Cherreads

Chapter 17 - Hutan Terlarang – Rei Penjaga Gerbang

Di sisi lain, jauh dari kota tempat Rei manusia terjatuh tak sadarkan diri…

Di ujung hutan terlarang, di atas tebing batu hitam yang sunyi, sebuah gerbang raksasa berdiri.

Gerbang itu tidak terbuka, tapi retakan-retakan tipis cahaya gelap berputar pelan di permukaannya, seperti napas makhluk raksasa yang sedang tidur.

Di depannya, seorang bocah berambut putih berdiri diam.

Rambutnya berkibar pelan ditiup angin hutan. Mata kanan biru, mata kiri hitam, menatap lurus pada gerbang yang bergetar halus.

Rei (penjaga) menutup mata, meletakkan tangan di dada.

Di dalam sana, ia merasakan sesuatu.

Gelombang jiwa. Tekad. Putus asa bercampur amarah, lalu… permohonan yang sangat sederhana tapi kuat:

"Andai saja aku kuat… aku ingin melindungi mereka."

Rei (penjaga) tersenyum tipis.

Rei :

"...Keinginan diterima."

Ia berbisik pelan, suaranya hampir tenggelam dalam angin.

Pada saat yang sama, getaran di dada yang tadi menyesakkan perlahan reda. Rantai tak terlihat yang selama ini mengikat sebagian kekuatannya di dalam diri lain… sedikit longgar.

Gerbang di depannya tetap stabil, tidak ada perubahan besar. Tapi Rei tahu:

Di dunia lain, di tubuh lain yang juga bernama Rei, sesuatu baru saja bangkit.

Tidak jauh di belakang Rei, dua sosok memperhatikannya.

Seorang gadis demon, Lirya, bersandar di batang pohon besar. Rambutnya panjang berwarna merah tua, tanduk kecil mengintip di sela rambut, sayap hitam lipat rapi di punggungnya. Ekspresinya biasanya angkuh, tapi sekarang… lebih banyak bingung.

Lirya menatap punggung Rei yang tegap.

Lirya (dalam hati) :

"Dia lagi menatap gerbang itu lagi… Sudah beberapa hari ini, tatapannya beda. Kadang memejamkan mata, seolah melihat sesuatu di tempat lain…"

Di sisi lain, seorang pria beastkin bertubuh tinggi dengan rambut cokelat acak-acakan dan telinga serigala, Garm, duduk di atas batu, mengawasi keduanya.

Garm melihat tatapan Lirya yang terlalu fokus pada Rei, lalu menyeringai.

Garm :

"Hei, Lirya."

Lirya :

"Apa?"

Garm :

"Kalau kau menginginkannya, buang saja kesombonganmu. Jangan cuma melotot dari kejauhan."

Lirya langsung memerah.

Lirya :

"A-apa maksudmu 'mengInginkan'?! Jangan bicara sembarangan, Beast jelek!"

Garm tertawa keras.

Garm :

"Haha! Reaksimu terlalu berlebihan untuk seseorang yang 'tidak tertarik', tahu?"

Lirya mengalihkan tatapan, tapi matanya kembali ke Rei.

Lirya (dalam hati) :

"Dasar menyebalkan… Tapi…"

Ia menggenggam mantelnya sendiri.

Lirya (dalam hati) :

"…Memang benar, dari semua manusia yang pernah kulihat… hanya dia yang… mungkin pantas berada di sisiku."

Ia menelan kata-kata itu, tidak berani mengucapkannya keras-keras.

Lirya tahu, Rei bukan manusia biasa.

Ia bukan raja, bukan bangsawan, bukan pemimpin pasukan.

Tapi…

—Ia adalah penjaga gerbang yang menahan sesuatu yang tidak bisa dipahami.

—Sendirian.

—Tanpa gelar, tanpa pengakuan.

Sementara ia sendiri… hanya demon yang dulu terlalu sombong sampai hampir mati kalau bukan karena Rei.

Garm mengamati perubahan ekspresi Lirya, lalu menggeleng sambil tertawa kecil.

Garm :

"Tak kusangka. Lirya si demon angkuh bisa jatuh hati pada manusia. Ras yang dulu kau hina sebagai 'lemah'."

Lirya :

"Tutup mulutmu, Garm! Aku tidak pernah bilang—"

Garm mengangkat tangan.

Garm :

"Tenang. Aku tidak akan mengumumkannya ke seluruh dunia."

Ia kembali melirik ke arah Rei.

Garm :

"Selain itu… aku paham kenapa."

Lirya :

"Hm?"

Garm :

"Rei, di sini, adalah satu-satunya manusia terkuat yang pernah kutemui. Bukan cuma kuat secara bertarung…"

Ia menatap gerbang yang berputar pelan.

Garm :

"…dia punya tanggung jawab yang bahkan lebih besar dari banyak pemimpin atau raja di dunia kita."

Lirya terdiam.

Dalam hati, ia setuju. Tanpa banyak kata.

Saat mereka berdua memperhatikan, Rei di depan gerbang tiba-tiba tersenyum.

Rei memejamkan mata lagi, bergumam pelan.

Rei :

"…Kau benar-benar keras kepala ya, aku yang di sana."

Kata-katanya terlalu pelan untuk didengar dari jarak mereka. Hanya gerakan bibir dan senyum tipis yang terlihat.

Lirya mengerutkan kening.

Lirya :

"Dia… tersenyum?"

Garm menyipitkan mata.

Garm :

"Dan bergumam sendirian. Itu tidak pernah pertanda baik."

Mereka saling pandang.

Lirya :

"Apa yang sedang dia pikirkan?"

Garm melompat turun dari batu.

Garm :

"Daripada menebak, kita tanya saja."

Ia berjalan mendekat, diikuti Lirya dari belakang.

Garm :

"Hei, Rei!"

Rei menoleh pelan, menatap mereka berdua, lalu kembali melihat gerbang sebentar sebelum memutar tubuh sepenuhnya.

Rei :

"Ya?"

Garm menyilangkan tangan, ekspresi setengah serius setengah penasaran.

Garm :

"Tadi kau senyum sendiri dan bergumam pada udara kosong. Ada sesuatu yang terjadi?"

Lirya menatapnya tajam.

Lirya :

"Apa gerbangnya berubah? Ada yang bocor? Atau… ada sesuatu yang masuk?"

Rei menggeleng pelan.

Rei :

"Gerbangnya stabil. Untuk saat ini, tidak ada kebocoran."

Lirya sedikit lega, tapi tetap menatapnya menuntut jawaban.

Lirya :

"Jadi kenapa kau tampak… lega?"

Rei terdiam sesaat, menimbang kata-katanya.

Ia tidak bisa mengatakan:

"Aku baru saja melepaskan segel kekuatan untuk diriku yang lain di dunia manusia."

Jika ia berkata begitu, Lirya dan Garm akan mulai mempertanyakan tentang jiwa lain, diri lain, dan pada akhirnya… gerbang akan kehilangan keheningan yang dibutuhkannya.

Rei mengangkat satu tangan, menyentuh dadanya.

Rei :

"Ada seseorang di luar sana."

Garm mengangkat alis.

Garm :

"Seseorang?"

Rei :

"Ya. Seseorang yang… terhubung dengan gerbang ini. Bukan secara fisik… tapi lewat jiwa."

Lirya memicingkan mata.

Lirya :

"Terhubung… seperti bagaimana?"

Rei tersenyum tipis.

Rei :

"Dia baru saja membuat keputusan yang penting. Dia memohon kekuatan… bukan untuk menghancurkan, tapi untuk melindungi orang-orang yang ia sayangi."

Ia menutup mata sebentar, merasakan sisa getaran tekad tadi.

Rei :

"Dan permohonan seperti itu… sulit untuk kutolak."

Garm :

"Jadi, kau baru saja… mengabulkan permintaan seseorang di dunia lain?"

Rei :

"Kurang lebih."

Lirya :

"Siapa dia? Ras apa? Di mana?"

Rei membuka mata, menatap mereka bergantian—hangat tapi tetap menyimpan jarak.

Rei :

"Namanya… bukan sesuatu yang bisa kalian tahu sekarang. Begitu juga dengan dunia tempat dia tinggal."

Lirya mengerutkan kening.

Lirya :

"Kenapa tidak?"

Rei :

"Karena kalau kalian ikut campur terlalu cepat, kehidupan normalnya akan hancur."

Ia mengalihkan pandangan ke gerbang.

Rei :

"Untuk saat ini, biarkan dia menjalani hidupnya sebagai… 'orang biasa' yang kebetulan melakukan sesuatu yang tidak biasa."

Garm mendengus pelan.

Garm :

"Jadi, kau menyembunyikan sesuatu… tapi masih menyebut kami sebagai teman."

Rei tersenyum sedikit lebih lebar.

Rei :

"Justru karena kalian temanku, aku menyembunyikan ini."

Lirya :

"…"

Ia ingin protes, tapi melihat senyum tenang itu membuatnya menahan diri.

Lirya (dalam hati) :

"Kalimat itu… licik. Tapi… terasa jujur."

Garm mengangkat tangan, menyerah.

Garm :

"Baik. Tapi kalau suatu hari 'seseorang' itu datang ke dunia kita, aku ingin adu pukul dengannya. Kalau dia cukup penting untuk mendapatkan 'kabulkan' darimu, aku ingin mengukur seberapa besar tekadnya."

Rei terkekeh kecil.

Rei :

"Kalau waktunya tiba, mungkin kalian akan bertemu. Entah sebagai kawan… atau sesuatu yang lain."

Lirya menatap gerbang, lalu kembali ke Rei.

Lirya :

"…Kau terlihat sedikit bahagia."

Rei menatap ke langit di atas gerbang.

Rei :

"Mungkin karena… untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak sendirian menjaga sesuatu."

Garm dan Lirya tidak sepenuhnya mengerti, tapi mereka tahu satu hal:

ada sesuatu yang baru saja berubah.

Tidak di hutan ini, bukan di depan gerbang itu—

melainkan di dunia lain, milik Rei yang lain.

Dunia Manusia – Setelah Tebasan

Sementara itu, di dunia manusia…

Langit sudah mulai cerah kembali. Asap dari reruntuhan mulai menghilang, perisai sekolah yang retak telah padam.

Monster anomali sudah lenyap.

Menyisakan luka, puing, dan banyak pertanyaan.

Di salah satu ruang perawatan khusus di sekolah—yang kini dipenuhi perlengkapan sihir dan alat medis modern—seorang pemuda dengan rambut putih terbaring diam.

Hirashi Rei.

Matanya tertutup, napasnya teratur namun dalam. Ada beberapa perban di tubuhnya, tapi luka parah yang tadi mengancam nyawanya… telah menghilang.

Di sekitar ranjang, empat orang duduk dan berdiri:

Hina di sisi kanan, menggenggam tangan Rei erat-erat.

Airi di sisi kiri, memperhatikan stabilitas auranya.

Riku bersandar ke dinding dekat kaki ranjang, tangan terlipat.

Rika berdiri dekat pintu, seakan menjadi penjaga pribadi.

Hina :

"Rei-kun… sudah beberapa jam, tapi dia belum bangun…"

Airi melihat ke arah lingkaran sihir diagnostik di samping ranjang.

Airi :

"Vital tubuhnya stabil. Energi internalnya… turun ke tingkat normal, tapi pola alirannya berbeda dari manusia biasa."

Riku mendengus pelan.

Riku :

"Normal? Tidak ada yang 'normal' dari orang yang membelah monster anomali dengan satu tebasan."

Rika menoleh sebentar ke jendela kecil, di mana cahaya sore masuk.

Rika :

"Kalau dia manusia biasa, dia sudah lama mati tadi. Kekuatan tadi… bukan sesuatu yang bisa tubuh normal tanggung."

Hina menunduk.

Hina :

"Berarti… dia bisa bangun, kan…?"

Airi menatap wajah Rei yang damai.

Airi :

"…Bisa. Tapi tubuhnya pasti butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan perubahan ini."

Riku menggeretakkan gigi.

Riku :

"Kalau saja aku lebih kuat… aku tidak perlu sampai melihat dia jatuh seperti ini lagi."

Rika :

"Kita semua sama bersalahnya. Kita maju ke depan, tapi tidak cukup kuat untuk menahan monster itu."

Di luar pintu, suara beberapa orang dewasa terdengar samar.

Wakil Kepala Sekolah, seorang penyembuh senior kota, dan Sakuraba sedang berbicara.

Penyembuh Senior :

"Tes bakatnya dulu menunjukkan 'tidak ada kemampuan'. Tapi hari ini, dia menunjukkan… sesuatu yang bahkan tidak tercatat di arsip kemampuan standar."

Wakil Kepala Sekolah :

"Anda bisa mengklasifikasikannya?"

Penyembuh Senior menghela napas.

Penyembuh Senior :

"Yang saya lihat… bukan elemen biasa. Bukan api, air, angin, tanah, petir, atau turunannya. Energi itu… lebih dekat pada 'distorsi ruang' atau 'energi dimensi' yang selama ini kita hanya lihat di sekitar gerbang."

Sakuraba :

"Jadi… kekuatan yang sama dengan sumber monster itu?"

Penyembuh Senior :

"Mirip. Tapi arahannya berbeda. Monster anomali melahap dan menghancurkan. Kekuatan bocah ini… memotong dan menutup."

Wakil Kepala Sekolah terdiam sejenak.

Wakil Kepala Sekolah :

"Apapun itu, Hirashi Rei menyelamatkan ratusan nyawa hari ini. Fakta itu tidak bisa diperdebatkan."

Penyembuh Senior :

"Saya tidak menyangkalnya. Namun… kalian harus sadar. Jika kabar kekuatannya menyebar keluar, banyak pihak akan tertarik. Ada yang ingin meneliti, ada yang ingin memanfaatkan, bahkan ada yang ingin menghapusnya."

Sakuraba mengepalkan tangan.

Sakuraba :

"Dia muridku. Aku tidak akan membiarkan siapapun memperlakukannya seperti objek eksperimen."

Wakil Kepala Sekolah mengangguk.

Wakil Kepala Sekolah :

"Untuk saat ini, informasi tentang insiden ini akan dibatasi. Laporan resmi hanya mengatakan: 'Monster anomali dikalahkan oleh gabungan kekuatan tim sekolah dan pasukan kota.'"

Penyembuh Senior :

"Dan bocah itu?"

Wakil Kepala Sekolah :

"Dicatat sebagai korban yang tidak sadarkan diri karena kelelahan setelah membantu evakuasi."

Sakuraba :

"Yang jelas, begitu dia bangun, kita perlu bicara empat mata."

Di dalam ruangan, keempat teman Rei tidak tahu detail pembicaraan di luar. Tapi mereka tahu satu hal:

sejak hari itu, Rei bukan lagi "murid tanpa kemampuan".

Hina menatap wajah Rei dan mengusap matanya yang masih merah.

Hina :

"Rei-kun… kau selalu bilang ingin hidup biasa. Tapi…"

Ia tersenyum getir.

Hina :

"Sepertinya dunia tidak mau memberi 'biasa' padamu."

Riku mendengus pendek.

Riku :

"Kalau dunia keras kepala, ya kita juga harus keras kepala."

Rika :

"Artinya… kalau setelah ini ada yang datang mengganggu Rei karena kekuatannya, mereka harus lewat kita dulu."

Airi menutup mata sebentar, merasakan aliran energi tipis dari tubuh Rei yang tertidur.

Airi :

"…Dia pasti akan merasa bersalah ketika bangun nanti. Seperti biasa."

Hina mengusap punggung tangan Rei.

Hina :

"Kalau begitu, tugas kita saat dia bangun nanti… adalah bilang bahwa dia tidak perlu menanggung semuanya sendiri."

Riku menatap langit-langit.

Riku :

"Dan tugas kita sekarang… memastikan dia bangun dulu."

Rika :

"Dia pasti bangun."

Airi :

"Ya."

Mereka semua terdiam, hanya suara alat medis dan sihir pelan yang mengisi ruangan.

Rei masih belum membuka mata.

Tapi di suatu tempat, di kedalaman jiwanya, suara yang sama dari hutan terlarang berbisik:

Gelap.

Tidak ada suara, tidak ada rasa sakit.

Hanya kegelapan lembut, seperti berada di dasar danau yang tenang.

Rei merasa melayang.

Rei :

"Ini di mana…?"

Tidak ada jawaban.

Namun jauh di depan, sebuah cahaya tipis—bukan terang menyilaukan, tapi lebih seperti retakan kecil di kegelapan—berkedip.

Dari arah itu, suara muncul.

?? :

"…Kau benar-benar nekat."

Rei terdiam.

Suara itu terdengar… aneh.

Seperti suaranya sendiri, tapi lebih dewasa, lebih tenang, dan… membawa rasa lelah yang panjang.

Rei :

"Kau siapa?"

Cahaya itu tidak mendekat, namun kehadirannya semakin jelas.

?? :

"Aku? Anggap saja… bagian dari dirimu yang tidak perlu kau jelaskan pada siapapun dulu."

Rei mengerutkan kening.

Rei :

"Tadi aku…"

Bayangan Hina yang terlempar.

Riku dan Rika yang terkapar.

Airi yang memuntahkan darah di depan perisai yang pecah.

Monster yang mengangkat tangan untuk menghancurkan semuanya.

Lalu…

Punggungnya yang berdiri di depan mereka.

Garis kosong di udara.

Monster itu terbelah, lalu lenyap.

Rei menggenggam tangannya sendiri.

Rei :

"Itu… kekuatanku?"

Suara itu pelan.

?? :

"Itu… bagian dari kekuatanmu. Tapi untuk sekarang, anggap saja itu… sesuatu yang dipinjamkan."

Rei :

"Kenapa aku bisa menggunakannya?"

?? :

"Karena kau memintanya. Bukan untuk balas dendam. Bukan untuk sombong. Tapi untuk melindungi."

Keheningan sebentar.

?? :

"Itu alasan yang cukup."

Rei menunduk. Ia ingin bertanya lebih banyak—apa ini, siapa yang memberi, apa hubungannya dengan gerbang, dengan rambut putih dan mata birunya—tapi sebelum pertanyaan itu keluar, suara itu kembali terdengar, kali ini lebih tegas.

?? :

"Rei."

Rei :

"Apa?"

?? :

"Akan ada orang-orang yang bertanya padamu nanti. Tentang kekuatan tadi. Tentang apa yang kau lakukan."

Rei diam.

?? :

"Aku ingin kau menyimpannya sendiri dulu. Jangan ceritakan tentang suaraku. Jangan jelaskan sumber kekuatan itu. Jangan beritahu siapapun bahwa ada sesuatu di dalam dirimu yang menjawab permintaanmu."

Rei mengerutkan alis.

Rei :

"Kenapa? Kalau aku jelaskan, mereka mungkin bisa membantuku mengerti…"

Suara itu terdengar… sedikit sedih, sedikit geli.

?? :

"Atau mereka justru akan mencoba mengunci, memanfaatkan, atau menghancurkanmu sebelum kau siap."

Cahaya di depannya bergetar lembut.

?? :

"Kau bilang kau ingin hidup normal. Kau ingin tertawa dengan temanmu. Kau ingin bisa melindungi… tanpa kehilangan semuanya seperti dulu."

Rei terdiam. Itu benar.

Suara itu melanjutkan:

?? :

"Kalau begitu, rahasiakan dulu yang satu ini. Katakan saja kau tidak tahu. Karena memang begitu kenyataannya sekarang."

Rei membuka mulut.

Rei :

"…Sampai kapan?"

?? :

"Sampai waktunya tiba. Sampai kau cukup kuat berdiri di antara dua dunia… tanpa runtuh."

Retakan cahaya mulai melebar sedikit.

Suara itu semakin jauh.

?? :

"Bangun, Rei. Ada orang-orang di sana yang menunggumu. Jangan buat mereka menunggu terlalu lama."

Kegelapan mulai memudar.

Suara mesin medis… suara napas… suara seseorang menahan tangis…

Semua perlahan masuk ke telinganya.

Sebelum benar-benar hilang, suara itu berbisik sekali lagi:

?? :

"Dan ingat. Suara ini… pertemuan ini… cukup untuk kau saja dulu."

Gelapnya pecah.

REI BANGUN

Cahaya putih lembut. Atap asing. Aroma obat dan sedikit wangi herbal sihir.

Kelopak mata Rei bergetar, lalu perlahan terbuka.

Pandangan pertama yang ia tangkap: langit-langit putih dengan garis halus.

Pandangan kedua: sesuatu yang hangat menggenggam tangannya.

Ia menoleh pelan.

Di sisi kanan ranjang—Hina tertidur dengan kepala miring di tepi ranjang, tangannya menggenggam tangan Rei erat-erat, mata bengkak, noda air mata masih terlihat.

Di sisi kiri—Airi sedang duduk, buku di pangkuan, tapi matanya tertuju pada wajah Rei begitu ia bergerak.

Airi :

"Rei…?"

Suara itu pelan, tak percaya.

Rei membuka mulut, suara masih serak.

Rei :

"Airi…?"

Airi menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum tipis—senyum lega yang nyaris pecah menjadi tangis.

Airi :

"Rei. Kau sadar."

Hina tersentak, bangun karena gerakan kecil di tangannya.

Hina :

"…Hm… Rei-kun…?"

Mata Hina yang merah itu melebar.

Hina :

"Rei-kun!!"

Tanpa berpikir, ia langsung memeluk Rei—untungnya tidak terlalu kencang, walau tetap membuat Rei sedikit terkejut.

Rei :

"Uwaa— H-Hina, pelan—"

Hina :

"Idiot… kau… benar-benar idiot…"

Air mata mengalir lagi.

Hina :

"Kenapa selalu seperti ini… kenapa selalu menempatkan diri di depan…"

Rei tersenyum lemah.

Rei :

"Kalau aku tidak berdiri di depan waktu itu… kalian mungkin tidak ada di sini sekarang."

Airi menunduk sedikit, menutupi emosinya, tapi suaranya lembut.

Airi :

"Terima kasih… Rei."

Pintu ruangan terbuka. Riku dan Rika masuk hampir bersamaan.

Riku :

"Guru UKS bilang… 'mungkin sebentar lagi dia bangun'. Aku kira itu berarti beberapa—"

Ia berhenti ketika melihat mata Rei terbuka.

Riku :

"…Hei."

Rika menutup pintu pelan, menatap Rei dalam.

Rika :

"Jadi kau akhirnya bangun."

Rei menatap mereka satu-satu.

Rei :

"Hina… Airi… Riku… Rika…"

Ia menghela napas.

Rei :

"Kalian semua… hidup, 'kan?"

Riku menyeringai, meski wajahnya masih ada bekas perban kecil.

Riku :

"Kalau aku mati, aku akan datang menghantuimu setiap malam. Jadi tidak, aku masih hidup."

Hina mengusap air matanya.

Hina :

"Kau kira kami selemah itu?"

Rei melirik perban di lengannya, sedikit perban di sisi kepala Riku, bekas memar di lengan Rika, dan pakaian Airi yang masih tersisa noda kering darah di bagian bawah.

Rei :

"…Kalian tidak terlihat 'baik-baik saja'."

Rika menghela napas.

Rika :

"Kami masih jauh dari cukup kuat. Tapi tanpa kau… monster itu akan membunuh jauh lebih banyak."

Rei mengerutkan dahi.

Rei :

"Monster itu…"

Ingatan terakhirnya: terlempar, rasa sakit, darah, teriakan dalam kepalanya, permohonan… lalu garis tebasan itu.

Rei :

"Monsternya… bagaimana?"

Airi menatapnya.

Airi :

"Kau yang tahu jawabannya."

Rei :

"…Aku?"

Riku melipat tangan, bersandar ke dinding.

Riku :

"Semua orang yang sadar waktu itu melihatnya. Kau berdiri di depan monster yang bahkan puluhan petarung tidak bisa gores… berkata 'pergi', lalu—"

Ia menggerakkan tangannya, menirukan tebasan.

Riku :

"—dan monster itu terbelah jadi dua. Lalu lenyap. Seperti terpotong ruang kosong."

Hina mengangguk kecil.

Hina :

"Aku tidak lihat jelas… tapi aku tahu satu hal. Kalau bukan karena tebasan itu, aku… kami…"

Ia menggenggam lagi tangan Rei.

Hina :

"Aku tidak akan ada di sini menangis mengganggu tidurmu."

Rei terdiam.

Di dalam, suara tadi terngiang:

"Rahasiakan dulu yang satu ini."

Rika menyipitkan mata, memperhatikan reaksinya.

Rika :

"Rei."

Rei :

"Ya?"

Rika :

"Kau tahu apa yang barusan kau lakukan?"

Rei menatap langit-langit sebentar. Ia tidak berbohong… tapi juga tidak mengatakan semuanya.

Rei :

"…Saat aku melihat kalian hampir mati… aku hanya…"

Ia mencari kata-kata.

Rei :

"Aku hanya berpikir… 'kalau aku tidak maju, aku akan kehilangan semuanya lagi.' Setelah itu… tubuhku bergerak sendiri."

Riku :

"Jadi kau tidak sadar… bagaimana tepatnya kau memotong monster itu?"

Rei menggeleng pelan.

Rei :

"Yang kuingat hanya… aku berdiri. Rasa sakit hilang. Lalu… aku merasa seperti… menarik sesuatu dari udara kosong. Garis. Dan… setelah itu gelap."

Itu bukan sepenuhnya dusta.

Ia memang tidak mengerti TEKNISnya.

Airi menatap matanya, seolah mencari kebohongan. Yang ia dapat…

ketulusan. Dan kebingungan.

Airi :

"Kau tidak… merasakan elemen apapun? Api, angin, ruang, cahaya…?"

Rei menggeleng.

Rei :

"Yang kurasakan hanya satu: aku tidak ingin kehilangan siapapun lagi."

Hening sejenak.

Riku menghela napas keras, lalu tertawa kecil.

Riku :

"Yah… itu jawaban yang paling 'Rei' yang pernah kudengar."

Hina mengangguk.

Hina :

"Memang. Bodoh, keras kepala, dan… hangat."

Rei :

"Aku dipuji atau dihina sekarang?"

Rika mendekat sedikit ke ujung ranjang.

Rika :

"Yang jelas… kau kini bukan lagi 'siswa tanpa kemampuan'. Mau tidak mau."

Rei :

"…Entah kenapa, aku tidak terlalu senang dengan kalimat itu."

Airi menutup buku di pangkuannya.

Airi :

"Para guru ingin bicara denganmu nanti. Wakil Kepala Sekolah dan penyembuh senior kota sudah memeriksa energimu. Mereka tidak bisa mengklasifikasikannya."

Rei mengangkat alis.

Rei :

"Artinya… aku masih 'anomali'?"

Riku :

"Anomali yang menyelamatkan satu sekolah."

Hina :

"Anomali kami."

Rei tertawa kecil, meski wajahnya masih lelah.

UJI COBA YANG GAGAL

Beberapa jam kemudian, setelah mereka memastikan Rei cukup stabil, Wakil Kepala Sekolah dan Sakuraba masuk.

Wakil Kepala Sekolah :

"Hirashi-kun."

Rei mencoba duduk lebih tegak.

Rei :

"Ya, Pak."

Sakuraba mendekat, mengecek sekilas.

Sakuraba :

"Kalau kau memaksakan diri lagi, aku sendiri yang akan mengikatmu di ranjang ini."

Rei :

"Aku juga tidak mau kembali pingsan, Sensei."

Wakil Kepala Sekolah tersenyum tipis.

Wakil Kepala Sekolah :

"Kami tidak akan lama. Hanya beberapa pertanyaan."

Rei mengangguk.

Wakil Kepala Sekolah :

"Apa yang kau lakukan di akhir pertarungan tadi, Hirashi-kun? Para saksi—guru, staf, dan siswa—melaporkan bahwa kau mengeluarkan suatu bentuk serangan unik yang langsung mengakhiri monster anomali."

Rei menatap tangannya.

Rei :

"…Saya sendiri tidak tahu, Pak."

Wakil Kepala Sekolah :

"Tidak tahu?"

Rei menghela napas.

Rei :

"Saya… hanya ingat merasa putus asa. Lalu… sangat marah. Saya tidak ingin kehilangan siapapun lagi. Setelah itu… tubuh saya seperti… bergerak sendiri. Ada sesuatu yang terasa keluar dari dalam, tapi bukan seperti sihir yang pernah saya pelajari."

Ia menatap Wakil Kepala Sekolah dengan jujur.

Rei :

"Kalau Bapak tanya unsur apa, teknik apa, saya tidak punya jawabannya."

Sakuraba menatapnya lama. Guru itu jelas bisa merasakan Rei tidak berpura-pura jenius mendadak.

Sakuraba :

"Kalau begitu, kami ingin memastikan sesuatu."

Beberapa menit kemudian, mereka memindahkan Rei (dengan kursi sihir yang melayang pelan) ke ruang latihan tertutup.

Di sana, beberapa dummy latihan sihir berdiri.

Wakil Kepala Sekolah :

"Kalau kau merasa sanggup, cobalah memanggil kembali kekuatan itu. Tidak perlu sampai menghancurkan target. Kalau hanya muncul setengah saja, kami sudah bisa mempelajarinya."

Rei berdiri pelan, menahan sedikit pusing.

Di belakang, Hina, Riku, Rika, dan Airi juga hadir, sebagai saksi dan… moral support.

Hina :

"Kalau kau pusing, berhenti ya."

Riku :

"Jangan paksakan. Kekuatan yang tidak kau mengerti sama saja dengan pisau bermata dua."

Rei mengangguk.

Rei melangkah ke depan, berjarak beberapa meter dari dummy.

Ia mengangkat tangan.

Rei (dalam hati) :

"…Kalau aku minta lagi… apakah 'dia' akan menjawab?"

Tidak ada suara menjawab.

Hanya kesunyian ruang latihan.

Rei menutup mata, mencoba mengingat perasaan saat monster itu berdiri di depannya.

Ketakutan.

Keputusasaan.

Tekad.

Rei :

"…"

Ia mengayunkan tangan ke depan, seolah menggambar garis di udara.

Tidak terjadi apa-apa.

Dummy itu tetap diam. Ruang latihan tetap utuh.

Rei mengerutkan alis, mencoba lagi—lebih fokus, lebih kuat.

Rei :

"Hrr…"

Ia merasakan sedikit sensasi hangat di dada, lalu—

DEG!

Rasa pusing menghantam kepala. Lututnya terasa berat.

Airi yang memperhatikan aliran energinya langsung maju.

Airi :

"Stop. Jangan paksa."

Rei menurunkan tangannya, menahan dirinya agar tidak jatuh.

Rei :

"…Sepertinya… tidak bisa."

Hina berlari ke sampingnya, memegang lengannya.

Hina :

"Sudah kubilang jangan dipaksa…"

Wakil Kepala Sekolah menatap penyembuh senior yang ikut hadir. Orang itu menggeleng tipis.

Penyembuh Senior :

"Kekuatannya… seperti menutup lagi. Saat insiden, itu seperti… ledakan spontan yang tidak bisa direplikasi dalam kondisi normal."

Sakuraba :

"Seperti… insting terakhir di tepi jurang."

Wakil Kepala Sekolah menghela napas.

Wakil Kepala Sekolah :

"Baik. Untuk saat ini… kita anggap kekuatan itu sebagai 'reaksi darurat' yang tidak stabil. Kami tidak akan memaksa lebih."

Ia menatap Rei.

Wakil Kepala Sekolah :

"Hirashi-kun."

Rei :

"Ya?"

Wakil Kepala Sekolah :

"Kau sudah melakukan lebih dari cukup. Kau menyelamatkan banyak orang hari ini. Kami berterima kasih."

Ia tersenyum tipis.

Wakil Kepala Sekolah :

"Tapi demi keselamatanmu sendiri, dan ketenangan sekolah… kuharap kau tidak membicarakan detail kekuatan tadi secara berlebihan pada orang luar. Kami akan menetapkan laporan resmi yang… lebih netral."

Rei mengangguk.

Rei :

"Mengerti, Pak. Toh saya sendiri tidak bisa menggunakannya sesuka hati."

Dalam hatinya, ia mengingat suara itu:

"Rahasiakan yang satu ini."

Dan entah kenapa, ia merasa lega karena alasan untuk menyembunyikannya… kini bukan hanya datang dari suara misterius, tapi juga dari keputusannya sendiri.

Sakuraba menepuk bahunya pelan.

Sakuraba :

"Kembalilah fokus ke pemulihan dulu. Latih tubuhmu pelan-pelan, bukan kekuatan aneh yang bahkan kau sendiri belum mengerti."

Rei tersenyum miring.

Rei :

"Jadi tetap jadi siswa biasa, begitu?"

Sakuraba mengangkat alis.

Sakuraba :

"Kalau kau bisa."

SETELAH UJI COBA

Dalam perjalanan kembali ke ruang perawatan, Hina, Riku, Rika, dan Airi berjalan di sekitar Rei.

Riku :

"Jadi… tidak keluar sama sekali, ya."

Rei :

"Keluar pusing, kalau itu dihitung."

Hina :

"Jangan bercanda soal itu…"

Rika menatap ke depan.

Rika :

"Kekuatan yang baru muncul saat orang-orang yang kau sayangi hampir mati… lalu tidak mau muncul saat diminta…"

Ia menghela napas.

Rika :

"Jujur, aku lebih suka begitu daripada kebalikannya."

Rei menoleh.

Rei :

"Maksudmu?"

Rika :

"Daripada kau jadi orang yang haus kekuatan dan menggunakannya sembarangan, aku lebih tenang kalau kekuatan itu hanya muncul saat kau benar-benar butuh."

Airi mengangguk pelan.

Airi :

"Kau tidak perlu memaksakan diri untuk jadi 'pahlawan' setiap hari, Rei. Kau sudah cukup… hanya dengan tetap ada di sini."

Hina tersenyum kecil.

Hina :

"Mulai sekarang… kalau ada bahaya dan kau refleks maju, bagi tugas sedikit, ya. Jangan semua kau tanggung sendiri."

Rei menatap mereka bertiga, lalu menatap Riku.

Rei :

"Lalu kau, Riku?"

Riku mengangkat bahu.

Riku :

"Aku? Aku akan pastikan saat kekuatan itu muncul lagi, kau tidak sendirian di garis depan."

Ia tersenyum tipis.

Riku :

"Kita sudah teman, 'kan?"

Rei menatap mereka satu per satu.

Rei :

"…Ya."

Di dalam, dia masih belum mengerti apa yang sebenarnya ada di dalam dirinya.

Belum mengerti siapa suara tadi, apa hubungan gerbang, dan kenapa hanya dia yang bisa.

Tapi untuk sekarang—

Ia tahu satu hal:

Ia tidak sendirian lagi.

Dan kalau suatu hari kekuatan itu muncul lagi, ia akan menghadapinya…

bukan sebagai "Hirashi Rei yang ditinggalkan dunia",

tapi sebagai Rei yang punya:

Hina,

Rika,

Airi,

dan Riku—

di sisinya.

Sementara jauh di hutan terlarang, Rei penjaga menatap gerbang yang tetap stabil, lalu menutup mata sebentar.

Rei (penjaga) :

"Rahasiamu aman untuk sekarang… Rei."

More Chapters