Dapur gubuk Soran di pagi hari yang buta itu kembali menjadi saksi bisu dari metode pelatihan yang sama sekali tidak masuk akal bagi nalar manusia biasa. Di atas meja kayu Iron-Bark yang permukaannya sangat keras—meja yang baru saja diperbaiki Rian dengan susah payah kemarin—terdapat tumpukan bahan makanan yang tampak sangat remeh namun menyimpan tantangan yang mengerikan: butiran beras putih, biji sawi yang sangat kecil, dan potongan daging rusa yang diiris setipis lembaran kertas.
"Potong semuanya, Rian," perintah Soran dengan suara yang berat dan serak. Ia duduk santai di sudut ruangan yang remang-remang, tangannya yang dipenuhi bekas luka memutar-mutar sebuah botol arak yang isinya tinggal separuh. "Tapi aku tidak ingin kau menggunakan teknik tebasan. Gunakan tusukan. Aku ingin kau menusukkan ujung pedang kayu itu tepat di pusat sel setiap bahan ini tanpa merusak atau merobek bentuk luarnya sama sekali. Jika butiran beras itu hancur sedikit saja menjadi bubur atau debu, kau tidak akan mendapatkan jatah makan siang hari ini."
Rian menatap butiran beras kecil di depannya dengan dahi yang berkerut sangat dalam. "Guru, kau pasti bercanda. Ini adalah pedang kayu seberat tiga puluh kilogram dengan ujung yang tidak lancip, bukan jarum jahit yang halus. Menusuk tepat di pusat biji sawi dengan kayu berat ini tanpa menghancurkannya adalah hal yang secara fisik mustahil dilakukan."
"Mustahil bagi seorang tukang jagal yang hanya tahu cara mengayunkan golok dengan mabuk, mungkin," ejek Soran dengan tawa sarkastik yang menusuk telinga. "Tusukanmu selama delapan tahun ini selalu lebih tumpul dari pantat babi hutan yang gemuk. Kau selama ini hanya mengandalkan tenaga kasar yang meluap-luap. Kau memang punya empat bintang dan Mastery penuh sekarang, tapi kau masih menusuk seperti orang buta yang kehilangan tongkat penuntunnya. Coba lagi, atau kau akan kelaparan!"
Selama dua jam berikutnya, gubuk tua itu hanya dipenuhi oleh suara tak, tak, tak yang monoton dari ujung pedang kayu Iron-Bark yang menghantam permukaan meja. Rian berkali-kali menghancurkan butiran-butiran beras tersebut menjadi tepung putih yang berhamburan. Setiap kali ia gagal, Soran akan melepaskan komentar-komentar pedas dan hinaan yang memicu emosi Rian hingga ke titik didih. Namun, di tengah rasa frustrasi yang memuncak itu, Rian mulai menyadari sesuatu yang mendalam. Ia tidak boleh hanya melihat objek tersebut sebagai benda fisik; ia harus menggunakan penglihatannya untuk menemukan "pusat gravitasi" yang menahan seluruh struktur butiran beras tersebut agar tetap menyatu.
"Cukup," ujar Soran tiba-tiba, suaranya berubah menjadi sangat rendah, serius, dan dingin, menandakan bahwa sesi latihan konyol di dapur telah berakhir. "Kau sudah mulai paham bahwa kekuatan besar yang tidak memiliki titik fokus hanya akan menjadi sebuah kehancuran yang sangat berantakan dan tidak efisien. Sekarang, ambil pedangmu dan bersiaplah. Kita akan menuju ke Danau Cermin Tak Beriak."
Mereka berjalan menembus bagian terdalam hutan Silvaris yang tidak pernah tersentuh oleh kaki manusia mana pun. Di sana, terdapat sebuah danau purba yang sangat aneh. Airnya tidak berwarna biru atau jernih, melainkan berwarna perak gelap dengan kepadatan Mana alam yang sangat tinggi, memberikan tekstur yang menyerupai merkuri cair atau raksa. Air di danau ini begitu padat dan kaku sehingga sebuah koin perak yang dilemparkan akan mengapung di permukaannya tanpa tenggelam.
"Teknik kelima dari arsipku: Soran Archive: Singularity Point," ucap Soran dengan wibawa yang luar biasa saat mereka sampai di tepian danau yang sunyi senyap tanpa ada riak sedikit pun.
Soran melangkah maju dan berdiri dengan tenang di atas permukaan air danau yang sekeras beton itu. "Jika Deviant Strike adalah tentang menghancurkan massa musuh dengan tenaga besar, maka Singularity Point adalah teknik yang diciptakan khusus untuk mengabaikan segala bentuk pertahanan fisik maupun magis di dunia ini. Kau harus memusatkan seluruh energi dari keempat Star Core-mu ke satu titik gravitasi yang sangat kecil, tidak lebih besar dari ujung jarum, di ujung pedangmu. Rumus daya rusaknya adalah jumlah Core yang kau miliki dikuadratkan. Karena kau memiliki empat Core, maka daya tusukmu secara teknis akan menjadi enam belas kali lipat lebih kuat dari tusukan biasanya."
Soran memberikan demonstrasi singkat. Ia menusukkan pedang meteoritnya ke permukaan air danau yang sangat padat itu.
Klik.
Tidak ada suara ledakan mana yang memekakkan telinga. Tidak ada cipratan air perak ke udara. Ujung pedang Soran masuk ke dalam air merkuri itu seolah-olah air tersebut hanyalah udara kosong yang tidak memiliki hambatan sama sekali. Saat ia menarik pedangnya kembali, hanya ada sebuah lubang kecil yang sempurna tertinggal di permukaan air sebelum perlahan-lahan menutup kembali karena kepadatan Mana.
"Masalahnya, Rian," Soran menatap muridnya dengan tatapan yang sangat tajam dan memperingatkan, "teknik ini menciptakan tekanan gravitasi internal yang sangat luar biasa pada lengan dan sarafmu. Satu kesalahan kecil saja dalam fokus, dan tanganmu sendiri akan tersedot oleh lubang hitam mini yang kau ciptakan sendiri di ujung pedang itu. Tulang-tulangmu akan hancur menjadi bubuk dalam sekejap."
Soran kemudian memanggil target latihan yang sebenarnya untuk hari ini. Dari dalam sebuah gua gelap di pinggir danau, muncullah seekor monster purba: Diamond-Back Tortoise. Kura-kura raksasa ini memiliki cangkang yang terbuat dari kristal intan alami yang telah diperkuat oleh Mana bumi selama ratusan tahun. Di dunia luar, ksatria elit bintang delapan sekalipun harus menggunakan serangan berskala besar berkali-kali hanya untuk sekadar membuat retakan kecil pada cangkang ini. Cangkang ini adalah definisi dari pertahanan absolut yang tidak bisa ditembus.
"Tembus cangkang itu, Rian. Aku hanya butuh satu tusukan bersih hingga ke jantungnya," perintah Soran dengan suara dingin.
Rian melangkah maju dengan penuh keraguan namun penuh tekad. Ia memasang kuda-kuda menusuk yang sempurna, memusatkan seluruh kesadaran mentalnya pada ujung pedang kayu Iron-Bark-nya. Ia memeras keempat bintang safir gelap di dalam Dantiannya, mencoba menarik seluruh aliran energi itu menuju satu titik kecil di ujung pedang.
PANG!
Rian mencoba menusuk, namun hasilnya adalah bencana besar. Energi yang ia coba padatkan tidak stabil dan meledak sebelum benar-benar menyentuh cangkang kura-kura tersebut. Tekanan balik dari ledakan itu menghantam pergelangan tangan Rian dengan sangat keras, hampir mematahkan tulangnya. Ia terpental ke belakang hingga lima meter, dadanya terasa sangat sesak dan ia memuntahkan setetes darah segar yang hangat.
"Lagi! Jangan berhenti seperti ksatria pengecut!" teriak Soran tanpa belas kasihan sedikit pun.
Rian mencoba lagi dan lagi. Sepuluh kali, dua puluh kali, hingga lima puluh kali percobaan. Setiap tusukannya hanya menghasilkan benturan keras yang memekakkan telinga dan membuat seluruh tangannya mati rasa seolah-olah syarafnya telah mati. Cangkang intan itu bahkan tidak tergores sedikit pun, tetap berkilau dengan angkuhnya di bawah cahaya senja. Kura-kura itu hanya menatap Rian dengan mata yang sangat malas, seolah sedang mengejek segala usaha keras pemuda itu.
Rian terengah-engah, staminanya sudah benar-benar terkuras habis dan tubuhnya gemetar hebat. Ia menatap cangkang itu sekali lagi dengan mata biru samudranya yang mulai bercahaya. Kali ini, ia tidak hanya menggunakan instruksi teknis dari Soran. Ia mengaktifkan Septem hingga ke tingkat puncaknya yang paling dalam.
Dunia di mata Rian seketika menjadi sunyi, transparan, dan dipenuhi oleh garis-garis struktur merah yang sangat rumit. Di atas permukaan cangkang intan yang selama ini tampak tanpa celah itu, penglihatan Septem-nya secara otomatis membagi struktur tersebut menjadi sepuluh bagian yang presisi. Di sana, di bagian perut kiri bawah cangkang, ia melihat sebuah koordinat di mana tujuh bagian struktur bertemu dengan tiga bagian lainnya. Titik Rasio 7:3.
Rian menyadari hukum mutlak matanya: jika ia berhasil menghantam titik rasio itu, maka bagian tersebut akan dipaksa menjadi titik lemah oleh hukum alam, terlepas dari seberapa keras materialnya.
Rian tidak lagi mencoba menggunakan tenaga kasar yang meledak-ledak. Ia menyelaraskan gravitasi dari Singularity Point dengan titik rasio Septem yang ia lihat. Di ujung pedang kayunya, sebuah fenomena aneh terjadi. Muncul sebuah titik cahaya hitam kecil yang sangat pekat—sebuah singularitas mini yang saking padatnya hingga ia mulai melengkungkan cahaya dan udara di sekitarnya.
"Septem... Singularity... Hancurlah!" bisik Rian dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Ia bergerak maju dengan satu langkah yang tidak bersuara sama sekali. Ujung pedang kayunya meluncur dengan kecepatan yang mengerikan namun dalam keadaan yang sangat tenang dan terkendali.
PLES!
Tidak ada suara benturan logam yang keras. Tidak ada ledakan Mana yang berhamburan. Hanya terdengar suara halus seperti selembar kertas sutra yang disobek dengan sangat hati-hati. Pedang kayu Iron-Bark itu menembus cangkang intan sekeras baja seolah-olah benda legendaris itu hanyalah tumpukan tahu yang lunak dan basah. Ujung pedangnya masuk sangat dalam, menembus hingga ke pusat saraf terdalam sang monster, mematikan kesadarannya secara instan tanpa merusak sedikit pun struktur luar cangkangnya secara keseluruhan.
Rian menarik pedangnya kembali dengan sisa tenaga terakhirnya, lalu jatuh berlutut dengan napas yang terputus-putus. Keringat dingin mengucur deras seperti hujan dari seluruh tubuhnya, dan ia merasa seolah-olah keempat bintangnya baru saja "diperas" hingga benar-benar kering tanpa sisa.
Soran, yang sejak tadi duduk santai dengan botol araknya, seketika melompat berdiri dengan gerakan yang sangat cepat. Ia berlari mendekati bangkai kura-kura tersebut, matanya terbelalak lebar dengan pupil yang mengecil saat ia menatap sebuah lubang kecil yang sangat bersih, rapi, dan presisi tepat di tengah-tengah cangkang intan tersebut. Ia menyentuh pinggiran lubang itu dengan jari gemetarnya, mencoba mencari tahu bagaimana ini mungkin terjadi.
"Hanya... satu tusukan?" gumam Soran pelan dengan suara yang bergetar karena keterkejutan yang belum pernah ia rasakan selama puluhan tahun. "Hanya dengan empat Core? Ini mustahil..."
Soran menoleh ke arah Rian yang masih terkapar di tanah dengan tatapan yang hampir menyerupai rasa takut yang bercampur dengan kekaguman yang luar biasa mendalam. "Rian, kau harus tahu satu hal. Ksatria elit dengan bintang sembilan pun setidaknya membutuhkan empat atau lima kali serangan berturut-turut menggunakan teknik Singularity Point untuk bisa menembus cangkang Diamond-Back ini sedikit demi sedikit. Tapi kau... kau melakukannya dalam satu kali serangan bersih yang mematikan!"
Soran melihat kembali ke dalam lubang kecil itu, mencoba membedah sisa-sisa Mana safir gelap yang masih tertinggal di sana. "Kau tidak menghancurkan cangkangnya dengan tenaga murni yang membabi buta. Kau menemukan koordinat rasionya. Kau menggabungkan teknik pengganda dayaku dengan hukum mutlak dari mata Septem itu..."
Soran terdiam cukup lama dalam keheningan yang sangat berat di tepi danau tersebut. Ia akhirnya menyadari sepenuhnya bahwa muridnya kini bukan lagi sekadar seorang ksatria yang kuat secara fisik; Rian telah berevolusi menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya bagi tatanan dunia. Dengan Septem yang mampu melihat dan menciptakan titik lemah pada rasio 7:3, teknik Soran Archive yang memiliki pengali daya rusak kuadrat kini menjadi sebuah senjata pamungkas yang bisa membunuh siapa pun di benua ini, terlepas dari berapa pun jumlah Star Core yang mereka miliki. Selama Rian bisa menyentuh titik rasio itu, pertahanan musuh tidak lagi memiliki arti.
"Guru..." Rian berusaha memanggil dengan suara yang sangat parau dan lemah.
"Diamlah dulu, Bocah. Kau baru saja melakukan sebuah tindakan yang benar-benar tidak masuk akal dalam sejarah ilmu pedang," Soran kembali ke mode datarnya yang dingin, meskipun tangannya masih terlihat sedikit bergetar saat ia menyarungkan pedangnya kembali. Ia melemparkan botol araknya yang masih berisi sedikit cairan pada Rian untuk membantu proses pemulihan Mana-nya yang terkuras habis. "Teknik kelima sudah kau kuasai dengan cara yang paling menakutkan yang pernah kusaksikan. Sekarang, hanya tersisa satu lagi teknik puncak dariku. Void Severance."
Suasana di tepi Danau Cermin Tak Beriak itu tiba-tiba berubah menjadi sangat berat, sepi, dan penuh dengan aura perpisahan. Soran menatap langit senja yang kini berwarna ungu kehitaman, warna yang secara kebetulan sangat mirip dengan Mana milik Rian. "Besok pagi adalah latihan untuk teknik terakhir kita. Teknik yang akan membelah hubungan ruang dan waktu, dan teknik yang akan menjadi tanda resmi bahwa kau tidak lagi membutuhkan seorang guru tua pemabuk sepertiku."
Soran bergumam sangat pelan, nyaris tidak terdengar oleh telinga Rian yang masih berdenging, "Waktunya benar-benar hampir habis, ya... Delapan tahun di hutan ini terasa hanya seperti satu kedipan mata yang singkat."
Rian menatap punggung gurunya yang terlihat sedikit lebih bungkuk di bawah cahaya senja yang memudar. Ia merasakan sebuah kesedihan yang mendalam di dalam dadanya. Ia memang telah mendapatkan kekuatan besar untuk menembus apa pun di dunia ini, namun ia menyadari dengan pahit bahwa ia tidak akan pernah memiliki kekuatan untuk menembus takdir perpisahan yang sudah berdiri tepat di depan matanya.
Bab ini ditutup dengan bayangan kedua sosok manusia itu yang terpantul dengan sangat jelas di permukaan Danau Cermin yang tak beriak. Satu lubang kecil yang sempurna di cangkang kura-kura intan itu akan tetap ada di sana selamanya, menjadi sebuah bukti bisu bagi sejarah bahwa sang Penimbang Dunia yang baru telah mencapai sebuah level kekuatan yang suatu hari nanti akan membuat seluruh benua gemetar ketakutan saat mendengar namanya disebutkan.
