Cherreads

Chapter 28 - Arc Airi - Airi, Ibunya, dan Luka yang Sudah Mengering

Malam itu, di dunia manusia yang sudah bercampur dengan ras lain, ada satu kisah kecil yang diam-diam ikut mengikat langkah Rei.

Di sebuah gang yang tenang tidak jauh dari jalan utama, berdiri sebuah rumah kecil dua lantai. Di lantai bawahnya, ada toko kue mungil dengan papan kayu sederhana bertuliskan:

Pâtisserie Elfia

Aroma manis selalu mengalir keluar dari sana—campuran butter, gula, dan sedikit sihir pemanggil selera.

Di lantai atas, Airi tinggal bersama satu-satunya keluarga yang tersisa: ibunya.

Beberapa tahun lalu, saat Airi masih duduk di kelas 3 SMP umur 15, dunia mereka runtuh dalam satu hari.

Ayah Airi—seorang elf yang bekerja di proyek konstruksi gedung tinggi—terjatuh dari ketinggian karena kecelakaan kerja. Tidak ada sihir penyembuh secepat apa pun yang bisa menyelamatkan luka itu.

Airi masih ingat hari mereka menerima kabar itu:

ibunya terduduk di lantai, tangan gemetar,

Airi memeluk lengan ibunya, menangis sampai kehabisan suara,

rumah yang tadinya terasa hangat mendadak seperti ruang kosong.

Setelah pemakaman, ada masa di mana ibunya hanya duduk lama di meja dapur, menatap kosong adonan roti yang tidak pernah selesai.

Tapi kemudian, pelan-pelan, hidup memaksa mereka bergerak lagi.

Ibunya membuka kembali keahlian lamanya: membuat kue. Dengan tabungan yang tersisa, dan sedikit bantuan kerabat dari dunia elf, ia menyewa ruang kecil di lantai bawah rumah mereka, menjadikannya toko kue.

Sejak itu, hari-hari mereka berjalan seperti ini:

Pagi: ibunya membuatkan sarapan dan bekal, sambil bercanda kecil dengan Airi sebelum berangkat sekolah.

Siang: ibunya bekerja di toko kue, melayani pelanggan dengan senyum hangat.

Sore hingga malam: Airi pulang, mandi, lalu turun membantu di toko—mengelap meja, membantu di kasir, atau mengantarkan pesanan.

Luka kehilangan ayah tidak pernah benar-benar hilang, tapi Airi menyimpannya dalam-dalam dan mengubahnya jadi tekad.

Airi (dalam hati) : "Aku harus hidup baik-baik. Harus jadi kuat. Harus lulus dari akademi sihir terbaik, agar Ibu tidak perlu khawatir lagi, dan Ayah di sana bisa tenang."

Airi di Sekolah – Gadis Elf yang Dihormati

Di sekolah elite tempat berbagai ras berbakat berkumpul di Jepang, Airi dikenal sebagai:

murid elf yang tenang,

pintar di akademik,

kemampuan sihir stabil dan elegan,

dan yang paling penting: selalu sopan dan lembut kepada semua ras.

Banyak siswa—manusia, beastkin, bahkan ras lain—menghormatinya. Beberapa mencoba mendekat sebagai teman, beberapa sebagai pengagum.

Sering, di sela-sela jam istirahat, teman-temannya suka menggoda.

Teman 1 : "Airi, tadi murid tahun kedua dari kelas sebelah nanya lagi loh, kau sudah punya pacar atau belum."

Teman 2 : "Iya, iya, dan ada beastkin tadi yang bilang, kalau Airi mau, dia siap jadi penjaga toko kue keluargamu seumur hidup."

Airi hanya tersenyum halus.

Airi : "Aku senang bisa dihargai, tapi… sekarang aku tidak punya waktu memikirkan hal seperti itu. Aku harus fokus belajar, dan melatih sihir. Ibu menungguku berhasil."

Teman 1 menghela napas dramatis.

Teman 1 : "Sungguh, idealisme seorang calon mahasiswi universitas sihir."

Teman 2 : "Tapi suatu hari, cinta bisa datang tiba-tiba, tahu."

Airi hanya tertawa kecil saat itu.

Airi : "Kalau cinta datang… biarkan dia berdiri di luar pintu dulu. Aku masih harus belajar."

Ia benar-benar yakin dengan kata-katanya.

Sampai seorang siswa pindahan berambut putih dengan mata berbeda muncul di sekolah itu.

Pertemuan Pertama – Perpustakaan

Awalnya, Airi hanya mendengar namanya dari gosip teman-teman.

Teman 1 : "Kau sudah lihat murid baru itu? Rambut putih, satu mata beda warna. Katanya dia manusia tanpa skill, tapi wajahnya…"

Teman 2 : "Rei. Itu panggilan yang kudengar di koridor. Kontras sekali—manusia biasa di sekolah elit campuran."

Teman 1 melirik Airi penuh senyum nakal.

Teman 1 : "Airi, kau tidak tertarik mengintip sedikit? Siapa tahu idealisme-mu goyah."

Airi menggeleng, tersenyum tenang.

Airi : "Tidak perlu. Aku yakin dia punya banyak orang yang tertarik. Lebih baik aku ke perpustakaan."

Namun hari itu, takdir punya rencana lain.

Di perpustakaan, Airi mencari buku mengenai teori sihir dan struktur mana. Ia menemukan meja kosong dan duduk, tenggelam dalam bacaan.

Beberapa menit berlalu… sampai tiba-tiba, cahaya di atas bukunya sedikit terhalang.

Airi mengangkat wajah.

Di seberang meja, duduk seorang siswa:

rambut putih,

mata kanan hitam, mata kiri biru,

seragamnya rapi,

wajahnya serius tapi tenang.

Tangan Rei memegang buku, satu lagi menulis sesuatu di buku catatan kecil. Gerakannya stabil, rapi, seolah benar-benar terbiasa memproses informasi sendiri.

Airi terpaku sejenak.

Airi (dalam hati) : "Ini… siswa yang mereka bicarakan?"

Ia memperhatikan sekilas:

cara Rei menekuk alis saat membaca bagian sulit,

cara ia menghentikan pena sebentar, memikirkan sesuatu, lalu menulis lagi,

dan tatapannya yang fokus, tanpa peduli siapa saja yang lewat di sekitar.

Airi sedikit menelan ludah.

Airi (dalam hati) : "Memang… tampan."

Ia langsung menggeleng pelan, menegur dirinya sendiri.

Airi (dalam hati) : "Tidak, tidak. Ingat tujuanmu. Ini hanya murid baru yang serius belajar. Kau juga harus fokus."

Ia buru-buru kembali menatap bukunya, bahkan menutupi sebagian wajah dengan buku.

Tapi tiap beberapa halaman, matanya bergerak sedikit—sekilas saja—mencuri pandang ke depan.

Rei tidak menyadari. Ia tetap membaca dan menulis, seperti dunia di sekitarnya mengecil jadi huruf dan kalimat.

Nama "Rei" dan Bayangan yang Susah Hilang

Hari-hari berikutnya, Airi mencoba kembali ke rutinitasnya.

Tapi, sesuatu sudah bergeser.

Setiap kali ia keluar kelas menuju kantin, atau berjalan di koridor, ia sering melihat sosok yang kini mudah dikenali:

rambut putih mencolok,

satu mata beda warna,

langkah yang tenang.

Rei sering menyapa siapa pun yang memanggil namanya dengan senyum kecil.

Rei : "Pagi."

Rei : "Selamat siang."

Rei : "Terima kasih."

Airi mendengarnya beberapa kali.

Siswa lain memanggil:

Siswa : "Rei! Ayo ke kantin bareng!"

Dari situ, Airi tahu nama panggilannya.

Airi (dalam hati) : "Rei…"

Nama itu melekat di kepalanya. Dan masalahnya, semakin ia mencoba mengabaikan, semakin sering wajah Rei muncul di benaknya setiap ia menutup mata.

Saat pelajaran, ia sempat beberapa kali kehilangan fokus.

Guru : "Airi-san? Bisa kau lanjutkan penjelasan teorinya?"

Airi tersentak halus.

Airi : "Maaf… ya, tentu."

Nilainya tidak turun, tapi ia tahu ada sesuatu yang berubah.

Airi (dalam hati) : "Ini berbahaya. Aku… tidak boleh dikuasai perasaan seperti ini."

Namun hati seorang gadis tidak bisa begitu saja tunduk pada logika.

Toko Kue – "Jodoh" versi Ibu

Hari itu, setelah pulang sekolah, Airi mengikuti rutinitas biasa:

pulang ke rumah,

mandi,

ganti pakaian kasual,

turun ke lantai bawah untuk membantu di toko kue.

Sore itu cukup ramai, tapi menjelang senja, pelanggan mulai berkurang. Ibunya sedang di dapur, menyiapkan adonan untuk kue esok hari.

Bel tanda pintu berbunyi pelan.

kring…

Airi, yang sedang merapikan rak, refleks menyapa.

Airi : "Selamat datang—"

Kalimatnya menggantung.

Di depan pintu, masuk seorang pemuda:

rambut putih.

mata berbeda warna.

seragam sekolahnya terlihat sedikit lebih santai, tapi tetap rapi. Rei berjalan ke arah etalase, menunduk sedikit untuk melihat kue-kue yang tersusun di balik kaca.

Airi mematung.

Airi (dalam hati) : "Dia… di sini? Di toko… Ibu?"

Jantungnya langsung berdetak lebih cepat. Jemarinya refleks menggenggam kain celemeknya.

Rei tampak tidak menyadari gejolak itu. Ia sibuk memperhatikan:

Rei : "Hmm… kelihatannya enak semua."

Ia melihat ke kiri, ke kanan, seolah menimbang-nimbang serius.

Setelah sekitar lima menit, Rei akhirnya memilih tiga kue dan membawanya ke meja kasir.

Airi berdiri di belakang kasir—dan baru sadar dia lah yang akan melayani.

Airi : "S-selamat datang…"

Ia menerima kue-kue itu, meletakkannya di atas meja, mencoba bersikap profesional. Tapi telinganya terasa panas.

Airi (dalam hati) : "Tenang. Ini hanya pelanggan. Perlakukan seperti pelanggan lain."

Ia menghitung harga dengan hati-hati, menyebutkan angka dengan suara sedikit bergetar.

Airi : "Totalnya… segini."

Rei tersenyum kecil.

Rei : "Baik. Tolong dibungkus, ya."

Airi mengangguk buru-buru.

Airi : "T-tentu!"

Ia meraih plastik kantong di samping meja kasir… tapi saat membuka laci, ia mendapati sesuatu.

Kosong.

Airi : "…Eh?"

Ia cek rak bawah. Juga kosong.

Airi (dalam hati) : "Jangan bilang… plastik cadangan ada di dapur…"

Ia menoleh panik ke arah dapur yang tertutup tirai.

Airi : "M-maaf, plastiknya habis… aku… aku akan ambil dulu di belakang…"

Tanpa menunggu balasan, ia membungkuk cepat dan hampir berlari menuju dapur, meninggalkan meja kasir tanpa penjaga, dan Rei masih berdiri di sana.

Rei menatap punggungnya menghilang.

Rei : "…"

Rei (dalam hati) : "Elf yang aneh. Meninggalkan kasir begitu saja. Untung aku bukan pencuri. Kalau orang lain… kue-kue ini bisa lenyap tanpa jejak."

Ia menghela napas pelan, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat. Ada sesuatu yang… lucu.

Di Dapur – Panik dan Ibu yang Tajam

Di dapur, Airi hampir menabrak meja kerja.

Ibunya sedang mengaduk adonan.

Ibu : "Airi? Kenapa buru-buru sekali? Ada yang terbakar?"

Airi tergagap, membuka rak yang berisi stok plastik.

Airi : "T-tidak apa-apa! P-plastik di depan habis, aku ambil cadangan…"

Ibu memiringkan kepala, memperhatikan wajah putrinya.

Ibu : "Kenapa wajahmu merah begitu? Kau berlari dari kejaran naga?"

Airi : "T-tidak! Hanya… hanya… pelanggan biasa…"

Ibu mengangkat alis.

Ibu : "Pelanggan biasa yang membuatmu begitu gugup, sampai kau meninggalkan kasir tanpa penjaga?"

Airi langsung membeku.

Ibu menghela napas, meletakkan adonan.

Ibu : "Kalau begitu, aku yang ke depan dulu. Kau selesaikan ambil plastiknya. Jangan sampai toko ini jebol gara-gara putriku lupa sedang bekerja."

Ia berjalan cepat ke depan, meninggalkan Airi yang masih meraba-raba kantong plastik sambil menahan detak jantungnya.

Airi (dalam hati) : "Ibu… jangan bilang apa-apa yang aneh, ya…"

Ibu Airi vs Rei – Janda Muda yang Berbahaya

Di meja kasir, ibu Airi keluar dari dapur dengan senyum hangat.

Ibu : "Maaf ya sudah menunggu. Pegawai kami agak… ceroboh hari ini."

Rei menoleh, sedikit kaget—di depannya kini berdiri seorang wanita elf dewasa:

wajah cantik dengan garis lembut,

mata yang ramah,

auranya tenang tapi… ada sisi nakal di senyumnya.

Rei membungkuk sedikit.

Rei : "Tidak apa-apa. Saya datang di jam senggang, jadi tidak buru-buru."

Ibu memperhatikan Rei dari atas sampai bawah: seragam sekolah, rambut putih, mata berbeda.

Ibu (dalam hati) : "…Tampang bagus. Aura sopan. Ini… berbahaya."

Ia tersenyum lebih lebar.

Ibu : "Jarang ada anak sekolah tampan datang ke toko kue kecil kami. Boleh tanya sesuatu?"

Rei mengangguk.

Rei : "Silakan."

Ibu : "Punya pacar?"

Rei hampir tersedak udara.

Rei : "…Maaf?"

Ibu mengulangi dengan senyum jahil.

Ibu : "Pacar. Kau sudah punya?"

Rei berpikir sejenak. Beberapa detik kemudian, ia menggeleng.

Rei : "Tidak. Saya tidak punya pacar."

Ibu mengetuk meja kasir pelan.

Ibu : "Ah, bagus."

Rei : "…Bagus?"

Ibu bersandar sedikit ke depan.

Ibu : "Kalau begitu aku bisa menjodohkanmu dengan seseorang."

Rei : "Ha?"

Saat itu juga, Airi muncul dari dapur dengan kantong plastik di tangan, wajah masih sedikit merah.

Airi : "Ibu, plastiknya sudah—"

Ia berhenti. Pandangannya bertemu dengan Rei, lalu berpindah ke wajah ibunya.

Airi : "…"

Ibu langsung meraih bahu Airi dan mendorongnya sedikit ke depan.

Ibu : "Ini putriku, Airi. Cantik, kan? Kalau kau tertarik, aku tidak keberatan menjodohkan kalian."

Airi : "Ibu!!"

Wajah Airi memerah hebat seperti tomat matang.

Airi : "Jangan bilang hal seperti itu di depan pelanggan!!"

Rei hanya bisa menahan tawa, bibirnya bergetar menahan senyum.

Rei : "…"

Ibu tertawa kecil.

Ibu : "Kalau Airi tidak mau, bagaimana dengan aku saja? Walaupun aku janda, umurku masih muda, tahu~"

Airi hampir menjatuhkan plastik.

Airi : "Ibu!! Jangan menggoda pelanggan!!"

Rei mengangkat kedua tangannya sedikit.

Rei : "Tolong jangan bertengkar gara-gara saya. Saya hanya ingin beli kue."

Ibu tertawa lebih keras, lalu mulai memasukkan kue ke dalam kantong plastik.

Ibu : "Baik, baik. Maaf mengganggu. Tapi aku serius: kalau suatu hari kau berubah pikiran—"

Ia mengedip nakal.

Ibu : "Pilih salah satu: putriku atau aku, silakan datang ke toko ini lagi. Kami buka setiap hari."

Airi : "Ibu!!!"

Rei akhirnya tidak bisa menahan tawa, terkekeh pelan.

Rei : "Kalau begitu, saya akan sering datang… untuk kuenya dulu. Soal yang lain… mungkin… nanti, jauh di masa depan."

Ia menyerahkan uang, menerima kantong, dan membungkuk.

Rei : "Terima kasih atas kuenya."

Airi, masih merah, menunduk dalam.

Airi : "T-terima kasih… maaf atas kekacauan tadi…"

Rei tersenyum tipis padanya—senyum lembut yang membuat jantungnya kembali berdebar.

Rei (dalam hati) : "Elf yang ceroboh, tapi… toko ini menyenangkan."

Ia berbalik dan keluar, bel pintu kembali berdenting pelan.

kring…

Ibu menatap punggung Rei menghilang, lalu melirik putrinya.

Ibu : "Lumayan, 'kan?"

Airi menutup wajah dengan kedua tangan.

Airi : "…Ibu…"

Ibu tertawa pelan, merangkul bahu Airi.

Ibu : "Airi, kau punya hak untuk bahagia juga. Tidak apa kalau suatu hari kau menemukan seseorang yang membuatmu tergagap begitu."

Airi menghela napas… tapi di sudut hatinya, kata-kata itu tertinggal.

Malam itu, setelah toko tutup dan Airi berbaring di tempat tidur, wajah Rei terus muncul di pikirannya:

di perpustakaan,

di koridor sekolah,

di depan kasir toko kue milik ibunya.

Airi (dalam hati) : "Rei…"

Ia menutup mata, menekan bantal ke wajahnya pelan.

Airi (dalam hati) : "Aku masih ingin fokus belajar. Tapi… kalau suatu hari… aku boleh sedikit memikirkan hal lain…"

Bayangan senyum Rei di toko tadi perlahan memenuhi langit-langit kamarnya.

Di luar, toko kue ibu Airi berdiri tenang, tidak jauh dari rumah.

Dan tanpa ia sadari, hari itu menjadi salah satu benang halus yang menghubungkan:

Airi sang elf lembut,

dengan manusia berambut putih yang kelak akan ia lindungi dengan seluruh kekuatan yang ia punya."

More Chapters