Cherreads

Chapter 45 - Arc Riku Bab: Hologram Weekend dan Keberanian Pertama

Malam akhir pekan itu, rumah keluarga Riku terasa hangat.

Di ruang tengah, hologram berwarna kebiruan memancarkan bayangan sang ibu dan adik perempuannya dari luar negeri. Layar melayang itu menampilkan wajah sang ibu yang awet muda dan adiknya yang ceria, duduk berdampingan di sofa sebuah apartemen modern di luar sana.

Ayah Riku duduk santai di sofa, satu tangan memegang remote hologram, satu tangan lagi memegang cangkir kopi yang sudah setengah dingin. Begitu mendengar pintu depan terbuka, ia menoleh.

Ayah : "Oh, Riku. Sudah pulang?"

Riku melepaskan sepatu, menggantung tasnya, lalu berjalan mendekat. Di wajahnya masih ada sisa-sisa pikiran yang berat, tapi ia tersenyum kecil.

Riku : "Aku pulang."

Dari hologram, sang ibu melambaikan tangan.

Ibu : "Okaeri, Riku."

Adiknya ikut melambai semangat.

Adik : "Kakaaaak! Gimana liburan sama teman-teman?"

Ayah menepuk sofa di sebelahnya.

Ayah : "Sini duduk. Ceritakan, bagaimana perpisahan kalian dengan teman-teman Rei hari ini?"

Riku duduk perlahan di samping ayahnya. Hologram di depannya berubah posisi sedikit, menyesuaikan sudut pandang, sehingga ibu dan adiknya sekarang seperti benar-benar duduk menghadap mereka.

Riku menghela napas pelan, lalu mulai bercerita.

Riku : "Kami mengantar Aelria dan teman-temannya sampai gerbang. Setelah itu… ya, seperti biasa, antar Rika pulang, Hina, Airi, lalu Rei ke apartemennya."

Adik bersinar-sinar.

Adik : "Waaa, jadi kalian main sama orang dunia lain beneran ya! Ras elf itu cantik nggak, Kak?"

Riku sedikit tersedak.

Riku : "Y-ya… semuanya cantik, sih."

Ibu menatap Riku dengan senyum licik yang sudah sangat ia kenal.

Ibu : "Ngomong-ngomong soal cantik, bagaimana dengan Rika? Ada kemajuan, hm?"

Ayah terkekeh rendah.

Ayah : "Iya, jangan sampai kau seperti ayah dulu—bertahun-tahun hanya bisa menatap ibumu dari jauh tanpa berani bicara."

Wajah Riku langsung memerah.

Riku : "Kalian berdua kenapa sih… tiap akhir pekan bahasannya itu lagi, itu lagi…"

Namun setelah protes kecil itu, bahunya perlahan turun, senyumnya memudar, dan ia menundukkan kepala.

Riku : "…Aku… takut."

Ruang tengah mendadak sedikit sunyi. Hanya suara mesin pendingin ruangan dan dengung halus proyektor hologram yang terdengar.

Ibu dan adik di hologram ikut diam, menatap lekat ke arah Riku.

Ayah melirik istrinya. Sang ibu memberi kode halus—senyum kecil dan anggukan, seakan berkata, "Sekarang."

Ayah menghela napas pelan, lalu menepuk bahu putranya.

Ayah : "Riku, duduklah di sini yang benar."

Riku menggeser posisi, duduk lebih tegak, tapi kepala masih sedikit tertunduk.

Riku : "Aku takut… kalau aku menyatakan perasaan, lingkaran pertemanan kami hancur. Takut semuanya nggak akan sama lagi. Takut nggak bisa tertawa bersama di kantin seperti sekarang…

Takut kehilangan caranya menatapku seperti biasa."

Ia mengepalkan tangan di atas lutut, jari-jarinya sedikit bergetar.

Riku : "Kalau aku jujur… dan dia menolak… mungkin… aku akan kehilangan dia sekaligus suasana seperti sekarang."

Ayah menatap wajah putranya lama, lalu tersenyum tipis—senyum seseorang yang pernah berdiri di tempat yang sama.

Ayah: "Takut itu wajar."

(Riku menatap lantai.)

Ayah: "Tapi kalau kau mundur terus… yang tumbuh hanya penyesalan."

Ia mencondongkan tubuh sedikit, genggaman di bahu Riku menguat.

Ayah : "Ketakutan itu tidak akan hilang kalau kau hanya berlari menjauh. Ketakutan cuma bisa dilawan dengan keberanian. Bukan keberanian yang tidak punya rasa takut… tapi keberanian yang tetap melangkah meski takut."

Riku mengangkat sedikit pandangan, menatap ayahnya dari ujung mata.

Ayah : "Persahabatan yang hancur hanya karena kejujuran… mungkin dari awal bukan fondasi yang kuat. Tapi persahabatan yang sanggup menerima kejujuran—bahkan kejujuran tentang cinta—justru bisa menjadi jauh lebih kuat."

Ia menepuk dada sendiri pelan.

Ayah : "Yang harus kau takutkan bukan jawaban Rika, tapi penyesalanmu sendiri. Penyesalan karena tidak pernah bertanya. Percayalah, rasa sakit memendam perasaan bertahun-tahun… jauh lebih menyakitkan dibanding ditolak di depan."

Sang ibu tersenyum lembut dari hologram, ikut menimpali.

Ibu : "Kalau Rika benar-benar mirip denganku seperti yang kau ceritakan…"

Ia mengedip genit ke arah suaminya.

Ibu : "Maka selama kau jujur dan berani melawan ketakutanmu, kemungkinan besar dia tidak akan membencimu. Dan kalaupun dia tidak bisa membalas perasaanmu… kalian bisa menemukan bentuk hubungan baru. Tapi itu hanya bisa terjadi kalau kau berani melangkah."

Adik mengangguk cepat-cepat.

Adik : "Iya, Kak. Kalau Kakak diam saja, Rika mungkin akan berpikir Kakak tidak pernah menganggap dia spesial."

Ibu memandang Riku dengan mata sendu tapi tegas.

Ibu : "Memendam perasaan… rasanya seperti menusuk diri sendiri pelan-pelan setiap hari. Tusukan pisau sekali… mungkin sakit. Tapi tusukan kecil setiap hari di hati itu jauh lebih menyiksa."

Kata-kata itu menancap di kepala Riku.

Sekilas, ia teringat ucapan Rei di depan apartemen beberapa jam lalu:

"Jangan terlalu lama takut dengan bayangan masa depan yang belum terjadi. Kalau kau terus menahan semuanya, penyesalanmu bisa lebih menyakitkan daripada rasa takut sekarang."

Riku menggenggam ujung celananya lebih erat. Lalu perlahan, ia mengangkat kepala, menatap bergantian ayah, ibu, dan adiknya.

Riku : "…Benar. Kalau seperti ini terus, aku cuma lari dari bayangan… bukan dari kenyataan."

Ia menarik napas dalam-dalam.

Riku : "Aku… akan mencoba. Aku ingin mengejar perasaanku sendiri. Apa pun jawabannya nanti… setidaknya aku tidak akan menyesal karena diam."

Ayah tersenyum lebar, jelas bangga.

Ayah : "Itu baru putra ayah."

Ibu dan adik bertepuk tangan kecil di hologram.

Adik : "Akhirnya Kakak jadi pria sejati juga!"

Ibu menatap Riku hangat.

Ibu : "Kalau begitu, jangan lupa ucapkan terima kasih juga pada Rei. Dari ceritamu belakangan ini, dia banyak membantumu menghadapi dirimu sendiri, kan?"

Ayah mengangkat alis.

Ayah : "Ngomong-ngomong, siapa sebenarnya Rei itu? Dari apa yang ayah dengar… dia manusia tanpa kekuatan, berambut putih, mata berbeda warna… tapi sikapnya terdengar jauh lebih dewasa darimu."

Riku menghela napas, setengah pasrah, setengah terkekeh.

Riku : "Dia… sahabatku. Orang yang dulu hampir kubenci karena iri… dan sekarang malah kubanggakan."

Ibu tertawa kecil.

Ayah : "Setampan apa dia sebenarnya sampai semua ceritamu terdengar seperti novel?"

Riku meringis.

Riku : "Tanya saja Airi atau Rika. Mereka yang lebih sering terpukau."

Ibu tiba-tiba bersandar ke belakang (dalam hologram), lalu dengan gaya bercanda yang sudah sering ia perlihatkan:

Ibu : "Dari yang Ibu lihat waktu itu… dia sangat tampan. Kalau Ibu masih umur sembilan belas, mungkin Ibu sudah bawa dia lari duluan, sebelum dia sempat menyatakan cinta ke siapa pun."

Riku terlonjak.

Riku : "Ibu!!"

Ayah memiringkan kepala, menatap istrinya dengan dramatis.

Ayah : "Aku cemburu mendengar istriku memuji pria SMA di depan suaminya sendiri, tahu?"

Ibu tertawa lebar.

Ibu : "Tenang saja. Mau seperti apa pun, di hati Ibu yang paling dalam tetap kamu. Dulu, sekarang, dan nanti."

Adik menepuk-nepuk udara di depan hologram.

Adik : "Ih, orang tua mesra banget…"

Riku akhirnya ikut tertawa. Kecanggungan dan berat di dadanya pelan-pelan luntur, berganti kehangatan.

Ayah menyesap kopi yang sudah dingin, lalu menatap Riku sekali lagi.

Ayah : "Kalau begitu, mulai besok… hadapi hari-harimu dengan dua hal: keberanian dan kejujuran. Untuk cinta, dan untuk persahabatanmu."

Riku mengangguk mantap.

Riku : "Iya. Terima kasih, Ayah. Ibu. Dan… Rei."

Ibu mencondongkan tubuh ke arah hologram, seolah bisa menepuk kepala anaknya.

Ibu : "Mulai sekarang, laporan perkembangan cintamu wajib disampaikan tiap akhir pekan."

Adik mengangkat tangan.

Adik : "Setuju!!"

Riku memegangi wajahnya frustasi, tapi senyum di bibirnya tidak bisa disembunyikan.

Riku : "Kalian ini…"

Malam itu, ruang tengah keluarga Riku dipenuhi tawa, candaan, dan nasihat yang hangat.

Dan di tengah semua itu, seorang pemuda yang tadinya hanya berani melihat dari jauh… mulai menyiapkan hatinya untuk melangkah maju—bukan lagi hanya demi gadis yang ia sukai, tapi juga demi dirinya sendiri.

Besok, di sekolah… ia akan mulai dari satu hal sederhana: memanggil nama Rika tanpa bersembunyi.

More Chapters