tidak akan tahu."
"Belum tahu."
Ia menarik napas dalam-dalam.
Airi : "…Baik."
Langkahnya pelan-pelan dipercepat.
Riku, di belakang Rika, memperhatikan semua itu. Ia tersenyum kecil.
Riku (dalam hati) :
"Kau lebih berani dari yang kau kira, Airi."
Airi menyusul hingga sejajar sedikit di belakang Rei dan Aelria.
Tangannya bergetar. Ia mengangkatnya perlahan—sementara hatinya seperti ingin melompat keluar.
Airi (dalam hati) :
"Kalau kau marah… aku akan menerimanya. Tapi… tolong… jangan benci aku."
Dengan gerakan cepat tapi ragu, ia menggenggam tangan kiri Rei.
Rei sedikit terkejut lagi.
Rei : "Airi…?"
Airi menunduk, hampir tidak berani menatap wajahnya.
Airi : "M-maaf… Kalau… kalau ini berlebihan, aku…"
Tapi sebelum ia bisa menarik tangannya kembali, Rei sedikit mengencangkan genggamannya.
Rei : "Tidak apa."
Airi mengangkat wajah perlahan.
Rei tersenyum.
Rei : "Kalau kau menggenggam tanganku karena kau ingin memastikan aku baik-baik saja… maka aku harus berterima kasih, kan?"
Airi terdiam.
Lalu, perlahan, sudut matanya memanas, tapi ia tahan agar tidak menangis.
Airi : "…Kalau begitu, biarkan aku… sedikit egois hari ini."
Rei mengangguk.
Rei : "Silakan."
Aelria & Airi – Dua Tangan, Dua Hati
Aelria merasakan sesuatu dari sisi lain Rei.
Ia menoleh, dan melihat Airi yang menggenggam tangan kiri Rei dengan wajah merah namun tekad kuat.
Sesaat, hati kecilnya menusuk.
Aelria (dalam hati) : "Jadi… dia gadis itu."
Gadis yang:
berada di sisi Rei saat ia tidak ada,
ikut terluka oleh insiden sparing,
menahan perisai sihir hingga memuntahkan darah,
menangis saat mendengar kisah masa lalu Rei.
Pelan-pelan, Aelria menatap Airi lebih lama.
Airi merasakan tatapan itu, lalu menoleh gugup.
Airi : "…A-aku…"
Ada ketakutan di matanya—takut ditolak, takut merebut.
Namun, yang ia temukan di wajah Aelria bukan amarah.
Melainkan senyum lembut.
Aelria : "…Terima kasih."
Airi berkedip bingung.
Airi : "Eh…?"
Aelria menatap ke depan lagi, menggenggam tangan Rei sedikit lebih mantap, tapi nada suaranya tidak mengandung rasa ingin merebut.
Aelria : "Terima kasih… karena selama aku tidak ada, kau ada di sisi Rei."
Airi terdiam.
Aelria : "Aku mencintainya. Itu tidak akan berubah. Tapi… aku juga tidak bisa berpura-pura bahwa kau tidak ada. Jadi… mari kita jaga dia bersama, selama dia belum menolak salah satu dari kita."
Pipi Airi memerah semakin dalam.
Airi : "…Apa… itu benar-benar tidak apa… untukmu?"
Aelria tersenyum.
Aelria : "Selama dia tersenyum… aku tidak keberatan sedikit… berbagi tempat di hatinya."
Rei mendengar percakapan itu, tapi memilih diam. Hatinya bergetar dengan cara yang sulit dijelaskan—hangat, canggung, dan sedikit takut.
Rei (dalam hati) : "Aku… benar-benar harus menjadi lebih kuat. Kalau tidak, aku akan menghancurkan hati semua orang yang menggenggam tangan ini."
Dan pada saat itu, mereka bertiga berjalan berdampingan:
Rei di tengah,
tangan kanannya dipegang Aelria,
tangan kirinya dipegang Airi.
Reaksi Teman-Teman
Di belakang, reaksi beragam muncul.
Noelle menepuk lengan Nerine.
Noelle : "Lihat itu, Nerine. Satu manusia, dua elf, tiga hati yang…"
Nerine : "…sedang mencari bentuknya. Menarik."
Fiora melirik ke arah Seris dan Rinna.
Fiora : "Tebakan kita benar. Mereka tidak akan berhenti hanya sampai pelukan di depan pintu apartemen."
Rinna mengangkat bahu.
Rinna : "Selama Aelria tidak keberatan, aku juga tidak akan ikut campur. Urusan hati, urusan mereka bertiga."
Seris hanya menatap punggung Rei sebentar.
Seris : "Selama mereka tidak membuatnya hancur lagi… aku diam."
Hina menekan pipinya.
Hina : "Mereka begitu berani…"
Riku melihat pemandangan itu, lalu menunduk sebentar.
Riku (dalam hati) : "Andai keberanian mereka bisa dibagi sedikit ke aku… mungkin aku juga sudah menggandeng tangan Rika sekarang."
Ia melirik sekilas ke Rika.
Rika masih menatap ke depan, memperhatikan punggung Rei dan dua elf di sampingnya, tapi ekspresinya tidak dingin—lebih ke arah kagum dan sedikit iri.
Riku menghela napas.
Riku (dalam hati) : "Tapi… aku juga sudah mengambil satu langkah. Mungkin suatu hari…"
Restoran – Makan Siang yang Hangat
Tidak lama kemudian, mereka tiba di sebuah restoran yang cukup besar, dengan jendela lebar dan papan menu penuh tulisan dalam beberapa bahasa: manusia, elf, dwarf, dan beastkin.
Pelayan menyambut mereka dengan ramah.
Pelayan : "Selamat datang. Ada berapa orang?"
Rei menghitung cepat.
Rei : "Sebelas orang."
Pelayan sedikit terkejut, tapi segera tersenyum.
Pelayan : "Kami punya meja panjang di sisi jendela. Silakan ikut saya."
Mereka dibawa ke sebuah meja panjang yang cukup untuk semua orang.
Aelria duduk di samping Rei, Airi di sisi satunya. Di seberang mereka ada Riku dan Rika. Di ujung meja, Hina duduk bersama si kembar. Rinna, Fiora, dan Seris mengisi bagian tengah.
Begitu menu dibagikan, mata Hina, Noelle, Nerine, dan Rika langsung berbinar.
Hina : "Wah… lihat ini! Ada set daging tiga lapis!"
Noelle : "Dan sup krim elf style."
Nerine : "Dan steak beastkin cut."
Rika : "Ada menu porsi besar?"
Rei menahan tawa.
Rei : "Pesan saja yang kalian mau. Tapi jangan sampai piringnya tidak habis."
Riku : "Kalau tidak habis, biar aku bantu."
Pesanan pun dibuat: nasi, sup, daging, salad, roti, sampai dessert. Pelayan setengah bercanda menyebut mereka "rombongan pesta kecil".
Tak lama kemudian, makanan datang memenuhi meja.
Aroma hangat langsung memenuhi udara.
Hina menggosok kedua tangannya.
Hina : "Oke! Pertarungan sebenarnya dimulai sekarang."
Rika melirik Hina.
Rika : "Apa itu tantangan?"
Noelle tersenyum licik.
Noelle : "Siapa yang paling banyak makan tanpa pingsan setelah ini, dia menang."
Nerine mengangguk.
Nerine : "Dan yang kalah…"
Hina cepat-cepat menyela.
Hina : "Tidak ada hukuman! Cukup kebanggaan saja!"
Tawa pun pecah.
Riku menghela napas.
Riku : "Tolong jangan sampai kalian benar-benar pingsan. Aku tidak mau menggendong tiga orang sekaligus."
Aelria makan dengan tenang, tapi sesekali melirik Rei, memastikan ia juga makan dengan baik.
Aelria : "Rei, jangan hanya makan lauk. Nasinya juga."
Rei tersenyum.
Rei : "Baik, baik."
Airi memotong dagingnya dengan rapi, sesekali menyodorkan piring kecil ke arah Rei.
Airi : "Rei, coba ini. Rasanya enak."
Rei menerima, dan membalas dengan mengambil sedikit sayur panggang untuk piring Airi.
Rei : "Kau juga. Jangan hanya makan daging, nanti ibumu marah kalau tahu."
Airi tersipu.
Airi : "…Iya."
Di sisi lain, Hina, si kembar, dan Rika benar-benar bersaing.
Piring demi piring kosong.
Hina : "Tambah satu porsi lagi!"
Rika : "Aku juga."
Noelle : "Jangan kalah, Nerine."
Nerine : "Aku tidak akan kalah darimu dalam hal apapun."
Riku dan Rei hanya bisa saling pandang pasrah.
Riku : "Apakah aku harus mulai mencatat berapa banyak ini untuk kubayar…"
Rei tertawa kecil.
Rei : "Anggap saja ini investasi dalam hubungan antar dunia."
Rinna minum air pelan, menggeleng melihat tingkah teman-temannya.
Rinna : "Kalian ini…"
Fiora tersenyum tipis.
Fiora : "Tapi… suasananya menyenangkan."
Seris hanya mengunyah pelan, memperhatikan semua wajah di sekeliling meja.
Seris (dalam hati) : "…Mungkin ini yang disebut "kedamaian" di dunia manusia."
Di tengah tawa, piring berganti, dan suara senda gurau—
Rei menatap sekeliling pelan:
Aelria yang tertawa kecil saat Noelle dan Nerine saling sindir,
Airi yang sibuk memastikan gelas semua orang terisi,
Riku yang diam-diam mengawasi Rika,
Rika yang bersinar setiap kali menang menambah porsi,
Hina yang tertawa paling keras,
Rinna, Fiora, dan Seris yang—meski berbeda dunia—mulai merasa tempat ini tidak terlalu asing.
Rei (dalam hati) : "Dulu aku berdiri di pinggir jembatan sendirian…"
Sekarang, meja sepanjang ini penuh dengan orang yang mau duduk di sisiku.
Ia mengambil sepotong daging, menaruhnya di piring Aelria, lalu sedikit sayur di piring Airi.
Rei tersenyum.
Rei : "Makan yang banyak. Setelah ini… mungkin hari-hari kita akan makin sibuk."
Ia tidak tahu masalah apa yang menunggu di masa depan:
segel dalam dirinya,
monster anomali,
gerbang di hutan terlarang,
dan Rei lain yang menjaga dunia jauh di sana.
Tapi untuk siang itu—
yang mereka butuhkan hanya:
makanan hangat,
tawa tanpa beban,
dan genggaman-genggaman kecil yang diam-diam berkata:
"Kau tidak sendirian lagi.""
