Garm menatap Rei beberapa saat, masih teringat perkataan tadi.
Garm : "Tadi kau bilang… gadis-gadis itu datang karena luka yang dialami jiwamu di luar sana. Aku belum tahu ceritanya sedetail itu."
Lirya ikut mengangguk, mata ungunya menatap Rei dengan serius.
Lirya : "Kalau boleh… ceritakan semuanya. Tentang jiwa lainmu. Tentang hidupnya di dunia manusia."
Rei terdiam.
Ia memejamkan mata, menarik napas pelan. Angin dingin hutan terlarang berhembus pelan, menggoyangkan rambut putihnya.
Rei : "…Sebelum aku bercerita, ada satu syarat."
Ia membuka mata, menatap mereka berdua bergantian.
Rei : "Setelah kalian mendengar semuanya, jangan terbawa emosi. Jangan menghancurkan apa pun di sekitar gerbang. Jangan melakukan tindakan nekat."
Garm mengangkat alis, seolah meragukan.
Garm : "Sampai sejauh itu peringatannya? Memangnya sekelam apa ceritanya?"
Lirya menautkan jari-jarinya, namun mengangguk.
Lirya : "Baik. Aku janji… akan mencoba menahan diri."
Garm mengangkat tangan.
Garm : "Kalau hanya menahan diri tidak merobohkan hutan, aku juga janji."
Rei menatap mereka beberapa detik, memastikan, lalu menghela napas panjang.
Rei : "Baik. Dengarkan pelan-pelan…"
Ia menoleh ke gerbang, seolah memanggil kenangan dari sisi lain dimensi.
Suara Rei berubah sedikit lebih lembut—bukan karena ia sedang sentimental, tapi karena beban cerita itu sendiri.
Rei : "Di dunia manusia… dia hidup sebagai Hirashi Rei, manusia biasa. Saat SMP, di kelas tiga, dia bertemu seorang gadis elf bernama Aelria. Di saat ras lain dan manusia menjauhinya, 'Rei' yang di sana adalah satu-satunya yang mengulurkan tangan. Mereka berjalan pulang bersama, belajar bersama… sampai masuk SMA yang sama."
Ia tersenyum tipis.
Rei : "Di SMA, mereka bertemu seorang gadis manusia bernama Mina. Aelria mengenalkannya, bertiga mereka tertawa, belajar, melewati hari-hari… sampai akhirnya Rei menyatakan cinta kepada Mina."
Lirya mendengarkan tanpa berkedip.
Garm menyandarkan punggung ke batu besar.
Rei melanjutkan.
Rei : "Cincin di jari Mina… kecurigaan-kecurigaan kecil yang ditelan mentah-mentah dengan alasan 'dia hanya berlebihan'… semua itu Rei abaikan karena dia ingin percaya. Aelria menyaksikan semua itu dari samping, menekan perasaan sendiri demi tidak kehilangan dua orang yang ia sayangi."
Lirya menggigit bibir, sudah mulai merasa tidak enak.
Rei : "Lalu hari itu datang. Sahabat elf-nya pulang ke dunianya. Rei kehilangan satu pilar hidupnya. Yang tersisa hanya Mina… atau setidaknya, itu yang ia pikirkan."
Ia menunduk sedikit.
Rei : "Di halaman belakang sekolah, Rei melihatnya. Kekasih yang ia jaga… berciuman dengan ketua OSIS, seorang beastkin bernama Kurogane Hayato. Bukan sekadar kecelakaan—hubungan yang sudah berjalan hampir satu tahun di belakangnya."
Aura di sekitar Lirya dan Garm mulai berubah pelan-pelan.
Rei : "Mina yang bilang, ia butuh seseorang yang bisa melindunginya. Bahwa manusia biasa tanpa kekuatan sepertinya… tidak pantas berjalan di sisinya. Bahwa tampan saja tidak cukup kalau tak punya kekuatan untuk melindungi."
Nada Mina saat itu terlalu tenang—seolah yang ia hancurkan hanya jadwal makan siang.
Garm mengepal tangan, kuku-kuku menekan telapak tangannya.
Lirya menunduk, bahunya menegang.
Rei : "Dia tertawa… menatap langit sambil menutup mata kirinya. Bukan karena ia baik-baik saja, tapi karena kalau tidak tertawa, ia akan jatuh. Ia berterima kasih atas cinta palsu itu… lalu pergi."
Suara Rei tetap datar, tapi getaran halusnya tak bisa sepenuhnya ia sembunyikan.
Rei : "Ia berdiri di jembatan, bermandikan hujan. Kehilangan orang tua karena kecelakaan. Kehilangan sahabat ke dunia lain. Dikhianati cinta, direndahkan sebagai manusia tanpa kekuatan. Ia sempat berpikir… mungkin memang dunia tidak menginginkan keberadaannya."
Sejenak, tak ada yang bersuara.
Rei : "Tapi ia ingat janji Aelria—'jangan hancur kalau dunia berubah'. Jadi ia urungkan niatnya melompat, membuang barang-barang pemberian Mina ke sungai, dan memutuskan pindah sekolah… memulai hidup baru."
Ia mengangkat pandangannya lagi.
Rei : "Di sekolah baru, ia bertemu orang-orang yang kelak menjadi sahabatnya: Riku, Airi, Rika, Hina. Pada awalnya… cemburu, salah paham, bahkan luka di punggung akibat sparring tidak adil. Tapi pada akhirnya… mereka yang jadi tempatnya tertawa lagi."
Lirya mengangkat kepala sedikit, napasnya berat.
Rei : "Di sana juga, ia menghadapi monster anomali yang menyerang kota dan sekolah. Melihat teman-temannya hampir mati. Menyadari betapa tidak bergunanya dirinya jika ia tetap diam. Di titik itu… segel yang kutanam di dalam jiwanya mulai retak, dan ia memotong monster itu dalam satu tebasan."
Garm mengangguk pelan—bagian ini setidaknya sudah pernah ia dengar sepintas.
Rei : "Tapi luka terdalamnya tetap sama: Mina dan Hayato. Pengkhianatan itu tidak hilang hanya karena ia punya teman baru."
Ia menyelesaikan ceritanya dengan bagian paling akhir.
Rei : "Dan akhirnya… sahabat elf yang dulu ia lepaskan di gerbang—Aelria—datang mencarinya ke dunia manusia, membawa serta teman-temannya. Mereka menemukan Rei di apartemen kecilnya, duduk di antara tetangga-tetangga baik hati dan teman-teman yang baru mengenalnya… tapi menyayanginya karena dirinya, bukan karena kekuatan."
Rei menghela napas panjang, seolah menutup lembaran cerita.
Rei : "Gadis-gadis yang ku ceritakan di sisinya sekarang… bukan datang karena dia 'keren' atau 'kuat'. Mereka datang… karena mereka tahu betapa dalam lukanya."
Hening.
Lalu, pelan-pelan, udara di sekitar gerbang berubah.
Dari Lirya, aura gelap mulai merembes keluar—tekanan iblis yang biasanya ia jaga rapat-rapat. Dari Garm, hawa buas beastkin langsung melonjak, seolah ia berada di medan perang.
Mulut Lirya tertarik dalam geram.
Lirya : "Ras manusia… aku tahu mereka licik. Tapi bermain-main dengan hati sesama manusia sampai berkata seperti itu? 'Tidak pantas berjalan di samping'?"
Ia melayang sedikit dari tanah, rambutnya berkibar.
Lirya : "Kalau aku ada di sana, gadis itu sudah kubuat berlutut meminta maaf seumur hidupnya!"
Di sisi lain, Garm berbalik mendadak, berjalan cepat menuju pohon besar di belakang mereka.
Garm : "Beastkin sepertiku punya kebanggaan. Mendengar ada beastkin seperti Hayato… membuatku muak."
Tanpa menahan diri, ia menarik bahunya ke belakang dan menghantamkan tinjunya ke batang pohon.
Suara DUUUM! berat menggema di hutan terlarang. Pohon itu bergetar hebat, daun-daunnya berjatuhan. Tanah di sekitarnya sampai retak kecil.
Aura membunuh mereka berdua bergulung seperti badai. Udara di sekitar gerbang menjadi mencekik. Hawa pekat menyebar ke segala arah, membuat hutan terlarang yang biasanya sunyi kini terasa seperti medan perang yang tertahan.
Rei hanya… tersenyum tipis.
Rei : "Aku sudah bilang… jangan nekat."
Ia bangkit berdiri, melangkah cepat. Dalam satu gerakan sederhana—tanpa aura, tanpa ancaman—ia meninju kepala Garm dari samping, dan menepuk keras kepala Lirya dari atas.
Karena Rei tahu—kalau kalau dibiarkan, aura mereka bisa mengganggu segel.
PLAK!
DOK!
Garm dan Lirya sama-sama tersentak.
Garm : "A-aduuh!"
Lirya : "Hei! Untuk apa—"
Rei menatap mereka datar, tapi di matanya ada sedikit lelah.
Rei : "Baru saja berjanji tidak menghancurkan apa pun di sekitar gerbang… dan lihat apa yang kalian lakukan."
Garm menggaruk kepala yang sakit, aura membunuhnya mereda sedikit demi sedikit.
Garm : "Bagaimana aku tidak marah?! Ada beastkin yang memperlakukan manusia biasa seperti sampah, menjadikan pengkhianatan seperti hal sepele. Itu mencoreng kehormatan ras kami."
Lirya juga mengusap kepalanya yang habis ditepuk.
Lirya : "Dan gadis manusia itu… Mina. Menghinakan jiwa yang sama denganmu hanya karena tidak punya kekuatan. Bahkan demon sepertiku… tidak serendah itu untuk mempermainkan perasaan ras lain. Kalau kami benci, kami bilang benci dari awal, bukan pura-pura mencintai lalu menusuk dari belakang."
Aura keduanya masih ada, tapi sudah jauh lebih terkendali.
Garm memandang Rei lekat-lekat.
Garm : "Lalu kau sendiri? Kau bercerita begini… seolah itu hanya dongeng orang lain. Tidakkah kau marah? Yang mengalami semua itu adalah bagian dari jiwamu sendiri. Kau merasakannya, bukan?"
Lirya mengangguk cepat, masih kesal.
Lirya : "Jika perlu, biarkan aku pergi ke dunia manusia. Aku akan mencari Mina dan Hayato, dan memastikan mereka menyesal seumur hidup."
Rei menatap mereka… lalu tiba-tiba tertawa pelan.
Rei : "Kalian berdua… lebih jujur dari yang kalian kira."
Ia kembali duduk, menatap ke langit gelap hutan terlarang.
Rei : "Bukan berarti aku tidak marah. Saat pertama kali merasakan apa yang ia rasakan di jembatan itu… aku hampir kehilangan kendali."
Ia mengangkat tangannya, menunjuk ke arah kejauhan—arah yang Garm dan Lirya kenal.
Seketika suara hutan berhenti. Bahkan retakan gerbang seperti menahan napas.
Rei : "Kalian ingat… tempat itu?"
Mereka berdua mengikut arah telunjuk Rei.
Jauh di balik pepohonan, di sisi lain hutan, terbentang dataran tandus—tanah yang hangus, pohon-pohon yang tercabik dari akarnya, batu-batu besar terbelah seolah dihantam sesuatu yang tak masuk akal. Sejak pertama kali melewati daerah itu, baik Lirya maupun Garm hanya sepakat pada satu hal: tempat itu… menakutkan.
Garm menelan ludah.
Garm : "Tanah kosong… yang seperti habis terjadi perang besar itu…"
Lirya merasakan lagi ingatan pertama kali lewat sana—napasnya sesak, energi pekat menusuk kulit.
Lirya : "…Tempat itu… bahkan raja demon pun akan berpikir dua kali untuk bermain-main di sana."
Rei menurunkan tangannya.
Rei : "Itu… hasil dari aku melepaskan sebagian kemarahan, ketika pertama kali tahu apa yang dialami jiwaku di luar sana."
Hening.
Kali ini, bukan karena emosi—tapi murni ngeri.
Garm merinding, bulu-bulu halus di tengkuknya tegak berdiri.
Garm (dalam hati) :
"Itu baru 'sebagian'… dan baru 50% dari kekuatan aslinya…"
Ia tiba-tiba percaya penuh pada kalimat Rei sebelumnya—bahwa sekarang ia belum dalam kondisi penuh. Dan membayangkan Rei dengan 100% kekuatan… membuat bulu kuduknya memohon ampun.
Lirya menggenggam jubahnya lebih erat.
Lirya (dalam hati) : "Ini… pertama kalinya aku merasa takut melebihi saat berhadapan dengan raja-raja ras besar sekalipun…"
Rei berdiri, menepuk pundak keduanya bergantian.
Rei : "Jadi, bukan aku tidak marah. Aku hanya… tidak bisa membiarkan emosiku menghancurkan dunia ini atau dunia manusia."
Ia tersenyum tipis.
Rei : "Lagipula, aku bukan penjahat yang ingin menguasai dunia, atau menghancurkan semuanya hanya demi melampiaskan dendam."
Ia kembali duduk di posisi semula, menatap gerbang, aura kembali tenang seperti permukaan danau.
Rei : "Tugasku di sini menjaga tiga dunia tetap stabil tanpa saling membunuh. Kalau gerbang ini aman… mungkin suatu hari aku sendiri yang akan datang, mencari Mina dan Hayato, dan… menyelesaikan urusan itu dalam kurang dari satu detik."
Nada suaranya datar. Tanpa kesombongan, tanpa emosi berlebihan. Justru karena itu, kalimatnya terasa lebih menakutkan.
Garm menghembuskan napas panjang, aura buasnya mereda.
Garm : "Baiklah… aku mengerti. Untuk sekarang, aku serahkan semua pada dirimu… dan jiwamu di luar sana."
Lirya masih sedikit pucat, tapi akhirnya duduk kembali di samping Rei.
Lirya : "…Aku tidak akan mengampuni gadis itu dalam hatiku. Tapi… aku tidak akan gegabah. Kalau suatu hari… kau butuh seseorang untuk berdiri di sisimu saat kau menyelesaikan urusan itu… panggil aku."
Rei melirik mereka, lalu mengangguk pelan.
Rei : "Baik. Sampai saat itu datang… tolong tetap duduk di sini bersamaku, menjaga gerbang ini tetap tenang."
Garm tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.
Garm : "Tentu. Kalau aku lari sekarang, siapa yang akan menertawakanmu saat wajahmu kembali memerah karena resonansi jiwa?"
Lirya langsung menoleh tajam.
Lirya : "Kau mau kutendang keluar hutan terlarang sekarang juga?"
Rei hanya menghela napas, tapi di sudut bibirnya ada senyum halus.
Di depan mereka, gerbang dimensi berdenyut pelan—menghubungkan dunia yang penuh luka, cinta, dan amarah… dengan seorang penjaga yang memaksa dirinya tetap duduk diam di tengah semuanya.
Dan malam itu, Rei sadar—menahan amarah jauh lebih melelahkan daripada melepaskannya.
