Pagi itu, cahaya matahari merambat pelan lewat celah gorden tipis, membentuk garis-garis lembut di dinding kamar apartemen Rei.
Yang pertama ia sadari saat membuka mata bukanlah cahaya itu… tapi berat dan hangatnya dua tubuh yang menempel erat di kiri dan kanan dirinya.
Lengannya tak bisa digerakkan bebas.
Sesuatu yang halus dan harum menyentuh pipinya—rambut perak Aelria.
Di sisi lain, napas teratur Airi menyentuh bahunya, telinga runcing elf itu sedikit bergerak saat ia menghela napas dalam tidur.
Rei mengedip pelan, menoleh sedikit ke arah jam dinding.
Pukul 07.00.
Rei : "…Pagi, ya."
Suara serak paginya memecah keheningan. Ia menarik napas kecil, lalu mencoba menggerakkan bahu.
Rei : "Aelria, Airi… bangun. Sudah lumayan siang."
Elf di sisi kiri dan kanan menggeliat bersamaan, pelukan mereka justru sesaat mengencang, seolah tubuh mereka menolak melepaskan kehangatan itu.
Kelopak mata hijau Aelria berkedip duluan. Begitu fokus penglihatannya kembali, ia mendapati wajah Rei tepat di depannya—hangat, hidup, tidak menghilang seperti mimpi buruk yang selama ini menghantuinya.
Aelria : "…Selamat pagi, Rei."
Di sisi lain, Airi membuka mata pelan, pupus rasa kantuknya begitu menyadari bahwa lengan yang ia peluk masih ada di sana.
Airi : "Selamat pagi, Rei-kun… selamat pagi juga, Onee-chan."
Aelria menoleh ke Airi, senyum lembut mengembang di wajahnya.
Aelria : "Selamat pagi, Airi. Tidurmu nyenyak, adik kecilku?"
Rei sempat terdiam.
Rei : "…Onee-chan? Adik kecil?"
Ia menatap mereka bergantian. Aelria tersenyum santai, Airi sedikit memerah tapi tidak membantah.
Airi : "…Karena Onee-chan jauh lebih dewasa dalam menghadapi perasaan, dan… aku ingin belajar dari Onee-chan."
Aelria : "Dan karena kita mencintai orang yang sama, kita akan lebih kuat kalau kita berdiri bersama, bukan saling menjatuhkan."
Rei menghela napas kecil. Hangat sekaligus membuat dadanya sedikit sesak—dalam arti yang baik.
Tapi rasa hangat itu disusul kesadaran lain: ia belum mandi, rambutnya kusut, dan dua elf ini menempel seperti koala.
Rei : "Kalau begitu… boleh aku minta izin untuk… melepaskan kalian dulu? Aku harus mandi sebelum kita keluar atau sarapan."
Aelria dan Airi saling pandang, lalu senyum nakal yang sangat mirip muncul di wajah mereka.
Aelria : "Kalau begitu…"
Airi : "…bagaimana kalau kita mandi bersama saja?"
Rei : "…"
Otaknya blank sepersekian detik.
Rei : "TIDAK."
Ia refleks menjawab lebih cepat dari kecepatan refleksnya di medan pertempuran mana pun. Wajahnya memerah sampai ke telinga.
Rei : "Permintaan egois tadi malam sudah cukup satu kali. Pagi ini aku mau hidup normal, mandi sendiri seperti manusia biasa, terima kasih."
Aelria terkekeh, menutup mulut dengan punggung tangan.
Aelria : "Haha, aku hanya bercanda, Rei. Untuk sekarang."
Airi ikut tertawa kecil, pipinya merah, tapi jelas ia menikmati melihat Rei panik.
Airi : "Rei-kun… wajahmu merah."
Rei bangkit dengan hati-hati agar tidak menjatuhkan mereka, mengambil pakaian ganti dari lemari, lalu melangkah menuju kamar mandi.
Rei : "Aku mandi dulu. Jangan berbuat sesuatu yang… aneh."
Pintu kamar mandi tertutup. Suara air mulai terdengar.
Begitu suara itu mengalun, Aelria dan Airi saling bertatapan—lalu tertawa pelan seperti dua konspirator kecil yang berhasil.
Aelria : "Kita berhasil menggoda dia."
Airi : "Benar… tapi kalau terus-terusan, nanti Rei-kun meledak kepalanya."
Aelria : "Itu sebabnya kita ganti strategi. Sekarang… kita buat sarapan dulu."
Mereka bangkit dari kasur, merapikan sedikit lipatan sprei, lalu berjalan ke pintu.
Aelria mendekat ke kamar mandi.
Aelria : "Rei, aku dan Airi akan pergi ke minimarket untuk beli sarapan, ya."
Suara Rei terdengar dari balik pintu, bercampur dengan suara air.
Rei : "Hati-hati di jalan. Jangan terlalu jauh, dan kalau ada apa-apa, kembali ke sini."
Aelria tersenyum.
Aelria : "Baik."
Mereka keluar kamar, menutup pintu pelan. Di lorong, beberapa tetangga yang sudah mengenal Rei menyapa ketika melihat dua gadis elf berjalan keluar dari kamar Rei.
Tetangga 1 (ibu-ibu) :
"Tetangga : "Oh, selamat pagi. Kalian teman Rei-kun?"
Airi menunduk sopan.
Airi : "Selamat pagi. Ya, kami teman Rei."
Aelria tersenyum anggun, kebiasaan sebagai putri keluarga penting di dunia lain masih melekat.
Aelria : "Terima kasih sudah selalu menjaga Rei selama ini."
Pemilik apartemen yang kebetulan keluar dari ruangannya ikut menyapa.
Pemilik : "Pagi, nona-nona elf. Bagaimana, kamar Rei nyaman?"
Aelria dan Airi langsung memerah bersamaan.
Airi : "N-nyaman…"
Aelria : "Kami tidak menyulitkan Rei, jadi tolong jangan salah paham."
Pemilik hanya tertawa lembut dan melambaikan tangan, membiarkan mereka lewat.
Mereka berjalan berdampingan menuju minimarket kecil di ujung blok. Udara pagi masih sejuk, angin membawa aroma roti panggang dari salah satu rumah tetangga.
Di tengah perjalanan, Airi membuka suara.
Airi : "Onee-chan…"
Aelria menoleh.
Aelria : "Hmm?"
Airi menatap ke depan, suaranya agak pelan.
Airi : "…Apa aku boleh… datang lagi? Bermain lagi di apartemen Rei-kun. Bersama Onee-chan juga… kalau Onee-chan masih di dunia manusia nanti."
Ada rasa takut halus di suara itu—takut ditolak, takut kehilangan.
Aelria memperlambat langkahnya, lalu mengulurkan tangan dan mengusap lembut kepala Airi.
Aelria : "Tentu saja. Selama Rei tidak keberatan… dan selama waktu mengizinkan, aku ingin kembali. Entah kapan, tapi aku tidak ingin ini menjadi pertemuan terakhir."
Airi tersenyum kecil, matanya sedikit berkaca.
Airi : "Kalau begitu… aku akan menunggu. Di sekolah, di kota ini. Entah sampai kapan."
Aelria : "Kau benar-benar adik yang manis, Airi."
Mereka tiba di minimarket. Bunyi bel kecil cling terdengar saat pintu kaca didorong.
Di dalam, mereka mengambil beberapa bento sederhana, onigiri, dan beberapa minuman botol.
Aelria beberapa kali menatap label harga, masih sedikit canggung dengan uang dunia manusia, sementara Airi sudah terbiasa dan membantu menghitung.
Setelah membayar, mereka keluar kembali dengan kantong belanja di tangan.
Dalam perjalanan pulang, Aelria yang sejak tadi diam tiba-tiba bertanya, suaranya pelan tapi tegas.
Aelria : "Airi…"
Airi menoleh.
Airi : "Ya?"
Aelria : "Monster anomali yang menyerang sekolah kalian… ceritakan sekali lagi. Dari awal sampai akhir. Terutama… bagian Rei."
Airi sempat kaget dengan nada serius itu.
Airi : "Baik…"
Ia menarik napas, mencoba mengingat dengan jelas.
Airi : "Saat itu, monster itu sudah menerobos mendekati sekolah. Banyak orang kuat dari berbagai ras mencoba menahannya, tapi tidak ada yang bisa memberikan luka fatal. Riku, Rika, aku, Hina… kami maju untuk mengulur waktu, supaya murid-murid yang lain bisa dievakuasi."
Mata Aelria mengeras, membayangkan adegan itu.
Airi : "Tapi serangan kami terlalu lemah. Hina terpental dan pingsan. Riku dan Rika juga terluka parah. Aku membuat perisai, menahan serangan monster… sampai aku memuntahkan darah dan perisaiku pecah."
Tangannya menggenggam tas belanja lebih erat.
Airi : "Kami bertiga terkapar. Monster itu sudah mengangkat tangan untuk menghabisi kami. Saat itu… Rei berlari ke arah monster, tanpa kekuatan, tanpa perlindungan apa pun."
Aelria menunduk, rahangnya mengeras.
Airi : "Dia memukul monster itu dengan benda yang bisa ia jadikan senjata… tapi tentu saja tidak berarti apa-apa. Monster itu menepisnya. Rei terpental, memuntahkan darah. Tapi dia tetap berteriak pada monster itu, menyuruhnya menjauh dari kami."
Suara Airi bergetar sedikit.
Airi : "Dia menjerit dalam hati… 'andai saja aku kuat, aku ingin melindungi orang-orang terdekatku. Aku tidak mau kehilangan lagi'. Lalu…"
Ia menelan ludah.
Airi : "…Energi aneh muncul dari tubuhnya. Luka-lukanya pulih. Dia melesat ke depan monster, berdiri di antara kami dan makhluk itu… dan hanya dengan satu tebasan ke depan, monster itu… terbelah dua seperti kertas disayat garis tipis. Setelah itu… energi di tubuhnya menghilang, dan dia pingsan."
Angin pagi yang tadi terasa sejuk, kini seperti berhenti sesaat di sekitar Aelria.
Aelria menutup mata, meresapi setiap detail.
Energi aneh.
Monster terbelah dua tanpa darah.
Menghilang begitu saja.
Bayangan lama muncul lagi di benaknya—hutan terlarang di dunia asalnya, gadis kecil Aelria berlari mengejar kupu-kupu, tersesat, monster meneteskan liur dan mendekat…
Lalu seorang bocah rambut putih menendang monster itu menjauh, dan saat monster menerkam kembali…
…tubuh monster itu terpotong menjadi dua dan lenyap, seperti tersedot sesuatu.
Aelria membuka mata pelan.
Aelria (dalam hati) : "Energi yang sama… cara hilangnya sama… bahkan sensasinya di kulitku saat energi itu lewat… mirip sekali."
Aelria : "…Waktu kebangkitan Rei yang pertama, saat ia berumur 17 tahun… sensor di dunia manusia bilang ia tidak punya kekuatan apa pun. Tapi aku merasakan getaran yang sama, samar… seperti waktu di hutan terlarang."
Airi menatap kakaknya itu pelan.
Airi : "Onee-chan… apa menurutmu Rei-kun…"
Aelria menggeleng pelan.
Aelria : "Aku belum punya jawaban. Tapi… ada sesuatu dalam dirinya yang disembunyikan. Entah oleh dunia… entah oleh seseorang… atau mungkin oleh dirinya sendiri."
Ia menatap langit sebentar, lalu kembali menatap jalan di depan.
Aelria : "Kalau sudah sampai di apartemen, aku akan bertanya. Sejauh mana ia sadar… tentang kekuatan itu."
Airi menggenggam kantong di tangannya lebih erat.
Airi : "Kalau itu akan membebani Rei-kun…"
Aelria menggeleng, kali ini dengan senyum lembut.
Aelria : "Aku tidak akan memaksanya. Aku hanya ingin tahu… seberapa banyak yang ia pikul seorang diri selama ini."
Mereka tiba kembali di apartemen. Pemilik melambai lagi, kali ini dengan senyum geli yang seperti mengatakan, "Anak muda zaman sekarang…"
Aelria dan Airi naik ke lantai dua, berhenti di depan pintu kamar Rei.
Airi : "Kuharap Rei-kun belum kabur karena takut tidur diapit dua elf."
Aelria terkikik pelan.
Aelria : "Kalau dia kabur… aku yang akan menariknya kembali."
Aelria mengetuk pintu pelan.
Aelria : "Rei, kami membawa sarapan."
Terdengar langkah mendekat. Pintu terbuka—Rei muncul dengan rambut putih yang sedikit panjang masih sedikit basah, kaos bersih, dan ekspresi yang lebih segar dibanding tadi malam.
Rei : "Selamat datang kembali. Kalian cepat juga."
Mereka masuk, meletakkan kantong-kantong makanan di meja kecil dekat kasur.
Mereka duduk melingkar: Rei di sisi dinding, Airi di satu sisi, Aelria di sisi lainnya. Aromanya nasi hangat dan onigiri memenuhi ruangan.
Beberapa menit mereka makan dengan tenang—sesekali bercanda ringan tentang tetangga, tentang riku yang pasti akan cemburu karena tidak ikut, tentang si kembar yang pasti akan menyesal melewatkan sarapan gratis.
Baru setelah perut mulai terisi dan suasana sedikit menghangat, Aelria meletakkan sumpitnya pelan.
Ia menatap Rei lekat-lekat.
Aelria : "Rei."
Rei menoleh.
Rei : "Hm?"
Aelria : "Tentang monster anomali yang menyerang sekolahmu. Dan… tentang bagaimana kau mengalahkannya dengan satu tebasan."
Suasana ruangan langsung sedikit berubah. Airi menunduk, tahu persis ke mana arah ini akan pergi.
Rei diam.
Dalam sekejap, dia kembali merasakan bayangan dari hari itu—bau darah, jeritan, rasa putus asa, dan… suara yang berbisik pelan di dalam dirinya, menyuruhnya merahasiakan segalanya.
Rei menatap kedua elf itu. Mata hijau Aelria menyorot penuh kekhawatiran dan rasa ingin tahu. Mata emas lembut Airi menatapnya dengan cemas.
Rei menghela napas pendek.
Rei : "Sejujurnya… aku sendiri tidak mengerti sepenuhnya."
Aelria : "Ceritakan dari sudut pandangmu."
Rei menunduk sebentar, lalu mulai berbicara pelan.
Rei : "Yang kuingat… aku berlari. Tanpa rencana, tanpa kekuatan. Aku hanya… marah. Takut. Aku tidak ingin kehilangan siapa pun lagi."
Ia mengepalkan tangannya di atas lutut.
Rei : "Lalu… ada sesuatu yang pecah di dalam diriku. Seperti segel yang retak. Tubuhku terasa ringan, luka-lukaku berhenti sakit. Dalam satu detik… rasanya aku tahu persis harus bergerak bagaimana. Seolah-olah tubuhku pernah melakukan hal itu ribuan kali."
Airi menelan ludah pelan. Ia tahu bagian itu—ia menyaksikannya langsung.
Rei : "Aku tidak melihat pedang atau senjata apa pun di tanganku. Tapi ketika aku mengayun… sesuatu memotong monster itu. Lalu gelap. Saat aku bangun… aku sudah ada di ruang perawatan."
Ia menatap Aelria lurus.
Rei : "Sejak saat itu… aku mencoba mengulanginya. Tapi tidak bisa. Energi itu tidak muncul lagi. Rasanya seperti… mimpi yang terlalu nyata."
Aelria menatapnya lama, mencoba mencari kebohongan sekecil apa pun di mata Rei.
Tapi yang ia temukan hanya… kejujuran dan kebingungan.
Dan rasa takut kecil—takut dianggap monster, mungkin.
Aelria menarik napas pelan, lalu tersenyum lembut.
Aelria : "Baik. Kalau begitu… jangan paksa dirimu untuk menjawab hal yang bahkan kau sendiri belum mengerti."
Rei terlihat sedikit lega.
Aelria menambahkan dalam hati:
Aelria (dalam hati) : "Tapi aku mengerti satu hal… energi itu bukan berasal dari dunia manusia. Bukan juga dari dunia kami. Itu… sesuatu yang berkaitan dengan dirinya yang lain."
Ia menggeser duduknya sedikit lebih dekat, menyandarkan pelan bahunya ke bahu Rei.
Aelria : "Apa pun yang ada di dalam dirimu… aku akan menerimanya. Entah kau manusia biasa, atau sesuatu yang lebih dari itu."
Airi, yang sedari tadi diam, ikut mengangguk kecil.
Airi : "Aku juga. Walaupun aku tidak mengerti kekuatan itu… Rei-kun tetap Rei-kun yang menyelamatkan kami."
Rei terdiam, tenggorokannya tercekat sesaat. Semua luka masa lalu—kata-kata Mina, rasa tidak berguna, jembatan dan hujan—terasa sedikit lebih ringan saat dua elf ini mengucapkan kalimat itu.
Ia menghembuskan napas panjang.
Rei : "…Terima kasih."
Di suatu tempat jauh di dimensi lain, jiwa yang sama yang duduk di depan gerbang tersenyum tipis, merasakan rasa hangat yang sama mengalir lewat resonansi.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama…
Rei benar-benar merasa bahwa, mungkin, ia tidak lagi berdiri sendirian.
