Riku :
"Otou-san, aku berangkat dulu."
Ayah Riku :
"Jangan lupa makan siang, dan jangan terlalu keras pada dirimu sendiri."
Pagi di rumah keluarga Mikazuchi selalu tenang.
Rumah besar yang tidak terlalu mencolok dari luar, tapi di bagian belakangnya tersembunyi sebuah bangunan lain: institusi teknologi yang bekerja sama dengan para dwarf dan elf. Di sana, mesin dan sihir berdampingan—logam dan rune berpadu dalam proyek-proyek aneh yang bahkan Riku sendiri tidak selalu mengerti.
Ayahnya adalah direktur.
Ibunya—seorang beastkin bermata tajam dan berhati hangat—sedang mengurus cabang kerja sama luar negeri. Adiknya ikut menemani ibunya di sana.
Sudah lima tahun Riku hidup berdua dengan ayahnya di Jepang.
Tapi mereka tidak pernah terasa seperti keluarga yang "terpisah".
Setiap malam, kalau kesibukan tidak terlalu parah, mereka melakukan hal yang sama:
Ayah Riku :
"Riku, kita telepon mereka?"
Riku :
"Un."
Mereka duduk di sofa, layar holo-sihir menyala, dan tak lama kemudian, wajah ibunya dan adiknya muncul.
Ibu Riku (beastkin, tersenyum lebar) :
"Riku! Rambutmu tambah berantakan."
Riku :
"Ini model alami, Okaa-san."
Adik Riku :
"Riku-nii! Di sekolah ada hal menarik hari ini?"
Riku pun bercerita:
tentang latihan fisik,
tentang kelas yang membosankan,
tentang bagaimana ia sering ditarik untuk membantu angkat barang berat,
tentang bagaimana ia belum punya pacar.
Setiap kali sampai bagian terakhir, ujung bibir ibunya langsung terangkat.
Ibu Riku :
"Masih belum punya pacar, ya?"
Riku :
"…Aku sibuk latihan."
Adik Riku :
"Padahal Nii-san itu baik. Cuma pemalu saja."
Riku memalingkan wajah.
Riku :
"Aku tutup sambungan, ya."
Ayahnya tertawa kecil.
Ayah Riku :
"Dia hanya malu, seperti waktu aku menyatakan cinta pada ibumu dulu."
Riku :
"Ayah, tolong jangan mulai."
Di rumah—hidupnya hangat.
Di luar rumah—ia Riku, manusia dengan kekuatan penguatan tubuh, anak direktur institusi teknologi-sihir, murid di sekolah bergengsi.
Sekolah – Sebelum Rei Datang
Di awal tahun ajaran, Riku menjalani hari seperti murid lain:
belajar,
latihan fisik,
bercanda dengan teman,
sesekali jadi pusat perhatian karena kekuatannya cukup menonjol.
Riku bukan orang yang sombong. Tapi ia bukan malaikat.
Riku :
"Aku tetap remaja biasa. Iri, egois, ingin diakui… itu semua ada."
Yang membedakannya adalah—di kepala Riku selalu ada suara ayahnya.
Ayah Riku :
"Riku. Kekuatan bukan untuk merendahkan orang lain, tapi untuk memastikan orang di sekitarmu bisa berdiri sejajar."
Ia selalu mengingat itu.
Setidaknya, sampai Rei datang.
Saat Rei Muncul – Iri yang Tidak Diakui
Hari itu, rumor mulai beredar di lorong sekolah.
Siswa 1 :
"Kau sudah lihat murid pindahan? Yang rambut putih itu?"
Siswa 2 :
"Yang matanya berbeda warna? Katanya dia manusia biasa… tapi tidak punya kemampuan apa pun."
Siswa 3 :
"Serius? Umur sudah 17, tapi tidak kebangkitan? Kok bisa?"
Riku mendengar itu sambil membuka loker.
Riku :
"Tidak punya kemampuan? Di sekolah seperti ini?"
Ia mengintip ke ujung lorong.
Di sana, berdiri seorang bocah dengan rambut putih dan mata kiri biru.
Seragamnya rapi, wajahnya tidak terlalu ekspresif, tapi…
Di sekelilingnya, gadis-gadis baru saja menjauh, tapi kemudian gadis lain mendekatinya.
Siswi :
"Rei-san, terima kasih tadi sudah membantu bawakan bukuku."
Rei :
"Tidak apa. Aku lewat saja."
Siswi lain :
"Kau tidak perlu bantu, lho. Tapi… terima kasih."
Rei :
"Kalau aku bisa bantu, kenapa tidak?"
Riku menatap dari jauh.
Riku (dalam hati) :
"Manusia biasa… tanpa kemampuan… tapi semua gadis mendekat?"
Dadanya terasa aneh.
Bukan benci.
Tapi iri.
Riku :
"Aku ini punya penguatan tubuh. Latihan tiap hari. Tapi yang datang minta tolong mostly guru olahraga dan pelatih. Dia… cuma jadi 'baik' dan semua gadis langsung—"
Ia menggeleng.
Riku :
"Bukan salah dia. Bukan salah siapa-siapa."
Tapi rasa mengganjal tidak hilang.
Iri + rasa tidak percaya pada rumor = pikiran berbahaya mulai terbentuk.
Riku (dalam hati) :
"Manusia biasa tanpa kemampuan… punya refleks seperti itu?"
Ia mengingat kejadian di aula beberapa hari setelah Rei masuk—saat vas hampir jatuh dan Rei menangkapnya sebelum menyentuh lantai, seolah sudah tahu jalur jatuhnya.
Riku :
"Kalau begitu… apa benar dia tidak punya kekuatan?"
Di kepalanya mulai muncul kalimat yang salah:
"Mungkin dia menipu semua orang."
Dan dari situ, lahir dugaan kejam:
Riku (dalam hati) :
"Serigala berbulu domba, ya…?"
Rika – Gadis Beastkin yang Mirip Ibu
Riku :
"…Dan masalahnya, bukan cuma soal murid baru itu."
Ada satu lagi.
Seorang gadis beastkin, kuat, tegas, mata tajam, dan sering melatih fisik di lapangan.
Rika.
Riku pertama kali benar-benar memperhatikan Rika saat latihan fisik gabungan. Rika mengayunkan kaki ke arah boneka latihan dengan sangat presisi—cukup kuat untuk menghancurkan, tapi terkontrol.
Pelatih :
"Bagus, Rika. Kontrol kekuatanmu sudah jauh lebih stabil."
Riku berdiri tidak jauh, memegang handuk.
Riku (dalam hati) :
"Gerakan bersih. Nafas teratur. Fokusnya tidak goyah."
Ada hal lain yang mengganggu pikirannya:
– Telinga beastkin yang sedikit bergerak saat fokus.
– Ekspresi dingin tapi sebenarnya penuh perhatian.
– Cara ia menghentikan murid lain yang berbuat seenaknya tanpa ragu.
Dan, tanpa ia sadari—
Riku :
"…Dia mirip Okaa-san."
Bukan wajahnya, tapi:
cara menatap,
cara meluruskan punggung,
cara menegur orang yang bertindak tidak benar.
Sejak itu, tiap kali Riku latihan fisik dan melihat Rika juga ada di lapangan, jantungnya sedikit lebih cepat.
Riku (dalam hati) :
"Ini parah. Aku jatuh cinta pada orang yang bikin aku ingat ibu sendiri."
Ia selalu menjaga jarak.
Bukan karena tidak berani bicara.
Tapi karena ia takut:
"Kalau aku menunjukkan rasa suka, hubungan normal ini akan retak."
Untuknya, bisa berlatih di lapangan yang sama, makan siang tidak terlalu jauh, bahkan hanya bertukar beberapa kalimat singkat… sudah cukup berharga.
Rencana Bodoh & Prinsip Ayah yang Ia Khianati
Lalu datanglah hari sparing.
Teman Riku :
"Hei, Riku. Kita bisa uji murid baru itu."
Teman yang lain :
"Betul. Kalau dia punya kekuatan, akan kelihatan. Kalau tidak, yah… kita bisa lihat refleks 'ajaib' itu dari dekat."
Riku seharusnya berkata tidak.
Seharusnya ia ingat kata-kata ayahnya tentang kekuatan dan tanggung jawab.
Tapi rasa iri, rasa penasaran, dan ego remaja menang.
Riku :
"…Ajak dia sparing. Alasannya latihan bersama."
Awalnya hanya 1 vs 1.
Lalu ide buruk muncul:
Teman Riku :
"Bagaimana kalau dijadikan 3 vs 1? Biar ketahuan seberapa jauh dia bisa bertahan."
Dan Riku—yang seharusnya menolak—hanya mengangguk.
Kemudian…
Ia melihat api.
Melihat temannya melempar bola api ke arah Rei ketika Airi tiba-tiba muncul di tengah jalur serangan.
Dan ia melihat sesuatu yang mematahkan seluruh asumsi buruknya:
Rei :
"—!!!"
Tanpa sihir, tanpa penguatan, tanpa perisai—
Rei memeluk Airi dari belakang, membalikkan posisi supaya punggungnya sendiri yang terkena.
DOOOOM!
Ledakan mengenai punggung Rei. Rei terpental, Airi ikut terseret, tapi Rei memeluk kuat, memastikan tubuh Airi tidak membentur keras.
Riku berlari.
Riku :
"IDIOT!!"
Saat ia melihat punggung Rei yang hangus, napas tersendat, dan darah di sudut mulutnya…
Riku sadar.
Riku (dalam hati) :
"Kalau dia punya kekuatan… dia tidak akan menabrakkan tubuhnya begitu."
Refleks cepat, iya.
Keberanian tolol, iya.
Tapi tidak ada perisai sihir, tidak ada tebasan elemen, tidak ada penguatan tubuh.
Hanya tubuh manusia.
Dan rasanya seperti ditampar:
"Kau salah menilainya. Kau mengkhianati prinsip ayahmu sendiri."
Lalu ia merasakan sesuatu yang lebih menakutkan dari serangan apa pun:
Aura membunuh Rika.
Rika :
"…"
Saat Rika keluar dari UKS dan melihatnya menunggu di depan pintu, tatapan Rika tajam seperti bilah pisau.
Rika :
"Untuk apa kau di sini, setelah apa yang kalian lakukan?"
Lorong sekolah menggema oleh suara Rika.
Hina menamparnya.
Airi memandanginya dengan tatapan yang tidak bisa ia hadapi.
Dan di puncak rasa bersalah itu, Rei—yang terluka parah—justru memaafkannya.
Rei :
"Selama kau tidak mengulanginya pada orang lain… aku tidak masalah, Riku."
Riku menunduk begitu rendah sampai keningnya hampir menyentuh lantai.
Riku (dalam hati) :
"Orang seperti ini… malah memaafkan aku?"
Sejak itu, ia mencatat di dalam hati:
"Aku berhutang nyawa. Bukan sekali, tapi dua kali."
Setelah Jadi Teman – Rasa Suka yang Diam-diam Tumbuh
Hari-hari setelah itu, sesuatu berubah.
Riku mulai sering berada di samping Rei.
Awalnya canggung, penuh rasa bersalah.
Riku :
"Rei. Mau makan di kantin? Aku traktir."
Rei :
"Kalau kau punya uang lebih, beli saja makanan enak untuk dirimu sendiri."
Riku :
"Satu set takoyaki ekstra bukan masalah. Jangan banyak protes."
Mereka duduk di meja yang sama, dan perlahan, empat orang yang punya luka masing-masing mulai membentuk lingkaran:
Rei,
Hina,
Rika,
Airi,
dan Riku sendiri.
Makan di kantin bersama, bercanda di taman, latihan ringan, persiapan festival…
Di hari festival, Riku mengatur bahan makanan, mengangkat dus, memastikan dekorasi kafe berjalan lancar.
Sambil memantau satu orang tertentu.
Riku (dalam hati) :
"Rika hari ini jaga stand dengan ekspresi seperti penjaga penjara. Tapi anehnya… aku merasa itu lucu."
Saat Rika berdiri di depan kafe, menghalau murid yang ingin masuk tanpa antri, wajahnya tegas.
Rika :
"Antri. Kalau tidak, keluar."
Tapi ketika Hina datang membawa roti manis dan menyodorkannya ke arahnya, ekspresi Rika melunak sedikit.
Dan Riku—yang memperhatikan dari jauh—tidak bisa menahan senyum.
Riku (dalam hati) :
"Dia memegang peran sebagai penjaga. Tapi sekaligus, dia yang paling perhatian pada ketertiban."
Semakin sering mereka berlima bersama, rasa sukanya pada Rika semakin kuat.
Tapi rasa takutnya juga.
Riku (dalam hati) :
"Kalau aku mengacaukan ini dengan pengakuan bodoh, bagaimana kalau keseharian ini hilang? Aku… tidak siap kehilangan dirinya."
Jadi ia memilih diam.
Ia hanya akan:
berdiri sedikit lebih dekat saat mereka latihan bersama,
membantu membawa beban berat tanpa diminta,
dan diam-diam senang kalau Rika memuji teknik pukulannya walau sedikit.
Rika :
"Kuda-kudamu sudah lebih stabil."
Riku :
"…Terima kasih."
Di dalam hati:
YES.
Insiden Monster – Saat Ia Merasa Menjadi "Manusia yang Gagal"
Lalu hari itu datang.
Monster anomali.
Perisai sekolah yang retak.
Panik massal.
Rei membantu evakuasi.
Hina bersiap menyembuhkan.
Airi memperkuat perisai.
Rika dan Riku—garis depan.
Riku :
"Rika! Kita tidak bisa diam saja."
Rika :
"Aku tahu."
Mereka berdua menerjang monster itu.
Pukulan Riku menghantam dada monster.
Cakar Rika mengincar sendi.
Tapi hasilnya—
Hampir tidak ada.
Kabut gelap menyerap energi. Mereka seperti memukul lumpur keras yang menelan serangan mereka.
Lalu gelombang kejut.
DOOOM!
Riku :
"Ugh—!!"
Rika :
"Kh…!"
Tubuh mereka terpental, menghantam tanah. Tulang berteriak, napas terputus.
Saat Riku mencoba bangun dan melihat monster itu bersiap menyerang lagi—kali ini mengarah ke Airi yang berdiri sendirian di depan—ia merasakan sesuatu yang dingin masuk ke dadanya.
Riku (dalam hati) :
"Aku… manusia yang gagal."
Ia gagal melindungi Hina, yang sudah pingsan.
Ia gagal berdiri sejajar dengan Rika, orang yang ia suka.
Ia gagal menjadi tameng bagi Airi, yang memaksakan perisai sampai memuntahkan darah.
Riku (dalam hati) :
"Kenapa aku ada di sini kalau begini saja?"
Dan saat ia melihat Rey berlari—tanpa kekuatan, tanpa senjata yang layak—ke arah monster, hanya dengan sebatang besi…
Riku merasa malu sampai ke tulang.
Riku (dalam hati) :
"Seharusnya aku yang berdiri di sana. Bukan dia."
Lalu ia melihat bagaimana Rei dipukul, terlempar, memuntahkan darah, kemudian…
berdiri lagi.
Menghadang monster.
Dan dengan satu tebasan yang tidak bisa ia jelaskan, Rei menghabisi monster itu.
Saat semuanya berakhir, saat ia, Rika, Hina, dan Airi masih terkapar tapi hidup—
Riku menatap punggung Rei yang tergeletak tak sadarkan diri.
Riku (dalam hati) :
"Sekali lagi… orang yang kusangka 'lemah' justru yang menyelamatkanku."
Dalam satu insiden itu, rasa "iri" yang dulu ia miliki benar-benar berubah bentuk:
Dari iri yang kotor → jadi rasa hormat, rasa syukur, dan rasa ingin mengejar—bukan demi gengsi, tapi demi berdiri sejajar dengan teman.
Setelah Monster – Hutang Nyawa yang Kedua
Di ruang observasi, setelah mengetahui bahwa Rei tidak bisa memanggil kekuatan itu lagi sesuka hati, Riku berdiri dekat kaca.
Riku :
"Kalau kekuatan itu hanya muncul saat dia terjepit… berarti kita semua harus cukup kuat supaya dia tidak perlu sampai sejauh itu lagi."
Rika menoleh sekilas.
Rika :
"…Itu berarti kita juga harus menjadi lebih kuat."
Airi mengangguk.
Airi :
"Supaya yang terjadi tadi tidak terulang."
Saat Rei akhirnya bangun dan mereka kembali makan berlima di kemudian hari, Riku menatap wajah Rei lama-lama.
Rei :
"Apa ada sesuatu di wajahku?"
Riku :
"Ah? Tidak. Aku cuma sedang memastikan kau benar-benar hidup."
Rei :
"Aku menjawab pertanyaanmu barusan. Harusnya itu cukup membuktikan."
Hina tertawa.
Hina :
"Riku-kun, jangan seperti ibu yang anaknya baru pulang."
Riku :
"Aku tidak se…"
Ia berhenti.
Lalu ia ingat ibunya, menggodanya di layar holo-sihir. Ia tersenyum pelan.
Riku :
"…Mungkin sedikit."
Dalam hatinya, ia mencatat hal-hal ini sebagai kebenaran:
Ia tidak akan lagi membiarkan iri hati menutupi penilaian terhadap orang lain.
Ia tidak akan mengkhianati prinsip ayahnya lagi.
Ia akan melatih dirinya keras, bukan untuk jadi yang paling hebat, tapi supaya ia bisa melindungi:
Rei, yang memaafkannya dan menyelamatkan nyawanya.
Hina, yang selalu menangis dan tertawa dengan tulus.
Airi, yang menguatkan perisai sampai memuntahkan darah.
Dan Rika…
Riku melirik Rika yang sedang makan dengan cara pelan, matanya fokus ke makanan tapi telinganya memperhatikan semua obrolan.
Riku (dalam hati) :
"…dan Rika, gadis yang mirip Okaa-san tapi tetap dirinya sendiri. Gadis yang aku suka, tapi belum berani kunaikkan ke bibir."
Hutang nyawa pertamanya:
– saat Rei menahan bola api.
Hutang nyawa keduanya:
– saat Rei menebas monster yang hampir menghabisi mereka.
Riku :
"Rei."
Rei :
"Hm?"
Riku menatapnya serius.
Riku :
"Kalau suatu hari kau hampir jatuh… biarkan aku yang jadi orang pertama yang menarikmu."
Rei mengangkat alis.
Rei :
"Aku punya tiga orang pelari cepat di sini. Kau yakin ingin berlomba dengan mereka?"
Hina :
"Eh? Aku termasuk?"
Airi :
"…Aku juga?"
Rika :
"Jangan hitung aku sebagai 'pelari cepat'. Aku pelari efektif."
Riku tertawa kecil.
Riku :
"Ya. Kita berlima. Itu lebih baik."
Dalam hati, ia menambahkan satu hal yang belum siap ia ucapkan keras-keras:
"Dan kalau suatu hari aku cukup berani…
aku ingin berdiri di samping Rika bukan hanya sebagai teman."
Namun untuk sekarang—
ia puas dengan:
makan siang bersama,
latihan bersama,
tertawa bersama,
dan berjalan di koridor sebagai teman.
Karena ia tahu:
Tanpa Rei, tanpa kejadian bodoh yang hampir merenggut nyawa mereka,
ia mungkin masih jadi remaja kaya yang gampang iri,
bukan seseorang yang pelan-pelan belajar arti menjaga orang lain dengan tulus.
