Udara di dalam kubah pusat Puak Vritra terasa jauh lebih menyesakkan dan beracun dibandingkan dengan atmosfer rawa yang membusuk di luar sana. Ruangan melingkar yang luas ini dibangun dengan arsitektur yang mengerikan; dindingnya dilapisi oleh kulit monster yang telah dikeringkan, sementara langit-langitnya ditopang oleh pilar-pilar raksasa yang terbuat dari susunan tulang naga yang telah menghitam akibat polusi mana. Aroma amis darah yang sudah mengental selama berbulan-bulan bercampur dengan bau dupa kemenyan yang sangat tajam, menciptakan kombinasi udara yang mampu membuat paru-paru manusia biasa terasa seperti terbakar dalam hitungan detik.
Rian melangkah masuk dengan sangat tenang, setiap derap langkahnya bergema di atas lantai batu yang dingin dan berlendir. Ia tidak lagi menggunakan gerakan sembunyi-sembunyi karena kehadirannya sudah menjadi lonceng kematian bagi siapa pun yang berada di dalam bangunan ini. Namun, tepat saat ia menginjakkan kaki di pusat ruangan, dunia di matanya mendadak pecah menjadi ribuan fragmen informasi yang menyakitkan.
Kutukan Septem beraksi secara otomatis dan tanpa ampun. Setiap pilar tulang, setiap ubin lantai yang retak, hingga setiap butiran debu yang menari di udara secara paksa terbagi menjadi sepuluh bagian linear dalam penglihatannya. Garis-garis merah imajiner membelah realitas, memetakan koordinat rasio pada setiap objek yang tertangkap oleh saraf matanya. Ledakan informasi visual ini menghantam otaknya seperti ribuan jarum panas yang ditusukkan sekaligus. Tanpa perlindungan, saraf otak Rian akan hancur atau ia akan menjadi gila hanya dalam hitungan detik karena dipaksa memproses ribuan titik rasio secara bersamaan.
Rian merasakan denyutan tajam di belakang kepalanya, tanda bahwa kapasitas mentalnya sudah mencapai ambang batas. Dengan gerakan yang tenang namun cepat, ia merapalkan teknik penyeimbang yang menjadi satu-satunya jangkar kewarasannya.
"Aethel's Veil," bisik Rian pelan.
Seketika, mana safir gelap mengalir dari Dantiannya menuju saraf penglihatannya, menciptakan lapisan pelindung transparan yang berfungsi sebagai cadar peredam. Beban pemrosesan data Septem yang tadinya mencekik stamina mentalnya kini dialirkan secara paksa menuju keempat Star Core di dadanya sebagai bahan bakar energi. Mata Rian yang tadinya bergetar hebat dengan pupil yang mengecil kini berubah menjadi biru tenang, seolah-olah permukaan samudra dalam yang tak beriak telah menelan semua kekacauan informasi tersebut. Ia kini bisa melihat pembagian bagian dunia ini dengan stabil tanpa rasa sakit yang melumpuhkan, meskipun ia merasakan mana-nya tersedot dalam jumlah yang sangat besar—beruntung penguasaan Mastery seratus persen miliknya mampu memotong beban tersebut hingga separuhnya.
Di ujung ruangan, di atas sebuah singgasana yang terbuat dari tengkorak monster laut purba, duduk seorang pria tua dengan jubah hitam yang menjuntai hingga ke lantai. Kulitnya pucat dan tipis seperti kertas, sementara matanya yang memiliki pupil kuning vertikal menunjukkan bahwa ia telah terlalu lama mengonsumsi energi korosif dari ular Vritra. Ini adalah sang Ketua Puak, seorang penyihir dengan lima Star Core yang telah membuang seluruh kemanusiaannya demi mendapatkan kekuatan haram.
"Ksatria penyimpang dari hutan suci," suara Ketua Puak itu mendesis, nadanya menyerupai suara ular yang merayap di atas pasir kering. "Kau memiliki mata yang sangat aneh, Bocah. Biru yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja membantai seluruh pengawal elitku di depan pintu tanpa mengedipkan mata."
Rian tidak berhenti melangkah. Dalam pandangannya yang telah distabilkan oleh Aethel's Veil, tubuh Ketua Puak terbagi secara otomatis menjadi sepuluh bagian struktural yang mendetail. Rian tidak perlu mencari titik lemah secara manual; hukum rasionya secara otomatis menandai koordinat 7:3 pada setiap bagian tubuh musuhnya sebagai titik di mana pertahanan akan hancur secara mutlak jika tersentuh oleh bilah pedangnya. Ia mengamati rasio pada sendi leher, pergelangan tangan, hingga zirah mana yang membungkus dada pria tua itu.
Tanpa peringatan, Ketua Puak menggerakkan jari-jarinya yang panjang dan bengkok, memicu sihir Blood Spikes. Kolam darah yang berada di tengah ruangan mendadak mendidih dan meledak, mengirimkan puluhan duri darah yang tajam melesat ke arah Rian dari berbagai sudut.
Berkat cadar pelindung sarafnya, Rian tidak merasa bingung oleh banyaknya objek yang harus dibagi. Ia melihat setiap duri darah itu terbagi menjadi sepuluh bagian kecil dalam penglihatannya secara instan. Ia menarik Abyssal Fang dengan gerakan yang begitu halus hingga hampir tidak terlihat oleh mata telanjang. Ia mengayunkan pedang taring naga itu secara horizontal, menghantam tepat pada koordinat 7:3 di setiap duri yang mendekat ke arah organ vitalnya.
SYUT! SYUT! SYUT!
Setiap duri darah yang terkena tebasan Rian hancur menjadi debu merah seketika, kehilangan bentuk dan energinya dalam sekejap. Hukum Septem memaksa struktur sihir tersebut untuk runtuh karena dihantam tepat pada rasio pelemahannya, secara mutlak mengabaikan kepadatan mana sihir darah lawan yang seharusnya sulit ditembus oleh ksatria empat bintang. Rian terus maju dengan efisiensi yang mengerikan, langkahnya tidak terganggu meski ia dihujani oleh serangan mematikan yang mampu menghancurkan sebuah batalion tentara.
Wajah pria tua itu berubah dari tenang menjadi merah padam karena amarah dan ketakutan yang mulai merayap. Ia berdiri dari singgasananya, melepaskan seluruh aura mana bintang lima yang pekat dan berbau busuk. Kabut racun berwarna ungu mulai memenuhi ruangan, mencoba mencari celah di kulit Rian untuk merusak sistem sarafnya.
Rian segera mengaktifkan Celestial Parity. Sebuah rasi bintang safir gelap muncul melingkar di sekeliling tubuhnya, menciptakan zona netral yang secara aktif menghisap kabut racun tersebut dan mengubahnya menjadi energi tambahan untuk menyeimbangkan konsumsi mana dari Aethel's Veil yang terus ia gunakan secara konstan.
"Kau... teknik apa yang kau gunakan?! Bagaimana ksatria rendahan sepertimu bisa menetralkan sihir Vritra?!" teriak Ketua Puak, suaranya kini melengking karena panik.
Rian tidak memberikan jawaban. Ia meledakkan Core Resonance, memicu getaran sinkron pada keempat Star Core-nya untuk meningkatkan kecepatan fisiknya hingga melampaui batas manusia normal. Dalam satu kedipan mata, ia melesat maju, menutup jarak sepuluh meter seolah-olah ia telah berpindah tempat secara instan. Di bawah perlindungan cadar birunya, Rian melihat lengan Ketua Puak yang sedang mencoba merapalkan mantra kutukan darah. Tanpa ragu, ia menebas koordinat 7:3 pada pergelangan lengan tersebut.
CRACK!
Tulang dan zirah mana yang melindungi lengan penyihir itu patah dengan suara yang memuakkan. Mantra yang sedang disiapkan itu meledak di tangan Ketua Puak sendiri karena aliran mananya terputus secara paksa. Rian kemudian memutar tubuhnya dan menusukkan Abyssal Fang ke paha Ketua Puak, tepat pada rasio yang telah ditandai oleh matanya. Serangan itu memastikan musuhnya tidak akan bisa melarikan diri, namun tetap hidup untuk sesi interogasi yang ia butuhkan.
"Bagaimana cara keluar dari Perisai Suci?" tanya Rian. Suaranya datar dan dingin, kontras dengan jeritan kesakitan yang keluar dari mulut Ketua Puak. Ia memberikan tekanan pada luka tersebut, memutar bilah pedangnya sedikit demi sedikit untuk memastikan rasa sakit yang maksimal tanpa membunuh sasarannya.
Ketua Puak mengerang hebat, keringat dingin membasahi wajahnya yang pucat. Dengan tangan yang tersisa, ia menunjuk ke arah sekelompok tawanan wanita yang dirantai di sudut ruangan yang gelap. "Berhenti... atau kusembelih mereka semua dengan satu mantra!"
Rian melirik ke arah para wanita yang sedang menangis ketakutan itu. Melalui mata Septem, ia melihat mereka juga terbagi dalam rasio-rasio tak terlihat, sama seperti benda mati lainnya di ruangan ini. Namun, tidak ada sedikit pun dorongan moral atau rasa kasihan di hatinya. Rian tidak pernah diajarkan untuk menjadi pahlawan pelindung; ia hanya diajarkan untuk menjadi senjata yang menyelesaikan misi. Baginya, nyawa para wanita itu hanyalah variabel acak yang tidak relevan dengan tujuannya untuk keluar dari hutan ini.
Rian justru memberikan tekanan lebih besar pada injakannya di luka paha Ketua Puak. "Aku tidak peduli pada nasib mereka. Katakan apa yang ingin kuketahui, atau bagian tubuhmu yang lain akan menjadi sasaran rasioku berikutnya."
Ketua Puak bergetar hebat karena ngeri. Ia menyadari sepenuhnya bahwa ia tidak sedang berhadapan dengan manusia yang memiliki hati nurani, melainkan sebuah "benda" hidup yang hanya mengenal instruksi gurunya. "Baik! Hentikan! Perisai itu... ia memiliki titik retak di dasar sarang Vritra, tepat di bawah kolam darah ini! Kau harus menggunakan kunci kristal ini dan getaran energi dari Core ular itu untuk memaksanya terbuka lebar!"
Rian mengambil sebuah kunci kristal berwarna merah darah dari tangan pria itu yang gemetar dan menyimpannya di dalam Soran's Void Band. Informasi yang ia butuhkan sudah lengkap. Ia mencengkeram leher Ketua Puak dan menyeretnya dengan kasar menuju lubang gelap besar di tengah ruangan—pintu masuk menuju sarang utama ular raksasa Vritra yang sejak tadi mengeluarkan hawa dingin yang mengerikan.
"Kau bilang Vritra membutuhkan tumbal agar ia tetap tenang di sarangnya?" tanya Rian dengan nada bicara yang sedingin es.
Tanpa menunggu jawaban atau memberikan kesempatan untuk memohon, Rian mengangkat tubuh pria tua itu dan melemparkannya ke dalam lubang gelap tersebut seperti membuang bangkai yang tidak berguna. Suara teriakan Ketua Puak menggema di dinding lubang sebelum akhirnya berganti dengan suara kunyahan raksasa yang sangat keras dan memuakkan.
Seketika, seluruh kubah bergetar hebat seolah-olah terjadi gempa bumi. Seiring dengan kematian Ketua Puak yang menjadi santapan terakhir, raungan mengerikan Vritra bangkit dari kedalaman bumi, sebuah suara parau yang mampu menggetarkan jiwa. Tekanan mana di dalam ruangan meningkat sepuluh kali lipat, membuat udara terasa seberat timah.
Rian menstabilkan posisi berdirinya, membiarkan Aethel's Veil terus meredam tekanan informasi yang semakin gila akibat kehadiran aura monster bintang tinggi yang kini sedang merayap naik. Ia menarik tudung jubah Shadow-Weave-nya, memegang erat hulu Abyssal Fang, dan menatap ke dalam lubang gelap dengan mata biru samudra yang sangat tenang. Ia siap untuk membagi-bagi tubuh ular raksasa itu menjadi sepuluh bagian dan menghancurkan eksistensinya di bawah hukum rasionya.
Bab ditutup dengan Rian yang melompat masuk ke dalam kegelapan sarang Vritra tanpa ragu sedikit pun, meninggalkan sisa-sisa puak yang hancur dan para wanita yang masih terisak di belakangnya. Perjalanan sang penimbang baru saja dimulai.
