Cherreads

Chapter 13 - SALEP YANG MENYUSAHKAN

Pagi itu, alarm di apartemen kecil Rei berbunyi pelan.

Dia bangun perlahan, tubuhnya terasa jauh lebih ringan dibanding beberapa hari lalu. Punggungnya masih sedikit perih kalau bergerak terlalu cepat, tapi tidak lagi menyiksa seperti pertama kali tersengat bola api.

Rei duduk di tepi kasur, menatap benda kecil di tangannya.

Sebuah tube salep putih.

Rei :

"Salep penghapus bekas luka…"

Ia membaca instruksi di belakang.

Rei :

"Dioleskan tipis-tipis pada area luka, sekali sehari. Hindari tekanan berlebih."

Ia mendengus pelan.

Rei :

"Masalahnya… area lukanya di punggung. Bagian yang paling susah dijangkau."

Rei berdiri, membuka sedikit kancing kemeja rumahnya, lalu berdiri di depan cermin yang menggantung di dinding.

Ia memutar badan, mencoba melihat punggungnya sendiri.

Yang terlihat hanya sedikit bagian miring. Kemerahan yang mulai memudar, tapi masih jelas.

Rei menjulurkan tangan memegang salep, mencoba meraih titik itu.

Rei :

"…Sedikit lagi…"

Ujung jarinya nyaris menyentuh area itu, tapi angle-nya salah.

Rei :

"Kenapa manusia tidak diciptakan dengan tangan ekstra untuk punggung sendiri…"

Ia mencoba cara lain: berdiri menyamping, memutar bahu, mengangkat tangan kiri dari bawah, tangan kanan dari atas. Hasilnya? Badan pegal, salep hampir terjepit, dan ia nyaris jatuh.

Rei menghela napas.

Rei (dalam hati) :

"Aku bisa menghindar dari bola api, tapi kalah sama satu tube salep…"

Ia menatap salep itu, lalu mengingat sesuatu.

Guru UKS :

"Kalau bisa, minta bantuan orang yang kau percaya untuk mengoleskannya. Akan lebih rapi dan tidak menyakiti."

Masalahnya adalah:

Ia tinggal sendirian.

Riku? Terlalu canggung.

3 gadis di kelas? …Nope.

Rei menutup mata sebentar.

Rei :

"…Oke. Plan B."

Ia mengoleskan sedikit salep di telapak tangan, lalu mengarahkannya ke punggung semampunya.

Tidak rapi. Tidak rata. Tapi setidaknya area paling perih terlapisi.

Rei :

"Semoga ini cukup."

Ia menutup tube, beres-beres sebentar, lalu memakai seragam sekolahnya dengan hati-hati agar tidak menggesek luka terlalu keras.

Sebelum keluar, ia menatap foto orang tuanya sebentar.

Rei :

"Ayah, Ibu. Hari ini… aku kembali ke sekolah."

Lalu ia melangkah keluar.

KEMBALI KE GERBANG SEKOLAH

Begitu melewati gerbang sekolah, Rei bisa langsung merasakan:

Suasananya… berbeda.

Tatapan murid-murid yang lewat tidak lagi sama seperti saat pertama kali ia datang.

Dulu, tatapan itu berisi rasa ingin tahu pada rambut putih dan mata berbeda warna.

Sekarang, ada tambahan lain:

Rasa hormat.

Rasa kagum.

Rasa bersalah dari sebagian orang.

Sekelompok murid berbisik pelan saat ia lewat.

Siswa 1 :

"Itu dia… Hirashi Rei."

Siswa 2 :

"Dia sudah kembali, ya. Kudengar punggungnya kena [Fireball] full hit."

Siswa 3 :

"Dan dia masih bisa berjalan seperti biasa? Gila, mentalnya…"

Siswi 1 :

"Aku dengar dia yang memutuskan hukuman Riku dan dua temannya. Katanya dia tidak mau mereka dikeluarkan."

Siswi 2 :

"Iya, padahal dia korban. Kalau dia minta, mereka bisa dikeluarkan, 'kan?"

Siswa 4 :

"Jadi… selain berani pasang badan buat Airi, dia juga… memaafkan mereka?"

Siswi 3 :

"…Agak bodoh sih. Tapi… keren."

Suara-suara itu sampai ke telinga Rei, meski mereka berusaha bicara pelan.

Rei (dalam hati) :

"Jadi… kabar itu sudah menyebar ke seluruh sekolah, ya."

Ia tidak suka jadi pusat perhatian. Tapi di dunia di mana pintu dimensi dan sihir sudah jadi bagian hidup sehari-hari, berita tentang "siswa tanpa kemampuan yang menahan bola api dengan punggungnya sendiri" jelas sulit untuk tidak dibicarakan.

Rei menundukkan kepala sedikit dan terus melangkah menuju kelas.

SUASANA KELAS 2-B YANG BERBEDA

Saat Rei membuka pintu kelas 2-B, suara yang tadinya riuh langsung mengecil.

Beberapa murid yang duduk di dekat pintu menoleh.

Beberapa yang sedang bercanda mendadak berhenti.

Sepersekian detik hening.

Sakuraba Haruka, yang sudah ada di kelas, menatap ke arah pintu dan tersenyum tipis.

Sakuraba :

"Ah, Hirashi-kun. Kau sudah datang."

Rei menunduk sedikit.

Rei :

"Selamat pagi, Sensei. Maaf sempat merepotkan beberapa hari ini."

Sakuraba :

"Kalau kondisimu sampai sekarang belum membaik, barulah kau merepotkan. Sekarang, masuk dan duduk."

Seisi kelas tertawa kecil, suasana mencair.

Namun di antara tawa itu, Rei bisa merasakan… sesuatu yang lain.

Tatapan-tatapan yang:

lebih lembut,

lebih berhati-hati,

lebih penuh rasa ingin tahu.

Ia berjalan ke bangkunya di dekat jendela. Saat ia lewat, beberapa murid mengangguk kecil.

Siswa 1 :

"Pagi, Rei."

Siswi 1 :

"Senang kau sudah kembali."

Siswa beastman yang dulu hampir membuat percikan api menyambar Rei di latihan menggaruk kepala.

Jin :

"H-Hirashi… maaf, ya, waktu itu aku—"

Rei mengangkat tangan pelan.

Rei :

"Aku sudah melupakannya, Jin. Jangan khawatir."

Jin tertegun, lalu tersenyum lega.

Jin :

"Kalau kau butuh bantuan latihan fisik, bilang saja. Aku akan bantu."

Rei :

"Aku ingat itu."

Ia duduk di kursinya, pelan-pelan agar punggungnya tidak terlalu tersentuh sandaran.

Hina dan Rika belum ada di kelas—mereka sepertinya masih di luar, mungkin ke kantin atau toilet sebelum jam pertama.

Pelajaran dimulai.

Namun bahkan Sakuraba pun sesekali melempar lirikan memastikan Rei tidak memaksakan diri.

Sakuraba :

"Kalau punggungmu mulai sakit, jangan sok kuat. Bilang."

Rei :

"Baik, Sensei."

Walaupun begitu… ada satu orang yang belum menyapanya langsung hari itu.

Riku.

Ia duduk beberapa baris di belakang.

Selama pelajaran, ia tidak menatap Rei berlebihan, tapi jelas… perhatiannya sering melayang ke arah bangku dekat jendela itu.

ISTIRAHAT PAGI — SALEP & TIGA GADIS

Saat bel istirahat berbunyi, murid-murid mulai bergerak. Ada yang keluar, ada yang mengobrol, ada yang membuka bekal.

Rei berdiri pelan dari kursinya. Gerakan itu sukses memicu sedikit rasa perih di punggung, membuatnya refleks meringis.

Rei :

"…Ouch."

Riku, yang baru saja hendak berdiri untuk mendekat, langsung berhenti separuh jalan.

Namun sebelum ia bisa mengambil langkah, suara familiar terdengar dari pintu.

Hina :

"Rei-kun!"

Rika :

"Bagaimana punggungmu?"

Airi :

"Sensei bilang kau sudah boleh masuk kelas. Tapi itu tidak berarti kau boleh berlari-lari."

Tiga gadis masuk hampir bersamaan, seperti unit pasukan khusus.

Riku refleks mundur setengah langkah, lalu… memutar arah, pura-pura mencari sesuatu di tasnya.

Rei menoleh.

Rei :

"Hina, Rika, Airi. Aku baik-baik saja."

Hina mendekat, menatapnya dari atas ke bawah seolah sedang memeriksa kerusakan.

Hina :

"Kau tadi berdiri sambil meringis."

Rei :

"Itu… cuma sedikit tertarik. Bukan apa-apa."

Rika menyipitkan mata.

Rika :

"Jujur."

Rei menghela napas.

Rei :

"Masih ada sedikit perih. Tapi sudah jauh lebih baik."

Airi melirik tas Rei.

Airi :

"Kau membawa salepnya?"

Rei terkejut kecil.

Rei :

"Eh? Iya. Di sini."

Ia mengeluarkan tube salep dari tas.

Rika mengangkat alis.

Rika :

"Kau sudah mengoleskannya pagi ini?"

Rei menoleh ke samping, menghindari tatapan.

Rei :

"…Sebagian."

Hina :

"Sebagian itu apa maksudnya?"

Rei :

"Bagian yang bisa kucapai."

Hina dan Rika :

"…"

Airi menutup mulut sebentar, menahan tawa kecil yang nyaris muncul.

Airi :

"Jadi… bagian tengah punggungmu…?"

Rei :

"Tidak usah terlalu detail, tolong."

Hina menghela napas, lalu menatap Airi dan Rika.

Hina :

"Kita harus bantu, 'kan?"

Rika :

"Tentu saja. Kalau dibiarkan asal, bekas lukanya bisa sulit hilang."

Airi menatap Rei.

Airi :

"Kau boleh menolak kalau tidak nyaman. Tapi… kalau kau percaya pada kami, kami bisa membantu mengoleskannya dengan benar. Di UKS, misalnya."

Rei memerah sedikit.

Rei :

"…Tiga gadis berjalan bersama ke UKS dengan seorang cowok yang baru sembuh dari luka di punggung. Itu terdengar seperti awal rumor aneh."

Hina :

"Kalau begitu, kita buat rumornya sekalian."

Rika :

"Hina."

Hina tertawa kecil.

Hina :

"Bercanda, bercanda. Tapi serius, Rei-kun. Kalau ini demi penyembuhan, jangan pikirkan hal lain."

Rei terdiam sebentar, menimbang.

Rei (dalam hati) :

"Kalau aku menolak, aku akan terus berjuang dengan salep dan cermin. Kalau aku menerima, ya… canggung. Tapi lebih efektif."

Ia menarik napas.

Rei :

"Baiklah. Tapi—"

Ia menunjuk satu tangan acak.

Rei :

"Satu orang saja."

Ternyata tangan yang ia tunjuk adalah—

Airi.

Hina :

"Eh?!"

Rika :

"Hm."

Airi berkedip dua kali, lalu tersenyum samar.

Airi :

"Baik. Aku akan membantu."

Rei buru-buru menjelaskan.

Rei :

"Aku menunjuk asal, bukan karena—"

Hina mengangkat tangan.

Hina :

"Aku mengerti, aku mengerti. Tenang saja, aku tidak akan cemburu pada sistem tunjuk acak."

Rika menepuk pundak Hina.

Rika :

"Kita jaga pintu UKS saja, supaya tidak ada yang masuk sembarangan."

Hina :

"Setuju."

Airi :

"Kalau begitu, kita ke UKS sebentar."

Rei mengangguk, sedikit pasrah tapi juga lega.

Saat mereka bertiga keluar kelas, Riku yang sedari tadi mengintip dari belakang bukunya hanya bisa mengikuti dengan tatapan.

Riku (dalam hati) :

"…Sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat."

BEBERAPA HARI BERLALU — KELAS YANG BERUBAH, RIKU YANG KIKUK

Hari-hari berikutnya, perlahan tetapi pasti, atmosfer kelas 2-B berubah.

Tentang Rei

Rumor tentang kejadian di lapangan dan keputusan hukuman menyebar ke seluruh kelas, lalu ke kelas lain.

Buat sebagian orang:

Siswa 1 :

"Dia bodoh, tahu? Kalau aku di posisinya, aku sudah minta mereka dikeluarkan."

Siswi 1 :

"Tapi kalau dia tidak minta begitu, kita tidak akan melihat Riku dan teman-temannya bersih-bersih toilet tiap hari."

Siswi 2 :

"Aku pernah lihat Rei di lorong. Dia minta anak-anak lain jangan membenci Riku terlalu keras."

Siswa 2 :

"Serius? Dia masih membela mereka?"

Siswi 3 :

"Itu bukan membela. Itu… mencegah lingkaran benci tambah panjang."

Perlahan, image Rei di mata murid lain berubah menjadi:

"cowok aneh tanpa kemampuan tapi refleks gila,"

"orang yang menahan bola api demi melindungi temannya,"

dan "seseorang yang memaafkan dengan cara yang tidak dibuat-buat."

Membuat beberapa siswa lain berpikir dua kali sebelum menjadikannya sasaran ejekan.

Tentang Riku dan dua temannya

Selama sebulan, tiap sore setelah pelajaran:

Riku, Teman 1, dan Teman 2 muncul di lapangan dengan peralatan kebersihan.

Menyapu, mengumpulkan sampah, membersihkan ruang latihan.

Lalu setelah itu:

Toilet lantai dua dan tiga.

Teman 1 :

"Kenapa harus toilet juga, sih…"

Teman 2 :

"Setidaknya kita tidak dikeluarkan…"

Riku tidak banyak mengeluh. Ia bekerja paling serius di antara mereka.

Siswa lain yang lewat kadang tertawa, kadang mencibir, kadang hanya mengamati.

Namun di kepala Riku… itu semua bagian dari harga yang harus dibayar.

Tentang tiga gadis

Hina, Rika, dan Airi kini hampir otomatis berada dalam orbit Rei.

Hina sering datang dengan bekal atau catatan pelajaran saat Rei izin pulang lebih cepat.

Rika memaksa Rei untuk tidak mengangkat barang berat.

Airi secara rutin membantunya mengoleskan salep di UKS dengan profesional, sementara dua gadis lain menjaga pintu dan mengusir orang yang lewat.

Seluruh kelas sudah tahu mereka bertiga dekat dengan Rei.

Yang tidak mereka tahu adalah… betapa Rei terus mencoba berkata pada dirinya sendiri:

Rei (dalam hati) :

"Ini hanya teman. Bukan cinta. Tidak ada cinta."

RIKU YANG MENDEKAT, LALU MUNDUR

Beberapa kali, di sela hari-hari itu…

Riku mencoba mendekat.

Suatu istirahat siang, Rei duduk sendirian di kelas, menata buku.

Riku berdiri di ujung baris, menggenggam botol minum.

Riku :

"…"

Ia menarik napas, melangkah mendekat.

Riku :

"Rei—"

Hina (dari pintu) :

"Rei-kun! Aku bawa roti terbaru dari kantin!"

Riku berhenti di tengah langkah.

Hina masuk dengan senyum lebar, tidak menyadari Riku tadi hendak bicara.

Hina :

"Cobain, ini enak banget—"

Riku mundur setengah langkah.

Riku :

"…Lain kali."

Ia berbalik, pergi sebelum sempat memanggil namanya lagi.

Lain waktu, di koridor sehabis pelajaran.

Rei berjalan pelan sambil memegang tas.

Riku muncul di sampingnya, melangkah sejajar.

Riku :

"Hei, Rei—"

Rika (dari belakang) :

"Rei! Kau lupa buku ini."

Riku menoleh, melihat Rika datang dengan langkah cepat, memegang buku latihan.

Riku langsung mengurangi kecepatannya, lalu berbelok ke arah lain.

Riku (dalam hati) :

"Bukan takut… hanya… bukan waktunya. Biar mereka dulu yang di sekelilingnya. Tugasku sekarang… menebus lewat tindakan, bukan kata-kata.

Bahkan Airi pernah melihat punggung Riku yang menjauh saat ia dan Hina masuk kelas.

Airi menatap punggung itu sejenak.

Airi (dalam hati) :

"Dia benar-benar menjaga jarak setiap kali kami datang, ya."

Ia lalu menoleh ke Rei, yang tidak terlalu memperhatikan pola itu.

REI YANG TETAP INGIN HIDUP DAMAI

Suatu sore, setelah semua pelajaran selesai, Rei duduk sendiri di bangku dekat jendela, menatap halaman sekolah yang mulai sepi.

Punggungnya sudah jauh lebih baik.

Salep tinggal beberapa hari lagi.

Rumor tentang insiden itu pelan-pelan akan memudar.

Namun di dalam hatinya, ia tahu:

Keseharian "damai" yang ia impikan… sudah tidak sesederhana yang dulu.

Ada:

tiga gadis yang terus mengisi hari-harinya dengan suara, keluh, dan tawa,

seorang mantan "penantang" yang kini mencuci toilet sebagai penebus dosa sambil diam-diam mengawasi dari jauh,

tatapan murid-murid lain yang melihatnya bukan lagi sekadar "siswa tanpa kemampuan".

Rei bersandar pelan di kursi, hati-hati agar punggungnya tidak terlalu menekan.

Rei :

"…Aku hanya ingin hidup biasa."

Ia menatap telapak tangannya.

Rei :

"Tapi dunia… sepertinya tidak benar-benar mengerti kata 'biasa', ya."

Di tempat yang sangat jauh, di dunia lain, ada Aelria yang merasa hal yang sama.

Dikelilingi teman kuat, hidup di akademi elite, tapi hatinya masih terikat pada manusia yang pernah berkata:

Rei :

"Aelria, kalau suatu hari aku tidak bisa berdiri lagi… jangan salahkan dirimu."

Dan di sini, di dunia manusia, Rei melakukan hal yang sama:

Tidak membiarkan dirinya hancur.

Tidak membiarkan orang yang melukainya hancur.

Memilih untuk tetap berjalan ke depan… meski jalannya pelan dan penuh luka yang baru sembuh.

More Chapters