Langit di atas hutan terlarang tetap sama seperti biasa—pekat, diselimuti awan hitam yang seakan menelan cahaya.
Namun bagi Rei yang duduk sendirian di depan gerbang, malam ini terasa… berbeda.
Ia duduk bersila di atas batu datar. Di hadapannya, gerbang dimensi itu berdiri diam, garis-garis retakan ruang menyala halus seperti nadi yang berdenyut pelan.
Tiba-tiba, sesuatu bergetar di dalam dadanya.
Bukan peringatan bahaya. Bukan ancaman energi anomali. Tapi…
…rasa hangat, campur aduk, antara nyaman–malu–sesak.
Rei memejamkan mata, mengikuti aliran resonansi jiwa yang menghubungkannya dengan "dirinya" di dunia manusia.
Sekilas gambaran lewat:
Dirinya yang lain, tertidur di ranjang sempit.
Di kiri dan kanan, dua gadis elf memeluk lengan-lengannya erat—rambut perak Aelria dan rambut perak lembut Airi menempel di bahu dan dadanya.
Napas mereka stabil, wajah mereka tenang… tapi perasaan cinta mereka menekan hati jiwa itu begitu kuat sampai gelombangnya ikut terasa hingga sini.
Rei membuka mata cepat.
Wajahnya memanas.
Rei memalingkan wajah ke samping, menjauh dari pandangan gerbang seolah gerbang itu baru saja memergokinya melakukan sesuatu yang memalukan.
Rei : "…Kenapa rasanya seperti aku yang melakukan hal memalukan, padahal itu dia yang di sana."
Di samping, Lirya diam-diam memperhatikannya.
Gadis demon itu duduk tidak jauh, lutut ditarik, dagu bertumpu pada tangan. Awalnya ia hanya menatap gerbang yang sama seperti Rei. Tapi begitu melihat Rei tiba-tiba menoleh cepat dengan wajah memerah, antena demon-nya langsung menangkap ada yang aneh.
Lirya memiringkan kepala.
Lirya : "Rei, apa kau… sakit?"
Rei menggeleng cepat, masih menolak menatapnya.
Rei : "Tidak apa-apa. Hanya… sedikit efek samping dari resonansi."
Lirya menyipitkan mata. Ia berdiri, melangkah mendekat kepada Rei, lalu membungkuk di hadapan Rei.
Lirya : "Kalau tidak apa-apa, kenapa wajahmu merah seperti demon yang baru ketahuan mencuri ciuman?"
Rei : "…Perbandinganmu sangat spesifik."
Lirya tidak puas.
Ia mengangkat kedua tangannya, dengan spontan memegang pipi Rei dari kedua sisi, memaksa wajahnya menatapnya.
Kulit dingin jemari Lirya menyentuh kulit Rei yang hangat.
Wajah Rei memerah makin jelas.
Lirya tertegun.
Warna mata Rei—berbeda sisi, seperti milik jiwa di luar sana—memantulkan sedikit cahaya gerbang. Rambut putihnya jatuh berantakan di dahi, dan di antara semua aura hebat yang ia punya… sekarang ia hanya terlihat seperti pria pemalu yang tertangkap basah.
Lirya baru sadar betapa dekat jarak mereka. Jantungnya ikut berdetak kencang.
Lirya : "…"
Lalu hening seketika.
Dalam satu detik, semua keberaniannya runtuh.
Lirya buru-buru melepaskan tangannya dari pipi Rei dan mundur dua langkah, wajahnya ikut memerah hingga ke ujung telinga.
Lirya : "A-aku… hanya memastikan kau tidak demam!"
Rei menghela napas pelan, berusaha menenangkan degup jantungnya sendiri.
Rei : "Aku baik-baik saja. Hanya… sedikit terganggu dengan apa yang terjadi di sana."
Suara langkah berat terdengar mendekat. Garm muncul dari balik pepohonan, menguap dan menggaruk leher.
Garm : "Hei, kalian kenapa berdua seperti habis melakukan sesuatu yang memalukan tanpa mengajak aku—"
Ia berhenti di ambang cahaya gerbang, menyipitkan mata.
Di depannya berdiri Lirya dengan wajah merah, sementara Rei masih belum benar-benar pulih dari rasa malunya.
Garm menatap mereka bergantian, senyum nakal muncul di wajahnya.
Garm : "…Oh? Apa aku baru saja mengganggu momen penting?"
Lirya langsung melempar tatapan membunuh.
Lirya : "Diam, Garm! Tidak terjadi apa-apa!"
Rei mengusap tengkuk.
Rei : "Seperti yang Lirya bilang… tidak terjadi apa-apa di sini. Masalahnya ada… di luar sana."
Garm berjalan mendekat, menurunkan tubuhnya, bersandar pada batu di samping Rei.
Garm : "Di luar sana? Maksudmu… di jiwa satunya?"
Rei mengangguk.
Garm mencondongkan tubuh, mata bersinar ingin tahu.
Garm : "Ceritakan."
Rei diam.
Ia tahu kalau ia tidak menceritakan apa-apa, Garm akan terus bertanya semalaman. Lirya pun menatap dengan campuran penasaran dan gelisah.
Rei akhirnya menatap kembali ke arah gerbang, mencoba menyusun kata-kata yang… tidak terlalu eksplisit.
Rei : "Singkatnya… jiwa yang di luar sana sekarang sedang… tertidur…"
Ia berhenti sebentar, merasakan lagi resonansinya.
Resonansi itu seperti mimpi orang lain yang diputar di dadanya sendiri—hangat, jelas, dan memalukan.
Rei : "…diapit dua gadis elf yang mencintainya dengan sangat tulus. Keduanya memeluk lengan-lengannya dan menempel padanya seperti anak kucing."
Hening.
Garm terdiam dua detik, lalu langsung tertawa meledak.
Garm : "Pff—HAHAHAHA! Jadi maksudmu, dirimu di luar sana… dipaksa tidur satu ranjang dengan dua gadis yang jatuh cinta padanya?!"
Rei menyipitkan mata.
Rei : "Jangan katakan seolah-olah itu kejahatan berat."
Garm : "Bukan kejahatan—itu berkah!"
Ia menepuk pundak Rei keras-keras.
Garm : "Kau benar-benar manusia paling beruntung yang pernah kujumpai, Rei. Di sini menjaga gerbang, di sana dijaga dua gadis elf. Dunia ini tidak adil."
Rei menarik napas lewat hidung, pelan.
Rei : "Yang di sana itu bukan 'keberuntungan'. Itu hasil dari semua luka yang ia jalani. Dua gadis itu ada di sampingnya… karena mereka tidak ingin ia hancur untuk kedua kalinya."
Garm agak meredam tawanya, mengangguk kecil.
Garm : "Ya, ya… aku tahu. Tapi tetap saja, kau tidak bisa menghentikanku untuk iri sedikit."
Rei tidak menjawab, tapi di sudut bibirnya ada senyum kecil.
Di sisi lain, Lirya mendengarkan cerita itu dengan hati yang… sedikit sakit.
Gambaran yang tergambar di kepalanya:
Jiwa Rei di luar sana, tertidur tenang.
Dua gadis elf melingkarkan tangan pada tubuhnya, tanpa ragu menunjukkan rasa sayang mereka.
Pria itu tersenyum kecil sebelum tertidur… dengan keyakinan bahwa ia tidak sendirian lagi.
Lirya menunduk, menggenggam jubahnya.
Lirya (dalam hati) : "Jika suatu hari… jiwa itu dan Rei yang di sini menjadi satu… maka semua perasaan yang dimilikinya untuk gadis-gadis itu akan ikut menjadi perasaan Rei juga. Orang yang ia cinta… akan bertambah. Tapi… apakah aku… akan masuk di antara mereka? Atau hanya berdiri di pinggir, melihat dari jauh?"
Ia menggigit bibir pelan.
Tapi kemudian, ia teringat jawaban Rei tadi siang—bahwa ketika mereka jadi satu, semua kenangan, cinta, dan rasa sakit akan menyatu, tidak ada yang dihapus.
Termasuk… orang-orang di sekitar Rei di dunia ini.
Rei, yang masih memandang gerbang, tiba-tiba berbicara pelan, seolah tahu ada hati yang sedang goyah di sampingnya.
Rei : "Hei, Lirya."
Lirya mengangkat wajah.
Lirya : "Apa?"
Rei : "Kau tidak perlu terlalu memikirkan masa depan sejauh itu. Bahkan kalau aku dan dia jadi satu… aku tidak akan melupakan kalian berdua—kau dan Garm."
Lirya menatapnya lekat-lekat.
Lirya : "Kau bilang begitu… tapi kalau suatu saat jiwamu di luar sana semakin dikelilingi gadis-gadis seperti itu, bukankah aku akan kalah jauh?"
Rei mengangkat bahu.
Rei : "Kalau kau takut kalah…"
Ia menoleh, tersenyum tipis.
Rei : "…jadilah lebih berani dari mereka."
Kata-kata itu menancap dalam di hati Lirya.
Lirya menatap kembali ke arah gerbang.
Lirya (dalam hati) :
"Lebih berani… ya?"
Ia mengepalkan tangan kecilnya.
Lirya (dalam hati) : "Baik. Kalau elf-elf di luar sana bisa memeluknya tanpa ragu… aku juga tidak akan kalah menyedihkan. Aku… akan menciptakan momen bahagia untuk diriku sendiri bersama Rei di sini, sebelum jiwanya kembali utuh."
Di sampingnya, Garm melihat ke langit hutan terlarang, mengingat gadis yang selama ini diam-diam ia kagumi di kotanya sendiri.
Garm (dalam hati) :
"Sepertinya bukan hanya jiwa di luar sana yang harus lebih berani."
Tiga sosok itu—manusia reinkarnator, demon yang keras kepala, dan beastkin yang setia—kembali menatap gerbang yang tenang.
Di satu sisi dunia, Rei tertidur diapit dua gadis yang bersumpah tidak akan membiarkannya hancur lagi.
Di sisi lainnya, di depan gerbang yang ia jaga, dua sahabatnya diam-diam memutuskan hal yang sama:
Mereka tidak akan membiarkan Rei yang di sini… menanggung segalanya seorang diri.
