Matahari bahkan belum naik tinggi saat Seris sudah membuka mata.
Seris : "…Sudah pagi."
Kamar 101 masih remang, cahaya tipis masuk dari sela tirai. Ia duduk di tepi kasur, memutar leher pelan—tidak ada rasa lelah di tubuh, tapi kepalanya berat oleh pikiran.
Seris : "Hari ini… aku harus dapat sesuatu."
Ia cepat-cepat mandi, berganti pakaian kasual dunia manusia yang ia beli kemarin—kaos gelap, jaket tipis, celana panjang. Tanduknya disamarkan dengan ilusi, mata merahnya tertutup lensa tipis.
Sekilas ia menatap langit-langit.
Seris (dalam hati) :
"Aelria, kau tunggu di sana. Aku akan tarik kebenaran ini keluar, entah suka atau tidak."
Ia keluar kamar, mengunci pintu, lalu naik ke jalanan.
Pagi di sekitar sekolah penuh suara:
pekerja konstruksi,
kendaraan logistik,
suara palu dan mesin,
petugas yang memeriksa data di tablet.
Seris berdiri sebentar, menatap bangunan yang sedang dirapikan.
Seris : "Aku tidak peduli dengan dinding. Aku peduli dengan siapa saja yang selamat."
Ia mulai bertanya lagi, kali ini ke orang-orang yang kemarin belum sempat ia dekati.
Seris masuk ke toko kecil di dekat sekolah—rak penuh buku tulis, pena, dan peralatan siswa. Pemiliknya seorang pria beastkin tua dengan kacamata.
Seris : "Permisi. Aku mencari murid bernama Hirashi Rei. Rambut putih, mata berbeda warna."
Pemilik mengernyit, mencoba mengingat.
Pemilik : "Hmm… banyak murid datang dan pergi. Tapi rambut putih dan mata beda…"
Ia menggeleng pelan.
Pemilik : "Maaf, Nona. Kalau kau punya foto, mungkin aku bisa ingat. Tanpa itu, sulit."
Seris menahan helaan napas kecewa.
Seris : "…Terima kasih."
Ia menyusuri jalan dan menemukan warung makan kecil yang jelas sering dikunjungi siswa. Ia masuk, aroma kaldu dan makanan mengisi udara.
Seris : "Maaf. Biasanya murid sekolah itu makan di sini?"
Pemilik, seorang wanita manusia, mengangguk.
Pemilik : "Banyak yang ke sini. Tapi akhir-akhir ini sepi."
Seris : "Aku mencari murid bernama Hirashi Rei. Manusia. Rambut putih, mata berbeda warna. Pernah makan di sini?"
Pemilik mengangkat bahu.
Pemilik : "Aku lebih hafal kebiasaan makan daripada wajah, Nak. Kalau dia suka pesan menu tertentu, mungkin aku ingat. Tapi nama dan detail seperti itu… maaf, aku benar-benar tidak tahu."
Seris : "Baik. Terima kasih."
Siang menjelang ketika ia melihat sekelompok murid lewat, mungkin datang melihat keadaan sekolah mereka.
Seris menghampiri salah satu, seorang gadis manusia.
Seris : "Maaf. Kau murid di sini?"
Siswi : "Ah… iya."
Seris : "Apa kau kenal seseorang bernama Hirashi Rei? Rambut putih, mata beda."
Gadis itu terdiam lama.
Siswi : "Sejujurnya… selama insiden itu… semuanya seperti kabur. Aku tidak mengingat semua wajah. Dan aku juga tidak dekat dengan semua murid. Maaf."
Seris menunduk sedikit.
Seris : "…Tidak apa. Terima kasih."
Jawabannya sama.
Dan sama lagi.
Dan lagi.
Seris mengelilingi beberapa blok. Bertanya ke:
penjaga parkir,
pemilik kios kecil,
bahkan petugas pembersih jalan.
Semua jawabannya mengarah pada satu kesimpulan pahit:
Tanpa foto, tanpa akses ke data murid,
sosok bernama Hirashi Rei seperti bayangan yang menolak ditangkap.
Sore di Taman – Menyusun Rencana dan Ketakutan
Matahari miring ke barat. Seris akhirnya menyerah sementara, melangkah ke taman kecil yang tidak jauh dari sekolah.
Di sana ada:
bangku kayu,
pepohonan,
beberapa anak kecil bermain,
sepasang orang tua berjalan pelan.
Seris duduk di bangku, meletakkan tas dimensinya di samping, menatap langit sore yang mulai berwarna jingga.
Seris : "…Kalau aku tidak dapat apa-apa sampai besok, apa aku harus pulang?"
Pertanyaan itu menggantung di hatinya, berat.
Seris (dalam hati) : "Bagaimana aku harus melihat wajah Aelria dan mengatakan, 'Maaf, aku tidak menemukan apa-apa'?"
Ia menggenggam ujung rok jaketnya.
Seris (dalam hati) :
"Kalau aku terus di sini, akan ada batas untuk berapa lama akademi dan orang tua kami mau diam. Tapi… kalau aku pulang tanpa jawaban, bukankah itu sama saja membiarkan Aelria merana dengan "mungkin"?"
Angin sore bertiup pelan, menggoyangkan pucuk daun.
Seris menghela napas panjang.
Seris : "Besok aku coba dua hal: satu, cari akses resmi ke data murid. Dua, mungkin… rumah sakit yang menangani korban insiden."
Ia menatap telapak tangannya.
Seris : "Kalau memang namamu tidak muncul dalam daftar tewas… itu berarti dua kemungkinan. Kau selamat… atau kau ada di zona abu-abu yang tidak tercatat."
Ia menutup mata sebentar.
Seris : "…Hirashi Rei. Kau benar-benar tahu cara membuat orang repot."
Langit semakin gelap. Lampu taman satu per satu menyala.
Seris berdiri.
Seris : "Waktunya kembali."
Rei – Siang Hari yang Ramai di Apartemen Kecil
Sementara itu, di lantai dua apartemen yang sama di hari yang sama…
Rei baru membuka mata ketika matahari sudah tinggi.
Rei : "…Jam berapa ini."
Ia mengintip ponsel.
Rei : "…Siang, ya. Ini yang disebut libur."
Ia terkekeh pelan, lalu bangun, mandi, dan menyiapkan sarapan-lunch sederhana—telur, nasi, dan sedikit sayur.
Setelah makan, ia keluar sebentar ke minimarket, menyapa beberapa tetangga seperti biasa.
Ibu Tanaka melambai.
Ibu Tanaka : "Rei-kun, hari ini temannya datang lagi?"
Rei : "Kalau Riku tidak tersesat, mungkin."
Paman Dorg tertawa di sudut.
Dorg : "Kalau dia tersesat dengan mobil semahal itu, aku bersedia menerima mobilnya sebagai barter."
Rei : "Maaf, Paman. Itu topik yang tidak akan kusampaikan pada pemiliknya."
Setelah belanja, Rei kembali ke apartemen.
Tak lama kemudian—
Tok tok.
Rei : "Sebentar."
Ia membuka pintu… dan terdiam.
Di depannya, bukan hanya Riku.
Riku berdiri di depan, dan di belakangnya:
Airi, elf berambut lembut dengan tatapan tenang,
Hina, manusia dengan ekspresi ceria,
Rika, beastkin dengan mata tajam dan aura tegas.
Mereka membawa kantong-kantong plastik penuh makanan.
Rei : "…"
Riku tersenyum kaku.
Riku : "Rei, aku menyerbu rumahmu dengan bala bantuan."
Hina mengangkat tangan.
Hina : "Rei-kun! Kami datang membawa makanan! Jangan usir kami!'"
Airi tersenyum tipis.
Airi : "Kami pikir kau mungkin bosan sendirian selama libur."
Rika menatap tas belanjaan.
Rika : "Aku tidak ingin makanan ini basi hanya karena kau terlalu sopan menolak tamu."
Rei menghela napas pelan, tapi ada senyum halus di bibirnya.
Rei : "Masuk. Kalau kalian sudah sampai sejauh ini, aku tidak punya energi untuk mengusir."
Mereka masuk, melepas sepatu, dan ruangan kecil Rei dalam hitungan detik berubah suasana—hangat, ramai, dan… sedikit berantakan.
Makan Bersama – Keluhan Libur & Rindu Sekolah
Mereka mengeluarkan isi kantong:
beberapa bento,
minuman,
snack,
buah.
Hina duduk di lantai dengan semangat.
Hina : "Aku bosan di rumah!"
Airi duduk lebih rapi, tapi wajahnya juga lelah.
Airi : "Ibu ku selalu menanyakan keadaan ku...Padahal kami selalu di rumah selama liburan ini."
Rika bersandar ke dinding, menyilangkan tangan.
Rika : "Ayahku setelah tahu kejadian itu justru menaikkan intensitas latihanku. Katanya kalau ada monster lagi, aku harus bisa memukulnya lebih keras."
Riku, di sudut, tertawa miring.
Riku : "Ayahku memarahiku karena dua hal: hampir mati, dan tidak cukup kuat untuk memastikan teman-teman tidak terluka. Itu ceramah paling panjang sejauh ini."
Rei membuka salah satu bento, aroma makanan menyebar.
Rei : "Tapi kalian masih punya orang tua yang bisa memarahi. Itu… sesuatu yang tidak semua orang punya."
Mereka terdiam sejenak.
Airi menunduk kecil.
Airi : "Maaf, Rei-kun…'"
Rei menggeleng.
Rei : "Tidak perlu minta maaf. Aku hanya mengingatkan, kalian juga beruntung dalam hal itu."
Airi menatap Rei kembali.
Airi : "Kalau begitu, anggap saja sekarang kami memarahi dan mengawasi satu sama lain. Termasuk mengawasi dirimu."
Rei mengangkat alis.
Rei : "Aku tidak ingat mendaftar jasmani pengawasan antar ras."
Rika menatapnya datar.
Rika : "Terlambat untuk mengajukan penolakan."
Mereka tertawa kecil.
Suasana makan siang itu… anehnya damai.
Mereka membicarakan:
betapa mereka rindu suasana kelas,
betapa latihan di sekolah lebih menyenangkan daripada latihan pribadi di rumah,
dan bagaimana, meskipun insiden monster mengerikan, mereka tidak ingin hari-hari selanjutnya hanya diisi rasa takut.
Riku menatap Rei di sela obrolan.
Riku : "Hei, Rei."
Rei : "Hm?'"
Riku : "Waktu di taman sekolah, malam festival, kau bilang luka punggungmu "belum seberapa" dibanding luka masa lalu. Sekarang setelah aku tahu cerita tentang keluargamu dan… Mina… aku…'"
Ia menggenggam cangkirnya.
Riku : "…mungkin kalau aku tahu dari dulu, aku akan lebih marah pada orang-orang yang menyakitimu. Jadi, kalau suatu saat aku berlebihan, maaf. Itu cara otakku bekerja."
Rei menatap cangkirnya sendiri, lalu mengangkatnya sedikit.
Rei : "Kalau aku ambruk, aku akan pastikan aku jatuh dalam jangkauan kalian, jadi kalian bisa menarik atau memukulku sesuai kebutuhan."
Hina tertawa, matanya sedikit berkaca-kaca.
Hina : "Itu janji, ya!'"
Airi tersenyum kecil.
Airi : "Kalau perlu, aku paksa kau ikut terapi mental kolektif."
Rika hanya mengangguk pendek.
Rika : "Kalau kau bilang "aku baik-baik saja" padahal tidak, aku akan tahu."
Rei : "Menakutkan juga punya penjaga dari tiga ras berbeda."
Riku mengangkat tangan.
Riku : "Empat. Jangan lupakan aku."
Rei : "Kau lebih seperti pelaku pelengkap kekacauan."
Mereka tertawa bersama.
Waktu berjalan tanpa terasa.
Saat matahari mulai turun, Hina melirik jam di ponselnya.
Hina : "Ah, kalau kami tidak pulang sekarang, kami akan ketinggalan kereta terakhir…'"
Airi berdiri, merapikan rok.
Airi : "Kita harus bergegas. Jalur terakhir tidak menunggu elf terlambat."
Rika ikut berdiri.
Rika : "Besok kami datang lagi. Kalau kau menghilang, kami akan menganggapmu diculik dan memburu pelakunya."
Rei mengangguk pelan, berdiri mengantar mereka ke pintu.
Rei : "Terima kasih sudah mengacaukan kamarku hari ini. Datanglah lagi."
Riku tersenyum.
Riku : "Aku akan membawa kekacauan yang lebih terorganisir lain kali."
Mereka tertawa sekali lagi sebelum turun tangga bersama, bergegas menuju stasiun.
Rei menutup pintu perlahan.
Aelria dan Kawan-Kawan – Tiba di Dunia yang Menyimpan Luka
Di sisi lain kota, menjelang sore—
Gerbang antar dunia tertutup pelan setelah meloloskan lima sosok:
Aelria,
Rinna,
Noelle,
Nerine,
dan Fiora.
Mereka berdiri di ruang penerimaan antar dunia dunia manusia—sebuah fasilitas resmi, dijaga ketat.
Petugas memberi mereka dokumen, peta, dan sedikit penjelasan dasar.
Petugas : "Kami sudah diberitahukan kedatangan kalian oleh akademi dan pihak keluarga. Mohon ikuti aturan dunia manusia, dan jangan gunakan sihir secara mencolok di tempat umum."
Rinna mengangguk.
Rinna : "Kami mengerti."
Aelria menggenggam tali tas kecilnya erat-erat.
Aelria (dalam hati) : Aku kembali ke dunia ini… tapi tidak seperti dulu. Kali ini aku tidak datang sebagai murid pertukaran. Aku datang mencari seseorang di antara luka.
Setelah urusan administrasi selesai, mereka keluar ke kota.
Langit sudah mulai jingga, lampu-lampu menyala.
Noelle menatap sekeliling.
Noelle : "Ini dunia manusia… lampunya banyak."
Nerine : "Dan bising."
Fiora memperhatikan gedung-gedung.
Fiora : "Teknologi mereka berkembang, tapi rasanya seperti hutan metal dan kaca… menarik, tapi melelahkan."
Rinna menepuk bahu Aelria pelan.
Rinna : "Aelria, kau ingin langsung menuju sekolah yang terkena insiden?'"
Tatapan Aelria sempat melirik ke arah yang ia tahu adalah lokasi itu.
Aelria : "…Ingin. Sangat."
Tapi kemudian ia menatap wajah teman-temannya—mata mereka sedikit letih setelah perjalanan antar dunia.
Aelria menunduk, menenangkan diri.
Aelria : "Tapi… kita sebaiknya mencari penginapan dulu. Kalian juga lelah. Akan egois kalau aku memaksa kalian langsung ke sana sekarang."
Rinna tersenyum tipis.
Rinna : "Begitu lebih baik. Kalau kau pingsan di depan reruntuhan sekolah, kami harus menjelaskan terlalu banyak pada pihak manusia."
Mereka berjalan menyusuri kota, bertanya pada beberapa orang, hingga menemukan sebuah hotel yang masih beroperasi dengan baik—sedikit jauh dari lokasi musibah, tapi cukup tenang.
Resepsionis menerima mereka dengan ramah.
Resepsionis : "Kamar untuk lima orang? Kami punya dua kamar twin dan satu single. Bisa kami susun berdekatan."
Fiora : "Itu cukup."
Setelah check-in dan naik ke kamar, mereka menaruh barang sebentar.
Perut Noelle berbunyi cukup keras.
Noelle : "…Aku lapar."
Nerine : "Aku juga. Monster anomali atau tidak, perut tetap minta haknya."
Rinna tertawa pelan.
Rinna : "Kalau begitu, kita makan dulu. Aelria… ikut, ya?'"
Aelria duduk di tepi kasur, tatapannya sempat kosong, tapi ia mengangguk.
Aelria : "…Ya."
Makan Malam – Kata-Kata Kecil untuk Menahan Aelria
Mereka menemukan restoran sederhana dekat hotel. Meja untuk berlima, menu campuran yang disesuaikan untuk berbagai ras.
Makanan datang:
sup hangat,
roti,
daging,
salad.
Yang lain mulai makan dengan lahap, tapi Aelria hanya memegang sendoknya.
Aelria : "…'"
Rinna memperhatikannya.
Rinna : "Aelria. Makan."
Aelria menggeleng kecil.
Aelria : "Aku… tidak terlalu lapar…'"
Rinna meletakkan sendoknya, menatap serius.
Rinna : "Kalau kau tidak makan, bagaimana kau mau kuat menghadapi apa pun yang menunggumu besok? Entah itu kabar baik… atau kabar yang lebih berat?'"
Fiora mengangguk pelan.
Fiora : "Seris pergi ke dunia ini sendirian duluan, mengambil resiko besar. Aku yakin dia juga berharap saat kalian bertemu lagi, kau tidak dalam keadaan setengah mati karena lupa makan."
Noelle mengangkat tangan kecil.
Noelle : "Kalau kau tidak makan, aku akan menyuapimu sendiri."
Nerine : "Dan kau tahu itu akan berakhir kacau."
Aelria menghela napas pelan… lalu tersenyum tipis.
Aelria : "…Kalian benar. Aku tidak boleh jatuh dulu, sebelum tahu kebenaran."
Ia mulai menggenggam sendok, mengambil suap kecil.
Rasa makanan masuk perlahan. Tidak sepenuhnya enak di selera yang sedang kacau, tapi kehangatan sup sedikit meredakan dingin di dadanya.
Setelah makan dan kembali ke hotel, mereka akhirnya beristirahat.
Fiora sebelum tidur sempat berbisik.
Fiora : "Besok, kita mulai dengan mencari jejak Seris… dan dari sana, kita akan menyusuri langkah-langkahnya."
Aelria menatap langit-langit kamarnya.
Aelria (dalam hati) : "Rei… kalau kau masih di dunia ini… tunggulah sedikit lagi."
Malam – Dua Jalur yang Hampir Berpotongan
Malam turun sempurna.
Rei – Menunggu Kekacauan Besok
Di apartemen lantai dua, setelah teman-temannya pulang, Rei menatap ruangan yang kini kembali sepi—tapi penuh jejak.
Kotak makanan kosong, cangkir, dan sedikit remah di lantai.
Rei : "…Seperti badai kecil lewat."
Ia menggeleng pelan, tersenyum, lalu mulai membereskan:
membuang sampah,
mencuci cangkir dan piring,
menyapu lantai.
Setelah selesai, ia mandi air hangat, membiarkan tubuhnya rileks.
Rei berbaring di kasur, menatap langit-langit.
Rei (dalam hati) : "Hari ini… tidak buruk. Aku masih bisa tertawa. Itu bukan hal kecil."
Ia memejamkan mata pelan.
Rei : "Besok… entah mereka akan membawa kekacauan lagi, atau dunia yang lain yang memilih datang. Kita lihat saja."
Pelan-pelan, ia tertidur.
Seris – Pulang dengan Tangan Hampir Kosong
Di luar, Seris berjalan menyusuri trotoar menuju apartemen Sakura-so. Lampu jalan memantul di matanya yang tersembunyi di balik lensa.
Seris : "Hari ini… juga kosong."
Ia menghela napas pendek.
Seris (dalam hati) : "Kalau besok masih sama, aku harus mulai memikirkan cara memaksa pihak sekolah membuka data. Atau… menyelinap ke arsip mereka."
Ia melangkah masuk ke komplek sekitar apartemen.
Dari kejauhan, suara langkah cepat dan obrolan terdengar.
Hina : "Cepat! Kalau kita ketinggalan kereta terakhir, aku tidur di rumah Rei-kun saja!'"
Riku : "Hei, jangan seenaknya menginap di rumah orang!'"
Rika : "Kalau kau ditendang keluar, jangan salahkan siapa-siapa."
Suara mereka semakin dekat.
Seris berjalan di tepi, kepala sedikit menunduk, tidak berniat menarik perhatian.
Mereka berpapasan.
Untuk sepersekian detik, dua dunia hampir saling menyentuh tanpa sadar.
Airi—yang berjalan sedikit di belakang—secara naluriah menoleh ke arah aura yang lewat di samping mereka.
Mata elf-nya menangkap sosok gadis berambut hitam, mata tertutup lensa, tapi aura mana di sekelilingnya… berbeda.
Airi : "…Gadis demon? Di sekitar sini?'"
Ia sempat melambat sedikit.
Tapi kemudian ia melirik jam di ponselnya.
Airi : "…Kereta terakhir."
Ia mempercepat langkah lagi.
Airi (dalam hati) : "Mungkin hanya murid asing atau pekerja. Dunia sudah bercampur. Tidak aneh."
Seris juga sempat merasakan sesuatu—empat aura berbeda:
manusia dengan penguatan tubuh,
elf bersih dengan mana halus,
beastkin dengan fisik kuat,
manusia dengan sihir yang belum terasah.
Seris (dalam hati) : "Sekelompok murid. Bukan targetku. Lewat saja."
Mereka saling melewati, masing-masing dengan dunia di kepala mereka sendiri.
Dalam beberapa langkah, jarak kembali melebar.
Seris sampai di depan apartemen Sakura-so, masuk, menyapa singkat pemilik, lalu menuju kamarnya di lantai satu.
Ia membuka pintu, masuk, dan menjatuhkan diri ke kasur.
Seris : "Besok… satu hari lagi. Kalau masih kosong, aku akan mengganti cara."
Di atasnya, satu lantai, Rei sudah tertidur, tidak tahu bahwa gadis demon yang Aelria percayakan sudah begitu dekat.
Malam itu, di tiga tempat:
Rei tertidur dengan rasa hangat dari tawa teman-temannya,
Seris tertidur dengan frustrasi dan tekad yang belum padam,
Aelria tertidur dengan doa lirih, berharap besok ada kabar—apa pun bentuknya.
Dan tanpa mereka sadari, jarak di antara mereka sekarang hanya tinggal:
satu lantai apartemen,
beberapa blok kota,
dan satu hari lagi sebelum dunia memutuskan:
siapa bertemu siapa lebih dulu.
