Di halaman apartemen Sakura-so, waktu seperti berhenti selama satu menit penuh.
Aelria tetap memeluk Rei erat, bahunya bergetar pelan, wajah menenggelam di dada Rei. Rei hanya bisa berdiri di tempat, satu tangan mengusap lembut puncak kepala elf yang dulu selalu berjalan di sampingnya saat di sekolah.
Sekitar mereka, tetangga-tetangga mulai melirik dari balik pintu atau jendela kecil di rumah depan apartemen.
Seris menghela napas panjang di ambang pintu kamar 101.
Seris : "Maaf, kalian berdua. Kalau terus begini, tetangga akan mengira ini drama sinetron yang tidak selesai-selesai. Masuk dulu."
Rei menoleh sedikit, sadar banyak mata yang memperhatikan. Ia menatap Aelria yang masih memeluknya erat.
Rei : "Aelria, kita lanjut di dalam, ya?"
Aelria hanya mengangguk kecil tanpa melepas pelukannya.
Dengan satu tangan, Rei membuka sedikit jalan, menuntun Aelria pelan menuju pintu kamar Seris. Yang lain ikut masuk: Riku, Hina, Airi, Rika dari belakang Rei; Seris, Rinna, Noelle, Nerine, dan Fiora bergeser ke dalam memberi ruang.
Kamar 101 terasa jauh lebih sempit daripada biasanya.
Satu kasur, satu meja kecil, lemari, dan sedikit ruang kosong di lantai—sekarang diisi sebelas orang dari dua dunia berbeda.
Rei duduk di lantai, menyandarkan punggung ke dinding dekat kasur. Aelria duduk di sebelah kanan Rei, masih menggenggam lengan bajunya seolah takut Rei menghilang lagi. Di sisi kiri Rei, Airi duduk pelan, menjaga jarak sopan tapi cukup dekat untuk berjaga-jaga kalau Rei tiba-tiba ambruk.
Riku, Hina, dan Rika memilih duduk melingkar di sisi lain meja. Riku bersila, Hina menarik lutut ke dada, Rika duduk dengan punggung tegak dan ekor yang bergerak pelan tanda waspada.
Rinna, Seris, Noelle, Nerine, dan Fiora duduk di bagian dekat pintu dan jendela, membentuk setengah lingkaran.
Sejenak, hanya ada suara napas dan detak jantung yang terasa terlalu keras.
Seris akhirnya memecah keheningan.
Seris : "Jujur saja… aku merasa bodoh."
Semua menoleh padanya.
Seris bersandar ke dinding, tangan terlipat.
Seris : "Beberapa hari ini aku keliling dekat sekolah, tanya ke toko, warung, pekerja, murid… dan ternyata orang yang kucari tinggal di apartemen yang sama. Satu lantai di atas. Betapa cerobohnya aku."
Rei berkedip, sedikit terkejut.
Rei : "Jadi… selama ini kau mencari aku?"
Seris mengangguk sekali.
Seris : "Hanya kau. Dan satu nama: Hirashi Rei. Sambil berharap kau belum jadi nama di daftar kematian."
Riku, Hina, dan Rika saling pandang.
Hina : "Berarti… Seris-san selama ini keliling cari Rei-kun…"
Airi menatap Seris lebih lama. Potongan puzzle di kepalanya menyatu.
Airi : "…Jadi demon yang sempat kita lewati di jalan malam itu… adalah kau?"
Seris menoleh singkat.
Seris : "Kalau yang kalian maksud gadis demon yang berjalan sendirian di dekat komplek ini, ya. Sepertinya itu aku."
Rei menghela napas, menunduk sedikit.
Rei : "Maaf… sudah merepotkanmu sampai sejauh ini."
Seris mendecak pendek, tapi ada lega di matanya.
Seris : "Kalau ini bukan urusanku, aku tidak akan datang. Tapi sayangnya kau berkaitan dengan Aelria. Jadi mau tidak mau, ini juga urusanku."
Kenapa Mereka Datang
Setelah suasana agak tenang, Rei menatap Aelria.
Rei : "Aelria… kenapa kalian semua sampai datang ke dunia manusia? Bukankah lebih aman tetap di akademi kalian?"
Aelria menurunkan pandangan, genggamannya di lengan Rei sedikit mengencang. Bibirnya bergetar, tapi belum ada kata yang keluar.
Si kembar saling pandang, lalu Noelle maju bicara duluan.
Noelle : "Kalau begitu… biar kami yang jelaskan dulu."
Nerine mengangguk dan menyambung.
Nerine : "Semuanya dimulai saat Aelria menerima kabar dari akademi dan pihak dunia manusia bahwa ada insiden monster anomali. Kota diserang, sekolah pun begitu. Mereka bilang ada banyak korban luka, dan beberapa tewas."
Riku dan yang lain menunduk kecil, suasana berat kembali mengambang.
Nerine melanjutkan.
Nerine : "Aelria meminta ayahnya mencari tahu apakah kau—Rei—masih bersekolah di tempat lama kalian. Jawabannya: tidak. Kau sudah pindah. Lalu, setelah mereka memaksa, pihak sekolah lama akhirnya memberi nama sekolah barumu…"
Noelle : "Dan nama sekolah itu… adalah sekolah tempat insiden monster terjadi."
Mata Hina merapat, menggigit bibir.
Hina : "Jadi… dari sana…"
Rinna menyilangkan tangan.
Rinna : "Di titik itu, Seris memutuskan pergi duluan. Meninggalkan surat. Kami menyusul kemudian setelah tahu Aelria tidak kunjung berhenti menangis."
Fiora mengangguk pelan.
Fiora : "Aelria tidak meminta kami ikut. Tapi kalau kami membiarkannya pergi sendiri… kami bukan sahabat."
Rei mendengarkan semuanya diam-diam, lalu menghela napas dalam-dalam.
Rei : "…Maafkan aku."
Aelria mengangkat kepala, mata hijaunya kembali bergetar.
Aelria : "Kenapa… kau minta maaf?"
Rei menatap lurus ke depan, bukan ke mata Aelria—seolah takut tenggelam di sana.
Rei : "Karena aku lupa mempertimbangkan satu hal. Saat aku pindah sekolah dan menghilang… aku tidak memikirkan bagaimana caranya mengabari dunia lain. Mengabari kau. Cara untuk memberitahu bahwa aku masih hidup."
Ia mengerutkan dahi.
Rei : "Kalau aku tahu caranya kirim surat antar dunia… mungkin kita tidak perlu bertemu dalam situasi seperti ini."
Aelria menggoyangkan kepala keras.
Aelria : "Tidak. Salahku juga. Aku yang meninggalkanmu dulu… lalu tiba-tiba menghilang ke dunia lain. Sekarang aku malah menyusulmu dengan cara seperti ini…"
Seris mendengus pelan.
Seris : "Kalau kalian berdua terus berlomba menyalahkan diri masing-masing, kita tidak akan selesai sampai besok pagi."
Rinna : "Setuju."
Pertanyaan Tentang Masa Lalu – Mina, Sekolah Lama, dan Luka
Setelah keheningan sebentar, Aelria menarik napas pelan. Air mata di sudut matanya mulai mengering, berganti dengan keseriusan.
Aelria : "Rei…"
Rei : "Ya?"
Aelria : "Bagaimana keadaanmu… selama aku tidak di sini? Kenapa kau pindah sekolah dari SMA lamamu? Dan… bagaimana dengan Mina?"
Nama itu membuat ruangan seolah menciut.
Rei terdiam.
Riku yang duduk di seberang menggenggam celananya erat. Hina menunduk, menatap tangannya. Airi menutup mata sebentar, mengingat kembali cerita malam festival. Rika, yang sedari tadi diam, mata kuningnya meredup—dan pelan-pelan, aura membunuh tipis mulai merembes dari tubuhnya.
Rika tidak bicara. Tapi tekanan di ruangan berubah. Suhu seakan turun sedikit.
Rinna, Fiora, dan Seris langsung merasa.
Fiora mengangkat alis, telinganya sedikit bergetar.
Fiora : "…Aura membunuh?"
Rinna menatap Rika.
Rinna : "Beastkin itu…"
Seris menyipitkan mata.
Seris : "Sepertinya bukan hanya kami yang punya alasan marah."
Riku bergerak cepat, menepuk ringan bahu Rika.
Riku : "Rika. Tenang sebentar."
Rika menoleh pelan. Tatapannya masih tajam, tapi napasnya mulai stabil.
Rika : "…Kalau aku tidak menahan diri, aku mungkin akan pergi mencari dua orang itu sekarang."
Riku menatapnya serius.
Riku : "Dan kau tidak akan punya waktu mendengarkan Rei menceritakan semuanya sendiri."
Rika terdiam… lalu menghela napas keras, menahan aura membunuhnya kembali. Suasana kamar sedikit lega.
Hina melirik Rika, lalu ke Rei.
Hina : "Rei-kun… kalau kau sanggup… kami akan dengarkan sekali lagi. Sekarang dengan Aelria di sini."
Rei mengangguk pelan.
Rei : "…Baik."
Cerita Rei – Dari Kepergian Aelria Sampai Jembatan & Pengkhianatan
Rei menatap lantai di depan kakinya, lalu mulai berbicara.
Suara Rei pelan, tapi jelas.
Ia menceritakan:
hari ketika Aelria harus kembali ke dunia lain,
bagaimana setelah itu ia menjalani hari-hari biasa sendirian, menyimpan semua percakapan dan tawa sebagai kenangan,
tes kebangkitan di usia 17 yang hanya mengubah rambutnya jadi putih dan mata kirinya jadi biru, tanpa kekuatan apa pun,
bagaimana ia bertemu dan mulai berpacaran dengan Mina, memperkenalkan Aelria dan Mina sebagai teman di awal SMA,
kecurigaannya saat melihat cincin di tangan Mina pertama kali, dan bagaimana ia menolak membesar-besarkan perasaan itu,
hari ketika ia melihat sendiri Mina berciuman dengan Hayato di halaman belakang sekolah,
kalimat dingin Mina yang berkata ia butuh seseorang yang bisa melindunginya, bukan manusia tanpa kekuatan,
tawa pahitnya—tertawa sambil menutupi satu mata dan menatap langit, mencoba menelan sakit sendiri,
jalanan menuju jembatan, hujan yang menutupi air matanya,
keputusan untuk tidak melompat karena mengingat kata-kata Aelria dulu: "jangan hancur bila dunia berubah",
pengunduran diri dari sekolah lama, jual rumah orang tua, dan pindah ke kota baru untuk memulai hidup tanpa cinta dan tanpa harapan besar.
Setiap kalimat seperti menarik garis luka di udara.
Saat Rei sampai pada bagian ia berdiri di pinggir jembatan, menatap air di bawah, suara Hina mulai bergetar.
Hina : "…Rei-kun…"
Airi menggenggam rok seragamnya lebih keras. Riku menunduk dalam, rahangnya mengeras. Rika menutup mata sejenak, aura membunuh lagi hampir keluar sebelum ia tekan paksa.
Di sisi lain ruangan, Rinna, Fiora, dan Seris membeku.
Rinna menatap lurus ke Rei.
Rinna : "Jadi itu… yang terjadi."
Fiora menutup mulutnya sebentar, menahan emosi.
Fiora : "Manusia bisa sekejam itu… dan sekuat itu untuk memutuskan mundur dari tepi jurang."
Seris tidak menahan diri—sejenak, aura dingin demon menguap dari tubuhnya, tajam, gelap.
Seris : "Kalau aku bertemu Mina dan pria itu… aku akan—"
Noelle cepat-cepat menarik lengan Seris.
Noelle : "Seris! Tenang. Kalau kau mengamuk di dunia manusia, kita akan dideportasi sebelum sempat apa-apa."
Nerine menepuk bahu Rinna dan Fiora.
Nerine : "Kalian juga. Tarik napas. Kita tidak boleh menyelesaikan amarah dengan membunuh duluan. Sayangnya."
Aura membunuh di sudut-sudut ruangan perlahan surut.
Rika melirik tiga gadis dari dunia lain itu.
Rika : "Sekarang kalian mengerti kenapa aku sangat marah?"
Rinna menatap Rika, lalu mengangguk.
Rinna : "Mengerti. Sangat."
Fiora : "Kalau aku berada di sana saat itu… aku tidak menjamin mereka masih punya tangan utuh sekarang."
Seris menyipit.
Seris : "Ternyata, dalam hal ingin membunuh orang menyebalkan, kita cukup kompak."
Perasaan Aelria – Sedih, Bersalah, dan Kemarahan yang Diam
Aelria mendengarkan semuanya tanpa menyela.
Saat Rei menyebut nama Mina, bahunya sedikit bergetar. Ketika Rei bercerita tentang jembatan dan hujan, air mata Aelria kembali keluar, tapi kali ini tidak dengan tangis meledak—lebih seperti aliran sunyi yang tidak bisa dihentikan.
Setelah Rei selesai, ruangan kembali hening.
Aelria menatap Rei—mata hijaunya basah, membiaskan sosok Rei di depan.
Aelria : "Rei… maaf."
Rei menggeleng pelan.
Rei : "Kau tidak perlu—"
Aelria menggeleng lebih keras.
Aelria : "Maaf… karena aku tidak ada di sana… saat kau hampir… hilang. Maaf karena aku tidak tahu semua ini lebih cepat. Maaf… karena aku hidup tenang di dunia lain, sementara kau… menanggung semua ini sendirian."
Rei menatapnya sebentar, lalu tersenyum tipis—lelah, tapi tulus.
Rei : "Kau sudah memberiku cukup alasan untuk bertahan dulu. Kata-katamu waktu itu… ikut menahanku di tepi jembatan. Untukku, itu lebih dari cukup."
Aelria menggigit bibirnya… lalu menunduk, membiarkan air mata jatuh ke lantai.
Di dalam hatinya, sesuatu mengeras.
Aelria (dalam hati) : "Mina… Hayato…"
Ia menutup mata, menahan luapan emosi.
Aelria (dalam hati) : "Tidak peduli alasan kalian. Tidak peduli kalian mengatasnamakan cinta, keamanan, atau kekuatan. Tidak peduli seberapa populer atau kuat kalian di dunia ini."
Bayangan Rei berdiri sendirian di bawah hujan, tertawa sambil menangis, menancap kuat di pikirannya.
Aelria (dalam hati) : "Aku tidak akan pernah memaafkan kalian."
Ia mengangkat kepala lagi, menatap Rei, menahan semua amarahnya agar tidak tumpah menjadi beban baru.
Aelria : "Rei… mulai sekarang… selama aku di dunia ini… aku tidak akan membiarkanmu menanggung semuanya sendiri lagi."
Di sekeliling mereka, sebelas orang—dari dua dunia, empat ras, dan masa lalu yang berbeda-beda—diam dalam satu kesepakatan yang belum terucap:
Masa lalu Rei mungkin tidak bisa diubah.
Tapi mulai hari itu, ia tidak lagi sendirian menghadapi apa pun yang datang berikutnya.
