Cherreads

Chapter 27 - Lirya dan Khayalan yang Ketahuan

Di dunia lain, jauh di dalam hutan terlarang yang senantiasa sunyi—

Angin tipis berhembus di antara pepohonan raksasa. Di ujung hutan, sebuah tebing besar terbuka pada keretakan dimensi yang berputar pelan, seperti mata raksasa yang tertidur tapi tetap waspada.

Di depan gerbang itu, duduk seorang pria berambut putih, mata kanan biru dan kiri hitam—Rei sang penjaga gerbang.

Ia duduk di batu besar, tangan terlipat, tatapannya tidak pernah benar-benar lepas dari retakan dimensi di depannya. Sesekali, cahaya samar muncul dari sana, lalu tenggelam lagi.

Beberapa saat lalu, dadanya sempat bergetar pelan—seperti ada gema jauh, jiwa yang satu lagi baru saja mengalami sesuatu yang besar.

Rei : "…Jadi akhirnya kau bertemu lagi, ya."

Ia bergumam pelan, senyum tipis terukir di sudut bibirnya, seolah sedang menikmati cerita yang hanya ia yang bisa dengar lewat pantulan jiwa.

Tidak jauh di belakangnya, di antara akar-akar besar pohon tua, Lirya duduk di dahan rendah—kaki menggantung, dagu bertumpu pada tangan.

Mata merah demon-nya menatap punggung Rei tanpa berkedip.

Lirya : "…"

Di kepalanya, sebuah adegan liar berputar:

Bayangan Rei menoleh, berjalan mendekat, menatapnya lurus-lurus, lalu—

Rei (dalam khayalan Lirya) : "Lirya, setelah sekian lama kau menggangguku di sini… sepertinya aku sudah tidak bisa membayangkan hari-hariku tanpa keberadaanmu."

Lirya (dalam khayalan) : "Eh… a-apa maksudmu…?"

Rei (dalam khayalan) : "Tinggallah di sisiku. Bukan hanya sebagai rekan patroli… tapi sebagai seseorang yang lebih dari itu."

Lirya (dalam khayalan, wajah merah padam) : "B-bodoh… manusia bodoh… siapa juga yang mau…"

Namun di dunia nyata, tanpa sadar senyum kecil muncul di wajah Lirya. Mata tajamnya melembut, ekor kecil di belakang jubahnya bahkan sedikit bergoyang pelan.

Lirya : "Hehe…"

Beberapa meter di sampingnya, Garm—pria beastkin bertubuh kekar dengan telinga dan ekor serigala—melihat pemandangan itu sambil bersandar ke pohon.

Garm mengerutkan dahi.

Garm : "…"

Ia melirik arah pandangan Lirya. Tepat ke punggung Rei.

Garm menghela napas panjang.

Garm : "Haaah…"

Tanpa banyak pikir, ia berjalan mendekat dan—tok!—memukul pelan kepala Lirya dengan tangan nya.

Lirya : "Ow! Garm!!"

Lirya memegangi kepalanya, menatap Garm dengan kesal.

Lirya : "Kenapa kau memukulku tiba-tiba?!'"

Garm mengangkat bahu.

Garm : "Karena kau tersenyum sendiri seperti demon bodoh yang sedang jatuh cinta di tengah medan tugas.'"

Garm menyilangkan tangan, menunjuk ke arah Rei dengan dagunya.

Garm : "Kalau kau mau sesuatu terjadi, jangan cuma duduk di atas dahan dan berkhayal. Dekati dia, bicara. Nyatakan perasaanmu kalau perlu. Tanpa aksi, mimpi tidak lebih dari asap.'"

Pipi Lirya langsung memerah.

Lirya : "Si-siapa yang berkhayal aneh-aneh?! Aku hanya… hanya… mengawasi gerbang dari sisi lain!'"

Garm mendengus.

Garm : "Mengawasi gerbang dari punggung Rei, maksudmu? Dari tadi pandanganmu tidak lepas dari manusia itu.'"

Lirya memelototinya, ekor demon-nya berkedut.

Lirya : "Diamlah! Kau merusak khayalanku!'"

Garm mengangkat satu alis, senyum mengejek terlukis di wajahnya.

Garm : "Lihat ini. Seorang gadis demon yang dulu sangat angkuh, membenci manusia dan merasa rasnya paling mulia… sekarang luluh hanya karena satu manusia duduk tenang di depan gerbang. Bahkan sampai membayangkan hal yang aneh-aneh.'"

Lirya makin merah.

Lirya : "Aku tidak membayangkan hal aneh! Hanya… skenario… kemungkinan… yang mungkin… terjadi… suatu hari… mungkin…'"

Garm : "Itu namanya khayalan, Lirya.'"

Lirya ingin membantah, tapi lidahnya seolah tersangkut.

Lirya : "Tsk… kau tidak akan mengerti. Kau hanya beastkin yang kepalamu isi otot dan daging panggang.'"

Garm terkekeh.

Garm : "Justru karena itu aku lebih praktis. Kalau aku suka seseorang, aku akan bilang. Kalau ditolak… ya tinggal latihan lebih keras. Bukan duduk di dahan, memandangi punggung orang sambil tersenyum sendiri.'"

Lirya menggertakkan gigi.

Lirya : "Kalau begitu, kenapa kau tidak bilang saja pada rubah penjaga pos utara itu? Aku lihat kau menatapnya sama seringnya aku menatap Rei!'"

Garm tersedak udara sendiri.

Garm : "…Itu lain cerita.'"

Lirya menyilangkan tangan, smirk kecil muncul.

Lirya : "Oh? Jadi beastkin bijak kita juga punya sisi pengecut?'"

Garm : "Aku tidak pengecut. Aku hanya… menunggu waktu yang tepat.'"

Lirya : "Itu juga namanya berkhayal, Garm.'"

Garm : "…Terkadang aku menyesal menyelamatkanmu di misi pertama dulu.'"

Lirya : "Terlambat menyesal. Kau terikat denganku sekarang.'"

Mereka saling melotot sebentar, lalu sama-sama mendengus—tapi jelas suasananya tidak benar-benar buruk.

Rei Menyadari Sesuatu… tapi Diam

Di depan, Rei melirik sekilas ke belakang tanpa menolehkan kepala sepenuhnya.

Rei : "…"

Ia bisa mendengar jelas percakapan lirih Lirya dan Garm. Pendengarannya tajam, dan gerbang terlalu tenang hari ini, membuat suara mereka terdengar lebih jelas daripada biasanya.

Rei : "Garm masih saja suka mengetuk kepala orang. Lirya masih saja pura-pura kuat."

Ia menghela napas pelan, kembali menatap retakan dimensi di depannya.

Di dalam dirinya, gema jauh itu masih samar.

Jiwa yang satu lagi—Hirashi Rei di dunia manusia—baru saja mengalami:

pertemuan kembali dengan Aelria,

pelukan yang penuh air mata,

dan janji-janji baru yang terucap di kamar kecil sempit.

Rei penjaga gerbang merasakan semuanya sebagai getaran emosi di kedalaman jiwanya sendiri.

Rei : "Jadi akhirnya kau tidak sendirian lagi di sana."

Ia tersenyum kecil—senyum yang jarang keluar.

Rei : "Bagus."

Angin di sekitar gerbang berputar pelan. Hutan terlarang sejenak terasa… tidak terlalu dingin.

Garm dan Lirya – Dibongkar Balik

Lirya masih duduk di dahan, memelototi Garm yang tadi memukul kepalanya. Garm bersandar ke batang pohon, tangan terlipat.

Garm : "Serius, Lirya. Kalau kau tidak bergerak, manusia itu mungkin akan habis waktunya menjaga gerbang ini sebelum kau sempat bilang apa-apa.'"

Lirya mengerutkan dahi.

Lirya : "Apa maksudmu?'"

Garm melirik ke arah gerbang.

Garm : "Kau tahu sendiri. Jiwa Rei tidak hanya satu. Setengahnya sudah hidup di dunia lain, menjalani kehidupan sebagai manusia biasa… atau setidaknya mencoba. Kalau suatu hari keseimbangan berubah dan dia harus kembali menjadi satu… kau pikir ada banyak waktu untuk main tarik-ulur seperti gadis remaja?'"

Lirya terdiam.

Ia tahu itu. Rei pernah memberi petunjuk samar soal jiwa yang terbagi dua, dan tentang keinginannya memberi dirinya yang lain kesempatan menjalani hidup "normal".

Lirya menunduk.

Lirya : "…Aku tahu. Tapi…'"

Garm : "Tapi kau takut?'"

Lirya menggenggam ujung jubahnya.

Lirya : "Aku demon. Seharusnya aku tidak takut hal-hal seperti ini. Tapi… jujur saja… aku tidak tahu menanggapi apa kalau dia menolak. Atau kalau dia berkata bahwa dirinya… sudah punya seseorang di dunia lain itu.'"

Garm menghela napas, tapi kali ini lebih lembut.

Garm : "Lirya. Rasa takut ditolak itu normal. Manusia, demon, beastkin, elf… kita semua sama dalam hal itu.'"

Lirya melirik pelan.

Lirya : "Kau jadi bijak sekarang?'"

Garm : "Aku selalu bijak. Kau saja yang terlalu sibuk menghayal sampai lupa mendengar.'"

Lirya : "…Menjengkelkan.'"

Garm tersenyum tipis.

Garm : "Tapi kalau pun dia sudah punya seseorang… itu tidak akan menghapus apa yang kau rasakan sekarang. Dan tidak menghapus fakta bahwa kau, demon yang angkuh, bisa berubah selembut ini hanya karena satu manusia duduk di depan gerbang setiap hari.'"

Lirya menatap punggung Rei lagi, kali ini dengan pandangan campuran kagum dan pasrah.

Lirya : "Dia… manusia yang aneh. Memikul beban yang bahkan raja sekalipun belum tentu sanggup, tapi masih bisa tersenyum seperti itu.'"

Garm : "Itu sebabnya aku bilang: dialah manusia terkuat yang pernah kutemui. Bukan hanya karena mana atau fisiknya… tapi karena tanggung jawab yang dia tanggung sendiri.'"

Lirya tersenyum kecil—senyum yang kali ini tidak terlalu ia sembunyikan.

Lirya : "…Ya. Itu salah satu alasannya.'"

Garm : "Salah satu?'"

Lirya : "Alasan lainnya… urusanku.'"

Garm : "Haah. Baik. Simpan alasanmu. Tapi suatu hari, cepat atau lambat… kau harus berhenti hanya menatap punggungnya.'"

Lirya menghela napas, menatap langit hutan terlarang yang tertutup kanopi daun.

Lirya : "Kalau suatu hari kesempatan itu datang… aku akan coba. Mungkin.'"

Garm : "Itu sudah lebih baik daripada "tidak pernah"'"

Rei – Menyambut Mereka Tanpa Menoleh

Di depan, Rei merasakan tatapan yang tidak pernah hilang dari punggungnya. Ia tidak menoleh, tapi suaranya keluar pelan, cukup keras untuk didengar dua temannya.

Rei : "Lirya. Garm."

Lirya sedikit terlonjak.

Lirya : "A-ap—'"

Rei mengangkat tangannya, menunjuk ke gerbang.

Rei : "Terima kasih… sudah tetap di sini. Meski hari-hari kita membosankan dan berulang. Kehadiran kalian… membuat tempat ini lebih… hidup.'"

Lirya membeku. Pipi yang tadi sudah mulai normal kembali menghangat.

Lirya : "…B-bodoh. Kami di sini karena tugas.'"

Garm tertawa pelan.

Garm : "Tentu saja, tugas. Tapi kalau besok tiba-tiba kau dipindahkan ke gerbang lain, aku tidak yakin demon di dahan ini akan setenang sekarang.'"

Lirya : "Diam, Garm!!'"

Rei tersenyum tipis, kembali menatap retakan dimensi.

Rei : "Hari ini… tenang. Tapi di sisi lain, jiwa-ku yang lain sedang dikelilingi cukup banyak orang. Rasanya… tidak buruk.'"

Lirya menatapnya.

Lirya : "…Jadi, kau merasakan sesuatu dari sana?'"

Rei mengangguk pelan.

Rei : "Dia bertemu kembali dengan seseorang yang penting. Dengan begitu… bebanku di sini terasa sedikit lebih ringan. Kalau dia memiliki orang-orang di sekelilingnya… aku bisa fokus pada gerbang ini tanpa terlalu khawatir.'"

Garm : "Jadi selama ini, bahkan sebagai penjaga gerbang, kau masih sempat khawatir soal kehidupan "normal"-mu di dunia lain?'"

Rei : "Kalau dia hancur… maka aku juga akan goyah. Kami mungkin terpisah, tapi tetap satu.'"

Lirya menggenggam ujung dahan.

Lirya : "…Kalau begitu, aku berharap dia dikelilingi orang-orang yang layak. Kalau tidak…'"

Mata merahnya menyipit.

Lirya : "Aku sendiri yang akan menyeberang dan menendang siapapun yang menyakitinya.'"

Garm tertawa terbahak.

Garm : "Itulah demon angkuh yang kukenal. Peduli, tapi selalu dibungkus ancaman.'"

Lirya : "Diam, atau kau yang kutendang duluan.'"

Rei hanya tersenyum.

Rei : "Sepertinya… baik di sini maupun di dunia lain, ada cukup banyak orang yang siap marah kalau "Rei" disakiti. Itu… cukup menenangkan.'"

Angin di hutan terlarang kembali berhembus pelan, menggoyangkan daun, menyentuh ujung rambut putih Rei.

Di satu sisi gerbang, ia berdiri menjaga agar dunia tidak hancur.

Di sisi lain gerbang, dirinya yang lain tertidur di kamar kecil apartemen, dikelilingi janji:

Aelria,

Seris dan kawan-kawan,

Riku, Hina, Airi, Rika.

Dua kehidupan. Satu jiwa.

Dan di belakangnya, tanpa ia benar-benar mengatakannya—

Ada seorang gadis demon bernama Lirya, yang diam-diam berharap:

suatu hari nanti, ketika semua gerbang sudah stabil,

dan semua jiwa sudah menemukan tempat pulang—

ia juga punya keberanian untuk melangkah dari dahan itu,

bukan hanya menatap punggung manusia yang ia pilih dalam diam.

More Chapters