Beberapa hari setelah festival, sekolah seolah masih menyimpan sisa-sisa euforia.
Stand sudah dibongkar, lampion sudah diturunkan…
tapi di koridor dan kantin, topik pembicaraan masih sama:
Siswi :
"Ilusi Airi-san waktu itu… benar-benar seperti mimpi."
Siswa :
"Kafe kelas kita ramai banget. Pelayan rambut putih itu, siapa namanya? Rei?"
Siswi lain :
"Dia kelihatan biasa saja kalau diam, tapi kalau senyum sedikit, bahaya banget…"
Sementara itu, bagi Rei dan keempat temannya, hari-hari setelah festival terasa… hangat.
Di jam istirahat:
Hina :
"Rei-kun~ hari ini mau makan di atap atau taman?"
Rei :
"Mana pun yang lebih sedikit angin. Aku tidak mau rambutku jadi sarang burung."
Riku :
"Aku bilang juga apa, rambut putih mencolok begitu akan jadi target alam."
Rika :
"Kalau di atap, aku bisa lihat lapangan latihan. Kita cek siapa yang bolos."
Airi :
"Di taman saja. Suasananya masih menyenangkan setelah festival."
Mereka berlima berjalan bersama ke taman, membawa bekal masing-masing.
Saat mereka duduk melingkar, suasana tidak lagi canggung seperti dulu.
Riku menggoda Hina soal porsinya.
Hina memaksa Rei makan lebih banyak.
Rika mengomentari gaya bertarung beberapa murid lain.
Airi kadang tenang, tapi kalau Rei bilang sesuatu yang bodoh, ia akan tertawa pelan.
Di lapangan latihan:
Rika :
"Rei, coba lagi. Kuda-kuda terlalu tinggi."
Rei :
"Kalau lebih rendah, aku akan kelihatan seperti jongkok minta maaf."
Riku :
"Gerakan penghindarmu bagus. Tapi tanpa sedikit tenaga di kaki, kau hanya akan lari selamanya."
Hina dari pinggir lapangan.
Hina :
"Kalau kalian bikin Rei-kun lecet lagi, aku lempar kalian berdua ke kolam."
Airi duduk tak jauh, membaca buku, namun sesekali mengamati aliran energi di sekitar Rei.
Airi (dalam hati) :
"Refleksnya… kadang terlalu tepat. Seolah tubuhnya mengikuti pola yang bahkan belum dia sadari."
Semua terasa seperti keseharian yang akhirnya jadi normal.
Dan di kejauhan, di dunia lain, retakan-retakan energi yang dulu hanya berbisik… mulai bergetar lebih keras.
HARI ITU — ANOMALI
Hari itu, langit sedikit mendung.
Pelajaran berjalan seperti biasa. Sampai… sebuah getaran halus mengguncang lantai.
Kelas 2-B terdiam.
Siswa 1 :
"Gempa?"
Sakuraba menghentikan penjelasan di papan tulis.
Sakuraba :
"Semua, tetap tenang—"
DOOOOM!
Suara ledakan berat terdengar dari arah kota. Kaca jendela bergetar, beberapa murid spontan menutup telinga.
Siswa 2 :
"Apa-apaan itu?!"
Suara sirene sihir dari kejauhan mulai terdengar—bunyi khas alarm kota ketika ada bahaya tingkat tinggi.
Waktu seolah melompat.
Beberapa menit kemudian, dari jendela, mereka bisa melihat asap hitam naik dari salah satu distrik dekat sekolah.
Sakuraba menempelkan kertas runic ke dinding. Lapisan cahaya pelindung tipis menyelimuti ruang kelas.
Sakuraba :
"Semua, menjauh dari jendela. Jangan panik."
Namun kabar bergerak lebih cepat daripada perintah.
Siswa dari kelas lain berlari di koridor, beberapa berteriak.
Siswa :
"Monster! Ada monster muncul di dekat distrik timur!"
Siswi :
"Kita kan dekat distrik itu…!"
Airi berdiri, pupil matanya mengecil menatap jauh.
Airi :
"…Aku merasakannya. Energi itu tidak stabil. Bukan monster biasa."
Riku mengepalkan tangan.
Riku :
"Pasukan kota pasti sudah menuju ke sana, 'kan?"
Tak lama, pengeras suara sekolah menyala, suara Wakil Kepala Sekolah terdengar tegas namun cepat:
Wakil Kepala Sekolah :
"Perhatian seluruh siswa. Tetap di dalam kelas dan ikuti arahan guru masing-masing. Perisai sekolah akan diaktifkan. Jangan bertindak sendiri."
Rei berdiri pelan, menatap ke luar jendela dari posisinya, meski masih dalam jarak aman.
Di kejauhan, samar-samar, ia bisa melihat sosok besar bergerak di antara gedung.
Monster anomali.
Tubuhnya seperti campuran beberapa binatang dan bayangan; kulitnya seperti kabut hitam pekat dengan urat-urat energi merah menyala. Mata-matanya—banyak—berputar liar di kepalanya.
Dari segala arah, para petarung kota dan pengguna sihir dari berbagai ras menyerbu.
Elf memanah dengan anak panah berenergi.
Beastkin menerjang dengan cakar dan taring.
Manusia dengan berbagai elemen mencoba mengikatnya.
Tapi—
Setiap serangan hanya meninggalkan goresan yang kembali pulih.
Setiap luka yang tampak… menutup lagi seakan ditelan oleh kabut gelap yang menyelimuti tubuhnya.
Sakuraba menggertakkan gigi.
Sakuraba :
"Anomali tingkat tinggi. Sial…"
DOOOOM!
Monster itu mengamuk, mengibaskan lengannya, membuat beberapa bangunan runtuh sebagian. Pasukan yang tadinya rapih mulai kacau.
Dan perlahan… ia berbalik.
Menghadap ke arah—sekolah.
PERISAI SEKOLAH & KEPANIKAN
Tak lama, lapisan cahaya besar berbentuk kubah muncul mengelilingi kawasan sekolah—perisai pertahanan utama.
Sinar biru kehijauan itu berkilau, menandakan aktifnya teknologi dan sihir pengaman.
Monster anomali itu menghantam perisai dengan tubuhnya.
BAAAAAM!
Kubah cahaya bergetar hebat. Di beberapa sudut, retakan cahaya seperti kaca muncul, lalu pulih lagi… tapi jelas, perisai itu tidak dibuat untuk menahan serangan seperti ini terlalu lama.
Di dalam sekolah, kepanikan mulai pecah.
Beberapa murid menangis, beberapa berpegangan tangan, beberapa ingin lari meski tidak tahu mau ke mana.
Siswa 3 :
"Kalau perisainya jebol, bagaimana?!"
Siswi 2 :
"Kita tidak bisa kabur! Di luar monster, di dalam—"
Sakuraba meninggikan suara.
Sakuraba :
"Diam! Tarik napas dalam-dalam! Prioritas kita adalah evakuasi teratur. Kalian yang tidak bisa bertarung, pergi ke aula. Yang punya kemampuan penyembuhan atau penghalang, ikut guru ke bagian depan untuk membantu evakuasi dan medis."
Riku menatap Rei, Hina, Rika, dan Airi.
Riku :
"Kita?"
Rika menggenggam meja, rahangnya mengeras.
Rika :
"Aku tidak akan diam saja sementara para murid lain jadi korban."
Hina menelan ludah, jelas takut, tapi mengangguk.
Hina :
"Aku bisa bantu penyembuhan kecil. Minimal… aku tidak mau berdiri tanpa melakukan apa-apa."
Airi menatap perisai yang terus bergetar.
Airi :
"Aku bisa bantu perisai tambahan di titik yang paling lemah."
Rei menatap mereka bertiga. Lalu mengepalkan tangan.
Rei :
"Aku…"
Riku :
"Rei, kau—"
Rei :
"Aku tidak akan maju ke garis depan. Aku tahu batasanku. Tapi aku bisa bantu evakuasi. Membawa yang luka, yang tidak kuat berdiri. Menuntun mereka ke tempat aman."
Dia menatap mereka satu per satu.
Rei :
"Kalau kalian bertiga maju untuk mengulur waktu, minimal biarkan aku memastikan kalian tidak sia-sia."
Hina mencoba tersenyum di tengah tegang.
Hina :
"Itu… kedengaran seperti Rei-kun."
Rika :
"Kalau mereka yang kita lindungi berhenti bergerak, semua ini percuma."
Airi mengangguk.
Airi :
"Baik. Kita bertiga ke garis depan. Rei dan Riku—"
Riku :
"Aku ikut kalian."
Rika menoleh cepat.
Rika :
"Riku—"
Riku :
"Aku manusia penguatan fisik. Garis depan tempatku. Tapi kalau keadaan kacau… aku akan tarik mundur kalian sendiri."
Airi memandang mereka sebentar, lalu mengangguk singkat.
Airi :
"Baik. Rei, fokus ke evakuasi dan bantu siapa pun yang jatuh. Jangan coba-coba maju, mengerti?"
Rei tersenyum miring.
Rei :
"Aku setuju. Aku tidak berniat lomba bunuh diri."
Mereka keluar kelas bersama, lalu berpisah di koridor.
Rei berlari ke arah aula dan koridor-koridor untuk membantu guru menuntun murid-murid.
Riku, Rika, Hina, dan Airi menuju arah gerbang utama—dekat titik benturan perisai.
GARIS DEPAN — MEREKA MENGULUR WAKTU
Di dekat gerbang utama, situasi kacau.
Para guru dan beberapa petarung dewasa dari staf sekolah sudah berada di sana, memperkuat perisai lokal, menarik murid-murid yang terlambat.
Perisai utama di luar berkedip-kedip, retakan cahaya makin sering muncul.
Monster anomali berdiri di luar, menghantam dengan tenaga brutal. Setiap serangan mengguncang tanah.
Riku mengencangkan sarung tangan penguatnya.
Riku :
"Kalau perisainya jebol, kita terjun."
Rika menundukkan tubuh, memasang posisi siap menerkam.
Rika :
"Fokus ke titik-titik lemah di sendi, kalau bisa."
Hina berdiri sedikit lebih belakang, bersiap dengan sihir penyembuh jarak pendek dan dukungan.
Hina :
"Aku bakal jadi medis. Tapi kalau bisa, jangan cari mati, ya."
Airi melangkah maju, kedua tangannya terangkat.
Airi :
"Aku mulai memperkuat titik perisai yang retak."
Ia melantunkan mantra, membentuk lapisan perisai kedua yang menempel di bagian yang paling sering kena hantaman.
Namun—
CRAACK!
Satu hantaman kuat menyebabkan bagian perisai luar pecah, menyisakan lubang besar. Monster itu meraung dan menerobos masuk, menapakkan kaki di halaman sekolah.
Murid-murid yang belum sempat masuk aula menjerit.
Siswa :
"Dia masuk!!"
Riku tidak berpikir panjang.
Riku :
"Rika!"
Rika :
"Sudah!"
Mereka berdua langsung menerjang.
Riku :
"HAAA!!"
Pukulan penuh penguatan mengarah ke sisi kepala monster.
Rika, dengan cakar yang diperkuat, mengincar sendi kaki belakang.
Serangan mereka menghantam—
tapi seperti memukul dinding karet tebal bercampur kabut gelap.
Monster itu hanya terdorong sedikit, bukan luka. Kabutnya berputar, menelan energi serangan mereka.
Riku menggertakkan gigi.
Riku :
"Serius…?!"
Monster itu mengibaskan lengannya.
WHOOOSH!
Gelombang energi hitam menyapu ke arah mereka.
Riku dan Rika melompat mundur, tapi—
Hina yang sedang mencoba menyembuhkan murid yang jatuh… terlambat menghindar.
Gelombang itu mengenai Hina tepat di sisi tubuh.
BAAAM!
Hina :
"Kh…!"
Tubuh Hina terpental keras, menghantam tanah beberapa meter jauhnya. Ia terguling, lalu terbaring tak bergerak.
Rika :
"HINA!!"
Riku :
"SIALAN!!"
Mereka berdua mengabaikan rasa takut dan kembali menerjang, kali ini penuh amarah.
Riku :
"KAU BERANI MENYENTUH TEMAN KAMI?!
Ia menghantam dada monster dengan seluruh tenaga.
Rika mengincar lehernya.
Namun lagi-lagi, serangan mereka seperti dipelintir oleh kabut. Sebagian energi terserap, sebagian memantul.
Monster itu mengangkat tangan, lalu menghantam ke bawah.
DOOOOM!!
Gelombang kejut menghantam Riku dan Rika, membuat keduanya terlempar ke belakang, keras, hingga menghantam tanah dan paviliun taman kecil.
Riku :
"Ugh…!"
Rika :
"Kh…!"
Mereka terbaring, sulit bangun seketika.
Monster itu berbalik, matanya yang liar berputar, memusatkan perhatian pada—
Airi.
Airi berdiri di antara monster dan murid-murid yang masih ditarik mundur oleh guru. Jantungnya berdegup cepat, tapi kakinya tidak bergerak mundur.
Monster itu mengumpulkan energi di mulutnya—bola gelap pekat yang berputar seperti lubang hitam kecil.
Riku berusaha bangkit.
Riku :
"A-Airi! Lari!!"
Rika memaksa tubuhnya bergerak.
Rika :
"Jangan berdiri di situ!!"
Airi mengangkat kedua tangannya.
Airi :
"Aku tidak… bisa membiarkan ini menembus sampai ke mereka."
Cahaya hijau lembut bercampur biru muncul di depan Airi, membentuk perisai berlapis-lapis.
Airi :
"[Multi Barrier – Layered Aegis]!!"
Monster itu melepaskan serangan.
DOOOOOOOOM!!
Ledakan energi menghantam perisai.
Lapisan pertama retak.
Lapisan kedua bergetar.
Lapisan ketiga mulai bergemuruh.
Airi menggertakkan gigi, memaksa energi lebih banyak.
Airi :
"…TIDAK…!!"
Darah menetes dari sudut bibirnya.
Riku menjerit.
Riku :
"AI—!!"
Rika :
"PERISAINYA SUDAH CUKUP!! MUNDUR!!"
Airi menolak mundur.
Airi :
"Kalau aku mundur sekarang… serangan ini akan menelan kalian semua…"
Ia memaksa lagi. Bola energi di balik perisai mulai terdistorsi, tapi kekuatannya terlalu besar.
Perisai terakhir retak.
CRAAASH!!
Perisai pecah.
Sisa serangan menghantam tanah di sekitar mereka, mengirimkan gelombang kejut yang melempar Airi, Riku, dan Rika bersamaan.
Mereka bertiga terkapar.
Riku :
"Kh…!"
Rika :
"Tsk…"
Airi batuk, darah keluar dari mulutnya.
Airi :
"…Rei…"
REI MELIHAT MEREKA JATUH
Di sisi lain halaman, Rei baru saja membantu dua murid yang terluka menuju area evakuasi ketika ia mendengar ledakan itu.
Ia menoleh.
Dan saat itulah ia melihat:
Hina tergeletak jauh, tubuhnya penuh luka dan tak sadarkan diri.
Riku dan Rika terlempar, berusaha bangkit tapi kembali jatuh.
Airi berlumuran darah, tubuhnya lemah, namun tetap menatap ke arah monster.
Monster anomali itu melangkah maju, mengangkat lengannya lagi, kali ini mengarah langsung ke mereka bertiga.
Waktu seolah melambat.
Suara panik di sekelilingnya memudar.
Rei menatap pemandangan itu dengan mata membesar.
Rei :
"…Jangan bercanda."
Tanpa berpikir, ia meraih apa pun yang ada di dekatnya—sebatang besi dari pagar yang hancur.
Rei berlari.
Rei :
"JANGAN SENTUH MEREKA!!"
Monster itu menoleh, melihat Rei berlari ke arahnya.
Rei mengayunkan besi itu sekuat tenaga ke samping kepala monster.
PLAANG!
Batang besi itu mengenai, tapi seakan menabrak batu lunak raksasa. Monster itu hanya sedikit memiringkan kepala, lalu menatap Rei dengan puluhan mata yang berputar.
Rei menegakkan gigi, mengangkat lagi besi itu.
Rei :
"Aku bilang—"
Monster itu mengibaskan lengannya.
BAAAM!!
Pukulan itu menghantam tubuh Rei dari samping, melemparkannya sejauh beberapa meter.
Rei :
"Ugh—!!"
Ia menghantam tanah, merasa tulang-tulangnya berteriak. Darah naik ke tenggorokannya, ia memuntahkannya.
Rei :
"Kuh…!"
Tubuhnya bergetar. Pandangannya kabur.
Namun matanya memaksa fokus.
Ia melihat monster itu kembali menghadap ke arah Riku, Rika, dan Airi yang tak berdaya.
Rei mengulurkan tangannya ke depan, seolah bisa mencapai mereka.
Rei :
"JANGAN…!!"
Suaranya pecah.
Air hujan yang pernah menutupi tangisannya di jembatan kini terganti oleh debu dan serpihan perisai.
Rei (dalam hati) :
"Kenapa… lagi-lagi seperti ini…"
Gambar-gambar berputar di kepala:
– Wajah orang tuanya, tersenyum di foto.
– Aelria di gerbang, menoleh dengan mata berkaca.
– Mina yang berciuman dengan Hayato.
– Dirinya di jembatan, sendirian.
Rei :
"Apa gunanya… semua ini…?"
Ia menatap tangannya sendiri yang gemetar.
Rei :
"Rambut putih… mata berbeda… refleks aneh… tapi tidak bisa melakukan apa-apa…"
Air mata bercampur darah di sudut matanya.
Rei :
"Kalau pada akhirnya… aku tetap tidak bisa melindungi siapa pun…"
Monster itu mengumpulkan energi untuk serangan berikutnya.
Riku dan Rika hanya bisa menatap, tubuh mereka tidak mau bangun.
Airi mencoba mengangkat tangannya lagi, tapi jatuh.
Airi :
"…Tidak…"
Rei menggertakkan gigi begitu keras sampai rahangnya sakit.
Rei :
"AKU… BENCI INI…!!"
Suara dari jauh, dari tempat yang sangat lain—mungkin dari hutan terlarang, mungkin dari dalam dirinya sendiri—berbisik.
?? :
"…Akhirnya kau mengatakan itu."
Rei tertegun.
Di dalam dadanya, sesuatu bergetar.
Seperti rantai yang sudah lama mengikat… retak.
Rei :
"Andai saja… aku kuat…"
Ia menatap monster itu, lalu ke teman-temannya.
Rei :
"Kalau aku… punya kekuatan…"
Suara itu semakin jelas.
?? :
"Apa yang akan kau lakukan, Rei?"
Rei menutup mata, air mata menetes.
Rei :
"Aku ingin melindungi mereka. Orang-orang yang… yang mau menerimaku. Aku tidak mau kehilangan lagi…"
Napasnya bergetar.
Rei :
"Aku… TIDAK MAU LAGI… SENDIRIAN!!"
Di dalam dirinya, seolah sesuatu menjawab:
?? :
"Keinginan diterima."
Sesuatu pecah.
CRAACK!!
Sakit di tubuhnya… menghilang.
Napasnya yang sesak… tiba-tiba lega.
Rei merasakan energi mengalir dari dada ke seluruh tubuhnya—bukan seperti sihir biasa, bukan seperti elemen manusia standar.
Ini seperti… aliran dimensi lain yang pernah dirasakan Aelria waktu kecil.
Tubuhnya terasa ringan, namun mantap.
Di permukaan kulitnya, garis-garis tipis cahaya muncul sesaat. Mata kirinya yang biru bersinar lebih terang, mata kanannya menggelap… lalu keduanya kembali normal, tapi ada sesuatu yang berbeda di balik tatapannya.
Ia berdiri.
Tanpa terasa sakit. Tanpa gemetar.
Rei :
"…"
Langkahnya pelan, tapi setiap pijakan membuat tanah sedikit retak.
Dalam sekejap, ia sudah berada di antara monster dan teman-temannya.
Riku menyipitkan mata.
Riku :
"Rei…?"
Rika berbisik pelan.
Rika :
"Apa… yang…"
Airi menatap punggung Rei—punggung yang dulu penuh luka, kini berdiri tegak di hadapan monster.
Airi :
"Rei…"
Monster itu meraung, lalu menghantam dengan tangan raksasanya.
Rei mengangkat tangan kosong.
Rei :
"Pergi."
Ia menggerakkan tangannya ke samping, seolah menggambar garis di udara.
Dari ruang kosong itu, sesuatu muncul:
Bukan pedang fisik, bukan juga murni cahaya.
Seperti retakan tipis yang berbentuk tebasan—garis dimensi yang memotong bukan hanya daging, tapi realitas di depannya.
Rei merunduk sedikit, lalu mengayunkan "tebasan" itu ke depan.
SHUUUUUT!
Tidak ada suara ledakan.
Hanya suara halus, seperti kain tipis yang disayat.
Monster itu berhenti.
Untuk sekejap, seluruh halaman hening.
Lalu—
SLAAASH…
Tubuh monster anomali itu terbelah sempurna menjadi dua, dari bahu kiri ke pinggang kanan.
Tidak ada darah. Bagian yang terbelah berubah menjadi kabut hitam yang perlahan menghilang, seperti tersedot ke dalam retakan tak terlihat.
Fragmen energi merah yang tadi berputar-putar di tubuhnya… padam.
Rei berdiri diam beberapa detik.
Energi yang membungkusnya tadi… perlahan memudar.
Rei :
"…"
Ia menoleh sedikit, memastikan monster itu benar-benar lenyap.
Lalu, seolah seluruh rasa sakit yang tadi ditunda kembali sekaligus—
Rei :
"…"
Kakinya kehilangan tenaga.
Ia ambruk.
THUD!
Rei jatuh ke tanah, tak sadarkan diri.
SETELAH TEBASAN TUNGGAL
Riku terbelalak.
Riku :
"Rei!!"
Ia memaksa tubuhnya bangun, menahan rasa sakit di tulang rusuk, lalu merangkak mendekati Rei.
Rika, meski sakit, juga memaksa bangkit.
Rika :
"Apa yang… baru saja dia lakukan…"
Airi duduk dengan susah payah, menghapus darah di sudut bibirnya, lalu mendekat.
Airi :
"Monster itu… hilang… hanya dengan satu tebasan…"
Hina mulai siuman di kejauhan, tubuhnya perih, tapi ia memaksa memutar kepala.
Hina :
"Rei… kun…?"
Riku mengangkat sedikit kepala Rei, meletakkannya di pangkuannya.
Riku :
"Hei! Rei! Bangun! Ini bukan waktunya tidur…"
Tidak ada respons. Napas Rei stabil, tapi dalam.
Rika menyentuh tangan Rei—merasakan sisa energi yang masih hangat, tapi cepat menghilang.
Rika :
"Kekuatan tadi… bukan sihir biasa. Bukan penguatan. Rasanya… seperti retakan dimensi itu sendiri."
Airi menatap wajah Rei, senyumnya yang tenang meski pingsan.
Airi :
"Dia… menyembuhkan semua lukanya sendiri sebelum berlari ke depan. Itu… bukan sesuatu yang bahkan penyembuh biasa bisa lakukan pada waktu sependek itu."
Hina, dengan langkah limbung, akhirnya sampai di samping mereka, ikut berlutut.
Hina :
"Rei-kun… Rei-kun…"
Air mata jatuh lagi—kali ini bukan karena kisah masa lalu, tetapi karena rasa takut kehilangan yang baru saja hampir nyata.
Guru-guru dan beberapa petarung dewasa yang selamat akhirnya mencapai mereka, melihat tubuh monster yang menghilang dan Rei yang terbaring.
Guru :
"Siapa yang menghabisinya…?"
Riku mengangkat kepala.
Riku :
"Dia."
Semua menatap bocah berambut putih yang tak sadarkan diri, dengan mata berbeda warna yang tertutup rapat.
Hening beberapa detik.
Lalu, kekacauan perlahan berganti menjadi gerakan teratur.
Guru UKS dan tim medis segera menangani korban—Hina, Riku, Rika, Airi, murid-murid lain… dan Rei.
Saat tubuh Rei diangkat ke tandu sihir, Hina memegang tangannya erat.
Hina :
"Jangan pergi, ya…"
Riku menggenggam kain di sisi tandu.
Riku :
"Kau baru saja bilang tidak mau sendirian lagi. Jadi jangan berani tinggalkan kami."
Rika menghela napas dalam-dalam, menahan emosi.
Rika :
"Kalau kau bangun nanti… kau harus menjelaskan apa kekuatan itu."
Airi berjalan di sisi mereka, menatap lurus ke depan.
Airi (pelan) :
"Terima kasih… karena datang sebelum terlambat."
Dan jauh di dimensi lain, di ujung hutan terlarang, seorang pria berambut putih dengan mata warna kanan biru dan kiri hitam berdiri di depan gerbang yang ia jaga.
Ia tersenyum tipis, merasakan rantai di dadanya berkurang bebannya.
Pria :
"Bagus… kau pakai juga akhirnya."
Ia menatap gerbang yang bergetar samar.
Pria :
"Mulai sekarang… dunia kalian dan dunia ini… tidak akan diam lagi, Rei."
