Cherreads

Chapter 44 - Bab: Dua Langit, Satu Janji

Pagi itu, langit di dunia Aelria masih pucat ketika rombongan mereka keluar dari gerbang akademi.

Bangunan batu putih dengan menara-menara tinggi menyambut mereka—atapnya berkilau kena cahaya pagi, bendera-bendera berbagai ras berkibar pelan. Di depan gerbang sudah menunggu beberapa staf akademi dengan jubah resmi.

Seris : "Kami sudah kembali. Ini laporan izin dan dokumen perjalanan."

Salah satu staf menerima gulungan kertas bercap resmi, memeriksa sekilas, lalu mengangguk.

Staf : "Terima kasih. Kepala akademi sudah diberi tahu. Kalian bisa naik ke kendaraan, kita akan menuju asrama dan kantor untuk laporan lengkap."

Mereka digiring ke semacam kereta magitech—perpaduan kereta kuda dengan mesin sihir. Begitu semua duduk, roda yang diselaputi rune itu bergerak mulus meninggalkan area gerbang.

Di dalam, suasana langsung mencair.

Noelle : "Jadi, jadi, jadi—bagian favorit kalian selama di dunia manusia apa?"

Nerine : "Aku masih memikirkan wahana permainan tembak-tembakan itu. Kenapa di akademi kita tidak ada seperti itu?"

Rinna tertawa kecil.

Rinna : "Aku suka toko kue mereka. Terlalu banyak gula… tapi itu bukan sesuatu yang bisa kutemui setiap hari di sini."

Fiora duduk agak menyamping, memandang keluar jendela, tapi senyum tipisnya tidak bisa disembunyikan.

Seris pura-pura sibuk merapikan catatan di pangkuannya, seolah tidak ingin ikut heboh. Namun telinganya sedikit merah saat si kembar meliriknya penuh arti.

Di sisi lain, Aelria bersandar ringan ke jendela, melihat pemandangan hutan dan kota yang sudah ia kenal sejak kecil.

Namun yang ada dalam kepalanya bukan pepohonan atau menara…

Aelria : "…Rei."

Ia menyebut nama itu sangat pelan, seolah hanya untuk dirinya sendiri. Tapi senyum lembut muncul di wajahnya—senyum yang tidak pernah keluar selama tiga hari ia menangis di kamar dulu.

Rinna mengangkat alis.

Rinna : "Apa yang kau pikirkan sampai senyum-senyum sendiri seperti itu?"

Noelle langsung menyusul.

Noelle : "Belum cukup ya, tidur bareng dan mencium pipi manusia itu waktu perpisahan?"

Nerine : "Betul. Itu adegan yang bahkan aku, sebagai demon, merasa terlalu manis."

Wajah Aelria seketika memerah sampai ke ujung telinganya.

Aelria : "K-kalian…!"

Ia menunduk, menutup sebagian wajahnya dengan tangan, tapi senyumnya tidak hilang. Seris dan Fiora saling pandang, lega.

Seris : "Yang penting sekarang, kau sudah kembali tertawa. Pengorbanan kami ke dunia manusia… tidak sia-sia."

Fiora mengangguk halus.

Fiora : "Dan yang terpenting… namanya tidak ada di daftar korban. Itu sudah cukup bagiku."

Aelria menarik napas pelan, lalu menatap satu per satu sahabatnya.

Aelria : "Terima kasih… untuk semuanya. Terutama kau, Seris. Kalau kau tidak nekat pergi duluan… mungkin aku masih menangis di kamar sampai sekarang."

Seris mengalihkan pandangan, seolah tidak nyaman diberi pujian.

Seris : "Aku hanya… tidak tahan melihatmu menangis. Itu saja."

Namun ujung bibirnya tertarik naik sedikit. Di dalam, ia pun merasa lega—karna gambaran Rei dengan rambut putih dan mata berbeda warna saat di apartemen itu masih menempel jelas di kepalanya.

Di dunia manusia, tepat setelah cahaya gerbang menghilang, suasana di pelataran menjadi sepi.

Rei, Airi, Riku, Hina dan Rika berjalan kembali ke mobil. Tak ada yang bicara beberapa detik—masih tenggelam dalam bayangan perpisahan tadi.

Di dalam mobil, Riku menyetir dengan wajah serius, matanya fokus ke jalan.

Mereka mengantar Rika terlebih dahulu. Rumah sederhana bercat kuning pucat itu menyambut mereka—kontras dengan suasana hati Riku yang campur aduk.

Rika : "Terima kasih sudah mengajakku ikut liburan beberapa hari ini."

Ia membungkuk sedikit ke arah mereka semua.

Rika : "Dan… terima kasih juga, Riku, sudah mentraktir semuanya tanpa ribut soal uang."

Riku menggaruk belakang kepalanya, mencoba terlihat santai.

Riku : "T-tidak masalah. Itu… kecil. Yang penting kalian semua bersenang-senang."

Rika tersenyum. Senyum sederhana, tulus, yang bagi Riku… terasa terlalu terang.

Rika : "Kalau begitu, aku duluan. Sampai ketemu di sekolah besok."

Tanpa memberi kesempatan Riku berpikir lebih, ia berbalik dan masuk ke rumahnya. Dari jendela, tampak siluet seseorang menunggu di dalam—mungkin keluarganya.

Pintu tertutup.

Riku tetap menatap ke depan beberapa detik, kedua tangannya menggenggam setir lebih erat dari biasa.

Dalam hati, ia hanya bisa bergumam:

Riku (dalam hati) : "…Kalau aku bicara sekarang, apa semuanya akan berubah?"

Di jok belakang, Rei memperhatikan punggung sahabatnya. Ia tahu benar tatapan itu—perpaduan antara keinginan maju dan ketakutan kehilangan.

Rei (dalam hati) : "Riku juga… punya beban sendiri."

Ia mencatat dalam hati: nanti, ia akan mengatakan sesuatu pada sahabatnya, setelah suasana sedikit tenang.

Mobil melaju lagi.

Mereka menurunkan Hina di sebuah apartemen sederhana. Hina melambai, berterima kasih singkat, lalu masuk sambil sesekali melirik Riku dari kaca pintu—perasaan rumit yang hanya ia sendiri yang tahu.

Kemudian, mobil berhenti di depan rumah Airi. Ibu Airi sudah berdiri di depan pintu, menunggu.

Airi membuka pintu mobil, lalu menoleh lagi.

Airi : "Terima kasih sudah mengantarku pulang."

Ia menatap Rei, mata hijau lembut itu sedikit berkaca-kaca tapi tersenyum.

Airi : "Rei-kun, jangan lupa pesan dari Onee-chan. Kalau kau melupakan janji itu… aku yang akan memarahi dan menarik telingamu mewakili Onee-chan."

Rei tertawa kecil.

Rei : "Aku mengerti. Selama aku bisa, aku akan selalu menjawab panggilan bola kristal itu."

Ia mengelus rambut Airi lembut, seperti yang sering ia lakukan akhir-akhir ini.

Rei : "Jadi kau juga jangan terlalu khawatir. Kau dan Aelria… sudah memberiku terlalu banyak alasan untuk terus hidup."

Airi mendekat, memeluk Rei sebentar.

Airi : "Terima kasih… karena tidak merasa terbebani dengan dua elf egois yang ingin memilikimu."

Rei menghela napas pelan.

Rei : "Kalau semua egois seperti kalian berdua… mungkin dunia ini tempat yang jauh lebih hangat."

Riku menggoda dari depan dengan suara pelan.

Riku : "Hei, kalau terlalu lama nanti ibunya cemburu."

Ibu Airi yang mendengar sedikit tertawa dari depan pintu.

Ibu Airi : "Selama itu membuat putriku tersenyum, aku tidak keberatan."

Airi cepat-cepat melepaskan pelukannya, pipinya merah, lalu berlari ke arah ibunya.

Airi : "Aku pulang, Ibu!"

Mobil berbalik arah untuk terakhir kalinya, menuju apartemen Rei.

Sesampainya di sana, Rei turun, menutup pintu dan mencondongkan tubuh ke jendela depan.

Rei : "Riku."

Riku : "Hm?"

Rei menatapnya lekat.

Rei : "Jangan terlalu lama takut dengan bayangan masa depan yang belum terjadi. Kalau kau terus menahan semuanya, penyesalanmu bisa lebih menyakitkan daripada rasa takut sekarang."

Riku terdiam.

Riku : "…Kau bicara seolah sudah tahu apa yang kupikirkan."

Rei mengangkat bahu.

Rei : "Aku tidak tahu semuanya. Tapi aku tahu rasanya menyesal karena tidak jujur dengan perasaan sendiri."

Sekilas, bayangan Mina dan cincin di jarinya melintas di kepala Rei. Ia menghempasnya jauh-jauh, lalu tersenyum tipis.

Rei : "Pikirkan saja pelan-pelan. Tapi jangan diam selamanya."

Riku menghela napas, lalu tersenyum tipis, sedikit pahit tapi juga hangat.

Riku : "Baik. Terima kasih… Rei."

Mobil pun melaju pergi, meninggalkan Rei sendirian di depan apartemennya.

Di kamar, Rei berdiri di depan cermin kecil.

Rambut putihnya, kini diikat rapi ke belakang, jatuh sedikit di bawah tengkuk. Kuncir rendah sederhana, tapi membuat wajahnya terlihat lebih tegas. Mata kiri birunya tertangkap jelas di pantulan cermin.

Rei : "…Begini saja sudah cukup, mungkin."

Ia menyentuh kuncir itu pelan, ingat bagaimana Aelria dan Airi spontan menyebutnya tampan saat melihatnya.

Rei : "Kalau itu bisa membuat mereka tersenyum sedikit… tidak ada salahnya aku memanjangkan ini lebih lama."

Hari itu pun berlalu—masing-masing membawa pulang kebahagiaan dan kekhawatiran kecil mereka sendiri—dan disambut hari baru.

Renovasi sekolah akhirnya selesai.

Bangunan yang dulu bergetar karena amukan monster anomali kini berdiri lebih kokoh. Dinding-dinding diperkuat dengan rune perlindungan tambahan, lapangan latihan diperluas, dan sebuah tugu kecil didirikan di halaman—bukan hanya untuk mengenang mereka yang gugur, tapi juga sebagai simbol persatuan berbagai ras yang bahu-membahu saat bencana itu.

Murids mulai kembali masuk.

Lorong-lorong yang dulu dipenuhi aroma debu dan reruntuhan kini kembali ramai oleh suara tawa, keluhan, dan langkah kaki yang bergegas mengejar bel masuk. Namun, ada sedikit perubahan di mata mereka—sebagian sudah pernah menatap kematian dari jarak dekat, dan itu membuat kedewasaan tumbuh paksa dalam waktu singkat.

Rei berjalan di lorong dengan tas di satu bahu.

Beberapa siswa meliriknya. Ada yang berbisik pelan:

Siswa 1 : "Itu dia, kan? Hirashi Rei."

Siswa 2 : "Katanya… dia yang mengalahkan monster itu."

Siswa 3 : "Tapi waktu tes ulang, kekuatannya nol. Aneh sekali."

Namun tidak ada tatapan kebencian di sana. Kebanyakan adalah rasa ingin tahu, kagum, dan sedikit ragu.

Rei menanggapinya seperti biasa: senyum tipis, anggukan kecil, lalu kembali fokus berjalan. Ia tidak ingin tenggelam dalam status pahlawan yang bahkan ia sendiri tidak mengerti.

Di kelas, semuanya kembali seperti biasa—setidaknya di permukaan.

Riku duduk di bangkunya, berdebat kecil dengan Hina tentang soal latihan. Rika merenggangkan bahu, bersiap latihan fisik sepulang sekolah. Airi duduk di sebelah Rei, mencatat materi dengan serius tapi sesekali mencuri pandang.

Lalu tiba masa ujian.

Ujian akademik berjalan seperti angin lewat untuk Rei. Baginya, soal-soal teori, analisa taktik, dan sejarah gerbang antar dunia hanyalah perkara mengingat dan mengolah, sesuatu yang otaknya sudah terbiasa lakukan sejak lama.

Saat lembar jawaban dikumpulkan, Riku melongok ke kertas sendiri dan menghela napas.

Riku : "Seperti biasa, aku akan kalah darimu di bidang ini."

Rei : "Tidak ada yang namanya kalah. Yang ada hanya… butuh sedikit lebih banyak belajar."

Hina terkekeh.

Hina : "Kata-kata orang yang waktunya habis sendirian di perpustakaan."

Airi tersenyum lembut.

Airi : "Tapi berkat itu, kita semua punya tempat bertanya kalau tidak mengerti pelajaran kan?"

Riku mengangguk, tak bisa membantah.

Lalu datang giliran ujian non-akademik.

Bagi siswa dengan kemampuan sihir atau penguatan fisik, ujian berisi berbagai simulasi: melawan monster ilusi, pertahanan diri, koordinasi tim, hingga penggunaan sihir dalam situasi darurat.

Bagi Rei yang "tidak punya kemampuan apa pun", kurikulumnya berbeda.

Ia dan beberapa siswa lain yang bernasib sama diarahkan ke ruangan khusus.

Guru : "Kalian yang tidak memiliki aktivasi kekuatan akan diuji dalam hal analisis situasi, strategi pertahanan sipil, manajemen evakuasi, dan ketahanan mental. Ini bukan ujian yang lebih mudah—hanya bentuk peran yang berbeda."

Rei mengangguk pelan.

Di dalam simulasi—baik lewat kristal ilusi maupun skenario tertulis—Rei berhadapan dengan situasi yang sangat mirip dengan kejadian monster anomali: warga sipil panik, jalur evakuasi tertutup, pasukan sihir kewalahan.

Namun kali ini, tidak ada darah nyata. Hanya gambar dan suara.

Rei membaca, menghitung, mengatur.

Ia memindahkan pion-pion kecil di atas meja peta—simbol warga, pasukan, dan monster—dan menyusun jalur evakuasi alternatif, titik-titik perlindungan, dan pembagian tugas.

Saat waktu habis, salah satu penguji menatap papan strategi itu dengan ekspresi sulit dibaca.

Penguji : "…Kau menyusun jalur evakuasi ini berdasarkan apa?"

Rei : "Berdasarkan pengalaman… dan asumsi terburuk yang bisa terjadi."

Penguji menatapnya lekat.

Penguji : "Pengalaman pribadi?"

Rei hanya tersenyum kecil.

Rei : "Guru juga pernah mendengar tentang insiden di sekolah kami, bukan?"

Hening sesaat.

Penguji akhirnya mengangguk pelan, mencatat sesuatu di papan.

Penguji : "Baik. Sesi berikutnya, kita akan menguji ketahanan mental. Bersiaplah."

Hari-hari ujian berlalu.

Kabar tentang Rei yang mendapatkan "ujian khusus non-akademik" tersebar pelan di antara siswa. Anehnya, justru tidak ada yang mengejek. Sebaliknya, beberapa dari mereka merasa… wajar, jika orang yang pernah berdiri di depan monster itu diuji soal ketangguhan mental dan strategi.

Rei tidak pernah mengonfirmasi apa pun. Ia hanya menjalani semuanya seperti air—dan sepulang sekolah, kembali ke apartemen, mengerjakan hal-hal kecil, memasak sederhana…

Dan menunggu satu hal.

Malam itu, tepat satu minggu sejak Aelria kembali ke dunianya.

Di meja kecil kamar Rei, sebuah bola kristal tembus pandang diletakkan hati-hati. Permukaannya tenang—sampai akhirnya, kilatan lembut menyala dari dalamnya.

Rei duduk, menghela napas pelan, lalu menyentuhkan ujung jarinya ke permukaan kristal.

Rei : "…Halo."

Cahaya menyebar, membentuk bayangan samar yang perlahan menjadi jelas.

Wajah Aelria muncul di dalam kristal—rambut perak tergerai, mata hijau jernih. Di belakangnya terlihat sedikit interior kamar asrama mereka.

Aelria : "Rei."

Suara itu terdengar lega sekaligus rindu. Ia menempelkan telapak tangannya ke permukaan kristal dari sisi sana.

Rei, refleks, melakukan hal yang sama.

Rei : "Sepertinya kristal ini bekerja dengan baik."

Aelria tersenyum.

Aelria : "Tentu saja. Seris yang pilihkan. Kau sudah makan malam?"

Rei mengangguk.

Rei : "Sudah. Kau?"

Aelria : "Sudah juga. Tapi… aku hampir tidak bisa menelan kalau belum memastikan kau baik-baik saja."

Rei ingin bercanda, tapi melihat mata Aelria yang berkata jujur, ia mengurungkan niat.

Rei : "Aku baik-baik saja. Ujian akademik berjalan lancar. Ujian non-akademik… cukup menguras pikiran, tapi bukan sesuatu yang tidak bisa kutangani."

Aelria : "Kalau ada yang terlalu berat, jangan ditanggung sendiri. Kau selalu begitu, dari dulu."

Rei : "Kuhitung itu sebagai salah satu sifat burukku."

Aelria tertawa kecil—suara jernih yang membuat kamar kecil Rei terasa lebih hangat.

Dari sisi Rei, langkah ringan terdengar. Pintu kamar terbuka pelan, dan Airi menyembul masuk, membawa dua cangkir teh kaleng.

Airi : "Rei-kun, aku bawa—"

Ia berhenti saat melihat bola kristal menyala.

Aelria di sisi lain langsung menoleh dan tersenyum lebar.

Aelria : "Airi."

Airi cepat-cepat menghampiri meja, meletakkan teh kaleng, dan duduk di sebelah Rei, ikut menempelkan tangan ke sisi kristal.

Airi : "Onee-chan, selamat malam."

Aelria : "Selamat malam, Airi. Bagaimana sekolah? Bagaimana… menjaga Rei?"

Airi mengembungkan pipi sedikit.

Airi : "Rei-kun baik-baik saja. Kadang terlalu serius, tapi tidak pernah melewatkan makan. Aku, Hina, Rika dan Riku juga selalu bersamanya di sekolah."

Rei : "Kayaknya aku dijadikan laporan perkembangan mingguan."

Aelria : "Benar. Kau, Hirashi Rei, sekarang berada di bawah pengawasan dua elf."

Airi mengangguk mantap.

Airi : "Dan satu onee-chan di dunia lain."

Mereka bertiga tertawa pelan.

Waktu satu jam terasa sangat singkat. Aelria bercerita tentang latihan sihir tingkat lanjut di akademi, duel persahabatan antara Rinna dan Fiora yang hampir menghancurkan lapangan, dan bagaimana si kembar dimarahi karena menyelundupkan makanan manis ke kelas.

Rei bercerita tentang ujian, tentang bagaimana Riku belajar lebih keras dari biasanya, tentang Hina yang mencoba menyembunyikan kesedihannya dengan tawa, dan tentang Rika yang semakin kuat di arena latihan.

Airi menambahkan detail kecil—kejadian lucu di kantin, komentar guru, dan ekspresi riku setiap kali lihat rika.

Sampai akhirnya, cahaya kristal mulai meredup.

Aelria melihat kilatan itu, lalu menatap mereka berdua.

Aelria : "Sepertinya waktunya hampir habis."

Airi sedikit menunduk.

Airi : "Sayang sekali… rasanya baru sebentar."

Rei : "Minggu depan kita bicara lagi. Sampai saat itu, fokuslah pada pelajaranmu. Aku tidak ingin jadi alasan nilai akademimu turun."

Aelria tersenyum lembut.

Aelria : "Kalau begitu, ini tugasku untukmu…"

Ia menatap Rei lekat.

Aelria : "Jangan hancur, meski dunia berubah. Dan… belajarlah menerima kebahagiaanmu sendiri, bukan hanya kebahagiaan orang lain."

Rei terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.

Rei : "…Baik. Akan kucoba."

Aelria menatap Airi.

Aelria : "Dan Airi…"

Airi : "Ya, Onee-chan?"

Aelria : "Teruslah ada di sisinya. Kalau dia mulai merendahkan dirinya sendiri lagi, tarik dia kembali."

Airi menatap Rei sebentar, lalu mengangguk mantap.

Airi : "Tentu saja."

Cahaya kristal memudar perlahan.

Aelria : "Selamat malam, Rei… Airi…"

Suara itu memudar, dan ruangan kembali hanya diterangi lampu kecil di langit-langit.

Airi masih menatap bola kristal yang kini bening, lalu menghela napas pelan.

Airi : "Onee-chan terdengar… jauh lebih kuat dari sebelumnya, ya?"

Rei : "Karena dia tidak lagi sendirian membawa ketakutannya."

Airi menoleh, tersenyum.

Airi : "Sama seperti Rei-kun sekarang."

Rei terdiam sesaat. Lalu, dengan gerakan pelan, ia mengangkat tangan dan mengacak pelan rambut Airi.

Rei : "Iya… sama seperti aku."

Di dunia lain, di malam yang sama, Aelria menatap bola kristal miliknya yang kini sudah padam. Ia duduk di tepi ranjang asramanya, memeluk bantal kecil.

Rinna menyandar di dinding, si kembar berdebat pelan tentang sesuatu, Seris duduk di meja belajar, pura-pura membaca, dan Fiora bersandar di kursi dekat jendela.

Aelria : "Hei… semua."

Mereka menoleh.

Aelria tersenyum.

Aelria : "Terima kasih. Karena sudah membantuku menemukan kembali orang yang ingin kulindungi."

Rinna : "Kalau begitu, buktikan di ujian praktik sihir besok. Tunjukkan bahwa kau tidak akan kalah oleh manusia di dunia lain."

Noelle : "Atau setidaknya… jangan sampai nilai sihirmu lebih buruk dari nilai taktiknya Rei."

Nerine : "Kalau itu terjadi, aku tidak tahu harus tertawa atau menangis."

Seris tersenyum tipis.

Seris : "Mulai besok, kita semua akan sibuk lagi. Tapi… kali ini, kita punya sesuatu yang sama untuk diperjuangkan."

Fiora melihat langit malam di luar jendela, bintang-bintang bertaburan.

Fiora : "Agar saat gerbang dunia dibuka lagi… kita bisa melangkah ke sana dengan kepala tegak."

Aelria mengangguk pelan, memeluk bantalnya lebih erat.

Aelria : "Dan agar saat aku bertemu Rei lagi… aku bisa berdiri di sampingnya, bukan hanya menangis di pelukannya."

Sementara itu, jauh di hutan terlarang, di depan gerbang yang menghubungkan tiga dunia, Rei yang lain duduk bersila, menatap retakan dimensi yang tenang.

Lirya duduk di sebelahnya, Garm bersandar di pohon besar di belakang.

Rei (penjaga) : "…Dia lulus satu ujian lagi."

Lirya melirik.

Lirya : "Jiwa-mu di dunia manusia?"

Rei mengangguk samar.

Rei (penjaga) : "Setiap kali dia memilih untuk maju sekali lagi, meskipun dunia membuatnya runtuh… segel di sini sedikit melemah dengan cara yang benar. Suatu hari nanti… saat dia benar-benar siap… kita akan menjadi satu."

Garm menghela napas.

Garm : "Kalau saat itu tiba… dunia ini mungkin akan jadi lebih aman… atau lebih kacau."

Rei tersenyum tipis, menatap gerbang.

Rei (penjaga) : "Itu tergantung pada satu hal."

Lirya : "Apa itu?"

Rei : "Apakah dia—dan aku—bisa menjaga orang-orang yang memanggil nama kami tanpa kehilangan diri sendiri."

Ia memejamkan mata sebentar, merasakan samar-samar hangatnya pipi dari dunia lain.

Rei (penjaga) : "Sampai saat itu… aku akan menjaga gerbang ini. Dia akan menjaga dunia yang dulu menolaknya—dan kini memilihnya."

Dan di dua dunia yang berbeda, di bawah dua langit yang berbeda pula, dua "Rei" yang sebenarnya satu jiwa… sama-sama menutup hari itu dengan perasaan yang sama:

Aku tidak sendirian lagi.

More Chapters