Cherreads

Chapter 21 - BAB 20: INFILTRASI DAN LOGIKA DINGIN

Kabut tebal merayap di atas permukaan rawa yang berbau busuk, menyelimuti setiap jengkal wilayah kekuasaan Puak Vritra dengan selimut kelabu yang lembap dan menyesakkan. Rian berdiri diam membeku di balik batang pohon raksasa yang kulitnya telah mati, menghitam, dan mengelupas karena polusi mana beracun. Ia tidak segera bergerak; tubuhnya menyatu sempurna dengan kegelapan, matanya yang biru samudera mengamati setiap pergerakan patroli di kejauhan dengan ketenangan yang mengerikan.

Ia menyentuh permukaan perak dingin dari Soran's Void Band di jarinya. Dengan satu denyutan mana yang sangat halus, sebuah pakaian terlempar keluar dari ruang dimensi cincin tersebut. Itu adalah jubah Shadow-Weave, sebuah perlengkapan taktis berwarna abu-abu gelap yang ditenun dari serat laba-laba rawa purba. Jubah ini memiliki tudung lebar yang dirancang khusus untuk menyerap cahaya di sekitarnya dan meredam gesekan udara seminimal mungkin.

Soran telah menyimpan jubah ini sebagai bekal terakhir, tahu bahwa muridnya akan membutuhkan kemampuan untuk menghilang di tengah wilayah musuh yang penuh dengan jebakan mana.

Rian mengenakan jubah tersebut dengan gerakan mekanis yang terlatih. Kainnya terasa seringan bulu, seolah tidak membebani tubuhnya sama sekali, namun ia bisa merasakan struktur seratnya yang luar biasa kuat memberikan perlindungan terhadap sayatan senjata tajam dan penetrasi racun udara tingkat rendah yang memenuhi lembah ini. Ia menarik tudung jubahnya ke atas, menenggelamkan wajahnya dalam kegelapan dan hanya menyisakan sorot mata birunya yang berpendar tajam, memindai setiap ancaman yang mungkin muncul dari balik kabut.

"Persiapan selesai," bisik Rian pada dirinya sendiri. Suaranya datar, tanpa ada sedikit pun keraguan atau rasa takut.

Ia mulai menuruni bukit berbatu yang terjal, bergerak menuju parit pembuangan limbah yang berada di sisi belakang pemukiman puak. Air di parit itu berwarna hijau pekat, bergelembung karena gas metana dan dipenuhi dengan sisa-sisa sesajen berupa organ dalam hewan serta bangkai yang membusuk. Rian sama sekali tidak mempedulikan bau menyengat yang bisa membuat manusia biasa pingsan dalam hitungan detik. Ia memfokuskan pikirannya pada teknik pernapasan yang dipaksakan oleh Soran selama delapan tahun: menekan detak jantungnya hingga ke frekuensi yang paling rendah, membuat suhu tubuhnya mendingin hingga ia tidak bisa dideteksi oleh sensor panas ataupun radar mana sederhana.

Saat ia mendekati pagar tinggi yang terbuat dari tulang-tulang monster raksasa, Rian berhenti mendadak. Matanya menangkap pantulan tipis, hampir tak terlihat, dari benang-benang mana yang membentang di antara celah pagar. Itu adalah sistem keamanan "Jaring Lonceng". Benang itu terhubung ke deretan tengkorak burung yang berfungsi sebagai lonceng alarm. Jika benang itu dipotong atau disentuh secara paksa, mana yang terkandung di dalamnya akan meledak, memicu suara pekikan nyaring yang akan membangunkan seluruh kamp.

Rian tidak mencoba memotong benang tersebut. Ia berdiri diam selama beberapa menit, mengamati pola getaran benang di bawah tiupan angin rawa. Dengan perhitungan gravitasi dan momentum yang sangat presisi, ia melakukan lompatan vertikal yang luar biasa tinggi, melewati puncak pagar tulang tersebut tanpa menyentuhnya seujung rambut pun. Ia mendarat di sisi lain dengan teknik redam suara yang sempurna, kakinya menyentuh tanah lebih lembut daripada jatuhnya selembar daun kering di musim gugur.

Target pertamanya adalah sebuah menara pengawas utama yang menjulang setinggi sepuluh meter di sisi timur. Di atasnya, seorang ksatria puak Bintang 3 berdiri dengan tombak panjang, matanya menyapu area rawa dengan raut wajah bosan. Rian mulai memanjat struktur menara yang licin dan berlendir itu. Ia tidak menggunakan tangga kayu yang tersedia; ia merayap di sela-sela sambungan tulang monster dengan kekuatan cengkeraman jari yang mampu meretakkan batu. Setiap gerakannya diatur agar selaras dengan suara derak kayu menara yang tertiup angin.

Begitu kepalanya sejajar dengan lantai menara, Rian tidak langsung menyerang. Ia diam membeku seperti patung, menunggu waktu yang tepat. Ia memperhatikan arah pandang penjaga itu secara seksama dan menghafal rute patroli rekan-rekaannya di bawah. Setelah memastikan bahwa tidak ada satu pun mata yang akan mengarah ke puncak menara selama sepuluh detik ke depan, Rian melompat masuk ke area balkon menara.

Tangan kirinya yang mengenakan sarung tangan kulit naga membekap mulut sang penjaga dengan kekuatan yang menghancurkan rahang, mencegah suara sekecil apa pun keluar. Tangan kanannya dengan cepat menarik Abyssal Fang. Ia tidak melakukan tebasan lebar yang mencolok. Ia hanya melakukan satu tusukan pendek yang sangat presisi, mengarahkan ujung pedang taring naga itu tepat pada koordinat 7:3 di pangkal tengkorak ksatria tersebut—titik di mana sistem saraf pusat bertemu dengan tulang belakang.

CRACK.

Suara retakan tulang yang sangat kecil terdengar saat zirah tulang yang melindungi leher ksatria itu hancur berkeping-keping. Hukum Septem bekerja secara absolut; serangan Rian memaksa material sekeras apa pun untuk menyerah total jika dihantam pada rasio yang tepat. Ksatria itu tewas seketika tanpa sempat mengalami rasa sakit atau mengeluarkan desahan napas terakhir. Rian membaringkan mayat itu dengan sangat hati-hati agar zirah logamnya tidak menimbulkan suara benturan, lalu ia mengambil alih posisi di menara sejenak untuk memindai situasi desa dengan lebih detail.

Dari ketinggian ini, ia melihat sel bawah tanah yang hanya ditutup oleh jeruji kayu kasar yang diperkuat dengan sihir tingkat rendah. Di dalamnya, puluhan anak-anak yatim piatu berkerumun dalam kegelapan. Kondisi mereka sangat memprihatinkan; tubuh mereka hanya tinggal tulang dibalut kulit, dengan bekas luka cambuk yang masih basah di sekujur punggung mereka. Salah satu anak laki-laki yang duduk paling dekat dengan jeruji mendongak, matanya yang cekung tanpa sengaja menangkap bayangan jubah Rian di menara.

Anak itu menangkupkan kedua tangannya yang kurus, memohon dengan gerakan bibir tanpa suara yang sangat putus asa. "Tolong... bawa kami pergi..."

Rian menatap anak itu dari kejauhan dengan pandangan yang benar-benar datar. Tidak ada kilatan amarah, tidak ada rasa iba, dan tidak ada gejolak pahlawan di dalam dadanya. Di dalam kepalanya, Rian justru sedang memproses algoritma kemungkinan. Membebaskan mereka sekarang akan memicu kepanikan. Anak-anak yang lemah akan memperlambat gerakannya. Suara tangis mereka akan memancing seluruh ksatria puak keluar. Dan yang paling berbahaya, itu akan membuat Ular Vritra kembali ke sarangnya lebih awal.

Kesimpulannya dalam logika dingin Rian sangat jelas: Membantu mereka sekarang adalah variabel kegagalan yang tidak bisa diterima.

Rian memalingkan wajahnya tanpa ekspresi, mengabaikan tatapan mata anak itu yang perlahan berubah menjadi keputusasaan yang lebih dalam. Ia turun dari menara pengawas melalui sisi gelap yang tidak terjangkau obor dan melanjutkan langkahnya menuju gudang logistik. Sifatnya yang tidak pernah diajarkan tentang etika sosial atau belas kasihan membuatnya tidak merasa terbebani sedikit pun oleh rasa bersalah. Baginya, anak-anak itu hanyalah elemen lingkungan yang tidak relevan dengan tujuan akhir pembunuhannya.

Di dekat gudang senjata, Rian menemukan target yang ia cari: seorang pengurus logistik puak yang sedang duduk bersandar pada tumpukan peti, meminum arak beraroma menyengat untuk mengusir hawa dingin rawa. Pria itu tampak mabuk, namun Rian melihat serangkaian kunci kristal yang tergantung di pinggangnya—kunci yang menuju ke area terlarang kubah pusat.

Rian muncul dari balik bayang-bayang jubah Shadow-Weave-nya secara tiba-tiba, seolah-olah ia tercipta dari kegelapan itu sendiri. Sebelum pria mabuk itu bisa menyadari kehadirannya atau sekadar membuka mulut untuk berteriak, Rian sudah menekan tenggorokannya dengan bilah dingin Abyssal Fang.

"Di mana altar bawah tanah Vritra berada?" tanya Rian. Suaranya sangat rendah, tajam, dan tidak memiliki nada emosi, seolah-olah ia hanya sedang menanyakan arah jalan biasa.

Pria itu mencoba meronta dan meraih belati di pinggangnya, namun dengan gerakan secepat kilat, Rian mematahkan dua jari tangan kiri pria itu. Suara tulang yang retak terdengar sangat renyah di kesunyian malam. Pria itu ternganga karena syok, air mata mengalir deras di pipinya yang kotor, namun Rian tidak melepaskan tekanannya sedikit pun pada tenggorokan pria itu.

"Jari ketiga akan patah dalam tiga detik. Katakan sekarang," ancam Rian dengan tatapan mata yang membuat nyali pria itu menciut.

"Di... di bawah kubah pusat... Ada altar darah... Kau harus menggeser kursi singgasana Ketua untuk menemukan pintu rahasianya..." pria itu merintih, suaranya gemetar hebat karena rasa sakit yang membakar.

"Bagaimana cara membuka Perisai Suci yang mengelilingi hutan ini?" lanjut Rian.

"Hanya Ketua... dia yang memegang kunci kristal utama... dan kau butuh energi murni dari Core Vritra... hanya gabungan keduanya yang bisa merobek perisai itu dari dalam..."

Setelah mendapatkan semua informasi yang ia butuhkan untuk langkah selanjutnya, Rian tidak berniat meninggalkan saksi yang bisa membocorkan keberadaannya. Ia menusuk jantung pria itu dengan satu gerakan pendek yang sangat efisien, memastikan kematian yang instan dan tanpa suara teriakan. Ia mengambil kunci-kunci di pinggang mayat tersebut, memasukkannya ke dalam Soran's Void Band, lalu menarik mayat itu ke bawah tumpukan peti agar tidak mudah ditemukan oleh patroli rutin.

Kini, target utamanya adalah kubah pusat yang dijaga sangat ketat. Namun, langkahnya terhenti di gerbang altar utama yang terbuat dari logam hitam besar. Dua ksatria elit Bintang 4 berdiri berjaga di sana dengan posisi siaga. Mereka mengenakan zirah lengkap yang ditempa dari sisik ular Vritra yang telah dikeraskan secara sihir. Aura mana hijau gelap yang memancar dari tubuh mereka menunjukkan bahwa mereka bukan ksatria sembarangan.

Rian menyadari bahwa infiltrasi diam-diam telah mencapai batasnya. Untuk masuk ke dalam, ia harus melewati dua hambatan ini dengan cara yang paling cepat.

Ia melangkah keluar dari bayang-bayang, berdiri tegak di tengah jalur utama yang diterangi oleh cahaya obor api hijau yang menari-nari. Kedua ksatria elit itu segera menyadari sosok berjubah abu-abu tersebut dan menyilangkan tombak besar mereka yang berujung kait.

"Penyusup! Kau telah melangkah terlalu jauh ke dalam sarang kematian! Menyerahlah sekarang atau kau akan menjadi tumbal daging bagi Vritra malam ini!" teriak salah satu ksatria dengan suara yang menggelegar.

Rian tidak berhenti, bahkan ia tidak melambatkan langkahnya. Ia justru melesat maju dengan ledakan kecepatan yang dipicu oleh Core Resonance. Udara di sekitarnya seolah terseret saat ia bergerak. Kedua ksatria itu bereaksi dengan mengayunkan tombak mereka secara bersamaan, sebuah serangan jepitan yang bertujuan untuk membelah tubuh Rian menjadi tiga bagian.

Rian melakukan gerakan putaran di udara yang sangat tipis dan efisien. Di mata Septem-nya, tombak-tombak besar itu terbagi menjadi sepuluh bagian proporsional. Ia mengunci koordinat 7:3 pada titik tumpu utama gagang tombak tersebut—sebuah titik di mana distribusi berat dan aliran mana lawan berada dalam kondisi paling tidak stabil.

KLANG!

Dengan satu tebasan horizontal yang bertenaga dari Abyssal Fang, kedua tombak baja berat itu patah menjadi dua bagian seolah-olah mereka hanyalah ranting pohon yang rapuh. Hukum Septem menghancurkan integritas struktur senjata mereka secara instan di bawah tekanan pedang naga Rian.

Kedua ksatria elit itu tertegun membeku, menatap sisa gagang tombak di tangan mereka dengan wajah yang pucat pasi karena tidak percaya pada apa yang baru saja terjadi. Sebelum otak mereka sempat memproses kenyataan bahwa senjata mereka telah hancur, Rian sudah berada di belakang mereka. Ia menyarungkan kembali pedangnya dengan bunyi klik yang tajam dan dingin.

Dua garis merah tipis muncul di leher mereka, dan sedetik kemudian, tubuh kedua ksatria itu tumbang ke tanah rawa yang basah.

Rian kini berdiri di depan pintu masuk kubah besar. Di dalam sana, ia bisa merasakan kehadiran aura yang sangat besar dan menjijikkan—sesuatu yang sangat lapar dan haus akan mana. Bau amis ular Vritra tercium sangat kuat, bercampur dengan aroma mana pekat dari penyihir 5 Core yang telah menunggunya di dalam kegelapan. Sang Penimbang menarik tudung jubahnya sedikit lebih rendah, menyesuaikan genggamannya pada hulu pedang, dan siap untuk memulai babak pembantaian yang sesungguhnya.

More Chapters