Beberapa hari setelah hukuman Riku selesai, keseharian Rei pelan-pelan berubah.
Bukan lagi makan sendirian.
Bukan lagi pulang tanpa ada yang memanggil namanya.
Sekarang, di sekolah, hampir selalu ada empat orang di sekelilingnya:
Hina, Rika, Airi… dan Riku.
Pagi hari di kelas 2-B.
Sakuraba baru saja menjelaskan materi di kelas, dan bel istirahat terdengar.
Hina langsung mencondongkan badan ke depan meja Rei.
Hina :
"Rei-kun! Hari ini kita makan di taman, ya?"
Rei :
"Kalau aku bilang tidak, kau tetap menarikku keluar, 'kan?"
Hina :
"Jawaban tepat."
Riku bangkit dari tempat duduk nya.
Riku :
"Aku duluan ke kantin, pesan meja. Kalau tidak, kita kebagian tempat dekat tempat sampah."
Rika :
"Pastikan bukan di dekat keributan."
Airi :
"Dan bukan di bawah dahan yang banyak burungnya."
Riku :
"Aku bukan anak SD yang milih tempat sembarangan…"
Mereka tertawa kecil, lalu keluar kelas bersama.
Di lapangan latihan…
Rika sering memaksa Rei ikut latihan fisik ringan.
Rika :
"Rei, kuda-kuda. Jangan terlalu tinggi."
Rei :
"Padahal aku bukan murid spesialis tempur."
Rika :
"Refleksmu butuh 'wadah'. Kalau tidak, semua itu hanya akan terbuang."
Riku ikut mengawasi, kadang memberi masukan.
Riku :
"Putar pinggang, jangan hanya pakai lengan. Kalau kau mau menghindar lebih efisien."
Hina duduk di pinggir lapangan, membawa botol minum.
Hina :
"Kalau kalian bikin Rei pingsan lagi, kalian berdua yang kumarahi."
Airi duduk di samping Hina, membaca buku.
Airi :
"Selama mereka mengawasi batasnya, tidak apa-apa. Dan… Rei sendiri yang bilang ingin menjadi sedikit lebih kuat, bukan?"
Rei menghela napas, menahan posisi kuda-kuda.
Rei :
"Aku hanya tidak ingin kejadianmu hampir tertembak [Fireball] terulang, Airi."
Airi menutup bukunya sebentar, menatapnya lembut.
Airi :
"…Kalimat itu cukup sebagai alasan."
Hari-hari mereka terasa seperti itu:
latihan ringan,
makan bersama,
saling menggoda,
dan pelan-pelan… luka di punggung Rei berganti jadi luka yang tak terlihat tapi mulai sedikit demi sedikit terobati.
PENGUMUMAN FESTIVAL
Suatu hari, saat jam homeroom, Wakil Kepala Sekolah masuk ke kelas 2-B bersama Sakuraba.
Wakil Kepala Sekolah :
"Baik, sebelum kalian pulang, ada pengumuman."
Seluruh kelas langsung menegakkan badan. Hina mencondongkan diri ke meja Rei.
Hina :
"Pengumuman? Jangan bilang ujian tambahan…"
Riku :
"Kalau ujian tambahan, Sakuraba-sensei pasti senyum dulu."
Sakuraba kali ini memang tidak senyum. Justru sedikit menghela napas sabar karena komentar Riku.
Wakil Kepala Sekolah tersenyum tipis.
Wakil Kepala Sekolah :
"Tenang, bukan ujian. Seperti biasa menjelang musim sakura, sekolah akan mengadakan festival tahunan."
Kelas langsung riuh.
Siswa 1 :
"Festival?!"
Siswi 1 :
"Akhirnya!"
Siswa beastkin :
"Aku mau buka stand permainan kekuatan!"
Wakil Kepala Sekolah :
"Tenang, satu per satu."
Ia mengangkat papan pengumuman kecil.
Wakil Kepala Sekolah :
"Festival akan berlangsung selama tiga hari. Kalian boleh membuka stand, pertunjukan, atau kontribusi lain. Untuk kelas 2-B…"
Ia menatap catatan.
Wakil Kepala Sekolah :
"Kelas kalian ditugaskan membuka stand kafe bertema multi-ras, dan mendapat jatah satu slot penampilan di panggung utama."
Sakuraba menambahkan.
Sakuraba :
"Singkatnya: kalian harus membagi tugas antara tim kafe dan tim panggung. Jangan hanya semangat di awal lalu menghilang saat hari H."
Kelas langsung ramai membagi peran.
Hina mengangkat tangan tinggi-tinggi.
Hina :
"Sensei! Aku mau di dapur! Biar aku yang urus dessert dan roti manis!"
Sakuraba :
"Hm, kemampuan memasakmu sudah teruji. Baik."
Riku :
"Aku pegang bagian logistik, Sensei. Angkat barang dan pengiriman bahan."
Rika :
"Aku bantu keamanan di sekitar kafe dan panggung. Jangan sampai ada yang mabuk kekuatan dan bikin rusuh."
Beberapa siswa cekikikan.
Siswi :
"Kalau Rika yang jaga, monster pun ogah ribut."
Airi mengangkat tangan pelan.
Airi :
"Aku… bisa membantu untuk pertunjukan di panggung. Sihir ilusi atau elemen ringan."
Sakuraba :
"Itu ide bagus. Ilusi akan menarik semua ras."
Mata-mata lain beralih ke Rei.
Hina langsung nyengir.
Hina :
"Rei-kun, kau bisa jadi pelayan ganteng di kafe. Seragam rapi, senyum lembut. Dijamin ramai."
Rei :
"…Aku tidak merasa lembut sama sekali."
Riku menyikutnya kecil.
Riku :
"Justru karena gaya diammu itu, kau kelihatan 'cool'. Orang-orang suka."
Rika :
"Kalau ada pengunjung rese, kita lempar ke Riku."
Airi menatap Rei.
Airi :
"Kalau kau di kafe, kita bisa atur jadwal supaya sesekali kau juga muncul di panggung, mungkin sebagai… penghubung acara. Kalau kau setuju."
Rei menghela napas pelan.
Rei :
"Selama bukan cosplay aneh, aku ikut saja. Kafe dan sedikit bantu panggung."
Hina :
"Dicatat! Rei-kun = pelayan spesial."
Riku :
"Kalau gitu, aku bantu desain interior sederhana biar kafenya kelihatan bagus."
Dan begitu…
Mereka masuk ke mode sibuk:
latihan, persiapan, dekorasi, dan—di sela semua itu—tawa.
HARI PERTAMA FESTIVAL
Langit cerah, udara sejuk. Bunga sakura mulai bermekaran, kelopaknya tersebar di halaman sekolah.
Sekolah berubah total.
Lampion dan hiasan dari berbagai budaya ras menggantung di mana-mana.
Ada stand makanan manusia, booth minuman herbal elf, permainan kekuatan beastkin, hingga pertunjukan ilusi kecil lain nya.
Kafe kelas 2-B dihias dengan tema "perpaduan dua dunia":
meja kayu klasik bergaya Jepang,
ornamen kristal kecil,
sedikit sentuhan rune di dinding.
Hina berlari ke dapur, apron menempel di seragamnya.
Hina :
"Pesanan dua parfait buah, satu teh herbal, satu kopi hitam!"
Riku :
"Aku antar bahan dulu ke belakang, jangan habiskan semua stroberi di awal!"
Rika berdiri di sisi pintu kafe, memperhatikan antrian.
Rika :
"Jangan dorong-dorongan. Semua kebagian giliran."
Beberapa siswa beastkin yang tadinya mau menyelak langsung melambat ketika melihat tatapan Rika.
Beastkin siswa :
"I-iya, kami mengerti…"
Airi sedang bersiap di belakang panggung, dicek oleh panitia.
Panitia :
"Airi-san, ilusi malam nanti siap?"
Airi :
"Ya. Nanti saat langit mulai gelap, aku akan mulai dari sisi timur panggung."
Sementara itu…
Rei memakai baju pelayan, rambut putihnya diikat sedikit ke belakang agar tidak mengganggu.
Begitu ia keluar membawa nampan—
Suara kecil terdengar dari meja dekat jendela.
Siswi :
"Itu dia… pelayan berambut putih…"
Siswa :
"Mata kiri birunya kelihatan lebih jelas dari dekat, ya…"
Siswi lain :
"Aku tambah satu pesanan, hanya biar dia datang ke meja kita."
Rei mendengar bisik-bisik itu, tapi berpura-pura fokus ke pekerjaannya.
Rei :
"Pesanan parfait buah dan teh herbal."
Hina yang lewat di belakang cekikikan.
Hina :
"Aku tidak bohong soal 'pelayan spesial' tadi."
Rei :
"Aku merasa dieksploitasi."
Riku lewat sambil membawa kotak bahan.
Riku :
"Anggap saja ini latihan mental. Lebih baik dilirik karena tampan daripada karena mau mati, 'kan?"
Rei :
"…Argumen yang tidak bisa kubantah."
Hari berjalan penuh suara.
Gelak tawa, musik dari panggung, aroma makanan dari berbagai ras, dan cahaya-cahaya kecil sihir yang menyelimuti festival seperti bintang jatuh.
Malam tiba, dan puncak hari pertama adalah pertunjukan di panggung.
Airi berdiri di tengah panggung, melambaikan tangan pelan.
Airi :
"[Illusio – Petals of Two Worlds]."
Dari ujung jarinya, cahaya hijau dan biru melayang, membentuk kelopak-kelopak sakura bersinar yang terbang di udara, bercampur dengan kilatan kecil rune.
Anak-anak kecil dari berbagai ras menatap ke atas dengan mata berbinar.
Anak kecil :
"Waah…!"
Hina berdiri di sisi panggung, ikut terkagum.
Hina :
"Airi-chan… cantik sekali…"
Riku bersiul pelan.
Riku :
"Tidak heran dia dapat slot utama."
Rika berdiri dengan tangan terlipat, namun mata fokus.
Rika :
"Kontrol energinya stabil. Tidak ada gelombang liar."
Rei memandang ilusi itu, kelopak-kelopak bercahaya yang berjatuhan.
Dalam hati, ia teringat hari di jembatan, saat hujan menutupi air matanya.
Rei (dalam hati) :
"Kalau waktu itu sakura yang turun, mungkin aku akan tetap menangis, ya…"
SETELAH FESTIVAL — MALAM DI TAMAN SEKOLAH
Festival hari pertama resmi ditutup. Lampu panggung perlahan padam, namun beberapa lampion dan lampu taman masih menyala lembut.
Di taman sekolah, di bawah pohon sakura besar, lima sosok duduk melingkar di atas bangku dan rerumputan:
Rei, Hina, Rika, Airi, dan Riku.
Masih memakai seragam yang sedikit berantakan karena seharian kerja.
Hina meregangkan tangan.
Hina :
"Aaah… capek, tapi puas. Kafenya ramai, panggungnya sukses."
Riku menyandarkan badan ke kursi.
Riku :
"Lapangan full orang, toilet tetap aman. Ini prestasi besar."
Rika :
"Kau hanya mau bilang 'toilet aman', kan?"
Riku :
"Pengalaman sebulan memberi perspektif baru."
Airi menatap langit malam, kelopak sakura sedikit berguguran di sekitarnya, bercampur ilusi samar yang masih tersisa.
Airi :
"…Sudah lama tidak merasakan malam sehangat ini."
Rei duduk sedikit condong ke depan, siku di lutut, menatap tanah.
Malam tenang, angin sejuk.
Suara festival sudah memudar, menyisakan hanya beberapa obrolan jauh dan suara serangga.
Beberapa menit, mereka hanya diam, menikmati suasana.
Lalu Riku membuka suara.
Riku :
"Rei."
Rei :
"Hm?"
Riku menatapnya, wajahnya serius tapi lembut.
Riku :
"Waktu di UKS dulu… saat aku minta maaf, kau sempat bilang:"
Riku mengulang dengan suara pelan.
Riku :
"'Ini bukan yang terburuk yang pernah terjadi dalam hidupku.'"
Hina dan Airi menoleh pelan ke Rei. Rika mengangkat kepala.
Riku :
"Kalimat itu… tidak pernah keluar dari kepalaku. Karena… kalau melihat fisikmu sekarang, tidak ada luka lain yang terlihat. Tidak ada bekas besar selain yang di punggung, yang sekarang sudah hilang."
Ia menghela napas.
Riku :
"Aku jadi bertanya-tanya… seberapa parah sebenarnya yang pernah kau alami… sampai membuat luka bakar itu terasa 'tidak seberapa'."
Hina menggenggam rok seragamnya.
Hina :
"Aku juga… penasaran. Tapi aku tidak berani tanya dulu, karena takut mengganggu."
Rika menatap Rei lurus.
Rika :
"Dan alasanmu pindah ke sekolah ini. Kami hanya diberi tahu bahwa kau murid pindahan atas rekomendasi."
Airi menatap Rei dengan mata hijau yang pelan-pelan menghangat.
Airi :
"Kalau kau tidak ingin membahasnya, kami tidak akan memaksa. Tapi… kalau kau merasa sudah siap, aku… ingin tahu. Bukan hanya sebagai rasa penasaran. Tapi karena… aku temanmu."
Suasana hening.
Angin bertiup pelan, menggerakkan helai rambut putih Rei.
Rei menghela napas panjang, menatap langit yang dihiasi lampion samar dan bintang.
Rei :
"…Cerita yang ingin kalian dengar ini… bukan cerita yang menyenangkan."
Ia menunduk sedikit.
Rei :
"Aku juga tidak butuh kalian mengasihani. Tapi… kalau aku tidak pernah menceritakannya… kalian hanya akan menebak-nebak."
Hina :
"Rei-kun…"
Rei tersenyum tipis.
Rei :
"Jadi… kalau di tengah jalan kalian merasa terlalu berat, aku akan berhenti."
Rika :
"Tidak usah berhenti. Kalau ada yang pantas marah, biarkan kami yang ambil jatahnya."
Riku menggenggam tangannya sendiri di pangkuan.
Riku :
"Aku mau dengar sampai habis."
Airi mengangguk kecil.
Airi :
"Aku di sini."
Rei menarik napas lagi, lalu mulai.
CERITA REI — MASA LALU
Rei :
"Pertama… soal keluargaku."
Ia menatap kosong ke depan.
Rei :
"Ayah dan Ibuku meninggal saat aku masih kecil. Kecelakaan. Mobil yang kami tumpangi tergelincir… dan hanya aku yang selamat."
Hina menutup mulutnya pelan.
Hina :
"…"
Rei :
"Sejak saat itu, aku tinggal sendiri di rumah peninggalan mereka. Pihak keluarga jauh membantu sebentar, tapi pada akhirnya aku belajar mengurus diriku sendiri."
Riku menggertakkan gigi pelan, tapi tidak memotong.
Rei :
"Waktu SMP, di sekolah lamaku, aku bertemu… seseorang."
Sekilas, wajah Aelria kecil melintas di benaknya.
Rei :
"Seorang gadis dari ras lain. Seorang elf yang datang sebagai murid pertukaran. Namanya… Aelria."
Airi mengerjap.
Airi :
"Elf…"
Rei :
"Iya. Rambut perak, mata hijau, sedikit kaku waktu pertama kali datang. Banyak orang menjauhinya. Entah karena berbeda ras, atau karena mereka tidak tahu bagaimana harus bersikap."
Ia tersenyum tipis.
Rei :
"Aku… mendekat duluan. Mengajaknya bicara. Duduk di sebelahnya saat istirahat. Menawarkan bekal. Dan… entah bagaimana, kami jadi dekat."
Hina menarik napas lega kecil—setidaknya ada bagian hangat di cerita itu.
Rei :
"Dia sahabat pertamaku sejak aku kehilangan orang tua. Kami masuk SMA yang sama. Aku… sangat bersyukur waktu itu."
Rika :
"Lalu…?"
Rei :
"Lalu… muncul seseorang lagi."
Ia mengingat wajah Mina, tertawa di bawah cahaya senja.
Rei :
"Seorang gadis manusia. Mina. Kami bertemu di tahun pertama SMA. Aelria yang mengenalkannya kepadaku."
Airi diam saja, tapi jarinya menggenggam ujung rok.
Rei :
"Aku jatuh cinta. Terdengar klasik, ya? Anak laki-laki biasa yang jatuh cinta pada gadis manis di sekolahnya."
Riku :
"…"
Rei :
"Waktu aku menyatakan perasaan, sebenarnya aku sudah curiga. Aku pernah melihat cincin di jarinya. Tapi aku menutup mata. Aku bilang pada diriku sendiri… mungkin itu hanya cincin biasa, bukan cincin janji."
Ia tertawa kecil, pahit.
Rei :
"Betapa bodoh aku."
Hina menggeleng pelan, air mata mulai berkaca.
Hina :
"Itu bukan bodoh… itu hanya… kau ingin percaya."
Rei :
"Mungkin."
Ia melanjutkan.
Rei :
"Saat kami masuk usia 17 tahun, semua orang menjalani tes kebangkitan. Anak-anak lain muncul api, air, angin, tanah, bahkan penguatan tubuh. Beberapa menunjukkan kemampuan sihir mereka."
Ia menarik napas.
Rei :
"Aku… hanya kehilangan warna hitam di rambutku yang dulu, berubah jadi putih. Dan mata kiriku jadi biru."
Riku menunduk.
Riku :
"…Dan tes bakatmu waktu itu…"
Rei :
"Kosong. Tidak ada elemen. Tidak ada statistik yang terbaca. Di sistem, aku hanya… 'anomali'. Manusia tanpa kemampuan."
Rika mengepalkan tangan kuat-kuat.
Rika :
"Sialan…"
Rei :
"Awalnya aku mencoba. Berbulan-bulan melatih diri, berharap ada sesuatu yang terlambat keluar. Tapi… tidak ada apa-apa."
Ia memandang telapak tangannya sendiri.
Rei :
"Teman sekelas mulai menjaga jarak. Beberapa menganggapku… beban. 'Anak yang bahkan tidak bisa membela diri.'"
Riku memejamkan mata, karena merasa pernah punya pikiran yang mirip dulu.
Rei :
"Ada juga orang yang… jauh lebih buruk."
Ia berhenti sebentar.
Rei :
"Seorang senior. Ras beastkin. Kurogane Hayato."
Nama itu jatuh berat di udara.
Rei :
"Dia populer. Kuat. Ketua OSIS. Dari luar, dia terlihat sempurna. Tapi di balik itu… dia adalah orang yang paling sering menertawakanku."
Hina menggigit bibirnya.
Hina :
"Hayato…"
Rei :
"Dia bilang, manusia tanpa kemampuan seperti aku… 'tidak pantas ada di sekolah ini'. Kadang, aku tersandung 'tidak sengaja' saat lewat di depannya. Kadang, dia melempar benda ke arahku dan menyebutnya 'tes refleks'. Teman-temannya tertawa."
Rika menunduk, matanya berkilat tajam.
Rika :
"Beastkin seperti itu… memalukan. Lebih rendah dari hewan liar."
Riku mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih.
Riku :
"…"
Rei :
"Tapi aku masih… bertahan. Kurasa aku keras kepala."
Ia tersenyum miring.
Rei :
"Aku bilang pada diriku sendiri: 'Tidak apa-apa. Masih ada Aelria. Masih ada Mina.'"
Airi menunggu, hatinya berdegup pelan.
Rei :
"Lalu, satu demi satu, mereka pun… pergi."
Ia menatap ke atas, seolah melihat kembali gerbang dimensi.
Rei :
"Aelria harus kembali ke dunianya. Urusan keluarganya di dunia kita selesai. Ia pamit dengan mata yang sedikit merah, tapi… ia tersenyum. Dan aku tersenyum juga, meski… rasanya seperti ada yang hilang dari dadaku."
Airi menutup mata sebentar, seakan bisa merasakan beratnya perpisahan itu.
Rei :
"Yang tersisa… hanya Mina. Orang yang kupikir akan tetap ada."
Ia menarik napas pelan, nada suaranya menurun.
Rei :
"Sampai hari itu."
Malam di taman terasa lebih dingin.
Rei :
"Suatu hari, aku ingin memberi Mina minuman favoritnya. Aku datang ke kelasnya, tapi dia tidak ada. Teman-temannya bilang… dia sedang bertemu seseorang di halaman belakang sekolah."
Hina menahan napas.
Hina :
"…"
Rei :
"Aku pergi ke sana. Hujan Sakura turun waktu itu."
Kelopak sakura jatuh perlahan di sekitar mereka, seolah menyamakan tetes hujan dalam kenangan dulu.
Rei :
"Dan aku melihatnya."
Ia menutup mata.
Rei :
"Mina… berciuman dengan Kurogane Hayato. Di tempat yang sangat dekat dengan pintu gerbang belakang."
Riku mendengus pelan, menahan marah.
Riku :
"Bangsat…"
Rei :
"Minuman yang kubawa terjatuh. Mereka menoleh. Mina… menatapku. Dia minta maaf. Katanya… dia butuh seseorang yang bisa melindunginya. Sebagai pengguna sihir yang kuat, dia merasa… tidak pantas bersama manusia yang bahkan tidak bisa melindungi dirinya sendiri."
Suara Rei sedikit bergetar—bukan karena punggung, tapi karena luka lama yang disentuh lagi.
Rei :
"Dia bilang aku tampan, baik… tapi 'tidak cukup'. Karena aku tidak punya kekuatan."
Hina menutupi wajahnya dengan tangan, air mata jatuh.
Hina :
"…Kenapa…"
Rei tersenyum pahit.
Rei :
"Aku tertawa saat itu. Lumayan keras. Sampai beberapa kelas mungkin dengar. Aku menutup mata kiriku dengan tangan… menatap langit… dan berkata:"
Ia mengulang pelan.
Rei :
"'Ternyata Dunia Tidak menginginkan ku. Dan terima kasih… untuk cinta palsu yang kau berikan selama ini.'"
Malam di taman terasa sesaat ikut menahan napas.
Rei :
"Setelah itu, aku pergi. Aku bahkan tidak ingat bagaimana langkahku bisa sampai ke jembatan kota."
Ia menatap kedua tangannya.
Rei :
"Aku berdiri di pinggir jembatan itu. Hujan turun begitu deras sampai air mataku tidak kelihatan. Dalam pikiranku… semuanya sudah tidak ada."
Airi menggigit bibir, menahan emosi.
Rei :
"Orang tuaku sudah tiada. Sahabatku kembali ke dunianya. Gadis yang kucintai menganggapku tidak berguna. Dunia bilang aku 'manusia kosong'."
Ia menghela napas.
Rei :
"Aku berpikir… mungkin lebih mudah kalau aku menghilang. Tidak ada yang kehilangan. Hanya angka di data sekolah yang berkurang."
Hina mulai terisak pelan.
Hina :
"Rei-kun…"
Rei :
"Tapi…"
Ia menutup mata sesaat.
Rei :
"Aku teringat suara Aelria. Dia pernah bilang:"
Rei menirukan dengan pelan.
Rei :
"'Rei… kalau suatu hari dunia berubah dan menyakitimu… jangan hancur, ya.'"
Ia tersenyum kecil.
Rei :
"Dan entah kenapa, waktu itu… langkahku mundur sendiri. Aku malah berterima kasih pada hujan. Karena menutupi wajahku."
Riku menyeka sudut matanya diam-diam.
Riku :
"Dan setelah itu… kau mengajukan pindah sekolah."
Rei mengangguk.
Rei :
"Ya. Aku kirim email ke sekolah. Meminta pindah. Memohon agar alasanku dirahasiakan. Mereka setuju, dengan syarat… aku masuk ke sekolah ini, di kota ini."
Rika :
"Dan rumahmu…"
Rei :
"Aku jual. Itu satu-satunya peninggalan orang tuaku, tapi… aku butuh biaya untuk mulai hidup baru."
Ia menarik napas pelan.
Rei :
"Jadi, saat aku menerima bola api di punggungku untuk melindungi Airi… jujur saja… rasanya sakit. Sangat sakit."
Airi menunduk, menahan air mata.
Airi :
"…"
Rei tersenyum tipis, menatap telapak tangannya lagi.
Rei :
"Tapi dibanding berdiri di pinggir jembatan sendirian, merasa dunia benar-benar tidak menginginkanmu… luka di punggung itu terasa…"
Ia mencari kata.
Rei :
"…lebih jujur. Lebih mudah dimengerti."
Hening.
Angin malam menggoyang dahan sakura di atas mereka.
REAKSI MEREKA
Hina sudah menangis terbuka sekarang, air matanya mengalir tanpa ditahan.
Hina :
"Kenapa kau… tidak cerita dari awal, Rei-kun…"
Rei mengangkat bahu pelan.
Rei :
"Karena aku tidak ingin hari pertama kita berteman dipenuhi drama."
Riku menunduk, kedua tangannya mengepal kuat.
Riku :
"…Ada beastkin yang melakukan itu… dan ada manusia yang sanggup berkata begitu ke orang yang hanya tidak punya kekuatan…"
Ia mengangkat kepala, matanya penuh kemarahan yang terarah.
Riku :
"Kalau suatu hari aku bertemu Kurogane Hayato… aku akan pastikan dia tidak bisa berdiri dengan sombong lagi."
Rika berdiri pelan, napasnya dalam.
Rika :
"Sebagai beastkin… aku malu. Orang seperti itu lebih kejam daripada penjahat dunia bawah."
Ia menatap Rei.
Rika :
"Aku tidak bisa menghapus apa yang sudah terjadi padamu. Tapi aku berjanji… kalau ada beastkin lain yang mencoba melakukan hal serupa di dekatmu—atau dekat siapa pun di sekitarku—aku sendiri yang akan mematahkan kebanggaan palsu mereka."
Airi duduk paling tenang, tapi air mata jatuh diam-diam di pipinya.
Airi :
"Rei…"
Ia meraih tangan Rei, menggenggamnya pelan namun mantap.
Airi :
"Aku… benci mereka. Orang-orang yang membuatmu berdiri di pinggir jembatan itu. Tapi di saat yang sama… aku bersyukur kau tidak melompat. Karena kalau kau melompat waktu itu…"
Ia menggenggam lebih erat.
Airi :
"…aku tidak akan pernah bertemu denganmu."
Hina mengusap air matanya kasar, lalu tiba-tiba memeluk Rei dari samping dengan hati-hati.
Hina :
"Rei-kun… mulai sekarang… kalau ada yang menyakitimu lagi, bagi sedikit sakitnya ke kami. Jangan simpan sendiri!"
Rei :
"Hina, aku tidak bisa bernapas…"
Hina :
"Sebentar saja."
Riku menghembuskan napas panjang, menatap Rei.
Riku :
"Kau bilang dulu, di UKS… ini bukan yang terburuk yang pernah kau alami. Sekarang aku tahu maksudmu."
Ia tersenyum tipis, meski matanya masih merah.
Riku :
"Mulai hari ini, anggap saja aku… salah satu orang yang bertugas memastikan 'versi terburuk' itu tidak berulang. Ini cara kecilku menebus apa yang pernah kulakukan."
Rika mengangguk.
Rika :
"Aku juga."
Airi :
"Aku pun."
Hina :
"Aku paling depan."
Rei menatap mereka satu per satu.
Empat orang yang sekarang duduk di sekelilingnya, di bawah langit malam dan kelopak sakura.
Rei :
"…Kalian ini… berlebihan."
Namun senyum yang muncul di wajahnya kali ini bukan senyum pahit.
Rei :
"Terima kasih."
Ia menatap ke langit, lalu memejamkan mata sebentar.
Rei (dalam hati) :
"Aelria… kalau kau bisa lihat sekarang… aku tidak sendirian lagi."
Dan di suatu tempat jauh, di dunia lain, seorang elf bernama Aelria menatap langit yang berbeda, namun dengan hati yang tiba-tiba terasa hangat tanpa alasan yang jelas.
Untuk malam itu, di taman sekolah, di bawah sakura dan lampion…
Luka lama Rei tidak hilang.
Tapi untuk pertama kalinya sejak lama—
ia tidak terasa sendirian menanggungnya."
