Rumah Rika bukan rumah besar.
Bukan juga rumah mewah.
Hanya rumah sederhana di pinggiran kota, dengan halaman kecil yang cukup untuk menanam dua pohon dan sedikit rerumputan.
Di pagi hari, suara panci dan wajan selalu terdengar duluan sebelum alarm.
Ibu Rika :
"Rika, sarapan dulu. Jangan latihan dengan perut kosong."
Rika :
"…Aku selesai stretching dulu."
Ayah Rika, seorang beastkin juga—telinga dan ekornya mirip Rika, tapi ekspresinya jauh lebih santai—membaca koran di meja makan.
Ayah Rika :
"Latihan itu penting, tapi kalau jatuh pingsan di lapangan karena kurang makan, siapa yang malu? Aku."
Rika menarik napas, melirik jam, lalu akhirnya duduk.
Rika :
"Baik."
Mereka bukan keluarga kaya.
Ayahnya pegawai teknis di bengkel kecil yang bekerja sama dengan institusi teknologi besar milik keluarga Riku—bukan di posisi tinggi.
Ibunya bekerja paruh waktu di toko bahan makanan dan kadang menerima pesanan makanan rumahan.
Tapi mereka bahagia.
Ibu Rika selalu menyiapkan makanan hangat.
Ayahnya selalu meluangkan waktu untuk bertanya:
Ayah Rika :
"Di sekolah, tidak ada yang mengganggumu, 'kan?"
Rika akan menjawab dengan nada datar.
Rika :
"Tidak ada yang cukup bodoh untuk itu."
Ayahnya tertawa.
Ayah Rika :
"Bagus."
Mereka tahu anak mereka kuat.
Tapi mereka juga tahu, di sekolah bergengsi dengan banyak ras berbakat, "kuat" tidak selalu berarti "punya teman".
Di Sekolah Bergengsi – Hidup Serius & Sendirian
Rika bukan tipe yang ramai.
Ia datang ke sekolah, ikut pelajaran, lalu—kalau ada waktu—ke lapangan latihan.
Kelas memandangnya sebagai:
"Gadis beastkin yang kuat, tegas, dan agak sulit didekati."
Di kantin, ia biasanya makan sendirian.
Rika :
"Aku tidak butuh keramaian untuk mencerna makanan."
Di lapangan latihan, ia fokus mengulang teknik pukulan, tendangan, dan penguatan tubuh dasar.
Setiap hari, setelah pelajaran, ia akan:
mengganti baju,
mengikat rambut,
dan mulai latihan sampai matahari hampir tenggelam.
Kadang pelatih lewat dan memberi koreksi.
Kadang tidak ada siapa pun.
Tapi akhir-akhir ini…
Ia kadang merasa ada yang menatap.
Bukan tatapan penuh niat jahat.
Lebih ke… tatapan orang yang bingung apakah harus mendekat atau tidak.
Rika akan berhenti sejenak, menoleh ke arah tribun kosong atau sudut lapangan.
Rika (dalam hati) :
"…Sepertinya ada orang."
Tapi saat ia menajamkan pendengaran beastkin-nya—
suara langkah itu menjauh, menghilang di balik koridor.
Rika mengangkat bahu pelan.
Rika :
"Kalau ada yang butuh sesuatu, seharusnya bicara langsung."
Lalu ia kembali memukul boneka latihan sampai telapak tangannya panas.
Murid Baru – Rambut Putih, Mata Berbeda, Rumor Aneh
Segalanya mulai bergeser waktu satu rumor muncul.
Siswi :
"Kau sudah dengar? Ada murid baru."
Siswa :
"Yang rambut putih dan mata kiri biru itu?"
Siswi lain :
"Katanya manusia… tapi tidak punya kemampuan apa pun."
Rika mendengar itu saat mengambil minuman dari vending machine.
Rika (dalam hati) :
"Umur 17 tidak kebangkitan…?"
Ia tidak terlalu peduli soal kekuatan orang lain.
Tapi kalimat "tidak punya apa-apa" mengusik sedikit rasa ingin tahunya.
Pertama kali ia melihat Rei adalah di koridor.
Rambut putih.
Mata kiri biru, mata kanan hitam.
Ekspresi tenang, sedikit canggung.
Tidak ada aura sihir mencolok, tidak ada ciri penguatan tubuh yang terlihat.
Hina yang pertama mendekat.
Airi menyusul dengan cara yang lebih tenang.
Hina :
"Rei-kun! Kalau bingung dengan kelas, bilang saja ya."
Airi :
"Aku bisa jelaskan sistem pelajaran di sini kalau kau butuh."
Rika hanya memperhatikan dari jauh.
Awalnya, rasa tertariknya bukan romantis.
Rika (dalam hati) :
"Manusia biasa… tanpa kemampuan… di sekolah seperti ini. Bagaimana dia akan bertahan?"
Beberapa hari kemudian, setelah melihat Rei:
membantu murid lain mengangkat barang,
mengembalikan buku yang jatuh,
tertawa kecil saat Hina bercerita hal konyol,
dan… memamerkan refleks anehnya menangkap vas yang hampir jatuh,
rasa penasarannya berubah menjadi keinginan kecil:
Rika (dalam hati) :
"Mungkin rumor itu benar. Tapi dia tidak bersembunyi di belakang rasa takut. Itu… sedikit menarik."
Jadi ketika Hina dan Airi mulai sering mengajak Rei makan bersama, Rika akhirnya ikut serta.
Hina :
"Rei-kun! Hari ini makan bareng lagi, ya?"
Airi :
"Aku ingin mencoba menu baru di kantin."
Rika berdiri di belakang mereka, lalu mengucap singkat.
Rika :
"Aku ikut."
Rei menoleh sedikit.
Rei :
"Kalau kalian tidak keberatan, tentu."
Rika mengamati gerak-gerik Rei di meja makan.
Cara dia memilih kata, cara dia mendengarkan, cara dia tersenyum.
Semakin banyak ia melihat, semakin kuat kesimpulannya:
Rika (dalam hati) :
"Dia benar-benar… manusia biasa. Tidak ada sihir, tidak ada penguatan. Hanya refleks yang… entah bagaimana terasa kelewat wajar baginya."
Dan di sela-sela itu semua, ada satu hal lain yang terus mengganggunya:
Tatapan dari jauh—yang ia rasakan setiap kali latihan, makan, atau berjalan di koridor.
Tatapan yang bukan milik Rei.
Tatapan yang Sama – Lapangan & Koridor
Suatu sore, Rika sedang latihan sendiri di lapangan.
Keringat menetes di pelipis.
Nafasnya teratur.
Tendangan terakhir menghantam boneka latihan.
DUK!
Ia berhenti sejenak, mengatur napas.
Dan lagi—
sensasi itu.
Rika (dalam hati) :
"Ada yang melihat."
Telinga beastkin-nya bergerak sedikit, menangkap suara langkah yang tertahan di sudut koridor, dekat pintu masuk lapangan.
Ia tidak menoleh langsung.
Ia menunggu.
Satu…
dua…
tiga langkah mundur.
Suara langkah itu menjauh lagi.
Rika menghela napas, sedikit kesal, sedikit… bingung.
Rika :
"Kalau butuh sesuatu… jangan hanya menatap."
Ia tidak tahu bahwa orang yang bersembunyi di balik dinding itu adalah Riku, manusia penguatan tubuh yang selama ini dikenal sebagai anak kaya yang rajin latihan.
Ia hanya tahu:
Ada seseorang yang menatapnya dengan cara berbeda.
Bukan tatapan meremehkan.
Bukan tatapan takut.
Tapi tatapan yang ia tidak mengerti.
Insiden Bola Api – Amarah yang Meledak
Hari itu, dunia kecil di sekolah mereka retak.
Rika sedang bersiap menuju lapangan kecil dekat gedung belakang ketika ia mendengar teriakan.
Siswa :
"U-Ujian sparing? Serius mereka lakukan di jam segini?!"
Siswi :
"Aku dengar Riku dari kelas lain mengajak Rei sparing."
Saat ia melangkah lebih dekat, ia melihat:
Rei di tengah arena kecil, terlihat sedikit kelelahan tapi tetap berdiri,
Riku dan dua temannya mengelilinginya,
percakapan yang ia tidak dengar jelas, tapi atmosfirnya tidak enak.
Rika (dalam hati) :
"…Sparing? Atau pengujian ego?"
Ia tidak langsung turun tangan.
Ia memutuskan mengamati dulu.
Hina dan Airi muncul kemudian, setelah mendengar siswa lain berlari panik di koridor.
Situasinya berubah cepat.
Rei mulai terdesak.
Lalu salah satu teman Riku—dengan kebodohan tingkat menggunakn sihir ke arah Rei , tepat di saat Airi berlari masuk ke dalam garis tembak.
Waktu melambat.
Rika melihat Airi berhenti—terlambat menyadari.
Melihat Riku yang terkejut.
Melihat Rei yang—
Rei :
"…!"
—tidak berpikir dua kali.
Ia memeluk Airi dari belakang, memutar tubuhnya.
Bola api menghantam punggung Rei.
DOOOOM!!
Ledakan itu membuat tanah berdebu.
Rei dan Airi terpental.
Rei menahan Airi, memastikan kepalanya tidak membentur keras.
Hina :
"REI-KUN!!"
Rika sempat membeku.
Lalu sesuatu di dalam dirinya pecah.
Rika melesat ke depan, mendahului guru UKS yang berlari.
Ia berlutut di sisi Rei, melihat punggung yang terbakar, seragam yang hangus, napas yang pendek.
Rika :
"Ini…"
Ada amarah yang mendidih—bukan hanya pada pelaku yang melempar bola api, tapi juga pada Riku, yang berdiri kaku, wajahnya penuh shock.
Saat ia berbalik, ia melihat salah satu pelaku yang masih berdiri di sana.
Tubuhnya bergerak sebelum otaknya menyusun kata-kata.
Rika berdiri, menatap siswa itu.
Rika :
"Kau."
Aura membunuhnya keluar begitu saja—tebal, dingin, menusuk.
Lorong, lapangan kecil, dan anak itu seolah tertelan oleh tekanan.
Rika :
"Menjauh."
Suara itu rendah, tanpa teriakan. Tapi lebih menakutkan daripada bentakan mana pun.
Siswa itu gemetar, melirik Riku, lalu mundur.
Dan saat matanya bertemu mata Riku—
Rika melihat sesuatu:
Tatapan itu. Tatapan yang ia rasakan di lapangan selama ini.
Campuran rasa kagum, bingung, bersalah, dan… sesuatu yang ia tidak berani tafsirkan.
Sekejap, ia tersadar:
Rika (dalam hati) :
"Dia… orang yang selama ini menatapku?"
Tapi amarahnya belum reda.
Amarah karena:
ada teman yang terluka,
ada kekuatan yang disalahgunakan,
ada prinsip bertarung yang dikhinati.
Jadi ia tidak mengekspresikan apapun selain dingin.
Rika :
"Kau juga. Jauh dari sini."
Riku tidak melawan.
Ia menunduk, menerima tatapan tajam itu, lalu mundur dan terdiam.
Aura membunuh Rika baru mereda saat ia kembali menunduk dan fokus memeriksa Rei.
Dalam hatinya, ia hanya punya satu prioritas:
Rika (dalam hati) :
"Selamatkan dia dulu."
Lorong UKS – Amarah Kedua
Beberapa waktu kemudian, setelah Rei dibawa ke UKS, luka dirawat, dan Hina serta Airi menangis sampai suara mereka serak…
Rika keluar dari ruangan untuk melaporkan ke guru.
Saat pintu terbuka, ia tidak menyangka melihat Riku berdiri tepat di depan.
Riku menatap pintu UKS, bukan ke arah Rika.
Kedua tangannya mengepal, rahangnya mengeras.
Rika berhenti di ambang pintu.
Rika :
"…Untuk apa kau di sini?"
Suara itu membuat lorong bergema.
Riku terkejut sedikit, lalu menatapnya.
Mata itu—
mata yang sama yang beberapa hari ini ia rasakan dari jauh—
mata yang tadi ia lihat di lapangan sebelum insiden.
Tapi sekarang, mata itu penuh penyesalan.
Itu tidak menghapus fakta:
kalau bukan karena Riku membiarkan situasi itu berkembang, insiden bola api tidak akan terjadi.
Aura membunuh Rika kembali naik.
Rika :
"Setelah apa yang kalian lakukan… untuk apa kau berdiri di sini, seolah kau punya hak untuk khawatir?"
Hina, yang mendengar suara tinggi Rika, keluar dan—dalam amarah dan sedih—menampar Riku.
Rika tidak menghentikannya.
Karena di dalam dirinya, ada suara lain:
"Kau pantas mendapat lebih dari ini."
Namun di balik amarah itu, Rika juga melihat sesuatu:
Riku tidak membela diri.
Tidak menyalahkan teman.
Tidak lari.
Dan itu… sedikit mengganggu pikirannya.
Setelah Maaf – Menyadari Tatapan itu
Semua mulai berubah saat Rei memaafkan Riku.
Rei :
"Selama kau tidak mengulangi hal seperti ini pada orang lain… aku tidak masalah."
Rika mendengar itu di ruangan UKS.
Rika (dalam hati) :
"…Orang ini, di punggungnya masih ada bekas luka. Tapi dia memaafkan orang yang membuatnya seperti itu."
Lalu Rei menambahkan:
Rei :
"Kalau dia ingin berteman… aku tidak keberatan."
Di satu sisi, Rika ingin berteriak:
"Kau terlalu baik!"
Di sisi lain, ia tahu:
"Kalau korban sendiri memegang kata 'maaf', siapa kau untuk menghancurkannya?"
Sejak saat itu, Riku mulai mendekat sebagai teman.
Awalnya canggung.
Mengantar buah ke UKS tanpa berani masuk.
Menghindar ketika Rika dan dua gadis lain datang.
Lalu—
satu hari, di kelas, Rei menawarinya makan bersama.
Rei :
"Riku. Mau ikut makan?"
Riku :
"…Tidak usah, aku—"
Rika :
"Ikut saja."
Hina :
"Iya, bareng-bareng."
Airi :
"Tidak ada yang keberatan."
Riku menghela napas pelan, lalu mengangguk.
Sejak hari itu, mereka berlima mulai sering terlihat bersama:
di kantin,
di taman,
di festival.
Dan Rika, yang dulunya selalu merasa ada tatapan dari jauh, kini menemukan tatapan itu lebih dekat.
Misalnya:
Saat mereka berlima makan di kantin, Riku kadang berpura-pura fokus ke makanan, tapi kalau Rika bicara, telinga Riku sedikit bergerak.
Atau saat latihan di lapangan—
ketika Rika memukul boneka latihan, ia bisa merasakan pandangan Riku mengikutinya, bukan dengan cara mengawasi… tapi seperti orang yang mengagumi sesuatu yang berharga.
Rika menyadari itu.
Rika (dalam hati) :
"Dia… sering sekali melihat ke arahku."
Tapi karena hidupnya dibentuk dari disiplin dan latihan, bukan drama percintaan, pikirannya langsung memotong:
Rika (dalam hati) :
"Mungkin dia hanya sedang belajar teknik gerakanku. Aku beastkin, dia manusia penguatan fisik. Logis kalau dia mengamati."
Dan tentang tatapan dari masa lalu di lapangan—
Rika menghubungkan semuanya diam-diam:
Tatapan itu.
Suara langkah yang kabur.
Orang yang berdiri di depan UKS.
Jawabannya mengarah ke satu orang: Riku.
Tapi ia tidak tahu harus apa dengan kenyataan itu.
Momen Berdua – Pertanyaan yang Menggantung
Ada satu hari, setelah insiden monster, ketika mereka semua masih dalam masa pemulihan, Rei sedang diperiksa guru, Hina dan Airi dipanggil untuk cek sihir penyembuhan…
Tinggallah Rika dan Riku di ruang rawat, hanya berdua.
Hening.
Riku duduk di kursi dekat jendela.
Rika berdiri, bersandar di dinding.
Riku :
"…"
Rika :
"…"
Riku berdehem kecil, mencoba mencairkan suasana.
Riku :
"Kau tidak latihan hari ini?"
Rika :
"Pelatih bilang kami istirahat dulu beberapa hari."
Riku :
"Ah… iya."
Hening lagi.
Rika menatap profil samping Riku.
Rika :
"Riku."
Riku :
"Hm?"
Rika :
"Kenapa kau sering melihat ke arahku?"
Riku terdiam.
Wajahnya menegang. Mata sedikit melebar.
Riku :
"…"
Rika menatapnya lurus.
Rika :
"Aku beastkin. Pendengaranku tajam. Langkahmu di lapangan… suaramu di tribun… tatapanmu di koridor. Kau pikir aku tidak sadar?"
Riku menggenggam celana seragamnya.
Riku :
"Aku…"
Ia ingin mengatakan:
"Aku suka kau."
"Kau mengingatkanku pada ibuku, dalam arti baik."
"Aku ingin jadi cukup kuat untuk berdiri di sampingmu."
Tapi semua kata itu menumpuk di tenggorokannya, tidak mau keluar.
Riku :
"Aku hanya…"
Rika menunggu.
Riku menunduk.
Riku :
"…Tidak ada. Maaf."
Suasana jatuh diam lagi.
Rika menghela napas pelan.
Rika :
"Kalau kau tidak ingin bilang, tidak apa."
Ia tidak mengeluarkan aura membunuh, tidak menegur keras.
Hanya sedikit… kecewa? Bukan. Lebih ke bingung.
Rika (dalam hati) :
"Kalau tidak ada apa-apa, kenapa tatapannya berbeda dari orang lain?"
Tapi karena ia tidak mengerti bahasa "tatapan orang jatuh cinta", otaknya membuat kesimpulan sederhana:
Rika (dalam hati) :
"Laki-laki memang rumit. Tidak usah dipikirkan."
Rika meluruskan punggungnya.
Rika :
"Aku keluar dulu. Kau jaga Rei kalau dia bangun."
Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan meninggalkan ruangan.
Riku menatap punggungnya menjauh, menggigit bibir.
Riku :
"…Bodoh."
Ia berkata itu untuk dirinya sendiri.
Rika Sekarang – Tidak Peka, Tapi Tidak Lagi Sendirian
Di malam hari, sepulang sekolah, Rika kadang duduk di kamarnya, merenung singkat sebelum tidur.
Di meja kecilnya ada:
buku pelajaran,
catatan latihan,
dan segelas air.
Ia menatap langit-langit.
Rika (dalam hati) :
"Dulu… aku hanya punya latihan dan pelajaran. Sekarang…"
Ia mengingat:
Hina yang cerewet tapi lembut,
Airi yang tenang dan tajam,
Rei yang bodoh tapi berani,
dan Riku—tatapannya, rasa bersalahnya, usahanya untuk berubah.
Rika (dalam hati) :
"Sekarang aku punya… teman."
Soal tatapan Riku?
Ia menyimpannya di sudut kecil pikirannya.
Bukan karena ia tidak peduli.
Tapi karena ia belum tahu bagaimana menghadapi itu.
Rika (dalam hati) :
"Kalau memang ada maksud tertentu… mungkin suatu hari dia akan bicara."
Di sisi lain, tanpa ia sadari, caranya melihat Riku juga pelan-pelan berubah.
Dulu:
"Laki-laki bodoh yang hampir membunuh temannya sendiri."
Sekarang:
"Laki-laki bodoh yang menyesal, bekerja keras, dan selalu berdiri di samping kami."
Dan setiap kali mereka berlima berjalan di koridor, Rika sadar:
Rei ada di tengah.
Hina dan Airi sering di dekatnya.
Riku sedikit di belakang, tapi selalu dalam jarak yang bisa menarik siapa pun jika jatuh.
Rika :
"…"
Kadang, saat Rei bercanda dengan Hina, dan Riku menjawab dengan candaan konyol, dan Airi menghela napas pelan, Rika akan berkata:
Rika :
"…Berisik."
Tapi ekornya bergerak sedikit pelan, lembut—bukan tanda kesal.
Hina :
"Rika-chan, kau senang juga, 'kan?"
Rika :
"Aku hanya lebih suka ini daripada ruang kelas yang sunyi."
Dalam hatinya, ia mengakui:
"Aku tidak lagi hidup sendiri."
Soal cinta?
Soal Riku?
Itu nanti.
Untuk sekarang, sebagai gadis beastkin yang hidupnya ditempa oleh latihan dan kedisiplinan, ia sudah melakukan langkah besar hanya dengan:
membiarkan Riku tetap berada di lingkaran mereka,
tidak lagi membalas tatapan itu dengan aura membunuh,
dan kadang, kalau tidak ada yang melihat, menoleh ke belakang untuk memastikan Riku masih ikut berjalan.
Rika (dalam hati) :
"…Kalau kau memang berniat sesuatu, Riku. Suatu hari, katakan dengan jelas."
Dan di tempat lain, di rumah sederhana, ayah dan ibunya tidak tahu bahwa putri mereka yang tegas dan dingin itu sudah masuk ke pusaran:
teman baru,
rahasia besar,
monster anomali,
dan perlahan… sesuatu yang bernama "perasaan" yang belum ia mengerti."
