Soran berdiri tegak di tepi Celah Dimensi, sebuah wilayah di ujung Silvaris Aeterna di mana realitas tidak lagi berbentuk materi padat, melainkan benang-benang energi hitam yang bergetar tanpa henti. Di tempat ini, gravitasi terasa seperti tangan raksasa yang meremas paru-paru, dan mana alam terasa begitu tajam hingga mampu menyayat kulit bagi mereka yang tidak memiliki perlindungan Star Core yang kuat. Soran menatap lubang hitam di depannya dengan tatapan yang kosong namun penuh pengalaman.
"Teknik terakhir, Rian. Soran Archive: Void Severance," ucap Soran dengan suara yang tidak lagi mengandung ejekan atau nada malas; hanya ada wibawa seorang ksatria bintang sebelas yang telah melihat akhir dari segalanya. "Teknik ini adalah puncak dari segalanya. Ia tidak memotong daging, tulang, atau baja. Ia memotong eksistensi mana. Apa pun yang terkena tebasan ini akan terputus dari aliran energi alam semesta. Mereka akan menjadi bisu, lumpuh, dan hancur dari dalam karena sirkulasi mana mereka terhenti secara paksa."
Soran menarik pedang meteoritnya dengan gerakan yang sangat lambat, namun penuh dengan tekanan mana yang luar biasa padat. Saat pedang itu berayun secara vertikal, ia menciptakan sebuah retakan hitam pekat di udara—sebuah lubang tanpa cahaya yang menelan semua suara di sekitarnya. Keheningan yang dihasilkan begitu absolut hingga terasa menyakitkan bagi telinga manusia, seolah-olah dunia itu sendiri sedang menahan napas karena ketakutan.
"Normalnya, kau butuh sepuluh Star Core untuk memicu retakan ruang ini tanpa membuat tubuhmu hancur menjadi debu karena tekanan balik dimensi. Tapi kau memiliki kelebihan yang tidak dimiliki siapa pun," lanjut Soran sambil menunjuk tepat ke arah mata biru samudera milik Rian yang kini bersinar redup. "Gunakan hukum rasiomu. Jangan cari bagian yang terlihat lemah, karena di dimensi ini, semuanya terlihat sama kuatnya. Pilih bagian mana saja dari ruang kosong di depanmu, bagi menjadi sepuluh dalam penglihatanmu, dan paksa titik rasiomu bekerja di sana."
Rian mengaktifkan Septem. Seketika, pandangannya berubah menjadi hamparan koordinat linier yang rumit. Ruang kosong yang terlihat solid di depannya kini terpetakan secara otomatis oleh garis-garis merah dalam pikiran dan matanya. Rian tidak mencari celah alami; ia memilih satu koordinat acak di udara hampa tersebut. Matanya mengunci titik 7:3 pada hamparan ruang itu, memaksakan hukum rasionya untuk menciptakan keretakan di sana.
Ia menarik pedang kayunya yang sudah retak-retak hebat akibat latihan selama delapan tahun terakhir. Rian memeras keempat bintang safir gelap di dalam tubuhnya, memusatkan seluruh energinya hingga ujung pedang kayunya bergetar dengan frekuensi tinggi yang hampir menghancurkan dirinya sendiri.
SYUT!
Rian menebas tepat di koordinat 7:3 yang ia tentukan. Seketika, hukum alam seolah menyerah pada kehendak matanya. Ruang yang tadinya stabil itu mendadak retak, menciptakan lubang hitam kecil sepanjang sepuluh sentimeter yang berdenyut tidak stabil. Retakan itu memancarkan aura kehampaan yang sangat kuat sebelum akhirnya pedang kayu Rian hancur menjadi serpihan debu halus karena tidak mampu menahan tekanan dari hukum ruang yang ia paksa pecah secara absolut.
Rian jatuh berlutut, napasnya memburu dengan paru-paru yang terasa terbakar. Keringat dingin membasahi seluruh pakaiannya, namun matanya tetap dingin dan tidak menunjukkan rasa sakit. Ia melihat retakan itu perlahan menutup kembali, menyadari bahwa ia telah berhasil memicu Void Severance di level empat bintang hanya karena ia menghantam rasio yang tepat untuk membuat ruang tersebut menjadi lemah secara paksa.
"Kau berhasil, Bocah," Soran mengangguk kecil, sebuah pengakuan tulus yang sangat langka keluar dari mulutnya. "Latihanmu resmi berakhir hari ini. Tidak ada lagi rahasia dari arsipku yang belum kau sentuh. Kau bukan lagi anak kecil yang kutemukan sekarat delapan tahun lalu."
Mereka berjalan kembali menuju gubuk dalam keheningan yang panjang dan berat. Sesampainya di sana, Soran tidak langsung menyuruh Rian memasak seperti biasanya. Ia masuk ke dalam kamarnya yang berantakan dan keluar membawa sebuah kotak kayu hitam yang tampak sangat tua namun dirawat dengan sangat hati-hati.
"Ini adalah bekal terakhirmu untuk menghadapi dunia yang busuk di luar sana," ujar Soran dengan nada suara yang sedikit melunak. Ia membuka kotak itu dan mengeluarkan sebuah cincin perak dengan ukiran naga Ouroboros. "Ini Soran's Void Band. Masukkan mana-mu ke dalamnya, dan kau bisa menyimpan harta atau rampasan perangmu di sana. Cincin ini juga memiliki kemampuan pasif untuk menyamarkan auramu agar kau tidak terlihat seperti monster saat memasuki pemukiman manusia."
Kemudian, Soran menyerahkan sebuah pedang tanpa pelindung tangan yang hulu dan sarungnya terbuat dari kayu hitam legam yang sangat halus. Rian menerimanya dan mencabutnya secara perlahan. Sebuah pedang Shirasaya muncul, bilahnya berwarna perak mengkilap dengan pola garis gelombang yang indah namun memancarkan haus darah yang pekat.
"Abyssal Fang," ucap Soran pelan. "Aku menempa ini dari sisa material Void-Steel yang kupulung dari kedalaman Celah Dimensi, yang dicampur dengan Taring seekor Naga. Pedang ini tidak akan hancur meski kau menggunakan kekuatan penuhmu. Ia adalah taring yang akan merobek hukum dunia melalui rasiomu."
Rian menggenggam pedang itu dengan erat. Rasanya dingin namun sangat stabil di tangannya, seolah-olah getaran mana safirnya kini telah menemukan wadah yang sempurna. Ia tidak mengucapkan kata-kata perpisahan yang puitis atau janji-janji manis. Ia hanya menatap Soran dalam diam, lalu berlutut dan bersujud sekali dengan kepala menyentuh lantai—sebuah tanda penghormatan tertinggi sebagai seorang murid kepada gurunya yang telah membentuk dirinya menjadi senjata mematikan.
"Pergilah sekarang sebelum aku berubah pikiran dan mematahkan kedua kakimu agar kau tidak bisa pergi," gerutu Soran sambil membuang muka dan melemparkan botol arak kosong ke arah Rian. "Di dekat batas Perisai Suci, ada Puak Penyembah Vritra. Mereka adalah sekumpulan sampah yang sudah membuang kemanusiaan mereka untuk menyembah ular raksasa pemakan mana. Bunuh ular itu, ambil Core-nya, dan gunakan energi dari Core itu untuk menebas jalan keluar dari hutan ini menggunakan Void Severance pada titik terlemah perisai tersebut."
Rian berdiri, menyarungkan Abyssal Fang di pinggangnya, dan melangkah keluar dari gubuk tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. Di luar gubuk, di bawah bayang-bayang pohon raksasa, Kyuden sudah menunggunya dengan tubuh perak yang bersinar lembut. Serigala perak raksasa itu menundukkan kepalanya yang besar, memberi isyarat agar Rian naik ke punggungnya untuk perjalanan terakhir mereka di hutan ini.
"Waktunya pergi, Rian," bisik Kyuden melalui koneksi mental mereka.
Perjalanan melintasi Silvaris Aeterna menuju wilayah luar terasa sangat berbeda bagi Rian. Pohon-pohon hijau yang biasanya terlihat megah kini perlahan menghilang dari pandangan, digantikan oleh rawa-rawa yang membusuk dan udara yang beraroma amis darah yang sangat menyengat. Kyuden membawa Rian hingga ke sebuah tebing terjal yang menghadap langsung ke lembah rawa yang gelap dan penuh kabut.
"Di bawah sana adalah wilayah mereka," ucap Kyuden dengan suara rendah yang menggetarkan udara. "Puak itu memanfaatkan lokasi ini karena mereka berada tepat di bawah Perisai Suci yang diciptakan Pahlawan Kuno. Mereka melakukan aktivitas haram: menculik anak yatim untuk dijadikan persembahan pada ular Vritra, mempekerjakan laki-laki sebagai buruh paksa, dan memperlakukan wanita dengan sangat hina. Mereka merasa aman karena tidak ada orang luar yang bisa masuk ke Silvaris, dan tidak ada makhluk hutan yang berani mendekati racun mematikan Vritra."
Rian turun dari punggung Kyuden dengan gerakan yang sangat halus. Ia menatap pemukiman di bawah sana dengan mata biru samudera yang datar, kosong, dan tanpa emosi sedikit pun. Di matanya, ia melihat menara-menara pengawas yang dibangun dari susunan tulang belulang manusia dan hewan. Ia melihat anak-anak kecil yang dirantai dalam kandang kayu yang kotor, menunggu giliran untuk menjadi santapan sang ular raksasa.
Namun, tidak ada gejolak amarah atau kasihan yang muncul di wajah Rian. Ia tidak merasa ingin menjadi pahlawan yang menyelamatkan mereka. Baginya, pemandangan itu hanyalah sebuah variabel logis dalam misinya yang harus ia selesaikan seefisien mungkin. Ia belum pernah diajarkan tentang etika atau moralitas sosial; dunia baginya hanyalah tentang target dan hambatan.
"Aku akan menunggu di sini hingga kau menyelesaikan tugasmu," ujar Kyuden sebelum perlahan menghilang ke dalam bayang-bayang hutan yang gelap.
Rian tidak langsung menyerbu markas tersebut dengan gegabah. Sesuai dengan apa yang diajarkan Soran untuk terakhir kalinya tentang strategi infiltrasi, ia duduk bersandar pada sebuah batu besar dan mulai melakukan pemetaan pertahanan secara manual. Ia mengamati rute patroli para ksatria puak, menghitung jumlah penjaga di setiap menara tulang, dan memetakan struktur bangunan utama tempat sang pemimpin puak berada. Ia tahu ia tidak boleh masuk tanpa persiapan yang benar-benar matang.
Ia melihat sekelompok ksatria puak menyeret seorang anak kecil menuju lubang pembuangan di tengah desa yang berbau busuk. Rian tetap diam membeku, matanya terus mencatat setiap detail pertahanan musuh tanpa berkedip. Jika ia menyerang sekarang, ia mungkin akan menang, tapi risikonya terlalu besar bagi staminanya untuk menghadapi Vritra nantinya. Ia akan menunggu saat pergantian penjaga, saat kewaspadaan mereka berada di titik terendah agar pembantaian bisa berjalan dengan sempurna.
Rian menarik sedikit bilah Abyssal Fang dari sarungnya. Bilah perak itu berkilau dingin di bawah cahaya bulan, haus akan darah ksatria puak dan ular raksasa yang mereka sembah.
"Target: Vritra. Hambatan: Puak Penyembah Ular," gumam Rian pelan pada dirinya sendiri dengan nada yang sangat datar.
Ia mulai bergerak menuruni bukit dengan langkah yang nyaris tak terdengar oleh indra pendengaran manusia mana pun, menyatu dengan kegelapan rawa yang membusuk. Sang Penimbang telah tiba, dan ia tidak datang untuk membawa keadilan atau keselamatan; ia hanya datang untuk melakukan eksekusi yang paling efisien.
