Cherreads

Chapter 11 - BEBERAPA HARI SETELAH INSIDEN

Selama itu, ruang UKS seperti punya "penghuni tetap" bernama Hirashi Rei — dan tiga gadis yang hampir tidak pernah meninggalkan sisi ranjangnya.

Setiap pagi, siang, dan sore…

Hina datang dengan kotak bekal yang ia buat sendiri, memaksa Rei makan dengan porsi yang "katanya cukup untuk pemulihan", padahal terasa seperti porsi dua orang.

Hina :

"Rei-kun, makan yang banyak. Kalau tidak, kau bisa pingsan lagi."

Rei :

"Aku pingsan karena bola api, bukan karena diet, Hina…"

Hina :

"Tidak ada bantahan!"

Rika duduk di kursi lain, sering memarahi Rei setiap kali ia mencoba duduk terlalu lama atau bergerak sendiri.

Rika :

"Jangan gerak sembarangan! Punggungmu belum pulih sepenuhnya!"

Rei :

"Aku hanya ingin mengambil air minum…"

Rika :

"Aku ambilkan. Kau diam."

Sementara itu, Airi… lebih banyak diam, tapi selalu ada.

Kadang duduk membaca buku di samping ranjang.

Kadang memeriksa perban, kadang hanya menatap keluar jendela.

Namun setiap kali Rei mengeluarkan lelucon pendek untuk menutupi rasa sakit, sudut bibir Airi akan terangkat tipis.

Airi :

"…Kau terlalu sering bercanda di situasi yang tidak lucu."

Rei :

"Itu cara bertahan hidupku."

Selain mereka bertiga, ada satu orang lain yang… selalu muncul, tapi tidak pernah masuk.

Riku.

Hampir setiap hari, menjelang sore, ia datang ke UKS, berdiri di depan pintu dengan kantong buah di tangannya.

Di sana, ia menyerahkan kantong itu pada Guru UKS.

Riku :

"Ini… untuk Rei. Tolong berikan kalau dia sudah bisa makan buah."

Guru UKS :

"Kau tidak mau menjenguk langsung?"

Riku menunduk.

Riku :

"Belum pantas. Biar nanti saja… setelah hukuman diputuskan."

Dan begitu saja, ia pergi lagi.

Rei tahu tentang buah-buah itu. Guru UKS memberitahunya pelan, dan Hina sempat mengomel.

Hina :

"Kenapa dia tidak langsung datang saja? Mengantar buah dari bayangan seperti itu…"

Rei hanya tersenyum tipis.

Rei :

"Mungkin… dia masih sibuk berkelahi dengan dirinya sendiri."

LUKA YANG AKHIRNYA MENUTUP

Beberapa hari kemudian, di suatu siang yang tenang, Guru UKS membuka perban di punggung Rei perlahan.

Kulit yang sebelumnya merah dan melepuh kini sudah jauh lebih membaik. Hanya ada sedikit bekas kemerahan yang mengganggu.

Guru UKS :

"Sudah cukup bagus. Sihir penyembuh dan salepnya bekerja dengan baik."

Rei menoleh sedikit sejauh bisa.

Rei :

"Masih enak dilihat, Sensei?"

Guru UKS terkekeh kecil.

Guru UKS :

"Untuk seseorang yang menerima bola api tepat di punggungnya, kau masih sangat beruntung."

Ia berjalan ke lemari kecil, mengambil sebuah salep dan menyerahkannya pada Rei.

Guru UKS :

"Oleskan ini di punggungmu setiap hari selama seminggu. Bekasnya akan memudar sampai hampir tidak terlihat."

Rei menerima salep itu dengan kedua tangan.

Rei :

"Terima kasih, Sensei."

Guru UKS menatapnya sebentar, lalu menghela napas pelan.

Guru UKS :

"Hirashi-kun."

Rei :

"Ya?"

Guru UKS :

"Wakil Kepala Sekolah dan beberapa guru menunggumu di ruang guru. Saat ini kau sudah cukup kuat untuk berjalan, dan… ada hal yang harus diselesaikan."

Rei terdiam sesaat.

Rei :

"…Soal hukuman, ya?"

Guru UKS mengangguk pelan.

Guru UKS :

"Ya. Dan pendapatmu… sangat menentukan."

Rei mengepalkan sedikit jarinya di atas ranjang, lalu menghembuskan napas.

Rei :

"Baik. Kalau begitu, saya akan ke sana."

Guru UKS :

"Jangan memaksa tubuhmu. Jalan pelan-pelan."

TIGA GADIS DI DEPAN PINTU

Rei turun dari ranjang pelan-pelan, merapikan seragam (yang sudah diganti baru), lalu melangkah menuju pintu UKS.

Begitu pintu terbuka…

Hina, Rika, dan Airi sudah berdiri di luar, seolah mereka memang sengaja menunggu sejak tadi.

Hina dengan wajah cemas.

Rika dengan tangan terlipat, wajah serius.

Airi dengan tatapan tenang, tapi jelas khawatir.

Rei berhenti, sedikit kaget.

Rei :

"…Kalian menunggu di depan?"

Hina langsung maju satu langkah.

Hina :

"Bagaimana punggungmu? Masih sakit? Pusing? Lemas?"

Rei tersenyum tipis.

Rei :

"Tenang. Aku masih ingat namaku, jadi sepertinya tidak gegar otak."

Rika menghela napas keras.

Rika :

"Dia akan ke ruang guru. Soal hukuman."

Airi menatap mata Rei.

Airi :

"…Kau tidak harus memaksakan diri hanya untuk memuaskan mereka. Kalau belum siap, katakan saja."

Rei melihat wajah ketiganya, lalu tersenyum lembut.

Rei :

"Terima kasih sudah menunggu."

Ia menunduk sedikit.

Rei :

"Aku… harus menyelesaikan ini. Bukan cuma untuk mereka, tapi juga… untuk diriku sendiri."

Hina menggigit bibir.

Hina :

"Kalau keputusan mereka tidak adil, kami akan—"

Rei mengangkat tangan kecil, menenangkan.

Rei :

"Aku bukan pahlawan. Tapi aku juga bukan korban yang mau terus diikat pada satu kejadian. Itu saja."

Rika mendengus pelan.

Rika :

"Setidaknya jangan terlalu baik sampai merugikan dirimu sendiri."

Rei :

"Aku akan coba seimbang."

Ia berjalan melewati mereka.

Langkahnya masih pelan, tapi stabil.

Di belakang, Hina berbisik kecil.

Hina :

"Rei-kun…"

Airi menatap punggungnya.

Airi (dalam hati) :

"Keputusan seperti apa yang akan kau ambil, Rei…?"

RUANG GURU — HUKUMAN YANG TERTUNDA

Rei sampai di depan pintu ruang guru.

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengetuk pelan.

Rei :

"Permisi, Hirashi Rei masuk."

Dari dalam, suara Wakil Kepala Sekolah terdengar.

Wakil Kepala Sekolah :

"Masuk."

Rei membuka pintu.

Di dalam, suasana cukup tegang.

Di satu sisi ruangan, duduk Wakil Kepala Sekolah, Sakuraba-sensei, dan satu lagi guru senior.

Di sisi lain, berdiri Riku dan kedua Teman nya.

Riku berdiri tegap, mata menatap lurus ke depan, wajahnya terlihat siap menerima apa pun.

Ke dua Teman nya tampak pucat dan gelisah.

Rei melangkah masuk, menutup pintu pelan.

Wakil Kepala Sekolah memberi isyarat untuk duduk di kursi yang disediakan.

Wakil Kepala Sekolah :

"Terima kasih sudah datang, Hirashi-kun. Bagaimana kondisimu?"

Rei duduk perlahan.

Rei :

"Masih ada sedikit rasa perih, tapi… saya sudah jauh lebih baik. Terima kasih atas perhatiannya."

Wakil Kepala Sekolah mengangguk pelan.

Wakil Kepala Sekolah :

"Kami bersyukur kondisimu membaik."

Ia menautkan jari-jarinya di atas meja, menatap ketiga siswa yang berdiri di hadapan mereka, lalu kembali pada Rei.

Wakil Kepala Sekolah :

"Seperti yang mungkin sudah kau tahu… kejadian beberapa hari lalu bukan masalah kecil. Sihir serangan digunakan dalam sparing yang tidak seimbang, dan itu hampir mencederai nyawamu."

Guru senior menambahkan, nadanya tegas.

Guru Senior :

"Secara prosedur, sekolah berhak menjatuhkan hukuman berat. Mulai dari skorsing panjang hingga pengeluaran. Bahkan kami bisa mengajukan laporan ke pihak berwajib."

Teman 1 menelan ludah keras.

Teman 2 memegang lengan baju, tubuhnya gemetar kecil.

Sakuraba ikut bicara, suaranya lebih lembut tapi tajam.

Sakuraba :

"Namun, Hirashi-kun… karena kau yang menjadi korban, kami memutuskan untuk menunda keputusan final. Kami ingin mendengar pendapatmu."

Wakil Kepala Sekolah menatap Rei langsung.

Wakil Kepala Sekolah :

"Apakah menurutmu mereka layak dikeluarkan dari sekolah? Atau dilarang menggunakan kekuatan mereka selamanya? Atau dilaporkan ke pihak berwenang?"

Rei terkejut.

Rei :

"…Dilarang menggunakan kekuatan… selamanya?"

Guru Senior mengangguk.

Guru Senior :

"Dengan rekomendasi kami, izin penggunaan kemampuan di luar lingkungan sekolah mereka dapat dicabut. Mereka tetap bisa hidup sebagai warga sipil, tapi tanpa hak menggunakan sihir atau teknik tempur resmi. Itu hukuman berat, tapi… menyangkut nyawa seseorang itu sepadan."

Rei terdiam.

Ia menoleh pelan ke arah Riku.

Riku berdiri tegap, wajahnya tenang tetapi jelas tegang.

Rei bisa lihat di mata Riku — ia siap.

Siap jika benar-benar dikeluarkan.

Siap jika dilarang menggunakan kekuatan.

Siap menanggung apa pun yang diputuskan.

Di sisi lain, Teman 1 dan Teman 2 tampak jelas takut.

Bukan takut karena menyesal, lebih pada takut atas konsekuensi.

Rei menunduk sedikit, berpikir.

Beberapa detik hening… terasa sangat panjang.

Guru Senior :

"Apa pun keputusanmu, kami akan menindaklanjutinya. Kami sudah setuju untuk mengikuti keputusanmu sebagai korban."

Rei mengangkat kepala.

Mata kanan gelap dan mata kiri birunya menatap lurus ke arah guru-guru, lalu pada Riku dan dua lainnya.

Rei :

"Kalau begitu… saya akan menyampaikan pendapat saya."

Ruangan itu seolah menahan napas.

Rei menarik napas dalam.

Rei :

"Saya… tidak ingin mereka dikeluarkan dari sekolah."

Teman 1 langsung menghembuskan napas lega.

Teman 1 :

"Syukurlah…"

Teman 2 menutup wajah sebentar, hampir terduduk.

Teman 2 :

"Terima kasih… terima kasih…"

Namun Rei belum selesai.

Rei :

"Saya juga tidak ingin mereka dilarang menggunakan kekuatan mereka selamanya."

Guru Senior mengangkat alis.

Guru Senior :

"Padahal kemampuan mereka hampir menghabisimu. Kau yakin, Hirashi-kun?"

Rei mengangguk.

Rei :

"Ya. Karena saya percaya… masalahnya bukan pada kemampuan mereka. Tapi pada cara mereka menggunakannya dan alasan di baliknya."

Ia menatap tiga siswa di depannya.

Rei :

"Hukuman menurut saya bukan tentang memotong tangan agar seseorang tidak bisa memukul lagi. Tapi mengajarkan orang itu untuk tidak memilih memukul di lain waktu."

Wakil Kepala Sekolah menyipitkan mata, jelas terkesan dengan cara pandangnya.

Wakil Kepala Sekolah :

"Jadi… apa yang kau sarankan, Hirashi-kun?"

Rei menghela napas.

Rei :

"Saya ingin mereka… tetap menjadi murid seperti biasa. Belajar, berlatih, menggunakan kekuatan seperti murid lain. Tanpa larangan khusus yang berlebihan."

Teman 1 dan Teman 2 langsung menunduk, berkali-kali mengucap terima kasih.

Teman 1 :

"Terima kasih, Rei… Kau benar-benar—"

Teman 2 :

"Kami tidak pantas dimaafkan seperti ini…"

Namun, Riku… justru tertegun.

Riku (dalam hati) :

"Dia… masih bilang kami boleh hidup normal? Setelah apa yang terjadi?"

Kata-kata ayahnya terlintas di kepala.

Ayah Riku :

"Riku, kekuatan seorang lelaki bukan di otot atau sihirnya. Tapi di kemampuannya memaafkan orang lain… bahkan ketika luka itu dalam."

Riku menggertakkan gigi pelan.

Riku (dalam hati) :

"Ayah, kau tidak pernah berhasil memaafkan orang yang melukaimu dulu… Tapi bocah ini… dia melakukan apa yang bahkan kau tidak sanggup."

Wakil Kepala Sekolah masih menatap Rei.

Wakil Kepala Sekolah :

"Jadi… tidak ada hukuman yang berat, begitu?"

Rei menggeleng pelan.

Rei :

"Saya tidak bilang begitu."

Ia menatap Riku dan dua temannya lagi.

Rei :

"Kalau tidak ada konsekuensi sama sekali, itu bukan pembelajaran. Itu hanya melupakan masalah."

Ia kembali menoleh ke arah Wakil Kepala Sekolah.

Rei :

"Kalau boleh… saya setuju jika sekolah memberikan hukuman kecil. Yang membuat mereka mengingat kejadian ini, tanpa menghancurkan masa depan mereka."

Guru Senior menyilangkan tangan.

Guru Senior :

"Hukuman kecil, hm?"

Wakil Kepala Sekolah berpikir sebentar, lalu mengangguk.

Wakil Kepala Sekolah :

"Baik. Kami yang akan memutuskan bentuknya, berdasarkan saranmu."

Ia menatap Riku dan dua temannya.

Wakil Kepala Sekolah :

"Mulai besok, selama satu bulan penuh, kalian bertiga diwajibkan:"

Ia mengangkat tiga jarinya.

Wakil Kepala Sekolah :

"Pertama, membersihkan lapangan latihan setiap hari sepulang sekolah.

Kedua, membantu membersihkan toilet siswa di lantai dua dan tiga.

Ketiga, membantu bagian kebersihan saat ada acara sekolah akhir pekan."

Teman 1 langsung limbung.

Teman 1 :

"S-satu bulan… lapangan dan toilet…?"

Teman 2 ikut melemas.

Teman 2 :

"Itu… hukuman kecil, Pak…?"

Guru Senior menyeringai tipis.

Guru Senior :

"Itu versi kecil dari 'hukuman berat'. Kalian masih boleh bersekolah dan menggunakan kekuatan. Anggap saja ini pengingat yang wajar."

Rei tersenyum tipis.

Rei :

"Menurut saya… itu adil."

Riku tidak terlihat lemas sama sekali.

Sebaliknya, ia membungkuk dalam-dalam.

Riku :

"Terima kasih… Wakil Kepala Sekolah. Terima kasih… Hirashi Rei."

Wakil Kepala Sekolah :

"Jangan ucapkan terima kasih sebelum kau jalani sebulan penuh dulu."

Ia menutup berkas di mejanya.

Wakil Kepala Sekolah :

"Keputusan final: tidak ada skorsing, tidak ada pencabutan hak penggunaan kekuatan. Tapi satu bulan kerja keras dan rasa malu… saya rasa cukup untuk menanamkan rasa tanggung jawab, jika kalian benar-benar menyesal."

Sakuraba menambahkan lembut.

Sakuraba :

"Dan jika ada insiden serupa terulang… hukuman berikutnya tidak akan se-ringan ini."

Teman 1 dan Teman 2 mengangguk dalam-dalam, wajah mereka pucat tapi pasrah.

Riku menatap Rei sekali lagi.

Riku :

"Rei."

Rei menoleh.

Riku :

"Aku… tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang kau berikan. Terlepas kau mau menganggapku teman suatu hari nanti atau tidak… aku akan pastikan tidak ada kejadian seperti ini lagi, dari siapa pun."

Rei menatapnya sebentar, lalu tersenyum kecil.

Rei :

"Kalau kau benar-benar ingin menebus… pastikan punggung orang lain tidak perlu lagi jadi perisai."

Riku tersenyum miring, namun kali ini tulus.

Riku :

"Itu janji."

Wakil Kepala Sekolah mengangguk.

Wakil Kepala Sekolah :

"Baik. Untuk hari ini, selesai. Kalian boleh kembali ke kelas — kecuali Hirashi-kun. Kalau masih lelah, kau boleh kembali ke UKS atau pulang."

Rei berdiri pelan.

Rei :

"Saya mengerti."

Riku dan dua temannya membungkuk lagi, lalu berjalan keluar lebih dulu.

Teman 1 (pelan) :

"Rei… benar-benar terlalu baik…"

Teman 2 :

"Aku masih tidak percaya kami tidak dikeluarkan…"

Riku tidak banyak bicara, namun di dalam hatinya, keputusan sudah diambil:

Ia tidak lagi sekadar "murid laki-laki iri yang memancing masalah".

Ia akan menjadi seseorang yang, kalau suatu hari Rei berdiri di garis depan…

ia bukan lagi lawan, melainkan orang yang menjaga punggung itu.

Di belakang, ketika Rei membuka pintu keluar ruang guru…

Di koridor, Hina, Rika, dan Airi masih berdiri di sana, seolah tahu persis kapan rapat itu akan selesai.

Hina :

"Rei-kun! Bagaimana?"

Rika :

"Kalau hukuman mereka terlalu ringan, aku—"

Rei tersenyum.

Rei :

"Mereka tetap sekolah. Tidak ada yang dikeluarkan. Tapi selama sebulan… lapangan dan toilet akan sangat bersih."

Hina mengerjap, lalu tertawa kecil di antara air mata lega.

Hina :

"Itu… terdengar seperti hukuman yang pas."

Rika mendengus.

Rika :

"Kalau mereka malas sedikit, panggil aku."

Airi menatap Rei, matanya lembut.

Airi :

"Dan kau?"

Rei mengangkat salep kecil di tangannya.

Rei :

"Aku? Tugas rumahku hanya satu: mengoleskan ini di punggung selama seminggu. Dan… berusaha menjalani hidup normal lagi."

Ia memandang ke luar jendela, di mana langit mulai cerah.

Rei (dalam hati) :

"Setidaknya untuk sekarang… satu lingkaran sudah kututup tanpa harus menghancurkan siapa pun."

Dan tanpa disadari, langkah-langkah yang ia ambil hari itu—

memaafkan, memilih hukuman yang tidak menghancurkan—

pelan-pelan membentuk sesuatu di dalam dirinya.

Bukan sihir.

Bukan penguatan fisik.

Tapi sesuatu yang jauh lebih sulit:

kekuatan hati.

More Chapters