Cherreads

Chapter 43 - Bab: Janji di Dua Pipi

Rei masih menatap kedua elf di depannya ketika suasana mulai menghangat lagi. Mereka sudah melewati pembicaraan berat tentang kekuatan aneh itu, dan untuk pertama kalinya sejak lama, dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Airi memiringkan kepala, menatap wajah Rei dari dekat.

Airi : "…Rei-kun."

Rei : "Hm?"

Airi menatap leher dan wajahnya sebentar, lalu… ke rambut putih yang mulai turun menutupi sebagian kening dan sisi wajahnya.

Airi : "Rambutmu… sudah mulai panjang, ya. Kadang menutupi wajahmu."

Rei refleks memegang ujung rambutnya sendiri, menariknya sedikit ke depan. Benar juga. Ujungnya sudah menyentuh dekat pangkal leher.

Rei : "Ah… iya. Belakangan aku juga merasa agak mengganggu. Mungkin sudah waktunya dipotong."

Airi mengangguk mantap.

Airi : "Iya, menurutku lebih rapi kalau sedikit dipendekkan. Nanti aku bisa rekomendasikan salon langganan—"

Namun, sebelum Airi selesai berbicara, Aelria mengulurkan tangan, menyentuh lembut ujung rambut Rei, seolah sedang menilai kualitas pedang langka.

Aelria : "Tunggu dulu."

Rei dan Airi menoleh ke arahnya.

Aelria menatap wajah Rei lekat-lekat, lalu mundur sedikit, matanya menyipit seolah sedang menghitung sudut dan panjang.

Aelria : "Rei, coba… kau rapikan saja dulu. Ikat rambutmu. Aku ingin lihat sesuatu."

Airi berkedip bingung.

Airi : "Ikat? Maksud Onee-chan… di kuncir?"

Aelria mengangguk.

Aelria : "Iya. Bukan dipotong dulu. Hanya diikat. Aku ingin lihat bagaimana penampilannya."

Rei menatap mereka bergantian.

Rei : "Kalau diikat… ya, bisa sih. Tapi aku jarang melakukannya."

Aelria melipat tangan di depan dada, senyum tipis.

Aelria : "Coba saja. Anggap ini… eksperimen kecil sebelum kau memutuskan memotong atau tidak."

Airi tampak penasaran.

Airi : "Kalau begitu… aku juga ingin lihat."

Rei menghembuskan napas kecil, menyerah.

Rei : "Baik, baik. Aku ambil dulu karet rambut dari laci."

Ia berdiri, berjalan ke sudut kamar dan membuka laci kecil di meja. Ternyata ia memang punya satu karet hitam sederhana—warisan kebiasaan lama saat rambutnya mulai memanjang, tapi jarang dipakainya.

Rei berdiri menghadap cermin kecil di dinding. Ia mengumpulkan rambut putihnya ke belakang, mengikatnya menjadi kuncir rendah yang rapi di belakang kepala. Beberapa helai tipis di depan dibiarkan jatuh sedikit di samping wajah.

Aelria dan Airi menunggu dengan sedikit menahan napas.

Saat Rei berbalik…

Wajah dengan mata berbeda warna—kanan hitam, kiri biru—dipadu rambut putih yang terikat rapi ke belakang, membuatnya terlihat… jauh lebih dewasa. Ada aura tenang yang tadinya tersembunyi di balik rambut acak-acakan.

Dan tanpa komando, dua suara terdengar bersamaan.

Aelria : "…tampan sekali."

Airi : "…sangat tampan."

Rei tertegun.

Rei : "…Hah?"

Aelria tersenyum puas, melangkah mendekat, menilai dari jarak dekat seperti seorang kolektor yang baru menemukan karya seni langka.

Aelria : "Tebakanku benar. Bahkan tanpa memotong rambutmu, hanya dengan diikat seperti ini… kau terlihat lebih rapi, tenang, dan…"

Mata hijau itu melembut.

Aelria : "Lebih… 'Rei' yang seharusnya."

Airi mengangguk cepat, pipinya sedikit merah.

Airi : "Aku setuju. Kalau kau memotong pendek pun pasti tetap tampan, tapi… rambut diikat seperti ini…"

Ia menutupi pipinya dengan tangan.

Airi : "…lebih berbahaya untuk jantung."

Rei menggaruk pipinya yang tidak gatal.

Rei : "Kalimat itu terdengar menakutkan, tahu?"

Tapi melihat mereka benar-benar senang—mata yang berbinar, senyum yang tulus—Rei akhirnya menghela napas pelan.

Rei : "Baiklah. Untuk sementara… kupikir aku batalkan rencana memotong rambut. Kalau mengikat saja sudah cukup, aku lakukan itu."

Aelria tersenyum lebar.

Aelria : "Bagus. Simpan saja rambut putihmu. Itu salah satu ciri yang paling kusukai darimu."

Airi : "Aku juga."

Sebelum suasana semakin canggung, terdengar ketukan di pintu.

Tok tok tok.

Diikuti suara yang sudah familiar.

Riku : "Rei, aku Riku. Kami datang."

Rei menoleh ke pintu.

Rei : "Masuk saja, tidak dikunci."

Pintu terbuka, dan masuklah rombongan lengkap.

Riku di depan dengan gaya biasa, di belakangnya Hina dan Rika, lalu Rinna, si kembar Noelle & Nerine, Seris, dan Fiora. Kamar kecil itu seketika terasa penuh, tapi juga hangat.

Riku : "Maaf kalau kami—"

Kalimatnya terputus begitu melihat Rei berdiri di tengah ruangan dengan rambut putih terikat rapi.

Hina membuka mulut sedikit.

Hina : "…Eh."

Rika mengangkat alis.

Rika : "…Kau seperti protagonis anime fantasi dari poster."

Rinna memegang dagunya, menilai.

Rinna : "Kalau kau tampil seperti ini dari dulu… mungkin aku sudah tertarik lebih dulu."

Ucapan itu setengah bercanda, tapi ada sedikit nada serius—dan langsung dibalas oleh dua suara yang kali ini tidak kompak dalam kata-kata, tapi kompak dalam reaksi.

Aelria : "Tidak boleh!"

Airi : "Setuju, tidak boleh!"

Semua menoleh ke arah mereka.

Airi menatap Rinna, pipinya merah tapi ekspresinya serius.

Airi : "Rei-kun… orang yang kami jaga."

Aelria mengangguk mantap.

Aelria : "Benar. Rei milikku dan adikku."

Sekeliling langsung hening sepersekian detik… sebelum meledak jadi kegaduhan kecil.

Hina : "T-tunggu, Onee-chan? Adik? Sejak kapan kalian berstatus kakak-adik?!"

Noelle : "Mereka… lebih kompak daripada kami yang kembar…"

Nerine : "Ini tidak adil. Kami seumur hidup bersama tapi belum pernah sepakat secepat itu."

Si kembar saling melirik, pundak mereka turun lemas pura-pura kecewa.

Noelle : "Jumlah keakraban kekompakan: Aelria & Airi 1, kami 0."

Nerine : "Kita harus latihan lagi, kakak."

Aelria dan Airi saling tatap, lalu tertawa pelan. Kamar sempit itu kembali dipenuhi tawa—semua merasa, untuk sesaat, dunia luar yang penuh bahaya seperti tidak ada.

Seris bersandar di dinding, menyilangkan tangan, senyum tipis di wajahnya melihat Aelria yang jauh lebih hidup daripada beberapa hari terakhir.

Namun, begitu tawa mulai mereda, Fiora melirik jam di dinding dan menghela napas.

Fiora : "Sepertinya… kita tidak punya waktu terlalu banyak untuk tertawa saja."

Semua menoleh.

Fiora : "Hari sudah mulai siang. Setelah kembali ke akademi, kita masih harus membuat laporan ke pihak sekolah, menjelaskan izin kita, dan mengejar pelajaran yang kita tinggalkan."

Rinna menghela napas, lalu mengangguk.

Rinna : "Benar juga. Kalau kita terlalu lama di dunia manusia, kepala sekolah akan menarik telinga kita sampai putus."

Aelria menunduk sebentar, lalu menatap Rei dengan tatapan yang sudah jelas: waktunya berpisah sebentar lagi.

Tiga puluh menit kemudian, mereka berkumpul di depan apartemen, kini dengan dua mobil yang menunggu—satu yang dikendarai sopir keluarga Riku, satu lagi minivan sewaan yang akan mengantar rombongan dunia lain menuju fasilitas gerbang resmi.

Rei berdiri bersama Riku, Hina, Rika, dan Airi.

Di sisi lain, Aelria, Rinna, si kembar, Seris dan Fiora berdiri dalam formasi yang seperti pasukan kecil yang siap kembali ke front lain.

Angin siang menyentuh pelan rambut putih dan perak yang berkibar.

Aelria melangkah mendekat ke Rei.

Tanpa ragu, ia menggenggam tangan kanan Rei dengan kedua tangannya, hangat, seolah tidak mau dilepas.

Aelria : "Rei…"

Mata hijau itu berkilat lembut, tapi membawa tekad kuat.

Aelria : "Aku akan menghubungimu lewat bola kristal itu… setiap kali bisa."

Rei menatapnya, menggenggam balik tangan itu.

Rei : "Dan aku akan selalu menunggu kabar darimu. Supaya kau tidak perlu mencemaskanku sampai nekat menyusul ke dunia manusia lagi."

Sudut bibir Aelria terangkat kecil, sedikit getir, sedikit lega.

Sebelum ia bisa menjawab, Airi melangkah mendekat, berdiri di samping Aelria.

Airi : "Onee-chan… tidak perlu terlalu khawatir."

Ia menatap Rei, lalu kembali ke Aelria.

Airi : "Selama Onee-chan kembali ke dunia kalian… aku akan ada di sini untuk menjaga Rei-kun. Dan aku akan selalu mengingatkan Rei-kun agar tidak lupa pada Onee-chan."

Aelria menatap Airi beberapa detik, lalu senyum lembutnya melebar.

Aelria : "Aku serahkan dia padamu untuk sekarang, Airi."

Airi mengangguk mantap.

Airi : "Dengan senang hati."

Seris dari belakang menghela napas kecil.

Seris : "Kalau kalian terus seperti ini, kita akan terlambat sampai gerbang."

Rinna : "Biarkan mereka sebentar lagi. Ini bukan perpisahan biasa."

Mereka mulai melangkah menuju mobil dan kemudian ke fasilitas gerbang. Di depan gerbang resmi—sebuah bangunan dengan penjaga dari berbagai ras, rune bercahaya di lantai—mereka harus benar-benar berpisah.

Di titik itu, Aelria dan yang lain sudah menunjukkan dokumen izin. Hanya tinggal menunggu antrian giliran mengaktifkan gerbang.

Riku berdiri di samping Rei, menyilangkan tangan.

Riku : "Tidak kusangka, kau benar-benar jadi pusat dunia dua sisi, Rei."

Rei : "Jangan mulai."

Hina dan Rika hanya tersenyum tipis, masing-masing dengan perasaan kompleks mereka sendiri.

Saat pengumuman kecil di dalam fasilitas menyebut kelompok mereka hampir dipanggil, Aelria melirik ke arah petugas… lalu tiba-tiba berbalik dan berlari kembali ke Rei.

Rei sempat kaget saat tubuh ringan Aelria menghantam dadanya pelan.

Aelria memeluknya erat—lebih erat dari pelukan di apartemen semalam—menyandarkan wajahnya di dada Rei.

Aelria : "…Aku tidak ingin berpisah."

Rei mundur setengah langkah karena dorongan itu, tapi tidak menyingkirkan pelukan. Ia mengangkat tangan, mengelus lembut rambut peraknya.

Rei : "Kalau aku pergi saat di jembatan waktu itu… kau tidak akan bisa memelukku seperti ini."

Aelria menggigit bibirnya, menahan air mata yang hampir keluar.

Rei : "Jadi… selama ada yang menungguku, aku tidak akan pergi ke mana pun."

Aelria menarik napas dalam, menempelkan wajahnya sebentar lagi ke dada Rei, seolah ingin mengukir sensasi itu sedalam mungkin.

Lalu ia menoleh, mengulurkan tangan kiri ke arah Airi.

Aelria : "Airi, kemari."

Airi terkejut.

Airi : "E-eh…?"

Aelria : "Ini pelukan terakhir sebelum aku kembali. Pelukan… untuk pria yang sama-sama kita cintai."

Airi memerah, tapi melangkah. Ia memeluk Rei dari samping, menyandarkan kepala di bahunya, satu tangan menggenggam ujung jaket Rei.

Rei kembali terkejut, tapi kali ini ia hanya bisa pasrah. Dia mengangkat tangan satunya, mengelus rambut Airi pelan.

Rei : "Kalian berdua…"

Suara Rei menjadi lembut.

Rei : "Jangan pernah khawatir. Selama masih ada yang memanggil namaku, selama kalian masih bilang… kalian butuh aku… aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti dulu."

Aelria dan Airi saling bertatapan sebentar dari dua sisi Rei, mata mereka berjumpa di tengah.

Ada pemahaman tanpa kata di antara keduanya.

Lalu, hampir bersamaan, mereka melepaskan pelukan sedikit… menggeser posisi.

Aelria menatap wajah Rei. Mata hijau itu mengunci heterochromia milik Rei, dan untuk sekali ini—tanpa ragu, tanpa mundur—ia mencondongkan tubuh.

Aelria mengecup lembut pipi kiri Rei.

Aelria : "Terima kasih… dan sampai bertemu lagi."

Di sisi lain, Airi yang melihat tindakan kakaknya itu spontan merapatkan jarak ke pipi kanan Rei, tak ingin tertinggal.

Airi mengecup pipi kanan Rei, pipinya sendiri memerah keras.

Airi : "Terima kasih… karena sudah hidup sampai hari ini, Rei-kun."

Dunia seakan berhenti sejenak.

Semua yang melihat—Riku, Hina, Rika, Rinna, si kembar, Seris, Fiora, bahkan beberapa petugas gerbang—membeku dalam berbagai ekspresi: kaget, iri, malu, geli.

Rei… tidak mengeluarkan suara apa pun.

Ia hanya berdiri di sana, wajahnya memanas sampai ke telinga. Otaknya kosong. Jantungnya berdetak terlalu keras untuk sekadar disebut "deg-degan".

Aelria dan Airi menjauhkan wajah mereka pelan.

Aelria tersenyum, sedikit malu juga, tapi tidak menyesal.

Aelria : "Itu… sebagai janji. Kalau kau melukai dirimu lagi, aku akan menagihnya."

Airi menunduk sedikit.

Airi : "Dan aku… akan menagih pelukan lagi."

Suara petugas terdengar memanggil.

Petugas : "Rombongan dari Akademi—silakan maju. Gerbang akan diaktifkan."

Aelria menghela napas pelan, lalu melangkah mundur.

Aelria : "Selamat tinggal sementara, Rei."

Rei akhirnya mendapat kembali suaranya, meski terdengar sedikit serak.

Rei : "…Sampai jumpa, Aelria. Sampai jumpa, semuanya."

Aelria berbalik, bergabung dengan teman-temannya. Mereka melangkah menuju lingkaran rune bercahaya di tengah ruangan.

Sesaat sebelum cahaya gerbang menyelimuti mereka, Aelria menoleh sekali lagi, mengangkat tangan dan melambaikan salam.

Aelria : "Jangan hancur… meski dunia berubah, Rei."

Rei mengangguk pelan, menggenggam bola kristal di saku jaketnya.

Rei : "Aku tidak akan hancur… karena sekarang, aku punya alasan untuk tetap berdiri."

Cahaya gerbang menyala terang. Siluet Aelria, Rinna, si kembar, Seris, dan Fiora perlahan memudar… lalu menghilang.

Keheningan sesaat menyelimuti ruangan.

Riku menghela napas panjang.

Riku : "…Aku resmi menyerah bersaing dalam kategori 'dramatis dan romantis'."

Hina menutupi wajahnya.

Hina : "Aku… ikut malu padamu, Rei."

Rika menyikut lengan Hina pelan.

Rika : "Malu kenapa? Yang dipeluk bukan kamu."

Airi masih menatap kosong ke arah gerbang yang kini kembali redup. Di matanya ada sendu, tapi juga harapan.

Airi : "Onee-chan… sampai jumpa lagi."

Rei meraba pipi kirinya dengan ujung jari, lalu pipi kanannya.

Wajahnya masih terasa hangat.

Di tempat yang jauh, di depan gerbang lain di tengah hutan terlarang, seorang bocah berambut putih yang sama… tiba-tiba menutup wajahnya dengan tangan.

Rei (penjaga gerbang) : "…Kenapa pipiku ikut panas…?"

Garm tertawa terbahak-bahak, sementara Lirya memalingkan wajah sambil memegang dadanya yang ikut berdebar.

Dan di dunia manusia, Rei Hirashi—manusia tanpa kekuatan yang katanya "tidak pantas berjalan di samping siapa pun"—berdiri sedikit lebih tegak daripada sebelumnya.

Karena sekarang, langkahnya bukan lagi untuk sekadar bertahan hidup.

Tapi untuk menjawab tangan-tangan yang menggenggam dirinya… dan janji-janji yang baru saja ditinggalkan di kedua pipinya.

More Chapters