Di sisi lain, jauh dari dunia Aelria yang sedang diliputi cemas…
Pagi itu, Rei bangun bukan karena alarm.
Ia terbangun karena… sepi.
Tidak ada suara murid berlari di jalan depan apartemen.
Tidak ada murid beastkin yang ribut karena telinganya ditarik teman.
Tidak ada suara seragam berkibar, tas berayun, atau teriakan "kita terlambat!".
Di meja kecil dekat tempat tidur, ponsel Rei sudah menyala.
Notifikasi dari sekolah:
"Kepada seluruh murid,
Sehubungan dengan insiden monster anomali yang terjadi, sekolah akan LIBUR selama 7 hari untuk…
– perbaikan bangunan,
– penanganan korban,
– pemulihan mental murid…"
Rei duduk di tepi kasur, menatap layar cukup lama.
Rei :
"Ah… begitu."
Ia meletakkan ponsel, mengulurkan tangan mengusap leher dan punggungnya pelan.
Rasa sakit tajam sudah tidak ada.
Yang tersisa hanya pegal samar—seperti tubuh yang baru saja dipaksa melampaui batas wajar manusia.
Rei berdiri, membuka tirai.
Di luar, matahari pagi biasa.
Orang-orang biasa.
Dunia… seolah-olah tidak ingat bahwa seminggu terakhir, kematian berdiri di depan gerbang sekolah.
Rei menghela napas.
Rei :
"Sekolah libur seminggu… Hm. Kalau begitu…"
Ia menatap interior apartemen kecilnya.
Satu kasur.
Satu meja.
Dapur mini.
Rak buku.
Rei :
"…Sepertinya waktunya hidup seperti manusia normal lagi."
Walau ia tahu, kata "normal" itu sudah agak… retak.
Hari-Hari Pertama – Tetangga, Ibu-Ibu, dan Jodoh
Libur bukan berarti Rei bermalas-malasan.
Pagi hari, ia tetap bangun cepat, mandi, lalu memasak sarapan sederhana: nasi, telur, sup instan yang ia modifikasi sedikit dengan sayur.
Setelah makan, ia kadang duduk di balkon mungil apartemennya, melihat ke jalan di bawah.
Dan ketika ia turun untuk membuang sampah atau belanja ke minimarket dekat gang, tetangga-tetangganya pelan-pelan mulai muncul.
Seorang ibu manusia paruh baya, Ibu Tanaka, melambaikan tangan.
Ibu Tanaka :
"Rei-kun, pagi! Kudengar sekolah kalian libur ya? Kau baik-baik saja?"
Rei sedikit menunduk sopan.
Rei :
"Selamat pagi, Tanaka-san. Ya, sekolah kami libur seminggu. Saya baik-baik saja, terima kasih sudah mengkhawatirkan."
Dari balkon lantai dua, seorang dwarf tua, Paman Dorg, menyelipkan kepala.
Dorg :
"Hei, bocah putih! Kudengar sekolahmu yang dapat kunjungan monster? Tahan juga kau kalau masih bisa berdiri sekarang!"
Rei tersenyum tipis.
Rei :
"…Saya hanya membantu evakuasi, Paman. Yang lain juga ikut berjuang."
Dorg tertawa keras.
Dorg :
"Hahaha! Rendah hati, ya! Kalau kau elf, kau sudah pasti mengklaim mengalahkan monster sendirian."
(Ia tidak tahu, di dunia lain, ada satu elf yang menangis tiap malam karena memikirkan Rei.)
Pelan-pelan, suasana di sekitar apartemen jadi… hangat.
Tetangga lain—beberapa manusia, satu pasangan beastkin, satu nenek elf bermata lembut—mulai ikut menyapa.
Dan, seperti hukum alam di manapun…
Sekumpulan ibu-ibu mulai mengincar satu target:
pemuda tampan, sopan, hidup sendiri, dan kelihatan baik hati.
Suatu siang ketika Rei baru pulang dari minimarket dengan kantong plastik di tangan, tiga ibu-ibu sudah berkumpul di bawah pohon kecil dekat parkiran.
Ibu 1 :
"Rei-kun, kau tidak merasa kesepian tinggal sendiri?"
Rei :
"Ah, sudah terbiasa, Bu."
Ibu 2 :
"Putri saya umur 16 tahun, tahu. Pandai memasak. Manis juga."
Ibu 3 :
"Eeeh, jangan langsung tawarkan. Putriku 17, lebih dekat umurnya."
Rei :
"…"
Ia menunduk simpul, pipinya sedikit memanas.
Rei :
"Saya… senang bisa berteman dengan semua orang, tapi… masih ingin fokus sekolah dulu."
Ibu 1 bertepuk tangan pelan.
Ibu 1 :
"Astaga, sopan sekali. Tidak seperti anak zaman sekarang."
Ibu 2 :
"Kalau tidak pacaran, berteman dulu juga tidak apa-apa, 'kan? Nanti kalau butuh bekal tambahan, bilang saja."
Ibu 3 :
"Kalau mau makan rumahan, mampir ke rumah saja. Anggap sebagai anak sendiri."
Rei akhirnya tersenyum lebih lepas.
Rei :
"Kalau begitu, saya akan sering merepotkan, ya."
Para ibu langsung senang.
Di tengah candaan mereka, ada satu kalimat yang terselip di hati Rei:
Rei (dalam hati) :
"Dulu… aku punya orang yang ingin kulindungi seperti ini. Sekarang… setidaknya aku masih bisa tertawa dengan orang-orang di sekitar."
Riku – Mobil Mewah di Gang Biasa
Hari pertama libur, Rei menghabiskan waktu dengan merapikan apartemennya, membeli bahan makanan, dan… tidur siang.
Hari kedua pagi, setelah sarapan, ia mendengar suara mesin mobil berhenti di depan bangunan.
Rei melirik dari balkon.
Sebuah mobil hitam mewah berhenti di tepi jalan sempit. Kontras sekali dengan gang kecil itu.
Pintu mobil terbuka.
Seorang pemuda dengan rambut sedikit acak-acakan turun, mengenakan pakaian kasual.
Riku.
Riku menatap kanan-kiri, lalu menutup pintu pelan, seolah takut merusak ketenangan sekitar.
Riku :
"…Sepertinya benar alamatnya."
Para tetangga yang sedang menyapu atau menjemur baju melirik.
Ibu Tanaka berbisik ke Ibu 2.
Ibu Tanaka :
"Teman Rei-kun? Wah, tampan juga."
Ibu 2 :
"Dan mobilnya mahal…"
Rei menghela napas kecil dan turun dari apartemen.
Rei :
"Riku. Kau tidak perlu membawa mobil sebesar itu ke gang sekecil ini."
Riku menoleh, tersenyum canggung.
Riku :
"Rei. Yah… kalau aku datang jalan kaki, ayahku akan curiga aku kabur dari rumah."
Rei :
"…"
Riku :
"Dan kalau aku bilang mau menjenguk teman, dia langsung menyuruh sopir menyiapkan mobil."
Rei :
"Masuk akal."
Para ibu di dekat situ langsung menyapa.
Ibu 1 :
"Teman Rei-kun, ya?"
Riku menunduk sopan.
Riku :
"Ya, Bu. Saya Riku. Teman sekelas Rei."
Ibu 3 menyipitkan mata, menilai.
Ibu 3 :
"Teman baik?"
Riku melirik Rei sekilas.
Riku :
"…Sangat."
Rei :
"…Kau tidak perlu menekankan seperti itu."
Ibu-ibu langsung senyum-senyum.
Ibu 2 :
"Wah, kalau begitu sering-sering main ke sini ya, Riku-kun. Rei-kun jadi tidak sendirian."
Riku membungkuk sedikit.
Riku :
"Terima kasih, saya akan mengganggu Rei sesering mungkin."
Rei :
"…Aku baru saja menata hidup tenangku."
Tetangga tertawa kecil.
Mereka naik ke apartemen Rei.
Di Dalam Apartemen – Hari-Hari Riku Mengisi Sunyi
Hari Pertama – Canggung Tapi Nyaman
Riku duduk di lantai, bersandar ke dinding, sementara Rei menuang teh ke dua cangkir.
Rei :
"Aku tidak punya minuman mewah. Hanya teh biasa."
Riku mengambil cangkir.
Riku :
"Teh biasa di rumah teman lebih enak daripada jus mahal di rumah sendiri."
Rei :
"Kalimat itu akan terdengar lebih tulus kalau kau tidak datang naik mobil yang harganya bisa membeli seluruh lantai apartemen ini."
Riku :
"Aku tidak menentukan harga mobilnya."
Mereka tertawa pelan.
Sejenak, tidak ada pembicaraan berat.
Mereka membahas hal-hal kecil:
guru yang terlalu semangat,
makanan paling enak di kantin,
bagaimana Hina pasti sedang membanjiri grup chat dengan stiker,
bagaimana Airi mungkin diam-diam membaca semua laporan medis tentang insiden.
Riku menatap Rei sesekali, seolah ingin mengatakan sesuatu.
Tapi hari pertama, ia hanya memastikan satu hal:
Riku :
"Kau benar-benar tidak merasa sakit lagi?"
Rei berpikir sebentar, menggoyangkan bahu dan leher.
Rei :
"Masih agak pegal. Tapi tidak seperti kemarin-kemarin. Seperti habis lari jauh tanpa pemanasan."
Riku menunduk.
Riku :
"…Syukurlah."
Rei :
"Kenapa kau datang ke sini, Riku?"
Riku :
"Kau tidak suka?"
Rei :
"Aku hanya bertanya."
Riku mengusap tengkuknya, lalu menatap Rei dengan serius.
Riku :
"Aku… tidak terlalu suka duduk diam di rumah setelah insiden itu. Kalau aku sendiri di kamar, yang terbayang cuma… Hina terpental, Airi memuntahkan darah, Rika jatuh, dan kau…"
Ia menghentikan kalimat itu.
Riku :
"Jadi kupikir, kalau aku duduk di sini, melihat kau masih hidup dan bisa mengeluh tentang tehnya, itu jauh lebih baik."
Rei terdiam sebentar, lalu tersenyum tipis.
Rei :
"Kalimatmu kadang berlebihan, tapi… aku mengerti maksudnya."
Hari Kedua – Riku & Tetangga
Hari kedua, Riku datang lagi. Kali ini membawa kantong kertas besar.
Rei membukakan pintu.
Rei :
"Kalau kau membawa hadiah mahal, aku—"
Riku mengangkat kantong itu.
Riku :
"Aku hanya bawa roti dari toko terkenal dekat rumah."
Rei menghela napas lega.
Rei :
"Bagus. Aku tidak perlu memikirkan cara mengembalikannya dengan gajiku yang nol."
Mereka makan roti sambil duduk di lantai, menonton berita di televisi.
Berita tentang insiden monster anomali masih tayang, tapi sekarang lebih fokus ke:
perbaikan kota,
ucapan belasungkawa,
dan rencana penguatan sistem pertahanan.
Riku menatap layar sebentar, lalu memalingkan kepala.
Riku :
"Kalau kulihat begini… rasanya surreal. Di TV, terlihat seperti film. Tapi kita ada di sana."
Rei :
"Di TV semua terlihat rapi. Di lapangan, semuanya kacau."
Riku tertawa pahit.
Riku :
"Aku terlalu lemah di sana."
Rei :
"Kita semua lemah dibanding monster itu."
Riku menatapnya.
Riku :
"Kau tidak."
Rei :
"Aku hanya… kebetulan berada di tempat yang tepat."
Riku ingin membantah, tapi memilih diam.
Saat Riku pulang, ia turun bersama Rei.
Tetangga kembali mengintip.
Ibu Tanaka :
"Riku-kun, besok datang lagi, ya?"
Riku :
"Kalau Rei tidak mengusir saya, saya akan datang."
Rei :
"Kau bicara seolah aku ini penjaga gerbang."
(…padahal di dunia lain, ada Rei yang benar-benar menjaga gerbang.)
Hari Ketiga – Tertawa, Sedikit Luka, Sedikit Lega
Hari ketiga, Riku datang lebih santai—tanpa sopir. Ia turun dari mobil dan menyuruh sopir pulang dulu.
Riku :
"Aku akan naik kereta nanti. Tidak apa."
Sopir :
"Tapi, Tuan Muda—"
Riku :
"Aku tidak ingin mobil ini terus mengganggu tetangga."
Rei yang melihat dari balkonnya mengangkat alis.
Rei (dalam hati) :
"Dia benar-benar mencoba menyesuaikan diri."
Di dalam apartemen, suasana terasa lebih longgar.
Mereka mulai membahas hal yang lebih… pribadi.
Rei :
"Kau punya adik?"
Riku :
"Ya. Tinggal dengan Ibu di luar negeri. Sudah lima tahun kami terpisah. Kami sering video call."
Rei :
"Mereka tahu soal insiden ini?"
Riku :
"…Ya. Ibu marah besar. Ayah marah diam-diam."
Rei :
"Karena kau hampir mati?"
Riku tersenyum miring.
Riku :
"Karena prinsip keluarga kami adalah: pakailah kekuatan untuk melindungi. Bukan untuk… membiarkan kebodohan terjadi di depan mata."
Ia menatap cangkir di tangannya.
Riku :
"Aku merasa saat insiden sparing dulu, aku mengkhianati prinsip itu. Dan saat monster datang… aku belum cukup menebusnya."
Rei menatapnya.
Rei :
"Kalau kau masih hidup, berarti kau punya waktu menebus apa pun yang perlu kau tebus."
Riku :
"Kau bicara seperti orang bijak tua."
Rei :
"Mungkin jiwa kakek nyasar ke tubuhku."
Riku tertawa pendek.
Riku :
"Kalau begitu, kakek itu punya refleks yang sangat menyebalkan."
Mereka tertawa bersama.
Di sela tawa itu, ada luka yang masih ada.
Tapi luka itu sekarang punya tempat untuk bernapas.
Rei – Sunyi yang Tidak Lagi Sepi
Selama tiga hari berturut-turut, pola hidup Rei berubah sedikit:
Pagi: sarapan, belanja, disapa ibu-ibu dan tetangga.
Siang: kadang sendiri, kadang Riku datang.
Sore: melihat berita, mengoleskan salep di bagian tubuh yang masih pegal, merasakan pegal yang berkurang.
Malam: rebahan, menatap langit-langit, mengingat suara-suara di dalam gelap yang hanya ia sendiri yang tahu.
Suatu malam, setelah Riku pulang, Rei duduk sendiri di balkon.
Lampu-lampu kota menyala. Angin malam lembut.
Rei menyandarkan kepala ke pagar.
Rei (dalam hati) :
"Monster, suara, tebasan aneh… dan sekarang libur satu minggu."
Ia mengangkat tangan ke depan, mencoba merasakan kembali sensasi kemarin.
Tidak ada apa-apa.
Hanya udara malam yang dingin.
Rei tersenyum tipis.
Rei (dalam hati) :
"Bagus. Tetap diam di sana. Kalau aku perlu… aku tahu kau akan muncul sendiri."
Ia menatap ke bawah.
Di gang kecil itu, Ibu Tanaka menutup tokonya. Paman Dorg mengunci bengkel kecil. Lampu kamar penduduk satu per satu padam.
Rei :
"Aku masih hidup."
Ia mengucapkannya pelan, untuk dirinya sendiri.
Rei :
"Dan… aku tidak sendirian."
Di dunia lain, seorang elf masih menangis karena namanya.
Di dunia lain lagi, seorang pria berambut putih menjaga gerbang sambil tersenyum kecil.
Di dunia ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia punya:
tetangga yang menyapanya,
ibu-ibu yang menggoda soal jodoh,
dan seorang teman laki-laki yang bersedia duduk di lantai apartemen kecil tanpa merasa dirinya lebih tinggi.
Rei menghela napas, lalu berdiri.
Rei :
"Baiklah. Libur satu minggu ini… kumanfaatkan untuk mengisi napas dulu, sebelum dunia memutuskan apa langkah gilanya berikutnya."
Ia tidak tahu—
bahwa di saat yang hampir bersamaan, di dunia lain, seorang gadis demon bernama Seris baru saja melangkah ke gerbang perjalanan menuju dunia manusia…
membawa nama Hirashi Rei di dalam hatinya,
dan tekad untuk mencari tahu apakah manusia yang membuat sahabatnya menangis itu masih hidup atau tidak.
