Cherreads

Chapter 31 - Bab 5: Pecahnya Timbangan

Suasana di dalam sel akar yang sempit dan pengap itu seolah meledak dalam ketegangan yang menyesakkan saat kain penutup mata Rian jatuh perlahan ke lantai kayu yang kini mulai membeku akibat uap dingin yang merembes dari pori-porinya. Captain Lyraen Swiftwind, ksatria elit kebanggaan Eldoria, tertegun membatu selama beberapa detik yang terasa abadi di tengah kesunyian penjara bawah tanah tersebut. Ia telah mempersiapkan seluruh mental dan keberaniannya untuk menghadapi sosok monster Silvaris yang haus darah atau mungkin seorang penyihir hitam yang menyeramkan dengan rupa yang mengerikan, namun kenyataan yang terhampar di depan matanya justru menghantam kewarasannya secara telak. Di bawah cahaya remang kristal mana yang berpendar kehijauan, ia melihat wajah seorang pemuda yang begitu cantik, halus, dan tampak sangat imut—rupa yang lebih pantas dimiliki oleh seorang pangeran boneka dari kerajaan dongeng daripada seorang kriminal kelas kakap yang dituduh menyelundupkan logam terlarang.

Wajah Rian yang "comel" itu memancarkan aura yang sangat kontradiktif dan membingungkan bagi siapa pun yang memandangnya; kulitnya putih pucat sehalus porselen terbaik, bibir tipisnya yang kemerahan sedikit terkatup rapat menunjukkan keteguhan hati, dan hidung mancungnya yang kecil memberikan kesan rapuh yang sangat menipu indra. Namun, saat mata biru samudra itu terbuka sepenuhnya, Lyraen merasakan bulu kuduknya berdiri dan insting ksatria Bintang 4 miliknya menjeritkan peringatan bahaya yang luar biasa. Di dalam pupil mata biru yang indah itu, garis-garis rasio perak Septem mulai berputar liar dengan kecepatan yang tidak masuk akal, membagi seluruh eksistensi dan struktur ruang di depan mata Rian menjadi koordinat-koordinat linear yang sangat kaku.

"Timbangan... telah ditentukan," bisik Rian dengan suara yang sangat lembut, namun bergaung seperti vonis kematian yang mutlak bagi siapa pun yang mendengarnya di dalam ruangan tersebut.

Rian melesat maju dari posisi duduknya dengan kecepatan yang hampir tidak tertangkap oleh indra penglihatan manusia biasa, meninggalkan jejak embun beku di udara. Gerakannya tidak lagi terlihat seperti manusia yang sedang sakit atau lemah; ia bergerak layaknya pegas baja yang dilepaskan dengan presisi kalkulasi yang mutlak. Lyraen, yang terkejut dengan transformasi fisik dan aura mendadak itu, mencoba menghunuskan pedang hijaunya dengan teknik Wind-Leaf Style, namun seluruh gerakannya terasa sangat lambat, kikuk, dan sepenuhnya dapat diprediksi di bawah pengaruh penglihatan Septem. Di mata Rian, dunia telah terbagi menjadi sepuluh bagian yang presisi, dan sebuah garis merah menyala muncul tepat di rasio 7:3, membelah zirah Evergreen Aegis milik Lyraen tepat di titik ulu hati yang menjadi pusat aliran mana artefak tersebut.

KRAKK!

Suara benturan itu tidak terdengar seperti logam menghantam daging atau benturan fisik biasa, melainkan seperti kaca raksasa yang pecah berkeping-keping secara sistematis. Jari telunjuk Rian, yang diperkuat oleh sisa-sisa mana dingin yang terkonsentrasi dari Star Core-nya, menghantam tepat pada garis merah yang menyala tersebut. Seketika itu juga, zirah Evergreen Aegis yang merupakan artefak pertahanan absolut Eldoria selama ratusan tahun retak dan hancur berantakan seolah-olah hanya terbuat dari jalinan ranting kering yang rapuh. Hukum Septem telah memaksa titik tersebut menjadi kelemahan mutlak di mata alam semesta, membuat kemampuan netralisasi damage sebesar enam puluh persen milik zirah itu menjadi sama sekali tidak berguna dan tidak relevan.

Lyraen terlempar mundur dengan keras, punggungnya menghantam dinding akar sel hingga mengeluarkan suara dentuman yang menggetarkan seluruh koridor penjara bawah tanah. Darah segar mengalir dari sudut bibir sang ksatria wanita, sementara matanya menatap Rian dengan campuran antara kemarahan yang meluap dan rasa tidak percaya yang mendalam. "Bagaimana mungkin... rupa seimut itu bisa memiliki kekuatan untuk mematahkan hukum sihir kuno dengan cara yang begitu hina?!" teriaknya dengan suara parau yang penuh dengan keputusasaan.

Di luar jeruji sel yang kini sudah jebol berantakan akibat gelombang kejut mana, kelompok The Iron Grin sedang menunjukkan pemandangan yang sangat kontras dengan pertarungan maut yang sedang berlangsung di dalam. Gorr, sang pemimpin yang biasanya terlihat berwibawa dan tenang, kini mencoba bersembunyi di balik tubuh Bram yang gempal, sementara Lina justru tampak sibuk memunguti serpihan perak dari zirah yang hancur ke dalam sakunya dengan mata berbinar lapar akan koin emas yang mungkin bisa ia hasilkan dari barang tersebut.

"Lina! Apa yang kau lakukan di saat maut sedang menjemput kita di depan mata?! Kita semua akan segera dieksekusi dan kau malah sempat-sempatnya mencuri barang bukti yang menghancurkan kita!" teriak Kael dengan suara melengking penuh kepanikan yang hampir membuatnya pingsan di tempat.

"Diamlah, Kael! Logika apa yang kau pakai di kepalamu yang kecil itu? Jika kita memang harus mati hari ini, setidaknya aku ingin mati sebagai tentara bayaran yang kaya dan memiliki warisan perak ksatria di kantongku!" balas Lina tanpa rasa berdosa sedikit pun, matanya tetap tertuju pada Rian yang sedang bertarung dengan gerakan anggun namun mematikan di dalam sel. "Tapi lihatlah dia... bagaimana mungkin pemuda secomel dan secantik itu memiliki kekuatan iblis yang mampu menghancurkan artefak kelas atas hanya dalam satu sentuhan jari? Ini benar-benar tidak masuk akal!"

Di dalam kepulan debu yang menyesakkan, Rian terengah-engah dengan dada yang terasa terbakar hebat. Setiap tarikan napasnya terasa sangat menyakitkan seolah ada duri yang menusuk paru-parunya akibat Star Core miliknya yang masih tersisa sepuluh persen dalam kondisi beku, menciptakan turbulensi mana yang menyiksa setiap jalur saraf di tubuhnya. Tubuhnya yang mungil, tampak rapuh, dan memiliki rupa cantik itu kini dipenuhi memar kebiruan yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih mulus seperti salju. Rambut biru mudanya yang halus tampak berantakan dan basah oleh keringat dingin, menutupi sebagian matanya yang masih memancarkan garis-garis Septem yang bergetar hebat mengikuti detak jantungnya yang tidak stabil.

Lyraen Swiftwind, meski tanpa zirah kebanggaannya, tetap menyerang dengan kegilaan seorang ksatria yang merasa martabatnya telah diinjak-injak oleh seorang remaja manusia yang tampak seperti gadis cantik. "Monster dari Silvaris Forest! Kau tidak akan pernah keluar hidup-hidup dari tanah suci Eldoria ini! Ancient Art: Verdant Tomb!" teriak Lyraen sambil menghentakkan pedangnya dengan sisa tenaga ke arah lantai akar yang berdenyut.

Seketika, seluruh akar di dinding penjara mendadak tumbuh secara eksponensial dalam ukuran raksasa, melesat ke arah Rian seperti ribuan ular kayu yang lapar akan energi kehidupan. Di luar sel, Bram berteriak ketakutan saat salah satu akar hampir melilit kakinya yang besar. "Waaaa! Tolong aku! Aku belum sempat memberikan 'oleh-oleh' bijih besi dari Orthavan ini pada sepupuku yang galak! Tolong lepaskan aku, wahai pohon suci yang agung!" teriak Bram sambil berlari berputar-putar di koridor yang sempit tanpa arah, menabrak tubuh Gorr hingga keduanya terjatuh kembali dalam posisi yang sangat konyol, absurd, dan memalukan.

Rian mengabaikan semua kekonyolan rekan-rekannya yang berisik tersebut. Ia memfokuskan mata Septem-nya pada badai akar yang mendekat dengan kecepatan tinggi. Di dalam pandangan rasionya, garis merah menyala muncul di setiap sendi pertumbuhan akar-akar tersebut. Dengan gerakan yang sangat minimalis namun memiliki dampak besar, Rian melompat dan menyentuh titik 7:3 pada akar utama yang menjadi penyokong aliran mana sihir Lyraen.

KRAKK!

Struktur sihir Verdant Tomb runtuh seketika tanpa perlawanan. Akar-akar yang tadinya ganas mendadak layu, menghitam, dan hancur menjadi debu sebelum sempat menyentuh permukaan kulit Rian. Rian mendarat dengan ringan di atas puing-puing kayu, namun ia terpaksa memuntahkan sedikit darah dari bibirnya yang mungil akibat tekanan internal mana yang terlalu besar untuk ditanggung fisiknya.

"Jadi selama ini kita benar-benar membawa seorang 'dewi perang' yang sedang menyamar sebagai pengungsi buta yang malang?!" Lina bersorak dari kejauhan, benar-benar lupa bahwa mereka masih berada di dalam jantung pertahanan musuh yang sedang dikepung ksatria. "Hajar dia lagi, Rian! Eh maksudku, pukul dia dengan kecantikanmu yang mematikan itu!"

Rian melirik sekilas ke arah Lina dengan tatapan yang sangat datar, kosong, dan sedingin es, yang seketika membungkam teriakan sang pengintai wanita itu. "Aku adalah laki-laki tulen," ucapnya pendek dengan suara lembut namun tegas, yang justru membuat Lina dan para mercenary lainnya ternganga karena keindahan suaranya yang terdengar sangat merdu namun mengerikan di tengah kekacauan perang tersebut.

Rian kembali memfokuskan seluruh sisa tenaganya pada Lyraen yang kini sudah tampak benar-benar kehabisan mana. Ia menerjang maju dengan langkah kaki yang tenang namun pasti, tangan kirinya yang halus mencengkeram leher Lyraen dengan kekuatan cengkeraman yang tidak terduga berasal dari tubuh secomel itu. Tangan kanannya sudah terangkat tinggi di udara, jari-jarinya siap menghantam garis merah yang membelah tepat di bagian tenggorokan Lyraen untuk mengakhiri pertarungan brutal ini secara permanen.

Namun, tepat pada saat kritis tersebut, suara terompet perang kerajaan Eldoria bergema dengan sangat keras dan nyaring dari arah gerbang atas distrik perdagangan. Getaran langkah kaki dari ratusan ksatria elit yang mengenakan zirah lengkap terdengar semakin mendekat dengan sangat cepat. "Bantuan pusat telah datang! Kapten Lyraen, bertahanlah di sana! Jangan biarkan kotoran manusia itu melukaimu lebih jauh lagi!"

Rian merasakan dunianya mulai berputar hebat dan kepalanya terasa seolah ingin meledak. Beban penggunaan mata Septem pada kondisi fisik yang baru pulih sembilan puluh persen akhirnya mencapai batas maksimal toleransi sistem sarafnya yang rapuh. Garis-garis merah di matanya mendadak padam total, digantikan oleh kegelapan pekat yang sangat menyakitkan di balik kelopak matanya. Tangan Rian yang mencengkeram leher Lyraen perlahan melemas dan jatuh ke samping tubuhnya. Tubuhnya yang tampak rapuh, imut, dan sangat cantik itu bergetar hebat selama beberapa detik sebelum akhirnya jatuh berlutut di atas puing-puing akar yang hancur. Wajahnya yang "comel" kini tampak pucat pasi seperti kertas tanpa warna, dengan mata birunya yang perlahan tertutup kembali menahan rasa sakit yang luar biasa.

"Rian! Woi, Anak Cantik! Jangan berani-berani pingsan di saat maut sedang mengepung kita!" Lina berlari masuk ke dalam sel yang hancur dengan panik, mencoba menangkap tubuh Rian sebelum menghantam lantai kayu yang keras dan beku. "Gorr! Bram! Berhenti bergulat seperti babi di sana dan bantu aku membawa 'tuan putri' kita ini! Kita harus segera keluar lewat jalur ventilasi yang dia tunjukkan tadi sebelum para ksatria itu memotong kepala kita semua!"

Lyraen tersungkur lemas di depan mereka, menatap dengan sisa-sisa kesadarannya yang kabur bagaimana kelompok mercenary yang berantakan dan konyol itu mencoba menggendong pemuda cantik yang baru saja menghancurkan martabat dan pertahanan absolutnya sebagai ksatria Bintang 4. Sebelum kesadaran Rian benar-benar hilang sepenuhnya dalam kegelapan, ia sempat mendengar Bram mengeluh dengan nafas yang terengah-engah, "Kenapa dia terasa sangat ringan? Dia terasa seperti kapas yang tidak memiliki berat sama sekali di pundakku! Apa dia benar-benar makan sesuatu selama berada di hutan Silvaris bersama kita?"

Rian pingsan total di dalam pelukan Lina yang kasar, tepat saat cahaya obor dari pasukan bantuan Eldoria mulai menerangi koridor penjara dengan aura permusuhan yang sangat pekat. Kelompok The Iron Grin kini benar-benar terjebak dalam situasi paling konyol, tragis, sekaligus berbahaya dalam sejarah karir mereka: melarikan diri dari kerajaan Elf yang marah sambil menggendong "senjata rahasia" mereka yang sedang tertidur lelap dengan wajah yang teramat damai seolah tidak terjadi apa-apa di sekelilingnya.

More Chapters