Cherreads

Chapter 26 - Aelria Enggan Berpisah

Suasana kamar 101 akhirnya mulai tenang.

Napas yang tadi berat pelan-pelan jadi lebih teratur. Aura membunuh yang sempat memenuhi ruangan sudah menghilang, berganti dengan kelelahan… tapi juga kelegaan.

Seris meluruskan punggung, menatap satu per satu.

Seris : "Oke. Untuk hari ini… cukup sampai di sini. Kalau kita terus memeras emosi seperti ini, besok yang ada kalian semua tumbang."

Rinna mengangguk.

Rinna : "Kita semua butuh tidur. Besok… kita bisa mulai hari baru dengan kepala lebih jernih."

Hina menguap kecil, buru-buru menutup mulut.

Hina : "Maaf… sepertinya tubuhku juga setuju.'"

Riku tersenyum miring.

Riku : "Wajar. Seharian jalan-jalan, lalu langsung dihantam drama lintas dunia. Itu paket lengkap lelah.'"

Airi menghela napas pelan, menatap Rei sebentar memastikan wajahnya tidak tampak terlalu lelah.

Airi : "Tapi… aku senang hari ini berakhir dengan kabar bahwa kau… tidak sendirian lagi, Rei.'"

Rei hanya mengangguk kecil.

Rei : "Aku juga.'"

Seris berdiri, menepuk kedua tangannya pelan untuk menarik perhatian.

Seris : "Baiklah."

Semua menoleh.

Seris : "Besok kita jalan-jalan. Bukan hanya untuk bersenang-senang, tapi untuk… merayakan kenyataan bahwa manusia merepotkan ini ternyata masih hidup, dan dua dunianya akhirnya bertemu lagi."

Rinna tersenyum.

Rinna : "Anggap saja… hari libur spesial sebelum kita mulai urusan berat berikutnya.'"

Noelle mengangkat tangan semangat.

Noelle : "Dan ini pertama kalinya aku jalan-jalan di dunia manusia! Aku tidak mau melewatkan itu!'"

Nerine : "Asal Seris tidak memicu perang antar ras di tengah kota, aku ikut.'"

Seris memelototinya sekilas.

Seris : "Aku tidak sebodoh itu.'"

Fiora hanya tersenyum lembut, menatap Aelria dan Rei bergantian.

Fiora : "Sebuah hari untuk tertawa dulu… sebelum kita bicara lagi soal monster dan kekuatan. Kurasa itu ide yang bagus.'"

Pembicaraan tentang esok hari mengendap pelan. Tapi ada satu orang yang jelas belum siap mengakhiri hari.

Aelria masih duduk di samping Rei, tangannya belum benar-benar melepaskan lengannya.

Mata hijau itu menatap langit-langit kamar Seris sebentar… lalu kembali menatap wajah Rei.

Aelria : "Rei…"

Rei : "Hm?"

Aelria menggigit bibir bawahnya, ragu sejenak… lalu menghembus napas.

Aelria : "Kalau… begini, bolehkah aku menginap di kamarmu…?"

Ruangan langsung hening.

Hina : "Eh?'"

Airi : "…'"

Riku : "…Ha?'"

Rika mengangkat alis tinggi. Seris memandang Aelria dengan lirikan "kau serius?", sementara Rinna menutup wajah dan menghela napas panjang.

Aelria menatap Rei lurus-lurus—tanpa maksud aneh, hanya takut berpisah lagi.

Aelria : "Aku… tidak ingin begitu saja berpisah setelah baru menemukanmu lagi. Rasanya… begitu menakutkan kalau aku bangun besok dan ternyata ini hanya mimpi."

Rei menunduk sedikit, menatap tangan Aelria yang masih menggenggamnya. Ia mengangkat tangan satunya, mengelus rambut peraknya pelan.

Rei : "Aku mengerti rasanya."

Aelria mengedip pelan, menunggu.

Rei tersenyum tipis.

Rei : "Tapi… tetap tidak mungkin. Pria dan wanita tidur di satu kasur yang sama, di ruangan kecil, tanpa ikatan apa pun… itu bukan hal yang bisa kulakukan. Apalagi di dunia manusia."

Aelria mengerutkan alis tipis.

Aelria : "Tapi kita hanya tidur. Tidak akan—"

Rei menggeleng pelan.

Rei : "Bukan soal apa yang akan atau tidak akan kita lakukan. Ini soal… menjaga batas. Menjaga rasa hormat. Dan… menjaga reputasimu juga. Kalau orang lain salah paham, kau yang akan dikomentari lebih dulu."

Aelria terdiam.

Ia tahu Rei benar. Tapi hatinya tetap berat.

Aelria : "…Jadi aku tidak boleh menginap di sini? Bahkan… di sudut ruangan saja?"

Rei menatapnya lembut.

Rei : "Kalau kamar ini punya matahari cadangan dan kasur ekstra, mungkin. Tapi sayangnya tidak."

Riku mengangkat tangan, mencoba membantu.

Riku : "Lagipula, Aelria-san punya hotel dengan teman-temannya, 'kan? Kalian bisa menginap bersama. Besok pagi, begitu matahari terbit, kalian bisa langsung menyerbu apartemen Rei sepuasnya.'"

Hina mengangguk cepat.

Hina : "Iya! Kami juga sering begitu! Besok pun kalau perlu kami ikut serbuan pagi!'"

Airi menambahkan tenang.

Airi : "Dan… mungkin tidur dengan tubuh dan kepala yang sudah istirahat lebih baik untukmu. Kau butuh tenaga untuk hari-hari berikutnya.'"

Aelria menunduk, bibirnya membentuk garis kecil.

Aelria : "…Jadi… jawabannya tetap tidak."

Rei menghela napas pelan… lalu menepuk lembut puncak kepalanya.

Rei : "Jawabannya: sampai malam ini saja cukup. Besok… datang lagi. Aku… tidak akan kemana-mana."

Aelria mengangkat kepala perlahan.

Aelria : "Kau… jamin?"

Rei : "Kalau aku menghilang, ada tiga ras di dunia ini dan satu demon yang akan memburuku. Aku tidak cukup bodoh untuk kabur sekarang."

Ucapan itu membuat sudut bibir Seris terangkat sedikit.

Seris : "Setidaknya dia sadar."

Aelria akhirnya menghela napas panjang, menyerah.

Aelria : "Baik. Tapi kalau besok saat aku datang kamarmu gelap… aku akan menerobos dunia roh dan menyeretmu kembali."

Rei : "Kalimat ancaman yang menghibur."

Rinna yang sedari tadi mengawasi, akhirnya bergerak.

Rinna : "Baik, cukup. Kalau kubiarkan lebih lama, kau akan melekat di Rei seperti stiker."

Ia menarik perlahan tangan Aelria yang masih menggenggam lengan Rei.

Rinna : "Aelria, ayo. Temanmu perlu istirahat. Kau juga.'"

Aelria mencoba bertahan satu detik lebih lama, menatap Rei seolah ingin menghafal wajahnya sekali lagi malam itu.

Lalu, pelan-pelan, genggamannya lepas.

Aelria : "Sampai besok, Rei."

Rei : "Sampai besok, Aelria."

Riku Menjemput & Perpisahan di Malam Hari

Di luar, suara mesin mobil terdengar pelan.

Riku melirik jam di ponselnya.

Riku : "Sopirku sudah menunggu di depan. Kalau kalian mau, kalian bisa ikut sampai dekat hotel. Itu lebih cepat daripada kalian jalan kaki di tengah malam.'"

Noelle langsung mengangkat tangan.

Noelle : "Aku mau! Kakiku sudah protes sejak tadi!'"

Nerine : "Kalau ada tumpangan gratis, kenapa menolak?'"

Fiora menatap Aelria sebentar.

Fiora : "Jalan kaki malam-malam dalam keadaan begini bukan ide bagus. Terima saja tawarannya.'"

Aelria mengangguk pelan.

Aelria : "Kalau begitu… bantu kami sampai hotel, Riku-san. Maaf merepotkan."

Riku melambaikan tangan.

Riku : "Tidak apa. Anggap saja ini awal kerja sama dua dunia.'"

Hina berdiri, meregangkan tangan ke atas.

Hina : "Kalau begitu kami pamit dulu, Rei-kun! Terima kasih untuk hari ini!'"

Airi bangkit, tersenyum tipis ke arah Rei.

Airi : "Istirahatlah. Jangan terlalu banyak dipikirkan malam ini. Kalau tidak tidur, besok kami akan tahu.'"

Rika berdiri pelan. Ia menatap Rei dengan tatapan tajam yang entah ke siapa sebenarnya ditujukan.

Rika : "Tidurlah. Kau sudah cukup banyak berdarah, baik dari tubuh maupun hati. Besok… kita tertawa dulu, baru pikirkan sisanya.'"

Rei mengangguk.

Rei : "Baik. Hati-hati di jalan.'"

Riku, Hina, Airi, dan Rika keluar lebih dulu, memberi ruang.

Rinna menggandeng tangan Noelle, Nerine, dan Fiora sambil mengarahkan mereka ke pintu.

Rinna : "Kami duluan. Seris, jangan tidur terlalu malam. Besok kau butuh energi untuk mengatur pasukan.'"

Seris : "Aku demon, bukan pemandu wisata.'"

Noelle : "Demon pemandu wisata! Itu konsep baru!'"

Nerine : "Kurasa itu profesi masa depanmu di dunia manusia.'"

Fiora hanya menghela napas kecil sambil tersenyum.

Satu per satu mereka keluar, tinggal Aelria dan Seris di dalam bersama Rei.

Aelria menatap Rei sekali lagi di ambang pintu.

Aelria : "Besok, aku datang pagi. Siapkan dirimu."

Rei : "Aku akan menyeduh teh terbaik yang kumiliki. Walaupun tetap murah."

Sudut bibir Aelria terangkat tipis.

Aelria : "Selama kau yang menyajikan… itu cukup."

Rinna memanggil dari luar.

Rinna : "Aelria, sebelum Noelle memesan seluruh restoran di hotel, kita harus pergi!'"

Aelria : "Iya! Aku datang!"

Ia menatap Rei untuk terakhir kali malam itu.

Aelria : "Selamat malam, Rei."

Rei : "Selamat malam, Aelria."

Aelria akhirnya melangkah keluar. Suara langkah mereka memudar di koridor, digantikan suara pintu masuk apartemen yang terbuka dan tertutup.

Rei & Seris – Ucapan Terima Kasih

Kini kamar 101 kembali hanya berisi dua orang:

Seris dan Rei.

Seris bersandar ke dinding dekat jendela, menatap langit malam yang sebagian tertutup bangunan lain.

Seris : "Tenang juga akhirnya."

Rei duduk di lantai, menghela napas panjang. Beban hari itu baru terasa penuh saat ruangan jadi sepi.

Rei : "Hari ini… panjang sekali."

Seris menyilangkan tangan, melirik ke arahnya.

Seris : "Kau yang jadi pusat keributan. Wajar kalau kau merasa begitu."

Beberapa detik, mereka hanya diam.

Lalu Rei mengangkat kepala, menatap Seris dengan lebih serius.

Rei : "Seris."

Seris : "Hm?"

Rei menunduk sedikit, membungkuk sopan meski masih duduk.

Rei : "Terima kasih."

Seris mengerutkan kening.

Seris : "Untuk apa?"

Rei : "Karena sudah menjadi sahabat Aelria di akademi. Karena kau yang lebih dulu bergerak saat Aelria jatuh. Karena kau yang mengambil risiko datang ke dunia manusia, menyusuri kota asing, tidur di kamar kecil ini hanya untuk mencari orang yang bahkan belum pernah kau temui."

Seris menatapnya, ekspresinya sulit dibaca.

Rei : "Aku… mungkin tidak pantas menerimanya. Tapi aku tetap berterima kasih. Karena tanpa kau dan teman-temanmu, mungkin Aelria masih menangis sendirian di kamar asrama sampai sekarang."

Hening sejenak.

Lalu Seris memalingkan wajah, menatap ke jendela lagi—seolah tidak mau menunjukkan terlalu banyak di ekspresi.

Seris : "Aku tidak melakukan ini untukmu."

Rei tersenyum tipis.

Rei : "Aku tahu. Kau melakukannya untuk Aelria."

Seris menghela napas.

Seris : "Tapi… kalau kau sampai menyia-nyiakan air mata dan perjalanan sejauh ini… aku yang akan menendangmu kembali ke tepi jembatan, hanya untuk menarikmu lagi sambil memaki."

Rei terkekeh pelan.

Rei : "Ancaman yang unik."

Seris mengangkat bahu.

Seris : "Anggap saja… peringatan demon."

Rei mengangguk.

Rei : "Kalau begitu… mulai sekarang, biarkan aku juga yang menjaga Aelria. Tidak hanya kau dan teman-temanmu. Dunia manusia juga punya bagiannya."

Seris menatapnya sebentar… lalu akhirnya mengangguk pelan.

Seris : "Pastikan kata-katamu bukan hanya kalimat pahlawan musiman."

Rei : "Aku akan berusaha."

Seris berdiri, berjalan ke arah pintu.

Seris : "Sekarang pulanglah ke kamarmu. Kalau kau tertidur di sini, besok pagi Aelria mungkin menganggap ini izin resmi dan menolak keluar."

Rei : "…Itu skenario yang mungkin terjadi."

Ia bangkit berdiri.

Rei : "Terima kasih, Seris. Untuk hari ini."

Seris membuka pintu, berhenti sebentar.

Seris : "Besok… jangan terlambat. Demon ini tidak suka menunggu."

Rei : "Baik."

Rei melangkah keluar kamar 101, menyusuri koridor, naik tangga menuju kamar kecilnya di lantai dua.

Sekali lagi, apartemen Sakura-so kembali sunyi—tapi sunyi yang berbeda dari hari-hari sebelumnya.

Bukan lagi sunyi orang yang sendirian.

Melainkan sunyi setelah hari yang penuh suara, tawa, tangis, dan janji pelan:

Besok, mereka akan tertawa bersama.

Setelah itu, baru mereka mulai menantang dunia lagi.

More Chapters