Cherreads

Chapter 12 - KEHIDUPAN BARU DI AKADEMI ELVARIS

Di sisi lain dunia, jauh dari bumi dan kota tempat Rei menjalani hari-hari barunya…

Di bawah langit senja yang dihiasi dua matahari kecil, berdiri sebuah akademi megah di sebuah kota:

Akademi Elvaris — sekolah elite untuk para ras berbakat dari berbagai penjuru dunia lain.

Menara-menara tinggi berukir rune.

Lapangan latihan yang dikelilingi hutan kristal.

Dan lorong-lorong panjang dengan jendela kaca berwarna yang menggambarkan sejarah para pahlawan dari berbagai ras.

Di tengah hiruk-pikuk akademi itu…

Ada seorang elf berambut perak lembut, mata hijau zamrud, berjalan dengan langkah anggun, seragam putih-hijau terpasang rapi.

Aelria.

Sejak kembali dari dunia manusia, Aelria langsung melanjutkan sekolahnya di Akademi Elvaris—tempat para bangsawan, jenius sihir, dan pewaris berbagai keluarga besar berkumpul.

Hampir tiap hari ada seseorang yang datang menghampirinya.

Di koridor.

Di taman belakang.

Di perpustakaan.

Selalu dengan pola yang sama:

Laki-laki dari berbagai ras, memegang hadiah, surat, atau sekadar keberanian.

Suatu hari, di taman depan akademi, seorang pemuda beastkin dengan telinga serigala dan mata emas menunduk di hadapan Aelria.

Beastkin lelaki :

"Aelria-sama, aku sudah lama mengagumimu. Kekuatan dan ketenanganmu… maukah kau berkenan menerima perasaanku?"

Aelria menatapnya lembut, namun matanya tetap tenang—tanpa getaran.

Aelria :

"Maaf. Aku menghargai perasaanmu… tapi aku tidak bisa menerimanya."

Beastkin lelaki itu menggigit bibir, lalu menunduk dalam-dalam.

Beastkin lelaki :

"Aku… mengerti. Terima kasih sudah menjawab."

Ia pergi, meninggalkan taman dengan bahu menurun.

Aelria menarik napas pelan.

Ini bukan pertama kalinya.

Ras beastkin, demon, elf, bahkan ras dari garis darah langka—

banyak yang menyatakan perasaan pada Aelria.

Namun jawabannya selalu sama.

Aelria :

"Maaf… aku tidak bisa menerimanya."

Bukan karena mereka buruk.

Bukan karena mereka lemah.

Tapi karena… di suatu tempat, di dunia lain, ada seorang manusia bodoh berambut putih dan mata berbeda warna yang masih menempati sudut hatinya.

Rei… bagaimana kau sekarang?

ENAM GADIS ISTIMEWA

Meski banyak yang menyatakan cinta, Aelria tidak sendirian.

Ia punya lima sahabat dekat yang selalu berada di sisinya.

Mereka tidak cuma cantik dan kuat, tapi juga… berbahaya, jika dijadikan musuh.

Rinna — ras beastkin, rambut pirang pendek, telinga rubah di kepala dan ekor lebat di belakang. Gaya santai, tetapi refleks tajam dan spesialis penguatan tubuh.

Noelle & Nerine — si kembar ras demon.

Noelle : berambut hitam dengan ujung merah, ekspresi sedikit malas tapi sihirnya presisi mematikan.

Nerine : berambut merah tua, lebih ceria dan berisik, tapi menguasai sihir destruktif skala besar.

Seris—gadis demon dengan rambut hitam merah gelap bergelombang dan mata merah tajam. Spesialis sihir penghalang dan kendali ruang.

Fiora — ras Peri, rambut emas panjang, mata hijau terang, memiliki garis darah bangsawan tinggi. Mahir sihir alam dan angin.

Keenamnya—Aelria, Rinna, Noelle, Nerine, Seris, dan Fiora—adalah kombinasi yang "tidak adil" untuk satu angkatan.

Mereka:

duduk di kelas atas,

selalu masuk peringkat tertinggi,

dan menjadi pusat perhatian di mana pun mereka lewat.

Bahkan, karena reputasi dan prestasi mereka, pihak akademi memberikan keistimewaan khusus:

Mereka berenam tinggal di asrama yang sama, dalam satu kamar besar di lantai atas—kamar yang biasanya hanya disediakan untuk tamu kehormatan.

ASRAMA ENAM ORANG — KAMAR PENUH KEKUATAN

Kamar mereka luas, dengan lima ranjang berkanopi, meja belajar masing-masing, dan ruang tengah kecil dengan sofa dan meja kayu.

Di satu dinding, jendela besar menghadap ke hutan kristal. Di malam hari, kristal-kristal itu memantulkan cahaya bintang, membuat kamar terasa seperti berada di dunia lain lagi.

Malam itu, setelah latihan sihir, keenam gadis itu berkumpul di ruang tengah.

Rinna menggulingkan diri di sofa, ekornya bergoyang santai.

Rinna :

"Hari ini pertandingan sihir cukup seru, ya. Tapi Aelria lagi-lagi mengalahkan Fiora dalam kontrol elemen angin."

Fiora mendengus, melipat tangan.

Fiora :

"Itu karena hari ini aku sedang tidak fokus."

Noelle duduk di lantai dengan bantal di pangkuannya, menguap kecil.

Noelle :

"Alasan klasik."

Nerine tertawa.

Nerine :

"Aku lihat sendiri, Fiora. Sihir panah anginmu meleset dua centimeter dari target. Itu tidak seperti biasanya."

Seris duduk tegak di kursinya, membaca buku, tetapi telinganya jelas mendengarkan.

Seris :

"Pada akhirnya, Aelria tetap paling stabil di antara kita semua. Itu fakta."

Rinna menyenggol kaki Aelria yang duduk di sebelahnya di sofa.

Rinna :

"Hei, Aelria. Kau dengar? Mereka semua mengaku kau terkuat."

Aelria tersenyum tipis.

Aelria :

"Kau melebih-lebihkan, Rinna. Kalian juga kuat."

Nerine mengangkat tangan tinggi-tinggi.

Nerine :

"Aku setuju Aelria kuat, tapi soal destruksi besar-besaran, aku tetap nomor satu. Hehe."

Noelle :

"Kau bangga menjadi bom berjalan?"

Nerine :

"Itu terdengar keren, kau tahu."

Mereka ramai bercanda, tapi suasana tetap hangat. Keenam gadis ini sering bersaing, saling menguji kekuatan, namun tidak pernah berubah menjadi konflik yang merusak.

Mereka tahu, di luar kamar itu, dunia penuh politik, status, dan pertarungan gengsi antar keluarga.

Di dalam kamar ini, mereka hanya… sahabat.

MANUSIA — TOPIK YANG TIDAK MENYENANGKAN

Namun ada satu hal yang membuat Aelria sering menahan diri:

Manusia.

Di suatu malam, ketika mereka sedang beristirahat setelah latihan berat, percakapan mengarah ke topik ini.

Fiora, yang sedang menyisir rambut emasnya, berbicara dengan nada ringan namun tajam.

Fiora :

"Ngomong-ngomong… aku tidak mengerti kenapa beberapa bangsawan mulai tertarik membuat kerja sama dengan dunia manusia. Ras itu lemah. Umur pendek. Mudah panik."

Seris menutup buku pelan.

Seris :

"Aku setuju. Dari laporan yang kudengar, banyak manusia yang bahkan tidak bisa mengendalikan energi dengan benar. Saat mendapatkan kekuatan pun, banyak yang menyalahgunakannya."

Noelle mengangkat alis.

Noelle :

"Tidak semua, kan?"

Seris mengangkat bahu.

Seris :

"Statistik tidak pernah memihak manusia. Di medan perang, ras yang paling cepat gugur selalu manusia."

Fiora :

"Mereka hanya pintar bicara dan licik dengan teknologi. Tapi dalam hal tubuh dan sihir, mereka selalu di bawah ras lain."

Aelria yang sejak tadi duduk di tepi ranjangnya, terdiam.

Gambar Rei—rambut putih, mata berbeda warna, senyum canggung—melintas dalam pikirannya.

Ia menggenggam selembar kertas kecil di sakunya—surat yang belum pernah ia kirim, hanya sekadar coretan perasaan yang tidak ia bisa ucapkan.

Aelria :

"…Tidak semua manusia lemah."

Rinna yang memperhatikan perubahan ekspresi Aelria, melirik pelan.

Rinna :

"Ada pengecualian, kan, Aelria?"

Fiora menoleh.

Fiora :

"Kau bicara seolah kau pernah bertemu manusia yang berbeda."

Seris menatap Aelria dengan mata tenang.

Seris :

"Aelria, kau memang sempat tinggal di dunia manusia saat urusan kerja sama keluarga, 'kan?"

Aelria mengangguk kecil.

Aelria :

"Iya. Untuk waktu yang tidak terlalu lama."

Nerine, yang selama ini hanya mendengar, ikut tersenyum nakal.

Nerine :

"Jadi, ada seseorang di sana?"

Noelle menatap adiknya malas.

Noelle :

"Nerine, jangan langsung ke inti begitu."

Aelria memalingkan wajah, sedikit memerah.

Aelria :

"Aku hanya… bertemu seseorang yang… sedikit berbeda."

Fiora mengangkat alis.

Fiora :

"Dari ras manusia?"

Aelria terdiam sejenak, lalu menjawab pelan.

Aelria :

"Iya."

Seris menghela napas.

Seris :

"Semoga dia tidak membuatmu merendahkan standarmu, Aelria. Kau memiliki bakat, kekuatan, dan status. Manusia mudah hancur."

Kata-kata itu menusuk.

Bukan karena kasar, tapi karena benar-benar menggambarkan ketakutan Aelria:

bahwa suatu hari, Rei bisa hancur oleh dunia yang tidak ramah padanya.

Dunia yang bahkan di sana—di antara manusia sendiri—mengucilkannya karena ia berbeda.

Aelria menunduk, menghindari tatapan Fiora dan Seris.

Aelria :

"Ayah dan Ibu bekerja sama dengan dunia manusia. Aku… hanya melakukan tugasku."

Rinna ikut menyela, suaranya lebih lembut.

Rinna :

"Fiora, Seris… memang banyak manusia egois dan lemah. Tapi jangan lupa, ada juga yang… berbeda."

Ia menatap Aelria sekilas, memberi dukungan tanpa kata.

Rinna :

"Dan Aelria bukan tipe yang akan tertarik pada sesuatu yang rapuh tanpa alasan."

Nerine mengangkat tangan.

Nerine :

"Aku penasaran. Kalau suatu hari manusia itu datang ke sini, aku ingin lihat seberapa kuat dia."

Noelle menghela napas.

Noelle :

"Kalau dia benar-benar lemah, Nerine, kau akan membuatnya mati hanya dengan tertawa keras di dekatnya."

Nerine :

"Baiklah, aku akan tertawa pelan saja."

Mereka tertawa pelan, suasana kembali sedikit cair.

Namun di dalam hati Aelria, ada jarak halus yang ia jaga.

Ia tidak akan membahas terlalu jauh tentang Rei di depan Fiora dan Seris.

Tentang bocah manusia yang pernah berdiri di sampingnya di dunia lain.

Yang matanya selalu menatap ke depan meski tidak punya kekuatan.

Yang tersenyum bodoh meski disakiti.

Dan pernah ia titipkan pesan:

Aelria :

"Rei, kalau suatu hari dunia berubah… jangan hancur, ya."

Karena Fiora dan Seris memandang manusia sebagai ras lemah, Aelria hanya membagi cerita tentang Rei kepada orang-orang tertentu.

Ketika hanya ada Rinna dan si kembar di kamar, tanpa Fiora dan Seris—

Suatu malam, Aelria duduk di balkon kecil asrama, memandang langit.

Rinna duduk di pagar, ekornya menggantung ke luar, sementara Noelle dan Nerine duduk di lantai, menyandarkan punggung ke dinding.

Nerine :

"Aelria, ceritakan lagi soal 'dia'."

Noelle :

"Yang manusia itu."

Rinna menyikut Aelria pelan.

Rinna :

"Aku penasaran bagaimana keadaan dia sekarang."

Aelria tersenyum lembut, matanya menerawang.

Aelria :

"Dia… manusia yang tidak memiliki kemampuan apa pun saat kebangkitan. Tidak ada elemen. Tidak ada penguatan. Hanya… perubahan warna rambut dan mata."

Noelle :

"Itu terdengar seperti masalah besar di dunia manusia yang sekarang penuh kebangkitan."

Aelria mengangguk.

Aelria :

"Iya. Tapi dia tetap datang ke sekolah setiap hari. Tetap tersenyum. Tetap berjalan."

Rinna :

"Dan kau jatuh hati karena itu."

Aelria menggigit bibir, pipinya memerah.

Aelria :

"Aku… hanya… tidak bisa meninggalkannya sendirian waktu itu."

Nerine mengangkat tangan.

Nerine :

"Aku tetap ingin bertemu dia suatu hari nanti. Kalau dia menyakitimu, aku yang akan hancurkan dunianya."

Noelle :

"Kalimat itu terdengar romantis dan mengancam sekaligus."

Aelria menatap langit, hatinya sedikit sesak.

Aelria (dalam hati) :

"Rei… kau masih hidup, kan? Kau masih bertahan?"

Ia menggenggam kalung kecil di lehernya—hadiah kecil yang ia beli sendiri di dunia manusia sebagai pengingat hari-hari bersama Rei.

Air mata tidak jatuh, tapi rasa rindu pelan-pelan menumpuk.

Di Akademi Elvaris, Aelria dikenal sebagai salah satu murid terkuat.

Dikelilingi sahabat yang luar biasa dari berbagai ras.

Didatangi pengakuan cinta dari banyak orang.

Dihormati di kelas, disegani di lapangan latihan.

Namun di sela semua itu, ada satu ruang kecil di hatinya yang tidak tersentuh siapa pun:

ruang untuk seorang manusia biasa yang ditinggalkan di dunia lain—

yang namanya Hirashi Rei,

yang pernah berkata:

Rei :

"Aelria, kalau suatu hari aku tidak bisa berdiri lagi… jangan salahkan dirimu."

Dan justru kalimat itu yang membuat Aelria… tidak bisa melupakannya.

Nanti, dunia mereka akan bersilangan lagi.

Tapi untuk sekarang, Aelria hanya bisa menguatkan dirinya, menjalani hari-harinya di akademi elit itu sambil berharap:

entah di kota asing jauh di dunia manusia sana,

Rei masih hidup.

Masih tersenyum.

Meski tanpa kekuatan, meski dengan luka di punggungnya yang baru saja sembuh.

More Chapters