Sore itu, langit sudah mulai gelap ketika Riku berdiri di depan ruang guru.
Tangannya mengepal, napasnya berat. Ia mengetuk pintu, lalu membuka pelan.
Di dalam, beberapa guru sudah berkumpul:
Sakuraba Haruka, Guru UKS, dan Wakil Kepala Sekolah yang wajahnya serius.
Wakil Kepala Sekolah :
"Masuk."
Riku melangkah masuk, membungkuk dalam-dalam.
Riku :
"Saya, Riku… datang untuk mengaku tentang kejadian di lapangan latihan."
Ia tidak menunggu ditanya.
Ia menceritakan semuanya: mulai dari ajakan sparing, perubahan dari 1 vs 1 menjadi 3 vs 1, penggunaan sihir[Fireball], hingga momen ketika Rei menjadi perisai hidup untuk melindungi Airi.
Tidak satu pun guru yang menyelanya.
Begitu Riku selesai, ruangan itu hening beberapa detik.
Sakuraba menghela napas panjang.
Sakuraba :
"Jadi begitu lengkapnya."
Guru UKS menatap Riku tajam.
Guru UKS :
"Kalau sedikit saja lebih kuat, luka di punggungnya bisa jauh lebih parah."
Riku menunduk.
Riku :
"Saya siap dihukum. Apa pun itu. Kalau perlu, skorsing pun… saya terima."
Teman 1 dan Teman 2 di kursi belakang tampak gelisah, tapi tidak seberani Riku dalam berbicara.
Teman 1 :
"Bu… Pak… kami juga bersalah, tapi—"
Wakil Kepala Sekolah mengangkat tangan, menghentikan.
Wakil Kepala Sekolah :
"Kalian semua bersalah. Tidak ada 'tapi' di sini."
Ia membuka berkas di mejanya, lalu menatap ketiganya.
Wakil Kepala Sekolah :
"Secara prosedur, untuk kasus yang menyangkut kekerasan dan hampir mencelakai nyawa siswa lain, sekolah bisa langsung memberikan hukuman berat. Mulai dari skorsing sampai pengeluaran."
Teman 2 langsung pucat.
Teman 2 :
"P–pengeluaran…?"
Riku mengatupkan rahangnya, tidak membantah.
Riku :
"Kalau itu yang diperlukan, saya siap."
Namun Wakil Kepala Sekolah belum selesai.
Wakil Kepala Sekolah :
"Tapi—"
Ia menatap berkas lain yang baru saja diantar Guru UKS.
Wakil Kepala Sekolah :
"Korban… Hirashi Rei… masih dalam perawatan. Kondisinya stabil, tapi lukanya tidak ringan."
Ia menghela napas.
Wakil Kepala Sekolah :
"Ini menyangkut nyawa seseorang. Kami tidak akan menjatuhkan hukuman final tanpa memperhitungkan perasaan korban."
Sakuraba menambahkan pelan.
Sakuraba :
"Hirashi-kun meminta waktu sebelum bicara tentang hukuman. Dia ingin berpikir dulu."
Riku menoleh, sedikit kaget.
Riku :
"Rei… ingin berpikir dulu…?"
Guru UKS mengangguk.
Guru UKS :
"Dia tidak ingin kami memutuskan hukuman secara gegabah ketika emosinya belum stabil. Dia bilang… 'Tunggu aku bisa duduk dulu, baru kita bicara soal itu.'"
Wakil Kepala Sekolah menutup berkas.
Wakil Kepala Sekolah :
"Jadi keputusan hukuman final untuk kalian bertiga—kita TUNDA, sampai Hirashi Rei siap memberikan pandangannya."
Teman 1 langsung tampak lega.
Teman 1 :
"Syukurlah…"
Teman 2 juga menghela napas panjang.
Teman 2 :
"Berarti… belum tentu skorsing, 'kan, Pak?"
Sakuraba menatap mereka dingin.
Sakuraba :
"Jangan salah mengerti. Ditunda bukan berarti hukuman ringan. Justru karena berat, kami harus memastikan keputusan ini adil bagi semua pihak."
Riku menunduk, pipinya masih memerah bekas tamparan Hina.
Riku :
"…Saya mengerti."
Wakil Kepala Sekolah mengangguk pelan.
Wakil Kepala Sekolah :
"Sampai keputusan final keluar, kalian bertiga:
Dilarang ikut semua latihan tempur dan praktik sihir.
Wajib membantu UKS dan bagian kebersihan lapangan sepulang sekolah selama satu minggu.
Itu hanya tindakan sementara."
Teman 1 dan Teman 2 masih tampak lega.
Teman 1 :
"Daripada langsung skorsing, ini masih mending. Hehe…"
Teman 2 mengangguk cepat.
Teman 2 :
"Iya, iya… untung Rei nggak langsung minta kami dikeluarkan."
Riku memejamkan mata sebentar, rasa jengkel dan muak naik ke tenggorokan.
Riku :
"Kalian bangga… dengan hukuman yang cuma ditunda?"
Teman 1 :
"Hah? Ya bukannya bagus, Rik? Kita masih punya kesempatan—"
Riku berdiri dari kursinya, kursi itu bergeser dan menimbulkan suara nyaring.
Riku :
"Kesempatan untuk apa? Berlagak seolah tak ada yang terjadi?"
Teman 2 :
"Eh… aku cuma bilang—"
Riku menatap mereka tajam.
Riku :
"Mulai hari ini, jangan anggap aku teman kalian lagi."
Teman 1 terbelalak.
Teman 1 :
"Hah?! Riku, jangan bercanda—"
Riku :
"Bagiku, orang yang bisa tertawa lega setelah hampir membakar punggung seseorang, bukan 'teman', tapi racun."
Suasana ruang guru menegang.
Namun tak ada satu pun guru yang menghentikannya. Mereka hanya memperhatikan.
Riku membungkuk dalam-dalam ke arah guru-guru.
Riku :
"Terima kasih sudah mau mendengar pengakuan saya. Saya akan menerima keputusan apa pun yang diambil setelah Rei memutuskannya."
Wakil Kepala Sekolah mengangguk pelan.
Wakil Kepala Sekolah :
"Baik. Kau boleh pulang. Hari sudah sore."
Sakuraba memandang Riku sesaat, seolah memberi pesan tanpa kata.
Riku meluruskan punggung, lalu melangkah keluar tanpa melihat lagi ke wajah dua mantan temannya yang masih duduk terpaku.
PERJALANAN PULANG
Di luar gedung sekolah, langit sudah berganti menjadi ungu kebiruan.
Di depan gerbang, sebuah mobil menunggu. Sopir yang mengenakan seragam rapi berdiri di samping kendaraan, membungkuk saat melihat Riku datang.
Sopir :
"Riku-sama, maaf menunggu."
Riku :
"Tidak apa."
Ia masuk ke kursi belakang, pintu tertutup.
Mobil mulai melaju pelan meninggalkan sekolah.
Di jendela, bayangan gedung sekolah perlahan menjauh.
Riku bersandar ke jok, menatap tangannya sendiri.
Pipinya masih perih karena tamparan Hina.
Dadanya sesak mengingat tatapan Rika.
Kepalanya penuh dengan punggung Rei yang diperban.
Riku (dalam hati) :
"Ayah… kau selalu bilang, 'Pria sejati tidak lari dari kesalahan.'"
Ia mengepalkan tangan.
Riku (dalam hati) :
"Kalau nanti Rei memilih hukuman terberat sekalipun… aku tidak akan lari. Karena itu harga yang pantas."
Di luar, lampu-lampu jalan mulai menyala.
Dan di sekolah itu, di ruang UKS… seseorang yang hampir ia hancurkan justru sedang memikirkan cara agar tidak menghancurkan masa depan siapapun dengan satu keputusan marah.
