Cherreads

Chapter 37 - Gerbang Tiga Dunia

Di hutan terlarang, gerbang itu masih berdiri diam—seperti luka di udara yang belum pernah benar-benar sembuh. Cahaya retakannya berdenyut pelan, seolah mengeluarkan napas sendiri.

Rei duduk bersila di tanah, menatap gerbang tanpa berkedip. Di sebelahnya, Lirya ikut duduk, tangan disatukan di atas lutut, ekor kecilnya bergerak pelan—kadang gugup, kadang tenang.

Beberapa langkah di belakang mereka, Garm berdiri bersandar pada pohon besar, baru saja selesai menghela napas panjang setelah memikirkan gadis yang diam-diam ia kagumi di kota.

Akhirnya ia mendorong tubuhnya menjauh dari batang pohon dan berjalan mendekati keduanya.

Garm : "Rei."

Rei menoleh sedikit, lalu kembali menatap gerbang.

Rei : "Hm?"

Garm berhenti tepat di belakang mereka, kemudian duduk juga, menyilangkan kaki. Tanah bergetar sedikit karena ukuran tubuhnya.

Garm : "Ada satu hal yang dari dulu ingin kutanyakan."

Lirya ikut menatap Rei. Ia juga sudah lama menyimpan rasa penasaran yang sama.

Lirya : "…Aku juga ingin tahu."

Rei diam, menunggu.

Garm menatap gerbang lebar-lebar.

Garm : "Gerbang ini. Apa sebenarnya gerbang ini… dan apa hubungannya dengan gerbang-gerbang lain di kerajaan, dan juga di dunia manusia?"

Lirya mengangguk, menambahkan dengan serius:

Lirya : "Bukannya semua gerbang dimensional sama saja fungsinya? Jadi kenapa sampai kau menyegel gerbang ini sendirian, dan menjaganya seperti ini? Apa yang berbeda?"

Suasana mendadak lebih berat.

Rei menghela napas dalam, bahunya naik turun pelan.

Beberapa saat ia hanya menatap gerbang, seolah sedang memilih kata.

Baru kemudian ia berbicara.

Rei : "Secara bentuk… gerbang ini tidak jauh berbeda dari gerbang lain. Sama-sama menghubungkan dunia kalian dan dunia manusia."

Ia mengangkat telunjuk, menunjuk pusat retakan.

Rei : "Yang membuatnya berbeda adalah… ini bukan hanya penghubung dua dunia."

Mata Lirya dan Garm sama-sama menyipit.

Lirya : "…Maksudmu?"

Rei : "Di balik dua dunia yang kalian tahu… ada satu lagi dunia yang terhubung ke gerbang ini."

Ia tersenyum tipis, tanpa humor.

Rei : "Dunia asliku."

Keheningan menelan hutan beberapa detik.

Angin yang lewat seolah menahan napas.

Garm : "Jadi… di luar dunia kami dan dunia manusia… masih ada satu dunia lagi? Duniamu sendiri?"

Lirya memelototi gerbang, seolah berharap bisa melihat sekilas dunia ketiga itu di antara retakan.

Lirya : "Dan semua itu… bertemu di gerbang ini?"

Rei mengangguk pelan.

Rei : "Dulu, saat aku keluar dari gerbang ini… energi yang keluar dari sana kacau—Energi anomali. Fragmen-fragmen sesuatu dari duniaku yang berusaha merembes ke sini dan ke dunia manusia."

Ia mengepalkan tangannya di atas lutut.

Rei : "Kalau dibiarkan… dunia kalian dan dunia manusia akan terkikis, lalu hancur. Pelan-pelan. Bukan dalam sehari… tapi dalam generasi."

Lirya menggigit bibir.

Lirya : "Jadi… alasan kau menyegel gerbang ini…"

Rei menggeleng.

Rei : "Yang kusegel bukan gerbangnya."

Ia mengetuk tanah dengan ujung jarinya.

Rei : "Yang kusegel adalah energi anomali di baliknya. Aku memakai kekuatan ruang untuk membentuk lapisan penghalang antara dunia ini, dunia manusia, dan… duniaku."

Garm menatap Rei lekat-lekat.

Garm : "Seorang diri?"

Rei : "Seorang diri."

Ia mengangkat tangan, seolah merasakan sesuatu di udara.

Rei : "Itu juga sebabnya aku bisa mengirim jiwa lainku melewati gerbang ini dulu. Seperti melempar sebagian diriku ke jalur yang lebih aman… ke dunia manusia."

Lirya menatapnya, kaget.

Lirya : "Jadi… waktu kau bilang jiwa di luar sana adalah dirimu juga… itu karena…"

Rei mengangguk.

Rei : "Karena jalur jiwa itu lewat sini. Lewat gerbang ini."

Hening lagi.

Garm dan Lirya saling pandang. Mereka tahu gerbang-gerbang dimensional berbahaya, tapi ini… level yang berbeda.

Garm menghembuskan napas keras.

Garm : "Kalau begitu… apa ada solusi lain? Selain duduk di sini sepanjang waktu menutup kebocoran seorang diri?"

Lirya memajukan tubuh sedikit, tatapannya serius.

Lirya : "Kalau ada cara lain… aku juga ingin membantu menanggungnya. Ini bukan hanya masalahmu. Ini sudah menyangkut dunia kami juga."

Rei tersenyum kecil—kali ini lebih hangat.

Rei : "Niat kalian saja sudah cukup berat untuk kubawa."

Lalu ia menggeleng pelan.

Rei : "Ada satu cara. Tapi… belum sekarang."

Lirya : "Kenapa?"

Rei menatap gerbang, matanya meredup sedikit.

Rei : "Karena aku masih terlalu lemah."

Lirya tersentak.

Lirya : "Lemah…? Kau?"

Garm tertawa pendek, seperti tidak percaya.

Garm : "Kalau kau yang sekarang masih menyebut dirimu lemah… lalu kami ini apa? Bayi yang baru bisa merangkak?"

Rei mengangkat bahu tipis.

Rei : "Kurang lebih."

Garm : "…"

Lirya : "…"

Garm mencondongkan tubuh.

Garm : "Kalau begitu—seberapa kuat sebenarnya dirimu?"

Rei diam sebentar, lalu menjawab tanpa nada sombong, hanya sekadar menyatakan fakta.

Rei : "Sekarang… kekuatanku baru sekitar lima puluh persen dari aslinya."

Lirya terpaku.

Lirya : "Lima… puluh… persen?"

Garm menatapnya seperti baru mendengar lelucon gila sembari menggaruk pipinya.

Garm : "Jadi kau mau bilang, apa yang kulihat selama ini—kekuatanmu melumat anomali, menjaga gerbang siang malam—itu baru setengah serius?" 

Rei : "Saat itu mungkin belum sampai lima puluh persen, kalau aku jujur."

Ia menyandarkan punggung ke batu di belakangnya.

Rei : "Ini konsekuensi dari caraku… bereinkarnasi."

Lirya mengerjap.

Lirya : "Reinkarnasi…? Kau bilang tadi… kau satu-satunya manusia yang bisa melakukannya…"

Rei mengangguk pelan.

Rei : "Aku sudah melakukannya dua kali."

Ia mengangkat dua jari.

Rei : "Pertama, di duniaku sendiri. Kedua, ketika aku memutuskan untuk ke dunia kalian dan menjaga gerbang ini."

Lirya menatap Rei, seolah baru benar-benar menyadari seberapa "jauh" jarak usia jiwa mereka.

Lirya : "Jadi… umurmu sebenarnya…"

Rei tersenyum miring.

Rei : "Kalau dihitung dari kehidupan pertamaku… kalian semua masih bocah di mataku."

Garm menghela napas berat.

Garm : "Tidak sopan, tapi aku tidak bisa membantah."

Lirya menunduk sembari meremas roknya, pipinya sedikit memerah—antara kagum, shock, dan… sedikit kesal karena selama ini ia menganggap Rei sebaya.

Lirya : "Lalu… kekuatanmu yang disebut 'reinkarnasi' itu… kekuatan khusus dari duniammu?"

Rei menggeleng pelan.

Rei : "Lebih tepatnya, kombinasi… kontrak, keputusan bodoh, dan sedikit keberuntungan. Di duniaku, tidak ada manusia lain yang melakukannya. Dan di dunia kalian, sejauh yang kutahu… aku satu-satunya."

Garm bersandar ke belakang, menatap langit.

Garm : "Jadi selama ini aku bertarung dan bercanda dengan seseorang yang bisa mati dua kali dan tetap kembali duduk di sini menjaga gerbang…"

Ia tertawa pendek.

Garm : "Tiba-tiba aku merasa latihan push-upku sangat tidak berarti."

Lirya menatap Rei lagi, kali ini dengan campuran rasa kagum dan… cemas.

Lirya : "Kalau begitu, selain 'ruang' yang kau pakai untuk menyegel energi anomali… kekuatan apa lagi yang kau punya?"

Rei menatapnya balik.

Rei : "Kenapa? Takut?"

Lirya memutar wajah.

Lirya : "Hanya… ingin tahu. Kalau suatu hari aku bertarung di sampingmu… aku tidak mau mati karena kaget oleh kekuatanmu sendiri."

Rei tertawa kecil, suara yang jarang keluar.

Rei : "Kekuatan utamaku hanya dua."

Ia mengangkat dua jari lagi.

Rei : "Ruang… dan insting."

Lirya mengerjap.

Lirya : "Insting?"

Garm mengerutkan kening.

Garm : "Insting seperti… naluri bertarung?"

Rei mengangguk.

Rei : "Naluri untuk memilih, menghindar, menyerang, memutuskan. Kadang tanpa sempat berpikir."

"Kadang insting itu menarikku bergerak satu langkah dulu… baru bahaya muncul."

Ia menutup mata sebentar.

Rei : "Dua hal itu yang paling sering menyelamatkan hidupku. Ruang, dan insting."

Lirya mencondongkan tubuh sedikit.

Lirya : "Dan selain itu?"

Rei membuka mata, menatap mereka berdua bergantian.

Rei : "Selain itu… belum bisa kuceritakan."

Lirya : "Kenapa?"

Rei : "Karena kalau kuceritakan sekarang, kalian akan sibuk membayangkan… bukan fokus menjadi kuat dengan cara kalian sendiri."

Ia kembali menatap gerbang.

Rei : "Lagipula, cepat atau lambat… kalian akan melihatnya sendiri. Tanpa perlu aku jelaskan."

Garm menghela napas panjang.

Garm : "Aku tidak tahu harus takut atau menunggu hari itu dengan semangat."

Rei : "Kalau aku jadi kalian, aku akan fokus dulu agar tidak mati sebelum hari itu tiba."

Lirya tertawa kecil, pelan, namun tulus.

Lirya : "Kalimat yang menenangkan sekaligus mengancam."

Rei hanya mengangkat bahu.

Hutan terlarang kembali sunyi, tapi kali ini… bukan sunyi yang kosong.

Di depan gerbang yang menghubungkan tiga dunia—dunia hutan terlarang, dunia manusia, dan duniaku yang jauh—tiga sosok itu duduk berjajar:

seorang manusia yang telah mati dua kali dan kembali,

seorang gadis demon yang mencoba mengalahkan ketakutannya sendiri,

dan seorang beastkin yang diam-diam menyimpan perasaan hangat untuk seseorang di luar sana.

Dengan satu kenyataan baru:

Beban gerbang ini tidak lagi terlihat seperti beban satu orang.

Meski untuk saat ini, hanya satu yang mampu menahan energi anomali itu,

dua hati di sampingnya sudah mulai bersiap untuk ikut menanggung dunia.

More Chapters