Cherreads

Chapter 22 - Asrama Aelria – Surat Seris & Keputusan Gila

Kita balik lagi ke dua dunia yang pelan-pelan mulai saling mendekat.

Pagi itu, suasana kamar asrama terasa aneh.

Biasanya, saat jam pelajaran hampir selesai, Rinna, si kembar Noelle & Nerine, Fiora, dan Seris akan pulang bersama, lalu mendapati Aelria duduk di meja dengan buku atau menatap langit.

Hari ini berbeda.

Rinna membuka pintu pelan.

Rinna :

"Aelria… kami datang—"

Ia berhenti.

Di ranjang Seris, tas dimensinya tidak ada. Lemari pakaiannya setengah kosong. Hanya satu hal yang tertinggal di atas bantal:

Sepucuk surat.

Noelle :

"…Itu di bantal Seris."

Nerine :

"Aku punya firasat tidak enak."

Fiora berjalan mendekat, tapi Nerine lebih cepat mengambil surat itu.

Nerine :

"Untuk siapa… oh, ini tertulis: Untuk Aelria dan kalian semua."

Rinna menoleh ke arah Aelria yang berbaring di ranjangnya sendiri, menatap kosong ke dinding.

Rinna :

"Aelria… kau sanggup baca?"

Aelria bangkit dari tidur nya dan menatap mereka sebentar—mata masih sedikit bengkak—lalu mengangguk pelan.

Aelria :

"…Berikan padaku."

Nerine menyerahkan surat. Aelria membuka pelan. Tulisan tangan Seris yang tegas memenuhi halaman.

Aelria (membaca pelan, tapi bisa terdengar) :

" Maaf karena aku pergi tanpa izin… "

Noelle menelan ludah.

Aelria melanjutkan, suaranya sedikit bergetar.

Aelria :

" Aku tidak tahan hanya melihat Aelria menangis seperti ini tanpa melakukan apa-apa… "

Fiora menutup mulut dengan tangan.

Fiora :

"…Seris."

Aelria terus membaca, napas makin berat.

Aelria :

" Aku akan pergi ke dunia manusia. Dengan bermodalkan nama kota, nama sekolah yang terkena insiden, dan nama manusia itu: Hirashi Rei. Aku juga mengingat rambut putih dan mata berbeda yang kau ceritakan… "

Di bagian akhir, suaranya makin pelan.

Aelria :

" Kalau dia masih hidup, aku akan menemukannya. Kalau dia sudah tidak ada… aku akan mencari tahu yang sebenarnya. Jangan khawatir. Aku Seris. Aku tidak mudah mati. Marahlah nanti setelah aku kembali membawa jawaban. "

Ia menjatuhkan surat itu di pangkuannya.

Hening menelan kamar.

Noelle :

"…Dia beneran pergi."

Nerine :

"Tanpa izin akademi… tanpa izin orang tua…"

Rinna memegang kepala.

Rinna :

"Dasar demon keras kepala…"

Fiora menatap Aelria, hati-hati.

Fiora :

"Aelria…?"

Aelria menggenggam surat itu erat-erat.

Aelria :

"Seris… pergi ke dunia manusia… sendirian…"

Matanya bergetar—bukan hanya karena Rei, tapi karena sahabatnya ikut terseret.

Rinna menarik napas panjang.

Rinna :

"Kita harus lapor akademi. Sekarang."

Ruang Guru – Permohonan yang Tak Terduga

Di kantor akademi, salah satu guru elf senior menatap mereka dengan serius setelah membaca surat Seris.

Guru :

"…Anak itu benar-benar nekat."

Rinna :

"Sensei, kami datang untuk melapor, tapi juga untuk…"

Ia melirik Aelria sebentar, lalu kembali menatap guru.

Rinna :

"…meminta izin menyusul."

Fiora, si kembar, dan bahkan Aelria mengangguk.

Guru mengerutkan dahi.

Guru :

"Kalian mau pergi ke dunia manusia, ke kota yang baru saja diserang monster anomali, hanya untuk—"

Aelria memotong dengan suara pelan tapi tegas.

Aelria :

"Untuk memastikan kebenaran dengan mata kepala kami sendiri. Tentang Seris, dan tentang… manusia itu."

Guru menatap Aelria. Mata Aelria masih menyimpan luka, tapi di baliknya ada tekad yang pekat.

Guru :

"Aelria. Keadaan mentalmu belum stabil. Pergi ke tempat yang mengingatkanmu pada kabar buruk bukan langkah bijak."

Aelria menggenggam roknya.

Aelria :

"Justru karena itu, Sensei. Kalau aku hanya diam di sini… aku hanya akan membayangkan skenario terburuk. Aku tidak tahu apakah Rei masih hidup… apakah dia terluka… atau…"

Suaranya pecah sebentar. Ia memaksa melanjutkan.

Aelria :

"Aku tidak mau hanya menunggu. Aku lebih baik terluka oleh kebenaran… daripada hancur oleh ketidakpastian."

Hening lagi.

Rinna melangkah maju.

Rinna :

"Sensei, kalau masalahnya adalah Aelria pergi sendiri, maka biarkan kami semua ikut. Aku, Noelle, Nerine, dan Fiora."

Noelle mengangkat tangan.

Noelle :

"Kami bisa bertarung."

Nerine menghela napas pelan.

Nerine :

"Dan kami tidak akan membiarkan Aelria atau Seris mati di dunia yang bahkan bukan rumah mereka."

Fiora mengangguk, meski ia biasanya paling lembut.

Fiora :

"Dan… kami akan memberi laporan rutin. Kami tidak akan bertindak seenaknya. Kami hanya ingin bersama sahabat kami."

Guru menutupi mulut sebentar dengan tangan, berpikir.

Lalu ia menghela napas panjang.

Guru :

"Baik. Tapi keputusan ini bukan hanya milikku. Kalian harus mendapatkan izin dari orang tua kalian. Dan akademi akan mengajukan permintaan resmi kepada pihak dunia manusia. Perjalanan antar dunia tidak bisa dilakukan seenaknya."

Rinna, si kembar, Fiora, dan Aelria mengangguk bersamaan.

Rinna :

"Kami mengerti."

Guru menatap Aelria lebih lama.

Guru :

"Jika izin diberikan… kau siap, Aelria?"

Aelria mengangkat kepala.

Aelria :

"…Kalau Rei masih hidup, aku ingin bisa mengucapkan sesuatu yang tidak sempat kukatakan dulu."

Ia menunduk sebentar.

Aelria :

"Kalau dia sudah tidak ada… aku ingin setidaknya bisa mengucapkan selamat tinggal dengan benar."

Guru tersenyum tipis, lelah tapi lembut.

Guru :

"Baik. Kita lihat apakah dunia mengizinkan kalian berjalan sejauh itu."

Libur di Dunia Manusia – Rei & Riku, Kakak, Adik, dan Rika

Beberapa hari setelah insiden monster, di apartemen kecil Rei—

Pagi itu, Rei sedang mencuci piring sarapan ketika terdengar ketukan pelan di pintu.

Tok tok.

Rei :

"Sebentar."

Ia mengeringkan tangan, membuka pintu.

Di depan, berdiri Riku… tanpa mobil. Hanya mengenakan pakaian santai dan tas kecil di bahu.

Rei mengangkat alis.

Rei :

"Kali ini kau jalan kaki?"

Riku nyengir kecil.

Riku :

"Ayah akhirnya mengizinkan aku naik kereta dan jalan. Katanya, kalau aku terus pakai mobil ke gang sempit ini, aku akan diusir tetangga sebelum kau sempat bosan denganku."

Rei :

"…Ayahmu orang bijak."

Riku :

"Ayahku orang hemat."

Mereka tertawa.

Rei mempersilakan Riku masuk.

Ngobrol Santai – Sebelum Telepon Datang

Mereka duduk di lantai seperti biasa. Di meja kecil, ada teh dan sisa biskuit yang Rei beli kemarin.

Rei :

"Libur seminggu, kau tidak bosan?"

Riku :

"Kalau sendiri, iya. Makanya aku ke sini."

Rei :

"Kau bisa habiskan waktu di rumah besar dengan fasilitas lengkap."

Riku :

"Dan menghabiskan waktu mendengar Ayah ceramah? Tidak, terima kasih."

Rei tertawa pelan.

Sebentar, mereka hanya mengobrol santai—tentang berita sekolah, tentang rencana setelah libur, dan sedikit menyentuh lagi soal masa lalu Rei.

Rei sempat menceritakan ulang—lebih pelan—tentang:

kecelakaan yang merenggut orang tuanya,

sahabat elf yang kembali ke dunianya,

dan pengkhianatan Mina.

Rei :

"Aku sempat berdiri di jembatan, mempertimbangkan untuk terjun."

Riku mengepalkan tangan.

Riku :

"…Dan tidak ada satu pun orang dewasa yang menyadarinya."

Rei :

"Hanya hujan yang tahu."

Riku menunduk, rahangnya mengeras.

Riku :

"Kalau aku tahu waktu itu, aku akan pergi ke sana dan menyeretmu pulang. Lalu menghajar siapapun yang membuatmu berpikir dunia tidak menginginkanmu."

Rei :

"Kalimatmu itu membuatku terdengar terlalu berharga."

Riku menatap Rei tajam.

Riku :

"Bagiku dan temanmu yang lain, kau memang berharga. Mau kau terima atau tidak."

Dalam hati, amarahnya kepada Mina dan Hayato kembali naik.

Riku (dalam hati) :

"Beastkin atau bukan, laki-laki yang menganggap ringan perasaan orang lain seperti itu… tidak pantas dihormati."

Tapi sebelum suasana jadi terlalu berat—

BRRT BRRT

Ponsel Riku bergetar di meja.

Riku melirik layar.

Riku :

"…Adikku."

Rei :

"Angkat saja."

Riku menggeser ikon, mengangkat.

Riku :

"Yo, ada apa?'"

Suara gadis ceria terdengar.

Adik :

"Nii-san! Video call, video call! Aku mau lihat wajahmu!'"

Riku menghela napas.

Riku :

"Baik, baik."

Ia menekan tombol video. Wajah seorang gadis muda beastkin muncul—mata berbinar, telinga bergerak ceria.

Adik :

"Waaah, Nii-san beneran di rumah temannya? Aku penasaran selama libur ini kau ngapain saja!'"

Riku :

"Seperti yang kau lihat, ngobrol."

Adik mengedip, lalu matanya melebar.

Adik :

"Eh? Itu siapa di sebelahmu?!'"

Kamera bergeser sedikit, menampakkan Rei yang duduk agak di belakang.

Riku :

"Oh. Ini Rei."

Adik menyipitkan mata, mengamati.

Adik :

"A…Nii-san. Kenapa pria di sebelahmu tampan sekali?'"

Riku :

"…Hah?'"

Rei :

"…Aku merasa diserang dari arah yang aneh."

Adik :

"Rambut putih, mata beda warna… aura calm… Nii-san, kenalkan! Kenalkan! Kenalkan!'"

Riku :

"Iya, iya! Jangan teriak, telingaku pecah."

Riku mengarahkan kamera lebih jelas.

Riku :

"Ini Hirashi Rei. Teman sekelasku."

Rei mengangguk sedikit.

Rei :

"Senang bertemu lewat layar. Aku Rei."

Adik mengeluarkan suara seperti fangirl.

Adik :

"Waaah! Kalau aku seumurmu dan satu sekolah, aku pasti sudah ajak kau jalan! Kenapa wajah cowok di sekelilingku tidak ada yang begini?!'"

Riku :

"Hei! Di sini ada kakakmu juga, tahu!'"

Adik :

"Nii-san tampan, tapi sudah biasa kulihat. Ini yang baru."

Rei menahan tawa.

Rei :

"Aku merasa seperti produk baru di katalog."

Tiba-tiba, suara lain terdengar.

Ibu :

"Ada apa ribut-ribut? Ah, Riku—'"

Wajah seorang wanita beastkin dewasa muncul di samping adik—cantik, masih awet muda, dengan senyum nakal.

Ibu :

"Oh? Ini temanmu?'"

Kamera kembali mengarah ke Rei.

Ibu :

"…Ya ampun. Kalau Ibu masih umur 19 tahun, mungkin Ibu sudah bawa dia kabur untuk jadi suami Ibu."

Riku :

"OI!! Ingat Ayah di rumah, Bu!!'"

Rei menatap layar dengan muka bingung.

Rei :

"…Aku tidak tahu harus merasa terhormat atau takut."

Adik tertawa keras.

Adik :

"Hahaha! Tenang, Nii-san, Ibu bercanda. Mungkin."

Ibu melambaikan tangan ke Rei.

Ibu :

"Jaga Riku baik-baik ya, Rei-kun. Anak itu keras kepala dan mudah iri, tapi hatinya lembut."

Rei mengangguk.

Rei :

"Kami saling menjaga, Bu."

Riku memegang jidat.

Riku :

"Oke, sudah cukup show keluarga. Ada hal lain?'"

Adik tiba-tiba menatap serius—seriusnya adik kecil, tentu saja.

Adik :

"Ada satu hal penting…'"

Riku :

"Apa lagi?'"

Adik menunjuk ke arah Riku, lalu ke layar.

Adik :

"Rei-san, Kakakku sudah punya pacar belum?'"

Rei & Riku :

"…"

"…Hah?!'"

Riku langsung panik.

Riku :

"Hei!! Kenapa tanya begitu ke tamuku?!'"

Adik :

"Aku cuma penasaran! Dia selalu cerita punya teman perempuan kuat di sekolah! Aku ingin tahu, itu teman atau pacar?'"

Riku :

"Itu bukan urusan—'"

Rei pelan-pelan menoleh ke Riku, senyum tipis.

Rei :

"Kau punya gadis yang kau suka, kan?'"

Riku :

"Rei!!'"

Ibu di layar menutup mulut sambil cekikikan.

Ibu :

"Oho… jadi benar ada?'"

Riku cepat-cepat menutup video call.

Riku :

"Baik, aku tutup dulu, kita bahas nanti!!''"

Beep.

Layar kembali gelap.

Pengakuan Riku – Dengan Syarat

Rei menatap Riku. Riku menatap lantai.

Rei :

"Jadi…'"

Riku :

"Jangan."

Rei :

"Ada gadis yang kau suka, 'kan?'"

Riku menutup wajah dengan tangan.

Riku :

"Kenapa orang sekitar tiba-tiba kompak memojokkanku soal ini?'"

Rei hanya menunggu, dengan sabar menyeduh lagi teh.

Riku akhirnya menghela napas panjang.

Riku :

"…Oke. Tapi satu syarat."

Rei :

"Syarat?'"

Riku menatap Rei dengan serius.

Riku :

"Jangan pernah bilang ke orang yang bersangkutan. Apa pun yang terjadi."

Rei mengangguk.

Rei :

"Selama tidak membahayakanmu atau orang lain, aku tidak akan bicara."

Riku terdiam sejenak, mencari kata.

Riku :

"…Gadis yang kusuka itu… Rika."

Rei tidak bereaksi berlebihan. Hanya mengangkat alis sedikit.

Rei :

"Sejujurnya, aku sudah menduga."

Riku :

"Kau TIDAK kaget?'"

Rei :

"Kau kira aku tidak melihat saat kau selalu melirik ke arah latihan fisiknya, atau cara kau refleks melangkah setengah maju kalau dia diserang duluan?'"

Riku :

"Kau diam saja selama ini?!'"

Rei :

"Itu perasaanmu. Bukan milikku untuk diucapkan."

Riku menghela napas, antara malu dan lega.

Riku :

"Dia kuat. Tegas. Serius. Mirip Ibu."

Rei :

"…Aku semakin mengerti kenapa kau jatuh cinta."

Riku tersenyum miring.

Riku :

"Tapi, seperti yang kau bilang… hidup normal sekarang saja sudah berharga. Kalau aku gegabah dan merusak keseimbangan kelompok kita, aku tidak akan maafkan diriku sendiri."

Rei menatapnya, lalu mengangguk pelan.

Rei :

"Kalau begitu, untuk sekarang, cukup aku yang tahu."

Dalam hati, ia menambahkan:

Rei (dalam hati) :

"Dan kalau suatu hari Rika mulai melihatmu dengan cara yang sama… aku akan pura-pura kaget."

Seris di Dunia Manusia – Mencari di Kota yang Luka

Di saat Rei dan Riku tertawa di apartemen kecil itu, di kota yang sama…

Di dekat reruntuhan sekolah yang sedang direnovasi, seseorang berdiri sambil menatap bangunan penuh scaffold.

Jubah panjang, versi disamarkan agar tidak mencolok. Rambut hitam dengan merah gelap, mata merah yang kini ditutupi kacamata tipis untuk menyamarkan. Tanduk kecilnya disembunyikan dengan sedikit sihir ilusi.

Seris.

Seris :

"Jadi ini… sekolahnya."

Bangunan itu dikelilingi pagar sementara dan garis pembatas. Beberapa pekerja konstruksi manusia, beastkin, dan ras lain bekerja memperbaiki tembok yang hancur. Di satu sisi, ada papan ucapan duka kecil dengan bunga-bunga.

Seris berjalan mendekat, berhenti di luar pagar.

Seris :

"Baik. Mulai dari sini."

Bertanya Sana Sini – Tanpa Foto, Tanpa Nama di Laporan

Ia mendekati sekelompok pekerja—seorang manusia, satu beastkin, dan satu dwarf—yang sedang istirahat.

Seris :

"Permisi."

Pekerja Manusia menoleh.

Pekerja :

"Hm? Ada yang bisa kami bantu, Nona?'"

Seris menatap mereka satu per satu.

Seris :

"Aku mencari seseorang. Seorang murid di sekolah ini. Namanya Hirashi Rei. Rambut putih, mata berbeda warna—satu biru, satu hitam."

Mereka saling pandang.

Pekerja Beastkin menggaruk kepala.

Pekerja Beastkin :

"Rambut putih… heterochromia…'"

Dwarf menggeleng pelan.

Dwarf :

"Setelah insiden, banyak murid dievakuasi cepat. Kami yang datang belakangan hanya melihat reruntuhan dan data korban di laporan. Tidak ada nama itu di daftar yang kami terima."

Seris mengerutkan dahi.

Seris :

"Jadi kalian tidak tahu apakah dia ada di sekolah ini saat insiden?'"

Pekerja manusia menggeleng.

Pekerja :

"Maaf."

Seris pergi, menuju arah lain.

Ia menghampiri penjaga gerbang sementara—seorang elf yang bekerja sebagai staf administrasi.

Seris :

"Aku mencari murid bernama Hirashi Rei. Apakah ada catatan tentangnya?'"

Staf Elf mengetik sesuatu di tablet kristal.

Staf Elf :

"…Tidak ada nama itu di daftar korban luka berat, ringan, atau tewas dari insiden kemarin. Tapi—"

Seris mencondongkan badan.

Seris :

"Tapi?'"

Staf :

"Untuk data murid lengkap, kami tidak bisa sembarang bukakan tanpa izin. Dan… banyak murid yang pindah tidak lama setelah kejadian. Jika dia murid baru atau pindahan, mungkin datanya sedang diproses."

Seris mengepalkan tangan.

Seris :

"…Baik. Terima kasih."

Hari menjelang sore. Seris menghabiskan waktu:

bertanya pada beberapa murid yang kebetulan lewat,

pada penjaga toko kecil dekat sekolah,

pada penjual makanan.

Tapi jawaban mereka rata-rata sama:

Murid 1 :

"Rambut putih dan mata beda warna? Hmm… sepertinya aku pernah dengar, tapi aku tidak yakin. Semua terasa blur saat evakuasi."

Penjual Toko :

"Maaf, Nona. Banyak murid di sini. Tanpa foto, sulit mengingat."

Seris berjalan menyusuri trotoar, napasnya pelan tapi dalam.

Seris (dalam hati) :

"Tanpa foto… tanpa dia disebut dalam laporan resmi… seperti dia ditelan begitu saja oleh insiden ini."

Langit mulai menggelap. Lampu jalan menyala satu per satu.

Perutnya berbunyi pelan.

Seris :

"…Aku butuh tempat menginap."

Minimarket & Apartemen – Satu Langkah Di Bawah Rei

Seris masuk ke sebuah minimarket dekat persimpangan—neon terang, rak-rak penuh makanan instan, minuman, dan barang sehari-hari.

Ia mengambil beberapa makanan sederhana:

onigiri,

roti isi,

minuman botol.

Ia membawa ke kasir.

Kasir, seorang manusia muda, tersenyum ramah.

Kasir :

"Totalnya segini, Nona."

Seris mengeluarkan dompet tipis—berisi uang dunia manusia yang ia dapat dari menukar koin dunia lain di pos pertukaran antar dunia.

Seris :

"…Ini."

Kasir menerima, lalu bertanya.

Kasir :

"Nona bukan dari sini, ya? Logatnya agak berbeda."

Seris :

"Aku baru datang. Sebenarnya… aku ingin mencari tempat tinggal murah. Dekat sekolah yang…'"

Ia menoleh ke luar, ke arah bangunan yang sedang direnovasi.

Seris :

"…baru saja terjadi insiden."

Kasir berpikir sejenak.

Kasir :

"Kalau penginapan murah, ada apartemen kecil di blok sebelah. Tidak mewah, tapi aman. Banyak pelajar juga yang tinggal di sana."

Seris :

"Apartemen?'"

Kasir mengangguk.

Kasir :

"Namanya apartemen Sakura-so. Jalan lurus dari sini, belok kiri di perempatan kedua. Gedung tiga lantai, cat agak pudar. Tidak terlalu jauh dari sekolah."

Seris mengingat nama itu.

Seris :

"Terima kasih."

Beberapa menit kemudian, Seris berdiri di depan sebuah bangunan sederhana—apartemen yang merupakan tempat Rei tinggal.

Cat dinding memang agak pudar, tapi suasananya hangat. Ada pot tanaman kecil di depan pintu. Di dekat pintu masuk, papan nama bertuliskan jepang "Sakura-so".

Seris mengetuk pintu pengelola di bangunan yang terpisah dari apartemen.

Tak lama, seorang wanita paruh baya—pemilik apartemen—muncul.

Pemilik :

"Ya? Ada perlu apa, Nona?"

Seris :

"Aku mencari kamar sewa. Murah, untuk sementara waktu. Dekat dengan sekolah itu."

Ia menunjuk samar ke arah sekolah.

Pemilik mengamati Seris sebentar.

Pemilik :

"Kami masih punya satu kamar kosong di lantai satu.

Harga sewa per minggu sekian. Mau?'"

Seris mengangguk tanpa tahu betapa dekatnya ia dengan Rei.

Seris :

"Mau."

Ia mengeluarkan uang yang cukup, hasil penukaran mata uang dunia lain.

Pemilik menerimanya.

Pemilik :

"Baiklah. Ini kunci. Kamar 101. Kalau butuh sesuatu, panggil saja."

Seris :

"Terima kasih."

Malam Pertama di Kamar 101 sederhana.

Satu kasur.

Satu meja kecil.

Lemari.

Kamar mandi mungil.

Seris meletakkan tas dimensinya, membuka jendela sebentar. Suara kota di malam hari pelan masuk—mobil lewat, suara televisi samar dari kamar lain.

Seris :

"…Jadi, kau di mana, Hirashi Rei?'"

Ia mandi cepat, mengganti pakaian dengan kaos longgar dan celana pendek nyaman.

Di meja, ia membuka bungkusan makanan dari minimarket—onigiri, roti, minuman.

Seris duduk, makan pelan.

Seris (dalam hati) :

"Aku benci manusia, tapi… dunia mereka punya makanan praktis yang enak juga."

Setelah makan, ia berbaring di kasur, menatap langit-langit.

Seris :

"Besok… aku akan tanya lagi. Ke pihak sekolah, ke murid, ke siapa pun."

Ia menutup mata perlahan.

Seris :

"Kalau kau masih hidup… aku akan menemukanmu. Kalau tidak… setidaknya Aelria berhak tahu kebenaran yang jelas."

Pelan-pelan, ia tertidur.

Di lantai dua, tepat di atasnya, Rei juga bersiap tidur—tidak tahu bahwa seseorang dari dunia lain sudah berada hanya beberapa meter di bawahnya.

Di dunia ketiga, jauh di hutan terlarang, Rei penjaga gerbang merasakan getaran halus.

Rei Penjaga :

"…Ada demon yang menyeberang ke dunianya."

Ia tersenyum tipis.

Rei Penjaga :

"Sepertinya kalian semua mulai berkumpul, ya?'"

Dan di dunia lain lagi, Aelria baru saja menggenggam surat Seris erat-erat, bersiap menyampaikan keputusannya:

Aelria :

"Kalau Seris sudah pergi, maka aku juga akan menyusul. Aku tidak akan hanya duduk di sini lagi."

Rinna, Noelle, Nerine, dan Fiora saling pandang—kaget, takut, tapi…

Rinna :

"Kalau begitu, kita semua pergi."

Sementara itu, di apartemen kecil Jepang—

Rei dan Riku menutup hari dengan tawa kecil dan perasaan yang, meski masih diselimuti luka, pelan-pelan terasa lebih hangat.

Mereka belum tahu:

dalam beberapa hari, pintu di bawah akan terbuka,

dan dunia yang selama ini hanya mereka dengar dari buku dan berita…

akan masuk langsung ke dalam hidup mereka."

More Chapters