Suara piring keramik yang pecah berantakan menabrak dinding kayu menjadi alarm pagi yang brutal bagi Rian.
PRANG!
"Apa-apaan kau, Guru?! Kau hampir saja membunuhku!" teriak Rian sambil melompat dari posisi meditasinya yang tenang di sudut gubuk. Ia nyaris saja terkena pecahan keramik tajam yang melayang hanya beberapa sentimeter di depan ujung hidungnya, memotong beberapa helai rambutnya yang mulai memanjang.
Soran berdiri dengan santai di ambang pintu gubuk, kedua tangannya dipenuhi oleh tumpukan piring kotor bekas makan malam dan beberapa botol arak kosong yang sudah tidak ada isinya. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah atau penyesalan; justru ada seringai nakal dan provokatif yang menghiasi bibirnya yang pecah-pecah. "Ksatria macam apa yang dengan bangga mengaku sudah memiliki Mastery seratus persen tapi kepalanya hampir bocor hanya karena piring terbang yang dilempar oleh seorang pria tua pemabuk? Kau terlalu fokus pada apa yang ada di dalam dirimu, Rian. Kau menjadi buta terhadap apa yang datang menyerangmu dari luar."
Tanpa peringatan atau aba-aba kedua, Soran melemparkan sebuah botol arak kosong dengan kecepatan yang tidak main-main—sebuah lemparan yang sanggup menembus pertahanan ksatria bintang lima sekalipun. Rian secara insting menggunakan Core Resonance untuk menggetarkan sel tubuhnya dan bergerak menghindar secepat kilat ke arah kanan, namun Soran seolah-olah sudah memprediksi gerakannya dengan sangat tepat. Botol kedua meluncur tepat ke arah titik di mana Rian baru saja berpindah, memaksa pemuda itu untuk memutar tubuhnya di udara dalam posisi yang sangat sulit.
"Jangan hanya menghindar seperti tikus yang ketakutan! Tangkap! Lindungi dirimu tanpa menghancurkan satu pun barang-barang berharga ini! Jika ada satu lagi piring yang pecah, kau tidak akan mendapatkan jatah makan malam selama tiga hari!" perintah Soran dengan suara yang menggelegar.
Rian terpaksa melakukan tarian konyol yang sangat melelahkan di tengah ruangan sempit gubuk tersebut. Ia harus menangkap piring yang meluncur zigzag, botol yang berputar, dan bahkan sisa tulang belulang makanan yang dilemparkan Soran dengan tangan kosong yang presisi. Jika ia menggunakan terlalu banyak tenaga Mana, barang-barang rapuh itu akan hancur menjadi debu di genggamannya. Jika ia terlalu lemah atau lambat, barang-barang itu akan pecah menabrak lantai kayu. Interaksi konyol dan melelahkan ini berlangsung selama hampir empat puluh menit, menguras stamina mental Rian jauh lebih banyak daripada sesi meditasi mana pun.
"Cukup sudah," ujar Soran akhirnya sambil membersihkan debu dari tangannya yang kasar. Sifat konyol dan jahilnya menguap dalam sekejap, digantikan oleh aura dingin yang tiba-tiba menyelimuti seluruh ruangan gubuk, membuat udara terasa berat untuk dihirup. "Kau memang sudah bisa bergerak sangat cepat dengan resonansi, dan kau bisa menebas pilar batu dengan kekuatan destruktif. Tapi di dunia luar sana, kau akan bertemu dengan monster purba atau ksatria elit yang serangannya tidak akan bisa kau hindari hanya dengan mengandalkan kecepatan kaki. Kau butuh sesuatu yang jauh lebih dari sekadar tembok mana yang statis dan kaku."
Soran memberikan isyarat singkat agar Rian mengambil pedangnya dan mengikutinya. Mereka berjalan dalam keheningan menembus hutan yang lebat menuju bagian utara Silvaris, menuju sebuah wilayah yang dikenal dengan nama Dataran Gema (Echoing Plains). Tempat ini adalah sebuah padang rumput luas yang sangat unik, dikelilingi oleh pilar-pilar batu kristal raksasa yang tersusun secara alami sedemikian rupa sehingga menciptakan efek akustik yang sangat aneh. Di sini, suara sekecil apa pun, bahkan detak jantung sekalipun, akan memantul berkali-kali pada permukaan kristal, menciptakan gema yang tumpang tindih dan membingungkan indra pendengaran bagi siapa pun yang tidak terbiasa.
"Teknik keempat dari arsip pedangku: Soran Archive: Celestial Parity," ucap Soran dengan nada suara yang berwibawa.
Ia melangkah ke tengah-tengah dataran yang sunyi itu, lalu mulai memutar pedang meteoritnya di hadapan tubuhnya. Ia tidak melakukan gerakan memotong atau menebas; melainkan serangkaian gerakan melingkar yang sangat kompleks dan geometris, yang seolah-olah sedang menghubungkan titik-titik cahaya imajiner di udara. Seketika, cahaya perak yang sangat murni dari kesebelas bintang di tubuh Soran memancar keluar, membentuk sebuah jaring-jaring energi yang sangat solid dan berkilauan, membentuk pola rasi bintang kuno yang megah di depan tubuhnya.
BZZZT!
Sebuah batu besar yang secara kebetulan jatuh dari tebing di atas mereka menghantam perisai cahaya tersebut. Alih-alih hancur berkeping-keping akibat hantaman gravitasi, batu itu seolah-olah menabrak permukaan air yang sangat padat dan elastis. Energinya diserap sepenuhnya tanpa ada suara ledakan, dan batu besar itu jatuh begitu saja ke atas tanah tanpa ada daya lagi.
"Celestial Parity bukan sekadar dinding Mana statis yang kau bangun untuk menahan beban," Soran memberikan penjelasan teknis sambil tetap mempertahankan perisainya. "Perisai rasi bintang ini terhubung secara langsung ke inti Star Core-mu melalui jalur saraf. Selama kekuatan serangan lawan berada di bawah atau setara dengan total output energi yang kau miliki, serangan itu tidak hanya akan tertahan secara fisik, melainkan akan dinetralkan strukturnya dan diserap kembali menjadi cadangan stamina murni bagi tubuhmu sendiri. Ini adalah teknik penyeimbang yang membuatmu mustahil dikalahkan oleh musuh yang hanya mengandalkan jumlah serangan kecil."
Soran kemudian menunjuk ke arah celah-celah pilar batu kristal yang mulai bercahaya seiring dengan matahari yang mulai tertutup awan. Dari sana, muncul ratusan sosok bersayap lebar dengan mata merah yang menyala. Sonic-Blast Bats. Kelelawar raksasa ini memiliki selaput hidung yang berbentuk seperti corong, yang digunakan untuk memadatkan udara di sekitar mereka sebelum menembakkannya sebagai peluru sonik bertekanan tinggi. Serangan mereka tidak terlihat oleh mata telanjur, namun memiliki daya hancur yang sanggup meremukkan tulang rusuk manusia.
"Kau akan berdiri tepat di titik tengah ini, Rian. Jangan pernah berpikir untuk menyerang balik. Jangan sekali-kali bergerak dari posisi berdirimu. Gunakan Celestial Parity untuk bertahan sampai matahari benar-benar tenggelam. Jika kau terjatuh atau pertahananmu pecah, maka gema sonik di dataran ini akan masuk ke telingamu dan menghancurkan organ dalammu dalam hitungan detik," Soran memberikan instruksi terakhirnya yang sangat keras sebelum melompat tinggi ke atas salah satu pilar batu kristal untuk mengawasi jalannya latihan.
Rian menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang mulai liar. Ia mengangkat pedang kayu Iron-Bark-nya yang berat, mencoba meniru pola gerakan geometris yang baru saja dilakukan oleh Soran. Ia mulai memutar mananya di dalam tubuh, menghubungkan keempat bintang safir gelapnya menjadi satu sirkuit pertahanan yang melingkar.
Syuut! Syuut!
Serangan pertama datang dengan sangat tiba-tiba. Peluru udara sonik yang tidak terlihat menghantam sisi kiri tubuh Rian. Karena perisai rasi bintangnya belum stabil dan masih memiliki banyak celah, getaran sonik itu menembus jaring mana dan menghantam bahu kiri Rian dengan telak. Rian terhuyung hebat, merasakan rasa nyeri yang luar biasa panas seolah-olah tulang bahunya baru saja dihantam oleh palu godam raksasa.
"Gunakan Mastery-mu secara total! Jangan hanya mencoba mengeraskan Mana-mu secara paksa! Buatlah ia menjadi fleksibel dan hidup seperti jaring laba-laba yang menangkap mangsa!" teriakan Soran bergema di seluruh dataran, bercampur dengan suara dengungan kelelawar.
Kelelawar-kelelawar sonik itu mulai terbang berputar di atas kepala Rian, membentuk formasi lingkaran sempurna yang mengepungnya dari segala arah mata angin. Suara dengungan frekuensi tinggi yang memekakkan telinga mulai memenuhi Dataran Gema. Serangan-serangan sonik mulai berdatangan secara beruntun dan simultan; dari depan, belakang, atas, bawah, dan samping.
Setiap kali sebuah peluru sonik melesat melewati Rian dan mengenai pilar batu kristal di sekelilingnya, suaranya akan memantul kembali dan menyerang Rian dari arah belakang yang tidak terduga. Rian merasa seolah-olah ia sedang dikepung oleh ratusan penembak jitu yang tidak terlihat yang menembaknya tanpa henti. Telinganya mulai mengeluarkan cairan darah merah akibat tekanan gelombang suara yang terlalu luar biasa.
"Fokus... jangan biarkan rasa sakit memecah core..." gumam Rian di tengah rasa sakit yang mulai membuatnya hampir pingsan.
Ia memutuskan untuk memejamkan matanya, membiarkan penglihatan Septem-nya memetakan lintasan distorsi udara yang terkompresi dari peluru-peluru sonik tersebut. Ia mulai memvisualisasikan pola rasi bintang di dalam benaknya dengan lebih jelas. Pedang kayu di tangannya kini mulai bergerak lebih halus dan ritmis. Cahaya safir gelap yang pekat mulai keluar dari ujung pedangnya, membentuk pola-pola geometris yang rumit dan indah di hadapannya.
Krak!
Perisainya kembali pecah untuk kesekian kalinya. Kali ini lebih dari sepuluh serangan menghantam punggung, pinggang, dan kaki Rian secara bersamaan. Rian terjatuh dengan satu lutut di tanah, memuntahkan sedikit darah. Ia merasa paru-parunya sesak dan tulang-tulangnya seakan retak. Namun, di tengah keputusasaan itu, ia teringat kembali pada penjelasan Soran tentang konsep "menetralkan".
Ia menyadari kesalahannya: ia selama ini mencoba "menahan" serangan itu seolah menahan pintu yang didorong. Itu salah. Ia harus menjadi bagian dari serangan itu. Ia harus "menerimanya".
Rian bangkit berdiri kembali dengan sisa tenaga yang masih ia miliki di dalam ototnya. Ia tidak lagi mencoba menggunakan kekerasan Mana untuk menahan hantaman. Sebaliknya, ia membiarkan perisai rasi bintang safir gelapnya berdenyut dengan frekuensi yang searah dengan detak jantung keempat core-nya. Saat peluru sonik berikutnya yang sangat kuat menghantam perisai safir gelap itu, Rian tidak lagi merasakan hantaman fisik yang menyakitkan.
Sebaliknya, sebuah keajaiban terjadi. Ia merasakan sebuah aliran energi hangat yang sangat nyaman masuk melalui bilah pedangnya, menjalar perlahan ke lengannya, dan menetap dengan tenang di dalam Dantiannya. Rasa lelah yang sangat berat di ototnya perlahan-lahan mulai memudar. Setiap peluru sonik yang menabrak perisai rasi bintangnya kini justru memperkuat daya tahannya dan mengisi kembali cadangan stamina yang telah terkuras.
Wuuush!
Perisai rasi bintang Rian kini bersinar dengan cahaya biru tua yang sangat solid dan megah, seolah-olah sebuah galaksi kecil sedang melindungi tubuhnya. Ratusan serangan sonik yang datang bertubi-tubi kini menghujani perisai itu seperti tetesan air hujan yang jatuh di atas permukaan kaca yang sangat kuat. Setiap hantaman peluru sonik menciptakan riak energi yang sangat indah, seolah-olah ada rasi bintang yang sedang menari-nari di sekitar tubuh Rian sebagai pelindung absolut.
Kelelawar-kelelawar sonik itu terus melancarkan serangan mereka selama berjam-jam tanpa henti, namun Rian tetap berdiri tegak dengan posisi yang sangat kokoh tanpa bergeming satu milimeter pun dari tempatnya berpijak. Ia telah berhasil mencapai titik keseimbangan sempurna antara pertahanan fisik dan penyerapan energi murni. Kelelahan yang luar biasa yang tadi hampir merenggut kesadarannya kini telah sepenuhnya digantikan oleh stamina yang meluap-luap di seluruh pembuluh darahnya.
Matahari akhirnya benar-benar tenggelam di balik cakrawala hutan Silvaris, menyisakan kegelapan yang hanya diterangi oleh pilar-pilar kristal. Koloni kelelawar sonik itu mulai mundur satu per satu kembali ke dalam gua-gua kristal mereka karena mangsa mereka kini sudah tidak lagi bisa ditembus. Keheningan yang sangat dalam kembali menyelimuti Dataran Gema, menyisakan sosok Rian yang berdiri tegap di tengah kawah kecil yang tercipta akibat ribuan hantaman udara sonik di sekitarnya.
Rian menurunkan pedang Iron-Bark-nya secara perlahan. Perisai rasi bintangnya memudar secara bertahap, namun ia merasa jauh lebih segar dan bugar daripada saat ia memulai latihan di pagi hari yang menyebalkan tadi.
Soran melompat turun dari puncak pilar batu kristal, mendarat dengan gerakan yang sangat halus dan tanpa suara di hadapan Rian. Ia menatap muridnya yang kini sudah berusia delapan belas tahun itu dengan tatapan yang sulit diartikan—ada sebuah kebanggaan besar yang ia sembunyikan di balik wajah kasarnya. "Kau belajar jauh lebih cepat dari yang pernah kubayangkan dalam mimpi terburukku, Bocah. Menemukan ritme penyerapan stamina di tengah kepungan Sonic-Blast Bats yang gila itu bukanlah sebuah pencapaian yang remeh."
Soran menepuk bahu kiri Rian yang tadi sempat terluka, sebuah gerakan afeksi yang sangat jarang ia lakukan selama delapan tahun mereka bersama. "Teknik Celestial Parity sekarang telah resmi menjadi kulit keduamu. Ingatlah kata-kataku baik-baik: ksatria yang paling berbahaya di benua ini bukan hanya dia yang memiliki kemampuan paling hebat untuk membunuh musuhnya, tapi dia yang mustahil untuk bisa dibunuh oleh serangan apa pun."
Suasana di dataran yang sunyi itu tiba-tiba berubah menjadi sangat sendu dan melankolis. Angin malam yang dingin mulai bertiup, membawa aroma lembap hutan purba yang menyadarkan Rian bahwa waktunya di tempat ini sudah hampir habis. Soran menatap jauh ke arah langit malam yang bertabur bintang asli, yang sangat mirip dengan pola perisai yang baru saja dikuasai oleh Rian dengan susah payah.
"Besok pagi," suara Soran terdengar sedikit serak dan lebih berat, "kita akan segera mempelajari teknik kelima dari arsipku. Singularity Point. Itu adalah sebuah teknik yang akan menjadi ujian terakhir bagi mentalmu, apakah kau benar-benar memiliki kendali penuh atas takdirmu sendiri di dunia luar, atau kau hanya akan berakhir hancur berkeping-keping oleh kekuatan besar yang kau miliki sendiri."
Rian menatap wajah gurunya dalam kegelapan. Ia menyadari sepenuhnya bahwa siklus latihan mereka sudah benar-benar mencapai tahap akhir. Hanya tersisa dua teknik lagi sebelum ia harus melangkah keluar dari bayang-bayang Soran dan meninggalkan hutan ini selamanya. "Guru, kenapa nama teknik kelima itu terdengar sangat berbahaya dan mengerikan?"
Soran menyeringai, namun sorot matanya yang keruh tidak ikut tersenyum. "Karena teknik itu diciptakan khusus untuk mengabaikan segala hukum pertahanan dunia ini. Dan apa pun di alam semesta ini yang berani melanggar aturan, selalu menuntut harga yang sangat mahal untuk dibayar. Sekarang, ayo kita kembali ke gubuk. Kau sangat beruntung karena staminamu saat ini sedang penuh, karena itu artinya kau harus berburu babi hutan raksasa untuk menjadi menu makan malam kita hari ini."
Rian berjalan perlahan di samping Soran, meninggalkan Dataran Gema yang kembali sunyi dan dingin. Meskipun tubuhnya saat ini terasa penuh dengan energi berkat proses penyerapan mana tadi, hatinya justru terasa sedikit berat dan sesak. Ia tahu betul bahwa setiap teknik baru yang berhasil ia kuasai adalah satu langkah lebih dekat menuju momen perpisahan yang menyakitkan. Namun, dengan perisai rasi bintang yang kini telah bersemayam di dalam jiwanya, Rian merasa jauh lebih siap untuk melindungi apa pun dan siapa pun yang akan ia temui di dunia luar yang kejam nanti.
Bab ditutup dengan bayangan kedua sosok manusia itu yang berjalan perlahan menembus kabut malam yang mulai menebal. Di belakang mereka, pilar-pilar di Dataran Gema seolah masih memantulkan sisa-sisa cahaya safir gelap dari perisai rasi bintang Rian, seolah-olah sebuah takdir baru yang besar telah benar-benar lahir di tanah Silvaris yang selama ini terlupakan oleh sejarah dunia.
