Seris bangun lebih pagi dari jam kemarin.
Seris : "…Hari ketiga."
Ia duduk di tepi kasur kamar 101, menarik napas panjang. Rencana yang ia susun di taman kemarin sore menari di kepala:
cek lagi area sekitar sekolah,
coba tanya ke tempat yang belum sempat ia datangi,
kalau perlu, mulai mencari akses resmi.
Seris : "Kalau masih kosong juga… baru kupikirkan mau marah ke siapa."
Ia mandi singkat, berganti pakaian kasual, lalu keluar kamar. Di jalan menuju sekolah, ia berhenti di minimarket, membeli roti dan minuman.
Seris : "Setidaknya perut tidak boleh kosong kalau hati sudah penuh emosi."
Ia makan sambil berjalan.
Pagi itu ia mencoba:
klinik kecil dekat sekolah,
toko makanan lain,
beberapa warga sekitar yang tampak sudah lama tinggal di sana.
Jawabannya tetap sama: tidak ada yang benar-benar mengenal nama "Hirashi Rei" hanya dari deskripsi tanpa foto. Tidak ada yang bisa memastikan.
Seris berdiri di pinggir trotoar, menggenggam kantong plastik kecil berisi minuman.
Seris (dalam hati) : "Kalau begini terus… besok aku harus mulai mengincar jalur resmi. Atau… jalur yang lebih kotor."
Ia hendak melangkah menuju arah lain ketika—
???
Suara yang sangat ia kenal memanggil dari kejauhan.
Aelria : "Seris!!"
Langkah Seris langsung berhenti.
Suara itu… suara yang selama ini hanya ia dengar di asrama dunia lain. Ia berbalik cepat.
Di seberang, sedikit berlari tergesa di tengah keramaian:
Aelria, rambut perak dan mata hijau berkaca-kaca,
Rinna di sampingnya,
si kembar Noelle & Nerine,
Fiora di belakang, sedikit ngos-ngosan.
Aelria menghampiri, begitu jarak cukup dekat ia langsung memeluk Seris erat-erat.
Aelria : "Seris… maaf… maaf karena membuatmu terseret sejauh ini hanya karena kesedihanku… Seharusnya ini bukan urusanmu…"
Seris sempat tertegun, lalu menghela napas pelan. Ia mengangkat satu tangan, membalas pelukan itu—tidak selembut Aelria, tapi cukup kuat.
Seris : "Bodoh."
Aelria sedikit tersentak.
Seris : "Kau sahabatku. Kalau kau menangis karena manusia idiot di dunia ini, itu otomatis jadi urusanku juga. Bahkan kalau aku benci manusia sekalipun."
Rinna tersenyum tipis melihat itu.
Rinna : "Bagus. Kalau kalian berdua selesai saling menyalahkan diri sendiri, bagaimana kalau kita cari tempat duduk dulu?"
Noelle : "Aku setuju. Kakiku sakit."
Nerine : "Dan perutku mulai protes."
Fiora : "Ada cafe di sudut jalan sana. Kita bisa bicara di dalam, tidak di tengah trotoar."
Seris melepaskan pelukan perlahan, menatap Aelria.
Seris : "Ayo. Banyak yang harus kau dengar."
Cafe – Laporan Seris & Sedikit Harapan
Mereka duduk di meja sudut sebuah cafe tenang. Aroma kopi dan roti memenuhi udara. Di meja mereka, minuman dan sedikit makanan sudah tersaji, meski Aelria hanya memainkan sedotan di tangannya.
Rinna mencondongkan tubuh.
Rinna : "Seris, ceritakan dari awal. Sejauh apa kau sudah mencari?"
Seris menatap ke bawah sebentar, lalu mulai bicara.
Seris : "Sejak aku datang… aku sudah keliling sekitar sekolah. Toko alat tulis, warung makan, kios kecil… pekerja konstruksi, murid yang datang melihat reruntuhan… Bahkan beberapa staf administrasi."
Ia mengepalkan tangan di pangkuan.
Seris : "Namanya memang tercatat di sekolah lama, dari info Ayah Aelria. Tapi di sekolah baru ini… aku belum bisa menyentuh data resmi. Di luar, tidak ada yang benar-benar mengenali nama 'Hirashi Rei' hanya dari ciri fisik. Apalagi tanpa foto."
Hening sejenak.
Seris : "Satu hal yang kupastikan: namanya tidak ada di daftar korban meninggal yang diumumkan pihak sekolah dan pemerintah. Tapi itu saja."
Aelria menunduk, bahunya bergetar halus.
Aelria : "…Jadi sampai sekarang, kau belum menemukan di mana dia… tinggal… atau apakah dia terluka…"
Seris menggigit bibir.
Seris : "Maaf, Aelria. Aku… belum bisa membawa jawaban pulang."
Noelle menunduk, kehilangan semangat.
Noelle : "Jadi semua ini…"
Nerine : "…Masih abu-abu."
Suasana meja mendadak berat.
Lalu Fiora, yang sejak tadi memegang cangkir dengan tenang, angkat bicara pelan.
Fiora : "Tunggu dulu."
Semua menoleh.
Fiora : "Kau bilang… namanya tidak ada dalam daftar korban meninggal."
Seris mengangguk.
Seris : "Ya. Aku cek list yang ditempel, dan aku konfirmasi ke staf. Tidak ada 'Hirashi Rei' di kolom itu."
Fiora : "Berarti justru itu titik terang. Kalau dia ada di daftar tewas, urusannya sudah jelas. Tapi kalau tidak… berarti setidaknya ada kemungkinan besar dia masih hidup. Entah dia selamat tanpa luka parah… atau dirawat di tempat lain… atau menghilang dari radar."
Aelria terdiam… lalu perlahan mengangkat kepala.
Mata hijaunya masih basah, tapi sekarang ada sedikit cahaya.
Aelria : "…Benar juga. Selama namanya tidak tertulis di daftar kematian… aku tidak boleh menganggapnya mati."
Rinna tersenyum.
Rinna : "Itu baru Aelria yang kukenal."
Noelle mengangguk dengan semangat kecil.
Noelle : "Berarti kita masih punya alasan untuk mencari."
Nerine : "Dan masih punya alasan untuk menamparnya kalau ternyata dia hidup damai tanpa memberi kabar."
Seris mendecak kecil.
Seris : "Kalau dia berani membuat kalian menangis sejauh ini lalu ketahuan hidup tenang tanpa luka, aku sendiri yang akan menghajarnya duluan."
Mereka tertawa kecil di tengah udara berat.
Noelle kemudian mengangkat tangan.
Noelle : "Ngomong-ngomong, Seris."
Seris : "Apa?"
Nerine menyambung.
Nerine : "Selama ini kau tidur di mana? Kau datang sendirian. Kau tidak mungkin tidur di jalan."
Seris : "Aku sewa kamar di apartemen murah, tidak jauh dari sekolah tempat insiden. Lebih praktis kalau harus bolak-balik."
Rinna mengangkat alis.
Rinna : "Apartemen murah. Seorang demon seperti Seris… tinggal di apartemen murah dunia manusia. Itu pemandangan yang tidak boleh kita lewatkan."
Fiora tersenyum tipis.
Fiora : "Aku juga ingin lihat. Bukan tiap hari kita bisa menginap di dunia manusia."
Seris mendesah, tapi tidak bisa menahan sudut bibirnya.
Seris : "Baik, baik. Sekalian kita rapat rencana di sana. Dan beli makanan di minimarket dulu sebelum kalian menghabiskan semua uang kalian di restoran mahal."
Aelria mengangguk pelan.
Aelria : "…Kalau begitu, mari kita lihat tempatmu, Seris. Dan besok, kita susun langkah baru."
Apartemen Sakura-so – Satu Lantai di Bawah Takdir
Mereka berjalan menuju apartemen Sakura-so. Dari pintu gerbang, kamar Seris—101—memang lurus di depan, lantai satu.
Di tengah jalan, mereka berhenti di minimarket tadi untuk membeli:
minuman,
roti,
snack ringan.
Kasir mengenali Seris.
Kasir : "Oh, Nona yang kemarin. Kali ini bawa teman, ya?"
Seris : "Ya. Mereka baru datang. Study tour… khusus urusan pribadi."
Setelah selesai, mereka menuju apartemen. Di depan pintu masuk, pemilik apartemen keluar sambil membawa kantong sampah.
Pemilik : "Seris-chan, pulang siang-siang? Habis dari mana?"
Seris mengangkat kantong plastik belanjaan.
Seris : "Keliling sedikit. Lalu bawa teman untuk main. Tidak jauh."
Pemilik melirik rombongan di belakangnya—Aelria, Rinna, Noelle, Nerine, dan Fiora.
Pemilik : "Oh, mereka temanmu? Cantik-cantik semua. Ras campuran ya?"
Seris mengangguk.
Seris : "Ini Aelria, Rinna, Noelle, Nerine, Fiora. Teman sekolah."
Aelria menunduk sopan.
Aelria : "Senang bertemu."
Pemilik tersenyum hangat.
Pemilik : "Kalau kalian menginap, jangan lupa lapor. Tapi untuk hari ini, silakan. Jangan ribut-ribut sampai tetangga bangun."
Seris : "Kami akan tenang. Terima kasih."
Mereka masuk ke kamar 101.
Kamar itu sederhana:
satu kasur,
satu meja kecil,
lemari,
dan jendela yang menghadap halaman depan.
Noelle langsung melihat sekeliling.
Noelle : "Waaah… kecil, tapi hangat."
Nerine : "Dan rapi. Kupikir kamar Seris akan dipenuhi pedang dan kristal sihir."
Seris : "Aku tidak merencanakan perang di kamar, jadi tidak perlu."
Fiora duduk di lantai, memegang minumannya.
Fiora : "Di sini… tenang. Tidak buruk."
Seris membuka minuman dan duduk bersandar ke dinding.
Seris : "Baik. Sekarang, mari kita susun ulang. Sejauh ini, aku fokus pada sekolah dan sekitarnya. Besok… mungkin kita perlu—"
Mereka membahas:
kemungkinan mendatangi rumah sakit yang menampung korban,
kemungkinan meminta akses resmi lewat surat dari akademi,
dan kemungkinan "jalan belakang" kalau jalur resmi terlalu lama.
Waktu berjalan. Matahari perlahan bergeser. Sore merayap pelan.
Di tengah diskusi, Noelle mengangkat tangan lagi.
Noelle : "Seris, selama ini kau cuma cari di sekitar sekolah, kan?"
Seris : "Ya. Memangnya kenapa?"
Nerine bersandar ke meja.
Nerine : "Kau belum coba tanya ke sekitar tempat tinggalmu? Ke tetangga-tetangga, pemilik apartemen, atau warga dekat sini?"
Seris terdiam.
Seris : "…"
Rinna tersenyum miring.
Rinna : "Seorang demon cerdas bisa juga melewatkan hal sederhana."
Seris menutup mata sebentar, lalu mendecak kecil.
Seris : "Baik. Itu salahku. Fokusku terpusat di sekolah, sampai lupa kemungkinan orang yang kita cari justru tinggal di area yang sama denganku."
Aelria, yang sedari tadi duduk paling dekat pintu, tiba-tiba berdiri.
Aelria : "Kalau begitu, jangan tunggu besok. Hari belum malam. Kita bisa mulai dari pemilik apartemen… lalu tetangga terdekat."
Fiora : "Pelan sedikit, Aelria. Kau belum—"
Terlambat. Aelria sudah berjalan cepat ke pintu.
Aelria : "Kalau ada kemungkinan dia ada di sekitar sini, aku tidak mau menunggu satu malam lagi."
Ia menarik handle pintu dan membukanya—
Rei – Hari Jalan-Jalan yang Berakhir di Depan Pintu Takdir
Sementara itu di lain sisi, dari pagi sampai sore…
Rei bangun lebih siang dari biasanya.
Rei : "…Jam segini lagi."
Ia baru saja selesai menguap ketika terdengar ketukan di pintu.
Tok tok tok.
Suara yang sudah ia hafal.
Hina : "Rei-kun! Bangun nggak hari ini?'"
Rei mengangkat suara dari dalam.
Rei : "Bangun, bangun. Sebentar!'"
Ia membuka pintu sedikit.
Di luar, sudah menunggu:
Riku dengan senyum setengah iseng,
Hina dengan antusias,
Airi yang tenang,
dan Rika dengan ekspresi datar tapi matanya memperhatikan.
Rei : "Kalian datang pagi juga.'"
Hina : "Kalau kami datang siang, kau bangunnya sore! Ayo, hari ini kita jalan-jalan seperti dulu sebelum insiden!'"
Rei : "Masuk dulu. Aku… mandi dulu sebentar.'"
Hina dan Airi refleks saling pandang.
Hina : "…Ma-mandi?'"
Airi : "Ah… iya… tentu…'"
Wajah mereka memerah tipis.
Riku cepat-cepat menepuk bahu Rei dan berbisik.
Riku : "Hei, jangan bilang "aku mau mandi" begitu saja di depan gadis-gadis. Setidaknya bilang "tunggu sebentar", baru kau menghilang mengurus dirimu.'"
Rei berkedip… lalu menghela napas pasrah.
Rei : "…Benar juga. Maaf.'"
Ia sedikit membungkuk ke arah Airi dan Hina.
Rei : "Silakan masuk dulu. Anggap saja tadi kalimatku di-rewind.'"
Hina menutup wajah dengan kedua tangan, masih merah.
Hina : "Iya… iya… kami masuk dulu…'"
Airi hanya tersenyum kecil, menahan tawa.
Airi : "Kami tunggu di sini.'"
Riku menahan tawa.
Riku : "Aku ikut masuk untuk memastikan kau tidak tertidur di kamar mandi.'"
Rei : "Aku tidak selemah itu.'"
Setelah sekitar tiga puluh menit, pintu kamar mandi terbuka.
Rei keluar dengan pakaian rapi—kaos bersih, jaket ringan, rambut putihnya masih sedikit basah, menetes pelan—mata kanan hitam, mata kiri biru memantulkan cahaya ruangan.
Hina menatap lama… tanpa sadar bergumam.
Hina : "…Tampan sekali…'"
Airi ikut terpana beberapa detik.
Airi : "Iya…'"
Riku dan Rika kompak menoleh ke mereka.
Riku : "Eh?'"
Rika : "…'"
Hina dan Airi langsung sadar dan menutup mulut, wajah memerah.
Hina : "A-ah, maksudku… pakaianmu rapi! Sangat rapi!'"
Airi : "Iya. Kau… terlihat sehat. Itu saja.'"
Rei hanya tersenyum tipis.
Rei : "Terima kasih. Kalau begitu, ayo pergi sebelum ada komentar spontan lain yang membuat kalian malu sendiri.'"
Mereka pun berangkat.
Jalan-jalan – Seperti Sebelum Dunia Berubah
Hari itu mereka:
berjalan di taman kota, menikmati angin dan melihat bunga,
menonton film di bioskop—Hina tertawa paling keras, Rika fokus, Airi sesekali melirik ekspresi Rei, Riku mengomentari adegan aksi,
makan siang di restoran yang tidak terlalu mahal tapi nyaman.
Dalam beberapa momen, mereka bisa melupakan:
monster,
darah,
dan rasa takut.
Sebagai gantinya:
suara tawa,
sedikit ejek-ejekan,
obrolan ringan tentang masa depan.
Saat sore menjelang, mereka memutuskan kembali dulu ke apartemen Rei sebelum berpisah.
Hina : "Nanti kalau sekolah sudah mulai, kita harus ke taman lagi, ya.'"
Riku : "Tentu. Tapi kalau ada tugas numpuk, jangan salahkan aku kalau aku pilih belajar dulu.'"
Rika : "Itu kalau kau benar-benar belajar, bukan workout sepanjang malam.'"
Airi hanya tersenyum, mendengarkan mereka bercanda.
Mereka memasuki gerbang apartemen Sakura-so, menyusuri koridor.
Rei berjalan paling depan, kunci apartemen di tangan.
Saat ia hampir sampai di tangga untuk naik ke lantai dua—tepat di depan pintu kamar 101—
Pintu 101 terbuka.
Pertemuan – Pelukan yang Menyambung Dua Dunia
Pintu kamar Seris terbuka cepat.
Aelria berdiri di ambang, ingin buru-buru ke pemilik apartemen… tapi langkahnya berhenti begitu matanya menangkap pemandangan di depan:
Laki-laki muda berambut putih, dengan mata kanan hitam dan kiri biru, berdiri hanya beberapa langkah dari pintu. Di sekelilingnya empat orang lain—tiga gadis dan satu pria.
Waktu seakan berhenti.
Mata hijau Aelria membesar. Air yang sudah lama mengendap di sudut matanya kembali naik.
Aelria : "…Rei…?"
Rei juga membeku.
Rei menatap sosok elf berambut perak di depan pintu—telinga yang sama, mata hijau yang sama, ekspresi campuran lega dan hancur yang pernah ia lihat… ketika mereka berpisah di depan gerbang dunia.
Rei : "…Aelria?"
Suara mereka hampir bersamaan.
Detik berikutnya, Aelria berlari tanpa ragu.
Tas kecil di bahunya hampir jatuh, tapi ia tidak peduli. Ia melompat pelan ke arahnya dan—
BRUK.
Aelria memeluk Rei seerat yang ia bisa, wajahnya menempel di dada Rei, bahu bergetar hebat.
Aelria : "Rei… Rei… Rei…"
Air mata mengalir deras, membasahi bajunya.
Aelria : "Aku kira… aku kehilanganmu… Aku kira kau sudah… aku…"
Kata-katanya terpotong oleh isak.
Rei sempat terhuyung satu langkah ke belakang, refleks menstabilkan tubuhnya. Lalu perlahan, ia mengangkat satu tangan, mengusap lembut rambut perak Aelria, yang dulu sering ia lihat tertiup angin di halaman sekolah lama.
Rei tersenyum tipis—senyum yang bercampur lega dan tidak percaya.
Rei : "Selamat datang kembali, Aelria."
Hanya itu. Tapi kalimat sederhana itu seperti pintu besar yang kembali terbuka.
Aelria menangis lebih keras, tapi kali ini bukan hanya karena takut—melainkan karena lega.
Reaksi Dua Kelompok Sahabat
Di belakang Aelria, dari dalam kamar 101, muncul wajah-wajah lain:
Seris, berdiri paling dekat pintu dengan mata merah yang tajam, kini melebar tidak percaya,
Rinna,
Noelle & Nerine,
Fiora.
Rinna : "…Itu…"
Fiora menutup mulut, matanya berkaca-kaca.
Fiora : "Itu pasti… Hirashi Rei."
Noelle berbisik lirih.
Noelle : "Dia nyata…"
Nerine : "Dan… tidak terlihat seperti mau mati besok."
Seris menatap pemandangan itu dengan tatapan rumit—antara lega, sedikit kesal, dan rasa puas karena dugaannya bahwa manusia ini tidak gampang mati terbukti.
Seris : "…Akhirnya ketemu juga, dasar manusia menyusahkan."
Di sisi lain, di belakang Rei, empat anak muda terpaku:
Riku,
Hina,
Airi,
Rika.
Hina mengedip berkali-kali.
Hina : "Eeh…? Rei-kun… dipeluk elf cantik… sambil menangis…?"
Airi memandang dengan campuran kaget dan… sedikit memahami, saat melihat kedalaman emosi di pelukan itu.
Airi : "Mereka… bukan baru kenal. Itu… pelukan orang yang sudah melewati banyak hal bersama."
Riku memegang kepala.
Riku : "Rei… kau… punya sisi masa lalu yang jauh lebih rumit dari dugaanku…"
Rika memperhatikan tanpa komentar panjang, tapi telinga beastkin-nya bisa mendengar jelas betapa suara dan detak jantung Aelria kacau—dan detak Rei, meski tenang, sedikit dipercepat.
Rika : "…"
Rei masih mengusap lembut rambut Aelria.
Rei : "Maaf baru kasih kabar sekarang. Aku… hidup. Lumayan utuh.'"
Aelria hanya menggeleng keras di pelukan, seolah berkata "itu sudah cukup".
Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan, sejak sahabatnya pergi ke dunia lain, sejak Mina, sejak jembatan dan hujan…
Rei merasakan sesuatu yang lama hilang:
Perasaan: "Seseorang yang tahu diriku sebelum semua ini… akhirnya berdiri di depanku lagi."
Dan semua yang lain—teman dari dunia manusia dan teman dari dunia lain—baru mulai menyadari:
Mereka semua kini berdiri di persimpangan yang sama."
