Satu bulan berlalu sejak insiden bola api dan hukuman lapangan + toilet.
Luka di punggung Rei sudah hilang seluruhnya—berkat sihir penyembuh dan salep dari UKS. Kulitnya hanya terasa sedikit lebih sensitif, tapi tidak ada lagi rasa sakit. Masa "pasien tetap UKS" sudah berakhir, dan hari-harinya kembali terasa… hampir normal.
Hampir.
Karena sejak saat itu, ada satu orang yang selalu terasa "berputar" di sekelilingnya, tapi tidak pernah benar-benar mendekat.
Riku.
Jam pelajaran pagi baru saja berakhir.
Bel istirahat berbunyi, murid-murid keluar kelas, beberapa ke kantin, beberapa ke toilet, sebagian hanya mengobrol di lorong.
Di kelas 2-B, Rei duduk di kursinya, merapikan buku dan catatan.
Punggungnya tegak, gerakannya tidak lagi berhati-hati seperti dulu. Ia sudah benar-benar pulih.
Rei (dalam hati) :
"Hari ini… lumayan tenang."
Ia menutup buku, menghela napas kecil.
Di dalam kelas, tak jauh dari tempat rei duduk…
Riku berdiri, menatap sekeliling kelas melihat Hina, Rika, dan Airi sudah tidak ada di kelas.
Riku (dalam hati) :
"Tidak ada mereka… bagus. Kalau bisa, aku ingin bicara langsung tanpa membuat suasana canggung."
Ia mengecek lorong kiri-kanan, memastikan benar-benar tidak ada tiga gadis itu, lalu menarik napas panjang.
Riku :
"Oke. Lakukan saja."
Ia melangkah kembali masuk kelas.
RIKU MENGHAMPIRI
Rei yang sedang menata tasnya mendengar suara langkah mendekat. Ia menoleh.
Riku berhenti di samping mejanya.
Riku :
"Rei."
Rei mengedip.
Rei :
"Riku."
Suasana sempat hening beberapa detik. Murid-murid lain yang masih di kelas pura-pura sibuk, tapi telinganya jelas mengarah ke dua orang ini.
Riku menatap Rei dengan wajah serius.
Riku :
"Hukumanku… sudah selesai."
Rei :
"Selamat. Lapangan dan toilet pasti sekarang jadi tempat paling bersih di sekolah."
Riku menghela napas, lalu tersenyum tipis.
Riku :
"Jangan sebut toilet, tolong."
Rei hanya tersenyum.
Sejenak situasi terasa ringan, tapi kemudian Riku kembali serius.
Riku :
"Selama sebulan ini… aku banyak mikir. Tentang apa yang sudah terjadi. Tentang bagaimana seharusnya aku bersikap waktu itu."
Ia menunduk sedikit.
Riku :
"Dan… meskipun kau sudah memaafkan waktu itu, rasanya belum pantas kalau aku bertingkah seolah semuanya sudah normal tanpa aku datang sendiri… sebagai diriku."
Rei mengangkat alis pelan.
Rei :
"Apa maksudmu?"
Riku merapikan sedikit seragamnya, lalu berdiri lebih tegak.
Riku :
"Rei."
Rei :
"Ya?"
Riku :
"Secara formal, aku ingin meminta maaf sekali lagi. Bukan hanya sebagai pelaku insiden. Tapi sebagai Riku yang waktu itu… bodoh, iri, dan pengecut."
Rei menatapnya dengan tenang, tidak memotong.
Riku :
"Terima kasih karena tidak membuat kami dikeluarkan. Terima kasih karena tidak mencabut hak kami menggunakan kekuatan. Terima kasih… karena memilih jalan yang tidak menghancurkan masa depan kami."
Ia mengambil napas dalam, lalu sedikit menunduk.
Riku :
"Dan… kalau kau tidak keberatan… aku ingin… kita bisa berteman."
Kelas yang tadi pura-pura sibuk… langsung hening.
Rei menatap Riku beberapa detik.
Permintaan itu keluar dengan suara yang bukan dramatis, bukan dibuat-buat—tapi tulus dan canggung sekaligus.
Rei menghela napas pelan.
Rei :
"Sebenarnya… tidak ada larangan untuk itu dari awal."
Riku mengerjap.
Riku :
"Hah?"
Rei menyandarkan punggung ke kursi—kali ini tanpa rasa sakit.
Rei :
"Riku, waktu kau datang ke UKS dan mengaku semuanya, lalu menerima hukuman tanpa kabur, bagiku… itu awal yang cukup. Kau membuat kesalahan besar, tapi kau juga datang langsung, menunduk, dan menerima konsekuensinya."
Ia menatap Riku lurus-lurus.
Rei :
"Aku bukan orang suci. Kalau kau mengulanginya pada orang lain, mungkin aku akan benci padamu."
Ia tersenyum kecil.
Rei :
"Tapi kau tidak kabur. Kau bahkan memutus hubungan dengan dua temanmu dan mengerjakan hukuman tanpa mengeluh, kan?"
Riku menggaruk tengkuknya.
Riku :
"…Itu sudah seharusnya."
Rei :
"Jadi, kalau kau tanya apakah kita bisa berteman…"
Ia mengulurkan tangannya ke depan.
Rei :
"Ya. Tidak masalah."
Riku menatap tangan itu, kaget sesaat.
Riku :
"…Serius?"
Rei :
"Aku tidak suka mengulang jawaban dua kali."
Riku sempat terdiam, lalu tertawa pelan—tawa lega yang sudah ia tahan sebulan.
Riku :
"Dasar kau ini…"
Ia meraih tangan Rei dan menjabatnya dengan mantap.
Riku :
"Kalau begitu, sekali lagi. Namaku Riku. Ras manusia, kemampuan penguatan fisik menengah, lumayan bagus di praktik, jelek di teori."
Rei ikut tertawa kecil.
Rei :
"Rei. Hirashi Rei. Ras manusia… kemampuan: tidak jelas, rambut putih, mata beda warna, dan spesialisasi: menjadi magnet masalah."
Riku :
"Itu bukan kemampuan yang layak dibanggakan."
Rei :
"Aku juga tidak bangga."
Keduanya tertawa kecil. Suasana yang dulu berat kini terasa jauh lebih ringan.
TIGA GADIS YANG MENGINTIP
Yang mereka berdua tidak tahu adalah… di luar kelas, tepat di sisi pintu yang terbuka—
Ada tiga pasang mata yang mengintip.
Hina :
"Airi-chan… kenapa kau bersembunyi?"
Rika :
"Kau terlihat mencurigakan."
Airi, yang menempel di dinding dengan wajah serius, hanya mengangkat satu jari ke depan bibirnya.
Airi :
"Ssst. Lihat ke dalam."
Hina dan Rika mendekat, ikut mengintip dari samping pintu.
Mereka melihat Riku dan Rei yang baru saja melepaskan jabatan tangan.
Hina mengerjap.
Hina :
"Mereka… berjabat tangan?"
Rika menyipitkan mata.
Rika :
"Jadi selama satu bulan ini, alasan Riku selalu menghilang kalau kita datang… karena dia… keberatan dengan kita? Atau…"
Airi menggeleng pelan.
Airi :
"Bukan keberatan. Lebih seperti… dia tidak berani mendekat kalau kita ada di sekitar."
Hina :
"Kenapa?"
Airi :
"Karena… dia tahu kita masih marah. Dan mungkin dia pikir… kalau dia mendekat ke Rei saat kita ada, kita akan menganggapnya mengganggu."
Rika menarik napas.
Rika :
"Dia memang menyebalkan… tapi tidak sepenuhnya bodoh."
Hina tersenyum sedikit.
Hina :
"Aku kira Riku cuma takut pada Rika, ternyata dia juga menghormati perasaan Rei."
Rika :
"Apa maksudmu 'cuma takut pada Rika'…"
Airi mengamati gerak tubuh keduanya.
Airi :
"Sepertinya… penyesalannya tulus. Dan Rei menerimanya."
Hina :
"Kalau begitu…"
Ia berdiri tegak.
Hina :
"Sudah saatnya kita berhenti jadi penjaga gerbang yang menakutkan, ya?"
Rika mendengus pelan, tapi tidak menyangkal.
Rika :
"Hmph. Selama dia tidak berbuat bodoh lagi."
Airi tersenyum samar.
Airi :
"Mari masuk."
PENGHANCUR KEHENINGAN
Di dalam kelas, Rei baru saja melepaskan jabatan tangan Riku.
Riku :
"Mulai sekarang, kalau ada yang coba mengusikmu dengan alasan kau tidak punya kekuatan… aku—"
Suara familiar memotong.
Hina :
"Rei-kun~!"
Dari arah pintu Hina masuk dengan semangat, diikuti Rika dan Airi di belakangnya.
Riku hampir refleks melompat mundur.
Riku :
"Ukh—"
Rei menoleh.
Rei :
"Hina, Rika, Airi. Kalian dari mana?"
Hina mengayunkan kotak makan kecil di tangannya.
Hina :
"Dari kantin! Aku beli roti manis favoritmu."
Rika :
"Dan aku pastikan kau tidak melupakan jadwal makan siang hari ini."
Airi :
"Aku hanya ikut mengawasi."
Tatapan ketiganya lalu beralih ke Riku.
Beberapa detik hening.
Riku mengangkat kedua tangan sedikit, panik.
Riku :
"Aku… hanya ngobrol. Tidak ada apa-apa. Aku sudah menyelesaikan hukuman. Aku tidak—"
Hina tiba-tiba tersenyum.
Hina :
"Bagus."
Riku terdiam.
Riku :
"…Hah?"
Rika menyilangkan tangan.
Rika :
"Hirashi sudah memaafkanmu. Hukuman sebulan sudah kau jalani. Kalau setelah semua itu aku masih menolakmu mendekat, berarti aku lebih kekanak-kanakan darimu."
Ia menatap Riku lurus.
Rika :
"Sekarang, selama kau tidak mengulang kebodohanmu, aku juga ikut memaafkan."
Riku tampak benar-benar kaget.
Riku :
"Rika…?"
Airi menambahkan dengan suara lembut.
Airi :
"Selama Rei di rawat di UKS, kau selalu datang ke UKS hanya untuk menitipkan buah, lalu pergi tanpa ingin dilihat. Itu… cukup menunjukkan penyesalanmu."
Ia menatap Riku dengan mata hijau yang tenang.
Airi :
"Jadi, tidak perlu lari setiap kali kami muncul."
Riku mengusap wajahnya pelan.
Riku :
"…Jujur, aku lebih takut pada kalian bertiga daripada Wakil Kepala Sekolah."
Hina tertawa.
Hina :
"Itu wajar."
Rika :
"Itu wajar."
Airi :
"…Itu wajar."
Rei :
"Terima kasih atas pengakuan jujurnya."
Mereka semua tertawa kecil. Suasana yang dulu penuh ketegangan sekarang terasa jauh lebih… hangat.
AJAKAN MAKAN SIANG
Hina menepuk meja Rei.
Hina :
"Ayo, Rei-kun! Kita ke kantin. Aku mau kau coba roti yang kubeli."
Rika :
"Dan jangan cuma makan roti. Makan yang lain juga."
Airi :
"Kalau terlalu ramai di kantin, kita bisa cari tempat duduk di taman."
Rei mengangguk.
Rei :
"Baik. Ayo."
Riku refleks mundur selangkah.
Riku :
"Kalau begitu, aku tidak akan mengganggu. Kalian duluan saja."
Ia berbalik, bersiap pergi.
Rei menatap punggungnya.
Rei :
"Riku."
Riku berhenti.
Riku :
"…Ya?"
Rei :
"Ayo ikut."
Riku menoleh pelan.
Riku :
"Hah?"
Rei :
"Kau juga belum makan, 'kan? Dari tadi wajahmu seperti orang yang baru selesai shift malam."
Riku :
"Aku… tidak mau mengganggu. Lagipula—"
Rei :
"Kalau aku bilang 'ikut', artinya tidak mengganggu."
Ia berdiri dari kursinya, memasukkan buku ke tas.
Rei :
"Selama sebulan ini, kau selalu menghindar setiap kali mereka datang. Kau kira aku tidak sadar?"
Riku terdiam.
Rei :
"Kalau hari ini kau lari lagi, nanti kau akan terus menemukan alasan baru untuk menjauh. Dan itu… melelahkan."
Rika menyandarkan tangan di pinggul.
Rika :
"Kau sudah kami maafkan. Jadi tidak ada alasan lagi untuk lari."
Hina mengangguk cepat.
Hina :
"Ayo, Riku-kun. Kalau kau teman Rei-kun, berarti… yah, secara tidak langsung, kau juga teman kami."
Airi menatapnya singkat.
Airi :
"Aku tidak keberatan. Selama kau menjaga sikap."
Riku menatap satu per satu.
Rei, Hina, Rika, Airi.
Di dalam dadanya yang sempat dipenuhi rasa bersalah selama berminggu-minggu, sesuatu akhirnya terasa sedikit lebih ringan.
Riku menghela napas, lalu tersenyum kecil.
Riku :
"…Baik. Kalau kalian tidak keberatan."
Rei :
"Kalau aku keberatan, aku tidak akan memanggilmu, kan?"
Riku :
"Benar juga."
Mereka berjalan bersama keluar kelas—lima orang, berjalan berdampingan di koridor:
Rei, dengan rambut putih dan mata heterokrom.
Hina, dengan senyum cerah dan roti di tangan.
Rika, dengan aura pelindung yang kuat.
Airi, dengan ketenangan yang dalam.
Riku, dengan langkah baru sebagai "teman", bukan lagi "pelaku insiden".
Beberapa murid yang melihat mereka lewat berbisik pelan.
Siswa 1 :
"Itu… Rei dan tiga gadis itu… sama Riku?"
Siswi 1 :
"Apa sekarang mereka… satu kelompok?"
Siswa 2 :
"Kurasa iya. Dunia ini semakin menarik."
Rei hanya tersenyum kecil, mendengar bisik-bisik itu.
Rei (dalam hati) :
"…Entah bagaimana, lingkaran di sekitarku bertambah lagi."
Dan untuk pertama kalinya sejak berdiri di pinggir jembatan beberapa waktu lalu…
Ia merasa, mungkin, hanya mungkin—
hidup "biasa" yang ia mau tidak harus berarti hidup sendirian."
