Restoran itu perlahan mulai sepi, cahaya lampu hangat memantul di meja panjang tempat mereka duduk.
Piring-piring sudah kosong, gelas hanya berisi sisa es yang hampir mencair. Di ujung meja, Hina dan si kembar masih saling menyalahkan siapa yang makan paling banyak, sementara Riku berdiri di dekat kasir, dompet di tangan.
Kasir : "Totalnya segini, ya…"
Angka yang muncul di layar membuat sebagian besar anggota rombongan menelan ludah.
Rinna bersandar ke meja, memegangi kepala.
Rinna : "Aduh… ini kalau di dunia kami, bisa bayar sewa asrama satu bulan…"
Fiora memegang tas kecilnya, wajahnya merah.
Fiora : "Maaf… kami benar-benar tidak memikirkan masalah uang sejauh ini. Kami terburu-buru saat berangkat dari akademi…"
Noelle menunduk, telinganya turun.
Noelle : "Kami bawa uang, tapi… tidak sejauh ini jumlahnya…"
Nerine : "Aku kira Rinna yang akan bayar…"
Rinna : "Hei, jangan lempar ke aku!"
Riku menoleh sekilas ke arah mereka, lalu tersenyum tipis.
Riku : "Tenang saja. Biar aku yang bayar."
Hina spontan berdiri setengah.
Hina : "Tapi Riku, itu…"
Riku mengangkat tangannya, menghentikan protes.
Riku : "Uang bisa kucari lagi. Perusahaan keluargaku masih berdiri, dompetku tidak akan menangis lama-lama."
Ia menatap mereka satu per satu.
Riku : "Tapi pertemanan yang tulus… orang-orang yang mau duduk di meja yang sama, tertawa, bertengkar soal makanan… itu susah sekali dicari. Jadi biarkan ini jadi bagianku."
Rei menatapnya dari ujung meja, tersenyum tipis.
Rei : "Kalau kau bangkrut, jangan datang menagihku, ya."
Riku terkekeh.
Riku : "Kalau aku bangkrut, aku pindah ke sini saja, jadi tetanggamu. Kita makan mie instan setiap hari."
Si kembar, Hina, Rika, Airi, dan gadis-gadis dunia lain saling pandang—malu, tapi hangat.
Aelria menggenggam rok gaunnya.
Aelria : "Riku… terima kasih. Dari dunia kami… aku juga berterima kasih."
Riku hanya mengangguk, lalu membayar tagihan itu tanpa ragu.
Mal & Game Center – Pertarungan Tiket dan Tinju
Setelah keluar dari restoran, mereka berjalan melewati koridor mal yang terang. Lampu-lampu neon, suara musik, dan aroma popcorn bercampur menjadi satu.
Si kembar langsung melotot ketika melihat papan tanda Game Center.
Noelle : "Ah! Ada tempat permainan!"
Nerine : "Masuk! Masuk!"
Hina menyusul, mata berbinar.
Hina : "Kalau ada mesin tiket, aku harus menang hari ini!"
Rinna mengangkat tangan.
Rinna : "Aku tidak mau kalah dari manusia atau elf. Beastkin harus menjaga harga diri!"
Rika hanya menghela napas—tapi ekor kecil di belakangnya bergoyang pelan, tidak sabar.
Rika : "Kalau sudah sejauh ini, ya sudah… aku ikut."
Mereka masuk.
Game center itu penuh lampu warna-warni, suara mesin, dan koin yang bergemerincing. Mereka hampir langsung terbagi:
Noelle, Nerine, Hina, Rika, Rinna berlari ke mesin tiket dan permainan lempar bola.
Riku dan Rei berjalan lebih santai, sementara Aelria dan Airi mengikuti di belakang Rei seperti penjaga pribadi.
Seris dan Fiora memilih mengamati dulu, mempelajari "budaya dunia manusia" ini dengan mata kritis.
Noelle mengerang saat bola lemparannya melenceng.
Noelle : "Kenapa lubangnya kecil sekali!"
Nerine tertawa.
Nerine : "Biar manusia belajar rendah hati, mungkin."
Hina menaruh tiket yang terkumpul di pundaknya seperti syal.
Hina : "Lihat ini! Aku akan menukarnya dengan hadiah terbesar!"
Rinna terkekeh.
Rinna : "Lawan beratmu bukan manusia atau demon, Hina. Lawanmu hari ini adalah aku."
Dan perang tiket pun berlanjut.
Tak jauh dari sana, Riku, Rika, dan Rinna berdiri di depan sebuah mesin tinju—yang menampilkan angka skor setiap kali seseorang memukul target.
Riku menggerakkan bahunya, menggulung lengan kemejanya.
Riku : "Baik, lihat kekuatan penguatan tubuh manusia sejati."
Rika mengangkat alis.
Rika : "Kalau mau pamer, pastikan bisa mengalahkan beastkin dulu."
Rinna menguap kecil.
Rinna : "Ayo kita lihat seberapa jauh perbedaan kita."
Riku menarik napas, memukul.
Mesin berguncang, angka naik drastis dan berhenti di skor tinggi.
Riku tersenyum puas.
Riku : "Hmph. Buruk-buruknya tidak, 'kan?"
Rika melangkah maju, menyesuaikan jarak, dan dengan satu pukulan cepat, angka melesat… berhenti tepat sama dengan skor Riku.
Rika menoleh dengan senyum tipis.
Rika : "Sepertinya… lumayan."
Rinna terkekeh, melangkah maju.
Rinna : "Sekarang giliran beastkin penuh. Perhatikan baik-baik, manusia."
Pukulan Rinna menghantam mesin dengan suara yang lebih berat—angka melesat dan… berhenti di angka yang nyaris identik dengan Rika dan Riku.
Riku menatap layar, lalu menatap tangan mereka bertiga.
Riku : "…Serius? Begitu?"
Noelle bertepuk tangan keras.
Noelle : "Lihat! Tiga orang dengan kekuatan aneh!"
Nerine : "Tapi lihat beda selisih kecilnya… manusia kalah sedikit."
Riku diam beberapa detik… lalu berbalik mencari sosok lain untuk memihaknya.
Matanya menangkap Rei yang berdiri di dekat mesin crane, mencoba mengambil boneka kecil untuk Aelria dan Airi.
Riku : "Rei! Setidaknya kau di pihakku 'kan?!"
Rei menatap mesin tinju, lalu melihat lengannya sendiri yang tidak memiliki otot sebesar Riku.
Rei : "Aku manusia tanpa penguatan tubuh."
Riku : "Tapi refleksmu—"
Rei : "Refleks tidak bisa membantu meninju mesin. Maaf, aku tidak bisa menyelamatkan harga dirimu kali ini."
Aelria menutup mulutnya menahan tawa.
Aelria : "Riku, tampaknya hari ini kau dikalahkan oleh dua gadis beastkin."
Airi terkikik pelan.
Airi : "Tapi setidaknya… kau kalah dengan terhormat."
Riku menunduk dramatis.
Riku : "Hari ini… aku bukan protagonis."
Tawa pecah, mengisi game center dengan kehangatan yang jarang mereka rasakan di tengah semua masalah dunia dan monster.
Taman Senja – Keputusan Esok Hari
Menjelang sore, langit di luar mal mulai berwarna jingga.
Mereka keluar, berjalan ke arah taman dekat sekolah—taman yang dulu sering Rei kunjungi sendirian, sebelum ia punya semua ini.
Angin sore menyapu lembut. Pohon-pohon menjatuhkan bayangannya ke jalan setapak. Lampu-lampu taman mulai menyala satu per satu.
Mereka duduk menyebar:
Rei di bangku panjang, diapit Aelria dan Airi.
Riku, Rika, Hina, dan Hina versi ceria si kembar, Rinna, Fiora, Seris duduk di batu-batu besar atau rumput dekat bangku.
Hina memandang langit, lalu menoleh ke arah Aelria dan teman-teman dari dunia lain.
Hina : "Ngomong-ngomong… kalian semua… sampai kapan akan tinggal di sini?"
Suasana mendadak sedikit mengencang.
Fiora meletakkan gelas minumannya, menatap serius.
Fiora : "Kami… akan pulang besok siang."
Airi menoleh cepat.
Airi : "Besok…?"
Noelle menunduk.
Noelle : "Pihak akademi memberi batas waktu, ingat?"
Nerine menambahkan, suaranya pelan.
Nerine : "Izin yang diberikan hanya empat hari. Dan itu sudah dihitung sejak Seris pergi duluan ke dunia manusia."
Rinna menghela napas.
Rinna : "Kalau kami lewat batas waktu, kami sendiri yang akan bermasalah di dunia kami."
Aelria menunduk pelan, genggaman tangannya pada ujung rok mengencang.
Aelria menatap Rei. Wajahnya seperti ingin bicara, tapi suara tidak keluar.
Rei menangkap tatapan itu.
Ia mengangkat tangan, mengusap lembut rambut perak Aelria.
Rei : "Jangan sedih."
Aelria mengangkat wajah, mata hijaunya berkaca-kaca.
Rei tersenyum kecil.
Rei : "Aku akan tetap di sini. Aku tidak akan menghilang seperti waktu kau kembali ke duniamu dulu. Walau kita tidak bisa bertemu setiap hari… bukan berarti aku pergi dari dunia ini."
Aelria menggigit bibir.
Aelria : "Tapi… aku tidak ingin membuka mata di dunia kami… tanpa tahu apakah kau baik-baik saja di dunia ini."
Ia menarik napas dalam.
Aelria : "Rei… bisakah… kau selalu menghubungiku? Setidaknya… agar aku tahu kau masih ada di sana."
Rei terdiam.
Rei : "…Masalahnya… aku tidak tahu bagaimana caranya menghubungimu. Aku bahkan tidak punya… nomor dunia lain?"
Seris, yang sejak tadi bersandar di pohon, menghela napas dan maju ke depan.
Seris : "Kalau begitu… biarkan aku yang mengurus bagian ini."
Ia merogoh kantong subspace kecil di pinggangnya, mengeluarkan sebuah bola kristal kecil yang memantulkan cahaya jingga senja.
Seris menyerahkannya pada Rei.
Seris : "Ini. Bola komunikasi."
Rei menerima benda itu, memutarnya di antara jari.
Rei : "Dengan ini…?"
Fiora menambahkan penjelasan.
Fiora : "Benda itu terhubung dengan dunia kami. Aelria bisa menghubungimu melalui bola itu."
Seris melanjutkan dengan nada tegas.
Seris : "Tapi ada batasan. Bola ini hanya bisa menerima panggilan. Satu jam saja, lalu butuh seminggu untuk pulih."
"Kalau mau yang dua arah tanpa durasi… harganya jauh lebih mahal."
Ia menatap Aelria tajam.
Seris : "Jadi, Aelria. Gunakan dengan bijak. Karena masalah di sini bukan ada di Rei… tapi di hatimu sendiri."
Aelria memerah, lalu bergerak pelan mendekat ke Rei.
Ia menyembunyikan wajahnya di dada Rei, memeluknya erat.
Aelria : "…Aku akan berusaha. Aku tidak ingin manja… tapi aku juga tidak ingin kehilanganmu."
Rei menghela napas dengan senyum kecil, mengusap punggungnya pelan.
Rei : "Kalau terlalu rindu, kau boleh memarahiku saat kita terhubung. Itu juga bentuk komunikasi, 'kan?"
Si kembar, Hina, dan yang lain hanya bisa tersenyum melihat pemandangan itu—sedikit iri, sedikit hangat.
Langit perlahan berganti dari jingga menjadi ungu.
Permintaan Egois Terakhir Aelria
Malam turun pelan.
Setelah bintang-bintang mulai bermunculan, rombongan memutuskan pulang.
Mereka kembali ke depan gerbang sekolah. Mobil keluarga Riku sudah menunggu, lampunya menyala lembut.
Riku : "Kalau begitu, kami antar gadis-gadis dunia lain ke hotel dulu. Besok siang kalian berangkat, 'kan?"
Rinna : "Ya. Kita perlu berkemas dan melapor ke akademi."
Si kembar, Fiora, dan Rinna bersiap masuk ke mobil. Hina, Rika, dan Airi juga melangkah ke arah sana.
Di saat itu, Aelria tiba-tiba menggenggam ujung baju Rei dari samping, menariknya pelan.
Aelria : "Rei…"
Rei menoleh.
Rei : "Hm?"
Aelria mendongak, mata hijaunya bergetar.
Aelria : "Malam ini… biarkan aku tidur di kamarmu."
Hening.
Suara sekitar seperti menghilang sesaat.
Hina terpaku. Airi menahan napas. Riku hampir tersedak udara.
Riku : "Heh?!"
Rika menatap Aelria, lalu ke Rei, lalu menghela napas dalam—seolah berkata 'itulah keberanian yang tidak kumiliki'.
Rei mengangkat tangan, berniat menolak.
Rei : "Ael… itu…"
Sebelum ia sempat selesai, Aelria sudah melangkah maju, memeluknya dari depan, wajah menempel di dadanya.
Aelria : "Tolong… hanya malam ini. Malam terakhirku di dunia ini. Biarkan aku… berada di dekatmu. Melihatmu tertidur… dan saat aku membuka mata besok pagi, kau masih di sana."
Suara Aelria bergetar, sedikit air mata membasahi baju Rei.
Aelria : "Anggap saja… ini permintaan egois terakhirku sebelum aku pulang."
Rei terdiam.
Ia tahu Aelria sudah menangis selama berhari-hari karena kabar monster, karena khawatir ia sudah mati. Ia tahu gadis ini menahan banyak hal agar tidak menghancurkannya lagi.
Ia menghela napas.
Rei : "…Kau benar-benar keras kepala."
Aelria : "Itu karena aku mencintaimu."
Rei menutup mata sejenak, lalu mengangguk pelan.
Rei : "Baik. Malam ini saja."
Suasana langsung heboh.
Noelle : "Eeeeeh?!"
Nerine : "Onee-sama… berani sekali…"
Rinna menepuk dahinya.
Rinna : "Ya ampun…"
Seris menutup wajahnya dengan satu tangan.
Seris : "Ini… terlalu jujur bahkan menurut standar demon."
Di belakang, Airi menundukkan kepala, menggenggam rok seragamnya. Dadanya sakit, tapi ia memaksa tersenyum.
Airi (dalam hati) :
"Seharusnya aku tidak kaget. Dari awal… aku tahu seberapa dalam perasaan Aelria pada Rei."
Saat rombongan hendak masuk ke mobil, Airi melangkah untuk menyusul Riku.
Tapi sebelum ia terlalu jauh, suara lembut memanggilnya.
Aelria : "Airi!"
Airi berbalik.
Airi : "Ya?"
Aelria menatapnya lekat-lekat—lalu tersenyum lembut.
Aelria : "Kau juga… ikut menginap malam ini bersama kami."
Airi membeku.
Airi : "E-eh?!"
Suasana di sekitar kembali hening, lalu meledak.
Hina : "W-wah…"
Riku hampir saja jatuh tersandung kaki sendiri.
Riku : "Malam ini… bukan malam yang biasa, ya…"
Seris menutup mukanya lebih keras.
Seris : "Aelria… kau mengajak rival cintamu menginap bareng target yang sama?"
Aelria melangkah ke arah Airi, menggenggam tangannya.
Aelria : "Saat aku tidak ada di sini, kau yang selalu berada di sisi Rei. Kau menjaga dunia sekolahnya… saat aku tidak bisa. Jadi… malam ini, kita berdua yang akan menjaganya bersama."
Airi menggigit bibir, air mata menggantung di ujung mata—bukan sedih, tapi campuran lega dan haru.
Airi : "…Apa tidak apa-apa?"
Aelria tersenyum.
Aelria : "Selama Rei tidak keberatan menerima perasaan kita berdua… aku tidak akan memaksakan harus 'memiliki' dia sendiri."
Aelria menoleh pada Rei, tatapan seolah berkata 'kau sudah berjanji memenuhi permintaanku hari ini, kan?'
Rei hanya bisa menghela napas, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Rei : "…Baik. Kita sudah kelewatan untuk berhenti di tengah jalan, 'kan?"
Airi tersenyum, wajahnya merah.
Airi : "Maka… aku… akan ikut malam ini."
Izin di Apartemen & Ancaman Seris
Mereka berpisah di depan sekolah.
Riku dan yang lain masuk ke mobil, melambaikan tangan.
Riku : "Jaga diri kalian!"
Rika : "Kalau Rei melakukan hal bodoh, kabari aku."
Hina : "Besok beritahu kami kalau kalian selamat!"
Noelle & Nerine : "Jangan lakukan yang aneh-aneh!"
Rei, Aelria, Airi, dan Seris melambaikan tangan saat mobil menjauh.
Seris : "Kalau begitu, kita ke apartemen."
Mereka berjalan menyusuri jalan malam yang tenang.
Setibanya di depan apartemen, Seris berhenti di lobi sementara Rei menghampiri pemilik apartemen yang duduk di meja resepsionis kecil.
Rei : "Permisi…"
Pemilik apartemen—aunty paruh baya dengan aura tajam namun hangat—mengangkat wajah.
Pemilik : "Oh, Rei. Ada apa malam-malam begini?"
Rei menoleh sedikit ke belakang, ke Aelria dan Airi yang menunggu dengan wajah memerah.
Rei menghela napas singkat.
Rei : "Hari ini… ada dua teman gadis dari luar kota. Mereka… tidak punya tempat untuk menginap malam ini. Saya ingin meminta izin, apakah boleh mereka tidur di kamar saya… hanya untuk malam ini.
Pemilik apartemen melirik ke arah dua elf cantik di belakang Rei, lalu kembali menatap Rei dengan ekspresi 'aku mengerti semuanya'.
Pemilik : "Kau tahu peraturan dasar di sini, 'kan?"
Rei : "Tidak membuat keributan, tidak merusak, dan tidak bikin aku ikut pusing."
Pemilik terkekeh.
Pemilik : "Selama kalian menjaga sopan santun dan tidak membuat masalah, aku izinkan."
Aelria dan Airi serentak memerah sampai ke ujung telinga.
Rei juga sedikit tersedak.
Rei : "K-kami tidak akan melakukan apa-apa. Sungguh hanya tidur."
Pemilik mengangguk puas.
Pemilik : "Kalau begitu, silakan. Dan Rei…"
Rei : "Ya?"
Pemilik : "Kau pria yang cukup sopan untuk bertanya izin dulu. Jangan hancurkan kepercayaanku itu."
Rei menunduk hormat.
Rei : "Tidak akan."
Mereka berempat naik.
Di depan pintu kamar Rei, Seris berhenti dulu.
Seris : "Aku kembali ke kamar lantai satu. Kalau ada apa-apa, teriaklah."
Ia menatap Rei tajam.
Seris : "Dan Rei… kalau sampai Aelria menangis lagi karena ulahmu… aku yang akan masuk ke kamar ini tanpa mengetuk pintu."
Rei mengangkat tangan.
Rei : "Baik, baik. Aku juga tidak suka membuat orang yang kusayangi menangis."
Aelria memerah, Airi ikut menunduk dengan hati berdebar.
Seris tersenyum tipis pada kedua elf itu.
Seris : "Selamat menikmati malam terakhir kalian di dunia manusia."
Lalu ia pergi, meninggalkan mereka bertiga.
Dua Tangan yang Menahan Tepian – Kakak & Adik
Rei membuka pintu, mempersilakan Aelria dan Airi masuk.
Rei : "Masuklah. Maaf kamarnya kecil dan berantakan sedikit."
Padahal, untuk ukuran pria yang tinggal sendiri, kamar Rei cukup rapi. Ada kasur, meja kecil, lemari, dan rak buku. Aroma sabun dan sedikit harum kayu memenuhi ruangan.
Aelria duduk di tepi kasur. Airi duduk di lantai dekat meja.
Rei membuka lemari, mengambil pakaian ganti.
Rei : "Aku… mandi dulu sebentar. Kalian istirahat saja dulu."
Aelria : "Baik."
Airi : "Baik…"
Rei masuk ke kamar mandi, pintu tertutup rapat.
Saat suara air mulai terdengar, kamar menjadi sunyi.
Beberapa menit pertama, mereka saling melirik canggung.
Akhirnya Airi yang memecah keheningan.
Airi : "…Aelria."
Aelria menoleh.
Aelria : "Ya?"
Airi menggenggam ujung roknya.
Airi : "Terima kasih. Karena… tidak marah padaku."
Aelria sedikit bingung.
Aelria : "Marah… untuk apa?"
Airi menunduk, suaranya pelan.
Airi : "Karena aku juga… menyukai Rei. Karena aku juga ingin berada di sampingnya… seperti dirimu. Aku kira… sebagai 'sahabat dari dunia lain' dan 'cinta pertama'… kau akan merasa aku merebut sesuatu darimu."
Aelria terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis.
Aelria : "Kalau dipikir, saat aku ada di sini dulu… aku yang selalu di sisinya. Saat aku pulang ke duniaku… kaulah yang menggantikan celah itu."
Ia menatap Airi lembut.
Aelria : "Berkatmu… Rei bisa menjalani sekolah barunya dengan lebih baik. Kalau aku marah padamu karena itu… bukankah berarti aku egois sekali?"
Airi mengangkat wajah, matanya bergetar.
Aelria melanjutkan.
Aelria : "Selama Rei tidak keberatan menerima perasaan kita berdua… aku tidak akan memaksakan harus 'memiliki' dia sendiri. Yang penting… kita menjaga orang yang kita cintai agar tidak hancur untuk kedua kalinya."
Suara Aelria menegang di akhir kalimat.
Aelria : "Aku tidak akan memaafkan Mina."
Airi mengepal tangan di pangkuan.
Airi : "Aku juga… membencinya. Setelah mendengar cerita Rei… aku tidak bisa menganggap perbuatannya 'kebetulan' atau 'kesalahan kecil'."
Keheningan sejenak.
Lalu Airi tersenyum lembut, meski matanya berkaca-kaca.
Airi : "Aelria… mulai dari sekarang… bolehkah aku memanggilmu 'onee-chan'?"
Aelria sedikit terkejut.
Aelria : "Onee… chan?"
Airi mengangguk malu.
Airi : "Kau lebih dewasa dariku dalam menyikapi perasaan… dan kau orang pertama yang membuatku merasa… aku tidak sendirian mengejar Rei."
Aelria menatapnya beberapa detik—lalu tertawa pelan, lembut.
Aelria menggeser posisi, duduk di samping Airi, lalu merangkul bahunya dan mengelus rambutnya.
Aelria : "Baiklah. Mulai sekarang, kau adalah adikku."
Aelria menatap ke arah pintu kamar mandi.
Aelria : "Mari kita bersama-sama menjaga pria bodoh yang suka menyalahkan dirinya sendiri itu."
Airi menutup mata sejenak, menikmati belaian itu.
Airi : "Iya, onee-chan."
Mereka terus mengobrol seperti kakak-adik—tentang Rei, tentang sekolah, tentang dunia mereka masing-masing—waktu berlalu, sekitar tiga puluh menit.
Keluar dari Kamar Mandi – Tercengang
Pintu kamar mandi akhirnya terbuka.
Rei keluar dengan kaus longgar dan celana santai, rambut putihnya masih basah, sedikit menempel di dahi. Ia menggosok rambutnya dengan handuk.
Aelria dan Airi menoleh bersamaan… dan membeku.
Aelria menatapnya dari ujung kaki sampai ujung kepala tanpa sadar.
Aelria : "…Tampannya…"
Airi ikut mengangguk refleks, pipinya memanas.
Airi : "Benar sekali, onee-chan… Airi setuju…"
Rei berhenti di tengah langkah, mematung.
Rei : "…"
Ia menatap dua elf yang sedang menatapnya seperti kucing lapar melihat ikan bakar.
Rei : "K-kalian tidak apa-apa?"
Aelria tersentak sadar, buru-buru menggeleng dan tersenyum.
Aelria : "Tentu saja tidak apa-apa."
Airi juga mengibas tangannya.
Airi : "Ya, tidak terjadi apa-apa… sama sekali…"
Rei menghela napas pelan.
Rei : "Kenapa dari tadi jawabannya membuatku lebih takut daripada tenang…"
Ia mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur kecil yang hangat. Lalu ia menuju kasur.
Rei : "Baik. Kita tidur. Besok kalian harus bangun cukup pagi."
Malam Tiga Orang di Satu Kasur
Kasur Rei tidak terlalu besar, tapi cukup untuk tiga orang jika mereka tidak banyak bergerak.
Rei berbaring di tengah—pilihan yang jelas tidak bisa ia menangkan dalam voting, tapi jatuh kepadanya karena:
Noelle tadi : "Kalau Rei tidak di tengah, siapa yang menjembatani dua dunia?"
Dan itu jadi keputusan final dalam bercanda.
Aelria berbaring di sisi kiri Rei, membelakangi dinding. Airi di sisi kanan, menghadap ke arah pintu.
Awalnya, mereka bertiga kaku.
Rei menatap langit-langit.
Rei : "…Ini aneh."
Aelria : "…Sedikit."
Airi : "…Sangat."
Rei menarik napas panjang, memejamkan mata.
Rei (dalam hati) :
"Fokus. Ini hanya tidur. Jangan berpikir macam-macam. Jangan memalukan di depan dua gadis yang percaya padamu."
Beberapa menit berlalu.
Pelan-pelan, napas Aelria di sisi kirinya mulai melambat. Airi di sisi kanan menghela napas panjang.
Tanpa sadar, kedua gadis itu bergerak.
Aelria mendekat dari kiri, memeluk lengan kiri Rei, menempelkan pipinya ke lengannya.
Aelria : "…Jangan pergi…"
Dari kanan, Airi juga menyeret sedikit tubuhnya, memeluk lengan kanan Rei, menekan pipinya ke punggung tangan Rei.
Airi : "…Tetap di sini…"
Rei membuka mata—menunduk ke kiri, lalu ke kanan.
Kedua lengannya terkunci rapat oleh dua tubuh hangat yang sepenuhnya mempercayakan diri mereka padanya bahkan saat tidur.
Rei (dalam hati) :
"…Bagaimana bisa aku bilang tidak pada mereka?"
Ia bisa merasakan detak jantung Aelria di sisi kiri, dan napas pelan Airi di sisi kanan.
Di tengah kehangatan itu, pikirannya kembali sejenak ke malam di jembatan—hujan, dingin, dunia terasa menolaknya.
Rei (dalam hati) :
"Kalau waktu itu… aku benar-benar melompat…"
Ia menatap dua wajah yang tertidur pulas, masih memeluk lengannya.
Rei (dalam hati) : "…Apa yang akan terjadi pada mereka? Aelria yang menunggu kabar sambil menangis di dunia lain… Airi yang berdiri di toko kue bersama ibunya, mungkin menunggu pelanggan berambut putih yang tidak pernah datang lagi…"
Dadanya terasa hangat… sekaligus perih.
Rei tersenyum kecil di kegelapan.
Rei (dalam hati) :
"Maaf… dunia. Sepertinya aku tidak akan menyerah kali ini."
Ia mengendurkan bahunya, mencoba sebisa mungkin tidak bergerak agar tidak membangunkan mereka.
Pelan-pelan, berat di kelopak matanya datang. Suara napas berirama Aelria dan Airi menjadi latar yang menenangkan.
Malam itu, Rei mengerti—ia mungkin masih bisa jatuh… tapi kini ada dua orang yang akan selalu berlari, bahkan sebelum ia sempat melangkah ke tepian.
