Masa lalu Hina selalu terasa sedikit lebih dingin dibandingkan orang lain.
Sejak kelas 2 SMP, Hina hidup sendirian.
Ayah dan ibunya berpisah, dan yang lebih menyakitkan… bukan hanya perpisahan itu, tapi kenyataan bahwa tidak satu pun dari mereka yang memilih dirinya.
Ia tinggal di sebuah kamar kecil di pojok kota, hidup dari bantuan kecil, pekerjaan sambilan ringan, dan beasiswa. Di sekolah, ia hanyalah siswi manusia biasa tanpa nama.
Di lorong-lorong sekolah, kata-kata itu selalu terdengar:
Siswi 1 : "Eh, itu anak buangan lewat."
Siswi 2 : "Kasian ya, orang tuanya saja nggak mau."
Siswi ras lain terkekeh, telinga mereka bergerak jijik.
Siswi Ras Lain : "Pasti baunya kesepian."
Hina hanya menunduk, mengeratkan genggaman pada tali tasnya. Ia menggigit bibir sampai hampir berdarah, tapi tidak pernah menjawab.
Hina (dalam hati) :
"Kalau aku tidak menyahut… mungkin semua ini cepat selesai."
Tapi kenyataannya, tidak.
Perlakuan itu berlanjut sampai ia lulus SMP. Tidak ada teman yang benar-benar memihaknya. Tidak ada tangan yang menggenggamnya saat ia pulang sendirian.
Yang ia punya hanya satu tekad kecil:
"Aku tidak mau hancur."
SMA – Hina yang Baru, Tapi Masih Sendirian
Ketika hasil tes kebangkitan muncul, dunia sedikit berubah.
Hina ternyata memiliki bakat yang jarang: sihir penyembuhan. Tidak besar, tapi stabil. Cukup untuk membuatnya diterima di sekolah elite tempat Rei, Riku, Airi, dan Rika berada sekarang.
Saat masuk SMA, ia memutuskan:
Hina (dalam hati) :
"Aku akan jadi pribadi yang ceria. Aku akan tersenyum duluan. Aku akan mencoba punya teman."
Ia memaksa dirinya untuk tersenyum saat menyapa orang.
Hina : "Selamat pagi!"
Dan untuk pertama kalinya, beberapa orang membalas:
Siswa : "Pagi, Hina!"
Lambat laun, ia punya teman di kelas. Mereka tertawa, makan bersama, dan memuji senyum cerahnya. Namun, di balik itu semua, ada ruang kosong di dadanya yang belum pernah terisi.
Rasa dicintai.
Bukan sebagai teman. Bukan sebagai pasien yang disembuhkan. Tapi… dicintai sebagai seorang gadis.
Pertama Kali Melihat Riku
Itu berubah ketika ia melihat Riku.
Saat itu, ia baru selesai dari ruang UKS, membawa beberapa bahan obat ke gudang sekolah. Di jalan, ia melewati lapangan latihan fisik.
Di sana, di tengah lapangan, ada seorang siswa manusia dengan penguatan tubuh. Ia mengangkat beban, berlari, dan meninju udara dengan kecepatan yang membuat angin berdesis.
Riku.
Hina berhenti di pinggir lapangan tanpa sadar.
Keringat di wajah Riku memantul terkena cahaya matahari. Tawa kecilnya terdengar ketika ia bercanda dengan teman-temannya setelah latihan selesai.
Teman Riku : "Kau latihan terlalu keras, Riku."
Riku : "Ayahku bilang, kalau aku berhenti, aku akan kalah dari diriku yang kemarin."
Hina menunduk cepat, pipinya panas.
Hina (dalam hati) :
"Apa ini… perasaan suka?"
Hari-hari setelah itu, Hina mulai mencari informasi tentang Riku diam-diam. Ia menanyakan ke teman-teman:
Teman Hina 1 : "Dia anak orang kaya, keluarganya punya institusi teknologi besar."
Teman Hina 2 : "Tapi di sekolah dia biasa saja kok. Sedikit pemalu kalau soal cewek."
Hina merekam semua itu dalam hatinya.
Malam hari di kamarnya yang sepi, ia memeluk bantal sambil berguling-guling.
Hina : "Apa ini… cinta?"
Bertanya pada Teman-Teman – Harus Berani
Di suatu waktu istirahat, Hina duduk di mejanya, dikelilingi beberapa teman dekat.
Hina : "Kalau misalnya… ada seorang gadis yang… suka sama pria, tapi pria itu… mungkin suka orang lain… gadis itu harus bagaimana?"
Teman Hina 1 mengangkat alis.
Teman Hina 1 : "Itu kau, 'kan?
Hina hampir tersedak.
Hina : "B-bukan, ini cuma contoh!
Teman Hina 2 terkekeh.
Teman Hina 2 : "Cinta itu perlu tindakan. Kalau memang suka, minimal jadilah teman dekatnya."
Teman Hina 3 : "Dan kalau dia suka orang lain… sebelum mereka jadian, kau masih punya kesempatan, kan?"
Hina menunduk, memikirkan kata-kata itu.
"Cinta perlu tindakan."
"Jadilah temannya dulu."
Ia mengepalkan tangan bawah meja.
Hina (dalam hati) :
"Baik. Aku akan mencoba."
Saat Hina Menemukan Riku Mengintip Rika
Suatu sore, Hina berjalan di koridor menuju tempat latihan fisik. Ia tahu, biasanya di jam itu Riku berlatih.
Begitu hampir sampai, ia melihat sesuatu:
Riku berdiri di pojokan, bersembunyi, hanya kepalanya yang sedikit mengintip ke dalam ruang latihan.
Hina spontan berhenti dan ikut bersembunyi di balik dinding, jantungnya berdegup kencang.
Hina (dalam hati) : "Riku…? Sedang apa…?"
Tak lama, Riku tiba-tiba berbalik, wajahnya merah sedikit, lalu berjalan cepat pergi dengan panik.
Hina buru-buru menekan tubuhnya ke dinding, menahan napas sampai Riku lewat.
Setelah ia yakin tidak ketahuan, Hina menghela napas panjang.
Hina : "Haa… hampir ketahuan."
Rasa penasarannya mengalahkan rasa malunya.
Ia melongok ke ruang latihan.
Di dalam, ada seorang gadis beastkin—berambut Panjang terikat rapih, keringat mengalir di leher, otot kakinya menegang saat ia menendang target latihan dengan fokus penuh.
Rika.
Hina tidak mengenal namanya saat itu, tapi ia bisa langsung menebak.
Hina (dalam hati) :
"Jadi… orang yang Riku pandangi diam-diam… gadis ini."
Ia tersenyum miris.
Hina (dalam hati) :
"Apakah… aku masih punya harapan?"
Sejak hari itu, ia sering melihat pola yang sama:
Riku mengintip dari jauh saat Rika latihan.
Riku melirik Rika sewaktu istirahat latihan.
Hina duduk di bangku belakang ruang latihan, pura-pura membaca buku, tapi matanya selalu mengikuti Riku.
Hina (dalam hati) :
"Riku selalu menatapnya…"
Ia menutup buku pelan, berdiri, dan berjalan keluar dengan langkah lemas.
Teman-Teman Menyemangati
Sesampainya di kelas, wajah Hina muram.
Teman Hina 1 : "Kenapa wajahmu seperti habis kalah perang?"
Hina duduk, menatap meja.
Hina : "Orang yang… kurasakan spesial… sepertinya menyukai orang lain."
Teman-temannya saling pandang.
Teman Hina 2 : "Dia sudah jadian?"
Hina menggeleng.
Hina : "Belum… sepertinya."
Teman Hina 3 tersenyum.
Teman Hina 3 : "Kalau belum jadian, kau masih punya kesempatan."
Teman Hina 1 : "Kenapa tidak coba jadi lebih dekat dulu? Teman, minimal. Jangan menyerah sebelum mulai."
Hina menghirup napas dalam.
Hina (dalam hati) :
"Aku… tidak mau jadi gadis penakut selamanya."
Hina : "Baik… aku akan coba. Setidaknya… berteman."
Siswa Baru – Kesempatan Aneh Bernama Rei
Saat kabar siswa baru beredar—seorang manusia berambut putih dengan mata berbeda warna—seluruh sekolah heboh.
Hina mendengar teman sekelas Riku bergosip di kantin.
Siswa : "Anak baru itu duduk dekat Riku, lho."
Siswa Lain : "Serius?
Dan saat itulah, ide itu muncul.
Hina (dalam hati) :
"Kalau aku mendekati siswa baru itu… aku bisa sering datang ke kelas Riku tanpa dicurigai."
Hari itu, ia memberanikan diri datang ke kelas Rei saat jam istirahat.
Rei baru saja selesai memasukkan buku ke dalam tas, ketika Hina muncul di samping mejanya.
Hina : "Hai, kamu Rei, kan?
Rei mengangkat wajah, sedikit kaget.
Rei : "…Ya. Ada perlu?"
Hina tersenyum—senyum ceria yang selama ini ia latih.
Hina : "Namaku Hina. Dari kelas sebelah. Aku dengar ada siswa baru, jadi kupikir… tidak ada salahnya berteman."
Di dalam hatinya, ia sadar benar:
Hina (dalam hati) :
"Maaf, Rei… awalnya aku datang bukan karena kau. Tapi… karena seseorang di dekatmu."
Dari sudut mata, ia melihat Riku yang hendak bangkit dari kursinya, lalu berhenti saat melihat Hina.
Tak lama, dua gadis lain menghampiri: Airi dan Rika.
Itulah awal dari lingkaran pertemanan baru: Rei, Airi, Rika, Riku… dan Hina.
Hari-hari mulai terasa hangat.
Insiden Sparring 3 vs 1 – Hancurnya Citra Riku di Hati Hina
Beberapa waktu kemudian, ketika Hina, Rika, dan Airi berjalan di koridor sepulang dari kantin, mereka melihat seorang siswa berlari panik.
Rika : "Hei, kenapa kau berlari seperti itu?"
Siswa : "Riku sedang sparring dengan siswa baru itu! Katanya 3 lawan 1!"
Hina merasa darahnya mendingin.
Hina : "Tiga… lawan satu? Dengan Rei?"
Mereka bertiga langsung berlari.
Saat tiba, Hina melihatnya:
Riku dan dua temannya mengelilingi Rei.
Sihir dan penguatan fisik digunakan tanpa menahan diri.
Hina mengepal tangan.
Hina : "Riku… kenapa…?"
Airi masuk ke tengah, berteriak agar sparring dihentikan.
Lalu bola api itu melenceng. Arah awalnya bukan Rei—tapi hampir mengenai Airi.
Dan momen yang mengubah segalanya:
Rei merengkuh Airi dari belakang, memutar tubuhnya, dan membiarkan punggungnya sendiri menerima ledakan.
Hina merasa nafasnya ikut terhenti.
Dia melihat Rei terpental, lalu jatuh.
Hina : "Rei!"
Mereka membawanya ke UKS. Hina, dia menahan gemetar saat menyembuhkan luka Rei, tapi tangannya tetap stabil.
Saat Rika keluar dan berteriak pada Riku di depan UKS, Hina bangkit dari kursi di sisi ranjang Rei dan menyusul.
Di luar, Riku berdiri di depan pintu UKS, wajahnya penuh penyesalan.
Rika baru saja meledak dengan aura membunuhnya.
Hina menatap Riku—pria yang selama ini ia kagumi dari jauh.
Hina : "…Bagaimana bisa… kau melakukan ini?"
Tanpa pikir panjang, tangannya terangkat.
Plak.
Tamparan keras mendarat di wajah Riku.
Hina : "Aku… benar-benar kecewa."
Bukan hanya marah untuk Rei, tapi juga karena ia merasa melihat bayangan dirinya di masa SMP—saat ia tak berdaya menghadapi orang yang lebih kuat.
Hina (dalam hati) :
"Aku suka orang yang kuat… tapi bukan yang menyalahgunakan kekuatannya."
Sejak hari itu, cintanya… retak untuk pertama kali.
Setelah Itu – Melihat Perubahan Riku
Namun waktu berjalan.
Rei memaafkan Riku. Riku menerima hukuman, bahkan memutuskan hubungan dengan dua temannya yang tidak serius menyesal.
Perlahan, Hina melihat perubahan:
Riku datang ke UKS, walau hanya menitipkan buah di depan guru UKS.
Riku tidak lagi berlatih dengan aura sombong.
Riku melindungi siswa lain saat insiden monster.
Dan di saat mereka berlima—Rei, Riku, Hina, Airi, dan Rika—mulai berteman dekat, duduk di kantin dan di taman bersama, Hina merasakan sesuatu:
Hina (dalam hati) :
"Aku masih sakit… tapi aku juga melihat seseorang yang sedang berusaha berubah."
Saat festival sekolah, Hina duduk di pinggir lapangan, memandang Riku dari kejauhan.
Riku sedang mengangkat kotak-kotak logistik menggunakan penguatan tubuhnya, membantu panitia festival.
Hina tersenyum kecil.
Hina (dalam hati) :
"Mungkin… seperti ini lebih baik daripada hanya menatap dari jauh di koridor. Setidaknya sekarang… aku ada di lingkaran yang sama."
Libur Bersama – Pesan Pertama dari Riku
Saat sekolah diliburkan setelah insiden monster dan Rei mengundang Riku ke apartemennya, Riku mengirim pesan ke Hina:
Riku : "Besok kami mau ke rumah Rei untuk main dan menghabiskan waktu libur. Kalau kau mau, ikutlah."
Hina yang sedang sendirian di kamarnya, menatap layar ponsel dengan mata membesar.
Hina : "…Dia… mengundangku?"
Ia langsung berguling di kasur, memeluk bantal.
Hina : "Ini cuma ajakan sederhana… tapi…"
Untuk Hina, yang dulu bahkan tidak diinginkan orang tuanya sendiri, pesan singkat itu terasa seperti pengakuan bahwa keberadaannya… dihitung.
Dengan tangan gemetar, ia membalas:
Hina : "Baik, aku akan datang."
Lalu menenggelamkan wajahnya di bantal sambil menjerit pelan.
Di Minimarket – Riku, Rika, dan Berat di Dada Hina
Saat hari itu datang, mereka bertemu di depan sekolah. Riku mengajak mereka mampir ke minimarket untuk membeli snack dan permainan.
Hina mengambil banyak makanan manis bersama Rika, sampai lupa menghitung uang.
Airi panik.
Airi : "Kalian punya uang untuk semua ini?"
Hina dan Rika saling pandang.
Hina : "…"
Riku tertawa kecil, lalu berkata:
Riku : "Tenang saja, ini biar aku yang bayar."
Mata Hina dan Rika sama-sama berbinar, tapi…
Saat mereka keluar dari minimarket, Hina memperhatikan sesuatu:
Riku mendekat ke Rika lebih dulu.
Riku : "Rika, serahkan saja belanjaanmu. Biar aku bawa."
Rika kaget, menolak sebentar, tapi akhirnya memberikan kantung belanjaannya dengan sedikit malu dan ucapan terima kasih.
Di situ, Hina merasa dada kirinya tertarik pelan—bukan sakit tajam, tapi perih lembut yang menyebar.
Hina (dalam hati) :
"Ah… seperti dugaan. Riku masih menyukai Rika."
Ia menatap kantung belanjaannya sendiri, lalu tersenyum tipis.
Hina : "Riku, bawakan ini juga ya!"
Ia menyodorkan belanjaannya—lebih untuk menutupi luka di hatinya daripada benar-benar ingin menyusahkan Riku.
Riku menerimanya dengan protes.
Riku : "Ha?"
Airi menatap Hina sekilas. Ia melihat sekilas senyum Hina—terlalu lebar untuk disebut senyum normal.
Airi (dalam hati) :
"Hina… Apa kau baik-baik saja?"
Tapi Hina hanya tertawa dan berlari kecil menyusul Rika.
Di Restoran – Pertanyaan untuk Hatinya Sendiri
Saat mereka makan bersama di restoran—Rei diapit oleh Aelria dan Airi, Riku duduk di dekat Rika—Hina duduk agak miring sehingga ia bisa melihat sisi wajah Riku.
Saat semua tertawa oleh tingkah Hina, si kembar, dan Rika soal makanan, Hina melihat sesuatu:
Setiap kali Rika tertawa, tatapan Riku selalu terarah ke sana.
Bukan hanya sekilas. Tapi seperti seseorang yang tanpa sadar menatap orang yang ia simpan di dalam hati.
Hina menusuk makanannya pelan.
Hina (dalam hati) :
"Dia… bahagia melihat Rika tertawa."
Ia meminum airnya, mencoba menelan sesak itu.
Hina (dalam hati) :
"Apakah benar… aku harus teruskan perasaan ini?"
Ia menatap punggung tangan Riku yang memegang gelas.
Hina (dalam hati) :
"Riku adalah cinta pertamaku. Satu-satunya orang yang membuatku memikirkan "cinta" seperti ini. Aku tidak ingin kehilangan rasa ini…"
Matanya sedikit menghangat, tapi ia tersenyum dan ikut tertawa ketika Hina versi cerianya "bertarung" dengan Noelle dan Nerine soal makanan.
Hina : "Hei, jangan rebut laukku!"
Noelle : "Siapa cepat dia dapat!"
Nerine : "Ini perang, Hina."
Tawa pun pecah.
Di dalam tawa itu, Hina menyembunyikan kegelisahannya:
Di antara semua orang yang pernah membuangnya,
hanya Riku yang membuatnya ingin mempertahankan seseorang—
entah sebagai cinta, entah sebagai bagian penting dalam hidupnya.
Dan untuk saat ini… ia belum menemukan jawaban apakah ia akan:
terus maju mengejar perasaannya,
atau perlahan belajar merelakan.
Yang ia tahu hanya satu:
Hina (dalam hati) :
"Aku tidak ingin kehilangan Riku… baik di hatiku, maupun di hidupku yang sekarang."
apakah Hina mau tetap mengejar Riku?
