Cherreads

Chapter 20 - Akademi Aelria – Sebelum Berita Datang

Di dunia lain, jauh dari kota tempat Rei bertarung melawan monster anomali…

Sore hari di akademi elit dunia lain.

Di luar, langit berwarna keemasan. Menara-menara sihir memancarkan cahaya lembut. Burung-burung mana terbang melintas di atas halaman luas, sementara para siswa dari berbagai ras sibuk dengan tugas masing-masing.

Di salah satu gedung asrama putri khusus untuk ke enam siswi Elite.

Di sebuah kamar luas yang diisi lima tempat tidur, meja belajar berderet, dan jendela besar menghadap taman akademi…

Aelria duduk di kursi belajarnya.

Rambut peraknya tergerai pelan, telinga elven-nya bergerak lembut tiap kali halaman buku bergeser.

Di meja, beberapa dokumen kerja sama dunia manusia–dunia lain tersusun rapi. Di sebelahnya, buku tebal ilmu sihir tingkat lanjut terbuka.

Di sampingnya, Fiora—peri berambut hijau lembut—sedang membaca buku kecil sambil menggoyangkan kakinya di tepi tempat tidur.

Fiora :

"Aelria, kau benar-benar tidak mau istirahat sebentar? Matahari bahkan belum turun sepenuhnya."

Aelria tersenyum tipis, matanya tetap ke buku.

Aelria :

"Kalau aku tertinggal di tugas akademi, Ayah akan mengomel sepanjang malam lewat bola kristal."

Fiora mendesah.

Fiora :

"Ras manusia dan elf dunia lain benar-benar suka memeras pikiran."

Di sisi lain, di ranjang dekat jendela, Seris—gadis demon dengan rambut hitam dengan merah gelap bergelombang dan mata merah tajam—berbaring miring sambil memutar-mutar sebatang kristal sihir di jemarinya.

Seris :

"Kalau ditegur Ayahmu, bilang saja 'aku sibuk memikirkan seseorang di dunia manusia'."

Aelria refleks menoleh.

Aelria :

"Seris!"

Seris menyeringai.

Seris :

"Apa? Aku salah?"

Aelria menutup buku dengan sedikit terlalu cepat.

Aelria :

"Aku… hanya memastikan kerja sama berjalan baik. Dan… memastikan…"

Kalimatnya menggantung.

Fiora tersenyum kecil, tatapannya lembut.

Fiora :

"Agar seseorang di dunia manusia bisa hidup damai?"

Aelria menunduk sebentar, telinganya bergetar halus.

Aelria :

"…Kurang lebih."

Sebelum percakapan itu bisa berlanjut—

BRAAAK!!

Pintu kamar terbuka lebar, seperti ditabrak.

Berita dari Dunia Manusia – Kepanikan Si Kembar

Noelle & Nerine—si kembar demon—masuk dengan napas tersengal.

Noelle :

"A… A… Aelria!"

Nerine :

"Ael… Ael…! Haa… haaa…"

Mereka nyaris menabrak meja Fiora.

Seris duduk, kaget.

Seris :

"Heh? Kalian habis balapan dengan naga?"

Fiora segera berdiri.

Fiora :

"Duduk. Kalian akan pingsan kalau bicara sambil ngos-ngosan begitu."

Aelria bangkit separuh dari kursinya.

Aelria :

"Noelle, Nerine, tenang dulu. Duduk di sini."

Ia menarik dua kursi kosong. Si kembar langsung menjatuhkan diri ke kursi itu, memegang dada mereka, berusaha menstabilkan napas.

Beberapa detik berlalu—baru kemudian Noelle bicara.

Noelle :

"Aelria… berita besar… dari ruang informasi akademi…"

Nerine mengangguk cepat.

Nerine :

"Ini… tentang dunia manusia…"

Jantung Aelria berdegup lebih cepat tanpa ia sadari.

Aelria :

"Tentang… dunia manusia? Maksudnya… apa?"

Noelle menelan ludah.

Noelle :

"Ada laporan resmi… katanya di salah satu kota besar dunia manusia… muncul monster anomali dari gerbang liar."

Nerine menambahkan, suaranya bergetar.

Nerine :

"Monster itu mengamuk. Menyerang kota, dan… juga sebuah sekolah. Banyak korban jiwa. Ratusan terluka."

Ruangan seketika hening.

Buku di meja Aelria terasa jauh. Suara di luar jendela seperti menghilang.

Fiora menutup mulutnya pelan.

Fiora :

"…Monster anomali menembus ke wilayah padat manusia?"

Seris duduk tegak, ekspresinya berubah serius.

Seris :

"Apa lokasi pastinya sudah disebutkan?"

Noelle menggeleng pelan.

Noelle :

"Laporan yang kami dengar di aula hanya menyebutkan 'kota besar di wilayah kerja sama utama'. Tapi detail nama kota dan sekolahnya… belum tersebar."

Nerine menunduk.

Nerine :

"Yang jelas, jumlah korban cukup banyak sampai pihak kita diminta menyiapkan tim bantuan, kalau dibutuhkan."

Aelria berdiri sangat pelan.

Aelria :

"…Kota kerja sama utama. Sekolah terserang monster."

Dadanya terasa sesak.

Aelria (dalam hati) :

"Jangan-jangan…"

Ia teringat:

– masa SMP bersama Rei di dunia manusia,

– jalan pulang bersama,

– sekolah lama mereka,

– senyum bodoh Rei yang sering ia lihat dari samping.

Aelria menggigit bibir, mata bergetar.

Aelria :

"N-noelle… Nerine… apakah mereka menyebut nama sekolah yang diserang?"

Noelle menggeleng, cemas.

Noelle :

"Belum… tapi…"

BRAK!

Pintu terbuka lagi.

Rinna Masuk – Kabar yang Setengah Lega

Rinna, beastkin dengan telinga serigala dan rambut cokelat muda, muncul sambil terengah-engah.

Rinna :

"Aelria!! Kalian sudah dengar berita dari—"

Ia berhenti begitu melihat si kembar sudah duduk dengan wajah pucat.

Rinna :

"…Oh. Sepertinya kalian sudah mendahuluiku."

Seris menyilangkan tangan.

Seris :

"Ya. Monster anomali, kota manusia, sekolah, korban jiwa. Kami tidak tuli."

Rinna menatap Aelria, lalu mendekat.

Rinna :

"Aelria. Aku… langsung mengecek papan informasi lanjutan. Dan…"

Aelria menatapnya, mata mulai berkaca-kaca.

Aelria :

"Dan…?"

Rinna menghela napas.

Rinna :

"Syukurlah… sekolah yang diserang bukan sekolah lama tempat kau dan manusia itu bersekolah dulu."

Aelria membeku.

Air mata yang tadi hampir jatuh, tertahan.

Aelria :

"…Bukan…?"

Rinna mengangguk.

Rinna :

"Aku memastikan langsung. Nama sekolah lama yang sering kau ceritakan… tidak ada di daftar area terdampak langsung."

Aelria seperti kehilangan kekuatan di lututnya. Ia bersandar ke meja, lalu perlahan duduk kembali.

Aelria :

"Syukur…"

Fiora mendekat, menyentuh bahunya pelan.

Fiora :

"Lihat? Mungkin manusia yang kau maksud… selamat. Mungkin dia jauh dari lokasi itu."

Noelle ikut mengangguk semangat.

Noelle :

"Iya! Paling-paling dia hanya membaca berita dari rumah atau sekolahnya."

Nerine :

"Dan mengeluh betapa men–…"

Ia berhenti, melihat ekspresi Aelria yang belum tenang.

Aelria menunduk, menggenggam rok seragamnya.

Aelria :

"…Tetap saja. Selama aku tidak tahu pasti di mana dia… hatiku tidak tenang."

Seris memandangnya lekat.

Seris :

"Jadi kau mau apa?"

Aelria mengangkat kepala.

Aelria :

"Aku akan… menghubungi Ayah dan Ibu."

Bola Kristal Komunikasi – Mencari Jejak Rei

Di sudut kamar, ada meja kecil dengan bola kristal komunikasi berwarna biru pucat. Aelria duduk di depan meja itu.

Teman-temannya mengelilinginya dengan diam.

Aelria meletakkan kedua tangannya di atas bola kristal, menutup mata, dan mengalirkan sedikit energi sihir.

Kristal perlahan bersinar. Beberapa detik, lalu sosok pria elf dewasa muncul dalam bayangan—Ayah Aelria. Wajahnya tampan, namun sekarang tampak serius.

Ayah Aelria :

"Aelria? Ada apa, Nak? Biasanya kau menghubungi kami malam hari."

Aelria menggigit bibir, lalu bicara.

Aelria :

"Ayah… aku mendengar laporan dari akademi tentang monster anomali di dunia manusia. Yang menyerang kota… dan sekolah."

Ayahnya mengangguk pelan.

Ayah Aelria :

"Berita itu benar. Kami sedang mengamati dari sisi pemerintahan."

Aelria menatap ayahnya, mata bergetar.

Aelria :

"Ayah… bisakah Ayah membantuku mencari tahu sesuatu? Ini… tentang seorang manusia."

Ayah Aelria terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis.

Ayah Aelria :

"Orang yang selalu kau ceritakan, itu ya?"

Rinna dan si kembar saling pandang. Fiora tersenyum kecil, sementara Seris hanya mendengus pelan.

Aelria menunduk sedikit, telinganya memerah.

Aelria :

"…Iya. Namanya Hirashi Rei. Manusia. Dulu kami bersekolah bersama di dunia manusia. Aku ingin tahu apakah dia masih bersekolah di tempat yang sama… dan… apakah dia baik-baik saja."

Ayahnya mengubah posisi duduk.

Ayah Aelria :

"Aku akan menghubungi perwakilan kerja sama di kota itu, dan juga pihak sekolah lama yang kau sebutkan dulu. Tapi mungkin butuh waktu beberapa hari."

Aelria mengangguk cepat.

Aelria :

"Aku tidak keberatan menunggu. Tolong… Ayah…"

Suara itu bergetar.

Aelria :

"Tolong cari tahu apakah dia masih ada di sekolah lama… atau… apa pun yang bisa Ayah cari."

Ayah Aelria menatapnya lembut.

Ayah Aelria :

"Aku akan melakukan yang terbaik. Tapi ingat, apapun hasilnya… kau harus cukup kuat untuk menerimanya."

Aelria menutup mata sesaat.

Aelria :

"…Aku akan berusaha."

Koneksi perlahan padam.

Bola kristal kembali redup.

Aelria menunduk, memeluk dirinya sendiri pelan.

Rinna mendekat.

Rinna :

"Kau sudah melakukan apa yang bisa kau lakukan, Aelria."

Fiora :

"Sekarang tinggal menunggu. Itu memang bagian tersulit…"

Si kembar duduk di sampingnya, masing-masing memegang satu sisi tangannya.

Noelle :

"Dia pasti baik-baik saja."

Nerine :

"Kalau dia seperti yang kau ceritakan… dia terlalu keras kepala untuk mati begitu saja."

Aelria tersenyum lemah.

Aelria :

"…Itu yang kuharap."

Seris hanya bersandar di dinding, menatap keluar jendela. Tapi dari cara jemarinya mengepal, jelas ia juga ikut tegang.

Tiga Hari Menunggu – Harapan yang Tumbang

Tiga hari berikutnya terasa jauh lebih lama daripada tiga bulan.

Aelria duduk di kelas, tapi pikirannya kosong.

Guru :

"Aelria? Jawaban untuk soal ini?"

Aelria menatap papan sebentar—angka dan huruf bercampur dalam kepalanya. Ia meminta maaf, sesuatu yang jarang terjadi, dan guru memahaminya setelah mendengar laporan dari pihak akademi tentang keterkaitannya dengan dunia manusia.

Di kamar asrama, ia sering duduk di depan jendela, menatap langit tanpa melihat.

Fiora membawa makanan.

Fiora :

"Aelria, makan dulu. Kalau kau sakit, Rei di sana tidak akan merasa senang, kan?"

Aelria memaksa mengambil beberapa suap. Tapi rasanya hambar.

Di malam hari, ia memegang bola kristal yang sama, berharap pancaran cahaya tiba-tiba muncul membawa kabar baik.

Namun bola itu tetap gelap.

Di sisi lain, teman-temannya mulai kehabisan kata-kata.

Rinna :

"Aelria, kau tidak bisa terus seperti ini."

Noelle :

"Paling tidak, mandi. Kau akan sakit."

Nerine :

"Kalau kau jatuh sakit, kami yang kerepotan."

Seris hanya menatapnya lama dari ambang pintu.

Seris (dalam hati) :

"Kalau pada akhirnya berita buruk datang… apa dia bisa berdiri lagi?"

Hari ketiga sore.

Saat langit mulai berwarna jingga, bola kristal di meja tiba-tiba bersinar.

Aelria, yang duduk di lantai dekat tempat tidur, langsung bangkit.

Aelria :

"Ayah…?"

Ia mendekat, menyentuh permukaan kristal.

Cahaya berkumpul, dan sosok ayahnya muncul.

Ayah Aelria terlihat lebih lelah dari sebelumnya.

Ayah Aelria :

"Aelria."

Aelria menelan ludah, jantungnya berdegup kencang.

Aelria :

"Ayah… bagaimana…?"

Ayah Aelria menghela napas.

Ayah Aelria :

"Aku sudah menghubungi pihak sekolah lama di mana kau dan Rei bersekolah dulu. Jawabannya…"

Ia berhenti sejenak.

Aelria :

"…"

Ayah Aelria :

"Hirashi Rei sudah tidak terdaftar di sekolah itu. Pihak sekolah mengatakan bahwa ia telah mengajukan pindah sekolah sebelum insiden monster anomali."

Aelria memegang erat tepi meja.

Aelria :

"…Jadi… dia… pindah."

Ayah Aelria mengangguk.

Ayah Aelria :

"Aku meminta mereka—dengan cukup memaksa—untuk memberi tahu ke mana dia pindah. Setelah beberapa proses, mereka menyebutkan namanya."

Ia menatap Aelria dengan mata yang ikut berduka.

Ayah Aelria :

"Aelria. Sekolah barunya adalah… sekolah yang masuk dalam laporan insiden monster anomali itu."

Seisi kamar langsung hening.

Fiora menutup mulut, matanya membesar.

Rinna memegang dadanya.

Noelle & Nerine mematung.

Seris mengencangkan rahangnya.

Bola kristal di tangan Aelria bergetar pelan.

Aelria :

"…Ah."

Kristal meluncur dari tangannya.

PRANG!

Bola itu jatuh ke lantai, memantul sekali, lalu berguling pelan. Gambaran ayahnya lenyap sebelum kristal sepenuhnya berhenti.

Aelria menatap kosong ke depan.

Lalu—

air mata yang ia tahan selama tiga hari akhirnya jatuh.

Aelria :

"…Tidak…"

Lututnya lemas. Ia jatuh berlutut di lantai.

Aelria :

"Kenapa…"

Air mata mengalir tanpa henti.

Aelria :

"Aku… aku hanya ingin dia hidup damai… Aku yang memilih pergi… aku yang meninggalkannya di dunia itu sendirian… Kenapa dunia malah…"

Suara itu pecah di tengah-tengah.

Rinna buru-buru mendekat, memeluk bahunya.

Rinna :

"Aelria!!"

Noelle dan Nerine ikut merunduk, memeluk dari sisi lain.

Noelle :

"Kita belum tahu pasti keadaannya! Mungkin dia selamat!"

Nerine :

"Iya! Manusia itu keras kepala! Dia bisa saja…"

Fiora berlutut di belakangnya, mengusap pelan punggung Aelria.

Fiora :

"Aelria… menangislah. Tapi jangan menyalahkan dirimu."

Seris berdiri beberapa langkah di belakang, menatap pemandangan itu dengan tatapan tajam namun… bergetar.

Seris (dalam hati) :

"Inilah sisi Aelria yang tidak pernah ia tunjukkan di kelas."

Tiga Hari Dalam Gelap – Aelria Menutup Diri

Hari-hari setelah kabar itu berubah suram.

Aelria tidak datang ke kelas.

Gurun pelajaran dan latihan berjalan tanpa kehadiran elf perak yang biasanya duduk di baris depan, mencatat dengan serius.

Di kamar, tirai jendela ditutup.

Aelria berbaring di ranjangnya, memeluk bantal. Mata bengkak, suara serak. Makanan yang dibawa Fiora hanya disentuh sedikit, atau tidak disentuh sama sekali.

Fiora :

"Aelria, makan dulu sedikit… Kalau kau jatuh sakit, akan lebih sulit mendengar berita baru."

Aelria hanya menggeleng pelan, wajahnya menghadap tembok.

Fiora menggigit bibir, meletakkan piring di meja, lalu keluar dengan mata berkaca-kaca.

Di lorong, ia bertemu Rinna dan si kembar.

Rinna :

"Masih sama?"

Fiora mengangguk kecil.

Fiora :

"Dia bahkan tidak menatapku tadi."

Noelle menendang-nendang udara pelan.

Noelle :

"Aku benci ini…"

Nerine memeluk lengan kakaknya.

Nerine :

"Aku juga…"

Pihak sekolah mengetahui situasi itu. Mereka memanggil Rinna, si kembar, Fiora, bahkan Seris ke ruang guru.

Guru :

"Kami tidak bisa memaksa Aelria masuk kelas sebelum dia siap. Tapi kami berharap kalian… sebagai sahabatnya… bisa membantunya kembali berdiri."

Namun bahkan mereka—yang terbiasa dengan latihan keras dan tekanan sekolah elit—tidak siap menghadapi rasa kehilangan seperti ini.

Seris berdiri paling belakang, mendengarkan tanpa banyak bicara.

Seris (dalam hati) :

"Dia benar-benar menganggap manusia itu bagian dari hidupnya."

Malam keempat, ia berdiri di depan pintu kamar mereka.

Dari dalam, samar-samar terdengar suara isak yang sudah nyaris habis.

Seris menutup mata.

Seris (dalam hati) :

"Kalau aku diam saja di sini… aku bukan Seris."

Keputusan Seris – Pergi ke Dunia Manusia

Keesokan pagi, Aelria masih meringkuk di ranjangnya, menyelimuti diri seperti ingin menghilang dari dunia.

Saat itu, ia tidak tahu bahwa di ranjang lain, Seris sedang berkemas.

Seris memasukkan beberapa kristal sihir, pedang pendek ringan, jubah, dan beberapa kertas berisi catatan tentang dunia manusia ke dalam tas dimensinya.

Ia mengambil satu lembar kertas kosong, duduk di meja, dan menulis.

Tangannya tidak ragu sedikit pun.

Kepada Aelria, Rinna, Noelle, Nerine, Fiora—

Maaf karena aku pergi tanpa izin.

Tapi aku tidak tahan hanya melihat Aelria menangis seperti ini tanpa melakukan apa-apa.

Aku tahu kalian sudah mencoba menghiburnya. Aku tahu pihak akademi juga punya batas untuk ikut campur. Tapi aku berbeda. Aku tidak punya kesabaran untuk menunggu jawaban dari orang dewasa yang bergerak terlalu lambat.

Aku akan pergi ke dunia manusia.

Aku hanya bermodalkan:

– nama kota kerja sama utama,

– nama sekolah yang terkena insiden,

– dan nama manusia itu: Hirashi Rei—

juga deskripsi yang pernah kucuri dengar dari mulut Aelria tentang rambutnya, matanya, dan caranya tersenyum seperti orang bodoh yang tidak tahu dirinya penting.

Kalau dia masih hidup, aku akan menemukannya.

Kalau dia sudah… tidak ada, aku akan mencari tahu yang sebenarnya. Lalu menghajar siapa pun yang bertanggung jawab—kalau masih bisa dihajar.

Jangan terlalu khawatir. Aku Seris. Aku tidak mudah mati.

Kalau kalian marah karena aku pergi tanpa izin, marahlah nanti setelah aku kembali membawa jawaban.

—Seris

Ia melipat surat itu, meletakkannya di atas bantalnya sendiri.

Seris berdiri, menatap seisi kamar.

Aelria tertidur karena kelelahan di ranjangnya, wajahnya masih basah bekas air mata.

Rinna, Noelle, Nerine, dan Fiora belum kembali dari kelas pagi.

Seris melangkah mendekati ranjang Aelria, berdiri di sana beberapa detik.

Seris :

"Aelria."

Suara pelan, nyaris hanya diri sendiri yang dengar.

Seris :

"Kau boleh lemah beberapa saat. Tapi bukan selamanya."

Ia menarik napas dalam.

Seris :

"Kali ini, biarkan aku yang maju ke dunia manusia. Kau cukup tunggu—dan siap menerima jawabannya."

Ia berbalik, mengenakan jubah, lalu membuka pintu pelan-pelan.

Cahaya lorong pagi masuk ke kamar.

Seris melangkah keluar, menutup pintu di belakangnya.

Saat langkahnya menjauh dari asrama, hanya satu kalimat yang berputar di kepalanya:

Seris (dalam hati) :

"Hirashi Rei. Kalau kau masih hidup… bersiaplah. Kau harus menjelaskan kenapa kau berani membuat sahabatku menangis seperti itu."

Dan untuk pertama kalinya sejak kabar buruk datang—

nasib Aelria dan Rei kembali bergerak,

karena satu gadis demon memutuskan:

"Menunggu saja tidak cukup.

Aku akan mengecek kebenarannya dengan mataku sendiri.""

More Chapters